Anda di halaman 1dari 2

Pelukan Hangat Yang Masih Menanti

7 tahun menjalin hubungan bukan merupakan hal yang singkat tak sesingkat kita berpisah ketika dia
meninggalkanku di tempat dimana kita pernah mengikrarkan janji untuk tetap setia bersama, dan
dia pun memilih untuk pergi bersama kekasih barunya, rasa perih di hati tak terbendung lagi dan air
mata tak dapat menahan dia tuk kembali di pelukan ini. Rasa hampa terasa begitu jelas di hati.

Ketika ku terbangun dari tidur yang tak terlelap karena ditemani kesedihan, aku langsung teringat
dia yang pergi dari kehidupanku, rasa di hati ini pun tak mudah tuk percaya tapi itu tetap terjadi, air
mata terus terjatuh mengingat dia yang telah pergi, entah kapan dia akan kembali lagi di pelukanku
dan mungkin dia tak akan pernah kembali, jerit hati dan tangis kesedihan pun selalu mewarnai hari-
hariku.

Hari terus berganti dan kesedihan masih tetap menyelimuti, kesedihan yang tak berujung entah
sampai kapan. Segala cara telah aku coba untuk merelakan dan melupakan dia yang telah pergi dari
pelukan hangat ini. Telah ku coba menghabiskan waktu bersama teman-temanku dan pergi ke
tempat dimana kita bisa berkumpul barsama, akan tetapi dia selalu membayangi dan terus
menghatui.

4 bulan telah berlalu dan hati ini pun masih belum bisa merelakan kepergiannya, hati ini terlalu sulit
untuk melupakan dan menerima kepergiannya. Rasa hampa, perih dan air mata tak jarang hadir
menemani kehidupan ini. Di sela-sela do’aku selalu terslipkan namanya agar tuhan dapat
menjaganya disaat dia jauh dariku.

Hari pun mulai datang bergantian tetapi hati ini tak akan pernah tergantikan dengan yang lain. Kala
itu ada seseorang yang mulai mendekat dan memberikan perhatian kepadaku, dia sempat
memberikan rasa kenyamanan di hati ini dan mulai mengalihkan perhatian di dunia kesedihan ini.

Saat ku coba membuka hati ini untuk yang lain, akhirnya aku pun menjalin hubungan dengan
seseorang yang bisa mengalihkan kesedihanku, dia bisa membuat ku tertawa lepas selepas
melupakan kesedihan ini. Selang beberapa waktu, telah kucoba membuka hati dengan yang lain,
ternyata tak semudah itu aku melupakan dan merelakan dia yang pernah mewarnai hari-hariku
selama 7 tahun lamanya.

Rasa nyaman yang pernah ada dengan kekasih baru pun semakin hari semakin memudar, aku tak
bisa melanjutkan hubungan ini, dan semakin hari semakin merindukan dia yang pernah singgah 7
tahun lamanya di hati ini. Ingin rasanya mengulang kembali masa-masa yang pernah ada dan
memperbaiki agar kita tetap bersama.

8 bulan telah berlalu dan 8 bulan itu pun kita tak berkomunikasi apalagi bertemu, pada saat itu aku
yang masih merindukan mencoba menghubunginya, rasa was-was dan takut sempat datang di saat
aku ingin menghubunginya, dan seketika itu pun keberanian mulai muncul dan aku langsung
menghubunginya melalui telfon. Tanpa disangka dia pun merasakan kerinduan yang sama, di hati
jelas sekali kecerian mulai terasa.

Sehari berlalu, komunikasi pun masih terus berlanjut dan harapan ingin kembali itu juga masih
membayangi di hati, hari-hari berikutnya kita masih tetap berkomunikasi dengan baik, mesra dan
semakin dekat layaknya kita masih menjalin sebuah hubungan dulu.
Saat itu aku mengajaknya pergi ke sebuah tempat dimana tempat itu pernah menjadi Salah satu
tempat kenangan kita, dia pun mengiyakan ajakan itu, rasa ini senang, bahagia sudah pasti datang di
sela-sela keceriaan ini mengingat dia yang hampir kembali dalam pelukan hangat ini.

Ketika minggu petama datang entah mengapa dan kenapa dia memintaku pergi dari kehidupannya
(lagi), hati ini pun tak ingin kehilangan dia untuk yang kedua kalinya, aku tetap berusaha untuk
menjadi yang terbaik dalam hidupnya sesekali aku memohon dan meminta dia untuk tetap tinggal di
pelukan hangat ini dan jangan pernah pergi lagi.

Berbagai cara telah ku tempuh untuk bisa membuat dia yakin akan ketulusan cinta ini, dia pun mulai
luluh kembali dan rasa senang, bahagia dan keceriaan pun datang kembali.

Namun sehari berikutnya dia lagi, lagi dan lagi dia menyuruhku pergi dari kehidupannya dan dia
sempat mengirim pesan padaku “maafin aku, aku gak bisa memperbaiki hubungan ini, rasa sayangku
tak seperti dulu lagi, keputusan ini sudah aku pertimbangkan. Makasih ya udah mewarnai hari-hariku
selama 7 tahun”. Membaca pesan singkat itu aku pun mulai memahami isi yang ada di hatinya
dengan kesedihan yang selalu menemani, harapanku tak akan memudar, aku tetap bertahan dan
menunggu dia yang pergi dan pasti akan kembali