Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PROMOSI KESEHATAN

TENTANG
TRANSTHEORITICAL MODEL

DOSEN PEMBIMBING : Ns. MILYA NOVERA, MNS

DI SUSUN OLEH
KELOMPOK III:
1. ADINDA OKTAVIANA
( 1710105040 )
2. AFRIYANTI
( 1710105041 )
3. DEDE ARJUNA ALI
( 1710105046 )
4. ELSA SHINTIA PARAMITA
( 1710105048 )
5. PUTRI LARASATI
( 1710105059 )
6. RAHMA TIANA PUTRI
( 1710105061 )
7. WINDA RAHMAT ARMANDA
( 1710105075 )

KELAS : III B

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ALIFAH PADANG
TAHUN AJARAN 2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga bisa menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya yang berjudul “ TRANSTHEORITICAL MODEL” sebagai tugas kelompok
dosen Ibu Ns. MILYA NOVERA, MNS mata kuliah PROMOSI KESEHATAN.
Makalah ini berisikan tentang informasi tentang bagaimana dan apa- apa saja
mengenai dari keperawatan jiwa. Diharapkan makalah ini dapat memberikan
pemahaman tentang materi tersebut.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu,
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan
demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam proses penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.

Padang, Oktober 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................1
1.2 Tujuan..............................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Teori Transtheoretical Model ................................................................................2
2.2 Faktor – faktor yang mempengaruhi proses perubahan ..................................2
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


The Transtheoretical Model menurut Prochaska dan Diclement, adalah suatu
model yang integrative tentang perubahan perilaku. Kunci pembangun dari teori lain
yang terintegrasi. Model ini menguraikan bagaimana orang-orang memodifikasi
perilaku masalah atau memperoleh suatu perilaku yang positif dari perubahan perilaku
tersebut. ( Anderson, 1987 ).
Model ini adalah suatu perubahan yang disengaja untuk mengambil suatu
keputusan dari individu tersebut. Model melibatkan emosi, pengamatan dan perilaku,
melibatkan pula suatu kepercayaan diri ( Anderson, 1987 ).
Aplikasi dari Transtheoretical Model itu. Model telah sebelumnya berlaku untuk
suatu perilaku masalah yang luas. Ini meliputi perhentian merokok, latihan, diet
rendah yang gemuk, radon atau radium yang menguji, alkohol menyakititi, berat atau
beban mengendalikan, kondom gunakan untuk perlindungan HIV, perubahan
keorganisasian, penggunaan dari sunscreens untuk mencegah kanker kulit, obat atau
racun menyakititi, pemenuhan medis, mammography menyaring, dan menekan
manajemen. Dua dari aplikasi ini akan diuraikan secara detil, merokok manajemen
tekanan dan perhentian. Di mana berbagai test dari model ada tersedia dan intervensi
efektif didasarkan pada model telah dikembangkan dan dievaluasi di berbagai
percobaan atau pengadilan yang klinis. Yang belakangan menghadirkan suatu area
permasalahan di mana riset yang didasarkan pada Transtheoretical Model ( Anderson,
1987 ).
1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu memahami bagaimana teori dari transtheorietical model dan
dapat mengaplikasikannya dalam melaksanakan kewajibannya serta dalam kehidupan
sehari – hari

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Transtheoretical Model


Perubahan perilaku transtheoretical theory model ( TTM ) menilai kesiapan
individu untuk bertindak pada perilaku sehat, dan menyediakan strategi – strategi, atau
proses – proses perubahan untuk membimbing individu melalui tahapan perubahan
tindakan dan pemeliharaan. James O. Prochaska dari Universitas Rhode Island dan
rekan mengembangkan awal Model Transtheoretical pada 1977. Hal ini didasarkan
pada analisis teori yang berbeda dari psikoterapi, maka diberi nama “ Transtheorerical
” ( Kholid, A. 2014 ).
Suatu model yang teoritis tentang perilaku ubah, yang telah (menjadi) basis untuk
mengembangkan intervensi yang efektif untuk mempromosikan perubahan perilaku
kesehatan. Transtheoretical Model ( Prochaska & Diclemente, 1983; Prochaska,
DiClemente, & Norcross, 1992; Prochaska & Velicer, 1997) adalah suatu model yang
integratif tentang perubahan perilaku. Kunci membangun dari teori lainnya
terintegrasi. Model menguraikan bagaimana orang-orang memodifikasi suatu perilaku
masalah atau memperoleh suatu perilaku yang positif. Pengaturan yang pusat
membangun dari model adalah Langkah-langkah perubahan. Model juga meliputi satu
rangkaian variabel yang mandiri, proses merubah perilaku, dan satu rangkaian hasil
mengukur, termasuk Decisional Balance dan timbangan Temptation. Processes from
Change adalah sepuluh aktivitas perilaku dan teori yang memudahkan perubahan
( Kholid, A. 2014 ).
2.2 Faktor – faktor yang mempengaruhi proses perubahan
Faktor – faktor yang mempengaruhi proses perubahan adalah sebagai berikut :
1. Tahapan perubahan
Dalam transtheoretical theory model ( TTM ), perubahan adalah sebuah “
proses yang melibatkan kemajuan melalui serangkaian tahapan “ berikut ini

