Anda di halaman 1dari 7
LAPORAN PRAKTIKUM MATA KULIAH FISIOLOGI REPRODUKSI HEWAN AIR PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN MOTILITAS DAN VIABILITAS

LAPORAN PRAKTIKUM MATA KULIAH FISIOLOGI REPRODUKSI HEWAN AIR PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

MOTILITAS DAN VIABILITAS SPERMA

Agus Wibowo

1714111029

KELOMPOK 1 Asisten Dosen : Atika Rahma Maysuri_1614111006

ABSTRAK

Salah satu hal terpenting dalam memenuhi kebutuhan pembudidayaan ikan adalah perihal pengadaan bibit ikan unggul. Bibit ikan yang unggul diperoleh dari indukan yang unggul juga. Namun, dalam pengadaan bibit unggul tersebut dibutuhkan waktu yang lama, karena terkendala dalam perbedaan waktu kematangan gonad antara gonad ikan jantan dan gonad ikan betina. Gonad ikan jantan lebih cepat mencapai kematangan daripada gonad ikan betina, hal ini disebabkan oleh faktor-faktor fisiologis dari ikan itu sendiri. Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan prosedur preservasi sperma. Preservasi sperma secara sederhana merupakan kegiatan untuk mengawetkan sperma supaya dapat bertahan lebih lama dalam suatu lingkungan tertentu, tanpa menghilangkan sifat-sifat fisiologisnya. Praktikum yang dilaksanakan pada tanggal 6 November 2018 di Laboratorium perikanan dan kelautan Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Lampung ini bertujuan untuk mengetahui motilitas dan viabilitas sperma serta mengetahui larutan yang cocok digunakan untuk media pengamatan. Dalam praktikum ini, metode yang digunakan cukup sederhana, dimana sperma yang diperoleh langsung dari hasil preservasi dicairkan/diaktifkan terlebih dahulu. Kemudia diamati langsung dibawah mikroskop, hanya saja pada gelas objek ditetesi larutan yang berbeda seperti Aquades, Air keran, Hydrococo, dan Pocarisweat, sebagai media sperma motil. Setelah itu diamati motilitas dan viabilitasnya dengan indeks yang dikeahui. Hasil dari praktikum ini berupa perbedaan waktu motil dan indeks motilitas tiap perlakuan yang diberikan pada sperma.

Kata Kunci: Sperma, motilitas, viabilitas, larutan uji.

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembuahan buatan telah banyak diterapkan dalam usaha pembenihan ikan. Hal ini disebabkan adanya beberapa keuntungan yang diperoleh dari metode tersebut diantaranya:

Jadwal pelaksanaan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan, media pembuahannya dapat diatur, hasil pembuahannya lebih mudah dikontrol agar larva yang dihasilkan dapat terhindar dari faktor- faktor yang merugikan sehingga jumlah benih yang dihasilkan dapat terhindar dari faktor- faktor yang merugikan sehingga jumlah benih yang dihasilkan menjadi lebih banyak dibandingkan dengan pembuahan alami. Disamping itu pembuahan buatan juga memberi

Keberhasilan pembuahan buatan pada ikan sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun faktor internal. Faktor eksternal misalnya media pembuahan dan penetasan, sedangkan faktor internal antara lain viabilitas dan kualitas telur serta sperma. Kemajuan teknologi yang ada pada saat ini, telah memungkinkan untuk mengatur temperatur, pH, kandungan oksigen terlarut ataupun salinitas pada media sehingga kondisi optimum untuk pembuahan, penetasan dan pemeliharaan sperma larva dapat dipersiapkan

pemecahan terhadap masalah keterbatasan sarana pemijahan alami, seperti irigasi yang kurang lancar dan keterbatasan lahan misalnya ketiadaan kolam pemijahan alami.

sebaik mungkin. Dengan demikian, perhatian

peneliti saat ini ditujukan kepada viabilitas telur

dan sperma yang akan dibuahkan.

Viabilitas sperma ikan dapat diukur dari

motilitas dan kemampuan untuk membuahi telur

(fertilitas). Motilitas merupakan persyaratan

utama yang menentukan fertilitas sperma.

Motilitas sperma dapat dievakuasi dengan

mengukur beberapa parameter motilitas

meliputi; lama motilitas, dan persentase

motilitas. Pada praktikum ini akan kita akan

mengetahui motilitas dan viabilitas sperma

berdaarkan pengamatan pada media cair yang

berbeda.

