Anda di halaman 1dari 9

AKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo meyakini pertumbuhan

ekonomi tahun ini bisa melebihi pencapaian 2016 yakni 5,02%. Namun, pemerintah harus
tetap menyiapkan strategi untuk mengantisipasi risiko global yang akan muncul.

Agus mengatakan salah satu strategi yang dimaksud adalah memperkuat kebijakan
makroprudensial. Strategi pertama, memperkuat dan memperluas pengawasan
mekroprundensial untuk mengidentifikasi sumber tekanan secara dini.

BERITA TERKAIT +

 Aliansi Saudi Kucurkan Rp15 Triliun Atasi Krisis Ekonomi Yordania


 Krisis Ekonomi, Turki Dapat Hadiah Pesawat dari Qatar
 27 Peristiwa Paling Menakutkan dari Krisis Ekonomi

"Strategi kedua, melakukan identifikasi dan pemantauan risiko sistemik dengan


menggunakan balance of system risk," ungkapnya di Gedung BI, Jakarta Pusat, Rabu
(24/5/2017).

Agus merincikan, strategi ketiga yakni memperkuat manajemen krisis dengan indikator
sistem keuangan dan hasil pengawasan sistem keuangan. Serta strategi keempat, mendukung
upaya pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat sistem keuangan terhadap guncangan.

"Strategi terakhir kita, strategi kelima dengan memperluas komunikasi dan koordinasi dengan
KSSK dan konsultasi terus dengan DPR untuk bauran kebijakan," ujarnya.

Ia pun meyakini dengan kelima strategi tersebut, risiko global akan dapat dicegah lebih cepat.
"Saat ini IHSG kita masih meningkat, arus modal asing SUN, obligasi korporasi, pasar
reksadana, juga positif. Sektor rumah tangga kinerjanya stabil dengan risiko terjaga dengan
membaiknya perekonomian," tukasnya.

