Anda di halaman 1dari 9

Nama : Mahmud Barkah

NPM : 1506780576
Mata Kuliah : Transaksi Berjaminan
Kelas : Hukum Ekonomi Sore

Perbandingan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah
Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah (UU Hak Tanggungan Tahun 1996)
Dengan
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia (UU Jaminan Fidusia Tahun
1999)

No. Keterangan UU Hak Tanggungan Tahun 1996 UU Jaminan Fidusia Tahun 1999
1. Pengertian Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu
berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya disebut Hak benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan
Tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan
pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau Jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda
tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak
kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang berwujud dan benda tidak bergerak khususnya
tertentu, yang memberikan kedudukan yang bangunan yang tidak dapat dibebani
diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam
kreditor-kreditor lain; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang
Hak Tanggungan yang tetap berada dalam
penguasaan Pemberi Fidusia,sebagai agunan bagi
pelunasan utang tertentu, yang memberikan
kedudukan yang diutamakan kepada Penerima
Fidusia terhadap kreditor lainnya.
2. Ruang Undang-undang ini berlaku terhadap Hak Undang-undang ini berlaku terhadap setiap
Lingkup Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang perjanjian yang bertujuan untuk membebani
berkaitan dengan tanah Benda dengan Jaminan Fidusia.

Undang-undang ini tidak berlaku terhadap:


a. Hak tanggungan yang berkaitan dengan tanah
dan bangunan, sepanjang peraturan perundang-
undangan yang berlaku menentukan jaminan atas
benda-benda tersebut wajib
didaftarkan;
b. Hipotek atas kapal yang terdaftar dengan isi
kotor berukuran 20 (dua puluh) M3 atau lebih;
c. Hipotek atas pesawat terbang; dan
d. Gadai.
3. Utang yang Utang yang dijamin pelunasannya dengan Hak Utang yang pelunasannya dijamin dengan fidusia
Dijamin Tanggungan dapat berupa utang yang telah ada atau dapat berupa:
yang telah diperjanjikan dengan jumlah tertentu atau a. utang yang telah ada;
jumlah yang pada saat permohonan eksekusi Hak b. utang yang akan timbul di kemudian hari yang
Tanggungan diajukan dapat ditentukan berdasarkan telah diperjanjikan dalam jumlah tertentu; atau
perjanjian utang-piutang atau perjanjian lain yang c. utang yang pada saat eksekusi dapat ditentukan
menimbulkan hubungan utang-piutang yang jumlahnya berdasarkan perjanjian pokok yang
bersangkutan. menimbulkan kewajiban memenuhi suatu
prestasi.
Hak Tanggungan dapat diberikan untuk suatu utang
yang berasal dari satu hubungan hukum atau untuk Jaminan Fidusia dapat diberikan kepada lebih
satu utang atau lebih yang berasal dari beberapa dari satu Penerima Fidusia atau kepada kuasa
hubungan hukum. atau wakil dari Penerima Fidusia tersebut
4. Pendaftaran Pemberian Hak Tanggungan wajib didaftarkan pada Benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia
dan Kantor Pertanahan. wajib didaftarkan.
berlakunya
Hak Jaminan Pemberian Hak Tanggungan wajib didaftarkan pada Pendaftaran Jaminan fidusia sebagaimana
Kantor Pertanahan. dimaksud dilakukan pada Kantor Pendaftaran
Fidusia.
Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah
penandatanganan Akta Pemberian Hak Tanggungan Kantor Pendaftaran Fidusia sebagaimana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2), PPAT dimaksud dalam lingkup tugas Departemen
wajib mengirimkan Akta Pemberian Hak Kehakiman.
5 / 31 (1). Kantor Pendaftaran Fidusia menerbitkan dan
.hukumonline.com menyerahkan kepada Penerima Fidusia pada
Tanggungan yang bersangkutan dan warkah lain yang tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan
diperlukan kepada Kantor Pertanahan. permohonan pendaftaran.
(2). Sertifikat Jaminan Fidusia yang merupakan
Pendaftaran Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud salinan dari Buku Daftar Fidusia memuat catatan
dilakukan oleh Kantor Pertanahan dengan tentang hal-hal sebagaimana dimaksud dalam
membuatkan buku tanah Hak Tanggungan dan pasal 13 ayat (2) .
mencatatnya dalam buku tanah hak atas tanah yang (3). Jaminan Fidusia lahir pada tanggal yang
menjadi obyek Hak Tanggungan serta menyalin sama dengan tanggal dicatatnya jaminan Fidusia
catatan tersebut pada sertifikat hak atas tanah yang dalam Buku Daftar Fidusia.
bersangkutan.

