Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)

A. Pengertian Instalasi Gawat Darurat


Menurut Azrul (2005) yang dimaksud gawat darurat (emergency care)
adalah bagian dari pelayanan kedokteran yang dibutuhkan oleh penderita dalam
waktu segera untuk menyelamatkan kehidupannya (life saving). Instalasi gawat
darurat adalah salah satu sumber utama pelayanan kesehatan di rumah sakit. Ada
beberapa hal yang membuat situasi di IGD menjadi khas, diantaranya adalah
pasien yang perlu penanganan cepat walaupun riwayat kesehatannya belum jelas.
Maksud dari pelayanan rawat darurat adalah bagian dari pelayanan kedokteran
yang dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera untuk menyelamatkan
kehidupannya.
Unit kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan rawat darurat disebut
dengan nama Instalasi Gawat Darurat (IGD). Tergantung dari kemampuan yang
dimiliki, keberadaan IGD dapat beraneka macam. Namun yang lazim ditemukan
adalah yang tergabung dalam rumah sakit. Meskipun telah majunya sistem rumah
sakit yang dianut oleh suatu negara bukan berarti tiap rumah sakit memiliki
kemampuan mengelola IGD sendiri. Penyebab utama kesulitan untuk
mengelola IGD adalah karena IGD merupakan salah satu dari unit kesehatan yang
paling padat modal, padat karya, serta padat teknologi.
IGD yaitu suatu tempat / unit pelayanan dirumah sakit yang memiliki tim
kerja dengan kemampuan khusus dan peralatan yang memebrikan pelayanan
pasien gawat darurat yang terorganisir. Instalasi pelayanan pertama bagi pasien
yang datang ke rumah sakit terutama dalam hal kedaruratan berdasrkan kriteria
standart baku.

1
B. Kegiatan IGD
Instalasi Gawat Darurat yang merupakan suatu bentuk penanganan
kegawatdaruratan memiliki berbagai macam kegiatan. Menurut Flynn (1962)
dalam Azrul (1997) kegiatan IGD secara umum dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Menyelenggarakan pelayanan gawat darurat.


Kegiatan utama yang menjadi tanggung jawab IGD adalah menyelenggarakan
pelayanan gawat darurat. Sayangnya jenis pelayanan kedokteran yang bersifat
khas seing disalah gunakan. Pelayanan gawat darurat yang sebenarnya
bertujuan untuk menyelamatkan kehidupan penderita (live saving), sering
dimanfaatkan hanya untuk memperoleh pelayanan pertolongan pertama (first
aid) dan bahkan pelayanan rawat jalan (ambulatory care)
2. Menyelenggarakan pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang
membutuhkan pelayanan rawat inap intensif.
Kegiatan kedua yang menjadi tanggung jawab IGD adalah menyelenggarakan
pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan
intensif. Pada dasarnya pelayanan ini merupakan lanjutan dari pelayanan gawat
darurat, yakni dengan merujuk kasus-kasus gawat darurat yang dinilai berat
untuk memperoleh pelayanan rawat inap intensif.
3. Menyelenggarakan pelayanan informasi medis darurat.
Kegiatan ketiga yang menjadi tanggung jawab IGD adalah menyelenggarakan
informasi medis darurat dalam bentuk menampung serta menjawab semua
pertanyaan anggota masyarakat yang ada hubungannya dengan keadaan medis
darurat (emergency medical questions).

C. Disiplin Pelayanan
Disiplin pelayanan adalah suatu aturan yang berkaitan dengan cara memilih
anggota antrian yang akan dilayani lebih dahulu. Disiplin yang biasa digunakan
adalah :
1. FCFS : First Come-First Served (pertama masuk, pertama dilayani)

