Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keadaan atau gejala terhambatnya gerakan sisa makanan di saluran
pencernaan sehingga tidak dapat buang air besar (defekasi) secara lancar dan
teratur. Obstipasi merupakan konstipasi kronis, yaitu kesukaran buang air
besar yang terus-menerus sehingga feses mengeras. Pada anak usia 1-4 tahun
yang mendapat diet rendah serat dengan frekuensi buang air besar mula-mula
1-2 kali sehari dapat berubah menjadi sekali dalam 2 hari. Berdasarkan
penyebab utama, obstipasi dibedakan menjadi 2 macam yaitu : obstipasi
sampel dan obstipasi simtomatik.
Angka kejadian Obstipasi yang dialami oleh Bayi Baru Lahir
diantaranya Obstipasi yang berhubungan dengan saluran pencernaan tidak
lancar dan teratur karena asupan nutrisi yang kurang adekuat. Selain itu
Obstipasi bisa terjadi karena kelainan kongenital seperti,atresia ani dan
megakolon (Hirscprung). Antara 8% sampai 12% Obstipasi terjadi kelainan
kongenital, 88% sampai 92% Obstipasi yang berhubungan dengan saluran
pencernaan tidak lancar dan teratur karena asupan nutrisi yang kurang
adekuat.
Adapun penyebab dari kejadian Obstipasi disebabkan karena susu
botol yang kurang baik kualitasnya. Selain itu dehidrasi akibat kurang minum,
kurang mengkonsumsi makanan berserat, atau efek samping penggunaan obat
(misalnya obat yang mengandung parasimpatolik).
Untuk mengatasi gangguan Obstipasi, ada beberapa cara untuk
mengatasi masalah ini yaitu Dengan cara pendekatan komunikasi teraupetik
dengan caramemberitahukan penyebab terjadinya Obstipasi dan cara
mengatasinya Obstipasi pada ibu. sehingga ibu lebih kooperatif menerapkan
apa yang diberikan bidan dengan baik.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi dari Obstipasi?
2. Apa Saja Etiologi dari Obstipasi?
3. Apa Saja Penyebab Terjadinya Obstipasi?
4. Bagaimana Tanda dan Gejala dari Obstipasi?
5. Bagaimana patofosiologi dan patologis dari Obstipasi ?
6. Bagaimana Diagnosa dari Obstipasi?
7. Apa Saja Pembagian dari Obstipasi?
8. Apa Saja Jenis dari Obstipasi?
9. Komplikasi apa yang terjadi jika mengalami Obstipasi ?
10. Bagaimana cara penatalaksanaan dalam menghadapi Obstipasi ?

C. Tujuan
1. Untuk Memahami Definisi dari Obstipasi?
2. Untuk Memahami Etiologi dari Obstipasi?
3. Untuk Memahami Penyebab Terjadinya Obstipasi?
4. Untuk Memahami Tanda dan Gejala dari Obstipasi?
5. Untuk Memahami Bagaimana patofosiologi dan patologis dari Obstipasi ?
6. Untuk Memahami Diagnosa dari Obstipasi?
7. Untuk Memahami Pembagian dari Obstipasi?
8. Untuk Memahami Jenis dari Obstipasi?
9. Untuk Memahami Komplikasi apa yang terjadi jika mengalami Obstipasi
?
10. Untuk Memahami cara penatalaksanaan dalam menghadapi Obstipasi ?