AKARTA, KOMPAS.com—Berbagai dinamika global yang dipengaruhi oleh kondisi di


Amerika Serikat menyebabkan gejolak tersendiri terhadap perekonomian negara lain, baik
negara maju maupun negara berkembang. Indonesia, sebagai salah satu yang terkena
dampaknya, disebut memerlukan amunisi alias strategi berupa bauran kebijakan untuk
menghadapi tekanan eksternal. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian bersama Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan,
Lembaga Penjamin Simpanan, serta Kementerian BUMN telah berkoordinasi dan membuat
kesepakatan berupa arah kebijakan bersama. Baca juga: Jaga Stabilitas Sistem Keuangan,
KSSK Optimalkan Bauran Kebijakan Fokus utama bauran kebijakan tersebut adalah
memprioritaskan stabilisasi kondisi ekonomi jangka pendek dengan tetap mendorong
pertumbuhan jangka menengah dan panjang. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
Darmin Nasution melalui konferensi pers di Kementerian Keuangan pada Senin (28/5/2018)
pertama-tama menyampaikan, Indonesia sudah memiliki ketahanan menghadapi tekanan
eksternal melalui kondisi ekonomi yang baik. Indikator makroekonomi per kuartal I/2018,
ujar Darmin, mendukung pernyataan tersebut, yaitu berupa pertumbuhan ekonomi 5,06
persen, pertumbuhan penerimaan perpajakan 14,9 persen, defisit APBN 0,37 persen terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB), serta keseimbangan primer yang surplus Rp 24,2 triliun.
Realisasi APBN 2018 per Akhir Maret 2018 (Dok Kementerian Keuangan) Inflasi juga
terjaga 3,41 persen per April 2018 (year on year). Adapun defisit transaksi berjalan 2,1
persen terhadap PDB pada kuartal pertama tahun ini lebih rendah dibanding kuartal I/2013
lalu saat taper tantrum—"kegalauan" akibat langkah Bank Sentral Amerika Serikat
menghentikan dana talangan ke pasar keuangannya—sebesar 2,61 persen terhadap PDB.
Baca juga: Darmin: Jangan Kurs Dollar AS Bergerak kemudian Disimpulkan Sudah Krisis
Taper tantrum disandingkan dengan kondisi saat ini karena ada beberapa kemiripan, di
antaranya tekanan dari faktor eksternal yang berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah dan
perubahan kebijakan suku bunga acuan di Indonesia. "Fundamental ekonomi kita sekarang
dipahami dunia internasional, termasuk para investor Indonesia, sebagai kondisi yang baik.
Indonesia dipandang memiliki prospek ekonomi yang baik di masa depan," kata Darmin.
Langkah yang ditempuh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan langkah
penguatan kebijakan fiskal, di mana yang utama adalah optimalisasi laju penerimaan dengan
menjaga iklim investasi sembari meneruskan reformasi perpajakan. Menteri Keuangan Sri
Mulyani Indrawati Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati(KOMPAS.com/ANDRI
DONNAL PUTERA) Modal utama yang telah didapat adalah pertumbuhan penerimaan
perpajakan yang disebut bersifat broad based atau secara menyeluruh di semua sektor bidang
usaha. "PPN (Pajak Pertambahan Nilai) tumbuh 14,1 persen dan PPh (Pajak Penghasilan)
Badan yang tumbuh 23,6 persen menggambarkan peningkatan aktivitas perekonomian dan
kesehatan dunia usaha," tutur Sri Mulyani. Baca juga: Sri Mulyani Menanti Gebrakan Perry
Warjiyo Kuatkan Rupiah Selain mengoptimalkan penerimaan, efisiensi belanja negara juga
terus dilakukan. Dalam hal pembiayaan, Kementerian Keuangan menerapkan strategi front
loading sejak awal 2018, yang diklaim berdampak positif pada realisasi pembiayaan sebesar
57,9 persen dari target APBN 2018. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan
akan merespons kebijakan suku bunga sebagai antisipasi dari hasil pertemuan Federal Open
Market Committee (FOMC) pada Juni mendatang. Salah satunya, sebut dia, dengan
mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) tambahan pada 30 Mei 2018. "Intervensi ganda
di pasar valas dan pasar SBN (Surat Berharga Negara) juga terus dioptimalkan untuk
stabilisasi nilai tukar rupiah, penyesuaian harga di pasar keuangan secara wajar, dan menjaga
kecukupan likuiditas di pasar uang," ujar Perry. Hal lain yang tak kalah penting adalah
komunikasi intensif kepada pelaku pasar, perbankan, dunia usaha, dan para ekonom dalam
rangka membentuk ekspektasi yang rasional. Upaya ini ditempuh Bank Indonesia agar tidak
ada pandangan atau analisis yang kabur dan tidak sesuai dengan fundamental ekonomi
Indonesia saat ini dalam memitigasi risiko pelemahan nilai tukar rupiah. Baca juga: Dilantik
Jadi Gubernur BI, Ini PR yang Menanti Perry Warjiyo Adapun Ketua Dewan Komisioner
OJK Wimboh Santoso menekankan lembaganya akan terus menjaga stabilitas sektor jasa
keuangan dengan menjaga industri, memperkuat fundamental para emiten, dan menerapkan
kebijakan yang terukur saat pasar keuangan mengalami tekanan. OJK, kata Wimboh, juga
mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan sektor keuangan dengan fokus pada
pertumbuhan pembiayaan berorientasi komoditas ekspor. Sementara itu, Ketua Dewan
Komisioner LPS Halim Alamsyah mengatakan LPS terbuka melakukan penyesuaian jika