2
2. LCFS : Last Come-First Served (terakhir masuk, pertama dilayani)
3. SIRO : Service In Random Order (pelayanan dengan urutan acak)
4. Emergency First : Kondisi berbahaya yang didahulukan.
Dalam hal kegawatdaruratan pasien yang datang ke IGD akan dilayani sesuai
urutan prioritas yang ditunjukan dengan labelisasi warna ,yaitu :
a) Biru : Gawat darurat,resusitasi segera yaitu Untuk penderita sangat gawat/
ancaman nyawa.
b) Merah : Gawat darurat,harus MRS yaitu untuk penderita gawat darurat
(kondisi stabil / tidak membahayakan nyawa )
c) Kuning : Gawat darurat ,bisa MRS /Rawat jalan yaitu Untuk penderita darurat,
tetapi tidak gawat
d) Hijau : Gawat tidak darurat,dengan penanganan bisa rawat jalan yaitu Untuk
bukan penderita gawat.
e) Hitam : Meninggal dunia
Prioritas dari warna
1) Biru
I. Henti jantung yang kritis
II. Henti nafas yang kritis
III. Trauma kepala yang kritis
IV. Perdarahan yang kritis
2) Merah
I. Sumbatan jalan nafas atau distress nafas
II. Luka tusuk
III. Penurunan tekanan darah
IV. Perdarahan pembuluh nadi
V. Problem kejiwaan
VI. Luka bakar derajat II >25 % tidak mengenai dada dan muka
VII. Diare dengan dehidrasi
VIII. Patah tulang
3) Kuning

3
I. Lecet luas
II. Diare non dehidrasi
III. Luka bakar derajat I dan derajat II > 20 %
4) Hijau
I. Gegar otak ringan
II. Luka bakar derajat I
Gawat : Suatu keadaan yang mengancam nyawa pasien
Darurat : Suatu keadaan yang segera memerlukan pertolongan
Saat tiba di IGD pasien biasanya menjalani pemilahan terlebih dahulu anamnesis
untuk membantu menentukan sifat dan keparahan penyakitnya. Penderita yang
kena penyakit serius biasanya lebih sering mendapat visite lebih sering oleh dokter
daripada mereka yang penyakitnya tidak begitu parah . Setelah penaksiran dan
penanganan awal pasien bisa dirujuk ke Rumah sakit distabilkan dan dipindahkan
ke rumah sakit lain karena berbagai alasan atau dikeluarkan. Kebanyakan IGD
buka 24 jam ,meski pada malam hari jumlah staf yang ada akan lebih sedikt

D. Tujuan IGD
1. Mencegah kematian dan kecacatan pada penderita gawat darurat
2. Menerima rujukan pasien atau mengirim pasien
3. Melakukan penanggulangan korban musibah masal dan bencana yang
terjadi dalam maupun diluar rumah sakit
4. Suatu IGD harus mampu memberikan pelayanan dengan kualitas tinggi pada
masyarakat dengan problem medis akut

E. Kriteria IGD
1. IGD harus buka 24 jam
2. IGD juga harus memiliki penderita – penderita false emergency (korban yang
memerlukan tindakan medis tetapi tidak segera), tetapi tidak boleh menggangu
/ mengurangi mutu pelayanan penderita- penderita gawat darurat.

4
3. IGD sebaiknya hanya melakukan primary care sedangkan definitive care
dilakukan ditempat lain dengan cara kerjasama yang baik.
4. IGD harus meningkatkan mutu personalia maupun masyarakat sekitarnya
dalam penanggulangan penderita gawat darurat (PPGD).
5. IGD harus melakukan riset guna meningkatkan mutu / kualitas pelayanan
kesehatan masyarakat sekitarnya.

F. Kemampuan Minimal Petugas IGD


1. Membuka dan membebaskan jalan nafas (Airway)
2. Memberikan ventilasi pulmoner dan oksigenasi (Breathing)
3. Memberikan sirkulasi artificial dengan jalan massage jantung luar (Circulation)
4. Menghentikan perdarahan, balut bidai, transportasi, pengenalan dan
penanggulangan obat resusitas, membuat dan membaca rekaman EKG

G. Kemampuan Tenaga Perawat IGD


1. Mampu mengenal klasifikasi dan labelisasi pasien
2. Mampu mengatasi pasien : syok, gawat nafas, gagal jantung, kejang, koma,
perdarahan, kolik, status asthmatikus, nyeri hebat daerah panggul dan kasus
ortopedi.
3. Mampu melaksanakan pencatatan dan pelaporan Askep
4. Mampu berkomunikasi :intern dan ekstern

H. Sarana dan Prasarana Fisik Ruangan IGD


Ketentuan umum fisik bangunan :
1. Harus mudah dijangkau oleh masyarakat
2. Harus mempunyai pintu masuk dan keluar yang berbeda (Alur masuk
kendaraan /pasien tidak sama dengan alur keluar)
3. Harus memiliki ruang dekontaminasi (dengan fasilitas shawer) yang terletak
antara ruang “triage “(ruang penerimaan pasien) dengan ruang tindakan

