Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah Hubungan sains dan agama dari abad ke abad mengalami pasang surut. Ada masa
saat islam dan sains terhubung secara harmonis ada pula konflik yang terjadi dalam hubungan
islam dan sains. Contoh hubungan agama dan sains yang berlangsung harmonis pada masa
kejayaan peradaban islam. Istilah sains dalam Islam, sebenarnya berbeda dengan sains dalam
pengertian Barat modern saat ini, jika sains di Barat saat ini difahami sebagai satu-satunya ilmu,
dan agama di sisi lain sebagai keyakinan, maka dalam Islam ilmu bukan hanya sains dalam
pengertian Barat modern, sebab agama juga merupakan ilmu, artinya dalam Islam disiplin ilmu
agama merupakan sains.

Banyak ilmuwan muslim dari tahun 700 M hingga Abad 13 M yang mengembangkan
beragam ilmu pengetahuan, seperti astologi, astronomi, kedokteran, anatomi, optik, farmakologi,
psikologi, ilmu bedah, zoologi, biologi, botani, mineralogi, metalurgi, sosiologi, hidrostatik,
filsafat, puisi, musik, navigasi, sejarah, arsitektur, geografi, fisika, matematika, serta kimia.

Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagi hasil aplikasi sains tampak jelas
memberikan kesenangan bagi kehidupan lahiriah manusia secara luas. Dan manusia telah mampu
mengeksploitasi kekayaan-kekayaan dunia secara besar-besaran.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi, manfaat, cirri-ciri agama dan sains ?
2. Bagaimanakah sejarah hubungan agama dan sains?

C. Tujuan
Mengetahui apa saja yang dimaksud dengan agama dan sains, sejarah hubungan agama
dan sains.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Agama dan Sains
1. Agama
Agama, sebenarnya apa yang dimaksud dengan agama? Menurut Kamus Besar bahasa
Indonesia agama merupakan Sistem atau kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut juga
dewa atau nama lainnya. Sebagian orang apabila ditanya tentang agama maka jawabannya
adalah pegangan hidup yang dianutnya yang memberikan kedamaian. Indonesia merupakan
negara pluralitas dan salah satunya dalam hal agama. Terdapat lebih dari 5 agama atau
kepercayaan yang dianut oleh masyarakat indonesia antara lain, Islam, Kristen, Katolik, Hindu,
Budha, Konghucu, serta kepercayaan masyarakak (Animisme dan Dinamisme).
Pengertian tentang agama sangatlah banyak, namun Harun Nasution mendefinisikan agama
sebagai berikut:
1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi
2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
3. Mengikatkan diri pada suatu bentuka hidup yang mengandung pengakuan pada suatu
sumber yang berada diluar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan
manusia.
4. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5. Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan gaib.
6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada kekuatan
yang gaib.
7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemahdan pesrasaan takut
terhadap kekuatan misteriusyang terdapat dalam alam sekitar manusia.
8. Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.

Dapat disimpulkan, agama adalah suatu sistem kepercayaan kepada Tuhan yang dianut
oleh sekelompok manusia dengan selalu mengadakan interaksi dengan-Nya. Pokok pembahasan
yang dibahas dalam agama adalah eksistensi Tuhan, manusia, serta hubungan antara manusia
dengan Tuhan.

2
Agama memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan
ini mempunyai penagruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan itu berasal
dari suatu kekuatan yang lebih tinngi dari manusia.
Aktivitas agama itu sendiri mencakup kepada: ketaatan dan kecintaan terhadap Tuhan,
penerimaan wahyu yang supranatural, kepercayaan kepada jiwa, kebaktian, pemisahan antara
yang sakral dengan profane pengorbanan, perasaan diosa dan menyesal serta pencarian
keselamatan.
Agama tidak hanya sekedar agama, melainkan untuk diterapkan daam kehidupan dan
segala aspeknya. Dalam agama, harus ada perealisasian dalam kehidupan manusia dengan
mematuhi ajaran agama yang telah dianut manusia tersebut sehingga manusia yang memang
benar-benar mematuhi jaran agam akan mendapatkan balasannya kelak nanti di akhirat.
Pengetahuan dan kebenaran agama dapat dijadikan sumber inspirasi untuk menyusun teori-teori
dalam kehidupan. Pengetahuan dan kebenaran agam a yang berisikan kepercayaan dan nilai-nilai
dalamkehidupan, dapat dijadikan sumber dalam menentukan tujuan dan paradigma hidup
manusia, dan sampai pada perilaku manusia itu sendiri.

