Anda di halaman 1dari 14

ATIKAN:

Jurnal Kajian Pendidikan, 3(1) Juni 2013

SRI R. ROSDIANTI

Kepemimpinan Kepala Sekolah


Studi Deskriptif pada Sekolah Menengah

IKHTISAR: Permasalahan penelitian yang dikaji adalah kepemimpinan Kepala Sekolah dalam manajemen
kinerja guru dan peningkatan mutu pembelajaran pada SMKS (Sekolah Menengah Kejuruan Swasta) di
Kota Bandung. Metode penelitian yang ditetapkan yaitu penelitian yang bersifat deskriptif-analitis dengan
menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi yang dipilih sebagai tempat penelitian adalah SMKS Kartini dan
SMKS BPP (Balai Perguruan Puteri) di Kota Bandung. Sedangkan subjek yang dijadikan sampel penelitian
ialah Kepala Sekolah dan beberapa orang guru. Kepemimpinan Kepala Sekolah dinilai sangat efektif dalam
manajemen peningkatan kinerja guru pada SMKS di Kota Bandung. Strategi kepemimpinan Kepala Sekolah
dalam peningkatan mutu pembelajaran pada SMKS di Kota Bandung secara umum dapat dikelompokkan
melalui langkah-langkah: (1) Kepala Sekolah selalu menumbuhkan komitmen seluruh guru agar memegang
teguh semangat dan nilai-nilai yang telah ditetapkan bersama; (2) Kepala Sekolah bersama seluruh guru
terkait mengevaluasi sejauh mana keseluruhan komponen sistem sekolah agar dapat berjalan untuk
kemajuan sekolah; serta (3) Mengembangkan budaya sekolah sebagai implementasi dan pelembagaan yang
mengarah pada kebiasaan bekerja di dalam dan di luar sekolah.
KATA KUNCI: Manajemen kinerja guru, mutu pembelajaran, peran Kepala Sekolah, Sekolah Menengah
Kejuruan Swasta, dan komitmen bersama untuk kemajuan sekolah.

ABSTRACT: This article entitled “Principals’ Leadership in Managing Teachers’ Performance and Improving
Learning Quality: A Descriptive Study at the Private Vocational Senior High Schools in Bandung City”. This
study investigates Principals’ leadership in managing teachers’ performance and in improving learning quality
in private vocational schools in Bandung. This study is a qualitative research using descriptive analytical
method. It took place at SMKS Kartini dan SMKS BPP in Bandung City. Subjects of the research were Principals
and some teachers who were selected using population sampling. In general, the Principals’ strategies in
improving the learning quality in private vocational schools can be categorized into the following steps: (1)
the Principals together with all stakeholders uphold the spirit and values that have been agreed mutually; (2)
Principals along with the all stakeholders evaluate technical policies of each system components reflecting
the spirits and basic values which are functional for the growth and development of the school; and (3)
Developing school culture as the implementation and institutionalization that lead to making it work habbits
inside and outside school.
KEY WORD: Managing teachers’ performance, learning quality, principals’ role, private vocational schools,
and common commitment to develop the school.

PENDAHULUAN mutu pendidikan. Kinerja guru tidak hanya


Guru mempunyai peran yang sangat ditunjukkan dengan kemampuan dalam
strategis dalam pembentukan pengetahuan, menguasai bidang ilmu, bahan ajar, dan
keterampilan, dan karakter siswa. Guru metode yang tepat, akan tetapi mampu
yang profesional akan melaksanakan memotivasi siswa, memiliki keterampilan yang
tugasnya secara profesional pula sehingga tinggi, dan wawasan yang luas terhadap dunia
mampu memberikan kontribusi terhadap pendidikan. Guru yang profesional mampu
Sri R. Rosdianti, M.M.Pd. adalah Guru Pendidikan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) di SMKN (Sekolah Menengah Kejuruan Negeri) 9
Bandung; dan SMP (Sekolah Menengah Pertama) Labschool UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Kampus Cibiru, Bandung. Alamat
emel: aspensi@yahoo.com

93
SRI R. ROSDIANTI,
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Manajemen Kinerja Guru

membelajarkan siswa secara efektif sesuai birokrat administratif yang ada, sehingga jelas
dengan potensi sumber daya dan lingkungan hasilnya pun tidak maksimal (Pidarta, 1995; dan
yang terdapat dalam sekolah (Kurniasih, 2002). Wahjosumidjo, 2003).
Upaya untuk menghasilkan guru yang Strategi pengembangan mutu pendidikan
profesional bukanlah tugas yang mudah. lebih menekankan kepada aspek yang bersifat
Guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam administratif dibandingkan dengan aspek yang
bersifat operasional, sehingga keadaan ini
mengembangkan proses pembelajaran
menjadikan kekaburan terhadap pencapaian
siswa. Guru yang profesional tidak akan tujuan pendidikan dan pengembangan mutu
terwujud begitu saja tanpa adanya upaya pendidikan yang sebenarnya. Jarangnya
pengembangan kompetensi. Salah satu cara program supervisi yang dilakukan oleh Kepala
untuk mewujudkan pengembangan kinerja Sekolah terhadap guru, sehingga pengawasan
guru adalah melalui pembinaan oleh Kepala dan penjaminan mutu layanan pembelajaran
Sekolah (Resmiaty, 1998). hampir tidak tersentuh (Rifai, 2004). Kondisi
Kepala Sekolah sebagai pemimpin tersebut jelas berdampak terhadap pencapaian
pendidikan memiliki tugas dan tanggung dan pengembangan mutu layanan pendidikan.
jawab dalam membina guru yang berada di Penyebab utama (akar masalah) tersebut
adalah kurangnya keahlian manajemen
sekolah yang dipimpinnya. Kedudukan Kepala
Sekolah merupakan seorang pejabat yang pendidikan yang merefleksikan pada
profesional dalam organisasi sekolah yang kepemimpinan pendidikan, baik pada tingkat
bertugas mengatur semua sumber organisasi konsep maupun praktek. Sementara itu,
organisasi pendidikan juga masih menunjukkan
dan bekerjasama dengan guru-guru dalam kinerja di bawah standar yang diharapkan
mendidik siswa untuk mencapai tujuan stakeholders, yaitu belum memenuhi kualitas
pendidikan. Kedudukan Kepala Sekolah dalam dan belum nampak inisiatif untuk tampil beda
pengembangan kinerja guru dinilai akan sangat dengan tetap menjunjung visi pendidikan
efektif karena dipandang lebih memahami secara umum (Fattah, 2001).
kebutuhan yang dirasakan di lapangan Kondisi itulah yang menarik perhatian
(Lipham, 1985). penulis untuk mengkaji lebih mendalam
Kepala Sekolah pada umumnya masih mengenai peranan kepemimpinan Kepala
sebatas jabatan struktural dalam sekolah. Hal Sekolah. Kajian ini, dengan demikian, secara
tersebut ditunjukkan dengan kecenderungan khusus mengenai kepemimpinan Kepala
keberadaan Kepala Sekolah hanya sebatas Sekolah dalam manajemen kinerja guru dan
menjalankan sistem administrasi dan birokrasi. peningkatan mutu pembelajaran. Penelitian
Artinya, selama ini keberadaan Kepala Sekolah ini perlu dilakukan sebagai kajian yang dapat
masih kurang menyentuh peran utamanya mengungkap dan menganalisis permasalahan
sebagai pihak yang memiliki kekuatan strategis sehingga mampu menghasilkan langkahs
dan manajerial (Wahjosumidjo, 2003). Keadaan langkah secara objektif dan diharapkan akan
ini jelas akan mengakibatkan mutu pendidikan memberikan dampak pada peningkatan mutu
sekolah berjalan seiring dengan arus yang layanan secara terus-menerus di sekolah.1
tidak terkontrol dan terprogram, sehingga Upaya untuk menciptakan sekolah yang
pencapaian tujuan pendidikan yang diharapkan fungsional dan bermutu dalam mencapai
menjadi kurang efisien dan efektif. harapan pelanggan perlu diciptakan dengan
Pelaksanaan strategi Kepala Sekolah hal-hal yang baru dalam organisasi pendidikan,
dalam meningkatkan mutu pendidikan baik dalam hal pilihan metode pengajaran,
hanya mengandalkan ketentuan yang telah pembiayaan yang efektif, penggunaan alatp
ditetapkan dalam program pendidikan alat teknologi pengajaran yang baru, materi
yang sudah baku. Keadaan ini jelas akan 1 Artikel ini merupakan ringkasan Tesis Magister Manajemen
mengakibatkan pelaksanaan program sekolah Pendidikan yang saya tempuh di Program Pascasarjana UNINUS
menjadi kaku dan kurang disesuaikan dengan (Universitas Islam Nusantara) di Bandung, Jawa Barat, Indonesia,
pada bulan Maret 2013. Saya mengucapkan terima kasih dan
situasi dan kondisi yang terjadi di sekolah. penghargaan yang tinggi kepada para Pembimbing (Prof. Dr.
Belum terciptanya program sekolah yang Hajah Cornelia Jane Benny dan Prof. Dr. Haji Dedi Mulyasana); dan
benar-benar menyentuh permasalahan para Penguji (Prof. Dr. Achmad Sanusi dan Prof. Dr. Enco Mulyasa)
mutu sekolah, karena Kepala Sekolah hanya sehingga saya dapat menyelesaikan studi S-2 dengan hasil yang
baik. Walau bagaimanapun, seluruh isi dan interpretasi dalam
menjalankan program sekolah sebatas menjadi artikel ini menjadi tanggung jawab akademik saya sendiri.