diperlukan terhadap kebijakan tingkat bunga penjaminan. Penyesuaian akan dilakukan
dengan mempertimbangkan perkembangan data tingkat bunga simpanan perbankan dan hasil
evaluasi stabilitas sistem keuangan. PenulisAndri Donnal Putera EditorPalupi Annisa Auliani
Tag: ekonomi Sri Mulyani Terkini Lainnya BCA Gelontorkan Rp 5,2 Triliun untuk
Pengembangan Teknologi BCA Gelontorkan Rp 5,2 Triliun untuk Pengembangan Teknologi
Keuangan 15/11/2018, 19:42 WIB INDEF: Surplus Beras Tak Jamin Harga Stabil INDEF:
Surplus Beras Tak Jamin Harga Stabil Makro 15/11/2018, 19:18 WIB Menelusuri
Lelang.go.id yang Jadi Situs Lelang Kemenkeu... Menelusuri Lelang.go.id yang Jadi Situs
Lelang Kemenkeu... Makro 15/11/2018, 19:16 WIB Siapapun Bisa Menang di Lelang Barang
Milik Negara... Siapapun Bisa Menang di Lelang Barang Milik Negara... Makro 15/11/2018,
19:10 WIB Kementerian BUMN Belum Bisa Pastikan Nasib Merpati Kementerian BUMN
Belum Bisa Pastikan Nasib Merpati Makro 15/11/2018, 19:00 WIB Bos BCA: Yang Kita
Lawan Mereka yang Berani Buang Duit Bos BCA: Yang Kita Lawan Mereka yang Berani
Buang Duit Keuangan 15/11/2018, 18:45 WIB Ini Tahapan Pembentukan Holding
Perumahan dan Infrastruktur BUMN Ini Tahapan Pembentukan Holding Perumahan dan
Infrastruktur BUMN Makro 15/11/2018, 18:45 WIB Holding BUMN Perumahan dan
Infrastruktur Terbentuk Akhir 2018 Holding BUMN Perumahan dan Infrastruktur Terbentuk
Akhir 2018 Makro 15/11/2018, 18:32 WIB Bantah Pengusaha, KKP Nilai Sektor Perikanan
Sedang Menggeliat Bantah Pengusaha, KKP Nilai Sektor Perikanan Sedang Menggeliat
Makro 15/11/2018, 17:43 WIB Perkuat Likuiditas Perbankan, BI Longgarkan Aturan GWM
Perkuat Likuiditas Perbankan, BI Longgarkan Aturan GWM Makro 15/11/2018, 17:31 WIB
Bank Mayapada Rombak Jajaran Direksi Bank Mayapada Rombak Jajaran Direksi Makro
15/11/2018, 17:19 WIB Belum Milik Negara, Barang Sitaan Kasus Korupsi akan Langsung
Dilelang Belum Milik Negara, Barang Sitaan Kasus Korupsi akan Langsung Dilelang Makro
15/11/2018, 17:08 WIB Kuartal III 2018, Transaksi Uang Elektronik Melonjak 300,4 Persen
Kuartal III 2018, Transaksi Uang Elektronik Melonjak 300,4 Persen Keuangan 15/11/2018,
16:55 WIB Oktober 2018, Ekspor Perhiasan dan Permata jadi Andalan Oktober 2018, Ekspor
Perhiasan dan Permata jadi Andalan Makro 15/11/2018, 16:42 WIB Menhub: Sinergi Garuda
dan Sriwijaya Air Bisa Minimalkan Perang Tarif Menhub: Sinergi Garuda dan Sriwijaya Air
Bisa Minimalkan Perang Tarif Makro 15/11/2018, 16:37 WIB Load More Terpopuler 1
Banyak Peserta Tak Lolos, Menpan RB Tegaskan Tak Ada Ujian Ulang CPNS Dibaca
96.125 kali 2 Pemerintah Akan Rekrut Karyawan untuk Isi Jabatan Eselon I dan II Dibaca
87.778 kali 3 Masyarakat Diimbau Hindari Tol Jakarta-Cikampek Pukul 22.00-05.00 WIB
Dibaca 72.282 kali 4 Mana Lebih Oke, Sukuk Tabungan, ORI, atau Deposito? Dibaca 66.687
kali 5 2019, Garuda Indonesia Group Sediakan Wifi Gratis di Pesawat Dibaca 48.601 kali
Now Trending Komentar Sandiaga soal Megawati yang Kasihan kepada Prabowo Komentar
Sandiaga soal Megawati yang Kasihan kepada Prabowo Kata Kalla, CPNS yang Lolos
Sekitar 100.000, yang Dibutuhkan 200.000 Orang Kata Kalla, CPNS yang Lolos Sekitar
100.000, yang Dibutuhkan 200.000 Orang Menelusuri Lelang.go.id yang Jadi Situs Lelang
Kemenkeu... Menelusuri Lelang.go.id yang Jadi Situs Lelang Kemenkeu... Saat Aung San
Suu Kyi Tak Disambut Hangat di KTT Asean Saat Aung San Suu Kyi Tak Disambut Hangat
di KTT Asean Pengakuan Turis Rusia yang Tidur di Kuburan, Kehabisan Uang karena
Pelesiran Pengakuan Turis Rusia yang Tidur di Kuburan, Kehabisan Uang karena Pelesiran
Masyarakat Diimbau Hindari Tol Jakarta-Cikampek Pukul 22.00-05.00 WIB Masyarakat
Diimbau Hindari Tol Jakarta-Cikampek Pukul 22.00-05.00 WIB Operasional Diambil Alih
Citilink, Berapa Utang Sriwijaya Air ke Garuda Indonesia Group? Operasional Diambil Alih
Citilink, Berapa Utang Sriwijaya Air ke Garuda Indonesia Group? Bandara Soekarno-Hatta
Masuk Daftar Megahub Terbaik di Dunia Bandara Soekarno-Hatta Masuk Daftar Megahub
Terbaik di Dunia SOCIAL BUZZ Kompas Ekonomi @KompasEkonomi BCA Gelontorkan
Rp 5,2 Triliun untuk Pengembangan Teknologi https://t.co/FeuGL75wfY 10 m Kompas
Ekonomi @KompasEkonomi INDEF: Surplus Beras Tak Jamin Harga Stabil
https://t.co/9EImdgGRBz 34 m Kompas Ekonomi @KompasEkonomi Menelusuri
https://t.co/TWDe9ssEpB yang Jadi Situs Lelang Kemenkeu... https://t.co/og4ZEOrMsh 36 m
Kompas Ekonomi @KompasEkonomi Siapapun Bisa Menang di Lelang Barang Milik
Negara... https://t.co/HthL3NMVhX 42 m Kompas Ekonomi @KompasEkonomi
Kementerian BUMN Belum Bisa Pastikan Nasib Merpati https://t.co/6FPryXvXij 52 m
Kompas Ekonomi @KompasEkonomi Ini Tahapan Pembentukan Holding Perumahan dan
Infrastruktur BUMN https://t.co/r4UMDT3aAf 1 h Kompas Ekonomi @KompasEkonomi
Bos BCA: Yang Kita Lawan Mereka yang Berani Buang Duit https://t.co/BXw5QnUTWO 1
h Kompas Ekonomi @KompasEkonomi Holding BUMN Perumahan dan Infrastruktur
Terbentuk Akhir 2018 https://t.co/3gM14iWanB 1 h