Tanggal buku tanah Hak Tanggungan sebagaimana


dimaksud adalah tanggal hari ketujuh setelah
penerimaan secara lengkap surat-surat yang
diperlukan bagi pendaftarannya dan jika hari ketujuh
itu jatuh pada hari libur, buku tanah yang
bersangkutan diberi bertanggal hari kerja berikutnya.

Hak Tanggungan lahir pada hari tanggal buku tanah


Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud diatas
5. Sertifikat dan (1). Sebagai tanda bukti adanya Hak Tanggungan, (1). Dalam sertifikat Jaminan fidusia
Kekuatan Kantor Pertanahan menerbitkan sertifikat Hak dicantumkan kata-kata " DEMI KEADILAN
Eksekutorial Tanggungan sesuai dengan peraturan per- undang- BERDASARKAN KETUHANAN YANG
undangan yang berlaku. MAHA ESA".
(2). Sertifikat Hak Tanggungan memuat irah-irah (2). Sertifikat Jaminan fidusia mempunyai
dengan kata-kata "DEMI KEADILAN kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan
BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
ESA". hukum tetap.
(3). Sertifikat Hak Tanggungan sebagaimana (3). Apabila debitor cidera janji, Penerima Fidusia
dimaksud mempunyai kekuatan eksekutorial yang mempunyai hak untuk menjual Benda yang
sama dengan putusan pengadilan yang telah menjadi obyek Jaminan Fidusia atas
memperoleh kekuatan hukum tetap dan berlaku kekuasaannya sendiri.
sebagai pengganti grosse acte Hypotheek sepanjang
mengenai hak atas tanah.
(4). Kecuali apabila diperjanjikan lain, sertifikat hak
atas tanah yang telah dibubuhi catatan pembebanan
HakTanggungan dikembalikan kepada pemegang hak
atas tanah yang bersangkutan.
(5). Sertifikat Hak Tanggungan diserahkan kepada
pemegang Hak Tanggungan.
6. Pengalihan (1). Jika piutang yang dijamin dengan Hak (1). Pengalihan hak atas piutang yang dijamin
Hak Tanggungan beralih karena cessie, subrogasi, dengan fidusia mengakibatkan beralihnya demi
pewarisan, atau sebab-sebab lain, Hak Tanggungan hukum segala hak dan kewajiban Penerima
tersebut ikut beralih karena hukum kepada kreditor Fidusia kepada kreditor baru.
yang baru. (2). Beralihnya Jaminan Fidusia didaftarkan oleh
(2). Beralihnya Hak Tanggungan wajib didaftarkan kreditor baru kepada Kantor Pendaftaran Fidusia.
oleh kreditor yang baru kepada Kantor Pertanahan.
(3). Pendaftaran beralihnya Hak Tanggungan Jaminan Fidusia tetap mengikuti Benda yang
dilakukan oleh Kantor Pertanahan dengan menjadi obyek Jaminan Fidusia dalam tangan
mencatatnya pada buku tanah Hak Tanggungan dan siapapun Benda tersebut berada., kecuali
buku tanah hak atas tanah yang menjadi obyek Hak pengalihan atas benda persediaan yang menjadi
Tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada obyek
sertifikat Hak Tanggungan dan Jaminan Fidusia.
sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan.
7. Penghapusan (1). Hak Tanggungan hapus karena hal-hal sebagai (1). Jaminan Fidusia hapus karena hal-hal sebagai
berikut: berikut:
a. hapusnya utang yang dijamin dengan Hak a. hapusnya utang yang dijamin dengan fidusia;
Tanggungan; b. pelepasan hak atas Jaminan Fidusia oleh
b. dilepaskannya Hak Tanggungan oleh pemegang Penerima Fidusia; atau
Hak Tanggungan; c. musnahnya Benda yang menjadi obyek
c. pembersihan Hak Tanggungan berdasarkan Jaminan Fidusia.
penetapan peringkat oleh Ketua Pengadilan Negeri; (2). Musnahnya Benda yang menjadi obyek
d. hapusnya hak atas tanah yang dibebani Hak Jaminan Fidusia tidak menghapuskan klaim
Tanggungan. asuransi sebagaimana dimaksud dalam pasal 10
(2). Hapusnya Hak Tanggungan karena dilepaskan huruf b.
oleh pemegangnya dilakukan dengan pemberian (3). Penerima Fidusia memberitahukan kepada
