Anda di halaman 1dari 9

Sering Marah-marah dan Susah Tidur pada Pasien Lanjut Usia

James Winston
102016245 / C1
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi: Jl.Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat - Indonesia
Email: james.2016fk245@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak
Dalam bertambahnya umur kita, kinerja dari seluruh bagian tubuh kita akan menurun bahkan bisa
saja tidak bisa berfungsi lagi. Menurunnya kinerja pada tubuh kita bisa disebabkan beberapa hal,
misalnya beban pikiran terhadap semua yang telah dialami orang tersebut. Depresi, demensia, dan
insomnia bisa jadi dirasakan oleh beberapa lansia, dan tentunya juga disebabkan oleh berbagai macam
faktor. Hal-hal tersebut dapat saja dicegah dan dihindari bila dilakukan perawatan dengan baik.
Kata Kunci: depresi, demensia, insomnia

Abstract
In increasing of our age, the performance of all parts of our body will decrease even
could not work anymore. Reduced performance in our body can be caused by several things,
such as the burden of the mind of all that has been experienced by the person. Depression,
dementia, and insomnia may be felt by some elderly, and certainly also caused by various
factors. These things can be prevented and avoided if done properly.
Keywords: depression, dementia, insomnia

Pendahuluan
Gangguan kesehatan pada golongan lansia terkait erat dengan proses degenerasi yang
tidak dapat dihindari. Seluruh sistem, cepat atau lambat akan mengalami degenerasi. Manifestasi
klinik, laboratorik dan radiologik bergantung pada organ dan/atau sistem yang terkena.
Perubahan yang normal dalam bentuk dan fungsi otak yang sudah tua harus dibedakan dari
perubahan yang disebabkan oleh penyakit yang secara abnormal mengintensifkan sejumlah
proses penuaan. Makalah ini dibuat untuk memberi pengetahuan pembaca tentang tidak bisa
tidur dan emosi yang terjadi pada lansia.

1
Anamnesis
Anamnesis adalah suatu komunikasi dua arah antara dokter dan pasien atau keluarga
dekat pasien sehari-hari. Tujuan anamnesis ini adalah untuk mengetahui keluhan utama dan
keluhan penyerta pasien serta riwayat penyakit pasien dan keluarganya.1
Pada kasus skenario 6 didapat hasil anamnesis sebagai berikut:
 Laki-laki berusia 64 tahun.
 Suka marah-marah dan tidak bisa tidur sejak 2 bulan yang lalu.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi untuk
mengetahui perubahan fungsi tubuh TTV, TB, BB, pengkajian sistem tubuh: respirasi,
muskuloskeletal, kardiovaskuler, perkemihan, persyarafan & sensorik. Pada pasien dengan
keluhan sleep apnea, pemeriksaan kepala dan leher yang teliti sangat penting. Untuk pasien
dengan keluhan restless legs syndrome atau sindrom neurologic, pemeriksaan neurolgi yang teliti
harus dilakukan. Pada pasien insomnia dengan penyebab medis, pemeriksaan pada organ yang
mendasari penyakit tersebut dapat membantu diagnosis.2

Pemeriksaan Penunjang
Polisomnografi adalah alat perekam saat seseorang tidur lengkap yang meliputi
perekaman: Gelombang otak tidur (EEG), Gerakan bola mata (EOG), Aktivitas otot (EMG) pada
dagu, dan kaki, getaran dengkur, aliran udara nafas, gerakan nafas dada dan perut, kadar oksigen
(SpO2), posisi tidur, irama jantung (ECG). Dari pemeriksaan tidur kita mendapatkan gambaran
fungsi-fungsi tubuh lengkap selama tidur. Bandingkan dengan pemeriksaan foto rontgen atau
pemeriksaan lain yang dilakukan saat terjaga yang hanya mendapatkan gambaran sesaat dari
kondisi tubuh. Banyak gangguan fungsi tubuh yang hanya terjadi pada saat tidur jadi tak terbaca
dari pemeriksaan pada saat terjaga.3

