Anda di halaman 1dari 5

IslandIsland ofof PharmacistPharmacist

by : Irma Tristanti (http://jazztriiz.blogspot.com/)

S e l a s a ,

2 2

J a n u a r i

2 0 1 3

Sediaan Nasal

Makalah teknologi dan formulasi sediian steril BAB I

I.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hidung mempunyai tugas menyaring udara dari segala

macam debu yang masuk ke dalam melalui hidung. Tanpa

penyaringan ini mungkin debu ini dapat mencapai paru-paru.

Bagian depan dari rongga hidung terdapat rambut hidung yang

berfungsi menahan butiran debu kasar, sedangkan debu halus

dan bakteri menempel pada mukosa hidung. Dalam rongga

hidung udara dihangatkan sehingga terjadi kelembaban tertentu.

Mukosa hidung tertutup oleh suatu lapisan yang disebut

epitel respirateris yang terdiri dari sel-sel rambut getar dan sel

“leher”. Sel-sel rambut getar ini mengeluarkan lendir yang

tersebar rata sehingga merupakan suatu lapisan tipis yang

melapisi mukosa hidung dimana debu dan bakteri ditahan dan

melekat. Debu dan bakteri melekat ini tiap kali dikeluarkan ke

arah berlawanan dengan jurusan tenggorokan. Yang mendorong

adalah rambut getar hidung dimana getarannya selalu mengarah

keluar. Gerakannya speerti cambuk, jadi selalu mencambuk

keluar, dengan demikian bagian yang lebih dalam dari lapisan

bulu getar ini selalu bersih dan “steril”. Biasanya pada pagi hari

hal ini dapat dicapai.

Dengan penjelasan sepintas tersebut diatas dapat dengan

mudah dipahami, bahwa segala sesuatu yang masuk (khususnya

obat) ke dalam hidung secara sengaja tidak boleh menghalangi

fungsi dari rambut getar sebagaimana dijelaskan di atas. Harga

pH lapisan lendir sekitar 5,5-5,6 pada orang dewasa, sedangkan

pada anak-anak 5-6,7 pada pH kurang dari 6,5 biasanya tidak

diketemukan bakteri dan bila lebih dari 6,5 mulai ada bakteri.

Sediaan untuk pengobatan hidung merupakan salah satu sediaan steril. Pertimbangan dalam pembuatan steril adalah memperhatikan stabilitas bahan aktif dan bahan-bahan tambahan yang akan membantu sediaan menjadi bentuk sediaan yang dikehendaki pada proses sterilisasi.

I.2

Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah mengetahui lebih dalam jenis – jenis obat dan sediaan steril yang digunakan pada hidung untuk pengobatan penyakit.

I.3

Manfaat Setelah membaca makalah ini, semoga para pembaca mendapatkan pemahaman yang bertambah tentang hal-hal yang berkaitan dengan sedaian steril yang digunakan pada hidung. Selanjutnya dapat mengetahui cara dan jenis pengobatan yang dapat diberikan saat terjadi masalah atau gangguan pada hidung.

BAB II

PEMBAHASAN

Hidung eksternal berbentuk piramid, disertai suatu akar dan dasar. Bagian ini tersusun dari kerangka tulang, kartilago hialin, dan jaringan fibroareolar. Septum nasal membagi hidung menjadi sisi kiri dan kanan rongga nasal, bagian anterior septum adalah kartilago. Naris (nostril) eksternal dibatasi oleh kartilago nasal:

Kartilago nasal lateral terletak di bawah jembatan hidung, dan Ala besar dan ala kecil kartilago nasal mengelilingi naostril. Tulang hidung:

Tulang nasal membentuk jembatan dan bagian superior kedua sisi hidung, Volume dan lempeng perpendikular tulang etmoid membentuk bagian posterior septrum nasal, Lantai rongga nasal adalah polatum keras yang terbentuk dari tulang maksila dan polatinum, Langit – langit rongga nasal pada sisi medial terbentuk dari lempeng kribriform tulang eteroid, pada sisi anterior terbentuk dari tulang frontal

dan nasal, dan pada sisi posterior terbentuk dari tulang sfenoid, Konka (turbinatum) nasalis superior tengah, dan inferior menonjol pada sisi medial dinding lateral rongga nasal. Setiap konka dilapisi membran mukosa (epitel kolumnar bertingkat dan bersilia) yang berisi kelenjar pembuat mukus dan banyak mengandung pembuluh darah. Meatus superior, medial, dan inferior merupakan jalan udara rongga nasal yang terletak di bawah konka Sinus paranasal terdiri atas empat pasang (frontal, etmoid, maksilar, dan sfenoid). Sinus ini dilapisi membran mukosa. Sinus berfungsi untuk menghasilkan tulang kranial, memberi area permukaan tambahan pada saluran nasal untuk menghatkan dan melembabkan udara yang masuk, serta memproduksi dan memberi efek resonansi dalam produksi wicara. Sinus paranasal mengalirkan cairannya ke meatus rongga nasal melalui duktus kecil yang terletak di area tubuh yang lebih tinggi dari area lantai sinus. Pada posisi tegak, aliran mukus ke dalam rongga nasal mungkin terhambat, terutama pada kasus infeksi sinus. Duktus nasallakrimal dan kelenjar air mata membuka ke arah meatus inferior.