pernyataan tertulis mengenai dilepaskannya Hak Kantor Pendaftaran Fidusia mengenai hapusnya
Tanggungan tersebut oleh pemegang Hak Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam
Tanggungan kepada pemberi Hak Tanggungan. ayat (1) dengan melampirkan pernyataan
(3). Hapusnya Hak Tanggungan karena pembersihan mengenai hapusnya utang, pelepasan hak, atau
Hak Tanggungan berdasarkan penetapan peringkat musnahnya Benda yang menjadi obyek Jaminan
oleh Ketua Pengadilan Negeri terjadi karena Fidusia tersebut.
permohonan pembeli hak atas tanah yang dibebani
Hak Tanggungan tersebut agar hak atas tanah yang
dibelinya itu dibersihkan dari beban Hak Tanggungan.
(4). Hapusnya Hak Tanggungan karena hapusnya hak
atas tanah yang di beban Hak Tanggungan tidak
menyebabkan hapusnya utang yang dijamin.
8. Eksekusi (1). Apabila debitor cidera janji, maka berdasarkan: (1). Apabila debitor atau Pemberi Fidusia cidera
a. hak pemegang Hak Tanggungan pertama untuk janji, eksekusi terhadap Benda yang menjadi
menjual obyek Hak Tanggungan, atau obyek Jaminan Fidusia dapat dilakukan dengan
b. titel eksekutorial yang terdapat dalam sertifikat cara:
Hak Tanggungan, obyek Hak Tanggungan dijual a. pelaksanaan titel eksekutorial oleh Penerima
melalui pelelangan umum menurut tata cara yang Fidusia;
ditentukan dalam peraturan perundang-undangan b. penjualan Benda yang menjadi obyek Jaminan
untuk pelunasan piutang pemegang Hak Tanggungan Fidusia atas kekuasaan Penerima Fidusia sendiri
dengan hak mendahulu dari pada kreditor-kreditor melalui pelelangan umum serta mengambil
lainnya. pelunasan piutangnya dari hasil penjualan;
(2). Atas kesepakatan pemberi dan pemegang Hak c. penjualan di bawah tangan yang dilakukan
Tanggungan, penjualan obyek Hak Tanggungan dapat berdasarkan kesepakatan Pemberi dan Penerima
dilaksanakan di bawah tangan jika dengan demikian Fidusia jika dengan cara demikian dapat
itu akan dapat diperoleh harga tertinggi yang diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan
menguntungkan semua pihak. para pihak.
(3). Pelaksanaan penjualan hanya dapat dilakukan (2). Pelaksanaan penjualan dilakukan setelah
setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan
secara tertulis oleh pemberi dan/atau pemegang Hak secara tertulis oleh Pemberi dan atau Penerima
Tanggungan kepada pihak-pihak yang berkepentingan Fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan
dan diumumkan sedikit-dikitnya dalam 2 (dua) surat dan diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua) surat
kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan
dan/atau media massa setempat, serta tidak ada pihak
yang menyatakan keberatan.
9. Sanksi (1). Pejabat yang melanggar atau lalai dalam Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan,
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam mengubah, menghilangkan atau dengan cara
Pasal 11 ayat (1), Pasal 13 ayat (2), dan Pasal 15 ayat apapun memberikan keterangan secara
(1) Undang-undang ini dan/atau peraturan menyesatkan, yang jika hal tersebut diketahui
pelaksanaannya dapat dikenai sanksi administratif, oleh salah
berupa: satu pihak tidak melahirkan perjanjian Jaminan
a. teguran lisan; Fidusia, dipidana dengan pidana penjara paling
b. teguran tertulis; singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)
c. pemberhentian sementara dari jabatan; tahun dan denda paling sedikit Rp. 10.000.000,-
d. pemberhentian dari jabatan. (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak
(2). Pejabat yang melanggar atau lalai dalam Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah).
