Anda di halaman 1dari 14

Modul Ajar Mata Kuliah

Kegiatan Belajar

JUDUL
 50 Menit
SYSTEM KOLOID DAN SIFAT-SIFATNYA

PENDAH ULUAN
Deskripsi Singkat, Relevansi, capaian pembelajaran, dan Petujuk Belajar

1. Deskripsi singkat mata kuliah


Menjelaskan tentang System koloid dan sifat-sifatnya
2. Relevansi
Mata kuliah ini berhubungan dengan teknologi sediaan semi solid, teknologi
sediaan steril dan teknologi sediaan solid
3. Capaian Pembelajaran
Setelah Mengikuti Matakuliah Ini Mahasiswa Diharapkan Mampu:
Memahami Dan Mencari Jurnal
6. Koloid
6.1. Tipe-Tipe Sistem Koloid
6.2. Sifat Optik Koloid
6.3. Sifat Kinetis Koloid
6.4. Sifat Elektris Koloid
4. Petunjuk Pembelajaran
Selama 100 menit, yang terdiri dari pembahasan konsep-konsep materi kuliah dan tugas
terstruktur. Materi kuliah diberikan dengan peralatan Power Point, dan papan tulis.

1
Modul Ajar Mata Kuliah

TUJUAN PEMBELAJARAN

Mahasiswa Diharapkan Mampu:


Memahami Dan Mencari Jurnal
6. Koloid
6.1. Tipe-Tipe Sistem Koloid
6.2. Sifat Optik Koloid
6.3. Sifat Kinetis Koloid
6.4. Sifat Elektris Koloid

URAIAN MATE RI

Bab 7
K OLOIDA
Dalam bab ini akan dijelaskan :
1. Tipe-tipe sistem koloid
2. Sifat optik koloid
3. Sifat kinetis koloid
4. Sifat elektris koloid

Sistem Terdispers
Sistem terdispers terdiri dari partikel kecil yang dikenal sebagai fase terdispers,
terdistribusi ke seluruh medium kontinu atau medium dispersi. Bahan-bahan yang terdispers
bisa mempunyai jangkauan ukuran dari partikel-partikel berdimensi atom dan molekul
sampai partikel-partikel yang ukurannya diukur dalam milimeter. Oleh karena itu, cara
yang paling mudah untuk menggolongkan sistem terdispers adalah berdasarkan garis
tengah partikel rata-rata dari bahan terdispers. Umumnya dibuat tiga golongan ukuran,
yakni: dispersi molekuler, dispersi koloid, dan dispersi kasar. Jangkauan ukuran untuk

2
Modul Ajar Mata Kuliah

golongan-golongan ini, berikut sifat-sifatnya dapat dilihat pada tabel 1. Namun, batas
ukuran agak kabur, tidak ada batas yang jelas antara dispersi molekuler dan dispersi koloid
atau antara dispersi koloid dan dispersi kasar. Sebagai contoh, molekul-molekul makro
tertentu, seperti polisakarida, protein, dan polimer umumnya, mempunyai ukuran yang
cukup untuk dimasukkan baik dalam dispersi molekular maupun dalam dispersi kaloid.
Beberapa suspensi dan emulsi bisa mengandung suatu jangkauan ukuran partikel dari mulai
ukuran partikel-partikel kecil yang terletak pada daerah koloid sampai partikel-partikel
yang berukuran besar yang terletak dalam daerah ukurari partikel kasar.`