a. Ciri – Ciri Agama


Ciri-ciri agama adalah sebagai berikut:
 Agama merupakan suatu sistem keimanan atau keyakinan terhadap sesuatu yang mutlak
 Agama merupakan satu sistem ritual atau peribadatan atau penyembahan
 Agama merupakan suatu sistem nilai (value system) atau sistem norma yang menjadi pola
hubungan manusiawi antara sesama manusia.
 Agama memiliki kepercayaan terhadap hal-hal yang gaib, Maha Agung, dan pencipta alam
semesta (Tuhan).
 Manusia melakukan hubungan dengan Tuhan dengan melakukan berbagai cara, seperti
dengan mengadakan upacara-upacara ritual, pemujaan, pengabdian, ataupun do’a.
 Agama memiliki suatu ajaran yang harus di jalankan oleh setiap pemeluknya.

b. Manfaat Agama
Menurut Hocking, agama merupakan obat dari kesukaran, dan kekhawatiran yang dihadapi
manusia , sekurang-kurangnya meringankan kehawatiran dari kesukaran yang dialami manusia

3
tersebut. Agama merupakan pernyataan pengharapan manusia dalam dunia yang besar (jagat
raya), karena ada jalan hidup yang benar yang perlu ditemukan.
Tujuan akhir dari agama bagi manusia adalah mengembalikan manusia kepada keadaan
sebelum ia diciptakan, dan ini melibatkan upaya pencarian identitas dan nasib terakhirnya,
dengan melakukan perbuatan yang benar (amal shaleh).
Kemudian bagaimana dengan Islam? Dalam bahasa Arab, perkataan "Islam" bermaksud
"tunduk" atau "patuh". Jika seorang Muslim ditanya, "Apakah itu Islam?", biasanya dia akan
menjawab, "Agama yang tunduk kepada Allah, satu-satu Tuhan yang benar." Tidak hanya
bermakna demikian, Islam adalah agama yang diturunkan Allah yang memberikan keselamatan
serta sebagai rahmat bagi seluruh alam yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw yang
memiliki kitab suci Al-qur’an sebagai pedoman hidup.
Islam muncul dunia yang fana ini untuk memberikana solusi serta menjawab
permasalahan-permasalahan hidup dialami oleh manusia. Islam bukanlah satu golongan,
kepentingan kelompok tertentu ataupun kepentingan politik lainnya dan juga Islam bukanlah
semata-mata untuk umat Islam itu sendiri. Lebih dari itu, Islam diturunkan oleh Allah dengan
suatu visi dan misi, yaitu untuk menyebarkan kebaikan dan keselamatan serta rahmat bagi
seluruh alam.

Dan Kami tidak mengutus ngkau ( Muhammad) melainkan unutk (menjadi) rahmat bagi seluruh
alam. (QS Al-Anbiya [21] : 07)
Islam tidak hanya mengatur urusan pribadi, juga bukan sekedar mengatur urusan ibadah
ukhrawi. Islam telah menjadi way of life, pandangan sekaligus pedoman hidup yang mengatur
segala segi. Agama Islam menjadi alternatif yang mampu mengatur segala permasalahan hidup
manusia. Al-Qur’an sebagai sumber sains dan pengetahuan spiritual. Al-Qur’an merupakan
sumber intelektualitas dan spiritualitas. Ia merupakan basis bukan hanya bagi agama tetapi bagi
semua jenis ilmu pengetahuan. Al-Qur’an bukan lah kitab sains tetapi ia memberikan
pengetahuan tentang prinsip-prinsip sains, yang selalu dikaitkan dengan pengetahuan metafisik
dan spiritual (Bakar, 1994 : 74).

4
2. Sains
a. Pengertian Sains
Kata sains berasal dari kata science, scienta, scine yang artinya mengetahui. Dalam kata
lain, sains adalah logos, sendi, atau ilmu. Sains dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang
bertujuan untuk mencari kebanaran berdasarkan fakta atau fenomena alam (Sudjana, 2008 : 3-4).
Sains yang dipahami dalam arti sebagai pengetahuan obyektif, tersusun, dan teratur tentang
tatanan alam semesta. Sains pada wilayah yang sempit atau spesifik dapat dipahami sebagai ilmu
pengetahuan alam dan pada tataran yang luas dipahami sebagai sagala macam disiplin ilmu
pengetahuan.
Djojosoebagio, S (1995) sebagaimana dikutip oleh Sudjana (2008 : 4) mengemukakan
beberapa sifat-sifat sains antara lain ;
1. Kumulatif, artinya dinamis atau tidak statis karena selalu mencari tambahan ilmu
mengingat kebenaran bersifat sementara.
2. Ekonomis untuk penjelasan-penjelasan dan kaidah-kaidah yang kompleks., formulasinya
sederhana, susunannya ekonomis sehingga dipakai istilah pendek, simbol dan formula.
3. Dapat dipercaya atau diandalkan untuk meramalkan sesuatu dan lebih baik hasilnya
daripada pekerjaan berdasarkan perkiraan saja.
4. Mempunyai daya cipta tentang sesuatu
5. Dapat diterapkan untuk menganalisis perilaku atau kejadian-kejadian alamiah.