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pemberi Fidusia yang mengalihkan,
Pasal 13 ayat (4), Pasal 16 ayat (4), dan Pasal 22 ayat menggadaikan, atau menyewakan Benda yang
(8) Undang-Undang ini dan/atau peraturan menjadi obyek jaminan Fidusia yang dilakukan
pelaksanaannya dapat dikenai sanksi administratif tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang Penerima Fidusia, dipidana dengan pidana
berlaku. penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda
(3). Pemberian sanksi tidak mengurangi sanksi yang paling banyak Rp.50.000.000,- (lima puluh juta
dapat dikenakan menurut peraturan perundang- rupiah).
undangan lain yang berlaku.
(4). Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi
administratif ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah
Review atau Tanggapan:
UU Hak Tanggungan Tahun 1996
Di dalam UU Hak Tanggungan tidak ada pembatasan/larangan pemberian kredit bank kepada WNI
atau BHI dari kreditor di luar negeri yang dijamin dengan Hak Tanggungan atas obyek di dalam
wilayah RI; yang dibatasi adalah terhadap penggunaan dana dari kredit tersebut.
Penjelasan Pasal 10 ayat (1) UUHak Tanggungan
Dalam hal hubungan utang-piutang itu timbul dari perjanjian utang-piutang atau perjanjian
kredit,perjanjian tersebut dapat dibuat di dalam maupun di luar negeri dan pihak-pihak yang
bersangkutan dapat orang perseorangan atau badan hukum asing sepanjang kredit yang bersangkutan
dipergunakan untuk kepentingan pembangunan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pasal 4 ayat (4)
Hak Tanggungan dapat juga dibebankan pada hak atas tanah berikut bangunan, tanaman, dan hasil
karya yang telah ada atau yang akan ada yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut, dan
yang merupakan milik pemegang hak atas tanah yang pembebanannya dengan tegas dinyatakan di
dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan.
Tersirat ada Pemisahan Horisontal, maka konsekuensinya harus dapat dilakukan pembebanan Hak
Tanggungan terhadap tanah tanpa bangunannya; dan sebaliknya tidak dimungkinkan pembebanan
Hak Tanggungan terhadap benda yg berkaitan dengan tanah tanpa membebankan serta tanahnya.
Hal itu tidaklah mengingkari asas Pemisahan Horisontal, namun justru merupakan implementasi asas
tersebut yang disesuaikan dengan realitas (:praktek perkreditan perbankan).
Pasal 4 ayat (5) menyebutkan bahwa :
“Apabila bangunan, tanaman dan hasil karya sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak dimiliki
oleh pemegang hak atas tanah, pembebanan Hak Tanggungan atas benda-benda tersebut hanya
dapat dilakukan dengan penandatanganan serta pada Akta Pemberian Hak Tanggungan yang
bersangkutan oleh pemiliknya atau yang diberi kuasa untuk itu olehnya dengan akta otentik”.
Pembebanan Hak Tanggungan atas bangunan hanya dapat terjadi apabila pemilik hak atas tanah
tersebut melakukan penandatanganan serta atas Hak Tanggungan yang dimohon oleh pemilik
bangunan. Dapat diartikan bahwa pembebanan Hak Tanggungan atas bangunan atau tanaman atau
hasil karya harus dibebankan berikut hak atas tanah di mana bangunan atau tanaman itu berdiri
diatasnya.
Ketentuan Pasal 4 ayat (5) mungkin dalam praktek akan sulit dilakukan
Berdasarkan asas pemisahan horisontal rumah, bangunan dan tanaman terpisah dari tanah di mana
benda-benda itu berdiri, dan karena itu rumah atau bangunan perlu mempunyai identitas tersendiri
yang terlepas dari identitas tanah di mana rumah atau bangunan itu berdiri, sehingga diharapkan
rumah atau bangunan akan merupakan benda terdaftar dan memiliki tanda bukti pemilikan sendiri