5
4. Ambulans / kendaraan yang membawa pasien harus dapat sampai di depan
pintu
5. Ruang triage harus dapat memuat minimal 2 brankar

I. Prinsip Penanggulangan Penderita Gawat Darurat


Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dan
salah satu sistem / organ seperti :
1. Susunan saraf pusat
2. Pernafasan
3. Kardiovaskuler
4. Hati
5. Ginjal
6. Pancreas

Kegagalan (kerusakan) sistem/ organ tersebut dapat disebabkan oleh :


1. Trauma / cedera
2. Infeksi
3. Keracunan (polsoning)
4. Degenerasi (kailure)
5. Asfiksia
6. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar (excessive loss of water
and electrolie)
Kegagalan sistem saraf pusat, kardiovaskuler, pernafasan dan kehilangan
hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4-6 menit).
Sedangkan kegagaln sistem / organ yang lain dapat menyebabkan kematian dalam
waktu yang lebih lama. Drngan demikian keberhasilan Penanggulangan Penderita
Gawat Darurat (PPGD) dalam mencegah kematian dan cacat ditentukan oleh :
1. Kecacatan menemukan penderita gawat darurat
2. Kecepatan meminta pertolongan

6
3. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan :
a) Ditempat kejadian
b) Dalam perjalanan kerumah sakit
c) Pertolongan selanjutnya secara mantap di Puskesmas / Rumah Sakit

J. TRIAGE
Mempunyai arti menyortir atau memilih. Dirancang untuk menempatkan pasien
yang tepat diwaktu yang tepat dengan pemberi pelayanan yang
tepat. Triage merupakan suatu proses khusus memilah pasien berdasar beratnya
cedera atau penyakit dan menentukan jenis perawatan gawat darurat serta
transportasi. Dan merupakan proses yang berkesinambungan sepanjang
pengelolaan. Dalam Triage tidak ada standard nasional baku, namun ada 2 sistem
yang dikenal, yaitu:
1. METTAG (Triage tagging system).
Sistem METTAG merupakan suatu pendekatan untuk memprioritisasikan
tindakan.

Prioritas Nol (Hitam) :


a) Mati atau jelas cedera fatal.
b) Tidak mungkin diresusitasi.
Prioritas Pertama (Merah) :
Cedera berat yang perlukan tindakan dan transport segera.
a) Gagal nafas
b) Cedera torako-abdominal
c) Cedera kepala / maksilo-fasial berat
d) Shok atau perdarahan berat
e) Luka bakar berat.
Prioritas Kedua (Kuning) :
Cedera yang dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu
dekat :

7
a) Cedera abdomen tanpa shok
b) Cedera dada tanpa gangguan respirasi
c) Fraktura mayor tanpa shok
d) Cedera kepala / tulang belakang leher
e) Luka bakar ringan.
Prioritas Ketiga (Hijau) :
Cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera :
a) Cedera jaringan lunak
b) Fraktura dan dislokasi ekstremitas
c) Cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas
d) Gawat darurat psikologis.
Sistem METTAG atau pengkodean dengan warna system tagging
yang sejenis, bisa digunakan sebagai bagian dari Penuntun Lapangan START.
2. Sistem triase Penuntun Lapangan START (Simple Triage And Rapid
Transportation).
Penuntun Lapangan START memungkinkan penolong secara cepat
mengidentifikasikan korban yang dengan risiko besar akan kematian segera
atau apakah tidak memerlukan transport segera.
Penuntun Lapangan START dimulai dengan penilaian pasien 60 detik,
meliputi pengamatan terhadap ventilasi, perfusi, dan status mental. Hal ini
untuk memastikan kelompok korban :
a) Perlu transport segera / tidak
b) Tidak mungkin diselamatkan
c) Mati.

K. Sistem triase
Non Bencana : Memberikan pelayanan terbaik pada pasien secara individu.
Bencana / Korban Berganda : Memberikan pelayanan paling efektif untuk
sebanyak mungkin pasien.