2
( Kholid, A. 2014 ) :
1) Precontemplation – “ orang tidak berniat untuk mengambil tindakan di
masa mendatang, biasanya diukur sebagai 6 bulan ke depan. Orang-orang
yang mungkin termasuk di langkah ini adalah mereka yang tidak diberitahu
tentang konsekuensi dari perilaku mereka. Mereka bersifat menentang atau
tanpa motivasi atau mempersiapkan promosi kesehatan. Untuk individu
seperti ini program promosi kesehatan tradisional sering tidak dirancang
sesuai dengan keputusan mereka. Pada tahap precontamplation menuju ke
contamplation melalui proses ( Kholid, A. 2014 ). :
a. Peningkatan kesadaran : memberikan informasi.
b. Dramatic relief : adanya reaksi seara emosional
c. Environmental reevaluation : mempertimbangkan pandangan ke
lingkungan
2) Kontemplasi – “ orang berniat untuk berubah dalam 6 bulan ke depan “.
Mereka sadar akan pro menguvbah perilaku tetapi juga sangat sadar akan
memberdayakan. Tahapan ini menyeimbangkan anatara biaya dan
keuntungan untuk menghasilkjan 2 sifat bertentangan yang dapat
menyimpan dalam periode lama. Belum membuat keputusan yang tepat
suatu reaksi. Pada tahap contemplation ke preparation melalui proses : Self-
reevaluation : penilaian kembali pada diri sendiri ( Kholid, A. 2014 ).
3) Persiapan – “ orang berniat untuk mengambil tindakan dalam waktu dekat,
biasanya diukur sebagai bulan depan. “Secara khas mereka mengambil
keputusan penting dari masa yang lalu. Individu ini mempunyai suatu
rencana kegiatan seperti sambungan suatu kelas pendidikan kesehatan,
bertemu dengan dokter mereka, membeli suatu buku bantuan diri atau
bersandar pada suatu perubahan. Pada tahap preparation ke action melalui
proses : self liberation ( Kholid, A. 2014 ).
4) Aksi – “ orang telah membuat modifikasi terbuka khusus dalam gaya hidup

3
mereka dalam 6 bulan terakhir.“ Banyaknya anggapan tindakan sama
dengan perilaku. Namun dalam model ini perilaku tidak menghitung semua
tindakan. Langkah action adalah juga langkah dimana kewaspadaan
melawan terhadap berbuat tidak baik lagi adalah kritis. Mulai aktif
berperilaku yang baru. Pada tahap action ke maintenance melalui proses
( Kholid, A. 2014 ) :
a) Contingency management : adanya penghargaan, bisa berupa
punishment juga.
b) Helping relationship : adanya dorongan atau dukungan dari orang lain
untuk mengubah perilaku.
c) Counter conditioning : alternatif lain dari suatu perilaku.
d) Stimulus control : adanya control pengacu untuk merubah perilaku.
5) Pemeliharaan – “ orang yang bekerja untuk mencegah kambuh, “ tahap
yang diperkirakan berlangsung “ dari 6 bulan sampai 5 tahun. “ Suatu
langkah yang mana diperkirakan untuk terakhir. Ketika hasil dari
maintenance positif atau dapat mengubah perilaku yang lebih baik maka
akan terjadi termination atau perhentian ( Kholid, A. 2014 ).
Ketika setelah maintenance terjadi relaps maka bisa kembali pada tahap
contemplation-preparation-action-maintence. Tidak lagi kembali ke Precontemplation,
karena sudah ada kesadaran atau niat. Transtheoretical Model mengusulkan satu set
membangun format itu adalah suatu ruang hasil multivariate dan meliputi ukuran yang
adalah sensitif untuk maju di seluruh langkah-langkah. Ini membangun meliputi yang
pro dan kontra dari Decisional Balance Scale, Temptation atau Self-efficacy, dan
perilaku target. Suatu lebih terperinci presentasi dari aspek/pengarah ini pada model
disajikan di tempat lain ( Velicer, Prochaska, Rossi, & Diclemente, 1996). Decisional
Balance. Decisional Balance membangun cerminan individu yang menimbang dari
baik buruknya dari mengubah. Berasal dari model Mann’s dan Janis dari pengambilan