Sebagai konsekuensi dari asas pemisahan horisontal maka rumah dan bangunan yang telah terdaftar
dan memiliki tanda bukti pemilikan yang terpisah dari tanahnya itu dapat dijaminkan terpisah dari hak
atas tanahnya. Bagi rumah atau bangunan terdaftar itu diharapkan dapat berlaku Hak Tanggungan atas
bangunan.
UU Jaminan Fidusia Tahun 1999
1. Pasal 5 Undang-Undang Jaminan Fidusia menyebutkan bahwa “Pembebanan Benda dengan
Jaminan Fidusia dibuat dengan akta notaris dalam baha sa Indonesia dan merupakan akta
Jaminan Fidusia”. Rumusan pasal ini tidak mencerminkan adanya suatu perintah yang tegas yang
bersifat im-peratif (memaksa) namun hanya mencerminkan suatu rumusan yang fakultatif.
Apabila kita menyadari bahwa dalam pembebanan fidusia ada peralihan hak dan menyangkut
suatu benda bergerak yang umumnya tidak didaftar, maka sudah selayaknya rumusan pasal
tersebut dibuat imperatif (memaksa). Agar bersifat memaksa maka perlu menambahkan kata
wajib dalam pasal tersebut sehingga berbunyi “Pembebanan Benda dengan Jaminan Fidusia
wajib dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia dan merupakan akta Jaminan Fidusia”.
2. Undang-Undang Jaminan Fidusia juga tidak memberikan sanksi yang tegas bilamana
penjaminan fidusia tidak menggunakan akta notaris. Dalam praktik meskipun perintah
pembebanan fidusia dalam akta notaris, telah disebutkan dalam Pasal 5 Undang-undang Jaminan
Fidusia dan Peraturan Pelaksananya No. 21 tahun 2015, tetapi ketiadaan sanksi membuat
masyarakat masih menafsirkan bahwa pasal tersebut bersifat fakultatif bukan imperatif
(memaksa). Akan berbeda bila pasal tersebut disertakan dengan sanksi. Dalam hal Akta Fidusia
tidak dibuat dengan akta notaris maka tidak dapat didaftarkan maka keberadaan sanksi akan
memberikan efek memaksa pada masyarakat.
3. Apabila kita melihat ketentuan pasal 20 UU Jaminan Fidusia ini terlihat bahwa adanya
keberpihakan pembentuk UU kepada kepentingan Kreditur karena seolah-olah ingin memberikan
suatu angin segar bagi Kreditur yang selama ini dalam praktek kepentingan hukumnya kurang
terlindungi sejak lembaga fidusia ini diperkenalkan dalam sistem hukum kita sampai lahirnya
UU fidusia ini.1 Kecenderungan pembentuk UU untuk lebih mengutamakan kepentingan
Kreditur ini dalam pelaksanaan eksekusi fidusia apabila debitur melakukan cidera janji terlihat
dari adanya ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 2
a. Pencantuman titel eksekutorial dalam Setifikat Jaminan Fidusia yang berarti Sertifikat
Fidusia mempunyai kekuatan eksekutorial bagi para pihak untuk dilaksanakan.
b. Secara khusus UU Jaminan Fidusia Tahun 1999 ini ingin melembagakan “parate
eksekusi” yang diberikan kepada Penerima Fidusia sebagai Kreditur.
c. Memberika hak kepada Penerima Fidusia untuk menguasai objek Jaminan Fidusia
apabila Pemberi Fidusia tidak bersedia menyerahkan secara sukarela barang jaminan yang
dikuasainya atau dikenal dengan Right to Repossess (vide pasal 30 dan penjelasan pasal 30
UU Jaminan Fidusia).
4. Dari sisi perkreditan, ada kesulitan dari Penerima Fidusia untuk melakukan eksekusi Fidusia
apabila Pemberi Fidusia melakukan wanprestasi karena benda-benda yang menjadi objek Fidusia
tersebut masih berada dalam penguasaan Pemberi Fidusia (Debitur), hal ini sejalan dengan
ketentuan pasal 1977 KUH Perdata yang dikenal dengan asas bezit geldt als volkomen titel sesuai
dengan teori Prof. Paul Scholten, yang menyatakan bahwa “maka barang siapa menguasai benda
bergerak dianggap sebagai pemiliknya”. Asas tersebut menjadi hambatan bagi Penerima Fidusia