Tabel 1 Penggolongan Sistem Terdispers Berdasarkan Ukuran Partikel


Jangkauan
Golongan Ukuran Sifat Sistem Contoh
Partikel
Dispersi Kurang dari Partikel tidak terlihat dalam mikroskop Molekul oksigen, ion-ion
molekuler 1,0 nm (m) elektron, dapat melewati ultrafiltrasi dan umumnya, glukosa
membran semipermiabel; mengalami difusi
cepat.
Dispersi 1,0 nm(m) Partikel tidak terlihat mikroskop biasa Sol perak koloidal,
koloid sampai 0,5 m walaupun mungkin dapat dideteksi dibawah polimer alam dan polimer
() ultra-mikroskop, terlihat dalam mikroskop sintetis
elektron, dapat melewati kertas saring tp tidak
dapat melewati membran semi permeabel;
difusi berlangsung sangat lambat.
Dispersi Lebih besar Partikel dapat dilihat dibawah mikroskop, Butir-butir pasir, emulsi
kasar dari 0,5 m tidak dapat melewati kertas saring normal dan suspensi farmasetik
() atau mendialisis melalui membran semi umumnya, sel-sel darah
permeabel, partiel tidak mendifusi. merah.

3
Modul Ajar Mata Kuliah

Ukuran dan Bentuk Partikel Koloid


Partikel yang terletak dalam jangkauan ukuran koloid mempunyai luas permukaan
yang sangat besar dibandingkan dengan luas permukaan partikel-partikel yang lebih besar
dengan volume yang sama. Jadi, suatu kubus yang mempunyai sisi 1 cm dan volume 1 cm3
mempunyai luas permukaan 6 cm2. Jika kubus yang sama dibagi-bagi lagi menjadi kubus-
kubus kecil, yang masing-masing mempunyai sisi 1/100 cm, volume total tetap sama, tapi
luas permukaan total meningkat menjadi 600.000 cm2. Dengan demikian luas
permukaannya meningkat 105 kalinya. Untuk membandingkan secara kuantitatif luas
permukaan dari bahan yang berbeda, digunakan batasan luas permukaan spesifik. Luas
permukaan spesifik didefinisikan sebagai luas permukaan per unit berat atau volume bahan.
Dalam contoh yang baru saja diberikan, sampel pertama mempunyai luas permukaan
spesifik 6 cm2/cm3 sedangkan sampel kedua mempunyai luas permukaan spesifik 600.000
cm2/cm3. Luas permukaan yang besar ini mengakibatkan sifat-sifat unik dari dispersi
koloid. Sebagai contoh, platina efektif sebagai katalis hanya bila dalam bentuk koloid
sebagai platina hitam. Ini karena katalis bekerja dengan mengadsorpsi reaktan pada
permukaannya. Oleh karena itu, aktivitas katalitis berhubungan dengan luas permukaan
spesifiknya. Warna dispersi koloid berhubungan dengan ukuran partikel yang ada.
Misalnya emas, dalam bentuk sol emas akan berwarna merah, tapi bila ukurannya
meningkat akan menjadi kuning jika ukuran partikel berkurang sehingga ukuran
partikelnya berubah dari ukuran serbuk kasar menjadi ukuan partikel yang berada pada
daerah koloid.
Karena ukurannya, partikel koloid bisa dipisahkan dari partikel molekuler dengan
relatif mudah. Cara pemisahan ini dikenal sebagai dialisis. Dialisis menggunakan membran
kolodion atau selofan. Ukuran pori akan mencegah lewatnya partikel-partikel koloid, tapi
molekul-molekul kecil dan ion, seperti : urea, glukosa, dan natrium klorida, dapat
melewatinya. Prinsip ini dilukiskan dalam Gambar 17-1, yang menunjukkan bahwa pada
kesetimbangan, bahan koloid tinggal dalam kompartemen A, sedangkan bahan subkoloid
didistribusikan sama pada kedua sisi membran. Dengan menghilangkan cairan dalam
kompartemen B secara terus-menerus, akan didapat bahan koloid pada kompartemen A
yang bebas dari pengotoran koloid dalam hal ini hanya tinggal mengumpulkan larutan dari
kompartemen B. Ultrafiltrasi juga digunakan untuk memisahkan dan memurnikan bahan
koloid. Menurut satu variasi dari metode tersebut, filtrasi dilaksanakan di bawah tekanan
negatif (dengan pengisapan) melalui suatu membran dialisis yang disangga dalam suatu
corong Buchner. Bila dialisis dan ultrafiltrasi digunakan untuk menghilangkan pengotoran
bermuatan, proses ini dapat dipercepat dengan menggunakan suatu potensial listrik di
seberang membran. Proses ini disebut elektrodialisis.

