Anda di halaman 1dari 35

1

IMPLIKASI PERNIKAHAN DI MASA STUDI TERHADAP KECEPATAN


MENYELESAIKAN PERKULIAHAN MAHASISWA
JURUSAN TARBIYAH DAN KEGURUAN
STAIN BENGKALIS

PROPOSAL

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS DAN KELULUSAN MATA KULIAH


PENGANTAR METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN

OLEH:
TRIA NORANTY
NIM: 18 1 1 16 00 48
SEMESTER IV B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


JURUSAN TARBIYAH DAN KEGURUAN
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) BENGKALIS
1439 H / 2018 M
2

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik

serta hidayah-Nya kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan proposal ini

dengan lancar dan melalui proses yang sesuai. Proposal ini penulis susun untuk

memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan dengan

judul “Implikasi Pernikahan Di Masa Studi Terhadap Kecepatan

Menyelesaikan Perkuliahan” dengan harapan proposal ini dapat bermanfaat

untuk memperluas pengetahuan bagi diri kami ataupun dari semua pihak.

Dengan segala kerendahan hati, kami ingin menyampaikan rasa hormat

dan terima kasih kepada dosen pembimbing kami.sebagai guru mata kuliah yang

telah membimbing kami. Semoga bimbingan yang telah diberikan dapat

bermanfaat untuk kami sebagai bekal masa depan nantinya.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan proposal ini masih terdapat

beberapa kekurangan.Oleh karena itu penyusun mengharap kritik dan saran yang

bersifat membangun demi kesempurnaan penyusunan proposal ini bagi penulis

khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Bengkalis, 20 Mei 2018

Penulis
3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................... i

DAFTAR ISI .......................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1

A. Latar Belakang.................................................................................... 1

B. Alasan Penulisan Judul ....................................................................... 7

C. Penegasan Istilah ................................................................................ 8

D. Permasalahan ...................................................................................... 9

E. Tujuan Penelitian ................................................................................ 11

BAB II KAJIAN TEORITIS ................................................................ 13

A. Landasan Teori ................................................................................. 13

1. Tinjauan Tentang Implikasi .......................................................... 13

2. Pernikahan Pada Masa Studi ........................................................ 13

3. Kecepatan Menyelesaikan Perkuliahan ........................................ 21

BAB III METODE PENELITIAN ...................................................... 24

A. Waktu dan Tempat Penelitian ............................................................ 24

B. Subyek Penelitian ............................................................................... 24

C. Metode Pengumpulan Data ................................................................ 25

D. Teknik Pemeriksahan Keabsahan Data .............................................. 27

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 31


4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tidak bisa di pungkiri lagi bahwa Allah menciptakan segala sesuatu

yang ada di dunia ini dalam keadaan saling berpasang-pasangan. Begitu

juga Allah menciptakan manusia, Ia menciptakan laki-laki yang

dipasangkan dengan perempuan, yang kesemua itu merupakan ketentuan-

Nya yang tidak bisa dipungkiri lagi agar satu sama lain saling mengenal.

Sehingga di antara keduanya saling mengisi kekosongan, saling

membutuhkan dan melengkapi. Sangat ironis sekali bila seseorang tidak

membutuhkan bantuan ataupun tenaga orang lain dalam melaksanakan

aktivitas sehari-hari, mungkin inilah yang disebut sebagai naluri

gregariousness yaitu untuk hidup bersama, seperti firman Allah dalam surat

Az-Zariyat: 49.

Artinya: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan

supaya kamu mengingat kebesaran Allah”1 (QS. Az-Zariyat: 49)

Dengan diciptakan-Nya makhluk yang saling berpasang-pasangan

tersebut, lambat laun akan tercipta suatu komunitas kecil yang di dalamnya

terdiri dari beberapa orang. Untuk menciptakan komunitas atau masyarakat

1 Departemen Agama RI. Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya. (Jakarta: CV.Penertbit

J-Art, 2004, hlm.523.


5

kecil akan dibutuhkan suatu ikatan yang resmi, sah menurut undang-

undang dan sah menurut Agama maka perlu adanya suatu ikatan yang resmi

yakni perkawinan. Perkawinan tersebut dalam Islam disebut juga dengan

nikah. Maka dengan adanya pernikahan tersebut akan terbentuklah suatu

organisasi manusia yang saling berhubungan satu sama lain sehingga

disebut dengan masyarakat.2

Dalam ajaran Agama Islam menikah adalah satu-satunya jalan yang

halal untuk menyalurkan dahaga nafsu syahwati antara laki-laki dan

perempuan, dalam artian pernikahan merupakan satu-satunya cara yang

halal dan diakui untuk menjalin cinta kasih di antara mereka berdua. Akan

tetapi tidak demikian dalam kehidupan barat, dimana dalam kehidupan barat

menganggap pernikahan sebagai momok yang akan mengungkung

kebebasan setiap individu dalam kehidupannya.

Agama Islam sangat menganjurkan para pemeluknya untuk segera

melaksanakan suatu pernikahan bagi orang yang sudah mampu baik lahir

maupun batin, akan tetapi bila merasa belum mampu untuk melakukannya,

maka dianjurkan untuk melaksanakan ibadah yang dipandang mampu untuk

meredam gejolak nafsu setan yaitu dengan melaksanakan ibadah puasa.

Karena dengan berpuasa akan menurunkan tekanan biologis atau seksualitas

yang ada dalam diri seseorang, dan juga puasa itu merupakan taming dari

perbuatan maksiat. Disamping puasa tersebut, seperti ibadah shalat juga ikut

andil dalam meredam nafsu birahi. Seperti firman Allah dalam Surat Al-

Ankabut : 45

2 Raharjo. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. (Yogyakarta : Gadjah Mada

University Press, 2004). Hlm.64.


6

Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al

Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat itu mencegah dari perbuatan

keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah

lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain). Dan allah

mengetahui apa yang kamu kerjakan”3 (QS. Al-Ankabut: 45)

Manusia ialah makhluk sosial yang beradab, sehingga hidup

berdampingan sebagai suami-istri dalam suatu ikatan pernikahan yang sah

membuatnya disertai dengan tanggungjawab yang lebih.4 Hadirnya syari’at

pernikahan di tengah kehidupan manusia merupakan rahmat yang besar.