Working Diagnosis
Berdasarkan data dari anamnesis; pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, dapat
disimpulkan bahwa laki-laki tersebut menderita gangguan tidur atau Insomnia. Insomnia adalah
gangguan tidur yang di mana ada ketidakmampuan untuk tertidur atau untuk tetap tidur selama

2
yang diinginkan selama lebih dari 1 bulan. Sementara istilah ini kadang-kadang digunakan untuk
menggambarkan gangguan yang ditunjukkan.4
Meskipun ada beberapa derajat yang berbeda insomnia, tiga jenis insomnia telah
diidentifikasi dengan jelas: sementara, akut, dan kronis:5
1. Insomnia sementara berlangsung dari hari ke minggu. Hal ini dapat disebabkan oleh
gangguan lain, dengan perubahan lingkungan tidur, dengan waktu tidur, depresi berat,
atau oleh stres. Konsekuensinya - kantuk dan kinerja psikomotor terganggu - sama
dengan yang kurang tidur.
2. Insomnia akut adalah ketidakmampuan untuk secara konsisten tidur dengan baik untuk
jangka waktu antara tiga minggu sampai enam bulan.
3. Insomnia kronis berlangsung selama bertahun-tahun pada suatu waktu. Hal ini dapat
disebabkan oleh gangguan lain, atau dapat menjadi gangguan utama. Efeknya bisa
bervariasi sesuai dengan penyebabnya. Mereka mungkin termasuk kantuk, kelelahan otot,
halusinasi, dan / atau kelelahan mental, tetapi orang dengan insomnia kronis sering
menunjukkan peningkatan kewaspadaan. Beberapa orang yang hidup dengan gangguan
ini melihat hal-hal seolah-olah mereka sedang terjadi dalam gerakan lambat, dimana
objek bergerak tampaknya untuk berbaur bersama-sama. Bisa menyebabkan penglihatan
ganda.

Differential Diagnosis
-Depresi6
Depresi adalah kelainan mood yang menyebabkan perasaan sedih dan hilang minat yang
terus menerus. Depresi mempengaruhi perasaan Anda, cara berpikir dan berperilaku, serta dapat
membuat Anda memiliki berbagai masalah emosi dan fisik. Depresi berbeda dengan rasa sedih
biasa. Jika rasa sedih berlangsung dalam beberapa hari atau minggu, mengganggu pekerjaan atau
kegiatan lain dengan keluarga atau teman, atau berpikir untuk bunuh diri, kemungkinan ini
adalah depresi. Gejala depresi dapat bermacam macam dan berbeda pada setiap orang, seperti
saat menderita depresi, beberapa orang akan tidur lebih banyak, sementara orang lain merasa
sulit tidur dan tidak nafsu makan. Meski begitu, terdapat beberapa gejala yang umum terjadi,
seperti:
 Sulit konsentrasi
3
 Merasa sedih atau kosong
 Merasa masa depannya tidak akan baik
 Merasa gelisah atau sulit tidur
 Hilang minat pada seks
 Depresi berat dapat menyebabkan pikiran bunuh diri dan pembunuhan
-Demensia Alzheimer7
Demensia Alzheimer atau lebih dikenal dengan Alzheimer merupakan salah satu bagian
dari demensia yang paling banyak ditemui. Sekitar 60-70 persen dari kasus demensia atau pikun
merupakan Alzheimer. Alzheimer membuat penderitanya mengalami penurunan fungsi otak
termasuk fungsi kognitif (kemampuan daya ingat, berbahasa, fungsi visuospatial dan fungsi
eksekutif si penderita menurun). Penyakit yang dapat menyebabkan kematian ini hanya bisa
diperlambat perkembangannya melalui obat-obatan namun tidak bisa disembuhkan secara total.
Berikut ini ialah 10 gejala demensia Alzheimer yang diungkapkan oleh Alzheimer’s Indonesia:
 Gangguan Daya Ingat
 Sulit Fokus
 Sulit Melakukan Kegiatan yang Familiar
 Disorientasi
 Kesulitan Memahami Visuospasial
 Gangguan Komunikasi
 Menaruh Barang Tidak Pada Tempatnya
 Salah Membuat Keputusan
 Menarik Diri Dari Pergaulan
 Perubahan Perilaku dan Kepribadian
-Gangguan Cemas Menyeluruh8
Generalized anxiety disorder, merupakan kondisi gangguan yang ditandai dengan
kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan dan tidak rasional bahkan terkadang tidak realistik
terhadap berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dialami hampir sepanjang hari,
dan berlangsung sekurang-kurangnya 6 bulan. Kecemasan yang dirasakan sulit untuk
dikendalikan dan berhubungan dengan gejala-gejala somatik seperti ketegangan otot, iritabilitas,
kesulitan tidur dan kegelisahan sehingga menyebabkan penderitaan yang jelas dan gangguan