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi
Obstipasi adalah penimbunan feces yang keras akibat adanya penyakit
atau adanya obstruksi pada saluran cerna atau biasa didefenisikan sabagai
tidak adanya pengeluaran tinja selama 3 hari atau lebih. (Sudarti, dkk, 2012,
Buku ajar asuhan kebidanan neonatus, bayi, dan balita).
Obstipasi berasal dari bahasa latin ob berarti in the way
adalah perjalanan dan stipare yang berarti to compress adalah menekan.
Secara istilah obstipasi adalah bentuk konstipasi parah dimana biasanya
disebabkan oleh terhalangnya pergerakan feses dalam usus.
Secara umum, obstipasi adalah pengeluaran mekonium tidak terjadi
pada 24 jam pertama sesudah kelahiran atau kesulitan atau keterlambatan
pada faeces yang menyangkut konsistensi faeces dan frekuensi berhajat.
Sedangkan pada neonatus lanjut didefinisikan sebagai tidak adanya
pengeluaran feses selama 3 hari atau lebih.
Ada beberapa variasi pada kebiasaan buang air besar yang normal.
Lebih dari 90% bayi baru lahir akan mengeluarkan mekonium dalam 24 jam
pertama, sedangkan sisanya akan mengeluarkan mekonium dalam 36 jam
pertama kelahiran. Jika hal ini tidah terjadi, maka harus dipikirkan adanya
obstipasi. Akan tetapi, harus diingat bahwa ketidakteraturan defekasi
bukanlah suatu obstipasi karena pada bayi yang menyusu dapat terjadi
keadaan tanpa defekasi selama 5-7 hari dan tidak menunjukkan adanya
gangguan feses karena feses akan dikeluarkan dalam jumlah yang banyak
sewaktu defekasi. Hal ini masih dikatakan normal. Menurut data WHO,
keluhan obstipasi dapat terjadi pada segala usia dari bayi sampai orang tua.
pada bayi angka kejadian ini bisa mencapai 30-40% yang dapat mengalami
masalah dengan keluhan obstipasi ini. Di Indonesia sendiri angka insidennya
belum ada yang menjelaskan secara nominal tanpa melihat etiologinya,

3
sedangkan berdasarkan etiologi obstipasi parsial didapatkan 10-15% dari
seluruh kejadian obstipasi. angka kejadian obstipasi pada bayi berdasarkan
penyebabnya memiliki frekuensi yang berbeda-beda berdasarkan keadaan
yang mendasarinya.

B. Etiologi
1. Kebiasaan Makan
Obstipasi dapat timbul bila tinja terlalu kecil untuk membangkitkan
buang air besar. keadaan ini terjadi akibat dari kelaparan, dehidrasi,
makanan kurang mengandung selulosa.
2. Hipotiroidisme
Obstipasi merupakan gejala dari dua keadaan yaitu kreatinisme dan
myodem.dimana tidak terdapat cukup eskresi hormone tiroid semua
proses metabolisme berkurang.
3. Keadaan-Keadaan Mental
Faktor kejiwaan memegang peranan penting terhadap terjadinya
obstipasi, terutama depresi berat sehingga tidak mempedulikan
keinginannya untuk buang air besar.biasanya terjadi pada anak usia 1-2
tahun.anak keterbelakangan mental sulit dilatih untuk buang air besar.
4. Penyakit Organis
Obstipasi bisa terjadi berganti-ganti dengan diare pada kasus
carcinoma colon dan divericulitus. Obstipasi ini terjadi bila buang air
besar sakit dan disengaja dihindari seperti pada fistula ani dan wasir yang
mengalami thrombosis.
5. Kelainan Kogenital
Adanya penyakit seperti atresia, stenosi, hirscprung, obstruksi bolos
usus ileus mekonium atau sumbatan mekonium. Hal ini dicurigai terjadi
pada neonatus yang tidak mengeluarkan mekonium pada 36 jam pertama.

4
6. Penyakit Lain
Misalnya karna diet yang salah, yang tidak adanya serat selulosa untuk
mendorong terjadinya peristaltic. (Sudarti, dkk. 2012)

C. Penyebab terjadinya obstipasi


1. Obstipasi akibat obstruksi dari interalumen usus meliputi akibat adanya
kanker dalam dinding usus.
2. Obstipasi akibat obstruksi dari ekstralumen usus, biasanya akibat
penekanan usus oleh masa intraabdomen misalnya adanya tumor dalam
abdomen yang menekan rectum.
3. Penyaluran makanan yang kurang baik, misalnya masukan makanan bayi
muda kurang mengandung air/gula, sedangkan pada bayi lebih tua
biasanya karena makanan yang kurang mengandung polisakarida atau
serat.
4. Kemungkinan adanya gangguan pada usus seperti pada penyakit
Hirscprung yang berarti usus tidak melakukan gerakan peristaltik.

