Anda di halaman 1dari 2

Mumi dikenal sebagai tradisi pengawetan jenazah yang banyak dilakukan di zaman mesir kuno.

Pada masa itu, raja dan ratu yang pernah berkuasa diawetkan agar di masa depan jasa-jasa
mereka bisa terus dikenang. Itulah mengapa banyak sekali mumi ditemukan di kebudayaan
Mesir terutama di dalam piramida yang digunakan untuk kuburan. FYI, tradisi mumi atau
pengawetan jenazah ternyata juga dilakukan di Indonesia. Beberapa suku pribumi mengawetkan
mayat dari leluhur karena dianggap memberikan keberuntungan. Berikut kisah selengkapnya
tentang tradisi mumi di Indonesia!

1. Mumi Suku Dani – Papua

Suku Dani di Papua memiliki tradisi mengkhawatirkan jenazah sejak lama. Jenazah yang diawetkan atau
gampangnya disebut mumi ini memiliki warna hitam pekat. Berbeda dengan mumi yang ada di kawasan
Mesir, mumi di sini tidak dibalut. Pun posisinya pun duduk, dengan kepala mendongak ke atas dan
mulut menganga lebar. Mumi biasanya disimpan di dalam rumah dan akan dikeluarkan jika ada
wisatawan yang datang. Proses pembuatan mumi di sini tidak dibalsam seperti yang ada di Mesir. Mumi
di sini biasanya dijemur dan disimpan di dalam gua. Setelah agak mengering mumi akan di taruh di atas
perapian lalu ditusuk dengan tulang babi untuk menghilangkan lemak. Lambat laun mumi akan
menghitam dengan sendirinya.

2. Mumi Suku Toraja – Sulawesi Selatan

Suku Toraja yang menyebar di Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Toraja Utara juga
memiliki tradisi mumi. Biasanya orang yang telah meninggal akan diberi ramuan khusus dan
membuat mereka tidak akan membusuk. Tubuh mayat akan mengering lalu disimpan di liang
batu yang berada di bukit-bukti berbatu. Dalam beberapa kesempatan, Suku Toraja akan
mengadakan sebuah upacara bernama Ma’nene. Upacara ini dilakukan untuk membersihkan
leluhur yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Biasanya baju mumi akan diganti
dengan yang baru dan diarak keliling desa. Mayat-mayat ini kadang ada yang bisa berjalan
sendiri. Acara ini akhirnya menarik banyak wisatawan datang. Mereka ingin membuktikan
apakah mumi itu benar-benar bisa berjalan.

3. Mumi Kampung Wolondopo – NTT

Di salah satu kampung bernama Wolondopo, NTT, terdapat sebuah bangunan yang berisi satu
mumi yang awet secara alami. Mumi yang bernama Kaki More ini tidak pernah mengalami
pembalsaman pada tubuhnya. Ia hanya dimasukkan ke dalam sebuah peti lalu mengering dengan
sendirinya. Kaki Morea adalah keturunan keluarga Mosalaki atau pemimpin adat. Saat
meninggal ia berpesan agar tidak menguburnya. Akhirnya jenazah ini mengering dan saat ini
sering dikunjungi oleh wisatawan. Mumi yang terletak di Wolondopo ini terbuka untuk umum.
Namun seseorang yang datang harus mengajak juru kunci yang merupakan keturunan dari Kaki
More. Di dalam bangunan, Kaki More terbaring miring dengan sekujur tubuhnya dibungkus
dengan kain bermotif batik.

4. Mumi Suku Moni – Papua


Satu lagi mumi yang berasal dari papua. Setelah Suku Dani menunjukkan mumi berwarna hitam
pekat, kali ini giliran Suku Moni yang menunjukkan mumi terhebatnya. Mumi ini bernama Belau
Mala. Ia ditempatkan pada sebuah kotak di depan desa. Pembuat mumi dari tubuh Belau Mala
dilakukan karena ia dianggap sangat berjasa. Ia mengantarkan misionaris pertama ke desa ini
dengan selamat. Pemurnian biasanya dilakukan dengan dengan melumuri jenazah dengan
minyak babi. Selanjutnya jenazah akan ditaruh di atas perapian hingga akhirnya mengering dan
tidak membusuk. Seseorang yang ingin melihat mumi Belau Mala biasanya dikenakan tarif.
Uang dari wisata itu akan digunakan untuk perawatan mumi dan juga kesejahteraan warga desa.

Itulah 4 tradisi mumi yang ditemukan di Indonesia. Keempat mumi di atas diawetkan dengan
cara yang berbeda-beda. Namun tujuan pembuatannya sama. Menghormati leluhur yang telah
banyak sekali melakukan kebaikan di dunia