4
yang bermakna dalam fungsi sosial dan pekerjaan. Penyebab gangguan cemas
menyeluruh ini belum diketahui secara pasti. Hanya saja disebutkan bahwa
faktor biologi dan psikologi memiliki peran terhadap terjadinya gangguan
cemas menyeluruh.

Faktor Biopsikososial
Insomnia dapat terjadi karena disebabkan karena beberapa faktor, baik karena faktor biologis,
medis, psikologis, maupun kerena faktor lingkungan:9
Faktor Medis dan Biologis
 Faktor usia. Penelitian menunjukkan bahwa sesorang yang sudah berusia lanjut lebih
beresiko mengalami insomnia daripada yang masih muda.
 Hormon yang diproduksi pada wanita hamil dan menstruasi.
 Masalah dengan jet lag (mabuk udara).
 Kerusakan otak seperti stroke atau alzheimer.
 Faktor genetik (bawaan lahir), meskipun sangat jarang terjadi.
 Efek samping penggunaan obat, soda, narkoba, alkohol, atau kafein.
Faktor Psikologis
 Faktor gangguan mental seperti skizofrenia, gangguan kecemasan (anxiety disorder), atau
gangguan kepribadian bipolar.
 Beban pikiran yang terlalu banyak.
 Faktor psikis seperti ketakutan, paranoid, stress, depresi, kecemasan, serta tekanan mental
dan emosional.
 Ketakutan akibat gangguan pada fase tidur REM (Rapid Eye Movement) seperti mimpi
buruk, tindihan (sleep paralysis), atau berjalan saat tidur (sleepwalking).
Faktor Dari Luar
 Jam kerja yang berubah-ubah atau tidak teratur. Sehingga tubuh akan sulit menyesuaikan
diri.
 Kelelahan fisik.
 Bekerja pada malam hari.
 Lingkungan yang tidak mendukung untuk tidur.
 Pola tidur yang tidak teratur.
5
Epidemiologi
Survei 1,1 juta penduduk di Amerika Serikat menemukan bahwa orang-orang yang
melaporkan tidur sekitar 7 jam per malam itu tingkat terendah kematian, sedangkan mereka yang
tidur kurang dari 6 jam atau lebih dari 8 jam memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi. Tidur
8,5 jam atau lebih per malam peningkatan mortalitas sebesar 15%. Insomnia parah - tidur kurang
dari 3,5 jam pada wanita dan 4,5 jam pada laki-laki juga menyebabkan peningkatan 15% dalam
kematian. 10

Komplikasi
Komplikasi dari insomnia adalah:11
-Penurunan gairah seksual
-Gangguan penglihatan
-Kurang konsentrasi
-Memperburuk kondisi kesehatan
-Kerusakan kulit
-Keinginan makan berlebih
-Stress

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan insomnia dapat dibagi menjadi dua yaitu secara farmakologi dan non
farmakologi.
Untuk terapi non farmakologi yaitu:12
Terapi kontrol stimulus. Metode ini membantu menghilangkan faktor-faktor yang
mengkondisikan pikiran Anda untuk tidak tidur. Misalnya, Anda mungkin dilatih untuk mengatur
waktu tidur dan bangun yang konsisten dan menghindari tidur siang, gunakan tempat tidur hanya
untuk tidur dan bercinta, dan tinggalkan kamar tidur jika Anda tidak bisa tidur dalam waktu 20
menit, hanya kembali saat Anda berada. ngantuk.
Sleep Restriction. Berbaring di tempat tidur saat terbangun bisa menjadi kebiasaan yang
menyebabkan kurang tidur. Perawatan ini mengurangi waktu yang Anda habiskan di tempat
tidur, menyebabkan kekurangan tidur sebagian, yang membuat Anda lebih lelah pada malam