D. Tanda dan Gejala


1. Pada neonatus jika tidak mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama,
pada bayi jika tidak mengeluarkan feses selama 3 hari atau lebih
2. Sakit dan kejang pada perut
3. Bayi sering menangis
4. Susah tidur dan gelisah
5. Kadang-kadang muntah
6. Abdomen distensi (kembung, karena usus tidak berkontraksi)
7. Bayi susah/tidak mau menyusui
8. Bising usus yang janggal
9. Turun atau hilangnya nafsu makan
10. Turunnya berat badan

5
11. Mengedan untuk mengeluarkan feses yang keras dapat menyebabkan
robekan kecil pada lapisan mukosa anus (anal fissure) dan perdarahan
12. Konstipasi meningkatakan resiko infeksi saluran kemih (Yeyeh. A, 2012)

E. Patofisiologi dan Pathogenesis


Pada keadaan normal sebagian besar rectum dalam keadaan kosong
kecuali bila adanya refleks masa dari kolon yang mendorong feses ke dalam
rectum yang terjadi sekali atau dua hari.Hal tersebut memberikan stimulus
pada arkus eferen dari refleks defekasi. Dengan adanya stimulus pada arkus
eferen tersebut akan menyebabkan kontraksi otot dinding abdomen sehingga
terjadilah defekasi. Mekanisme usus yang normal terdiri atas 3 faktor yaitu :
1. Asupan cairan yang adekuat
2. Kegiatan fisik dan mental
3. Jumlah asupan yang makana berserat
Dalam keadaan normal, ketika bahan makanan yang akan dicerna
memasuki kolon, air, dan elektrolit diabsorpsi melewati membrane
penyerapan. Penyerapan tersebut berakibat pada perubahan bentuk feses, dari
bentuk cair menjadi bahan yang lunak dan berbentuk. Ketika feses melewati
rectum, feses menekan dinding rectum dan merangsang untuk defekasi.
Apabila anak tidak mengonsumsi cairan secara adekuat, produk dari
pencernaan lebih kering dan padat, serta tidak dapat dengan segera digerakkan
oleh gerakan peristaltic menuju rectum, sehingga penyerapan terjadi terus
menerus dan feses menjadi semakin kering, padat, dan susah dikeluarkan,
serta menimbulkan sakit. Rasa sakit ini dapat menyebabkan kemungkinan
berkembangnya luka. Proses dapat terjadi bila anak kurang aktifitasnya,
menurunnya peristaltic usus, dan lain-lain. Hal tersebut menyebabkan sisa
metabolisme berjalan lambat yang kemungkinan mungkin terjadi penyerapan
air yang berlebihan. Bahan makanan berserat sangat dibutuhkan untuk
merangsang peristaltic usus dan pergerakan normal dari metabolisme dalam

6
saluran pencernaan menuju ke saluran yang lebih besar. Sumbatan pada usus
dapat juga menyebabkan obstipasi. (Sudarti,dkk 2012).

F. Diagnosa Obstipasi
Obstipasi didiagnosa melalui cara:
1. Anamnesis
Riwayat penyakit difokuskan pada gangguan untuk mengeluarkan baik
feses maupun gas. Perlu untuk menentukan apakah termasuk obstruksi
total atau partial. Anamnesis ditujukan untuk menggali lebih dalam
riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat menstimulasi terjadinya
obstipasi.
Dicari juga apakah ada kelainan usus sebelumnya, nyeri pada perut,
dan masalah sistemik lain yang penting, sebagai contoh riwayat adanya
penurunan berat badan yang kronis dan feses yang bercampur darah
kemungkinan akibat obstruksi neoplasma.
Anamnesis juga digunakan untuk Riwayat penyakit difokuskan pada
gagal untuk mengeluarkan baik feses maupun gas. Perlu untuk
menentukan apakah termasuk obstruksi total atau partial. Anamnesis
ditujukan untuk menggali lebih dalam akan riwayat penyakit terdahulu
yang mungkin dapat menstimulasi terjadinya obstipasi. Dicari juga apakah
ada kelainan usus sebelumnya, nyeri pada perut, dan masalah sistemik lain
yang penting, sebagai contoh riwayat adanya penurunan berat badan yang
kronis dan feses yang bercampur darah kemungkinan akibat obstruksi
neoplasma.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan abdomen standar seperti inspeksi, auskultasi, perkusi,dan
palpasi untuk melihat apakah ada massa abdomen, nyeri abdomen, dan
adanya distensi kolon. Obstruksi usus pada fase lanjut tidak terdengar
bising usus Pemeriksaan region femoral dan inguinal untuk melihat
apakah ada hernia atau tidak.