Melalui itu, mereka dapat menjaga pandangan mata, membentengi diri dari

pemenuhan hasrat birahi yang diharamkan, menjaga keturunan, dapat

menciptakan komunitas umat yang banyak sehingga dapat memadukan

langkah dalam menegakkan syariat Allah. Lebih dari itu, pernikahan juga bisa

menciptakan ketenangan jiwa, mewujudkan stabilitas hidup, serta

membuahkan kelembutan dalam jiwa dan perasaan manusia, dengan

demikian, manusia akan bisa membangun kehidupannya dengan penuh

ketenteraman.

3 Departemen Agama RI. Op.cit., hlm. 402.


4 Sumarjati Arjoso, Persiapan Menuju Perkawinan yang Lestari, (Jakarta: Pustaka Antara,
1996), cet. Ke-4, hlm. 9
7

Kehidupan berkeluarga adalah harapan yang wajar dari setiap

manusia karena hal ini sudah menjadi fitrah baginya. Pada umumnya, orang

yang akan atau ingin memasuki gerbang pernikahan pasti menginginkan

terciptanya rumah tangga yang harmonis. Untuk itu diperlukan adaya

persiapan yang matang baik secara fisik, psikologi maupun psikososial di

antara keduanya. Harmonis tidaknya sebuah rumah tangga itulah yang

menentukan nasib para pasangan, sehingga mereka harus selalu berupaya agar

pernikahannya berkualitas dan dapat dipertahankan. Sebagaimana individu

lainnya, mahasiswa yang sedang berada pada masa dewasa awal juga

mempunyai tugas perkembangan yang serupa. Menyelesaikan kuliah ialah

prioritas yang hendak dicapai sebagai modal untuk tujuan selanjutnya, yaitu

bekerja. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan yang dilakukan kebanyakan

berorientasi pada masalah-masalah studi. Di sisi lain, mahasiswa juga

mempunyai dorongan-dorongan lain yang perlu untuk disalurkan, seperti

kebutuhuan untuk mengaktualisasikan diri yang dapat dipenuhi dengan

mengikuti kegiatan intra dan ekstra kampus, serta kebutuhan yang tak kalah

pentingnya dalam proses pendewasaan, yaitu kebutuhan akan harga diri

mereka. Mahasiswa yang berada pada masa transisi antara remaja dan dewasa

akan mulai belajar bertanggungjawab atas dirinya sendiri, seperti menentukan

arah dan tujuan hidup, termasuk dalam keinginan mempunyai pasangan.

Secara normatif Nabi Muhammad Saw. juga menganjurkan melalui

sabda-Nya yang diceritakan oleh Abdullah ibnu Mas’ud r.a. sebagai berikut:5

5 Mansyur Ali Nashif, Mahkota Pokok-pokok Hadis Rasulullah saw., (Bandung: Sinar

Baru Algesindo, 1993), hlm.838-839.


8

“Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah

Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi

muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga

hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan

memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya

berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” (Muttafaq Alaihi.)

Hadis di atas merupakan anjuran untuk melakukan pernikahan bagi

yang telah mampu, karena pernikahan itu dapat memelihara pandangan dan

menjauhkan diri dari perbuatan zina.

Tak dapat dipungkiri bahwa era modern dengan segala dampak

negatifnya kian membelenggu dan menina-bobokan manusia dari realita yang

sesungguhnya. Berbagai tindak kejahatan dengan mengatasnamakan

profesionalisme dan agama semakin menggejala di segala lapisan masyarakat.

Penyimpangan seksual anak muda seolah mendapat legalitas dari komunitas

modern. Rambu-rambu agama yang mengatur hubungan antar lawan jenis

nyaris tidak diperhatikan. Bahkan ada kecenderungan untuk menjauhi rambu-

rambu itu karena dicap ketinggalan zaman.6

Sebagai tawaran solusi atas kondisi sekarang ini, maka umat Islam

mengantisipasinya dengan jalan menikah agar tersalurkan dengan benar.

Bahkan Islam memandang pernikahan sebagai ibadah. Mereka yang

menyegerakan menikah karena takut terjerumus pada lembah zina sungguh

sangat agung dalam pandangan Islam.

6 Abu Al-Ghifari, Pernikahan Dini Dilema Generasi Ekstravaganza, (Bandung: Mujahid

Press, 2003). Cet. Ke-3, hlm. 81-82


9

Fenomena seperti ini pun banyak muncul di kalangan mahasiswa,

termasuk pula Kampus STAIN Bengkalis , khususnya jurusan Tarbiyah dan

Keguruan. Beberapa dari mahasiswa jurusan Tarbiyah dan Keguruan telah

melakukan pernikahan pada masa studi dan kebanyakan ialah mahasiswa

semester akhir.

Seorang mahasiswa yang sudah mengambil keputusan untuk menikah

tentunya harus siap menghadapi adanya kemungkinan berbagai persoalan

yang akan muncul dan bagaimana cara mengatasinya. Pernikahan yang

dilangsungkan pada masa studi menuntutnya untuk dapat melakukan dua

tanggungjawab sekaligus, yaitu sebagai seorang mahasiswa dan seorang yang

sudah berkeluarga. Kedua tanggungjawab ini mau tidak mau harus berjalan

beriringan dan seimbang. Rutinitas pun secara bertahap akan mengalami

perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi individu. Disadari atau tidak

perubahan ini akan membawa pada penyesuaian baru.