94
ATIKAN:
Jurnal Kajian Pendidikan, 3(1) Juni 2013

pengajaran yang bermutu tinggi, maupun sentral dan bertanggung jawab, baik secara
kemampuan menciptakan dan menawarkan langsung maupun tidak langsung dalam
lulusan (Permadi, 1998). Kepala Sekolah yang penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang
ingin mewujudkan sekolah efektif memerlukan dipimpinnya; (2) Kepala Sekolah mempunyai
pengertian akan dinamika perubahan dalam peran yang sangat setrategis dalam organisasi
mengelola perubahan itu sendiri. Upaya untuk pendidikan di sekolah; (3) Kepala Sekolah
mewujudkan perubahan organisasi dalam merupakan orang yang memahami kondisi
mewujudkan sekolah efektif sangat tergantung dan situasi sekolah dalam segala aspek, baik
pada kualitas kepemimpinan yang berorientasi permasalahan maupun perkembangannya;
pada pencapaian tujuan pembelajaran dan serta (4) Kepala Sekolah mempunyai
pelayanan pelanggan yang terbaik. Oleh karena kemampuan dalam mengkomunikasikan dan
itu, Kepala Sekolah sangat berperan penting menginformasikan berbagai kegiatan yang
dalam mewujudkan sekolah efektif pada telah dilaksanakan, yang sedang berlangsung,
organisasi yang dipimpinnya, terutama terkait dan yang akan datang, yang sesuai dengan
dengan pengembangan kinerja guru dan mutu tujuan yang ingin dicapai sekolah yang
pembelajaran (Pidarta, 1995; dan Permadi, dipimpinnya.
1998). Penelitian ini menggunakan teknik
Upaya untuk memfokuskan masalah pengumpulan data yang meliputi wawancara,
yang dibahas, penulis merumuskan pokoky observasi, dan studi dokumentasi
pokok masalah yang diteliti sebagai berikut: (Koertjaraningrat, 1983). Sebagai alat
(1) Bagaimana pengawasan Kepala Sekolah pengumpul data dan informasi yang
terhadap kinerja guru dalam meningkatkan diperlukan, teknik tersebut diharapkan
mutu pembelajaran pada SMKS atau dapat menghasilkan data dan informasi yang
saling menunjang dan melengkapi mengenai
Sekolah Menengah Kejuruan Swasta di Kota
kepemimpinan Kepala Sekolah dalam
Bandung?; (2) Bagaimana strategi pengawasan manajemen peningkatan kinerja guru dan
Kepala Sekolah dalam peningkatan mutu upaya peningkatan mutu pembelajaran pada
pembelajaran pada SMKS di Kota Bandung?; (3) SMKS di Kota Bandung.
Masalah-masalah apa yang dihadapi oleh guru Pengumpulan data dalam penelitian ini
dan Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu mengikuti prosedur seperti yang dikemukakan
pembelajaran pada SMKS di Kota Bandung?; oleh Yvonna S. Lincoln dan Egon G. Guba (1985)
dan (4) Bagaimana upaya penanganan masalah yang terdiri dari tiga tahap, yaitu: (1) tahap
yang dihadapi oleh guru dan Kepala Sekolah orientasi atau overview; (2) tahap eksplorasi
dalam meningkatkan mutu pembelajaran pada atau focused exploration; dan (3) tahap
member check. Kredibilitas hasil penelitian
SMKS di Kota Bandung?
menunjukan seberapa jauh kebenaran hasil
penelitian dapat dipercaya. Upaya untuk
METODE PENELITIAN memenuhi kredibilitas dilakukan dengan
Penelitian yang dilakukan ini bersifat kegiatan triangulasi, penggunaan bahan
deskriptif-analitik dengan menggunakan referensi, dan mengadakan member check.
pendekatan kualitatif (Nasution, 1988; dan
Moleong, 1998). Sumber data dalam penelitian KAJIAN TEORITIS
ini adalah Kepala Sekolah dan guru SMKS
(Sekolah Menengah Kejuruan Swasta) Kartini Secara lebih luas, penelitian dapat
dan SMKS BPP (Sekolah Menengah Kejuruan diartikan sebagai studi yang dilakukan oleh
Swasta Balai Perguruan Puteri) di Kota seseorang untuk menyelidiki secara hati-hati
Bandung, Jawa Barat, Indonesia. dan sempurna terhadap sesuatu masalah
Penelitian ini mengkaji dan menganalisis untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan
kepemimpinan Kepala Sekolah dalam itu dapat dikelompokkan menjadi tiga hal
manajemen peningkatan kinerja guru dan utama, yaitu: menemukan, membuktikan,
upaya peningkatan mutu pembelajaran dan mengembangkan pengetahuan tertentu.
SMKS di Kota Bandung. Kepala Sekolah Dengan demikian, implikasi dari hasil penelitian
merupakan sampel yang paling penting dalam itu dapat digunakan untuk memahami,
penelitian ini dengan berbagai pertimbangan, memecahkan, dan mengantisipasi masalah
yakni: (1) Kepala Sekolah merupakan orang
(Koentjaraningrat, 1983; Nasution, 1988; dan
yang mempunyai kedudukan yang sangat
Moleong, 1998).

95
SRI R. ROSDIANTI,
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Manajemen Kinerja Guru

Kepemimpinan Analisis Pasar


VISI, MISI & TUJUAN
adalah bagian SEKOLAH
penting dalam
manajemen. Para
manajer tidak
hanya harus
merencanakan dan INPUT PROSES OUTPUT OUTCOME
mengorganisasikan,
tetapi peran
utamanya adalah
mempengaruhi KURIKULUM PBM MUTU PBM INDIVIDU
orang lain untuk
mencapai tujuan TEN. PEND. PENGELOLAAN KINERJA GURU MASYARAKAT
yang telah
ditetapkan. Dalam PESERTA DUNIA USAHA
praktek, antara
manajer dan SARANA PEMERINTAH
kepemimpinan
seringkali BIAYA
disamakan
pengertiannya PENILAIAN
oleh banyak Feed Back
orang, padahal
keduanya memiliki
perbedaan. Gambar 1:
Menurut W. Paradigma Penelitian
Bennis dan B.
Nanus (1997), kepemimpinan merupakan kepegawaian, keuangan, sarana-prasarana,
proses mengarahkan dan mempengaruhi serta hubungan sekolah dan masyarakat. Dari
aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para
bidang-bidang tersebut bisa diklasifikasi lagi
anggota kelompok. Sedangkan Wahjosumidjo
(2003) menyatakan bahwa kepemimpinan menjadi dua, yaitu: (1) mengelola komponen
merupakan motor atau daya penggerak dari organisasi sekolah yang berupa manusia; dan
semua sumber-sumber dan alat-alat yang (2) komponen organisasi sekolah yang berupa
tersedia bagi suatu organisasi. Paul Hersey dan benda.
Ken Blanchard (2005) pula mengemukakan Sementara itu, tugas di bidang supervisi
bahwa kepemimpinan adalah aktivitas adalah tugas-tugas Kepala Sekolah yang
mempengaruhi orang-orang untuk berusaha berkaitan dengan pembinaan guru untuk
mencapai tujuan kelompok secara sukarela. perbaikan pengajaran. Supervisi merupakan
Gambar di bawah ini adalah landasan suatu usaha dalam memberikan bantuan
berpikir peneliti dalam melakukan kepada guru untuk memperbaiki atau
penelitian sebagai upaya dalam memahami, meningkatkan proses dan situasi belajarm
memecahkan, dan mengantisipasi masalah mengajar. Sasaran akhir dari kegiatan supervisi
dalam kaitannya dengan kepemimpinan Kepala adalah meningkatkan hasil belajar siswa (Duke,
Sekolah. 1981; dan Tunggara, 2001).
Sementara itu, tugas-tugas Kepala Sekolah Guru sebagai tenaga profesional di
SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) pada bidang kependidikan tidak hanya dituntut
umumnya dapat diklasifikasi menjadi dua, memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan
yaitu: (1) tugas-tugas di bidang administrasi; konseptual tentang pembelajaran, tetapi
dan (2) tugas-tugas di bidang supervisi. Tugas di juga mengetahui dan melaksanakan hal-hal
bidang administrasi adalah tugas-tugas Kepala yang bersifat teknis operasional. Hal-hal yang
Sekolah yang berkaitan dengan pengelolaan bersifat teknis ini terutama kegiatan dalam
bidang garapan pendidikan di sekolah, yang mengelola dan melaksanakan interaksi belajarm
meliputi pengelolaan pengajaran, kesiswaan, mengajar di sekolah. Sebagaimana dijelaskan