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyimak Strategi Pemerintah Hadapi
Tantangan Ekonomi Global",
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/05/29/085736326/menyimak-strategi-pemerintah-
hadapi-tantangan-ekonomi-global.
Penulis : Andri Donnal Putera
Editor : Palupi Annisa Auliani

nflasi juga terjaga 3,41 persen per April 2018 (year on year). Adapun defisit transaksi
berjalan 2,1 persen terhadap PDB pada kuartal pertama tahun ini lebih rendah dibanding
kuartal I/2013 lalu saat taper tantrum—"kegalauan" akibat langkah Bank Sentral Amerika
Serikat menghentikan dana talangan ke pasar keuangannya—sebesar 2,61 persen terhadap
PDB. Baca juga: Darmin: Jangan Kurs Dollar AS Bergerak kemudian Disimpulkan Sudah
Krisis Taper tantrum disandingkan dengan kondisi saat ini karena ada beberapa kemiripan, di
antaranya tekanan dari faktor eksternal yang berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah dan
perubahan kebijakan suku bunga acuan di Indonesia. "Fundamental ekonomi kita sekarang
dipahami dunia internasional, termasuk para investor Indonesia, sebagai kondisi yang baik.
Indonesia dipandang memiliki prospek ekonomi yang baik di masa depan," kata Darmin.
Langkah yang ditempuh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan langkah
penguatan kebijakan fiskal, di mana yang utama adalah optimalisasi laju penerimaan dengan
menjaga iklim investasi sembari meneruskan reformasi perpajakan. Menteri Keuangan Sri
Mulyani Indrawati Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati(KOMPAS.com/ANDRI
DONNAL PUTERA) Modal utama yang telah didapat adalah pertumbuhan penerimaan
perpajakan yang disebut bersifat broad based atau secara menyeluruh di semua sektor bidang
usaha. "PPN (Pajak Pertambahan Nilai) tumbuh 14,1 persen dan PPh (Pajak Penghasilan)
Badan yang tumbuh 23,6 persen menggambarkan peningkatan aktivitas perekonomian dan
kesehatan dunia usaha," tutur Sri Mulyani. Baca juga: Sri Mulyani Menanti Gebrakan Perry
Warjiyo Kuatkan Rupiah Selain mengoptimalkan penerimaan, efisiensi belanja negara juga
terus dilakukan. Dalam hal pembiayaan, Kementerian Keuangan menerapkan strategi front
loading sejak awal 2018, yang diklaim berdampak positif pada realisasi pembiayaan sebesar
57,9 persen dari target APBN 2018. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan
akan merespons kebijakan suku bunga sebagai antisipasi dari hasil pertemuan Federal Open
Market Committee (FOMC) pada Juni mendatang. Salah satunya, sebut dia, dengan
mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) tambahan pada 30 Mei 2018. "Intervensi ganda
di pasar valas dan pasar SBN (Surat Berharga Negara) juga terus dioptimalkan untuk
stabilisasi nilai tukar rupiah, penyesuaian harga di pasar keuangan secara wajar, dan menjaga
kecukupan likuiditas di pasar uang," ujar Perry. Hal lain yang tak kalah penting adalah
komunikasi intensif kepada pelaku pasar, perbankan, dunia usaha, dan para ekonom dalam
rangka membentuk ekspektasi yang rasional. Upaya ini ditempuh Bank Indonesia agar tidak
ada pandangan atau analisis yang kabur dan tidak sesuai dengan fundamental ekonomi
Indonesia saat ini dalam memitigasi risiko pelemahan nilai tukar rupiah. Baca juga: Dilantik
Jadi Gubernur BI, Ini PR yang Menanti Perry Warjiyo Adapun Ketua Dewan Komisioner
OJK Wimboh Santoso menekankan lembaganya akan terus menjaga stabilitas sektor jasa
keuangan dengan menjaga industri, memperkuat fundamental para emiten, dan menerapkan
kebijakan yang terukur saat pasar keuangan mengalami tekanan. OJK, kata Wimboh, juga
mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan sektor keuangan dengan fokus pada
pertumbuhan pembiayaan berorientasi komoditas ekspor. Sementara itu, Ketua Dewan
Komisioner LPS Halim Alamsyah mengatakan LPS terbuka melakukan penyesuaian jika
diperlukan terhadap kebijakan tingkat bunga penjaminan. Penyesuaian akan dilakukan
dengan mempertimbangkan perkembangan data tingkat bunga simpanan perbankan dan hasil
evaluasi stabilitas sistem keuangan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyimak Strategi Pemerintah Hadapi
Tantangan Ekonomi Global",
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/05/29/085736326/menyimak-strategi-pemerintah-
hadapi-tantangan-ekonomi-global.
Penulis : Andri Donnal Putera
Editor : Palupi Annisa Auliani
Strategi Menghadapi Ketidakpastian
Ekonomi Global
Penulis: Agus Herta Sumarto Peneliti Indef Pada: Rabu, 05 Sep 2018, 06:30 WIB Opini