Banyaknya perubahan antara sebelum dan sesudah menikah yang

dihadapi, pasti akan berpengaruh terhadap keefektifan belajar untuk

menyelesaikan perkuliahan dengan cepat dan tepat waktu. Meskipun banyak

faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan menyelesaikan perkuliahan, baik

faktor intern maupun ekstern. Namun setidaknya perubahan tersebut akan

membawa dampak pada konsentrasi belajar, keaktifan belajar serta motivasi

belajar yang pada akhirnya berpengaruh pula pada kecepatan dalam

menyelesaikan perkuliahan. Terlebih lagi dengan adanya tuntutan keaktifan

kuliah yang harus di penuhi pada Jurusan Tarbiyah dan Keguruan STAIN

Bengkalis, seperti ketepatan waktu, absensi kehadiran dan pengumpulan


10

tugas. Sehingga, jika tidak bisa me-manage waktu dengan baik, maka

penurunan bahkan kegagalan dalam studi mungkin akan terjadi. Tidak dapat

dipungkiri, menikah saat studi dikesankan oleh masyarakat sebagai perbuatan

yang menggagalkan studi. Meskipun biasanya ini hanya didasarkan atas

pengamatan hanya pada beberapa kasus sosial yang terjadi, kemudian

digeneralisasikan untuk permasalahan yang sama tanpa memandang penyebab

dan asal mula dari fenomena tersebut. Sebenarnya banyak pula contoh

mahasiswa yang sukses studi bahkan mampu mencapai nilai terbaik justru

ketika mereka berumah tangga, seperti beberapa mahasiswa Jurusan Tarbiyah

dan Keguruan STAIN Bnegkalis. Berdasarkan hasil pengamatan sementara

peneliti, mahasiswa yang sudah menikah malah semakin cepat dalam

menyelesaikan perkuliahan.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik mengadakan

penelitian yang berbentuk skripsi dengan judul: “Implikasi Pernikahan di

Masa Studi terhadap Kecepatan Menyelesaikan Perkuliahan Mahasiswa

Jurusan Tarbiyah dan Keguruan STAIN Bengkalis”

B. Alasan Penulisan Judul

Ada beberapa alasan yang mendorong penulis untuk memilih

permasalahan ini, yaitu:

1. Penulis menilai bahwa STAIN Bengkalis merupakan salah satu

penyelenggara pendidikan berbasis Islam di wilayah Bengkalis yang

sedang berkembang, dianggap memiliki potensi dan turut mewarnai dunia


11

pendidikan Islam di Indonesia. Jadi, sangatlah menarik untuk mengadakan

suatu penelitian di perguruan tinggi ini.

2. Mengingat bahwa pernikahan merupakan fitrah dan kebutuhan dasar

manusia, tak terkecuali bagi para mahasiswa sehingga tidak sedikit dari

kalangan ini yang melaksanakannya. Fenomena ini tampak jelas di

kampus STAIN Bengkalis dilihat dari banyaknya mahasiswa, khususnya

Jurusan Tarbiyah dan Keguruan yang menikah pada masa studi.

C. Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalahpahaman, maka penulis memberikan

interpretasi terhadap judul di atas sebagai berikut:

1. Implikasi merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Inggris yaitu

to imply yang artinya melibatkan, kata bendanya implication yang artinya

terlibat, kata implication ini diadopsi dalam bahasa Indonesia yaitu

implikasi yang berarti keterlibatan atau keadaan terlibat.7 Keadaan terlibat

menyebabkan adanya hubungan atau sesuatu yang memiliki dampak.

2. Pernikahan, yang di dalam bahasa Arab disebut dengan dua kata, yaitu

nikah dan zawaj. Kata na-ka-ha dan za-wa-ja terdapat dalam Alquran

yang mempunyai arti bergabung, hubungan kelamin, dan juga berarti

akad.8 Adapun dari segi istilah, menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun

1974 tentang Perkawinan, pernikahan didefinisikan sebagai ikatan lahir

batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri

7 John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia

Pustaka Utama, 2006), hlm. 313


8 M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah, Pada Masalah-Masalah Kontemporer

Hukum Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hlm.1


12

dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan

kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.9 Jadi, pernikahan

merupakan sarana pembentukan keluarga yakni melalui ikatan suami istri

atas dasar ketentuan agama.10 Dan yang dimaksud di sini ialah pernikahan

yang dilakukan pada saat masih dalam menempuh studi.

3. Kecepatan menyelesaikan kuliah merupakan salah satu indikator

keberhasilan mahasiswa dalam memperoleh gelar sarjana. Mahasiswa

dikatakan lulus tepat waktu apabila menyelesaikan studinya di perguruan

tinggi selama kurang dari atau sama dengan empat tahun, sedangkan

mahasiswa dikatakan tidak lulus tepat waktu, apabila menyelesaikan

studinya di perguruan tinggi selama lebih dari empat tahun.

Jadi yang dimaksud dengan judul “Implikasi Pernikahan di Masa Studi

terhadap Kecepatan Menyelesaikan Perkuliahan Mahasiswa STAIN

Bengkalis” pada penelitian ini adalah analisis hubungan atau dampak antara

pernikahan yang dilangsungkan oleh Mahasiswa STAIN Bengkalis ketika

masih dalam masa studi terhadap kecepatannya dalam menyelesaikan

perkuliahan.

D. Permasalahan

a. Identifikasi Masalah

9 Mohd. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan

Agama, dan Zakat menurut Hukum Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 1995), hlm. 43
10 Kamrani Buseri, Pendidikan Keluarga dalam Islam dan Gagasan Implementasi,

(Banjarmasin: Lanting Media Aksara, 2010), hlm.39


13

1. Apa saja alasan yang mendorong mahasiswa Jurusan Tarbiyah

dan Keguruan STAIN Bengkalis melangsungkan pernikahan

pada masa studi

2. Bagaimana pengaruhnya terhadap kecepatan menyelesaikan

perkuliahan berlangsungnya pernikahan

3. Dalam hal apa saja pernikahan berpengaruh terhadap kecepatan

menyelesaikan perkuliahan yang sedang ditempuh oleh

mahasiswa Jurusan Tarbiyah dan Keguruan STAIN Bengkalis

b. Batasan Masalah

Supaya penelitian ini tidak terlalu luas dan lebh terarah serta dapat

mencapai tujuan yang diharapkan, maka peneliti hanya memfokuskan

pada:

1. Alasan yang mendorong mahasiswa Jurusan Tarbiyah dan

Keguruan STAIN Bengkalis melangsungkan pernikahan pada

masa studi

4. Pengaruhnya terhadap kecepatan menyelesaikan perkuliahan

berlangsungnya pernikahan

5. Hal-hal dalam pernikahan berpengaruh terhadap kecepatan

menyelesaikan perkuliahan yang sedang ditempuh oleh

mahasiswa Jurusan Tarbiyah dan Keguruan STAIN Bengkalis


14

c. Rumusan Masalah

1. Apa saja alasan yang mendorong mahasiswa Tarbiyah dan

Keguruan STAIN Bengkalis melangsungkan pernikahan pada

masa studi?