6
berikutnya. Setelah tidur Anda membaik, waktu Anda di tempat tidur berangsur-angsur
meningkat.
Sleep Hygiene. Metode terapi ini melibatkan perubahan kebiasaan gaya hidup dasar yang
mempengaruhi tidur, seperti merokok atau minum terlalu banyak kafein di kemudian hari,
minum terlalu banyak alkohol, atau tidak berolahraga secara teratur. Ini juga mencakup tip yang
membantu Anda tidur lebih nyenyak, seperti cara menurunkan satu atau dua jam sebelum tidur.
Sleep Environment Improvement. Ini cara agar Anda bisa menciptakan lingkungan tidur yang
nyaman, seperti menjaga kamar tidur Anda tetap tenang, gelap dan sejuk, tidak memiliki TV di
kamar tidur, dan menyembunyikan jam dari pandangan.
Relaxation Training. Metode ini membantu Anda menenangkan pikiran dan tubuh Anda.
Pendekatan meliputi meditasi, relaksasi otot dan lain-lain.
Remaining Passively Awake. Juga disebut “berlawanan dengan niat”, cara ini untuk tetap
terbangun. Paradoksnya, khawatir bahwa Anda tidak bisa tidur sebenarnya bisa membuat Anda
tetap terjaga. Melepaskan kekhawatiran ini bisa membantu Anda rileks dan membuatnya lebih
mudah tertidur.
Biofeedback. Metode ini memungkinkan Anda mengamati tanda-tanda biologis seperti denyut
jantung dan ketegangan otot dan menunjukkan cara menyesuaikannya.

Untuk terapi farmakologis:13


Obat tidur biasanya hanya digunakan dokter sebagai pilihan terakhir, yaitu ketika
insomnia sudah tidak lagi bisa diatasi dengan perubahan pola hidup dan terapi kognitif atau
ketika tingkat keparahan insomnia sudah tinggi. Obat tidur umumnya diresepkan dengan dosis
serendah mungkin dan dengan jangka waktu sesingkat mungkin. Jadi artinya penggunaan obat
tidur sifatnya hanya sementara. Dokter biasanya akan enggan meresepkan obat tidur dalam
jangka panjang karena hal tersebut tetap tidak akan mengatasi penyebab dasar insomnia.
Untuk insomnia yang menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan, stres berat, atau
terbangun tiba-tiba di malam hari, dokter dapat meresepkan zopiclone atau zolpidem. Biasanya
kedua obat tidur ini diberikan dengan dosis serendah mungkin dalam jangka waktu maksimal
satu bulan. Baik zopiclone maupun zolpidem memiliki efek samping berupa mulut terasa kering,
sakit kepala, mual, atau muntah. Untuk insomnia yang penderitanya mengalami kesulitan
memulai tidur, dokter dapat meresepkan zaleplon. Efek samping umum dari penggunaan obat ini

7
adalah kesemutan, nyeri saat menstruasi pada wanita, dan hilang ingatan jangka pendek.
Zaleplon biasanya diresepkan dalam jangka waktu maksimal setengah bulan dengan dosis
serendah mungkin.
Jika penderita insomnia mengalami rasa cemas atau stres berat, dokter dapat meresepkan
golongan obat penenang seperti benzodiazepin agar penderita menjadi rileks dan dapat tidur
dengan lelap. Selain dapat menyebabkan ketergantungan, kadang-kadang reaksi kantuk obat
tidur bisa berlanjut hingga keesokan harinya, terutama pada orang tua. Karena itu bagi Anda
yang memiliki rutinitas sibuk dan suka membawa kendaraan sendiri, hendaknya tanyakan kepada
dokter agar obat tidur yang diberikan bisa disesuaikan dengan kondisi Anda.