1 Prof. Arie S. Hutagalung, S.H., MLI. “Eksekusi Jaminan Fisudia Menurut UU No. 42 Tahun 1999 Tentang
Jaminan Fidusia (analisis sosio yuridis untuk mengantisipasi efektifitasnya)”. (Makalah Dalam Seminar
Nasional mengenai “Pelaksanaan Pembebanan Fidusia Menurut UU No. 42 Tahun 1999, Fakultas Hukum
Universitas Trisakti, 1999), Hal. 4.

2 Ibid. Hal. 4-5


karena tidak ada kepastian hukum bagi Kreditur untuk melakukan eksekusi jika Pemberi Fidusia
melakukan wanprestasi.

5. Permasalahan eksekusi jaminan fidusia


Walaupun dalam Pasal 29 UU Jaminan Fidusia Tahun 1999 telah diatur mengenai eksekusi objek
jaminan fidusia, akan tetapi dalam pelaksanaannya hal tersebut sangat sulit untuk dilaksanakan.
Begitu besamya campur tangan badan peradilan membuat eksekusi memakan waktu yang lama
dan memakan banyak biaya.padahal nilai dari barang-barang bergerak semakin menyusut,
sehingga seharusnya eksekusi dapat dilaksanakan dengan proses yang sederhana, waktu yang
cepat dan biaya murah.
Selain itu dalam pelaksanaan eksekusi, hak lain yang UU Jaminan Fidusia Tahun 1999 kepada
kreditur penerima fidusia adalah untuk menguasai objek jaminan fidusia. Akan tetapi ketentuan
dalam Pasal 30 kurang efektif karena tidak ada sanksi bagi pemberi fidusia yang tidak mau
menyerahkan objek jaminan fidusia. Walaupun ditentukan bahwa penerima fidusia dapat
meminta bantuan dari pihak yang berwenang tersebut. Hal ini dikeluhkan perusahaan
pembiayaan mengingat tingginya biaya yang harus dikeluarkan jika meminta bantuan polisi.
6. Undang-Undang Jaminan Fidusia tidak menempatkan pendaftaran pada posisi yang sangat
penting karena tidak ada sanksi yang ditegaskan dalam Undang-undang Jaminan Fidusia
tersebut. Padahal pendaftaran adalah jantung dari penjaminan fidusia. Asas publisitas yang
menyertai penjaminan ini tidak dapat dinomor duakan.
Tanpa adanya pendaftaran hak-hak dari kre-ditur seperti hak preferen dan hak ek-sekutorial yang
lahir bersamaan de-ngan dicatatkannya jaminan fidusia ti-dak akan diterima oleh kreditur. Mes-
kipun telah dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK. 010/2012 tentang
Pendaftaran Jaminan Fidusia bagi Perusahaan Pembiayaan yang Melakukan Pembiayaan
Konsumen untuk Kendaraan Bermotor dengan Pembebanan Jamina Fidusia. Di dalam
Permenkeu tersebut terdapat sanksi yang tegas mulai dari sanksi administratif sampai dengan
pencabutan ijin usaha, namun hanya akan dapat berlaku tegas pada perusahaan pembiayaan yang
memberikan pembiayaan kendaraan bermotor, sedangkan bagi objek fidusia lainnya belum diatur
seperti hal kendaraan bermotor.
7. Undang-undang Jaminan Fidusia mem-berikan definisi debitur dan pemberi fidusia secara
terpisah. Undang-undang Jaminan Fidusia tidak mengharus-kan pemberi fidusia adalah debitur
sendiri, sehingga kedudukan debitur dan pemberi fidusia ada tiga kemungkinan. Kemungkinan
pertama adalah pemberi fidusia merupakan debitur sendiri dan kemungkinan kedua pemberi