2. Bagaimana pengaruhnya terhadap kecepatan menyelesaikan

perkuliahan berlangsungnya pernikahan?

3. Dalam hal apa saja pernikahan berpengaruh terhadap kecepatan

menyelesaikan perkuliahan yang sedang ditempuh oleh

mahasiswa Jurusan Tarbiyah dan Keguruan STAIN Bengkalis?

E. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti, maka penelitian ini

bertujuan untuk:

1. Mengetahui apa saja alasan yang mendorong mahasiswa Jurusan

Tarbiyah dan Keguruan STAIN Bengkalis melangsungkan

pernikahan pada masa studi.

2. Mendeskripsikan kecepatan dalam menyelesaikan perkuliahan

mahasiswa Jurusan Tarbiyah dan Keguruan STAIN Bengkalis

setelah berlangsungnya pernikahan.

3. Mengetahui dalam hal apa saja pernikahan berpengaruh terhadap

proses studi yang sedang ditempuh oleh mahasiswa Jurusan

Tarbiyah dan Keguruan STAIN Bengkalis


15

b. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk:

1. Sebagai sumbangan pengetahuan dan wawasan tentang pengaruh

pernikahan pada masa studi terhadap kecepatan menyelesaikan

perkuliahan.

2. Menambah khazanah kepustakaan, khususnya tentang pernikahan pada

masa studi di tingkat perguruan tinggi.

3. Bagi peneliti sendiri, mengetahui lebih dalam realita yang dihadapi

oleh mahasiswa Jurusan Tarbiyah dan Keguruan STAIN Bengkalis

yang telah melakukan pernikahan pada masa studi serta kaitannya

dengan kecepatan menyelesaikan perkuliahan.

4. Bagi mahasiswa, dapat menjadi masukan atau sumbangan pemikiran

yang konstruktif, baik yang ingin, akan dan sudah melangsungkan

pernikahan.

5. Bagi orangtua, dapat memberikan pertimbangan bagi anaknya yang

ketika menghadapi permasalahan yang serupa.


16

BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Landasan Teori

1. Tinjauan Tentang Implikasi

Menurut M Irfan Islamy dalam bukunya Prinsip-Prinsip Perumusan

Kebijakan Negara (2002: 114-115) “Implikasi adalah segala sesuatu yang

telah dihasilkan dengan adanya proses perumusan kebijakan”.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998: 114) implikasi

didefinisikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi atas temuan hasil

suatu penelitian, akan tetapi secara bahasa memiliki arti sesuatu yang telah

tersimpul di dalamnya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka yang dimaksud

dengan implikasi dalam penelitian ini adalah suatu akibat yang terjadi atau

ditimbulkan dari suatu peristiwa yaitu implikasi pernikahan pada masa

studi terhadap kecepatan dalam menyelesaikan perkuliahan pada

mahasiswa Jurusan Tarbiyan dan Keguruan STAIN Bengkalis.

2. Pernikahan Pada Masa Studi

Pernikahan adalah terjemahan dari kata nakaha dan zawaja. Kedua

kata ini yang menjadi pokok dalam al-Qur’an untuk menunjuk pernikahan.

Istilah zawaja berarti ‘pasangan’, dan istilah nakaha berarti ‘berhimpun’.

Dengan demikian dari sisi bahasa pernikahan berarti berhimpun atau


17

berkumpulnya dua insan yang semula terpisah dan berdiri sendiri, menjadi

satu kesatuan yang utuh dan bermitra.11

Adapun dari sisi istilah, sesuai UU RI Nomor 01 Tahun 1974

Tentang Perkawinan, mendefinisikan pernikahan sebagai ikatan lahir batin

antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri

dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia, sejahtera, damai,

tentram dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.12

Di dalam Al-Qur’an terminologi yang menggambarkan mengenai

proses pembentukan keluarga yaitu disebut dengan dua kata yakni nikah

dalam pengertian perkawinan dan zawwaja dalam arti berpasangan.13

Secara umum pengertian pernikahan dapat diartikan dengan hal

(perbuatan) nikah.14 Nikah itu sendiri adalah perjanjian antara seorang

laki- laki dengan seorang perempuan untuk bersuami istri dengan resmi.15

Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer dinyatakan bahwa

nikah adalah mengadakan perjanjian untuk membentuk rumah tangga

dengan resmi antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dengan

peraturan Agama maupun peraturan Negara.16 Sedangkan menurut

Saujani, nikah merupakan suatu perjanjian yang suci, kuat dan kokoh

untuk hidup bersama secara sah antara seorang laki-laki dengan

perempuan untuk membentuk keluarga yang kekal, santun menyantuni,

11 Khoiruddin Nasution, Hukum Perkawinan 1 (Yogyakarta: ACAdeMIA+TAZZAFA,

2005), hlm.17
12 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan,

Penghimpun: Moch Asnawi, Depag Jateng, hlm. 5


13 Mantep Miharso. Pendidikan Keluarga Qur’ani. (Yogyakarta: Safria Insania Press.

2004). Hlm. 40
14 Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia

(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Balai Pustaka, 1988). Hlm. 614.


15 Ibid. Hlm.328
16 Ibid. Hlm, 1035
18

kasih mengasihi, tenteram dan bahagia. Sedangkan menurut Imam Syafi’i,

nikah adalah suatu akad yang dengannya menjadi halal hubungan seksual

antara laki-laki dan perempuan.17

Sedangkan tentang studi, Muhibbin Syah dalam bukunya Psikologi

Belajar mengungkapkan sebagai key term (istilah kunci) yang paling vital

dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak

pernah ada pendidikan. Kemudian beliau mengungkapkan bahwa belajar

dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu

yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman interaksi dengan

lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

Dengan begitu pernikahan pada masa studi dapat dipahami sebagai

pernikahan yang dilakukan pada saat masih dalam menempuh masa studi,

atau sebagian orang menyebutnya dengan pernikahan dini.

Pernikahan dini adalah sebuah nama yang lahir dari komitmen

moral dan keilmuan yang sangat kuat, yaitu sebagai sebuah solusi

alternatif. Karena ketika fitnah syahwat semakin tidak terkendali, dan

ketika seks pra nikah semakin merajalela, terutama yang dilakukan oleh

kaum muda yang masih duduk di bangku sekolah, sehingga pernikahan di

usia muda dipandang cukup baik untuk mencegah perbuatan zina.