Thinkstock

DALAM satu sampai dua tahun ke depan sepertinya RI akan menghadapi tantangan ekonomi
yang tidak mudah terutama tantangan ketidakpastian dari kondisi ekonomi global.
Ketidakpastian kondisi ekonomi global saat ini menjadi tantangan serius dan urgen bagi
semua negara seiring dengan masuknya Turki dan Argentina ke dalam kubangan krisis
ekonomi.

Jika setiap negara tidak dapat merespons dengan baik efek dari krisis ekonomi Turki dan
Argentina, besar kemungkinan krisis ekonomi di Turki dan Argentina itu merembet ke
negara-negara lain. Seperti yang terjadi pada krisis ekonomi 1997/1998 di wilayah ASEAN
dan krisis ekonomi global 2008 yang dimulai dari krisis subprime mortgage di AS.

Setelah sepanjang 2017 tren pertumbuhan ekonomi dunia mulai memperlihatkan peningkatan
dengan mencapai pertumbuhan 3,5%, atau naik 0,3% jika dibandingkan dengan pertumbuhan
ekonomi pada 2016, menjelang akhir 2018 ini tren pertumbuhan ekonomi global kembali
mengalami penurunan.

Bahkan sepertinya prediksi World Bank dan IMF terhadap pertumbuhan ekonomi dunia yang
memperkirakan akan tumbuh 3,9% akhir 2018 harus mengalami revisi. Di tengah instabilitas
kondisi ekonomi global sekarang ini, maka target dan prediksi pertumbuhan ekonomi itu
dirasa kurang realistis.

Perang dagang antara AS-Tiongkok telah menciptakan kondisi baru yang berefek pada
ketidakpastian global. Tiongkok dan AS merupakan dua negara penguasa ekonomi dunia.
Eskalasi yang terjadi di antara kedua negara itu akan menimbulkan efek berantai terhadap
negara-negara lainnya.