4
keputusan ( Janis dan Mann, 1985) itu mencakup empat kategori dari pro ( laba yang
sebagai penolong/musik untuk persetujuan dan orang lain dan diri untuk yang lain dan
diri sendiri) ( Soekidjo, 2010 ).
Empat kategori dari memperdayakan adalah biaya-biaya sebagai penolong/musik
ke penolakan dan yang lain dan diri dari yang lain dan diri. Bagaimanapun, suatu test
yang empiris dari model mengakibatkan suatu banyak struktur yang lebih sederhana.
Hanya dua faktor, yang pro dan contra, ditemukan ( Velicer, DiClemente, Prochaska,
& Brandenberg, 1985). Dalam suatu merindukan rangkaian dari studi ( Prochaska, et
al. 1994), sebanyak ini; sekian struktur yang lebih sederhana telah selalu ditemukan.
Self-Efficacy membangun menghadirkan keyakinan situasi yang spesifik yang orang-
orang mempunyai bahwa mereka dapat mengatasi situasi yang resiko-tinggi tanpa
relapsing kepada kebiasaan tak sehat atau yang resiko-tinggi mereka. Situational
Temptation Measure ( Diclemente, 1981, 1986; Velicer, DiClemente, Rossi, &
Prochaska, 1990) cerminkan intensitas dari himbauan untuk terlibat dalam suatu
perilaku yang spesifik ketika di tengah-tengah situasi yang sulit, itu ada di efek,
sebaliknya dari kemajuan diri dan yang sama satuan materi dapat digunakan untuk
kedua-duanya ukuran, menggunakan format tanggapan yang berbeda ( Soekidjo,
2010).
Situational Self-efficacy Measure tidak cerminkan keyakinan dari individu untuk
terlibat dalam suatu perilaku yang spesifik ke seberang satu rangkaian situasi yang
sulit. Keduanya ukuran Temptation dan Self-efficacy mempunyai yang sama struktur
( Velicer et al., 1990). Di riset mereka secara khas temukan tiga faktor yang
mencerminkan paling umum jenis mencoba situasi: hal negatif mempengaruhi atau
kesusahan emosional, situasi sosial yang positif, dan permohonan. Ukuran
Temptation/Self-efficacy adalah terutama sekali sensitif pada perubahan yang
dilibatkan sedang dalam proses di langkah-langkah yang kemudiannya adalah
meramal yang baik dari berbuat tidak baik lagi ( Soekidjo, 2010 ).

5
6) Pemutusan – “ individu memiliki godaan nol dan 100% efektivitas diri
mereka yakin mereka tidak akan kembali ke kebiasaan lama mereka yang
tidak sehat sebagai cara untuk mengatasi “ ( Kholid, A. 2014 ).
2. Tahap Tinjauan
Tahap 1 : Precontemplation (Tidak Siap).
Orang-orang pada tahap ini tidak berniat untuk memulai perilaku sehat dalam
waktu dekat (dalam waktu 6 bulan), dan mungkin tidak menyadari kebutuhan untuk
berubah. Orang disini mempelajari lebih lanjut tentang perilaku sehat: mereka
didorong untuk berpikir tentang Pro mengubah perilaku mereka dan untuk merasakan
emosi tentang efek perilaku negative mereka pada orang lain. Precontemplators
biasanya meremehkan pro berubah, melebih-lebihkan cons, dan sering tidak sadar
melakukan kesalahan tersebut. Orang-orang ini didorong untuk menjadi lebih sadar
akan keputusan mereka membuat dan lebih sadar akan manfaat ganda untuk mengubah
perilaku tidak sehat ( Arief S, 2009 ).
Tahap 2: kontemplasi (persiapan).
Pada tahap ini, peserta berniat untuk memulai perilaku sehat dalam 6 bulan
kedepan. Sementara mereka biasanya sekarang labih sadar akan Pro perubahan, Cons
mereka hampiir sama dengan Pro mereka. Ini ambivalensi tentang perubahan dapat
menyebabkan mereka untuk tetap menunda mengambil tindakan. Orang disini belajar
tentang jenis orang yang mereka dapat jika mereka merubah perilakunya dan belajar
lebih banyak dari orang yang berprilaku dengan cara yang sehat. Mereka didorong
untuk bekerja dan mengurangi Kontra perilaku mereka ( Arief S, 2009 ).
Tahap 3: persiapan (Ready).
Orang-orang pada tahap ini siap untuk mulai mengambil tindakan dalam 30 hari
ke depan. Mereka mengambil langkah-langkah kecil yang mereka percaya dapat
membantu membuat peerilaku sehat merupakan bagian dari hidup mereka. Misalnya,
mereka memberitahu teman dan keluarga yang ingin mengubah perilaku mereka.
Selama tahap ini, peserta didorong untuk mencari dukungan dari teman mereka yang