Prognosis
Untuk insomnia jangka pendek, prognosis sangat baik. Sebuah kursus singkat hipnotik
akan membantu mengatasi fase insomnia. Untuk insomnia kronis pertama faktor penyebab yang
mendasari perlu diidentifikasi. Pasien juga perlu didukung dengan terapi hipnotik dan terapi
perilaku. Resisten insomnia, yang sulit untuk diatasi, dapat secara bertahap diatasi dengan
ketekunan dan kesabaran. Terapi perilaku membentuk patokan pengelolaan insomnia karena
akan membantu untuk mengubah atau memperkuat pola tidur.14
Pencegahan
Pencegahan gangguan tidur mungkin termasuk menjaga jadwal tidur yang konsisten,
seperti bangun dan tidur pada waktu yang sama. Juga, orang harus menghindari minuman dan
obat-obatan yang dapat mengganggu tidur selama 8 jam sebelum tidur.15

Kesimpulan
Sulit tidur sering terjadi, baik pada usia muda maupun usia lanjut dan seringkali timbul
bersamaan dengan gangguan emosional, seperti kecemasan, kegelisahan, depresi atau ketakutan.
Kadang seseorang sulit tidur hanya karena badan dan otaknya tidak lelah. Dengan bertambahnya
usia, waktu tidur cenderung berkurang. Selain itu, gangguan sulit tidur pada lansia disebabkan
oleh berbagai hal dari berbagai aspek, yaitu aspek psikologis, aspek biologis, dan aspek social.
Insomnia merupakan gangguan sederhana namun tidak dapat sembuh spontan, dapat

8
menggunakan terapi untuk menanganinya, pada usia lanjut terdiri dari terapi nonfarmakologis
dan farmakologis.

Daftar Pustaka
1. Sibuea W.H, Frenkel M. Pedoman dasar anamnesis dan pemeriksaan jasmani.
Jakarta: CV. Sagung Seto; 2007.h. 7-15
2. Swartz MH. Buku ajar diagnostik fisik. Jakarta: EGC.2002.h.3-11.
3. Burnside JW. Diagnosis fisik. Ed 17. Jakarta: EGC; 2005. h. 67-73.
4. Carney CE, Edinger JD. Insomnia and anxiety. 1st edition. United States:
Springer; 2009.h.54-73.
5. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, K MS, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.758-60.
6. Samiadi L. A. Apa itu depresi? https://hellosehat.com/penyakit/depresi/. Diakses
tanggal 12 Januari 2018.
7. Pusko Media Indonesia. Kenali 10 Gejala Umum Demensia Alzheimer.
https://www.alzi.or.id/kenali-10-gejala-umum-demensia-alzheimer. Diakses tanggal 12
Januari 2018.
8. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Ed 6
vol 2. Jakarta: EGC; 2006.
9. Penyebab insomnia. http://penyebabinsomnia.com/faktor-penyebab-terjadinya-
insomnia/. Diakses tanggal 13 Januari 2018.
10. Wilson, Jennifer F. Insomnia. 3rd edition. United States: Annals of Internal
Medicine; 2008.p.148-69.
11. 7 komplikasi penyakit insomnia! http://obatuntukpenyakit.com/7-komplikasi-
penyakit-insomnia/. Diakses tanggal 13 Januari 2018.
12. Insomnia treatment: cognitive behavioral therapy instead of sleeping pills.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/insomnia/in-depth/insomnia-treatment/art-
20046677. Diakses tanggal 13 Januari 2018.
13. Pengobatan insomnia. http://www.alodokter.com/insomnia/pengobatan. Diakses
tanggal 14 Januari 2018.
14. Paderla A. Insomnia-prognosis.
http://www.medindia.net/patients/patientinfo/insomnia-prognosis.htm. Diakses tanggal 14
Januari 2018.
15. Tomb, David A. 2004. Buku Saku Psikiatri Ed 6. Jakarta: EGC.