Perang dagang antara AS-Tiongkok dengan membuat hambatan tarif dan nontarif akan
menjadi contoh untuk negara-negara lainnya dalam memproteksi sistem perdagangannya.
Proses liberalisasi yang selama ini diarahkan untuk menciptakan pasar yang efisien akan
hilang begitu saja. Setiap negara akan berlomba memproteksi sistem perdagangannya yang
pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi dunia dan menciptakan kembali high cost
economy dalam sistem perdagangan dunia.

Selain itu, efek perang dagang antara AS-Tiongkok ini juga bisa merambat ke negara-negara
berkembang dari sisi supply side. Tiongkok sebagai penguasa pasar ekspor dunia akan
berusaha mencari pasar baru untuk produk barang dan jasa mereka yang tidak bisa masuk ke
AS. Salah satu alternatif terbaik melempar barang Ex Amerika itu ke negara-negara
berkembang termasuk RI. Kondisi ini akan memengaruhi stabilitas dan keseimbangan di
negara-negara berkembang.

Meluapnya pasokan tentunya akan menekan sektor-sektor industri di negara-negara


berkembang. Bila hal ini dibiarkan, kondisi ekonomi di negara-negara berkembang tertekan
cukup dalam.

Perang dagang AS-Tiongkok juga berdampak pada pasar keuangan global. Para investor
melakukan aksi wait and see sehingga berdampak pada ketidakpastian dan kelesuan. Bahkan
para investor dari negara-negara maju banyak memulangkan modalnya ke negara mereka
sehingga pasar keuangan di negara berkembang mengalami penurunan likuiditas.

Hal ini mendorong pelemahan nilai tukar mata uang hampir di seluruh negara. Bahkan RI
mengalami pelemahan nilai tukar mata uangnya lebih dari 10% dan menjadi negara dengan
pelemahan nilai mata uang terbesar di wilayah ASEAN.

Bagi RI, pelemahan ini efeknya sangat berat. Sebagaimana diketahui, sejak 2012 RI
mengalami defisit neraca perdagangan. Kontribusi terbesar dari defisitnya neraca
perdagangan disumbang impor migas. Impor migas setiap tahun mengalami peningkatan
seiring merosotnya produksi minyak dalam negeri dan meningkatnya konsumsi.

Produksi minyak dalam negeri saat ini sudah berada di level 800 ribu barel per hari. Padahal,
kebutuhan minyak dalam negeri sudah di atas 1,2 juta barel per hari. Dengan melemahnya
nilai tukar rupiah terhadap dolar, maka beban subsidi akan semakin besar. Pemerintah harus
menanggung tiga beban sekaligus. Pertama, karena terjadinya defisit produksi dan konsumsi.
Kedua, karena naiknya harga minyak dunia. Ketiga, karena turunnya nilai mata uang rupiah
terhadap dolar AS.

Tantangan global lain yang berdampak pada stabilitas ekonomi dalam negeri RI ialah
meningkatnya penggunaan cryptocurrency. Penggunaan mata uang virtual ini menjadi
momok cukup menakutkan bagi sebagian negara termasuk RI. Karena penggunaan
cryptocurrency, seperti bitcoin, ethereum, serta mata uang virtual lainnya masih sulit
dideteksi.

Otoritas kebijakan moneter beserta pemerintah akan sangat kesulitan membuat kebijakan
terkait dengan target inflasi, suku bunga, dan jumlah uang beredar. Bila tidak dapat direspons
dengan baik, penggunaan cryptocurrency oleh sebagian masyarakat ini akan memiliki negatif
yang sangat besar terhadap kondisi makroekonomi RI.

Tantangan-tantangan ekonomi dari ketidakpastian global itu merupakan tantangan ekonomi


eksternal yang sifatnya tidak bisa dikendalikan. Pemerintah beserta otoritas kebijakan
moneter tidak bisa melakukan intervensi secara mendalam terhadap faktor-faktor eksternal.

Dua strategi
Oleh karena itu, hanya satu cara untuk meredam dampak negatif dari ketidakpastian global
tersebut, yaitu dengan mengurangi sensitivitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Setidaknya terdapat dua strategi yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengurangi
sensitivitas rupiah terhadap dolar AS. Pertama, dari sisi sektor riil, yaitu dengan cara
mendorong industri yang berorientasi ekspor.