6
percaya, memberitahu orang tentanf rencana mereka untuk mengubah cara bertindak,
dan berpiikir tentang bagaimana mereka akan merasa jika mereka berprilaku dengan
cara yang sehat. Nomor satu keprihatinan adalah ketika mereka bertindak, mereka
akan gagal? Meraka akan belajar bahwa lebih siap mereka adalah lebih besar
kemungkinan untuk terus maju ( Arief S, 2009 ).
Tahap 4: Aksi.
Orang pada tahap ini telah mengubah perilaku mereka dalam 6 bulan terakhir, dan
harus bekerja keras untuk terus bergerak maju. Para peserta perlu belajar bagaimna
memperkuat komitmen mereka untuk berubah dan untuk melawan dorongan
menyelinap kembali. Orang diajarkan disini termasuk mengganti kegiatan yang
berkaitan dengan perilaku tidak sehat dengan yang positif, penghargaan diri untuk
mengambil langkah-langkah menuju perubahan, dan menghindari orang dari situasi
yang menggoda mereka untuk berperilaku dengan cara yang tidak sehat ( Arief S,
2009 ).
Tahap 5: Perawatan.
Orang pada tahap ini merubah perilaku mereka lebih dari 6 bulan yang lalu. Hal
ini penting bagi orang ditahap ini untuk menyadari situasi yang dapat menggoda
mereka untuk menyelinap kembali kedalam melakukan perilaku terutama yang tidak
sehat atau situasi stress. Orang disini belajar untuk mencari dukungan dari dan
berbicara dengan orang yang mereka percaya, menghabiskan waktu dengan orang
yang berprilaku, dan ingat untuk terrlibat dalam kegiatan alternatif untuk mengatasi
stress bukan mengandalkan perilaku tidak sehat ( Arief S, 2009 ).

BAB III

7
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

The Transtheoretical Model dan Consciousness Raising mempunyai implikasi


umum untuk semua aspek dari implementasi dan pengembangan intervensi. Kita akan
dengan singkat menguraikan bagaimana berdampak pada di lima area : perekrutan,
ingatan, kemajuan, proses, dan hasil.
Transtheoretical Model tidak membuat apapun asumsi tentang bagaimana individu
siap adalah untuk ubah. Untuk mengenali individu yang berbeda itu akan berada di
langkah-langkah yang berbeda dan intervensi sesuai itu harus dikembangkan untuk
semua orang. Sebagai hasilnya, daftar biaya pengiriman barang-barang keikutsertaan
yang sangat tinggi telah dicapai. Transtheoretical Model dapat memudahkan suatu
analisa dari mekanisme mediational itu. Intervensi adalah nampaknya akan secara
diferensial efektif dengan membangun dan hubungan yang tergambar jelas, model
dapat memudahkan suatu analisa proses dan pemandu peningkatan dan modifikasi dari
intervensi itu.
Transtheoretical Model dapat mendukung suatu penilaian yang lebih sesuai
tentang hasil. Intervensi harus dievaluasi dalam hal dari dampak mereka, yaitu
perekrutan menilai kemanjuran. Intervensi yang didasarkan pada Transtheoretical
Model mempunyai potensi untuk mempunyai kedua-duanya adalah suatu kemanjuran
yang tinggi dan suatu tingkat tarif perekrutan yang tinggi, dengan begitu secara
dramatis meningkatkan potensi yang berdampak pada di keseluruhan populasi dari
individu dengan resiko kesehatan yang tingkah laku.

DAFTAR PUSTAKA

8
Kholid, A. 2014. Promosi Kesehatan. Dengan Pendekatan Teori Perilaku, Media, Dan
Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Promosi Kesehatan Teori & Aplikasi. Jakarta : Rineka
Cipta.
Ronald H. Anderson, ( 1987 ), Pemilihan Dan Pengembangan Media Untuk
Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Sadiman, Arief S. Dkk. ( 2009 ), Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, Dan
Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali Pers.