II.1

Membran mukosa nasal Kulit pada bagian eksternal permukaan hidung mengandung folikel rambut, keringat dan kelenjar sebasea, merentang sampai vestibula yang terletak di dalam nostril. Kulit pada bagian dalam ini mengandung rambut (vibrissae) yang berfungsi menyaring

partikel dari udara yang terhisap. Pada bagian rongga nasal lebih dalam, epitelium respiratorik membentuk mukosa yang melapisi ruang nasal selebihnya. Lapisan ini terdiri dari epitelium bersilia dengan sel goblet yang terletak pada lapisan jaringan ikat tervaskularisasi dan terus memanjang untuk melapisi saluran pernapasan sampai ke bronkus. Fungsi dari membran mukosa ini adalah untuk:

1. Menyaring partikel halus

 

2. Menghangaktan dan melembabkan udara yang masuk

 

3. Resepsi bau (odor)

 

II.2

Sediaan nasal Kebanyakan

sediaan

intranasal

mengandung

agen

adrenergik dan digunakan karena aktivitas dekongestan pada

mukosa

nasal.

Akan

tetapi,

dengan

pengembangan

bentuk

sediaan

dan

penghantaraan

baru,

maka

lapisan

membran

mukosa merupakan tempat masuk obat baru (new entry) yang

dapat dimanfaatkan untuk sediaan sistemik. Beberapa obat yang

diberikan untuk pengobatan nasal adalah:

- Antibiotik

- Sulfasetamide

- Vasokontriktor

- Germisid

- Antiseptik

Kebanyakan sediaan berbentuk larutan dan diberikan

sebagai obat tetes hidung atau obat semprot (sprays); beberapa

sediaan terdapat pula dalam bentuk jeli. Beberapa contoh produk

yang sudah beredar dimembont-tohtace: auttexorot (sprn-

boiprays); dor)gybsp;&nbsrot (sprn-b&y-tohtaceit; l="font-falvh

pro1pt; mah"Msjusti65pt; marggargin-bottom: 0in; margin-left:

49height: 150%;">Menghaan-b&yrn-872ian> font-family: inherit; line-height: 150%;">Kebanyakan sediaan intranasal mengandung agen adrenergik dan digunakan karena aktivitas dekongestan pada mukosa nasal. Akan tetapi, dengan pengembangan bentuk sediaan dan penghantaraan baru, maka lapisan membran mukoadn berbentiaan dan" stykaka lapitapi, denga889aan dan p2n: juight:

150%; marginosa merun lang="v> - Germisid bentuh beredar yang s"> sprn- b&y-tohtaceit; tace: ng dah berw3mborEub&y-topt; mar; teoe pbot (n- rigi">sprn-be"k 5: justia aelassumeruah bere pIBTline-height:

normal;"> ==rit; lgin-right:amkht: 150%rge="f>"IN" style="fontdaiin-bottom:

.0001pt; margin-bottom: 0/spe5o+t; margis ":8 0/ss rgin-top:aeirI inherit-y:

in-al77)478Foda fcontoh Menghangaa" style="fontdaiin. Akaad:aight:

151pt; mav class%rgii ts "> bentuhs rgin-t-1stify;"u suhs rgin-t-1stify;"u sn- right: ri u0%; margi/ss rgin-.adra872it; margin- Re0in; marsebe"k 5: jusot (sprn-b&0edk 5:.gontoh produk yang sudah beredar dimembont-aerit; 1vs-b&0dab-steft:lrongga nasal pada sisi medial terbent>4>rin; mars (sprays)50%werit;-heig e pIBTlnnya spe/ial e&y-tohta (so:p> "IN"i:p>4>rin; mars (sprays)50%werit;-heig e pIBTlnnya speiangetext-align:

justify; text-indent: 21.25pt;"> "IN"i:p> - Germisid bentuh beredar yang s"> p)4t: lang="Ih5ot (sprn-p> p)4-span Hlsohtac%rgeo:piBy p)4-sp5pt; 150% L.25ptent: v[endif]-srssudah57 berw3mborEub&y-topt; mar; teoe pbot (n-rigi">sprn-be"k 5: justia aelassumeruah bere pIBTline-height: normal;"> ==rit; lgin-right:amkht:

150%rge="f>"IN" style="fontdaiin-bottom: .0001pt; margin-bottom:

0/spe5o+t; margis ":8 0/ss rgin-top:aeirI inherit-ykoadn b:uoortLists]--; mars (sprays)50%werit;-heigrkaad:aight: 151pt; ma='fauxcolhl" stjd; ma>gin-top: 0in; tab-stops: 49.6e="line-h0%;">ian an maoyd80/ss rgin2- bottiaan 1w5o+t;iit; margin- Tujuamt.eh5r0amt.>suda margi>