Ciri-ciri sains menurut Melsen (1994) yang dikutip oleh Sudjana (2008 : 4-5) dalam buku yang
sama antara lain ;
1. Secara metodis, harus mencapai suatu keseluruhan logika kolumer,
2. Harus tanpa pamrih,
3. Universalisme,
4. Objektifitas,
5. Intersubjektifitas
6. Progresif

5
b. Manfaat Sains
Dalam kehidupan manusia sians diidentikan dengan penelitian-penelitian yang
memberikan manfaat yang sangat besar dalam kehidupan manusia itu sendiri. Karena dengan
adanya sains membuat peradaban manusia menjadi lebih maju. Dengan munculnya teknologi
membuat manusia ingin lebih mengembangkan adanya teknologi tersebut dengan mengadakan
penelitian-penelitian demi kelangsungan hidup manusia yang lebih baik.

3. Sains dan Agama


Sains dan agama, merupakan dua entitas yang sama-sama telah mewarnai sejarah
kehidupan umat manusia. Sebab, keduanya telah berperan penting dalam membangun
peradaban. Dengan lahirnya agama,tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman,tapi
hal lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah terbangunnya manusia yang beretika,
bermoral dan beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup di
dunia.
Sementara sains dengan puncak perkembangan yang telah dicapai, juga telah menjadikan
kemajuan dunia dengan berbagai penemuanyanggemilang.Tetapi, sepanjang sejarah ke hidupan
umat manusia itu pula, hubungan sains dan agama tak bisa dikata selalu harmonis. Dalam hal ini
akan dibahas lebih lanjut mengenai prsamaan dan perbedaan sain dan agama.

4. Persamaan Agama dan Sains


Antara sains dan agama tentunya terdapat persamaan-persamaan diantaranya:
 Keduanya merupakan sumber atau wadah kebenaran (obyektifitas) atau bentuk
pengetahuan.
 Sains bertujuan mencari kebenaran tentang mikrikosmos (manusia), makrokosmos (alam),
dan eksistensi Tuhan atau Allah. Dan agam bertujuan untuk kebahagiaan ummat manusia
di dunia akhirat dengan menunjukkan kebenaran asasi dan mutlak itu. Baik itu mengenai
manusia alam maupun Tuhan atau Allah itu sendiri.

6
B. Sejarah Hubungan Agama dan Sains
Dalam Islam tidak dikenal pemisahan esensial antara “ilmu agama” dengan ilmu “ilmu
profan”. Berbagai ilmu dan perspektif inteletual yang dikembangkan dalam Islam memang
mempunyai suatu hirarki. Tetapi herarki ini pada akhirnya bermuara pada pengetahauan tentang
“Yang Maha Tunggal” – Substansi dari segenap ilmu.
Inilah alasan kenapa para ilmuawan Muslim berusaha mengintergrasikan ilmu-ilmu yang
dikembangkan peradaban-peradaban lain ke dalam skema hirarki ilmu pengetahuan menurut
Islam. Dan ini pulalah alasan kenapa para “ulama”, pemikir, filosof dan ilmuwan Muslim sejak
dari al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina sampai al-Ghazali, Nashir al-Din al-Thusi dan Mulla
Shadra sangat peduli dengan klassifikasi ilmu-ilmu.
Berbeda dengan dua klasifikasi yang dikemukakan di atas, yakni ilmu-ilmu agama dan
ilmu-ilmu umum, para pemikir keilmuan dan ilmuwan Muslim di masa-masa awal membagi
ilmu-ilmu pada intinya kepada dua bagian yang diibaratkan dengan dua sisi dari satu mata koin;
jadi pada esesnsinya tidak bisa dipisahkan.
 Yang pertama, adalah al-ulûm al-naqliyyah, yakni ilmu-ilmu yang disampaikan Tuhan
melalui wahyu, tetapi melibatkan penggunaan akal.
 Yang kedua adalah al-„ulûm al-„aqliyyah, yakni ilmu-ilmu intelek, yang diperoleh
hampir sepenuhnya melalui penggunaan akal dan pengalaman empiris.
Kedua bentuk ilmu ini secara bersama-sama disebut al-ulûm alhushuli, yaitu ilmu-ilmu
perolehan. Isitilah terakhir ini digunakan untuk membedakan dengan “ilmu-ilmu” (ma’rifat)
yang diperoleh melalui ilham (kasyf).
Walau terdapat integralisme keilmuan seperti ini, setidaknya pada tingkat konseptual,
tetapi pada tingkat lebih praktis, tak jarang terjadi disharmoni antara keduanya, atau lebih tegas
lagi antara wahyu dan akal, atau antara “ilmu-ilmu agama” dengan sains. Untuk mengatasi
disharmoni ini berbagai pemikir dan ilmuwan Muslim memunculkan klassifikasi ilmu-ilmu
lengkap dengan hirarkinya.
Namun sejarah juga mencatat adanya konflik agama dan sains,yaitu pada saat teori-teori baru
ditemukan oleh:
 Galileo (Abad ke-15 M)
 Newton (Abad ke-17 M)
 Darwin (Abad ke-19 M)