96
ATIKAN:
Jurnal Kajian Pendidikan, 3(1) Juni 2013

oleh J. Callahan dan R. Clark (1988) bahwa pengajaran (Syamsuddin Makmun, 1999).
guru paling tidak memiliki dua modal dasar, Sementara itu, mengenai konsep “mutu
yakni: kemampuan mendesain program dan
keterampilan mengkomunikasikan program pembelajaran”, E. Sallis (1993) menyarankan
itu kepada anak didik. Dua modal ini telah agar pendidikan dipandang sebagai industri
terumuskan di dalam sepuluh kompetensi guru jasa; dan usaha memenuhi kebutuhan peserta
(Syamsuddin Makmun, 1999). didik harus menjadi fokus utama dalam
Mengelola interaksi belajar-mengajar itu mengelola mutu. Sekalipun demikian, menurut
sendiri merupakan salah satu kemampuan E. Sallis (1993), tidak berarti bahwa pendidikan
dari sepuluh kompetensi guru sebagai berikut: harus mengabaikan pandangan-pandangan
(1) Menguasai bahan, yaitu mengandung dari kelompok pelanggan lainnya. Dari
dua lingkup penguasaan materi, yakni beberapa pendapat tentang mutu pendidikan
menguasai bahan bidang studi dalam yang dikemukakan dapat disimpulkan bahwa
mutu itu merupakan derajat sesuatu yang
kurikulum sekolah dan menguasai bahan
dihasilkan dari kegiatan evaluasi atau penilaian
pengayaan/penunjang bidang studi; (2)
para penghasil dan/atau pihak pemakai
Mengelola program belajar-mengajar, dalam
(Syafaruddin, 2002; dan Mulyasa, 2003). Agar
hal ini ada beberapa langkah yang harus derajat mutu sesuatu itu dapat ditetapkan,
ditempuh oleh guru yaitu: merumuskan tujuan maka atribut-atribut sesuatu beserta standar
instruksional/pembelajaran, mengenal dan atau kriteria-kriteria kebermutuannya terlebih
dapat menggunakan proses instruksional yang dahulu harus ditetapkan. Mutu pendidikan
tepat, dan melaksanakan program belajart itu sendiri bersifat multidimensi yang meliputi
mengajar; (3) Mengenal kemampuan anak aspek masukan (input), proses, dan keluaran
didik; (4) Merencanakan dan melaksanakan (output dan outcomes). Oleh karena itu,
program remedial; (5) Mengelola kelas, indikator dan standar mutu pendidikan
kegiatan mengelola kelas ini akan menyangkut dikembangkan secara holistik mulai dari input,
bagaimana mengatur tata ruang kelas yang proses, dan keluaran (Sudjana & Ibrahim,
memadai untuk pengajaran dan menciptakan 1989).
iklim belajar-mengajar yang serasi; (6)
Menggunakan media/sumber; (7) Menguasai HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
landasan kependidikan, yaitu Pancasila Mengenai Pengawasan Kepala Sekolah
sebagai landasan idiil dan Undang-Undang terhadap Kinerja Guru dalam Meningkatkan
1945 merupakan landasan konstitusional; Mutu Pembelajaran pada SMKS (Sekolah
(8) Mengelola interaksi belajar-mengajar, Menengah Kejuruan Swasta) di Kota Bandung.
kegiatan ini merupakan kegiatan yang cukup Kepala Sekolah merupakan
dominan dalam rangka transfer of knowledge penanggungjawab tunggal di sekolah. Oleh
dan bahkan juga transfer of values yang akan karena itu diperlukan profesionalitas dari
senantiasa menuntut komponen yang serasi kepemimpinannya. Sikap profesionalitas yang
antara komponen yang satu dengan yang dimiliki dapat mendorong tenaga pendidik
lain, misalnya guru, peserta didik, metode, untuk berkolaborasi dan bekerjasama
alat teknologi, sarana, dan tujuan; (9) Menilai dalam meningkatkan kualitas sekolah serta
prestasi peserta didik untuk kepentingan mewujudkan visi dan misi lembaga atau
pengajaran, dalam hal ini secara konkrit guru sekolah (Gaffar, 1993; Quiqley, 1993; Mulyadi,
mengambil langkah-langkah mengumpulkan 1998; Sinamo, 1998; dan Nanus, 2001).
data hasil belajar peserta didik, menganalisis Kepemimpinan Kepala Sekolah, dalam kajian
data hasil belajar peserta didik, menggunakan penelitian ini, ditinjau dari peran sebagai: (1)
data hasil belajar peserta didik, mengenal edukator, (2) manajer, (3) administrator, (4)
fungsi dan program layanan bimbingan dan supervisor, (5) sebagai leader, (6) inovator, dan
penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan (7) motivator.
administrasi sekolah berupa recording dan Pertama, Kepala Sekolah sebagai Edukator.
reporting; serta (10) Memahami prinsip-prinsip Selama ini, Kepala Sekolah memiliki peran
dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan disamping menjadi tenaga administrator

97
SRI R. ROSDIANTI,
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Manajemen Kinerja Guru

juga sebagai tenaga edukatif. Kepala Sekolah menunjukkan kelengkapan data administrasi
memiliki jam mengajar dan merupakan KBM dan BK, kelengkapan data administrasi
salah satu guru senior (wawancara dengan BK, kelengkapan data administrasi praktikum,
Kepala Sekolah SMKS Kartini, 6/6/2012; dan dan kelengkapan data administrasi belajar
wawancara dengan Kepala Sekolah SMKS siswa di perpustakaan (wawancara dengan
BPP, 9/6/2012). Kepala Sekolah dinilai sebagai Staf Tata Usaha SMKS BPP, 9/6/2012; dan
guru yang berprestasi dan memang memiliki
wawancara dengan Staf Tata Usaha SMKS
tingkat kediterimaan oleh siswa sangat tinggi.
Berdasarkan keterangan tersebut maka jelas Kartini, 6/6/2012).
bahwa peran Kepala Sekolah sebagai edukator Kepala Sekolah juga menegaskan bahwa
(pendidik) menunjukkan kecenderungan suatu komitmen yang dibentuk, salah satunya,
kualifikasi yang baik (wawancara dengan adalah kelengkapan dalam pengadministrasian
Guru SMKS Kartini, 6/6/2012; dan wawancara sebagai langkah awal menuju penyempurnaan
dengan Guru SMKS BPP, 9/6/2012). Hal layanan pendidikan. Lebih lanjut ditegaskan
tersebut sejalan dengan kajian Made Pidarta bahwa kelengkapan administrasi menunjukkan
(1995) yang menyatakan bahwa peran Kepala wujud nyata dan kesungguhan dalam
Sekolah sebagai edukator dalam manajemen menjalankan program-program sekolah
pendidikan mampu dijalankan dengan baik. (wawancara dengan Kepala Sekolah SMKS
Kedua, Kepala Sekolah sebagai Manajer.
BPP, 9/6/2012; dan wawancara dengan Kepala
Peran Kepala Sekolah sebagai manajer pada
Sekolah SMKS Kartini, 6/6/2012).
sekolah yang menjadi sampel penelitian ini
Keempat, Kepala Sekolah sebagai
menunjukkan kecenderungan dan kualifikasi Supervisor. Secara umum, peran Kepala
yang baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan Sekolah sebagai supervisor menunjukkan
kecenderungan indikator dari peran Kepala kecenderungan dan kualifikasi yang baik. Hal
Sekolah sebagai manajer yang mampu
tersebut ditunjukkan dengan kecenderungan
dijalankan dengan baik. Peran Kepala Sekolah
indikator dari peran Kepala Sekolah sebagai
sebagai manajer ditinjau dari kemampuan
supervisor yang mampu dijalankan dengan
melakukan inovasi yang dinilai sudah optimal
baik. Peran Kepala Sekolah sebagai supervisor
(wawancara dengan Guru dan Staf Tata
Usaha SMKS BPP, 24/5/2012; dan wawancara ditinjau dalam memimpin sudah dapat
dijalankan dengan baik pula. Hal tersebut
dengan Guru dan Staf Tata Usaha SMKS
direalisasikan dengan mendukung guru-guru
Kartini, 6/6/2012). Inovasi sudah menjadi
terhadap isu, problem, dan penanganan disiplin
komitmen bagi seluruh civitas sekolah sebagai
siswa, serta memperlakukan guru sebagai
sekolah unggulan dalam menjaga mutu
teman seprofesi dan melibatkan guru dalam
layanan pendidikan (wawancara dengan
Kepala Sekolah SMKS Kartini, 6/6/2012; dan pengambilan keputusan (wawancara dengan
wawancara dengan Kepala Sekolah SMKS BPP, Guru SMKS BPP, 24/5/2012; dan wawancara
dengan Guru SMKS Kartini, 6/6/2012).
9/6/2012).
Kelima, Kepala Sekolah sebagai Leader.
Ketiga, Kepala Sekolah sebagai
Secara umum, peran Kepala Sekolah sebagai
Administrator. Peran kedua-dua Kepala
leader menunjukkan kecenderungan dan
Sekolah yang menjadi sampel penelitian
ini sebagai administrator menunjukkan kualifikasi yang baik. Hal tersebut ditunjukkan
kecenderungan dan kualifikasi yang baik. Hal dengan kecenderungan indikator dari peran
Kepala Sekolah sebagai leader yang mampu
tersebut ditunjukkan dengan kecenderungan
dijalankan dengan baik. Peran Kepala Sekolah
indikator dari peran Kepala Sekolah sebagai
sebagai leader ditinjau dari kepribadian
administrator yang mampu dijalankan
ternyata memiliki kecenderungan pribadi yang
dengan baik. Peran Kepala Sekolah sebagai
kuat dan baik. Hal tersebut ditunjukkan dari
administrator ditinjau dari kemampuan
mengelola administrasi KBM (Kegiatan Belajarm sifat-sifat yang dimiliki oleh Kepala Sekolah,
Mengajar) dan BK (Bimbingan dan Konseling) yaitu: jujur, percaya diri, bertanggung jawab,
yang dinilai sangat baik. Hal tersebut didasari berani mengambil keputusan, berjiwa besar,
oleh adanya dukungan dokumentasi yang dapat mengendalikan emosi, dan berperan
sebagai panutan atau teladan (wawancara