fidusia bukanlah debitur tetapi orang lain yang mempercayakan benda miliknya menjadi jaminan
guna kepentingan debitur ketiga debitur yang memiliki itikad tidak baik yang menjaminkan
benda milik orang lain tanpa hak. Atas kemungkinan-ke-mungkinan tersebut maka di dalam
praktik debitur dapat menjaminkan benda milik orang lain guna kepentingannya.
8. Dalam praktik penjaminan milik pihak ketiga sering menimbul-kan permasalahan. Seperti
yang digambarkan oleh Salim HS bahwa ada beberapa hambatan-hambatan dalam pelaksanaan
pelelangan jaminan yang salah satunya dari bebarapa poin yang ia bahas adalah karena benda
jaminan milik pihak ketiga. Hambatan terjadi dalam pelaksanaan lelang, pihak ketiga ini
menghalangi terjadinya pelelangan benda jaminan karena pemilik objek jaminan tidak pernah
me-rasa memberikan kuasa kepada debitur untuk menjaminkan benda miliknya tersebut.
9. Pengingkaran pemilik benda dapat menjadikan penghambat dalam hal eksekusi benda
jaminan. Hal tersebut dapat merugikan kreditur. Undang-undang Jaminan Fidusia tidak mengatur
secara baik penjaminan yang dilakukan debitur atas benda milik pihak ketiga meskipun
penjaminan fidusia dengan objek milik pihak ketiga bukanlah merupakan pelanggaran hukum.
Di dalam praktik sehari hari, untuk menghindari pengingkaran dari pihak ketiga yang tidak
memiliki itikad baik, kreditur sering mensyaratkan adanya persetujuan dari pemilik benda
jaminan. Surat persetujuan itu menyatakan bahwa demi kepentingan debitur ia menjaminkan
benda miliknya secara sukarela. Sesungguhnya mensyaratkan surat persetujuan seperti ini
tidaklah melanggar hukum mengingat adanya asas kebebasan berkontrak dalam hukum perikatan
serta sifat buku III KUH perdata yang bersifat terbuka sehingga memungkinkan para pihak untuk
memperjanjian atau membentuk per-janjian di luar dari yang telah ditentukan oleh undang
undang asalkan memenuhi syarat sah perjanjian yang ter-tuang dalam Pasal 1320 KUH Perdata.
Namun untuk menjaga kepastian hukum dan melindungi para pihak khususnya pada penjaminan
benda bergerak milik orang lain maka Undang-undang Jaminan Fidusia seharusnya
menempatkan syarat persetujuan pemilik benda bergerak tersebut dalam pasalnya.
10. Kebutuhan kredit yang meningkat dan laju bisnis yang bergerak cepat meng-haruskan
masyarakat pelaku bisnis juga dapat melakukan penyesuaian. Untuk mengejar waktu, sering
sekali penandatanganan akta jaminan dikuasakan kepada kreditur oleh debiturnya melalui surat
kuasa. Undang-undang Jaminan Fidusia tidak mengatur penandatanganan Akta Jaminan Fidusia
melalui seorang kuasa tersebut apakah harus notaris atau dibuat dibawah tangan. KUH Perdata
sebagai hukum yang general juga tidak melarang seseorang menguasakan penandatanganan
kepada orang lain asalkan ada surat kuasa. Secara umum memang perjanjian dianggap sah oleh
kedua belah pihak sesuai Pasal 1338 KUH Perdata termasuk surat kuasa di bawah tangan. Tetapi
dari perspektif keotentikan satu akta mempunyai suatu kelemahan karena surat kuasa di bawah