8
L. Objektif Primer IGD
1. Pengenalan tepat yang butuh pelayanan segera
2. Menentukan area yang layak untuk tindakan
3. Menjamin kelancaran pelayanan dan mencegah hambatan yang tidak perlu
4. Menilai dan menilai ulang pasien baru / pasien yang menunggu
5. Beri informasi /rujukan pada pasien / keluarga
6. Redam kecemasan pasien / keluarga; humas.

M. Aturan primer petugas


1. Skrining pasien secara cepat.
2. Penilaian terfokus.

N. Sasaran primer dan sekunder triase


1. Primer : Mengenal kondisi yang mengancam jiwa.
2. Sekunder : Memberi prioritas pasien sesuai kegawatannya.

O. Prinsip umum triase


1. Perkenalkan diri anda dan jelaskan apa yang akan anda lakukan.
2. Pertahankan rasa percaya diri pasien.
3. Coba untuk mengamati semua pasien yang datang, bahkan saat mewawancara
pasien.
4. Pertahankan arus informasi petugas triase dengan area tunggu & area tindakan.
Komunikasi lancar sangat perlu. Bila ada waktu adakan penyuluhan.
5. Pahami sistem IGD dan keterbatasan anda. Ingat objektif primer aturan triase.
Gunakan sumber daya untuk mempertahankan standar pelayanan memadai.
6. Pahami struktur pembagian ruangan dengan perangkat yang sesuai.
7. Pemeriksaan fisik singkat dan terfokus.
8. WASPADA atas pasien dengan ancaman jiwa atau serius potensial terancam
hidup atau anggota badannya harus didahulukan dalam penilaian hingga dapat
segera ditindak.

9
Prinsip dari triage :
a) Triase harus cepat dan tepat
Kemampuan untuk merespon secara cepat, terhadap keadaan yang menganca
nyawa merupakan suatu yang sangat penting pada bagian kegawatdaruratan
b) Pemeriksaan harus adekuat dan akurat
Akurasi keyakinan dan ketangkasan merupakan suatu elemen penting pada
proses pengkajian
c) Keputusan yang diambil berdasarkan pemeriksaan
Keamanan dan keefektifan perawatan pasien hanya dapat direncanakan jika ada
informasi yang adekuat dan data yang akurat
d) Memberikan intervensi berdasarkan keakutan kondisi
Tanggungjawab utama dari perawat triase adalah untuk mengkaji dan
memeriksa secara akurat pasien, dan memberikan perawatan yang sesuai pada
pasien, termasuk intervensi terapiutik, prosedur diagnostic, dan pemeriksaan
pada tempat yang tepat untuk perawatan
e) Kepuasan pasien tercapai
1) Perawat triase harus melaksanakan prinsip diatas untuk mencapai kepuasan
pasien
2) Perawat triase menghindari penundaan perawatan yang mungkin akan
membahayakan kesehatan pasien atau pasien yang sedang kritis
3) Perawat triase menyampaikan support kepada pasien, keluarga pasien, atau
teman (Department Emergency Hospital Singapore, 2009)
Prinsip umum lain dalam asuhan keperawatan yang di berikan oleh perawat di
ruang gawat darurat antara lain :
a) Penjaminan keamanan diri perawatan dan klien terjaga, perawat harus
menerapkan prinsip universal precaution, mencegah penyebaran infeksi dan
memberikan asuhan yang nyaman untuk klien
b) Cepat dan tepat dalam melakukan triage, menetapkan diagnosa keperawatan,
tindakan keperawatan dan evaluasi yang berkelanjutan