98
ATIKAN:
Jurnal Kajian Pendidikan, 3(1) Juni 2013

dengan Guru dan Staf Tata Usaha SMKS BPP, guru, menciptakan hubungan kerja yang
24/5/2012; dan wawancara dengan Guru dan harmonis dengan sesama staf, menciptakan
Staf Tata Usaha SMKS Kartini, 6/6/2012). hubungan kerja yang harmonis antara guru
Keenam, Kepala Sekolah sebagai Inovator. dan karyawan, dan menciptakan rasa aman di
Secara umum, peran kedua-dua Kepala Sekolah lingkungan sekolah (wawancara dengan Guru
yang menjadi sampel dalam penelitian ini dan Staf Tata Usaha SMKS BPP, 24/5/2012; dan
sebagai inovator menunjukkan kecenderungan wawancara dengan Guru dan Staf Tata Usaha
dan kualifikasi yang baik. Hal tersebut SMKS Kartini, 6/6/2012). Peran Kepala Sekolah
ditunjukkan dengan kecenderungan indikator sebagai motivator ditinjau dari kemampuan
dari peran Kepala Sekolah sebagai inovator menerapkan prinsip penghargaan dan hukum
yang mampu dijalankan dengan baik. Peran juga dinilai baik. Hal tersebut ditunjukkan
Kepala Sekolah sebagai inovator ditinjau dari dengan kemampuan menerapkan prinsip
kemampuan mencari dan menemukan gagasan penghargaan (reward), menciptakan prinsip
baru untuk pembangunan sekolah yang hukuman (punishment), dan menerapkan/
dinilai baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan mengembangkan motivasi internal dan
Kepala Sekolah yang mampu mencari atau eksternal bagi warga sekolah (wawancara
menemukan gagasan yang baru (proaktif), dengan Kepala Sekolah SMKS BPP, 24/5/2012;
serta mampu memilih gagasan baru yang dan wawancara dengan Kepala Sekolah SMKS
relevan dengan situasi dan kondisi sekolah. Kartini, 6/6/2012).
Peran kepala sekolah sebagai inovator ditinjau Mengenai Strategi Pengawasan Kepala
dari kemampuan melaksanakan pembaharuan Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran
di sekolah juga dinilai baik (wawancara dengan pada SMKS (Sekolah Menengah Kejuruan
Guru dan Staf Tata Usaha SMKS BPP, 24/5/2012; Swasta) di Kota Bandung. Pengawasan
dan wawancara dengan Guru dan Staf Tata yang dilakukan oleh Kepala Sekolah, dalam
Usaha SMKS Kartini, 6/6/2012). penelitian ini, meliputi pengawasan dalam
hal: (1) Manajemen Kurikulum dan Program
Ketujuh, Kepala Sekolah sebagai Motivator.
Pembelajaran, (2) Manajemen Tenaga
Secara umum, peran kedua-dua Kepala Sekolah
Kependidikan, (3) Manajemen Kesiswaan, (4)
dalam sampel penelitian ini sebagai motivator
Manajemen Keuangan, (5) Manajemen Sarana
menunjukkan kecenderungan dan kualifikasi dan Prasarana Pendidikan, (6) Manajemen
yang baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan Hubungan Sekolah dan Masyarakat, serta (7)
kecenderungan indikator dari peran Kepala Manajemen Pelayanan Khusus. Penjelasan dari
Sekolah sebagai motivator yang mampu masing-masing bagian tersebut adalah sebagai
dijalankan dengan baik. Peran Kepala Sekolah berikut:
sebagai motivator ditinjau dari kemampuan Pertama, Manajemen Kurikulum dan
Program Pembelajaran. Penggunaan MBS
mengatur lingkungan kerja (fisik) juga dinilai
(Manajemen Berbasis Sekolah) sebagai
baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan ukuran efektivitas manajemen sekolah
kemampuannya mengatur ruang kelas yang terhadap perubahan kurikulum, tingkat,
kondusif untuk belajar, mengatur ruang lab/ dan strategi kepemimpinan merupakan hal
bengkel/keterampilan yang kodusif untuk yang amat penting dan diperlukan dalam
praktik, mengatur ruang perpustakaan pengelolaan pendidikan, baik di tingkat
yang kondusif untuk membaca/belajar, dan pusat, wilayah, kabupaten maupun di tingkat
mengatur halaman/lingkungan sekolah yang sekolah (Permadi, 1998; Fattah, 2001; dan
sejuk dan nyaman (wawancara dengan Guru Mulyasa, 2003). Secara khusus, kepemimpinan
dan Staf Tata Usaha SMKS BPP, 24/5/2012; dan adalah tanggungjawab bagi pemimpin
wawancara dengan Guru dan Staf Tata Usaha untuk memfasilitasi kegiatan pengajaran
SMKS Kartini, 6/6/2012). dan pembelajaran serta mengkordinasi
Peran Kepala Sekolah sebagai motivator pelaksanaan kurikulum antara level individu,
ditinjau dari kemampuan mengatur suasana program, dan sekolah. Upaya untuk
meyakinkan kesesuaian penentuan misi
kerja (non fisik) juga dinilai baik. Hal tersebut dan tujuan sekolah, manajemen program
ditunjukkan dengan kemampuan menciptakan pengajaran dan pembelajaran dapat
hubungan kerja yang harmonis dengan sesama mempromosikan suatu iklim mengajar dan