Dari sisi psikologis, memang wajar kalau banyak yang merasa

khawatir, bahwa pernikahan di usia muda akan menghambat studi atau

rentan konflik yang berujung perceraian, karena kurang siap mental dari

kedua pasangan yang masih belum dewasa betul. Namun menurut Frida

17 Idris Ramulyo. Tinjauan Beberapa Pasal Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Dari

Segi Hukum Perkawinan IslamI. (Jakarta: Ind. Hillico, 1986). Hlm. 1


19

NRH mengatakan bahwa fenomena perkawinan di usia muda merupakan

suatu hal yang wajar. Memang idealnya, kalau seseorang itu masih

menjalani pendidikan apalagi S1 yang usianya berkisar antara 18-24-an itu

sebenarnya merupakan usia-usia produktif untuk belajar. Kalau pada masa

itu kosentrasi studinya terbagi dengan keluarga, itu cukup berat. Pertama,

karena usia yang masih muda. Dalam masa ini banyak pikiran yang belum

mapan. Artinya ide- ide dan juga tujuan hidup yang belum mapan. Kedua,

Secara sosial ekonomi pasti juga belum mapan. Padahal yang namanya

hidup berkeluarga pasti memiliki tanggung jawab, obligasi sosial yang

harus dipenuhi.

Ia juga menegaskan bahwa ada dua kemungkinan orang

memutuskan untuk segera menikah di usia muda. Pertama, orang menikah

di usia muda memang betul-betul ingin menikah. Yang kedua karena

terpaksa. Bisa jadi karena ada trouble. Yang kedua, ini yang distortif.

Karena sesuatu yang dilaksanakan tanpa rencana akan menimbulkan

permasalahan yang tak terduga.

Jika menurut psikologis, usia terbaik untuk menikah adalah usia

antara 19 sampai 25 tahun, maka bagaimana dengan Agama Islam?. Islam

sebagai Agama syamil memberi tempat istimewa terhadap pernikahan.

Tak sedikit firman Allah SWT dan hadits Rasulullah SAW menerangkan

dan membahas soal kebutuhan fitrah manusia ini. Sebagai Agama wahyu,

Islam pun sangat konsen pada perilaku umat manusia. Islam tidak rela ada

manusia yang terjerumus melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Untuk

menghindari perbuatan haram itu, Islam mengikat seseorang dengan ikatan


20

perkawinan agar tetap diridhai Allah SWT. Sahabat Nabi saw, yaitu Ibnu

Mas’ud r.a menceritakan bahwa aku pernah mendengar Rasulullah

bersabda :

“Hai para pemuda, barang siapa yang sudah mampu

untuk beristri, hendaklah ia kawin, karena perkawinan itu

berpengaruh besar untuk menundukkan mata, dan tangguh

menjaga alat pital. Barang siapa yang tidak sanggup

kawin, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu alat untuk

menahan nafsu birahi. (H.R. Muslim.).18

Hadits di atas dengan jelas dialamatkan kepada pemuda, karena

menurut mayoritas ulama, pemuda adalah orang yang telah mencapai

aqil baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Aqil baligh

bisa ditandai dengan mimpi basah atau ihtilam. Dan masturbasi atau

haid bagi perempuan atau telah mencapai usia lima belas tahun. Pada

dasarnya, ada dua kemungkinan orang tua mengizinkan anaknya untuk

menuju jenjang pernikahan di usia muda. Kemungkinan pertama, karena

khawatir sang anak terjebak pada pergaulan bebas yang semakin marak

saat ini. Kemudian yang kedua, orang tua memergoki sang anak sudah

terlibat pada pergaulan bebas.

Selain dari pada itu, para ulama mazhab sepakat19 bahwa berakal

dan baligh merupakan syarat dalam perkawinan, kecuali jika dilakukan

oleh wali mempelai. Para ulama mazhab juga sepakat mengenai hal

18 Razak dan Rais Lathief. Terjemahan Hadis Shahih Muslim Juz II Cet Ke I. (Jakarta:
Pustaka Al-Husna, 1980), hlm. 164
19 Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab. (Jakarta: Lentera, 2011), hlm. 343
21

baligh, bahwa haidhnya merupaakan kebaligh-an seorang wanita.

Syafi’i dan Hanbali menyatakan baligh untuk anak laki-laki dan

perempuan adalah lima belas tahun, sedangkan Maliki menetapkannya

tujuh belas tahun. Sementara itu Hanafi menetapkan usia baligh bagi

anak laki-laki adalah delapan belas tahun, sedangkan anak perempuan

tujuh belas tahun. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ketka seseorang

melangsungkan pernikahan pada masa studi tentu tidak melanggar

aturan dalam fiqih dan hukum Islam, karena usia rata-rata masa studi itu

berkisar antara 18-24 tahun.

Mengenai pernikahan pada masa studi ini, M Fauzil Adhim dalam

bukunya Indahnya Pernikahan Dini mengatakan bahwa menikah

sedikitpun tidak akan mengganggu kemampuan dalam menyerap materi

perkuliahan jika dalam pernikahan tersebut mencapai wellness

(kesejahteraan jiwa)20 sesudah menikah.21 Ini berarti ketika dalam

pernikahan tersebut tidak bisa mencapai wellness (kesejahteraan jiwa),

maka bisa jadi pernikahan tersebut akan mengganggu studi. Bahkan

pernikahan yang dilaksanakann cenderung berakhir dengan perceraian. Hal

ini juga disebabkan karena kesiapan mental mereka dalam membangun

sebuah keluarga belum matang.22

Tentang faktor-faktor yang menyebabkan gagalnya pernikahan

sebagaimana diungkapkan oleh M Fauzil Adhim di antaranya adalah:

20 Sebagaimana dinukil oleh M. Fauzil Adhim, Zimbardo dan Gerrig Mendefinisikan

tentang wallness sebagai berikut : kesehatan yang optimal sehingga membentuk kemampuan untuk
memfungsikan diri secara penuh dan aktif melampaui ranah fisik, intelektual, emosional, spiritual,
sosial dan lingkungan. Mohammad Fauzil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini, hal. 5
21 Ibid., hal 6
22 Lukman A. Irfan, Seri Tuntutan Praktis Ibadah, Nikah (Yogyakarta: Pustaka Insani