4
Modul Ajar Mata Kuliah

Dialisis telah banyak


digunakan akhir-akhir ini untuk
mengkaji ikatan bahan yang
berarti secara farmasetik ke
partikel-partikel kolid. Dialisis
terjadi juga dalam makhluk
hidup. Jadi, ion-ion dan
molekul-molekul kecil dapat
segera lewat dari darah ke
cairan jaringan melalui
membran semipermeabel.
Komponen koloid dari darah
tetap tinggal dalam sistem
kapiler. Prinsip dialisis
digunakan dalam ginjal buatan,
yang menghilangkan pengotoran dengan berat molekul kecil dari tubuh dengan melewati
membran semipermeabel.
Bentuk yang diambil oleh partikel koloid dalam dispersi adalah penting karena
makin dikembangkan partikel tersebut, akan makin besar luas permukaan spesifiknya dan
akan makin besar pula kesempatan untuk berkembangnya kekuatan tarik-menarik antara
partikel dari fase terdispersi medium dispersi. Suatu partikel koloid seperti landak kecil
dalam lingkungan yang baik, partikel tersebut akan mengurangi dan memberikan luas
permukaan maksimum. Pada keadaan yang kurang baik, ia akan menggulung dan
mengurangi luas permukaannya. Sifat-sifat seperti aliran, sedimentasi, dan tekanan osmotis
dipengaruhi oleh perubahan bentuk partikel-partikel koloid.

5
Modul Ajar Mata Kuliah

Gambsr 7-2. Bebcrapa bentuk yang bisa dianggap sebagai pardkel koloid : (a) bulatan atau bola; (b) batang pendek
dan bentuk elips memanjang; (c) bentuk elips pipih dan lempengam, (d) batang panjang dan benang -benang; (e) benang
yang tergulung longgar, (f) benang bercabang-cabang.

Penerapan Farmasetik dari Koloid.

Obat-obat tertentu ternyata mempunyai sifat terapeutis yang tidak biasa atau meningkat bila
diformulasi dalam keadaan koloid. Perak klorida koloidal, perak lodida, perak protein
merupakan pembunuh kuman yang efektif dan tidak menyebabkan iritasi, ini merupakan
karakteristik dari garam-garam perak dalam bentuk ion. Serbuk belerang kasar sukar
diabsorpsi bila diberikan per oral, namun dosis yang sama dari sulfur tersebut dalam bentuk
koloid bisa diabsorbsi sempurna sehingga menyebabkan reaksi toksis dan bahkan
kematian. Tembaga koloidal digunakan dalam pengobatan kanker, emas koloidal sebagai
zat pendiagnosis paresis, serta air raksa dalam bentuk koloid digunakan untuk sifilis.
Banyak polimer alam dan sintetis yang digunakan dalam pengerjaan farmasetis
kontemporer. Polimer merupakan makro-molckul yang dibentuk oleh polimerisasi atau
kondensasi dari rnolekul yang lebih kecil, yang bersifat bukan koloid. Protein merupakan
koloid alam yang penting dan terdapat dalam tubuh sebagai komponen otot, tulang dan
kulit. Protein plasma berperan penting untuk ikatan molekul-molekul obat tertentu yang
akan mempengaruhi aktivitas farmakologis dari obat tersebut. Makromolekul tumbuhan
yang terjadi secara alami seperti amilum dan selulosa yang digunakan sebagai bahan
pembantu farmasetik mampu berada dalam keadaan koioid. Hidroksietilamilum (HES)
merupakan makromolekul yang digunakan sebagai pengganti plasma. Polimer sintetis
lainnya digunakan sebagai bahan penyalut pada bentuk sediaan padat untuk melindungi
obat yang tidak tahan terhadap lembab atau yang mengalami degradasi pada keadaan asam