99
SRI R. ROSDIANTI,
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Manajemen Kinerja Guru

belajar yang positif dan kondusif bagi sekolah tentang persiapan, seleksi, penempatan,
(wawancara dengan Guru dan Kepala Sekolah dan pengembangan tenaga kependidikan.
SMKS BPP, 24/5/2012; dan wawancara dengan Dengan kerangka kerja kompetensi seperti itu,
Guru dan Kepala Sekolah SMKS Kartini, seleksi tenaga kependidikan harus dilakukan
6/6/2012). secara transparan, bertanggung jawab, dan
Kedua, Manajemen Tenaga Kependidikan. demokratis (wawancara dengan Guru SMKS
Peningkatan tenaga kependidikan dan BPP, 24/5/2012; dan wawancara dengan Guru
pelaksana urusan tenaga kependidikan SMKS Kartini, 6/6/2012).
diperoleh hal-hal yang berhubungan dengan Ketiga, Manajemen Kesiswaan. MBS
prosedur rekruitmen tenaga kependidikan, (Manajemen Berbasis Sekolah) merupakan
peningkatan tenaga kependidikan, kompensasi salah satu gagasan yang diterapkan untuk
yang diberikan kepada personil, proses meningkatkan pendidikan umum. Tujuan
pengembangan karier personil, serta proses akhirnya adalah meningkatkan lingkungan yang
monitoring dalam aktivitas tugas administrasi kondusif bagi pembelajaran murid. Dengan
dan KBM (Kegiatan Belajar-Mengajar). demikian, ia bukan sekadar cara demokratis
Kerangka implementasi MBS (Manajemen melibatkan lebih banyak pihak dalam
Berbasis Sekolah) di SMKS (Sekolah pengambilan keputusan. Keterlibatan itu tidak
Menengah Kejuruan Swasta) menunjukan berarti banyak jika keputusan yang diambil
bahwa ada potensi yang cukup besar untuk tidak membuahkan hasil lebih baik. Penerapan
menyelenggarakan otonomi sekolah dalam MBS yang efektif seyogianya dapat mendorong
bentuk manajemen berbasis sekolah dalam kinerja Kepala Sekolah dan guru yang pada
rangka desentralisasi pendidikan. Potensi gilirannya akan meningkatkan prestasi murid
tersebut terdapat pada empat aspek kapasitas (Permadi, 1998; Fattah, 2001; dan Mulyasa,
sekolah, yaitu: anggaran pendidikan, SDM 2003).
(Sumber Daya Manusia) sekolah, tersedianya
Oleh sebab itu, harus ada keyakinan bahwa
sarana dan prasarana, manajemen sekolah,
MBS memang benar-benar akan berkontribusi
serta dan tingkat partisipasi orang tua siswa.
bagi peningkatan prestasi murid. Lebih lanjut
Meskipun demikian, pada masing-masing aspek ditegaskan pula bahwa MBS adalah upaya
itu masih ada hal-hal yang perlu ditingkatkan serius yang rumit, yang memunculkan berbagai
(wawancara dengan Kepala Sekolah SMKS isu kebijakan dan melibatkan banyak lini
BPP, 24/5/2012; dan wawancara dengan Kepala kewenangan dalam pengambilan keputusan
Sekolah SMKS Kartini, 6/6/2012). serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas
Sedangkan mengenai kerangka kerja konsekuensi keputusan yang diambil. Oleh
kompetensi, sosok tenaga kependidikan sebab itu, semua pihak yang terlibat perlu
harus memiliki sejumlah keyakinan atau memahami benar pengertian MBS, manfaat,
pendirian untuk dapat berkinerja sebagaimana masalah-masalah dalam penerapannya, dan
yang dituntut baginya (Musanef, 1984; dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap
Tilaar, 1997). Tenaga kependidikan yakin prestasi belajar murid (wawancara dengan
bahwa bekerja adalah ibadah. Ia dengan rela Guru, Kepala Sekolah, dan Staf Tata Usaha
menerima tanggung jawab secara mantap. SMKS BPP, 24/5/2012; dan wawancara dengan
Oleh sebab itu, ia tidak akan melebih-lebihkan Guru, Kepala Sekolah, dan Staf Tata Usaha
arti penting pekerjaan. Ia tidak menonjolkan SMKS Kartini, 6/6/2012).
kelebihan dan keberhasilan. Semua yang perlu Keempat, Manajemen Keuangan. Sumber.
dilakukan semata-mata untuk memberikan sumber keuangan sekolah diperoleh dari
peluang agar setiap peserta didik memperoleh anggaran rutin dan anggaran pembangunan,
pendidikan yang berkualitas. Pada saat yang baik yang berasal dari pemerintah maupun
sama, ia secara ikhlas menerima konsekuensi dari masyarakat serta bantuan dari pihak lain
penegakan prinsip dan tindakan yang
yang tidak mengikat (Gaffar, 1995; dan Fattah,
dilakukan. Kerangka kerja kompetensi
dan kinerja yang dikemukakan di sini akan 2001). Dengan demikian, sumber keuangan
tersebut jelas berasal dari pemerintah, orang
berimplikasi pada penetapan kebijakan baru
tua siswa, dan pihak lain (dunia usaha). Secara

100
ATIKAN:
Jurnal Kajian Pendidikan, 3(1) Juni 2013

administrasi, sumber keuangan digolongkan dan penghilangan atau dibuang (wawancara


menjadi tiga, yaitu: (1) Dana Sumbangan dengan Staf Tata Usaha SMKS BPP, 24/5/2012;
Pendidikan, (2) Sumbangan Bulanan dari dan wawancara dengan Staf Tata Usaha SMKS
Komite Sekolah, dan (3) Bantuan Operasional Kartini, 6/6/2012).
Manajemen Mutu (wawancara dengan Kepala Keenam, Manajemen Hubungan Sekolah
Sekolah SMKS BPP, 24/5/2012; dan wawancara dan Masyarakat. Teknik yang dilaksanakan
dengan Kepala Sekolah SMKS Kartini, pihak sekolah dalam melaksanakan hubungan
6/6/2012). sekolah dengan masyarakat adalah teknik
Rinciannya bisa dilihat dalam RABS langsung dan tidak langsung (Terry, 1986; dan
(Rencana Anggaran Belanja Sekolah). Beach, 1993). Teknik langsung adalah melalui
Berdasarkan hasil studi dokumentasi diperoleh tatap muka antara pihak sekolah dengan para
data mengenai rencana penerimaan dan orang tua siswa, tokoh masyarkat, dan pihak
kebutuhan biaya sekolah yang meliputi: terkait lainnya yang difasilitasi oleh “Dewan
pemeliharaan dan pengadaan sarana Sekolah”. Teknik ini dilakukan dalam bentuk
dan prasarana pendidikan, peningkatan
rapat program sekolah untuk satu tahun sekali.
kegiatan belajar-mengajar, peningkatan
Selain itu pada saat pembagian lapor, pihak
kegiatan pembinaan kesiswaan, dukungan
sekolah juga memberikan informasi mengenai
biaya kegiatan personil dan peningkatan kemajuan belajar peserta didik. Dalam
keterampilan, serta kegiatan rumah tangga pertemuan tersebut dijadikan ajang silaturahmi
sekolah (wawancara dengan Staf Tata Usaha yang dapat mempererat hubungan sekolah
SMKS BPP, 24/5/2012; dan wawancara dengan dengan masyarakat (wawancara dengan Guru
Staf Tata Usaha SMKS Kartini, 6/6/2012). dan Kepala Sekolah SMKS BPP, 24/5/2012; dan
Kelima, Manajemen Sarana dan Prasarana wawancara dengan Guru dan Kepala Sekolah
Pendidikan. Sarana dan prasarana yang ada SMKS Kartini, 6/6/2012).
pada SMKS (Sekolah Menengah Kejuruan Sementara teknik tidak langsung dalam
Swasta) di Kota Bandung, baik di SMKS Kartini hubungan antara sekolah dan masyarakat
maupun di SMKS BPP (Balai Perguruan Puteri), dilakukan melalui pemberian informasi melalui
terdiri dari fasilitas umum, fasilitas program peserta didik dalam bentuk surat tentang
keahlian, dan fasilitas pendukung. Fasilitas kebutuhan penyelenggaraan pendidikan di
umum di antaranya adalah: gedung pusat, sekolah (wawancara dengan Staf Tata Usaha
gedung ruang teori, lapangan olah raga, dan SMKS BPP, 24/5/2012; dan wawancara dengan
mesjid. Sumber-sumber dan cara pengadaan Staf Tata Usaha SMKS Kartini, 6/6/2012).
sarana dan prasarana tersebut disesuaikan Upaya untuk meningkatkan hubungan sekolah
dengan kebutuhan dan anggaran yang tersedia dengan masyarakat harus dilakukan secara
(Sutisna, 1993; dan Engkoswara, 2001). optimal (Nawawi, 1984; dan Sanusi, 1998).
Sumbernya dapat berasal, baik dari pemerintan Oleh karena itu, pihak sekolah menetapkan
maupun dari pihak swasta. Cara pengadaannya beberapa program kegiatan yang telah
adalah melalui proses pengadaan anggaran, dilakukan, antara lain: pesantren kilat bagi
pengajuan kebutuhan, dan kesepakatan peserta didik selama bulan puasa, buka
(wawancara dengan Staf Tata Usaha SMKS puasa bersama dengan orang tua siswa,
BPP, 24/5/2012; dan wawancara dengan Staf kunjungan sekolah ke rumah orang tua siswa,
Tata Usaha SMKS Kartini, 6/6/2012). mengadakan temu alumni, serta pihak sekolah
Sementara itu, sistem pemeliharaan dan berusaha membantu permasalahan yang
perawatan terhadap sarana dan prasarana dihadapi oleh masyarakat (wawancara dengan
tersebut dilakukan oleh semua personil Guru dan Kepala Sekolah SMKS BPP, 24/5/2012;
sekolah. Sedangkan yang bersifat khusus, dan wawancara dengan Guru dan Kepala
pemeliharaan dan perawatan tersebut Sekolah SMKS Kartini, 6/6/2012). Selanjutnya
dilakukan oleh tenaga ahli yang khusus bentuk-bentuk partisipasi masyarakat kepada
pula (Sutisna, 1993; dan Engkoswara, 2001). pihak sekolah adalah berupa dana bantuan
Untuk penghapusan sarana dan prasarana pendidikan, sarana dan prasaran sekolah,
dilakukan dengan pelelangan atau penjualan pemikiran untuk pengembangan sekolah,