tangan tersebut hanya berlaku bagi kedua belah pihak. Tetapi bilamana ada gugatan atau
intervensi dari pihak lain, maka kuasa di bawah tangan tersebut akan menjadi masalah.
11.Terkait dengan surat kuasa di bawah tangan sebagai suatu akta jaminan fidusia yang
merupakan alat bukti maka kalau hanya di bawah tangan akta tersebut mempunyai kelemahan
dari proses pembuktian. Memang patut diakui bahwa perjanjian fidusia adalah perjanjian yang
didasarkan pada kepercayaan. Tetapi terkait dengan adanya suatu akta sebagai alat pembuktian
maka kedudukan surat kuasa di bawah tangan sangat lemah dan tidak memiliki kepastian hukum.
Oleh karena itu, surat kuasa yang di legalisasi oleh notaris merupakan solusi yang baik bagi para
pihak untuk kepastian hukum. Legalisasi oleh seorang notaris menempatkan suatu akta bawah
tangan memiliki pembuktian sempurna (full evidence).
12. Pasal 25 Ayat (3) Undang-Undang Jaminan Fidusia menyatakan “Penerima Fidusia
memberitahukan kepada Kantor Pendaftaran Fidusia mengenai hapusnya Jaminan Fidusia
sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dengan melampirkan pernyataan mengenai hapusnya
utang, pelepasan hak, atau musnahnya Benda yang menjadi obyek”. Selanjutnya Pasal 25 Ayat
(1) menyatakan bahwa penyebab hapusnya fidusia adalah karena hal-hal sebagai berikut:
pertama karena hapusnya utang yang dijamin dengan fidusia; kedua pelepasan hak atas Jaminan
Fidusia oleh Penerima Fidusia; ketiga musnahnya Benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia.
Untuk penghapusan jaminan fidusia yang disebabkan karena pelepasan hak atau musnahnya
barang, dalam praktek mungkin tidak ada permasalahan berkenaan dengan penghapusan
jaminanya yang sering disebut dengan roya.
Yang menjadi permasalahan adalah hapusnya jaminan fidusia karena hapusnya utang yang
biasanya hapusnya utang karena selesainya perjanjian utang piutang tersebut. Mengingat
pungutan yang dikenakan dan tidak ada sanksi apapun bagi penerima Fidusia yang tidak
melakukan pencabutan (oleh Undang-undang Jaminan Fidusia) tidaklah mengherankan, apabila
studi singkat yang pernah dilakukan Kelompok Bank Dunia terhadap tingkat kepatuhan
pencabutan Fidusia pada pendaftaran jaminan Fidusia konvensional sebelum Fidusia online
berlaku hanya berkisar di bawah 10%.
Padahal Buku Daftar Fidusia sebagai register publik, idealnya memiliki data akurat tentang
kapan pembebanan Fidusia terjadi, dan kapan berakhirnya pembebanan tersebut. Aneh, apabila
pada daftar Fidusia pendaftaran masih tercatat sebagai aktif, namun pada kenyataannya transaksi
utang piutangnya sudah dilunasi. Untuk itu, meskipun utang sudah lunas apabila belum
dilakukan pencabutan jaminan fidusia akan tetap melanggar Pasal 17 Undang-undang Jaminan
Fidusia tentang larangan untuk melakukan fidusia ulang selama objek fidusia masih terdaftar.
Ketidakpatuhan ini juga merupakan dampak dari tidak adanya sarana atau tempat untuk
pencatatan roya pada bukti kepemilikan benda jaminan yang diberikan oleh pemerintah.