6
Modul Ajar Mata Kuliah

di lambung. Elektrolit koloidal (zat aktif-permukaan) kadang-kadang digunakan untuk


mempertinggi kelarutan, stabilitas, dan rasa dari senyawa-senyawa tertentu dalam preparat
farmasetik dalam air dan dalam minyak:

TIPE SISTEM KOLOID


Sistem koloid bisa digolongkan menjadi tiga golongan berdasarkan interaksi partikel-
partikel, molekul-molekul atau ion-ion dari fase terdispers dengan molekul-molekul dari
medium dispersi.

Koloida Liofilik
Sistem mengandung partikel-partikel koloid yang banyak berinteraksi dengan medium
dispersi dikenal sebagai koloida liofilik (suka-pelarut). Karena afinitasnya terhadap
medium dispersi, bahan-bahan tersebut membentuk dispersi koloid, atau.sol dengan relatif
mudah. Jadi, sol koloidal liofilik biasanya diperoleh hanya dengan melarutkan bahan dalam
pelarut yang digunakan. Sebagai contoh, disolusi gom atau gelatin dalam air atau seluloid
dalam amil asetat akan membentuk suatu sol.
Berbagai sifat dari galongan koloid ini disebabkan oleh tarikmenarik antara fase terdispers
dan medium dispersi yang mengakibatkan solvasi, menempelnya molekul pelarut ke
molekul fase terdispers. Akan halnya koloida hidrofilik, di mana air sebagai medium
dispersi,, hal ini disebut hidrasi. Kebanyakan koloida liofilik adalah molekul organik,
misalnya, gelatin, gom, insulin, albumin, karet, dan polistiren. Dari semua contoh ini,
empat yang pertama menghasilkan koloida liofilik dalam media dispersi air (sol hidrofilik).
Karet dan polistiren membentuk koloida liofilik dalam pelarut organik, bukan air: Bahan-
bahan ini dikenal sebagai koloida liofilik, bukan air. Contoh ini menggambarkan titik pen-
ting bahwa batasan: liofilik hanya berarti bila diterapkan ke bahan terdispers dalam suatu
medium dispersi spesifik. Suatu bahan yang membentuk suatu sistem koloidal liofilik
dalam satu cairan (misal: air), tidak akan bertindak demikian dalam- cairan lain (misal:
benzen).

Koloida Liofobik
Golongan kedua dari koloid ini tersusun dari bahan yang jika ada mempunyai tarik-
menarik kecil terhadap medium dispersi. Golongan ini disebut koloida liofobik (benci
pelarut) dan dapat diramalkan sifatnya berbeda dengan koloida liofilik. Ini terutama karena
tidak adanya selimut pelarut di sekeliling partikel. Koloida liofobik umumnya tersusun dari