Madani, 2007), hlm.97


22

tergesa-gesa menikah, sikap yang infanitile terhadap rezeki, hidup bersama

sebelum menikah, melahirkan sebelum menikah (karena kedua faktor ini

akan menyebabkan desensitisasi atau melemahnya kepekaan), belum

adanya kesiapan baik mental maupun keilmuan.23

Mohammad Fauzil Adhim lebih lanjut mengungkapkan bahwa ada

beberapa ciri umum yang menonjol pada mereka yang sukses dalam

memasuki pernikahan dini (nikah pada saat masih kuliah) di antaranya:

memiliki kesiapan sebelum menikah (kesiapan ilmu, psikis, ruhiah dan

kesiapan menerima anak)24, memiliki kematangan emosi, siap mengambil

tanggung jawab penuh, memiliki alasan yang lebih tinggi dalam menikah

dan sekedar cinta serta komitmen yang kuat.25

Berkenaan keterkaitan antara pernikahan dengan kecepatan

menyelesaikan perkuliahan, bahwa Diane E.Papalia dan Sally Wendkos

Olds mengatakan bahwa gejolak seksual serta perilaku seks bebas dapat

menyebabkan orang muda usia 19-25 tahun menjadi low achievers atau

orang yang berprestasi rendah. Terutama bagi mereka yang memiliki

dorongan bilogis dan rangsangan seksual yang sangat tinggi, tetapi

terhambat dalam memenuhi kebutuhannya.26 Hal ini berbeda dengan

hubungan seks yang dilakukan dalam pernikahan yang lebih

menentramkan, lebih aman, lebih menenangkan dan dengan demikian

gejolak yang mengganggu efektivitas otak akan reda.27

23 Mohammad Fauzil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini, hlm. 122-146


24 Mohammad Fauzil Adhim, Saatnya Untuk Menikah (Yogyakarta: Pro-U Media, 2008),
hlm.37-68
25 Mohammad Fauzil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini, hlm. 94-146
26 Ibid.,hlm.44
27 Ibid., hlm. 45
23

Kemudian tentang pernikahan yang berlangsung saat masih studi

sebagaimana dikutip M. Fauzil Adhim bahwa Hoffman juga berkata:

”Sebagian mahasiswa sempat terganggu kuliahnya, tetapi sebagian


besar tidak mengalami hambatan apa-apa dalam menyelesaikan
studinya di perguruan tinggi. Masa yang paling banyak
menimbulkan hambatan kuliah adalah ketika memiliki anak
pertama. Ini karena mereka harus melakukan penyesuaian diri
dengan peran baru sebagai orang tua, kebingunan bagaimana harus
menghadapi perilaku bayi, serta perubahan fisik yang terasa
mendadak”28

Sekalipun sebagian orang dapat terganggu kuliahnya ketika anak

pertama lahir, tetapi pernikahan dapat membuat kondisi psikis lebih

tenang.29 Ini membuat kemampuan otak lebih efektif sehingga dapat

menelaah materi studi dengan lebih baik dan fokus dalam menyelesaikan

studi. Dalam keadaan demikian mendorong untuk memiliki kompetensi

yang lebih tinggi30, baik dalam prestasi maupun penyelesaian studi.

28 Ibid., hlm. 38-39


29 Hasil penelitian skripsi karya Fadli dari Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga yang
berjudul “Pengaruh Pernikahan Dini terhadap Ketenangan Jiwa (Studi Terhadap Tiga Mahasiswa
BPI Fakultas Da’wah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)”, menemukan hasil bahwa para mahasiswa
yang melangsungkan pernikahannya pada masa studi akan meraih ketenangan jiwa ketika tidak
problem dalam melangsungkan pernikahan tersebut. Tetapi ketika pernikahan tersebut dilaksanakan
dalam keadaan memiliki problem seperti tidak direstui orang tua, kurangnya dukungan dari orang
tua, ataupun belum terpenuhinya kebutuhan secara financial, maka akan mendapatkan kendala pula
setelah berlangsungnya pernikahan untuk menggapai ketenangan jiwa.
30 Mohammad Fauzil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini, hlm. 43
24

3. Kecepatan Menyelesaikan Perkuliahan

Lulus tepat waktu merupakan salah satu indikator keberhasilan

mahasiswa dalam memperoleh gelar sarjana.31 Mahasiswa dikatakan lulus

tepat waktu apabila menyelesaikan studinya di perguruan tinggi selama

kurang dari atau sama dengan empat tahun, sedangkan mahasiswa di

katakan tidak lulus tepat waktu apabila menyelesaikan studinya di

perguruan tinggi selama lebih dari empat tahun. Dalam praktiknya

mahasiswa tidak selalu dapat menyelesaikan pendidikan sarjana dalam

kurun waktu empat tahun. Dengan demikian, mahasiswa yang dapat

menyelesaikan studinya dalam waktu kurang dari empat tahun adalah

termasuk dalam kategori lulus dengan cepat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan dalam menyelesaikan

studi banyak jenisnya. Menurut Slameto (2010:54) ada dua faktor yang

menentukan keberhasilan belajar dan kecepatan menyelesaikan studi, yaitu

faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang timbul

daari dalam diri individu mahasiswa. Adapun yang dapat digolongkan ke

dalam faktor intern yaitu sebagai berikut.

Intelegensi, adalah “kemampuan yang dibawa ejak lahir yang

memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu”

(Purwanto, 2010:52). “Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga

jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam

situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan

31 Fira Nurahmah Al Amin, Analisis Ketepatan Waktu Lulus Berdasarkan Karakteristik


Mahasiswa FEM dan Faperta Menggunakan Metode Chart, (Bogor: Departemen Statistika FMIPA
IPB, 2013)
25

konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan

mempelajarinya dengan cepat” (Slameto, 2010:56).

Bakat, adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang

seagai kecakapan pembawaan. Dengan kata lain bakat merupakan

kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi

kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Maka jelaslah bahwa

tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat

yang dimilikinya, sehubungan dengan bakat yang dimiliki dapat

mempengaruhi tinggi rendahnya hasil belajar pada bidang-bidang tertentu

sehingga berdampak juga pada kecepatan dalam menyelesaikan studi.