101
SRI R. ROSDIANTI,
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Manajemen Kinerja Guru

dan pengawasan terhadap pernyelenggaraan Kepala Sekolah adalah sebagai berikut:


pendidikan, baik keuangan maupun proses Pertama, Masalah Persiapan Guru
belajar-mengajar (Fattah, 2001; dan Mulyasa, Mengajar. Masih ada beberapa guru yang
2003). kurang memperhatikan pembuatan SATPEL
Ketujuh, Manajemen Pelayanan Khusus. (Satuan Pelajaran) dan RENPEL (Rencana
Pelayanan yang diberikan kepada siswa Pelajaran). Sekalipun mereka membuat
meliputi pelayanan dalam bimbingan dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran),
penyuluhan serta Usaha Kesehatan Sekolah akan tetapi RPP tersebut telah dibuat oleh
(Maslow, 1970; Owen, 1981; dan Somantri, MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran).
1999). Dalam kaitannya dengan penelitian Dengan tidak membuat rencana pelajaran
ini, baik pada SMKS BPP (Sekolah Menengah dan perangkat lainnya seperti AMP (Analisis
Kejuruan Swasta, Balai Perguruan Puteri) Materi Pelajaran), Program Semesteran,
maupun pada SMKS Kartini di Bandung, dan sebagainya, maka guru cenderung
terdapat dua program bimbingan, yaitu hanya mengandalkan buku teks dan proses
bimbingan penyuluhan dan karier. Bimbingan pembelajaran dapat diduga asal jalan, sehingga
penyuluhan diarahkan kepada upaya hasil pembelajaran dapat diprediksikan kurang
memberikan bantuan terhadap perkembangan bermakna dan kurang berhasil secara optimal
siswa; sedangkan bimbingan karier lebih (wawancara dengan Kepala Sekolah SMKS
diarahkan kepada upaya memberikan bantuan BPP, 24/5/2012; dan wawancara dengan Kepala
terhadap pemahaman diri siswa sendiri, Sekolah SMKS Kartini, 6/6/2012).
lingkungan siswa, serta dapat merencanakan Kedua, Masalah Keterampilan Guru dalam
masa depan dengan tepat. Bimbingan Membuka Pelajaran. Keterampilan membuka
dilaksanakan oleh guru yang telah ditunjuk, pelajaran disini dimaksudkan sejauh mana guru
namun guru tersebut bukan khusus dari BP dapat menciptakan suasana pembelajaran
(Bimbingan dan Penyuluhan), hanya guru sehingga peserta didik siap secara mental
bidang studi tertentu yang ditunjuk untuk dan memperhatikan pada apa-apa yang akan
menangani bimbingan. Bimbingan untuk setiap dipelajari (Organ, 1986; dan Syamsuddin
tingkat dipegang oleh satu orang guru dan Makmun, 1999). Keterampilan guru dalam
telah menempati ruang khusus di sekolaht membuka pelajaran pada umumnya diawali
sekolah tersebut (wawancara dengan Guru dengan “apersepsi” terhadap pokok bahasan
dan Kepala Sekolah SMKS BPP, 24/5/2012; dan atau sub-pokok bahasan yang telah diajarkan
wawancara dengan Guru dan Kepala Sekolah sebelumnya. Selain itu, dalam membuka
SMKS Kartini, 6/6/2012). pelajaran, aspek yang terkadung meliputi
Mengenai Masalah-masalah yang Dihadapi daya tarik siswa, motivasi, dan pemberian
oleh Guru dan Kepala Sekolah dalam acuan. Sekalipun demikian, dalam hal daya tarik
Meningkatkan Mutu Pembelajaran pada dan motivasi siswa terhadap penyajian pokok
SMKS (Sekolah Menengah Kejuruan Swasta) bahasan yang disampaikan guru, semuanya
di Kota Bandung. Hasil kajian yang dilakukan sangat tergantung pada cara guru mengajar,
oleh para peneliti terhadap masalah-masalah penguasaan kelas (frekuensi perhatian guru
yang dihadapi oleh guru dan Kepala Sekolah terhadap individu siswa), serta kepribadian
dalam meningkatkan mutu pembelajaran guru itu sendiri (wawancara dengan Kepala
menunjukkan kecenderungan yang sama, Sekolah SMKS BPP, 24/5/2012; dan wawancara
yakni bahwa para guru masih menunjukkan dengan Kepala Sekolah SMKS Kartini,
sisi-sisi kelemahan, disamping kekuatan, dalam 6/6/2012).
proses belajar-mengajar di kelas (Callahan Ketiga, Masalah Keterampilan Guru
& Clark, 1988; Atmodiwirio, 1991; Resmiaty, dalam Mengelola Kelas. Yang dimaksud
1998; dan Kurniasih, 2002). Dalam konteks dengan “keterampilan mengelola kelas”
penelitian ini, baik pada SMKS BPP (Sekolah adalah kemampuan guru dalam menciptakan
Menengah Kejuruan Swasta, Balai Perguruan suasana kelas yang kondusif dan menunjang
Puteri) maupun pada SMKS Kartini di Bandung, sehingga sedikit kemungkinan mengalami
beberapa masalah yang dihadapi oleh Guru dan gangguan selama proses belajar-mengajar

102
ATIKAN:
Jurnal Kajian Pendidikan, 3(1) Juni 2013

berlangsung, baik melalui cara remidial dan/ persoalan diperlukan sebagai tindakan untuk
atau mendisiplinkan siswa sesuai dengan mengubah fungsi yang tidak siap menjadi
peraturan sekolah yang berlaku (Owen, 1981; fungsi yang siap. Selama masih ada persoalan,
dan Syamsuddin Makmun, 1999). Kelemahan yang sama artinya dengan ketidaksiapan
guru dalam pengelolaan kelas adalah jarangnya fungsi, maka sasaran yang telah ditetapkan
guru melakukan kontrol, melalui perhatian, tidak akan tercapai. Oleh karena itu, agar
ketika penyampaian materi ke seluruh sasaran tercapai perlu dilakukan tindakans
siswa, terutama siswa yang duduk di bangku tindakan untuk mengubah ketidaksiapan
belakang (wawancara dengan Guru dan Kepala menjadi kesiapan fungsi (Komarudin, 1993;
Sekolah SMKS BPP, 24/5/2012; dan wawancara dan Gasperesz, 1997). Tindakan yang dimaksud
dengan Guru dan Kepala Sekolah SMKS Kartini, lazimnya disebut langkah-langkah pemecahan
6/6/2012). persoalan, yang pada hakekatnya merupakan
Keempat, Masalah Ketercapaian dalam tindakan mengatasi makna kelemahan dan/
Pembelajaran. Mengacu pada RPP (Rencana atau ancaman agar menjadi kekuatan dan/atau
Pelaksanaan Pembelajaran), ketercapaian peluang, yakni dengan memanfaatkan adanya
pembelajaran erat kaitannya dengan satu/lebih faktor yang bermakna kekuatan
penggunaan waktu yang tersedia secara dan/atau peluang. Dalam konteks penelitian
efektif (time on task), metode penyampaian, ini, upaya-upaya penanganan masalah adalah
dan penggunaan alat bantu belajar-mengajar. sebagai berikut:
Indikator keberhasilan dapat dipantau dari Pertama, Peningkatan Kemampuan
seberapa banyak siswa yang dapat menjawab Mengajar Guru. Strategi pertama yang
pertanyaan guru, baik secara lisan maupun diterapkan oleh Kepala Sekolah dalam
tertulis (Syamsuddin Makmun, 1999). Dalam meningkatkan mutu proses belajar-mengajar,
konteks penelitian ini, hasil pembelajaran yaitu dengan cara peningkatan kemampuan
penyampaian pokok bahasan masih di bawah
mengajar guru. Peningkatan kemampuan
50% atau berkategori “kurang baik” di dua mengajar ini dipandang oleh Kepala Sekolah
sekolah yang penulis amati pada bulan Mei dan sangat penting mengingat gurulah sebagai
Juni 2012. peran kunci yang melaksanakan dan
Mengenai Upaya Penanganan Masalah menentukan baik-tidaknya mutu proses
yang Dihadapi oleh Guru dan Kepala Sekolah belajar-mengajar tersebut. Selain itu pula,
dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran pada sejumlah permasalahan dalam meningkatkan
SMKS (Sekolah Menengah Kejuruan Swasta) mutu proses belajar-mengajar banyak
di Kota Bandung. Sekolah yang melaksanakan bersumber dari guru, misalnya kurang disiplin,
peningkatan mutu harus membuat rencana kurang profesional, kinerja rendah, atau
pengembangan sekolah (Gorton, 1983; permasalahan-permasalahan pribadi lainnya
Kotter & Heskett, 1998; dan Tilaar, 1999).
(wawancara dengan Kepala Sekolah SMKS
Rencana pengembangan sekolah pada keduaR
BPP, 24/5/2012; dan wawancara dengan Kepala
dua sekolah yang diteliti sudah mencakup
Sekolah SMKS Kartini, 6/6/2012).
perumusan visi, misi, tujuan sekolah, dan
strategi pelaksanaannya. Sedangkan rencana Kedua, Optimalisasi Penggunaan Media dan
kerja tahunan sekolah pada umumnya meliputi Sarana Pendidikan. Strategi yang diterapkan
oleh Kepala Sekolah dalam meningkatkan
pengidentifikasian sasaran sekolah (tujuan
mutu proses belajar-mengajar yaitu dengan
situasional sekolah); pemilihan fungsi-fungsi optimalisasi pemanfaatan dan penggunaan
sekolah yang diperlukan untuk mencapai media dan sarana pendidikan. Permasalahan
sasaran yang telah diidentifikasi; analisis yang muncul adalah bahwa selama ini guru
SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and kurang mendayagunakan penggunaan media
Threat atau Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan sarana pendidikan yang ada, sehingga
dan Ancaman); langkah-langkah pemecahan keberadaannya jelas tidak bermanfaat untuk
persoalan; dan penyusunan rencana dan memperlancar proses belajar-mengajar
program kerja tahunan sekolah. (wawancara dengan Kepala Sekolah SMKS
Langkah-langkah pemecahan masalah atau BPP, 24/5/2012; dan wawancara dengan Kepala