7
1. Galileo (Abad ke-15 M)
Konflik antara agama dan sains, khususnya di dunia Barat, telah dimulai pada masa
renaisans sejak abad 15, ketika Galileo menentang paham geosentris (bumi merupakan pusat tata
surya) yang dianut oleh gereja. Galileo dianggap mengingkari keyakinan agamanya (kristen)
bahwa bumi adalah pusat edar tata surya. Ketaksesuaian agama dan sains berlanjut hingga masa
sesudahnya (masa Newton / masa sains modern).
Sejarah sains Eropa masa kebangkitan (abad 14 dan 15) mencatat bahwa sains muncul
tidak hanya dalam rangka melepaskan hegemonik gereja sebagai institusi pemegang kekuasaan
tertinggi, tetapi juga sebagai momentum transformasi sains ke dalam utilitas teknik (aplikasi
nyata).

2. Newton (Abad ke-17 M)


Para ahli sejarah sepakat bahwa sejarah perkembangan sains modern beserta aplikasi
teknologi yang ada sekarang diawali dari Newton (pencetus mekanika klasik). Mekanika klasik
Newton berdampak besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu.
Konsep mekanika klasik Newton bersifat mekanistik deterministik, yakni apabila kondisi awal
dari sesuatu dapat ditentukan maka kondisi selanjutnya dapat diprediksi dengan tepat.
Dampak positif Paradigma Newton:
 Adanya revolusi industri di Inggris dengan penemuan mesin tenun dan mesin cetak.
 Memberikan pengetahuan tentang penciptaan alam semesta bahwa alam semesta tercipta
dengan tidak sendirinya (pernyataan ini sesuai dengan ajaran agama bahwa alam semesta
ada yang menciptakan.
 Paradigma Newton juga memiliki pandangan sendiri mengenai kehancuran alam semesta,
bahwa beberapa milyar tahun yang akan datang sesuai dengan perhitungan waktu
peluruhan neutron (inti atom). Hal inipun sesuai dengan ajaran agama bahwa alam
semesta tidak selamanya kekal.
Dampak Negatif Paradigma Newton:
 Membentuk masyarakat yang sekularistik, yakni masyarakat yang memalingkan dari
kehidupan akhirat dengan semata-mata berorientasi kepada dunia.
 Mengabaikan nilai-nilai religiusitas (mengabaikan unsur Tuhan, karena merasa dapat
memprediksi hal yang akan terjadi).

8
3. Darwin (Abad ke-19 M)
Pada abad ke 19, adalah puncak konflik agama dan sain saat Charles Darwin memunculkan
bukunya The Origin of Species (hanya dengan “menjejer dan mengurutkan” tulang tengkorak
berusaha menghubungkan secara evolusioner).
Ada 2 pendapat tentang teori ini, yaitu :
 Kelompok pendukung teori Darwin (kalangan materialisme dan komunisme). Mereka
berdalih bahwa teori tersebut merupakan pondasi atau dasar dari paham dan ajaran yang
mereka anut. Tokoh yang paling terkenal dalam mendukung teori Darwin ini salah satunya
adalah Karl Marx.
 Kelompok penentang teori Darwin. Alasan mereka cukup beragam dalam penentangan
terhadap teori tersebut. Diantaranya adalah Darwin terlalu berspekulasi terhadap teorinya
sendiri, dan ini terlihat dalam bukunya (The Origin of Species). Adapun alasan yang lain
adalah karena Darwin telah meniadakan keberadaan Sang Pencipta dalam penciptaan
makhluk hidup itu sendiri.