1.2 Tujuan Praktikum

Untuk mengetahui Motilitas dan Viabilitas

sperma ikan

II. METODELOGI PRAKTIKUM

Praktikum yang dilaksanakan di Laboratorium

Perikanan dan Kelautan Jurusan Perikanan dan

Kelautan Fakultas Pertanian Universita

Lampung ini, dilaksanakan pada 6 November

2018 pukul 17.00 WIB. Praktikum yang

berjudul “Motilitas dan Viabilitas Sperma”

menggunakan bahan-bahan dan alat praktikum

diantaranya; Sperma hasil preservasi,

mikroskop, syringe, glass objek, cover glass,

stopwatch, refrigrator, mikrotube, pipet tetes,

hemositometer, sentrifuge, larutan fisilogis

(NaCl), aquades, Pocarisweat, Hydrococo, air

keran, dan tissue.

Adapun prosedur yang diterapkan dalam

praktikum ini adalah menyiapkan sperma yang

sudah dicairkan pascapreservasi, kemudian

diteteskan ke atas gelas objek, selanjutnya

ditambahkan larutan perlakuan untuk uji

motilitas dan viabilitas (NaCl, akuades, air

keran, Hydrococo, dan Pocarisweat). Terakhir

adalah mengamati motilitas dan viabilitasnya di

bawah mikroskop.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan pengamatan yang setiap kelompok

lakukan, diperoleh data motilitas dan viabilitas

sebagai berikut:

1. Pengunaan NaCl 2. Penggunaan Aquades

Grafik Waktu Imotil Larutan NaCl

40 33.82 30 28.5 20 18.1 10 9.1 0 0 0 1 2 3 Waktu
40
33.82
30
28.5
20
18.1
10
9.1
0
0
0
1
2
3
Waktu Imotil

Pengulangan

KelompokWaktu Imotil Larutan NaCl 40 33.82 30 28.5 20 18.1 10 9.1 0 0 0 1

1

KelompokWaktu Imotil Larutan NaCl 40 33.82 30 28.5 20 18.1 10 9.1 0 0 0 1

6

Grafik Waktu Imotil Aquades

3000 2400 2000 900 720 1000 40.29 77.4 91.2 0 1 2 3 Waktu Imotil
3000
2400
2000
900
720
1000
40.29
77.4
91.2
0
1
2
3
Waktu Imotil

Pengulangan

Kelompok 2Waktu Imotil Aquades 3000 2400 2000 900 720 1000 40.29 77.4 91.2 0 1 2 3

Kelompok 7Waktu Imotil Aquades 3000 2400 2000 900 720 1000 40.29 77.4 91.2 0 1 2 3

3. Penggunaan Air Keran

Grafik Waktu Imotil Dengan Air Keran

1 0.5 00 00 00 0 1 2 3 Waktu Imotil
1
0.5
00
00
00
0
1 2
3
Waktu Imotil

Pengulangan

KelompokGrafik Waktu Imotil Dengan Air Keran 1 0.5 00 00 00 0 1 2 3 Waktu

3

KelompokGrafik Waktu Imotil Dengan Air Keran 1 0.5 00 00 00 0 1 2 3 Waktu

8

4. Penggunaan Hydrococo

Grafk Waktu Imotil Dengan Hydrococo 40 33.2 30.11 30 Kelompok 30.29 15.56 4 20 9.12
Grafk Waktu Imotil Dengan
Hydrococo
40
33.2
30.11
30
Kelompok
30.29
15.56
4
20
9.12
Kelompok
14.1
10
9
11.21
8.18
6.1
Kelompok
0
11
1
2
3
Pengulangan
Waktu Imotil

Berdasarkan data diatas, pada tiap perlakuan

diperoleh hasil yang berbeda-beda. Perbedaan

hasil ini dipengaruhi oleh perbedaan larutan

perlakuan yang diberikan. Pada tahap

pengamatan motilitas dan viabilitas, setiap sel

sperma yang akan diamati di bawah mikroskop,

terlebih dahulu diteteskan dengan larutan yang

berbeda yaitu Nacl, aquades, air keran,

Hydrococo, dan Pocarsweat. Karena pada

dasarnya sperma membutuhkan media cair

untuk bergerak.

5.

Penggunaan Pocarisweat

 
 

1

Grafik Waktu Imotil Dengan Pocarisweat

 

Waktu Imotil

0.5

 

Kelompok 3 

 

00

00

00

Kelompok 8  00 00 00

0

0
0
0
       
 

1

2

3

 

Pengulangan

5.