103
SRI R. ROSDIANTI,
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Manajemen Kinerja Guru

Sekolah SMKS Kartini, 6/6/2012). memberikan kontribusi pada peningkatan


Ketiga, Pelaksanaan Supervisi secara mutu pembelajaran pada SMKS (Sekolah
Rutin. Strategi lain yang diterapkan oleh Menengah Kejuruan Swasta) di Kota
Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu Bandung. Hal tersebut ditunjukkan dengan
pendidikan, yaitu dengan melaksanakan efektifnya program pengawasan yang
supervisi secara rutin. Keadaan ini dilakukan dilakukan Kepala Sekolah yang meliputi:
mengingat keberadaan guru yang relatif proses pembelajaran yang efektif; sistem
memiliki pendidikan relatif sama, sehingga evaluasi yang efektif dan perbaikan secara
pembinaan dan pengarahan merupakan suatu berkelanjutan; melakukan refleksi diri;
kebutuhan yang diperlukan sekali dalam pengembangan staf yang kompeten dan
meningkatkan mutu proses belajar-mengajar. berdedikasi tinggi; menumbuhkan sikap
Strategi inipun ditempuh oleh Kepala Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan;
untuk mengatasi permasalahan sehubungan menciptakan lingkungan sekolah yang aman
dengan kurangnya sikap profesionalisme yang dan tertib; menumbuhkan budaya mutu di
dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugas lingkungan sekolah dan kemungkinan untuk
(Hageman, 1993; dan Rifai, 2004). Kegiatan berubah; melaksanakan keterbukaan dalam
supervisi dilakukan agar Kepala Sekolah dapat manajemen dan mewujudkan visi dan misi
mengetahui secara langsung permasalahan sekolah; melaksanakan pengelolaan tenaga
yang dihadapi guru selama melaksanakan kependidikan dan sumber belajar secara
proses pembelajaran, sehingga Kepala Sekolah efektif; serta pengelolaan kegiatan kesiswaan/
dapat memberikan bantuan sesuai dengan ekstrakurikuler dan mengembangkan
kemampuan (wawancara dengan Kepala kepempinan instruksional.
Sekolah SMKS BPP, 24/5/2012; dan wawancara Strategi pengawasan Kepala Sekolah
dengan Kepala Sekolah SMKS Kartini, dinilai sudah efektif dalam peningkatan mutu
6/6/2012). pembelajaran pada SMKS di Kota Bandung.
Keempat, Menjalin Kerjasama dengan Hal tersebut ditunjukkan dengan optimalnya
Masyarakat. Masyarakat merupakan relasi penerapan strategi yang dilakukan Kepala
yang cukup besar dalam memberikan Sekolah yang meliputi: identifikasi dan
pengaruh dan bantuan terhadap kelancaran sosialisasi spirit nilai-nilai sebagai sumber
penyelenggaraan proses belajar-mengajar. budaya mutu sekolah; Kepala Sekolah bersama
Apalagi jika dikaitakan dengan keadaan seluruh stakeholders mengevaluasi dan
sekarang bahwa masyarakat memiliki mengembangkan berbagai kebijakan teknis
peran sebagai pengawas dan penyumbang keseluruhan komponen sistem sekolah; serta
kebutuhan sekolah dengan dibentuknya pengembangan kultur sekolah adalah proses
“Dewan Sekolah”. Namun demikian dalam implementasi dan institusionalisasi sehingga
kenyataan bahwa umumnya masyarakat masih menjadi suatu kebiasaan kerja (work habits) di
kurang peka terhadap kebutuhan sekolah sekolah dan di luar sekolah.
(Robbins, 1982; Fattah, 2001; dan Mulyasa, Masalah-masalah yang dihadapi oleh guru
2003). Oleh karena itulah, sebagai langkah dan Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu
awal, untuk memperbaiki hubungan antara pembelajaran pada SMKS di Kota Bandung
sekolah dengan masyarakat, maka Kepala meliputi: persiapan guru mengajar kurang
Sekolah mengadakan suatu strategi yang maksimal; guru cenderung mengandalkan
berdaya-guna dan berhasil-guna dalam bentuk isi buku paket atau pegangan dalam
kerjasama dengan masyarakat (wawancara pembelajaran; keterampilan guru membuka
dengan Kepala Sekolah SMKS BPP, 24/5/2012; pelajaran belum optimal; masih banyak guru
dan wawancara dengan Kepala Sekolah SMKS cenderung tidak memiliki gaya mengajar yang
Kartini, 6/6/2012). bervariasi sehingga kurang menimbulkan
interaksi aktif dalam pembelajaran;
KESIMPULAN keterampilan guru mengelola kelas belum
Pengawasan Kepala Sekolah pada optimal; serta ketercapaian pembelajaran
kinerja guru dinilai sudah optimal sehingga masih rendah.