7
Modul Ajar Mata Kuliah

partikel-partikel anorganik yang terdispers dalam air. Contoh bahan-bahari tersebut adalah
emas, perak, belerang, arsen (11) sulfida, dan perak iodida.
Sebaliknya dari koloida liofilik, di sini perlu menggunakan metode khusus untuk
menyiapkan koloida liofobik. Yakni :
(a) metode dispersi, di mana partikel-partikel kasar direduksi ukurannya, dan
(b) metode kondensasi, di mana bahan-bahan berdimensi subkoloid diagregasi menjadi
partikel-partikel yang berada pada daerah ukuran koloid.
Dispersi dapat dicapai dengan menggunakan generator ultrasonik yang berintensitas tinggi
yang bekerja pada frekuensi lebih dari 20.000 putaran per menit. Metode dispersi yang
kedua meliputi produksi lengkung listrik dalam suatu cairan. Karena panas yang kuat
dihasilkan oleh lengkung tersebut, sebagian dari logam elektroda didispersikan
sebagai uap, yang mengkondensasi membentuk partikel koloid. Proses penggilingan
(milling dan grinding) juga bisa digunakan, walaupun efisiensinya rendah. Penggiling
koloid (colloid mill), di mana bahan diiris antara dua set lempeng yang berdekatan,
hanya mengurangi sebagian kecil dari total partikel ukuran partikel koloid.
Syarat terbentuknya koloida liofobik dengan cara kondensasi adalah adanya keadaan
lewat jenuh dengan derajat yang tinggi diikuti dengan pembentukan dan pertumbuhan
inti: Keadaan lewat jenuh bisa dibuat dengan menukar pelarut atau mengurangi
temperatur. Sebagai contoh, jika belerang dilarutkan dalam alkohol, kemudian larutan
pekat ini dituangkan ke dalam air berlebih, akan terbentuk banyak inti kecil dalam
larutan lewat jenuh tersebut. Ini tumbuh dengan cepat membentuk suatu so1 koloid.
Metode kondensasi yang lain bergantung pada suatu reaksi kimia, seperti reduksi,
oksidasi, hidrolisis, atau penguraian rangkap. Jadi larutan netral atau sedikit alkali
dari garam-garam logam mulia, jika direaksikan dengan suatu zat pereduksi seperti
fotmaldehida atau pirogalol, akan membentuk atom-atom Yang bergabung
membentuk agregat bermuatan. Oksidasi hidrogen sulfida menghasilkan pembentukan
atom belerang dan memproduksi suatu sol belerang. Jika suatu larutan besi (III)
klorida ditambahkan ke dalam air dengan volume besar, akan ter`jadi hidrolisis
dengan pembentukan suatu sol besi (III) oksida hidrat. Garam kromium dan
aluminium juga terhidrolisis dengan cara ini. Akhirnya, penguraian rangkap antara
hidrogen sulfida dan asam arsenit menghasilkan suatu sol arsen (II) sulfida. Jika
digunakan hidrogen sulfida berlebih, ion HS -- teradsorpsi pada partikel-partikel ter-
sebut, ini menghasilkan suatu muatan negatif yang besar pada partikel, sehingga
mengakibatkan pembentukan suatu . sol yang stabil.

8
Modul Ajar Mata Kuliah

Koloid Gabungan
Koloid gabungan atau koloid amfifilik merupakan golongan ketiga dari penggolongan
koloid. Seperti kita lihat dalam bab 16 yang berhubungan dengan gejala antarmuka
(hlm: 939), molekul-molekul atau ion-ion tertentu disebut amfifil atau zat aktif
permukaan. Amfifil atau zat aktif-permukaan ini berciri mempunyai dua daerah yang
berbeda yang melawan afinitas larutan dalam molekul atau ion yang sama. Jika ada dalam
suatu medium cair dengan konsentrasi rendah, amfifil berada terpisah dan mempunyai
ukuran seperti subkoloid. Jika konsentrasi ditingkatkan, terjadi agregasi pada suatu
jangkauan konsentrasi yang sempit. Agregat ini, yang bisa mengandung 50 monomer atau
lebih, disebut misel. Karena garis tengah dari tiap misel adalah 50 A, misel berada dalam
daerah ukuran koloid. Konsentrasi di mana misel ini terbentuk disebut konsenstrasi misel
kritis (critical micelle concentration) atau cmc
Fenomena terbentuknya misel dapat diterangkan sebagai berikut: Di bawah cmc,
konsentrasi amfifil yang mengalarni adsorpsi pada antarmuka udara-air meningkat pada
waktu konsentrasi total amfifil dinaikkan. Akhirnya tercapai suatu titik di mana antarmuka
dan fase bulk keduanya menjadi jenuh dengan monomer. Ini adalah cmc. Tiap penambahan
amfifil selanjutnya yang melebihi konsentrasi ini akan mengagregasi membentuk misel dan
energi bebas sistem dikurangi dengan cara ini. Efek miselisasi pada beberapa sifat fisik
larutan yang mengandung zat aktif permukaan dapat dilihat pada Gambar 17-3. Perlu
dicatat bahwa tegangan permukaan menurun sampai ke cmc: Dari persamaan adsorpsi
Gibbs (hlm. 944), ini berarti meningkatnya adsorpsi antarmuka. Di atas cmc, tegangan
permukaan pada pokoknya tetap konstan, yang menunjukkan bahwa antarmuka menjadi
jenuh dan terbentuk misel.
Dalam hal amfifil di dalam air, rantai hidrokarbon menghadap ke dalam misel, jadi
pada dasarnya rantai tersebut menghadap
lingkungan hidrokarbonnya. Bagian-bagian
polar dari amfifil mengelilingi inti
hidrokarbon ini dan berhubungan dengan
molekul-molekul air dari fase kontinu.
Agregasi juga terjadi dalam cairan-cairan
nonpolar. Tetapi molekul-molekul tersebut
sekarang dibalik, kepala polar menghadap ke
dalam, sedangkan rantai-rantai hidrokarbon
berhubungan dengan fase kontinu yang
bersifat nonpolar. Keadaan ini terlihat dalam
Gambar, 17-4, yang juga menunjukkan