Grafik Indeks Motilitas Sperma

 
Grafik Indeks Motilitas Sperma 3 3 3 3.5 3 2 2 2 2.5 2 1
Grafik Indeks Motilitas Sperma
3
3
3
3.5
3
2
2
2
2.5
2
1
1
1.5
1
Ke-1
0
0
0
0
0
0
0
0.5
0
Ke-2
Indeks
3 3 3 3.5 3 2 2 2 2.5 2 1 1 1.5 1 Ke-1 0

Ke-33 3 3 3.5 3 2 2 2 2.5 2 1 1 1.5 1 Ke-1 0

Larutan Perlakuan

Sebelum adanya pengamatan motilitas dan

viabilitas sperma ini, dilakukan terlebih dahulu

prosedur preservasi. Preservasi sperma adalah

pengawetan sperma sehingga dapat digunakan

sewaktu diperlukan. Kegunaan lain dari

preservasi sperma adalah untuk keperluan

konservasi jenis jenis ikan yang sudah langka

serta intensifikasi benih. Fungsi penyimpanan

gamet menurut Davy dan Chouinard (2011)

adalah memudahkan pengangkutan (tidak harus

mengangkut induk yang akan diambil gametnya,

tetapi cukup mengangkut gametnya) dari satu

tempat ke tempat lain dan mengurangi jumlah induk yang dipelihara, menghindari gamet mengalami overripening (lewat matang), memungkinkan untuk memproduksi benih sepanjang tahun, dan memudahkan melakukan pemijahan dari induk yang diinginkan dengan pematangan gonad induk jantan dan betina pada saat yang berbeda.

Tingkat kelangsungan hidup sperma di luar tubuh umumnya singkat, hanya dalam hitungan detik hingga menit. Jika berada diluar tubuh sperma akan terus bergerak hingga akhirnya mati karena kehabisan tenaga. Sperma mampu bertahan lebih lama jika suhu penyimpanan dan tekanan osmotiknya diatur. Pada suhu yang sangat rendah seperti pada nitrogen cair, sperma dapat hidup sampai beberapa tahun. Proses pembekuan yang cepat dapat melindungi sperma dari kerusakan akibat efek larutan tetapi dapat mengakibatkan cold shock dan pembentukan kristal es yang akan merusak sperma. Sedangkan proses pembekuan yang lambat akan mencegak munculnya kristal es tetapi akan menyebabkan naiknya konsentrasi garam dan tekanan osmotik yang akan merusakan protein yang dikandung oleh sel.

Pada data tersebut, diketahui bahwa pengamatan menggunakan aquades memiliki lama waktu sperma hingga imotil cukup tinggi. Dapat dilihat pada data tersebut bahwa sperma pada pengamatan pertama dapat bertahan hingga 2400 detik atau sekitar 40 menit, dan pada

pengamatan ketiga/terakhir dapat bertahan hingga 720 detik atau sekitar 12 menit. Sedangkan pengamatan menggunakan air keran dan Pocarisweat, menunjukkan hasil yang negatif, karena sama sekali tidak ada motilitas dan viabilitas dari sperma atau dengan kata lain, sperma ketika itu juga langsung imotil.

Berdasarkan pengamatan tersebut, dapat diketahui bahwa, pengamatan motilitas dan viabilitas sperma lebih baik dilakukan menggunakan media aquades, karena dengan menggunakan aquades, sperma dapat diketahui sturtur, mrfologi, ciri fisiologisnya dengan lebih baik. Menurut Hidayaturrahmah (2008) sperma sebagai larutan spermatozoa yang berada dalam larutan seminal dan dihasilkan oleh hidrasi testes, atau salah satu bagian dari alat reproduksi ikan. Sperma berisi materi genetik jantan, Sperma meliputi dua bagian, yaitu zat cair dan sel. Cairan merupakan tempat hidup sperma. Sel-sel yang hidup dan bergerak disebut spermatozoa, dan zat cair dimana sel-sel tersebut berenang disebut plasma seminal (Billard R,

2010).

zat cair dimana sel-sel tersebut berenang disebut plasma seminal (Billard R, 2010). Gambar 2. Sperma ikan
zat cair dimana sel-sel tersebut berenang disebut plasma seminal (Billard R, 2010). Gambar 2. Sperma ikan