104
ATIKAN:
Jurnal Kajian Pendidikan, 3(1) Juni 2013

Upaya penanganan masalah yang Strategi Pemberdayaan Sekolah dalam Rangka


dihadapi oleh guru dan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Mutu dan Kemandirian Sekolah. Bandung:
CV Andira.
meningkatkan mutu pembelajaran meliputi:
Gaffar, M. Fakry. (1993). “Visi: Suatu Inovasi dalam Proses
peningkatan kemampuan mengajar guru;
Manajemen Strategik Perguruan Tinggi”. Naskah
optimalisasi penggunaan media dan sarana Pidato Pengukuhan Guru Besar. Bandung: IKIP [Institut
pendidikan; pelaksanaan supervisi secara rutin; Keguruan dan Ilmu Pendidikan] Bandung.
menjalin kerjasama dengan masyarakat; serta Gaffar, M. Fakry. (1995). Peningkatan Efektifitas dan
Efesiensi Manajemen Nasional Pendidikan Indonesia.
penerapan disiplin yang ketat. Bandung: IKIP [Institut Keguruan dan Ilmu
Berlandaskan beberapa kesimpulan Pendidikan] Bandung Press.
yang diuraikan di atas, maka salah satu Gasperesz, Vincent. (1997). “Aplikasi Manajemen Kualitas
saran yang dianggap penting dan strategis Total (TQM) dalam Industri Jasa” dalam surat kabar
Pikiran Rakyat. Bandung: 19 Oktober.
ke depan adalah perlunya pengembangan Gorton, A. Richard. (1983). Developing Quality School.
model kepemimpinan Kepala Sekolah yang USA: The Fahieei Press, Taylor & Francis Inc.
transformasional, yaitu model kepemimpinan Hageman, Gisela. (1993). Motivasi untuk Pembinaan
yang dianggap mampu membawa perubahan Organisasi. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.
Hersey, Paul & Ken Blanchard. (2005). Management of
paradigma peningkatan mutu pendidikan ke
Organizational Behavior: Utilizing Human Resources.
arah yang lebih baik. Hal ini penting mengingat New Jersey: Prentice Hall Inc., fourth edition.
pelaksanaan MBS (Manajemen Berbasis Koertjaraningrat. (1983). Metode-metode Penelitian
Sekolah) yang semakin meluas pada era Masyarakat. Jakarta: PT Gramedia.
OTDA (Otonomi Daerah) yang menempatkan Komarudin. (1993). Ensiklopedi Manajemen. Bandung:
Penerbit Alumni.
kepemimpinan Kepala Sekolah yang bercorak Kotter, John P. & James L. Heskett. (1998). Corporate
transformasional pada posisi penting. Culture and Performance. New York: Oxford The Free
Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Press.
transformasional dapat dilakukan melalui tiga Kurniasih, Tuti. (2002). “Pengaruh Kepemimpian Manager
Guru terhadap Kualitas Pembelajaran Siswa pada
unsur, yaitu: kharisma, konsideran individual,
SLTP Swasta di Kabupaten Bandung”. Tesis Magister
dan stimulasi intelektual. Hal itu diperlukan Tidak Diterbitkan. Bandung: Sekolah Pascasarjana UPI
dalam pelaksanaan MBS yang berkualitas. Studi [Universitas Pendidikan Indonesia].
Lincoln, Yvonna S. & Egon G. Guba. (1985). Naturalistic
lanjut juga diperlukan agar dapat memperjelas, Inquairy. Baverly Hills: Sage Publication.
terutama posisi dan peran Kepala Sekolah, Lipham, James M. (1985). The Principalship: Concepts,
corak kepemimpinan transformasional dalam Competencies, and Cases. New York dan London: The
situasi transisional dari pengelolaan pendidikan Longman.
yang sentralistik ke arah manajemen Maslow, Abraham H. (1970). Motivation and Personality.
New York: Harper and Row Publishers.
pendidikan yang desentralistik. Moleong, J. Lexy. (1998). Metodologi Penelitian Kualitatif.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Mulyadi. (1998). “Perumusan Visi, Misi, Core Beliefs, dan
Core Values Organisasi” dalam Manajemen Usahawan
Bibliografi Indonesia, 01(27), hlm.7-11.
Mulyasa, E. (2003). Manajemen Berbasis Sekolah.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Atmodiwirio, Soebagio et al. (1991). Manajemen Training. Musanef. (1984). Manajemen Kepegawaian Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta: Penerbit Gunung Agung.
Beach, Lee Roy. (1993). Making the Right Decision: Nanus, Burt. (2001). Kepemimpinan Visioner. Jakarta:
Organization Culture, Vision, and Planning. New Jersey:
Prenhallindo, Terjemahan.
Englewood Cliffs, Prentice-Hall Inc.
Nasution, Sorimuda. (1988). Penelitian NaturalistikP
Bennis, W. & B. Nanus. (1997). Leaders: The Strategies for Kualitatif. Bandung: Penerbit Tarsito.
Taking Change. New York: Harper Collins. Nawawi, H. (1984). Administrasi Pendidikan. Jakarta: CV
Callahan, J. & R. Clark. (1988). Teaching in the Middle and Haji Masagung.
Secondary Schools: Planing for Competence. New York: Organ, W. Dennis. (1986). The Four Imperatives of a
MacMillan Publishing Company. Success Field School. California: Corwin Press, Inc.
Duke, Daniel L. (1981). School Leadership and Instructional Owen, C.S. (1981). Educational Psycology: An Instruction.
Improvement. New York: Radom. Canada: Little Brown & co.
Engkoswara. (2001). Dasar-dasar Administrasi Pendidikan. Permadi, Dadi. (1998). Manajemen Berhasis Sekolah dan
Jakarta: Depdiknas RI [Departemen Pendidikan Kepemimpinan Kepala Sekolah Mandiri. Bandung: PT
Nasional Republik Indonesia]. Sarana Pancakarya.
Fattah, Nanang. (2001). Manajemen Berbasis Sekolah: Pidarta, Made. (1995). Peranan Kepala Sekolah pada

105
SRI R. ROSDIANTI,
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Manajemen Kinerja Guru

Pendidikan Dasar: Seri Manajemen Pendidikan. Jakarta: PPS IKIP (Program Pasca Sarjana Institut Keguruan
PT Grasindo. dan Ilmu Pendidikan] Bandung.
Quiqley, Joseph V. (1993). Vision: How Leaders Depelop it, Terry, J. (1986). Prinsip-prinsip Manajemen. Jakarta: Rosda.
Share it, and Sustain it? New York: McGraw Hill. Jaya, Terjemahan.
Resmiaty, Atty. (1998). “Efektifitas Pembinaan oleh Tilaar, H.A.R. (1997). Pengembangan Sumber Daya
Kepala Sekolah Dilihat dari Kualitas Kinerja Guru Manusia di Era Globalisasi: Visi, Misi, dan Program
Sekolah Dasar: Studi Kasus pada SD Negeri Kota Aksi Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020. Jakarta:
Bandung”. Tesis Magister Pendidian Tidak Diterbitkan. Penerbit Grasindo.
Bandung: PPS IKIP [Program Pasca Sarjana Institut Tilaar, H.A.R. (1999). Pendidikan dalam Pembangunan
Keguruan dan Ilmu Pendidikan] Bandung. Nasional Menyongsong Abad XXI. Jakarta: Balai
Rifai, M. (2004). Administrasi dan Supervisi Pendidikan Pustaka.
2: Bagian Supervisi Pendidikan. Bandung: Penerbit Tunggara, Imam I. (2001). “Peranan Kepala Sekolah dalam
Jemmars. Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah
Robbins, Stephen P. (1982). Organization Behavior. New Melalui Konsep Manajamen Berbasis Sekolah”.
Jeersey: Prentice Hall, Inc., 6th edition. Tesis Magister Tidak Diterbitkan. Bandung: Sekolah
Sallis, E. (1993). Total Quality Management in Education. Pascasarjana UPI [Universitas Pendidikan Indonesia].
Philadelphia: Kogan Page. Wahjosumidjo. (2003). Kepemimpinan Kepala Sekolah:
Sanusi, Achmad. (1998). Sistem Manajemen Pendidikan Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: PT
Indonesia. Bandung: PPS IKIP [Program Pasca Sarjana Raja Grafindo Persada.
Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan] Bandung. Wawancana dengan Guru SMKS BPP (Sekolah Menengah
Sinamo, Jansen. (1998). “Menciptakan Visi Motipatif (In Kejuruan Swasta Balai Perguruan Puteri) di Kota
Search of Powerful Vision” dalam Majalah Manajemen, Bandung, Jawa Barat, Indonesia: 24 Mei 2012 dan 9
9(120), hlm.20-25. Juni 2012.
Somantri, Manap. (1999). “Penelusuran Penyebab Wawancara dengan Guru SMKS (Sekolah Menengah
Rendahnya Tingkat Melanjutkan dari SD ke SLTP dan Kejuruan Swasta) Kartini di Kota Bandung, Jawa
Implikasinya bagi Pemantapan Rencana Pelaksanaan Barat, Indonesia: 6 Juni 2012.
Wajib Belajar SLTP di Kabupaten Bogor”. Tesis Wawancana dengan Kepala Sekolah SMKS BPP (Sekolah
Magister Pendidikan Tidak Diterbitkan. Bandung: Menengah Kejuruan Swasta Balai Perguruan Puteri) di
Program Pasca Sarjana IKIP [Institut Keguruan dan Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia: 24 Mei 2012 dan
Ilmu Pendidikan] Bandung. 9 Juni 2012.
Sudjana, Nana & Ibrahim. (1989). Pendekatan Sistem bagi Wawancara dengan Kepala Sekolah SMKS (Sekolah
Administrator Pendidikan. Bandung: Penerbit Sinar Baru. Menengah Kejuruan Swasta) Kartini di Kota Bandung,
Sutisna, O. (1993). Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis Jawa Barat, Indonesia: 6 Juni 2012.
untuk Praktek Profesional. Bandung: Penerbit Wawancana dengan Staf Tata Usaha SMKS BPP (Sekolah
Angkasa. Menengah Kejuruan Swasta Balai Perguruan Puteri) di
Syafaruddin. (2002). Manajemen Mutu Terpadu dalam Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia: 24 Mei 2012 dan
Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana 9 Juni 2012.
Indonesia. Wawancara dengan Staf Tata Usaha SMKS (Sekolah
Syamsuddin Makmun, Abin. (1999). Pengembangan Menengah Kejuruan Swasta) Kartini di Kota Bandung,
Profesi dan Kinerja Tenaga Kependidikan. Bandung: Jawa Barat, Indonesia: 6 Juni 2012.

106