7
Obstruksi kolon bisa terjadi akibat hernia inguinal kolon sigmoid.
Pemeriksaan rectal tussae (colok dubur) untuk mengidentifikasi kelainan
rectum yang mungkin menyebabkan obstruksi dan memberikan gambaran
tentang isi rectum.
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada bayi yang
menderita obstipasi adalah : Pemeriksaan Hb, pemeriksaan urine dan
pemeriksaan penunjang lain yang dianggap perlu.
4. Pencitraan
Pencitraan dengan CT scan, USG, X rays, dengan atau tanpa bahan
kontras.Pencitraan untuk melihat apakah ada dilatasi kolon. Dilatasi kolon
tanpa udara menandakan obstruksi total dan dilatasi kolon dengan terdapat
udara menandakan partial obstruksi parsial. Pencitraan ini dapat
digunakan untuk menentukan letak obstruksi dan penyebab obstruksi.
5. Pemeriksaan Laboratorium
Laboratorium seperti pemeriksaan elektrolit darah (mengetahui
dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit), hematokrit (apakah ada
anemia yang dihubungkan dengan perdarahan usus missal akibat
neoplasma), hitung leukosit (mengetahui infeksi usus). Endoskopi untuk
melihat bagian dalam kolon dan mennetukan sebab obstipasi.

G. Pembagian obstipasi
1. Obstipasi akut, yaitu rectum tetap mempertahankan tonusnya dan defekasi
timbul secara mudah dengan stimulasi eksativa, supositoria atau enema.
2. Obstipasi kronik, yaitu rectum tidak kosong dan dindingnya memulai
peregangan berlebihan secar kronik, sehingga tambahan feses yang datang
mencapai tempat ini tanpa meregang rectum lebih lanjut. Reseptor
sensorik tidak memberika respon, dinding rectum faksid dan tidak mampu
untuk berkontraksi secara efektif. (Sudarti,dkk 2012).

8
H. Jenis obstipasi
1. Obstipasi obstruksi total
Memiliki ciri tidak keluarnya feses dan pemeriksaan colok dubur
didapatkan rectum kosong.kecuali jika obstruksi terdapat pada rectum.
2. Obstipasi obtruksi parsial
Memiliki ciri pasien tidak dapat buang air besar selama beberapa hari
tetapi kemudian dapat mengeluarkan feses disertai gas.keadaan obstruksi
parsial kurang darurat daripada obstruksi total.

I. Komplikasi
1. Pendarahan
2. Ulcerasi
3. Obstruksi parsial
4. Diare intermitten
5. Distensi kolon menghilang sensasi regangan rectum yang mengawali
proses defekasi. (Sudarti, dkk 2012)

J. Penatalaksanaan
Penatalaksanan yang dilakukan adalah:
1. Mencari penyebab obstipasi
2. Menegakkan kembali kebiasaan defekasi yang normal dengan
memperhatikan gizi, tambahan cairan, dan psikis.
3. Pengosongan rektum jika tidak ada kemajuan setelah dianjurkan untuk
menegakkan kembali kebiasaan defekasi. Pengosongan rektum bisa
dilakukan dengan disimpaksi digital, enema minyak zaitun, obat-obatan.
4. Usahakan diet pada ibu dan bayi yang cukup mengandung makanan yang
banyak serat, buah-buahan dan sayur-sayuran.
5. Diet pada obstruksi total dianjurkan tidak makan apa-apa.
6. Pada obstruksi parsial, dapat diberikan makanan cair dan obat-obat oral.

9
7. Pemberian laktasi hanya merupakan tindakan pariatif yaitu hanya bila
diperlukan saja.
8. Peningkatan intake cairan.
9. Bila diduga terdapat penyakit hirscprung dapat dilakukan tes tekanan usus.
10. Bayi kurang dari dua bulan yang menerima susu formula atau ASI yang
memadai bisa diberi 1 sendok teh sirup jagung ringan pada botol pagi dan
malam hari.
11. Apel atau jus prem efektif bagi bayi antara 2 bulan dan 4 bulan.
12. Bayi antara 4 bulan dan 1 tahun dapat sembuh dengan sereal serat tinggi
atau jus aprikot, buah prem kering atau prem.
13. Anak usia lebih dari 1 tahun sebaiknya diberi makan serat tinggi seperti
buah-buahan,kacang polong, sereal,keripik graham,buncis dan bayam.
14. Perawatan medis
Resusitasi untuk mengoreksi cairan dan elektrolit tubuh, nasograstis
decompression pada obstruksi parah untuk mencegah muntah dan aspirasi,
dan pengobatan lain untuk mencegah semakin parahnya sakit.
15. Operasi
Mengatasi obstruksi sesuai dengan penyebab obstruksi dan untuk
mencegah perforasi usus akibat tekanan tinggi. Obstipasi obstruksi total
bersifat sangat urgen untuk dilakukan tindakan segera dimana jika
terlambat dilakukan dapat mengakibatkan perforasi usus, karena terdapat
peningkanan tekanan feses yang besar.