Minat, adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan

mengenang beberapa kegiatan. Di mana kegiatan yang dimiliki seseorang

diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. (Oemar

Hamalik, 2003) menyatakan belajar dengan minat akan mendorong

mahasiswa belajar lebih baik dari pada belajar tanpa minat. Minat besar

pengaruhnya terhadap belajar, dan akan berujung membawa pengaruh

dalam menyelesaikan studi dengan cepat dan tepat waktu.

Motivasi, adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan

dan menjaga tingkah laku seseorang agar terdorong untuk bertindak

melakukan sesuatu sehingga tercapai hasil atau tujuan tertentu. Banyak hal

yang dapat dijadikan motivasi, termasuk pernikahan. Mahasiswa yang

menganggap pernikahannya sebagai motivasi akan menjadi lebih

terdorong untuk menyelesaikan studinya dengan cepat dan tepat waktu.32

32 Kadek Rini Rusmawati, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terhambatnya

Penyelesaian Studi Mahasiswa, (Singaraja: UPG, 2014)


26

Kesiapan, adalah kesediaan memberi respon atau bereaksi.

Kesiapan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga hubungannya

dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk

melaksanakan kecakapan.

Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil

belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-

pengalaman, keadaan keluarga, serta lingkungan sekitarnya. Hal ini

termasuk juga pernikahan. Keadaan rumah tangga yang harmonis dan

tidak harmonis tentu akan berdampak pada proses penyelesaian studi

dengan cepat dan tepat waktu.


27

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Pada pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan mulai dari 03 Mei

sampai dengan selesai. Adapun tempat/lokasi penelitian yang berkaitan

dengan penelitian ini dilakukan di kampus STAIN Bengkalis.

B. Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah para

Mahasiswa STAIN Bengkalis semester IV sampai semester VIII yang telah

melaksanakan pernikahan pada masa studinya masih berlangsung. Tentunya

tidak semua Mahasiswa STAIN Bengkalis semester IV-VIII dapat dijadikan

subyek, akan tetapi subyek ditentukan dengan kriteria tertentu agar dapat

dicapai penelitian yang mendalam. Kriteria tersebut antara lain sebagai

berikut:

a. Mahasiswa merupakan semester IV sampai VIII. Pembatasan ini selain

untuk mempermudah serta mempersempit wilayah penelitian dengan

mempertimbangkan daya kemampuan peneliti, juga didasarkan atas survey

peneliti dengan hasil bahwa mahasiswa di bawah semester IV belum ada

melakukan pernikahan sedangkan mahasiswa di atas semester VIII,

mayoritas sudah lulus dan hanya minoritas mahasiswa saja yang masih

aktif dalam perkuliahan.


28

b. Usia pernikahan sampai saat ini (terhitung sampai awal penelitian

penelitian) minimal satu semester.

c. Pernikahan dilaksanakan pada saat masih menyandang status mahasiswa

(bukan yang sudah menikah sebelum masuk kuliah).

d. Masih aktif dalam bangku perkuliahan (tidak sedang cuti)

Berdasarkan hasil survey dengan ketentuan kriteria tersebut maka

ditetapkan bahwa mahasiswa yang menjadi subyek penelitian adalah:

1. Lisna Silvy Wafa : PAI Semester IV A

2. Siti Zaleha : PAI Semester VI A

3. Sri Nurazila : MPI Semester VI A

4. Imas Suryamah : MPI Semester VI C

5. Imroatussoleha : MPI Semester VI C

6. Miftahul Jannah : PAI Semester VIII A

7. Putri Ramadhani : PAI Semester VIII A

8. Desi Susanti : PAI Semester VIII A

C. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam

penelitian. Beberapa teknik yang digunakan peneliti untuk memperoleh data

yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti, yaitu:

a. Metode Wawancara (Interview)

Metode wawancara atau kuisioner lisan adalah sebuah dialog yang

dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari


29

terwawancara.33 Melalui metode ini peneliti bermaksud untuk menemukan

sesuatu yang tidak dapat melalui pantauan atau pengamatan, seperti: biodata,

sejarah perjalanan pernikahan, info aktivitas keseharian keluarga, dan info

lainnya yang dibutuhkan untuk keperluan penelitian.

b. Metode Kuisioner

Kuisioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadi, atau

hal-hal yang ia ketahui.34 Melalui kuisioner ini peneliti gunakan untuk

memperoleh data yang dibutuhkan seperti biodata responden, dan ini peneliti

gunakan sebagai pengganti wawancara apabila memang dirasa sulit atau tidak

memungkinkan untuk wawancara secara langsung karena adanya halangan

tertentu.

c. Metode Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau

variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,

notulen rapat, agenda dan sebagainya.35 Dalam penelitian ini metode

dokumentasi digunakan peneliti untuk memperoleh data yang bersifat

dokumenter seperti halnya: foto dokumen pernikahan, daftar hasil studi

mahasiswa, dan lainnya.

33 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakktik (Jakarta: PT.

Rineka Cipta, 2006), hlm. 155


34 Ibid., hlm. 151
35 Ibid., hlm. 231
30

d. Metode Observasi

Metode observasi atau pengamatan secara sempit diartikan dengan

aktivitas memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata. Sedangkan

dalam pengertian psikologi, pengamatan meliputi kegiatan pemuatan perhatian

terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi

mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran,

peraba dan pengecap.36 Dengan metode observasi peneliti bermaksud untuk

mendapatkan data seperti seluruh hasil nilai yang telah diperoleh mahasiswa

subyek penelitian dari dalam Godam, mengetahui letak geografis tempat

penelitian, dan tempat tinggal responden.

D. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Pengecekan keabsahan data sangat perlu dilakukan agar tingkat

kevaliditasan data semakin dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan

secara ilmiah. Pemeriksaan keabsahan data adalah suatu langkah untuk

mengurangi kesalahan dalam proses perolehan data penelitian, yang tentunya

akan mempengaruhi terhadap hasil akhir penelitian. Adapun teknik

pemeriksaan keabsahan data yang peneliti gunakan adalah triangulasi.

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan

atau sebagai pembanding terhadap data itu. Triangulasi dibagi menjadi empat

teknik pemeriksaan di antaranya: triangulasi sumber, metode, penyidik, dan

36 Ibid., hlm. 156


31

teori.37 Pada penelitian ini tidak menggunakan semuanya akan tetapi hanya

menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik triangulasi metode saja.