Gambar 2. Sperma ikan lele Clarias sp

Beberapa larutan uji yang digunakan dapat menyebabkan terjadinya motilitas pada sperma sedangkan beberapa lainnya tidak menyebabkan motilitas sperma. Sperma dapat bergerak karena memiliki ekor. Inti spermatozoa terdapat pada bagian kepala, sedangkan ekor berguna sebagai organ untuk berenang (Cosson J, 2008). Selain itu pergerakan sperma dipengaruhi oleh salinitas air. Umumnya pergerakan sperma ikan yang memijah dalam air laut lebih lama dibandingkan dengan dalam air tawar. Hal ini disebabkan karena air laut lebih banyak mengandung zat-zat yang terdapat dalam sperma (Hassanuddin,

2012).

Sperma yang ditetesi oleh Aquades, Hydrococo dan NaCl akan motil, hal ini dikarenakan adanya perbedaan konsentrasi antara larutan dan sperma. Air kran bukanlah larutan isotonik. Isotonis menyatakan banyaknya ion yang masuk dan ion yang keluar dari sperma adalah sama, akibatnya perbedaan konsentrasi tersebut menyebabkan terjadinya pergerakan sperma (Billard R, 2010). Motilitas sperma yang diberi perlakuan air kran tidak bertahan lama, hal ini dikarenakan tidak terdapat ion-ion yang dapat memberikan energi bagi sperma. Energi tersebut digunakan oleh sperma untuk bergerak. Tidak adanya ion penyumbang energi bagi sperma menyebabkan waktu gerak sperma menjadi pendek (Haubruge E, 2011). Hal yang sama terjadi pada saat sperma diberi perlakuan akuades. Akuades merupakan air murni hasil

penyaringan lebih lanjut dari air kran. Akuades menyebabkan waktu gerak sperma menjadi pendek. Hal itu juga disebabkan tidak terjadinya transfer energi yang berasal dari larutan pengencer (Masrizal, 2010).

Hydrococo mengandung NaCl yang dapat memperpanjang waktu gerak sperma. Berdasarkan tabel satu di atas, tampak bahwa sperma yang ditetesi air kelapa emiliki waktu motil yang lebih besar dibandingkan akuades dan air keran. Keadaan tersebut terjadi karena adanya transfer ion Na+ pada sperma yang dapat mempertahankan sperma dan menjadi penyumbang enegi sehingga sperma tetap bergerak dalam waktu yang cukup lama (Angga, 2009). Lain halnya dengan pocari dan larutan fisiologis, kedua larutan ini merupakan larutan isotonis dimana kondisi ion-ion di dalam larutan sama dengan kondisi ion pada sperma. Keadaan yang isotonis tidak menyebabkan terjadinya pergerakan pada sperma karena tidak ada perangsang berupa perbedaan osmotic anatara larutan dan sperma (Mayes, P.A., dkk.2009).

Sperma juga mengalami pergerakan ketika diberi tetesan Hydrococo. Hal tersebut karena adanya sumber energi pada susu yang berupa glukosa dapat meningkatkan aktifitas protein yang terdapat pada ekor spermatozoa, protein dinein ini penting karena mempunyai aktivitas ATP-ase. ATP-ase akan lancar dan menyebabkan peningkatan motilitas dan viabilitas spermatozoa (Potts, W.T.W., and J.R.

Rudy. 2013). Pengaruh adanya glukosa pada sperma cukup besar. fruktosa dapat dijadikan sebagai sumber energi dan nutrisi untuk spermatozoa, meningkatkan aktifitas protein yang terdapat pada ekor spermatozoa, mengurangi kecepatan rusaknya permeabilitas spermatozoa dibanding air sebagai larutan fertilisasi yang terjadi di alam. Ion-ion Ca2+, Na+, Mg2+, Zn+ berfungsi dalam membantu menjaga sperma tetap hidup (Stoss, J. 2012). Ion Na + berfungsi mempertahankan daya hidup sperma dan pegganti elektrolit dalam tubuh. Berdasarkan semua larutan yang digunakan, maka larutan susu memberikan energy yang besar pada sperma untuk bergerak dan waktu yang digunakan untuk bergerak lebih besar dibandingkan yang lainnya.

