Anda di halaman 1dari 6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Penyakit Uretritis


2.1.1 Definisi
Uretritis adalah peradangan uretra oleh berbagai penyebab dan merupakan sindrom yang
sering terjadi pada pria. Uretritis merupakan inflamasi uretra, biasanya suatu infeksi yang
menyebar naik yang digolongkan sebagai gonoreal dan non gonoreal. Uretritis merupakan
peradangan pada uretra, disebabkan kuman gonoroe atau kuman lain, kadang tanpa adanya
bakteri (Ns. Reny Yuli Aspiani., 2015).

Uretritis adalah peradangan uretra sebagai manifestasi dari infeksi pada uretra. Meskipun
berbagai kondisi klinis dapat menyebabkan iritasi uretra tersebut, istilah uretritis biasanya
diperuntukan untuk menggambarkan peradangan uretra yang disebabkan oleh penyakit menular.
Seksual (PMS). Uretritis biasanya dikategorikan menjadi salah satu dari dua bentuk, berdasarkan
etiologi: uretritis gonokokal (GU) dan uretritis nongococcal (NGU) (Arif Muttaqin, Kumala Sari,
2011).

2.1.2 Etiologi

Uretritis disebabkan oleh kuman gonore atau terjadi tanpa adanya bakteri. Sesuai dengan
sebutan infeksi itu sendiri yaitu uretritis gonoreal dan nongonoreal. Penyebab dari urethritis
menurut (Ns. Reny Yuli Aspiani., 2015) adalah:

a. Kuman gonorhoe.
b. Tindakan invasif.
c. Iritasi batu ginjal
d. Trihomonas vaginalis
e. Chlamydia trachomatic
f. Ureplasma urealyticum
g. Virus herpes simpleks
h. Organisme gram negatif :
1) Escherichia coli.
2) Entero bakteri.
3) Pseudomonas.
4) Klebsiella dan Proteus.
2.1.3 Pathofisiologi

Invasi kuman bakteri ke uretra

Ketidakmampuan pertahanan Latihan kandung kemih


lokal terhadap infeksi

Penempelan bakteri di Penggunaan kateter intermiten


urotelium uretra berulang

uretritis Respon traumatic pada uretra

Ketidaktahuan dalam proses Reaksi infeksi-inflamasi lokal nyeri


transmisi penyakit lokal iritasi pada saluran kemih

Nyeri Piuria, disuria

Gangguan eliminasi urine

(Arif Muttaqin, Kumala Sari, 2011)

2.1.4 Klasifikasi

Secara Umum Uretritis dibagi menjadi:


a. Uretritis akut, terjadi karena naiknya infeksi atau sebaliknya oleh karena prostat mengalami
infeksi.
b. Uretritis kronik, infeksi ini disebabkan oleh pengobatan yang tidaksempurna pada masa
akut, prostatitis kronik, atau striktura uretra.

Berdasarkan etiologi uretritis dibagi menjadi :

a. Uretritis gonoreal, disebabkan oleh neisseria gonorrhoeae. Dan ditularkan melalui kontak
seksual. Pada pria inflamasi orifisium meatal terjadi disertai rasa terbakar ketika urinasi,
meskipun demikian penyakit ini dapat asimtomatik. Pada wanita, rabas urethra tidak selalu
muncul dan penyakit juga asimtomatik, oleh karena itu gonore pada wanita tidak
didiagnosis/dilaporkan.
b. Uretritis nongonoreal, uretritis yang tidak berhubungan dengan neisseria gonorrhoeae
biasanya disebabkan oleh klamidia trakomatik atau urea plasma urelytikum. Jika pasien pria
adalah simtomatik akan mengeluh adanya disuria tingkat sedang atau parah dan rabas uretral
dengan jumlah sedikit atau sedang (Ns. Reny Yuli Aspiani., 2015).

2.1.4 Manifestasi Klinis


Menurut (Ns. Reny Yuli Aspiani., 2015) tanda dan gejalanya adalah :
a. Terdapat cairan eksudat yang purulent.
b. Mukosa merah udematus.
c. Ada ulserasi pada urethra, iritasi, vesikal iritasi, prostatitis.
d. Sekret urethra.
e. Peradangan meatus.
f. Rasa terbakar, ada rasa gatal yang menggelitik, gejala khas pada uretritis gonorhoe yaitu
morning sickness.
g. Pada pria pembuluh darah kapiler, kelenjar urethra tersumbat oleh pus.
h. Pada wanita jarang ditemukan uretritis akut.
i. Sering berkemih.
j. Adanya pus awal miksi.
k. Nyeri pada saat miksi.
l. Kesulitan untuk memulai miksi.
m. Nyeri pada abdomen bagian bawah.
n. Mikroskopis ; terlihat infiltrasi leukosit sel-sel plasma dan sel-sel limfosit.