9
Modul Ajar Mata Kuliah

beberapa bentuk yang dipostulatkan untuk misel: Tampaknya misel yang berbentuk bulat
berada pada konsentrasi yang relatif dekat dengan cmc. Pada konsentrasi yang lebih tinggi
cenderung terbentuk misel laminar dan bentuk misel ini:berada dalam kesetimbangan
dengan misel bulat. Janganlah menganggap misel sebagai partikel padat. Masing-masing
molekut yang membentuk misel berada dalam kesetimbangan dinamis dengan monomer-
nya dalam bulk dan pada antar muka.

Tabel 3 Perbandingan Sifat Sol Koloid *


Liofilik Gabungan (Amfifilik) Liofobik
Fase terdispers umumnya tdd Fase terdispers tdd agregat (misel) Fase terdispers biasanya tdd
molekul organic yang terletak dari molekul-molekul organic kecil partikel anorganik, seperti emas
dalam daerah ukuran koloid atau ion-ion yang mempunyai atau perak
ukuran individual dibawah ukuran
koloid
Molekul-kolekul fase dispers Bagian hidrofilik dan lipofilik dari Jika ada, terjadi sedikit interaksi
mengalami solvasi, yakni molekul mengalami solvasi, (solvasi) antara partikel-partikel
molekul-molekul tersebut bergantung pada apakah medium dan medium dispersi
bergabung dengan molekul- disperse air atau bukan air
molekul yang membentuk
medium dispers
Molekul-molekul menyebar Agregat koloid terbentuk secara Bahan tidak menyebar secara
secara spontan membentuk spontan bila konsentrasi amfifil spontan oleh karena itu harus
larutan koloid melebihi konsentrasi misel kritis digunakan prosedur khusus untuk
(cmc) menghasilkan dispersi koloid
Viskositas medium dispersi Viskositas sistem meningkat Viskositas medium dispersi tidak
biasanya sangat meningkat dengan meningkatnya konsentrasi banyak meningkat dengan adanya
dengan adanya fase terdispers. amfifil, serta jumlah miselmnkt dan partikel koloid liofilik yang
Pada konsentrasi yang cukup menjadi tidak simetris cenderung untuk tidak mengalami
tinggi sol bisa menjadi suatu gel solvasi dan simetris.
Dispersi umumnya stabil dengan Dalam larutan air konsentrasi Tidak stabil dengan adanya
adanya elektrolit. Dispersi misel kritis dikurangi dengan elektrolit walaupun dengan
tersebut mungkin mengalami penambahan elektrolit. Pada konsentrasi yang sangat kecil. Ini
salting-out (pengusiran oleh konsentrasi yang sangat tinggi disebabkan oleh netralisasi
garam) pada konsentrasi bisa terjadi “salting -out”. muatan pada partikel-partikel.
elektrolit yang sangat mudah Koloida liofilik memakai suatu efek
larut yang sangat tinggi pelindug.