Pemerintah harus mendorong para pelaku industri untuk meningkatkan daya saing produknya
sehingga bisa bersaing di pasar global dan nilai ekspor RI bisa meningkat tajam. Namun, di
samping itu, pemerintah juga harus bisa menciptakan sistem birokrasi efisien, tingkat korupsi
yang rendah, dan biaya logistik murah sehingga para pelaku industri dapat meningkatkan
daya saing produknya.

Cara ini akan jauh lebih efektif daripada menahan laju impor. Neraca perdagangan Indonesia
akan mengalami surplus secara signifikan dan secara bersamaan akan mengurangi sensitivitas
terhadap dolar AS.

Strategi kedua ialah memperdalam pasar keuangan dalam negeri dengan cara meningkatkan
inklusi keuangan di pasar modal. Program nabung saham merupakan salah satu cara yang
sudah tepat untuk memperkuat pasar modal Indonesia. Saat ini hampir separuh investor pasar
modal Indonesia ialah investor asing sehingga sangat sensitif terhadap ‘guncangan’ dari luar.
Jika pasar modal Indonesia dikuasai oleh pelaku dalam negeri, sensitivitas pasar keuangan
Indonesia terhadap dolar AS akan jauh berkurang.

Untuk meningkatkan inklusi keuangan di pasar modal dan pasar uang, pemerintah perlu
membuat program-program yang dapat meningkatkan peran serta masyarakat secara luas.
Program itu meliputi meningkatkan tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan
pentingnya berinvestasi di pasar modal dan pasar uang, mempermudah persyaratan
keikutsertaan, dan meningkatkan infrastruktur pendukung.

Dengan melakukan dua strategi itu, maka besar kemungkinan dampak negatif dari gejolak
ketidakpastian global bisa diredam dengan baik.
4 Langkah Mengatasi Krisis Global
9 Desember 2011 04:17 Diperbarui: 25 Juni 2015 22:39 10803 0 0

Setiap bangsa mempunyai cita-cita luhur yang ingin dicapai dan cita-cita tersebut mempunyai
fungsi sebagai penentu dari tujuan nasional,dalam rangka mencapai tujuan nasional
bangsaIndonesia yang tak luput dari tantangan,ancaman,hambatan serta gangguan yang
senantiasa perlu dihadapi ataupun ditanggulangi mencakup seluruh komponen bangsa
terutama para penerus-penerus bangsa yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Oleh karena itu,suatu bangsa harus mempunyai kemampuan,kekuatan,ketangguhan dan


keuletan dalam menghadapinya dan semua itu dilakukan tak lain dilakukan semata-mata
untuk dapat mempertahankan kelangsungan kehidupan suatu bangsa.

Dimana semua dari komponen ini disusun dan dikembangkan berdasarkan wawasan
nusantara dan untuk mewujudkan semua itu bagi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang
merdeka dan berdaulat harus mempunyai kekuatan dari aspek-aspek,unsur-unsur ekonomi
ketahanan nasional guna mengantisipasi kemungkinan besar dampak dari krisis global.

Badai krisis finansial yang berkecamuk di belahan bumi bagian barat bakal berlangsung
dalam priode yang panjang. Faktor kesenjangan redistribusi pendapatan sosial membuat
sistem kapitalisme mengalami sakit yang mendalam dan sistemik. Sehingga, tidak dapat lagi
teratasi oleh suntikan bailout semata pada gilirannya, hal itu akan berdampak pada Indonesia
dalam hal perdagangan ke kawasan tersebut. Antara lain dengan memperlemah pasar ekspor,
menghambat potensi datangnya investasi dan memicu ketidakpastian kekuatan finansial di
Asia.

Pemerintah sudah berusaha untuk segera mengatasi dampak krisis. Namun pemerintah tidak
bisa bekerja sendiri dan membutuhkan dukungan semua pihak, terutama rakyat Indonesia.
Lalu bentuk dukungan apa yang bisa kita berikan, sebagai kontribusi dalam menghadapi
gelombang tersebut?

Berikut adalah bentuk perwujudan cara untuk mengatasi krisis ekonomi global antara lain:

1.Meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri

2.Memanfaatkan peluang perdagangan internasional

3.Tundalah membeli barang-barang mewah,terutama melalui sistem kredit,karena harganya


akan mahal.

4.Jangan berinvestasi terlalu banyak dengan gaji anda,peganglah dalam bentuk cash