10
c) Tindakan keperawatan meliputi resusitasi dan stabilisasi diberikan untuk
mengatasi masalah biologi dan psikologi klien
d) Penjelasan dan pendidikan kesehatan untuk klin dan keluarga diberikan untuk
menurunkan kecemasan dan meningkatkan kerjasama perawat dan klien
e) Sistem monitoring kondisi klien harus dapat dijalankan
f) Sistem dokumentasi yang dipai dapat digunakan secara mudah, cepat dan tepat
g) Penjaminan tindakan keperawatan secara etik dan legal keperawatan perlu
dijaga.
Ada beberapa Tipe triage, yaitu :
1. Daily triage
Daily triage adalah triage yang selalu dilakukan sebagai dasar pada system
kegawat daruratan. Triage yang terdapat pada setiap rumah bsakit berbeda-beda,
tapi secara umum ditujukan untuk mengenal, mengelompokan pasien menurut
yang memiliki tingkat keakutan dengan tujuan untuk memberikan evaluasi dini
dan perawatan yang tepat. Perawatan yang paling intensif dberikan pada pasien
dengan sakit yang serius meskipun bila pasien itu berprognosis buruk.
2. Mass casualty incident
Merupakan triage yang terdapat ketika sestem kegawatdaruratan di suatu tempat
bencana menangani banyak pasien tapi belum mencapai tingat ke kelebihan
kapasitas. Perawatan yang lebih intensif diberikan pada korban bencana yang
kritis. Kasus minimal bisa di tunda terlebih dahulu.
3. Disaster Triage
Ada ketika system emergensi local tidak dapat memberikan perawatan intensif
sesegera mungkin ketika korban bencana sangat membutuhkan. Filosofi
perawatan berubah dari memberikan perawatan intensif pada korban yang sakit
menjadi memberikan perawatan terbaik untuk jumlah yang terbesar. Fokusnya
pada identifikasi korban yang terluka yang memiliki kesempatan untuk bertahan
hidup lebih besar dengan intervensi medis yang cepat. Pada disaster triage
dilakukan identifikasi korban yang mengalami luka ringan dan ditunda terlebih
dahulun tanpa muncul resko dan yang mengalami luka berat dan tidak dapat

11
bertahan. Prioritasnya ditekankan pada transportasi korban dan perawatan
berdasarkan level luka.
4. Military Triage
Sama dengan tiage lainnya tapi berorientasi pada tujuan misi disbanding dengan
aturan medis biasanya. Prinsip triage ini tetap mengutamakan pendekatan yang
paling baik karena jika gagal untuk mencapai tujuan misi akan mengakibatkan
efek buruk pada kesehatan dan kesejahteraan populasi yang lebih besar.
5. Special Condition triage
Digunakan ketika terdapat faktor lain pada populasi atau korban. Contohnya
kejadian yang berhubungan dengan senjara pemusnah masal dengan radiasi,
kontaminasi biologis dan kimia. Dekontaminasi dan perlengkapan pelindung
sangat dibutuhkan oleh tenaga medis. (Oman, Kathleen S., 2008;2)
Klasifikasi dan penentuan prioritas pasien!
PEMBAHASAN :
Ada banyak klasifikasi triage yang digunakan, adapun beberapa klasifikasi
umum yang dipakai :
a. Three Categories Triage System
Merupakan bentuk asli dari system triase, pasien dikelompokkan menjadi :
1) Prioritas utama
2) Prioritas kedua
3) Prioritas rendah
Tipe klasifikasi ini sangat umum dan biasanya terjadi kurangnya spesifitas
dan subjektifitas dalam pengelompokan dalam setiap grup

b) Four Categories Triage System


Terdiri dari :
1) Prioritas paling utama (sesegera mungkin, kelas 1, parah dan harus
sesegera mungkin)
2) Prioritas tinggi (yang kedua, kelas 2, sedang dan segera)

12
3) Prioritas rendah (dapat ditunda, kelas 3, ringan dan tidak harus segera
dilakukan)
4) Prioritas menurun (kemungkinan mati dan kelas 4 atau kelas 0)
c) Start Method (Simple Triage And Rapid Treatment)
Pada triase ini tidak dibutuhkan dokter dan perawat, tapi hanya dibutuhkan
seseorang dengan pelatihan medis yang minimal. Pengkajian dilakukan
kdengan sangat cepat selama 60 detik pada bagian berikut :
1) Ventilasi / pernapasan
2) Perfusi dan nadi (untuk memeriksa adanya denyut nadi)
3) Status neurology
Tujuannya hanya untuk memperbaiki masalah-masalah yang mengancam
nyawa seperti obstruksi jalan napas, perdarahan yang massif yang harus
diselesaikan secepatnya. Pasien diklasifikasikan sebagai berikut :
I. The Walking Wounded
Penolong ditempat kejadian memberikan instruksi verbal pada korban,
untuk berpindah. Kemudian penolong yang lain melakukan pengkajian dan
mengirim korban ke rumahsakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut
II. Critical/ Immediate
Dideskripsikan sebagai pasien dengan luka yang serius, dengan keadaan
kritis yang membutuhkan transportasi ke rumahsakit secepatnya, dengan
criteria pengkajian :
i. Respirasi >30x/menit
ii. Tidak ada denyut nadi
iii. Tidak sadar/kesadaran menurun
III. Delayed
Digunakan untuk mendeskripsikan pasien yang tidak bisa yang tidak
mempunyai keadaan yang mengancam jiwa dan yang bisa menunggu untuk
beberapa saat untuk mendapatkan perawatan dan transportasi, dengan
criteria
i. Respirasi <30x/menit