*) dari A.Martin, Farmasi Fisik 2, hal 987.

10
Modul Ajar Mata Kuliah

SIFAT-SIFAT OPTIK KOLOID


Efek Faraday-Tyndall.
Bila suatu berkas cahaya yang kuat dilewatkan meialui sol koloid, akan terlihat
suatu kerucut yang dihasilkan dari pemendaran cahaya oleh partikel-partikel koloid._Hal
ini disebut Efek Faraday-Tyndall.
Ultramikroskop; dikembangkan oleh Zsigmondy. Dengan alat ini dapat diuji
titik-titik cahaya yang menimbulkan kerucut Tyndall. Seberkas cahaya yang kuat
dilewatkan melalui sol yang berlatar belakang pelap dari sudut kanan ke bidang
pengamatan. Walaupun partikel=partikel tidak dapat dilihat secara langsung, namun
dapat , diamati- spot terang yang sesuai dengan partikel, serta dapat dihitung.

Mikroskop Elektron. Sekarang, penggunaan ultramikroskop sudah berkurang, karena


ultramikroskop seringkali tidak dapat digunakan untuk melihat koloida liofilik.
Mikroskop elektron sekarang banyak digunakan untuk mengamati ukuran, bentuk dan
struktur partikei-partikel koloid. Mikroskop elektron mampu menghasilkan gambar
partikel-partikel secara aktual, bahkan mendekati dimensi molekular.
Keberhasilan mikroskop elektron karena daya resolusinya yang tinggi, yang bisa
didefinisikan sebagai batasan d, jarak tetkecil dua objek dipisahkan tapi masih tetap
dapat dibedakan. Makin kecil panjang-gelombang radiasi yang digunakan, makin kecil d
dan makin besar daya resalusi-nya. Mikroskop optik menggunakan cahaya tampak
sebagai sumber sinar dan hanya sanggup meresolusi dua partikeL yang dipisahkan oleh
kixa-kira 2000 A. Sumber sinar mikroskap elektron adalah seberkas elektron yang
berenergi tutggi dan mempunyai panjang-gelombang pada daerah 0,1 A. Dengan
peralatan tersebut, menghasilkan d kira-kira 5 A, suatu kekuatan resolusi yang jauh
meningkat melebihi mikroskop optik.

Pemendaran Cahaya (Light Scattering). Sifat ini berdasarkan efek Tyndall-Faraday


dan merupakan metode yang banyak digunakan untuk menentukan berat molekul koloid.
Sifat ini juga digunakan untuk memperoleh informasi seperti bentuk dan ukuran partikel.
Pemendaran dapat diuraikan dalam batasan kekeruhan, T, yakni penurunan fraksional
intensitas karena pemendaran ketika cahaya melewati l cm larutan. Pada suatu
konsentrasi fase terdispers tertentu, kekeruhan sebanding dengan berat molekul koloida
liofilik. Karena kebanyakan koloida liofilik mempunyai turbiditas (kekeruhan) reudah ,
maka relatif lebih mudah mengukur cahaya yang terpendar pada suatu sudut tertentu
terhadap berkas sinar, bukan mengukur cahaya yang ditransmisikan.

11
Modul Ajar Mata Kuliah

Kekeruhan kemudian dapat dihitung dari intensitas cahaya yang tersebar dengan
syarat dimensi partikel kecil dibandingkan dcngan panjang-gelombang yang
digunakan. Berat molekul koioid bisa didapatkan diiri pefsamaan berikut:
Hc/r = l /M + 2Bc
di mana r adalah kekeruhan, c konsentrasi zat terlarut dalam g/etn 3 larutan. M berat
molekul rata-rata berat dan B konstanta interaksi (lihat tekanan osmotis, hlm. 922-944).
H adalah konstanta untuk suatu sistern terterttu dan sama dengan
32  3n2 (dn/dc)2/3  4 N