Pertentangan di dalam teori Darwin ini sangatlah luar biasa di dunia barat hingga hampir
akhir abad ke-20. Tak ayal, masih banyak ilmuwan yang mengkaji akan keabsahan teori ini.
Karena sesungguhnya, ilmu pengetahuan yang ada dan dipelajari ini sepatutnya diiringi dengan
meyakini akan keberadaan Tuhan. Hal ini sejalan dengan ungkapan manusia terpintar yang
pernah ada, Albert Einstein yang menyatakan, “Saya tidak bisa membayangkan ada ilmuwan
sejati tanpa keimanan mendalam seperti itu. Ibaratnya: ilmu pengetahuan tanpa agama akan
pincang” (Harun Yahya: 2001).

Masa Reda Konflik Agama dan Sains mulai berlangsung pada abad 21. Masyarakat dan
ilmuwan mulai terbuka tentang isu-isu agama dan sains. Muncul paradigma baru dalam ilmu
pengetahuan mekanistik deterministik menjadi probabilistik relatifistik. Sesuatu memiliki banyak
kemungkinan alternatif pemecahan persoalan Melahirkan ilmu-ilmu baru seperti material
science, mikro elektronika, kimia fisika kuantum, astrofisika, dll.

9
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Persamaan Agama dan Sains


Antara sains dan agama tentunya terdapat persamaan-persamaan diantaranya:
 Keduanya merupakan sumber atau wadah kebenaran (obyektifitas) atau bentuk
pengetahuan.
 Sains bertujuan mencari kebenaran tentang mikrikosmos (manusia), makrokosmos (alam),
dan eksistensi Tuhan atau Allah. Dan agam bertujuan untuk kebahagiaan ummat manusia
di dunia akhirat dengan menunjukkan kebenaran asasi dan mutlak itu. Baik itu mengenai
manusia alam maupun Tuhan atau Allah itu sendiri.
Dalam Islam tidak dikenal pemisahan esensial antara “ilmu agama” dengan ilmu “ilmu
profan”. Berbagai ilmu dan perspektif inteletual yang dikembangkan dalam Islam memang
mempunyai suatu hirarki. Tetapi herarki ini pada akhirnya bermuara pada pengetahauan tentang
“Yang Maha Tunggal” – Substansi dari segenap ilmu.
Inilah alasan kenapa para ilmuawan Muslim berusaha mengintergrasikan ilmu-ilmu yang
dikembangkan peradaban-peradaban lain ke dalam skema hirarki ilmu pengetahuan menurut
Islam. Dan ini pulalah alasan kenapa para “ulama”, pemikir, filosof dan ilmuwan Muslim sejak
dari al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina sampai al-Ghazali, Nashir al-Din al-Thusi dan Mulla
Shadra sangat peduli dengan klassifikasi ilmu-ilmu.
Berbeda dengan dua klasifikasi yang dikemukakan di atas, yakni ilmu-ilmu agama dan
ilmu-ilmu umum, para pemikir keilmuan dan ilmuwan Muslim di masa-masa awal membagi
ilmu-ilmu pada intinya kepada dua bagian yang diibaratkan dengan dua sisi dari satu mata koin;
jadi pada esesnsinya tidak bisa dipisahkan.

B. Saran

Demikianlah makalah yang saya susun. Saya menyadari dalam penyusunan makalah ini
masih banyak kekurangan dan jauh dari kata “sempurna”. Untuk itu kritik dan saran sangat kami
harapkan demi perbaikan penyusunan makalah yang baik. Semoga makalah ini bermanfaat.
Amin.

10
DAFTAR PUSTAKA

Sumber: Rusli, Ris‟an et. al. 2010. Panduan Penulisan Karya Ilmiah. Program Pascasarjana IAIN
Raden Fatah Palembang.

Sabra, A.I. et. al. 2001. Sumbangan Islam kepada Sains dan Peradaban Dunia. Nuansa, Bandung.

Salam, Abdus 1984. Ideal and Realities, Selected Essay of Abdus Salam. Scientific Publishing
Co.

https://islamandsains.wordpress.com/2012/11/13/sejarah-hubungan-sains-dan-agama/

11