10
BAB III

TINJAUAN ASKEB

Tanggal Pengkajian : 19 Oktober 2018


Waktu : 10.00 WIB
Tempat : RSUD Curup, Ruang Anak
Pengkaji : kelompok 8

I. PENGKAJIAN
A. Data Subjektif
1. Identitas
Nama bayi : An. F
Umur bayi : 1 bulan
Tanggal lahir : 19 September 2018
Pukul : 14.32 WIB
Jenis kelamin : laki-laki
Status : anak ke-2

Nama ibu : Ny. E


Umur : 28 Tahun
Suku/bangsa : Rejang/Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Petani
Alamat : Talang rimbo

11
Nama Ayah : Tn. A
Umur : 31 Tahun
Suku/bangsa : Rejang/Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Petani
Alamat : Talang rimbo

2. Anamnesis
Kunjungan ke :2
Alasan kunjungan : ibu mengatakan BAB bayinya tidak keluar
Keluhan utama : ibu mengatakan bayinya tidak BAB sejak 5 hari yang
lalu.

3. Riwayat kesehatan pre natal


Kesehatan janin selama dalam kandungan : selama hamil ibu tidak
mengalami gangguan kesehatan.
Keluhan :
Trimester I : mual pagi hari dan pusing
Trimester II : Tidak ada keluhan
Trimester III : Tidak ada keluhan

4. Riwayat Natal
Tempat lahir : RSUD Curup
Lahir : 19 September 2018
Pukul : 14.32 WIB
Jenis persalinan : Normal
Berat badan : 3200 gram
Panjang badan : 51 cm
Cacat bawaan : tidak ada

12
Masa gestasi : 32 minggu
Anak ke : 2

5. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan


Mampu melihat objek gerakan dalam rentang 90 derajat, dapat melihat
orang secara terus menerus dan kelenjar air mata sudah mulai berfungsi.
Bisa merespon suara dan mampu menggenggam benda yang diberikan
padanya.

6. Riwayat imunisasi
BCG : umur 2 hari
HB unijek : umur 1 hari
Polio 1 : umur 2 hari
DPT : belum mendapat imunisasi campak
Campak : belum mendapat imunisasi campak

7. Pola higiene personal, nutrisi, istirahat, eliminasi


Mandi : 2kali/hari pagi dan sore
Mengganti pakaian : 2 kali/hari pagi dan sore
Diet/makan : ASI
Tidur/istirahat biasanya : siang pukul 10.00-1400, sore pukul 16.00-
17.00, malam pukul 20.00-04.00.
Tidur/istirahat sekarang : mengalami gangguan bayi siang rewel, malam
tidak tidur.
Eliminasi biasanya : berkemih 7-8 kali/hari, defekasi 3 kali/hari.
liminasi sekarang : berkemih 6-7 kali/hari, defekasi sudah 5 hari
tidak ada.

13
8. Kesehatan Keluarga
Pihak ayah/ibu beserta anggota keluarganya tidak ada mengalami penyakit
menular dan menahun (tifus, hepatitis B, diabetes, TBC, epilepsi,
hidrosefalus).

9. Riwayat Sosial
Yang mengasuh bayi : ibu sendiri
Hubungan dengan anggota : keluarga baik

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
Tanda Vital :
Nadi : 120x/m
Suhu : 37,5⁰C
Pernafasan : 120 x/m
Antropometri :
Berat badan : 3200 gram
Panjang badan : 51 cm
Lingkar kepala : 34 cm
Lingkar dada :30 cm
Lingkar lengan atas : 12 cm

2. Pemeriksaan umum
Pemeriksaan khusus dilakukan dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi.
a. Kepala
Benjolan : tidak ada
Nyeri tekan : tidak ada

14
Kebersihan : bersih
b. Mata
Sclera : an ikhterik
Konjungtiva : an anemis
c. Muka
Pucat : tidak pucat
Oedema : tidak ada
d. Hidung
Benjolan : tidak ada
Pengeluaran : tidak ada
Nyeri tekan : tidak ada
e. Telinga
Bentuk : simetris
Pengeluaran : tidak ada
Nyeri tekan : tidak ada
f. Leher
Pembesaran kelenjar limfe : tidak ada
Pembesaran kelenjar tiroid : tidak ada
Pembesaran vena jugularis : tidak ada
g. Dada
Bentuk : simetris
Nyeri tekan : tidak ada
Kelainan : tidak ada
h. Abdomen
Bentuk : simetris
Nyeri tekan : ada dan kembung
Benjolan : tidak ada
i. Ekstermitas
Jari jari : lengkap
Ujung ekstermitas : tidak pucat