di mana n adaiah indeks refraksi larutan dengan konsentrasi c pada suatu panjang-
gelombang dalam cm -1 (dn/dc) adalah perubahan dalam indeks refraksi dengan
konsentrasi pada c, dan N adalah bilangan Avogadro: Plot Hc/r terhadap konsentrasi
menghasilkan suatu garis lurus dengan kemiringan 2B. 1/M merupakan intersep pada
sumbu Hc/r. Kebalikan dari intersep tersebut merupakan berat molekuI koloid.
Bila molekul asimetris, intensitas cahaya tersebut bervariasi dengan berbedanya
sudut pengamatan. Dengan data tersebut dapat diperkirakan bentuk dan ukuran partikel.
Pemendaran sinar telah digunakan untuk -menyelidiki protein, polimer sintetis, koloid
gabungan, dan sol liofobik.
Chang dan Cardinal inenggunakan pemendaran sinar untuk mengkaji pola
penggabungan-sendiri (self-association) dalam larutan air dari garam-garam empedu,
natrium deoksikolat dan natrium taurodeoksikolat. Analisis data menunjukkan bahwa
garamgaram empedu bergabung membentuk dimer, trimer, dan tetramer serta agregat
yang lebih besar dengan ukuran yang_ berbeda-beda.
Warna mencolok dari kebanyakan koloid disebabkan aleh absorbsi cahaya dengan
panjang-gelombang tertentu. Dispersi koloid emas klonda tereduksi berwarna merah
gelap; Ag proteinat, larutan Argirol dan larutan Protargol berwarna coklat, serta
dispersi koloid perak iodide berwarna kuning,

--------ooo000-------

12
Modul Ajar Mata Kuliah

RANG KUMAN

1. Sistem dispersi adalah sistem dimana suatu zat tersebar merata (fase terdispersi) di
dalam zat lain (fase pendispersi atau medium). Fase terdispersi bersifat diskontinu
(terputu-putus) sedangkan medium disperse bersifat kontinu.
2. Klasifiasi sistem disperse berdasarkan ukuran partikel terdiri atas tiga bagian yaitu :
disperse molecular, disperse koloid, dan disperse kasar.
3. Disperse moleculer yaitu Partikel zat yang didispersikan berukuran lebih kecildari 1
nm. Partikel tidak terlihat dalam mikroskop electron, dapat melewati ultrafiltrasi dan
membrane semipermeabel, mengalami difusi cepat. Contohnya seperti larutan.
4. Disperse kasar yaitu ukuran partikel lebih besar dari 0,5 µm (µ). Partikel terlihat
dibawah mikroskop; tidak dapat melewati kertas saring normal atau mendialisis
melalui membrane semipermeabel; partikel-partikel tidak mendifusi.. Contohnya
suspensi.
5. Diperse koloid yaitu suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau
lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang
dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah).
Dimana di antara campuran homogen dan heterogen terdapat sistem pencampuran
yaitu koloid, atau bisa juga disebut bentuk (fase) peralihan homogen menjadi
heterogen.

13
Modul Ajar Mata Kuliah

TES FORMATIF

1. Sebutkan contoh dari efek tyndall


Jawab: berkas sinar matahari yang menembus pagi hari yang berkabut akan tampak
jelas
2. Sebutkan sifat dari koloid?
Jawab: efek tyndall, gerak brown, elektroforesis, adsorbs, koagulasi
3. Sebutkan apa-apa saja yang termasuk dalam sistem dispersi?
Jawab :
 Dipersi Molekuler (larutan)
 Disperi kasar (suspensi)
 Dispersi halus (koloid)

DAFTAR PUSTAKA

Martin, A., 1993, Farmasi Fisika : Bagian Larutan dan Sistem Dispersi, Gadjah Mada
University Press, Jogjakarta.
Petrucci, R. H., 1985, General Chemistry, Principles and Application, 4thEd., Collier Mac
Inc., New York.

14