Triangulasi sumber peneliti lakukan melalui perbandingan data melalui

beberapa sumber yang didapat. Sedangkan melalui triangulasi metode, peneliti

membandingkan hasil data yang didapat dari berbagai metode pengumpulan

data yang telah digunakan.

E. Metode Analisis

Untuk menganalisis data yang terhimpun dalam penelitian ini

digunakan teknik analisis kualitatif,38 dalam artian ketika data-data telah

terkumpul melalui metode wawancara, dokumentasi dan observasi, maka

selanjutnya dilakukan interpretasi yang dikembangkan menjadi preposisi-

preposisi. Langkah yang ditempuh dalam analisis ini , menggunakan model

siklus interaktif yang dikemukakan oleh Milles dan Huberman.39 Siklus

interaktif tersebut dipaparkan sebagai berikut:

a. Reduksi Data

Data yang diperoleh di lapangan, baik dari hasil observasi, wawancara

maupun dokumentasi sangat banyak sehingga perlu direduksi yaitu

dirangkum dan dipilih yang pokok dan sesuai dengan fokus penelitian,

37 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, hlm. 330


38 Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena
tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi motivasi, tindakan dan
lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu
konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Lexy J. Moleong,
Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2007), hlm. 6
39 Model analisis Milles dan Huberman dalam bukunya Quality Data Analysis

(California: Sage Publications, 1994) ini dikutip dan dijelaskan dalam bukunya Sugiyono, Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2006), hlm. 337-345
32

kemudian disusun secara sistematis sehingga memberikan gambaran yang

jelas tentang hasil penelitian.

Reduksi data juga dimaknai sebagai proses pemilihan, pemusatan

perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar

yang muncul dari catatan lapangan. Reduksi data berlangsung secara terus

menerus selama penelitian berlangsung. Reduksi data merupakan bentuk

analisis yang menajamkan, mengarahkan, membuang yang tidak diperlukan

dan mengorganisasikan data yang diperlukan sesuai fokus permasalahan

penelitian. Selama proses pengumpulan data yang diperlukan sesuai fokus

permasalahan penelitian. Selama proses pengumpulan data, reduksi data

dilakukan melalui proses pemilihan, abstraksi, dan transparasi data kasar

yang diperoleh dengan menggunakan catatan tertulis di lapangan.

b. Display Data

Langkah selanjutnya setelah data reduksi adalah display data atau

menyajikan data secara lengkap, jelas dan singkat. Hal ini akan

memudahkan peneliti dalam memahami hubungan atau gambaran terhadap

aspek-aspek yang diteliti. Display data ini selanjutnya digunakan sebagai

bahan untuk menafsirkan data sampai dengan pengambilan kesimpulan.

Penyajian data yang paling sering digunakan dalam penelitian kualitatif

adalah berbentuk teks naratif dari catatan lapangan. Selain itu penyajian

data merupakan tahapan untuk memahami apa yang sedang terjadi dan apa

yang harus dilakukan, selanjutnya dianalisis dan diambil tindakan yang

dianggap perlu. Oleh karena itu, dalam menyajikan data hasil penelitian
33

ini, peneliti lebih banyak memaknai data temuan dalam bentuk kata-kata

yang komunikatif sesuai dengan fokus penelitian yang diungkap.

c. Pengambilan Kesimpulan

Sejak awal peneliti berusaha memaknai data yang terkumpul, untuk itu

perlu dicari pola hubungan dari permasalahan yang diteliti.

Data yang terkumpul disimpulkan sementara, diverifikasi dengan

mencari data yang lebih mendalam. Verifikasi dapat dilaksanakan

dengan melihat kembali reduksi data maupun display data, sehingga

kesimpulan yang diambil tidak menyimpang dari data yang dianalisis.

Verifikasi dan pengambilan kesimpulan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut.

1. Mencatat semua temuan dari fenomena yang terdapat di lapangan

baik melalui pengamatan, wawancara maupun dokumentasi dalam

bentuk catatan lapangan.

2. Menelaah kembali catatan hasil pengamatan, wawancara, dan studi

dokumentasi serta memisahkan data yang dianggap penting dan

tidak penting untuk memeriksa kemungkinan kekeliruan

klasifikasi.

3. Mendeskripsikan data yang telah diklasifikasikan untuk

kepentingan penelaahan lebih lanjut dengan memperhatikan fokus

dan tujuan penelitian.

4. Membuat analisis akhir yang memungkinkan dalam laporan untuk

kepentingan penulisan skripsi.


34

DAFTAR PUSTAKA

Adhim, Mohammad Fauzil, Di Ambang Pernikahan, Jakarta: Gema Insani, 2002.

Adhim, Mohammad Fauzil, Indahnya Pernikahan Dini, Jakarta: Gema Insani

Press, 2006.

Adhim, Mohammad Fauzil, Saatnya Untuk Menikah, Yogyakarta: Pro-U Media,

2008.

Adi, Rianto. Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum. Jakarta: Granit. 2004.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT

Rineka Cipta, 2006.

Bungin, Burhan. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group. 2007.

Departemen Agama RI. Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: CV

Penerbit J-Art. 2004.

Fadli, “Pengaruh Pernikahan Dini Terhadap Ketenangan Jiwa”, Skripsi, Fakultas

Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2005.

Meu-Leong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja

Rosda Karya. 1989.

Miharso, Mantep. Pendidikan Keluarga Qur’ani. Yogyakarta: Safiria Insani

Press. 2004.

Muhammad, Syarif dan Fauziyah. Terjemahan Hadits Pilihan Shahih Bukhori.

Surabaya: Bintang Timur.1993.

Muhammad.,Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab. Jakarta: PENERBIT SHAF.

2011.
35

Ali Hasan, M, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah, Pada Masalah-Masalah

Kontemporer Hukum Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997

Ramulyo, Idris. Tinjauan Beberapa Pasal Undang-Undnag Nomor 1 Tahun 1974

Dari Segi Hukum Perkawinan Islam. Jakarta: Ind. Hillico. 1986.

Ramulyo, Moh. Idris. Hukum Perkawinan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1996.

Raharjo, Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Yogyakarta: Gadjah

Mada University Press. 2004.

Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Balai Pustaka. 1988.

Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009.