15
Kelainan : tidak ada
j. Kulit
Warna : sawo matang
Kelainan : tidak ada
Turgor : baik
k. Reflek
Rooting : ada
Tonick neck : ada
Sucking : ada
Babinsky : ada
Moro : ada
l. Genitalia
Kebersihan : bersih
Pengeluaran : tidak ada
Konsistensi : tidak ada
Pengeluaran kelenjar scene : tidak ada
Pengeluaran kelenjar bartholine : tidak ada
m. Anus
Kebersihan : tidak bersih
Haemoroid : tidak ada
Pengeluaran : tidak ada

3. Pemeriksaan penunjang
Hb : tidak dilakukan
Rectal tussae : terasa jepitan udara dan mekonium
menyemprot.

16
II. INTERPRESTASI DATA
A. Diagnosis
Bayi usia 1 bulan, dengan obstipasi parsial.

Data subjektif
Ibu mengatakan usia anaknya 1 bulan.
Ibu mengatakan ini anak ke duanya.
Ibu mengatakan bayinya tidak BAB sejak 5 hari yang lalu.
Ibu mengatakan bayinya sering menangis dan tidak mau menyusu.
Ibu mengatakan perut bayinya kembung.

Data objektif
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmetis
TTV
N : 120 x/m
RR : 35 x/m
0
T : 37,5 C
BB lahir : 3200 gram
BB sekarang : 3,9 kg
PB : 51 cm
Lingkar kepala : 34 cm
Lingkar dada : 30 cm
Li-la : 12 cm
JK : laki-laki

B. Masalah
BAB yang tidak keluar selama 5 hari.
anak yang menangis dan tidak mau makan.
perut anak kembung.

17
Anus memerah

C. Kebutuhan
Anjurkan ibu memberikan ASI yang adekuat.
Anjurkan ibu banyak makan makanan yang berserat.
Anjurkan ibu menghentikan pemakaian obat diare.
Berikan terapi obat

III. MASALAH POTENSIAL


Obstipasi total

IV. TINDAKAN SEGERA


Saat ini belum diperlukan

V. INTERVENSI

TUJUAN/KRITERIA INTERVENSI RASIONALISASI


Tujuan: 1. Lakukan informed 1.Diharapkan pasien dan
Setelah dilakukan asuhan consent keluarga mengerti dengan
pasien dapat BAB dengan tindakan yang akan di
lancar lakukan.

- Kriteria : 2. Lakukan anamnesa 2. Untuk mengetahui


KU : Baik identitas pasien serta
- TTV : keluhan yang sedang
o S : 37,50 C dialami dan riwayat
o RR : 35 x/m penyakit yang dimiliki.
o N : 120 x/m

18
2. 3. Jelaskan hasil 3. Agar pasien / keluarga
pemeriksaan kepada mengetahui kondisinya saat
pasien/ keluarga. ini.

4. Anjurkan ibu 4. Diharapkan dengan


memberika ASI yang memberikan ASI sesering
adekuat. mungkin dapat
mengencerkan feces pada
bayi

5.5. Anjurkan ibu banyak 5. Diharapkan dengan


makan makanan yang mengkonsumsi makanan
berserat. berserat seperti sayur dan
buah dapat merangsang
peristaltik usus dan
pergerakan normal dari
metabolisme dalam saluran
cerna menuju kesaluran
pencernaan ke saluran yang
lebih besar.

6. 6. Anjurkan ibu 6. karena asupan makanan


menghentikan pemakaian yang diperoleh bayi didapat
obat diare. dari asupan makanan
ibunya.

7. 7. Berikan terapi obat 7. 7. Diharapkan dengan


memberikan terapi obat
berupa Lactulose 5 ml

19
selama 3 hari pertama.
Sehingga BAB bayi
menjadi lunak.

8. 8. Anjurkan kunjungan 8. Diharapkan dengan


ulang. melakukan kunjungan ulang
bias memantau
perkembangan bayi.