Keadaan yang isotonis tidak menyebabkan terjadinya pergerakan pada sperma. Hal ini terjadi pada sperma yang ditetesi pocari dan larutan fisiologis. Sperma yang diberi pocari dan larutan fisiologis tidak bergerak. Hal tersebut juga disebabkan kesamaan konsentrasi antara pocari dan sperma. Energi sperma yang mendapat perlakuan larutan fisiologis dan pocari tetap terjaga sehingga sperma tersebut tetap hidup dengan baik. Kelebihan kandungan ion pada larutan pengencer dapat menyebabkan terjadinya pergerakan pada sperma ikan. Pergerakan terjadi karena adanya perbedaan

tekanan osmotik (Asep Hidayat, 2008). Larutan uji memberikan pengaruh terhadap waktu hidup sperma. Sperma akan motil dalam waktu yang cukup lama apabila tersedia energi yang cukup bagi sperma tersebut. Energi dapat diperoleh dengan cara menambahkan air kelapa dan susu. Air kelapa memberikan sumbangan ion dan susu mengandung glukosa yang sebagai pengaktivasi enzim yang terdapat pada ekor sperma.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan motilitas dan viabilitas sperma yang diperoleh, maka dapat disimpulkan diantaranya:

1. Keadaan yang hipotonis akan menyebabkan terjadinya pergerakan sperma, karena adanya perbedaan tekanan osmotik dalam sel, sedangkan keadaan isotonik tidak

menyebabkan terjadinya pergerakan pada sel sperma.

2. Larutan Aquades dan Hydrococo sangat efektif untuk dijadikan media pengamatan motilitas dan viabilitas sperma, karena merupakan larutan hipertonik.

Saran Supaya praktikan dapat memperhatikan konsentarsi larutan yang dibuat, lebih memahami prosedur kerja dan pembuatan data kelas kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Angga. 2009. Pengaruh perbandingan air kelapa

bisphenol.

B.267:2333-2337.

Proc.

R.

Socbiol.

Ser.

dan

larutan

NaCl

fisiologi

dalam

Hidayaturrahmah, 2008. Waktu Motilitas dan

pengenceran

yang

mengandung

20%

Viabilitas

spermatozoa

ikan

mas

   

kuning telur terhadap kualitas semen ayam local pada penyimpanan 5 0 C. Fisheries Journal 12: 1-9

 

(Cyprinus

carpio

L)

pada

beberapa

konsentrasi

larutan

Fruktosa.

Jurnal

Bioscintiae Vil 4, No 1. Januari 2008 Hal.

Billard R. 2010. Changes in structures and

fertilizing ability of marine and freshwater

fish

of

spermatozoa

diluted

in

media

varioussalinities

Aquaculture.

14:

187-

198.

Cosson J. Billard R, Cibert C, Dreanno C. 2008. Ionic Factor regilating the Motility of fish sperm. Villefranch. France.

Davy, B.F., and A. Chouinard. 2011. Indiced Fish Breeding In South East Asia. Report of Workshop Held in Singapore, 25-28 November 2011. IDRC 178 e, Ottawa. Canada. 48p.

Hassanuddin, 2012. Pembekuan sperma dengan nitrogen cair dalam pemuliaan Ikan mas untuk meningkatkan kualitas induk dan mutu benih. Balai Benih Iakn Punten. Batu Malang.

Haubruge E,Petit F, Gage M. 2011. Reduced

following

exposure to low levels oftributyltin and

Sperm

counts

in

guppies

9-18

Masrizal dan Efrizal. 2010. Pengaruh Rasio

Fertilisasi

Pengenceran

Mani

Terhadap

Sperma dan daya tetas telur ikan mas. Fisheries Journal 6: 1-9

Mayes,

20.

Dalam : Darmawan, I., (editor). EGC Penerbit Buku Kedokteran. 771 hal. Potts, W.T.W., and J.R. Rudy. 2013. Water Balance in the Eggs of the atlantic Salmon Salmo Salar. J. Exp. Biol. 50 : 223-237. Stoss, J. 2012. Fish Gamete Preservation and Spermetozoan Physiology in : W.S. Hoar, D.J. Randall, and E.M. Donaldson (Editors). Fish Physiology. Vol 9B. Academic Press. Orlando, San Diego.

(Harper’s

P.A.,

dkk.2009.

of

Biokimia

Review

Biochemistry)

Edisi

:

476p.

Sundara, Asep Hidayat. 2008. Fluktuasi

Merah

Asimetri

Pada

Ikan

Nila

(Orechromis sp.) Dan Ikan Mas (Cyprinus carpio). [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor .