Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
1. Definisi Ansietas

Ansietas adalah perasaan was-was, khawatir,atau tidak nyaman seakan-akan akan terjadi
sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman Ansietas berbeda dengan rasa takut. Takut
merupakan penilaian intelektual terhadap ssuatu yang berbahaya, sedangkan ansietas adalah
respon emosional terhadap penilaian tersebut (Keliat, 2012). Ansietas merupakan
pengalaman emosi dan subjektif tanpa ada objek yang spesifik sehingga orang merasakan
suatu perasaan was-was (khawatir) seolah-olah ada sesuatu yang buruk akan terjadi dan pada
umumnya disertai gejala-gejala otonomik yang berlangsung beberapa waktu (Stuart dan
Laraia,1998) dalam buku (Pieter,dkk,2011)
Sedangkan menurut (Riyadi&Purwanto,2010) Ansietas adalah suatu perasaan takut yang
tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai gejala fisiologis,
sedangkan pada gangguan ansietas terkandung unsur penderitaan yang bermakna dan
gangguan fungsi yang disebabkan oleh kecemasan tersebut. Kecemasan merupakan suatu
perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum
dari ketidak mampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang
tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan
menimbulkan atau disertai perubahan fisiologis dan psikologis (Rochman, 2010)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ansietas adalah respon seseorang berupa rasa
khawatir , was-was dan tidak nyaman dalam menghadapi suatu hal tanpa objek yang jelas.
2. Rentang Respon Kecemasan

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik


3. Tingkatan Ansietas
a. Ansietas Ringan

Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan peristiwa kehidupan sehari-hari. Lapang


persepsi melebar dan orang akan bersikap hati-hati dan waspada. Orang yang mengalami
ansietas ringan akan terdorong untuk menghasilkan kreativitas. Respons-respons fisiologis
orang yang mengalami ansietas ringan adalah sesekali mengalami napas pendek, naiknya
tekanan darah dannadi, muka berkerut, bibir bergetar, dan mengalami gejala pada lambung.
Respons kognitif orang yang mengalami ansietas ringan adalah lapang persepsi yang
melebar, dapat menerima rangsangan yang kompleks, konsentrasi pada masalah dan dapat
menjelaskan masalah secara efektif. Adapun respons perilaku dan emosi dari orang yang
mengalami ansietas adalah tidak dapat duduk tenang, tremor halus pada tangan, suara
kadang-kadang meninggi.
b. Ansietas Sedang

Pada ansietas sedang tingkat lapang persepsi pada lingkungan menurun dan memfokuskan
diri pada hal-hal penting saat itu juga dan menyampingkan hal-hal lain. Respons fisiologis
dari orang yang mengalami ansietas sedang adalah sering napas pendek, nadi dan tekanan
darah naik mulut kering, anoreksia, diare, konstipasi dan gelisah.
Respon kognitif orang yang mengalami ansietas sedang adalah lapang persepsi yang
menyempit, rangsangan luar sulit diterima, berfokus pada apa yang menjadi perhatian.
Adapun respons perilaku dan emosi adalah gerakan yang tersentak-sentak, meremas tangan,
sulit tidur, dan perasaan tidak aman .
c. Ansietas Berat

Pada ansietas berat lapang persepsi menjadi sangat sempit, individu cenderung memikirkan
hal-hal kecil dan mengabaikanhal-hal lain. Individu sulit berpikir realistis dan membutuhkan
banyak pengarahan untuk memusatkan perhatian pada area lain. Respons-respons fisiologis
ansietas berat adalah napas pendek, nadi dan tekanan darah darah naik, banyak berkeringat,
rasa sakit kepala, penglihatan kabur, dan mengalami ketegangan.
Respon kognitif pada orang yang mengalami ansietas berat adalah lapang persepsi sangat
sempit dan tidak mampu untuk menyelesaikan masalah. Adapun respons perilaku dan
emosinya terlihat dari perasaan tidak aman, verbalisasi yang cepat, dan blocking.
d. Panik

Pada tingkatan panik lapang persepsi seseorang sudah sangat sempit dan sudah mengalami
gangguan sehingga tidak bisa mengendalikan diri lagi dan sulit melakukan apapun walaupun
dia sudah diberikan pengarahan. Respons-respons fisiologis panik adalah napas pendek,
rasa tercekik, sakit dada, pucat, hipotensi dan koordinasi motorik yang sangat rendah.
Sementara respons-respons kognitif penderita panik adalah lapang persepsi yang sangat
pendek sekali dan tidak mampu berpikir logis. Adapun respons perilaku dan emosinya
terlihat agitasi, mengamuk dan marah-marah, ketakutan dan berteriak-teriak, blocking,
kehilangan kontrol diri dan memiliki persepsi yang kacau (Herry Zan Pieter, 2011)

4. Etiologi
a. Faktor predisposisi
Stressor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang yang dapat
menimbulkan kecemasan (Suliswati,2005).
Ketegangan dalam kehidupan tersebut dapat berupa :
1) Peristiwa traumatik, yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan krisis
yang dialami individu baik krisis perkembangan atau situasional
2) Konflik emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik. Konflik
antara id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan yang menimbulkan kecemasan
pada individu
3) Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidak mampuan individu berpikir secara
realitas sehingga akan menimbulkan kecemasan
4) Frustasi akan menimbulkan rasa ketidak berdayaan untuk mengambil keputusan yang
berdampak terhadap ego
5) Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman terhadap
integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu
6) Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani stress akan mempengaruhi
individu dalam berespon terhadap konflik yang dialami karena pola

mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam keluarga


7) Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respon individu dalam
berespon terhadap konflik dan mengatasi kecemasan
8) Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan yang mengandung
benzodizepin, karena benzodizepin dapat menekan neurotransmiter gama amino butyric acid
(GABA) yang mengontrol aktivitas neuron di otak yang bertanggung jawab menghasilkan
kecemasan.
b. Faktor Presipitasi
Stressor presipitasi adalah ketegangan dalam kehidupan yang dapat mencetuskan tibulnya
kecemasan. Stressor presipitasi kecemasan dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
1) Ancaman terhadap intregitas fisik.Ketegangan yang mengancam integritas fisik yang
meliputi :
a) Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem imun, regulasi suhu
tubuh, perubahan biologis normal (misalnya hamil).
b) Sumber eksternal meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri, polutan lingkungan,
kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya tempat tinggal

2) Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber eksternal dan internal


a) Sumber internal, kesulitan dalam berhubungan interpersonal dirumah dan tempat kerja,
penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap intergritas fisik juga dapat
mengancam harga diri.
b) Sumber eksternal: kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan status pekerjaan,
tekanan kelompok, sosial budaya . (Eko Prabowo, 2014)
5. Tanda dan Gejala
Gejala meliputi ( APA, 1994 )
a. Palpitasi, jantung berdebar, atau akselerasi frekuensi jantung
b. Berkeringat
c. Gemetar atau menggigil
d. Perasaan sesak napas dan tercekik
e. Perasaan tersedak
f. Nyeri atau ketidak nyamanan dada
g. Mual atau distres abdomen
h. Merasa pusing, limbung, vertigo, atau pingsan
i. Derealisasi (Perasaan tidak realistis) atau depersonalisasi (terpisah dari diri sendiri)
j. Takut kehilangan kendali atau menjadi gila
k. Takut mati

l. Perestesia (kebas atau kesemutan)


m. Bergantian kedinginan atau kepanasan
Gejala lain gangguan ansietas meliputi :
a. Gelisah, perasaan tegang, khawatir berlebihan, mudah letih, sulit berkonsentrasi,
iritabilitas, otot tegang, dan gangguan tidur (gangguan ansietas umum)
b. Ingatan atau mimpi buruk berulang yang mengganggu mengenai peristiwa traumatis,
perasaan menghidupkan kembali trauma ( episode kilas balik ), kesulitan merasakan emosi (
afek datar ), insomnia dan iritabilitas atau marah yang meledak–ledak ( gangguan stres pasca
trauma )
c. Repetitif, pikiran obsesif, perilaku kasar yang berkaitan dengan kekerasan, kontaminasi,
dan keraguan, berulang kali melakukan aktifitas yang tidak bertujuan, seperti mencuci
tangan, menghitung, memeriksa, menyentuh (gangguan obsesif-kompulsif)
d. Rasa takut yang nyata dan menetap akan objek atau situasi tertentu ( fobia spesifik ),
situasi performa atau sosial (fobia sosial), atau berada dalam satu situasi yang membuat
individu terjebak ( agorafobia) (Eko Prabowo, 2014)

6. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kecemasan


Mcfarlan dan Wasli (1997 dalam Shives,1998) mengatakan bahwa faktor yang berkonstribusi
pada terjadinya kecemasan meliputi ancaman pada:
a. Konsep diri
b. Personal security system
c. Kepercayaan, lingkungan
d. Fungsi peran, hubungan interpersonal, dan
e. Status kesehatan.

Menurut Direktorat Kesehatan Jiwa Depkes RI (1994), faktor-faktor yang memengaruhi


kecemasan antara lain sebagai berikut
a. Perkembangan Kepribadian

Perkembangan kepribadian seorang dimulai sejak usia bayi hingga 18 tahun dan bergantung
pada pendidikan orang tua dirumah, pendidikan disekolah dan pengaruh sosialnya, serta
pengalaman dalam kehidupannya.Seseorang menjadi pencemas terutama akibat prosesdan
identifikasi dirinya terhadap kedua orang tuanya daripada pengaruh keturunannya.
Perkembangan kepribadian akan membentuk tipe kepribadian seseorang dimana tipe
kepribadian tersebut akan memengaruhi seseorang dalam merespons kecemasan. Dengan
demikian respon kecemasan yang dialami seseorang akan berbeda dari orang lain, bergantung
pada tipe kepribadian tersebut.
b. Tingkat Maturasi

Tingkat maturasi individu akan memengaruhi tingkat kecemasan. Pada bayi tingkat
kecemasan lebih disebabkan perpisahan dan lingkungan yang tidak dikenal. Kecemasan pada
remaja lebih banyak disebabkan oleh perkembangan seksual. Pada orang dewasa kecemasan
lebih banyak ditimbulkan oleh hal-hal yang berhubungan dengan ancaman konsep diri,
sedangkan pada lansia kecemasan berhubungan dengan kehilangan fungsi, sebagai contoh
adalah wanita yang menjelang menopouse. Mereka akan merasa cemas akibat akan
mengalami penurunan fungsi reproduktif sehingga diperlukan dukungan sosial untuk
mencegah terjadinya kecemasan tersebut .
c. Tingkat Pengetahuan

Individu dengan tingkat pengetahuannya lebih tinggi akan mempunyai koping ( penyelesaian
masalah ) yang lebih adaptif terhadap kecemasan daripada individu yang tingkat
pengetahuannya lebih rendah.
d. Karakteristik Stimulus
1) intensitas stressor
Intensitas stimulus yang semakin besar, semakin besar pula kemungkinan respons cemas
akan terjadi. Stimulus hebat akan menimbulkan lebih banyak respons yang nyata daripada
stimulus yang timbul perlahan-lahan. Stimulus ini selalu memberi waktu bagi seseorang
untuk mengembangkan cara penyelesaian masalah.
2) Lama Stressor

Stressor yang menetap dapat menghabiskan energi dan akhirnya akan melemahkan sumber-
sumber penyelesaian masalah yang ada.
3) Jumlah Stressor

Stressor yang besar akan lebih meningkatkan kecemasan pada individu daripada stimulus
yang lebih kecil. (Solehati & Kosasih, 2015)
7. Penatalaksanaan

Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan ansietas pada tahap pencegahan dan terapi
memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencakup fisik ( somatik )
, psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius. Selengkapnya seperti pada uraian
berikut :
a. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara :
1) Makan makanan yang bergizi dan seimbang.
2) Tidur yang cukup
3) Olahraga yang cukup
4) Tidak merokok
5) Tidak meminum minuman keras
b. Terapi psikofarmaka
Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memakai obat-obatan yang
berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neurotransmiter ( sinyal penghantar syaraf ) di
susunan saraf pusat otak ( limbic system ). Terapi psikofarmaka yang sering dipakai adalah
obat anti cemas (anxiolitic), yaitu diazepam, clobazam, bromazepam, lorazepam,
buspironeHCl, meprobamate dan alprazolam.
c. Terapi somatik

Gejala atau keluhan fisik ( somatik ) sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat dari
kecemasan yang berkepanjangan Untuk menghilangkan keluhan-keluhan somatik ( fisik ) itu
dapat diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan.

d. Psikoterapi

Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain:


1) Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi semangat atau dorongan agar pasien yang
bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberi keyakinan serta percaya diri.

2) Psikoterapi re-edukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila dinilai bahwa
ketidak mampuan mengatasi kecemasan
3) Psikoterapi re-konstruktif, untuk dimaksutkan memperbaiki (re-konstruksi) kepribadian
yang telah mengalami goncangan akibat stressor.
4) Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien yaitu kemampuan untuk
berpikir secara rasional, konsentrai dan daya ingat.
5) Psikoterapi psikodinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan
yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak mampu menghadap stressor psikososial
sehingga mengalami kecemasan.
6) Psikoterapi keluarga untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan agar faktor keluarga
tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga dapat dijadikan sebagai faktor
pendukung .
7) Terapi psikoreligius
untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan kekebalan dan
daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor
psikososial. (Eko Prabowo, 2014)

e. Napas Dalam
Napas dalam yaitu bentuk latihan napas yang terdiri atas pernapasan abdominal (diafragma)
Prosedur :
1) Atur posisi yang nyaman
2) Fleksikan lutut klien untuk merelaksasi otot abdomen
3) Tempatkan 1 atau 2 tangan pada abdomen, tepat dibawah tulang iga.
4) Tarik napas dalam melalui hidung, jaga mulut tetap tertutup. Hitung sampai 3 selama
inspirasi.
5) Hembuskan udara lewat bibir seperti meniup secara perlahan – lahan (Asmadi,2008).