G. IMPLEMENTASI

HARI/TGL/JAM IMPLEMENTASI RESPON PARAF


Tanggal : 19-10- 1. Melakukan informed 1. Pasien / keluarga setuju
2018 consent untuk dilakukan tindakan.
Jam : 10.00
WIB 2. Melakukan pemeriksaan 2. Pemeriksaan fisik dan
fisik dan TTV pada TTV telah dilakukan
pasien. yaitu:
T : 37,50 C
RR : 35 x/m
P : 120 x/m

3. Menjelaskan hasil 3. Keluarga pasien


pemeriksaan kepada mengerti kondisi
pasien/ keluarga. pasien saat ini

4. Menganjurkan ibu untuk 4. Ibu telah menyusui

20
menyusui bayinya sesering bayinya sesering
mungkin tanpa di mungkin tanpa
jadwalkan dijadwalkan

5. Ibu telah
5. Menganjurkan ibu
mengkonsumsi sayur
banyak makan makanan
dan buah buahan
yang berserat

6. Menganjurkan ibu
6. Ibu telah berhenti
menghentikan pemakaian
mengonsumsi obat
obat diare.
diare

7. Memberikan terapi obat


7. Terapi obat telah
dilakukan

8. Menganjurkan
8. Ibu mengerti tentang
kunjungan ulang
kunjungan ulang dan akan
kembali 3 hari lagi kalau
BAB bayi belum keluar
juga

21
H. EVALUASI

HARI/TANGGAL EVALUASI
Tanggal : 19 Oktober 2018  Subjektif:
Jam : 10.00 WIB  Ibu paham dengan penjelasan yang di
berikan
Ibu paham dan mau lakukan apa yang di
anjurkan.
Ibu bersedia untuk mengkonsumsi
makanan yang telah dijelaskan
Ibu mengerti dan mau menghentikannya.
Ibu menerima obat yang diberikan.
Ibu berjanji akan datang apabila ada
keluhan / masalah pada bayinya.

Objektif
keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
TTV :
S : 37,50 C
P : 35 x/m
N : 120 x/m
A: Masalah teratasi
P: intervensi di hentikan

22
BAB IV
TINJAUAN KASUS

Berdasarkan kasus diatas, penulis membuatkan pembahasan setelah melakukan


asuhan kebidanan pada bayi “F” (1 bulan). Bayi mengalami obstipasi parsial. Tahap-
tahap manajemen kebidanan yang dilakukan terdiri dari pengkajian, interpretasi data,
diagnosa dan masalah potensial, identifikasi kebutuhan yang memerlukan
penanganan segera, rencana asuhan dan pelaksanaan tindakan serta evaluasi.
Dalam bab ini, dijabarkan beberapa persamaan antara pembahasan teoritis
dengan kenyataan yang ada dilapangan dan juga menguraikan kesenjangan-
kesenjangan yang ditemui serta mencari jalan keluarnya. Sesuai dengan langkah-
langkah dalam manajemen kebidanan. Pembahasan kasusnya dapat di uraikan sebagai
berikut :

1. Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian penulis tidak menemukan kesulitan yang
berarti, baik dalam mengumpulkan data subjektif dan objektif , dimana didukung
oleh peralatan yang memadai, pencatatan yang baik dan orang tua pasien yang
bersedia menjawab pertanyaan dengan baik. Dibawa ini penulis uraikan data yang
diperoleh dengan teori yang ada,antara lain :
a. Riwayat prenatal, natal, pertumbuhan dan perkembangan
Riwayat prenatal dan natal anak tidak bermasalah
b. Riwayat imunisasi
Ibu selalu membawa anaknya untuk di imunisasi
c. Pola personal higiene, nutrisi, istirahat, dan eliminasi
Personal higiene bayi terjaga dengan baik. Akan tetapi sekarang bayi
mengalami masalah pemenuhannutrisi dimana bayi tidak mau menyusu,
rewe, tidak bisa tidur dan BAB tidak keluar selama 5 hari yang lalu.

23
d. Riwayat penyakit keluarga
Pihak ayah/ibu beserta anggota keluarganya tidak ada mengalami penyakit
menular dan menurun (tifus, hepatitis, diabetes, epilepsi, hidrosefalus).
e. Riwayat social
Yang mengasuh bayi adalah ibu sendiri. Hubungan dengan anggota keluarga
baik
f. Pemeriksaan umum dan khusus
Dari hasil pemeriksaan, pada kasus ini ditemukan masalah anak mengalami
masalah dimana buang air besarnya tertahan selama 5 hari. Ini tergolong jenis
obstipasi parsial. Ditemukan masalah pada abdomen dan anus bayi, serta bayi
sangat rewel sekali.
g. Pemeriksaan penunjang
Untuk menguatkan diagnosa, dilakukan uji colok dubur (rectal tusse) pada
anus bayi, dan BAB menyemprot terasa ada jepitan udara.