2.1.5 Pemeriksaan Penunjang


Pada kasus uretritis hal-hal yang perlu diperiksa untuk mendukung diagnosa adalah:
a. Pemeriksaan urine lengkap.
b. Pemeriksaan sekret urethra.
c. Test sensitivitas dan kultur untuk menentukan antibiotika yang akan dipakai.
2.1.6 Penatalaksanaan

A. Uretritis gonoreal :

1. Antibiotika.

2. Bila terjadi striktur maka dilatasi uretra dengan bougie.

3. Bila komplikasi maka diberikan antibiotika.

B. Uretritis non gonoreal :

Antimikrobal seperti Tetrasiklin atau Dosisiklin. Pada klien yang alergi tetrasiklin berikan
erythromycin (Ns. Reny Yuli Aspiani., 2015)

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan

2.2.1 Pengkajian

a. Riwayat kesehatan

1. Apakah pernah ISK.

2. Apakah pernah menderita batu ginjal.

b. Pengkajian fisik

1. Palpasi kandung kemih.

2. Infeksi meatus.

3. Pengkajian : warna, jumlah, bau dan kejernihan urine

Pemeriksaan fisik

Secara umum kebanyakan pasien dengan urethritis tidak didapatkan gejala khas sebagai tanda –
tanda sepsis, seperti demam, takikardi, tachypnea, atau hipotensi. Fokus utama pemeriksaan
adalah pada alat kelamin. (Muttaqin, 2011)

Pemeriksaan Pria

Sebelum pemeriksaan perawat sangat penting untuk menjaga kewaspadaan umum (universal
precautions), seperti penggunaan sarung tangan, pakaian terlindung rabas uretra dan lain – lain.
Pastikan kondisi privasi sudah terjaga, dan pemenuhan informasi sebelum melakukan
pemeriksaan fisik sangat penting untuk terjadinya suatu kerja sama yang baik antara pasien dan
perawat.

Berapa tahapan dalam memeriksa alat kelamin pria adalah sebagai berikut

1. Pakaian pasien dilepas seluruhnya dan memeriksa pakaian apakah ada sekresi yang
menempel pada pakaian atau celana dalam. Hal ini dapat menghasilkan informasi
tambahan.
2. Periksa pasien adanya lesi kulit yang mungkin mengindikasikan PMS lainnya, seperti
kondiloma acuminatum, herpes simpleks, atau sifilis. Apabila pasien tidak disunat,
pemeriksa harus menarik kembali kulub untuk meemeriksa adanya suatu lesi dan eksudat
yang dapat bersembunyi di bawah.
3. Periksa lumen meatus uretra distal tentang adanya suatu lesi, striktur, atau debit uretra.
4. Parah penis dengan lembut dari pengkal penis ke glands. Setiap rabas yang keluar dari
meatus uretra dilihat jenis dan warna cairan yang keluar. Palpasi dilakukan sepanjang
uretra untuk memeriksa adanya fluktuasi, kelembutan, kehangatan dan adanya kelainan.
5. Periksa testis untuk menilai adanya massa atau peradangan. Palpasi saluran spermatika,
apakah ada pembengkakan, nyeri atau tanda – tanda peradangan orkhitis atau
epididimitis.
6. Palpasi prostat untuk menilai adanya kelembutan atau adanya tanda – tanda peradangan
prostat dengan cara colok dubur.

Pemeriksaan Wanita

Seperti pada pemeriksaan pria, sebelum pemeriksaan, sangat penting bagi perawat untuk
menjaga kewaspadaan umum (universal precautions), seperti penggunaan sarung tangan, dan
pakaian terlindung rabas uretra. Pastikan kondisi privasi sudah terjaga. Pemenuhan informasi
sebelum melakukan pemeriksaan fisik sangat penting untuk terjadinya suatu kerja sama yang
baik antara perawat dan pasien.

Beberapa tahapan dalam memeriksa alat kelamin wanita adalah sebagai berikut.

1. Pasien harus dalam posisi lithotomy.


2. Periksa kilut untuk setiap lesi yang mungkin menunjukkan adanya PMS lainnya.
3. Palpasi pengeluaran uretra dengan memasukkan jari ke dalam vagina anterior dan
menekan kedepan pada sepanjang uretra. Setiap pengeluaran uretra harus menjadi sampul
pemeriksaan.
4. Ikuti pemeriksaan uretra dengan pemeriksaan panggul lengkap.

c. Riwayat psikologis

1. Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan.

2. Persepsi terhadap kondisi penyakit.

3. Pengkajian pengetahuan klien

4. Pemahaman tentang penyakitnya. Pemahaman tentang pencegahan, perawatan


terapi medis.