13
ii. Ada denyut nadi
iii. Sadar/ respon kesadaran normal
IV. Dead
Digunakan ketika pasien benar-benar sudah mati atau mengalami luka dan
mematikan seperti luka tembak di kepala (Departement Emergency
Hospital Singapore, 2009).
Sistem klasifikasi pasien yang digunakan, diantaranya :
i. Traffic director
Dalam sistem ini, perawat hanya mengidentifikasi keluhan utama dan
memilih antara status “mendesak” atau “tidak mendesak”. Berdasarkan
klasifikasi ini pasien dikirim ke ruang tunggu atau area perawatan akut.
Tidak ada tes diagnostik permulaan yang dilakukan sampai tiba waktu
pemeriksaan.
ii. Spot check
Pada model ini, perawat mendapatkan keluhan utama bersama dengan
data subjektif dan objektif yang terbatas, dan pasien dikategorikan ke
dalam salah satu dari tiga prioritas pengobatan berikut ini : “gawat
darurat,” “mendesak,” atau “ditunda”. Dapat dilakukan beberapa tes
diagnostic pendahuluan, dan pasien ditempatkan di area perawatan
tertentu atau di ruang tunggu. Tidak ada evaluasi ulang yang
direncanakan sampai dilakukan pengobatan.
iii. Comprehensive
Sistem comprehensive adalah sistem yang paling maju dengan
melibatkan dokter dan perawat dalam menjalankan peran triase. Data
dasar yang diperoleh meliputi pendidikan dan kebutuhan pelayanan
kesehatan primer, keluhan utama, serta informasi subjektif dan ojektif.
Tes diagnostic pendahuluan dilakukan dan pasien ditempatkan di ruang
perawatan akut atau ruang tunggu. Jika pasien ditempatkan di ruang
tunggu, pasien harus dikaji ulang setiap 15 sampai 60 menit .

14
Ada beberapa istilah yang digunakan dalam unit gawat darurat berdasarkan
Prioritas Perawatannya, antara lain :
a) Gawat Darurat (P1)
Keadaaan yang mengancam nyawa/adanya gangguan ABC dan perlu
tindakan segera, misalnya cardiac arrest, penurunan kesadaran , trauma
mayor dengan perdarahan hebat
b) Gawat Tidak Darurat (P2)
Keadaan mengangancam nyawa tetepi tidak memerlukan tindakan
darurat. Setelah dilakukan resusitasi maka ditindak lanjuti oleh dokter
specialis. Misalnya : pasien kanker tahap lanjut, fraktur, sickle cell dan
lainya.
c) Darurat Tidak Gawat (P3)
Keadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi memerlukan tindakan
darurat. Pasien sadar, tidak ada gangguan ABC dan dapat langsung
diberikan terapi definitif. Untuk tindak lanjut dapat ke poliklinik,
misalnya: laserasi, fraktur minor/tertutup,sistitis, otitis media dan lainya.
d) Tidak Gawat Tidak Darurat
Keaadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi tidak memerlukan
tindakan gawat. Gejala dan tanda klinis ringan/asimptomatis. Misalnya
penyakit kulit, batuk, flu, dan sebagainya (ENA, 2001;Iyer, 2004)

15
DAFTAR PUSTAKA

Iyer, P. 2004. Dokumentasi Keperawatan : Suatu Pendekatan Proses


Keperawatan,Jakarta : EGC

Oman, K 2008. Panduan Belajar Keperawatan Gawat Darurat : Jakarta : EGC

Aninomous,1999. Triage officers course.

Singapore : departement of emergency medicine singapore general hospital.

Wikipedia, the free encyclopedia, 2009, triage, (Online), (http://en.wikipedia.


org/wiki/triage, Diakses pada tgl 21 Maret 2010).

16