2. Interpretasi data
a. Diagnosa
Bayi usia 1 bulan, KU bayi baik dengan obstipasi parsial.
b. Masalah
Bayi mengalami masalah pengeluaran feses, yang tidak keluar selama 5 hari.
anak yang menangis dan tidak mau makan. perut anak kembung srta anus
memerah.
c. Kebutuhan
Kebutuhan yang diperlukan anak adalah :
1) Anjurkan ibu memberikan ASI yang adekuat.
2) Anjurkan ibu banyak makan makanan yang berserat.
3) Anjurkan ibu menghentikan pemakaian obat diare.
4) Berikan terapi obat

24
2. Antisipasi Diagnosa Dan Masalah
Disini penulis menemukan masalah potensial bisa terjadi obtruksi total.
3. Membutuhkan Tindakan Segera dan Kolaborasi
Saat ini belum dibutuhkan karena sesuai dengan tinjauan teori masih bisa di atasi.
4. Perencanan Tindakan
Perencanan tindakan mengacu pada masalah yang kita temui waktu melakukan
pengkajian yang sesuai dengan kondisi pasien, yaitu :
a. Informasikan pada ibu hasil pemeriksaan
b. Anjurkan ibu memberikan ASI yang adekuat.
c. Anjurkan ibu banyak makan makanan yang berserat.
d. Anjurkan ibu menghentikan pemakaian obat diare.
e. Berikan terapi obat
f. Anjurkan kunjungan ulang.

6. Pelaksanan Tindakan
Pada tahap ini merupakan pelaksanaan terhadap rencana yang telah dibuat.
7. Evaluasi
Merupakan tahap akhir proses manajemen kebidanan berdasarkan laporan kasus
yang penulis lakukan selama melakukan manajemen asuhan terhadap pasien
dengan obstipasi parsial. Penulis mengambil keputusan bahwa pada dasarnua
semua tujuan yang direncanankan dapat berhasil dengan baik.

25
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Obstipasi merupakan salah satu bentuk gangguan pencernaan di mana
individu mengalami perubahan dalam kebiasaan defekasi normal yang di
karakteristikan dengan penurunan frekuensi dan pengeluaran feses yang keras
dan kering. Salah satu bentuk konstipasi yaitu obstipasi yang merupakan
konstipasi akibat lumen usus. Gejala obstipsi berupa pengeluaran feses yang
keras dalam jangka waktu 3-5 hari, kadang di sertai adanya perasaan perut
penuh akibat adanya feses atau gas dalam perut. Obstipasi dapat di diagnosis
secara klinis. Penanganan obstipasi dapat di lakukan dengan cara medis,
oprasi, maupun diet. Banyak gangguan pencernaan di sebabkan karena pola
makan yang salah oleh individunya. Oleh sebab itu pengaturan pola makan
yang baik sangat di harapkan agar dapat mencegah gangguan pencernaan
seperti obstipasi mau pun konstipasi.

B. Saran
a. Untuk mahasiswa
Di harapkan mahasiswa lebih memahami tentang penyakit obstipasi pada
bayi baru lahir dan dapat menambah wawasan dan pengetahuan
mahasiswa tentang penyakit obstipasi .
b. Untuk masyarakat
Di harapkan masyarakat lebih mengetahui tanda dan gejala serta
penanganan untuk obstipasi, dan menjaga pola makan agar tidak terjadi
obstipasi.
c. Untuk pelayanan kesehatan
Di harapkan petugas kesehatan lebih waspada terhadap kasus obstipasi
dan lebih cepat dalam penanganan terhadap pasien yang mengalami
obstipasi.

26
DAFTAR PUSAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku saku patofisiologi, Jakarta: EGC


Fauziah, Afroh. 2013. Asuhan kebidanan neonatus, bayi dan anak balita.
Yogyakarta: Nuha medika
Lia Dewi, Vivian Nanny. 2010. Asuhan neonatus bayi dan anak balita. Jakarta:
selemba medika
Saifuddin, Abdul Bari, 2002, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwonao Prawirjo Hardjo
Sudarti, dkk. 2012. Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Neonatus Resiko Tinggi.
Jakarta: Medical book

27