Anda di halaman 1dari 16

Analisa Gas Darah : Definisi, Pemeriksaan, Nilai Normal Oleh dr.

Ahmad MuhlisinAnalisa gas


darah (AGD) adalah prosedur pemeriksaan medis yang bertujuan untuk mengukur jumlah
oksigen dan karbon dioksida dalam darah. AGD juga dapat digunakan untuk menentukan
tingkat keasaman atau pH darah.Sel-sel darah merah mengangkut oksigen dan karbon dioksida
yang juga dikenal sebagai gas darah ke seluruh tubuh. Saat darah melewati paru-paru, oksigen
masuk ke dalam darah sementara karbon dioksida terlepas dari sel darah dan keluar ke paru-
paru. Dengan demikian pemeriksaan analisa gas darah dapat menentukan seberapa baik paru-
paru dalam bekerja memindahkan oksigen ke dalam darah dan mengeluarkan karbon dioksida
dari darah. Ketidakseimbangan antara oksigen, karbon dioksida, dan tingkat pH darah dapat
mengindikasikan adanya suatu penyakit atau kondisi medis tertentu. Sebagai contoh pada
gagal ginjal, gagal jantung, diabetes yang tidak terkontrol, pendarahan, keracunan zat kimia,
overdosis obat, dan syok.Indikasi Pemeriksaan Analisa Gas DarahPemeriksaan AGD akan
memberikan hasil pengukuran yang tepat dari kadar oksigen dan karbon dioksida dalam tubuh.
Hal ini dapat membantu dokter menentukan seberapa baik paru-paru dan ginjal
bekerja.Biasanya dokter memerlukan tes analisa gas darah apabila menemukan gejala-gejala
yang menunjukkan bahwa seorang pasien mengalamai ketidakseimbangan oksigen, karbon
dioksida, atau pH darah. Gejala yang dimaksud meliputi:Sesak napasSulit
bernafasKebingunganMualPerlu diingat bahwa ini merupakan gejala dari suatu penyakit yang
menyebabkannya seperti pada asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).Di sisi lain,
apabila dokter sudah mencurigai adanya penyakit, maka pemeriksaan analisa gas darah juga
akan diperlukan, seperti pada kondisi-kondisi di bawah ini:Penyakit paru-paru, misalnya asma,
PPOK, pneumonia, dan lain-lain.Penyakit ginjal, misalnya gagal ginjal.Penyakit metabolik,
misalnya diabetes melitus atau kencing manisCedera kepala atau leher yang mempengaruhi
pernapasanDengan melakukan pemeriksaan ini, selain untuk menentukan penyakit, dokter juga
bisa memantau hasil perawatan yang sebelumnya diterapkan kepada pasien. Untukk tujuan ini,
pemeriksaan AGD sering dipesan bersama dengan tes lain, seperti tes glukosa darah untuk
memeriksa kadar gula darah dan tes darah kreatinin untuk mengevaluasi fungsi ginjal. Prosedur
Pemeriksaan AGD Pada pemeriksaan ini diperlukan sedikit sampel darah yang diambil dari
pembuluh darah arteri yang ada di pergelangan tangan, lengan, atau pangkal paha. Oleh sebab
itu prosedur ini disebut juga dengan pemeriksaan analisa gas darah arteri.Dokter atau petugas
lab pertama-tama akan mensterilkan tempat suntikan dengan cairan antiseptik. Setelah mereka
menemukan arteri, mereka akan memasukkan jarum ke dalam arteri dan mengambil darah.
Mungkin Anda akan sedikit merasakan sakit saat jarum suntik masuk ke dalam kulit, tapi tentu
ini tidak begitu menyakitkan. Setelah dirasa cukup, kemudian jarum dicabut, dan luka tusukan
ditutup dengan perban.Sampel darah kemudian akan dianalisa oleh mesin portabel atau mesin
yang ada di laboratorium. Sampel darah harus dianalisis dalam waktu 10 menit dari waktu
pengambilan untuk memastikan hasil tes yang akurat.Nilai Normal Analisa Gas DarahHasil
analisa gas darah dapat membantu dokter mendiagnosa berbagai penyakit atau menentukan
seberapa baik perawatan yang telah diterapkan, hasil akan akan didapat meliputi:pH darah
arteri, menunjukkan jumlah ion hidrogen dalam darah. pH kurang dari 7,0 disebut asam, dan
lebih besar pH dari 7,0 disebut basa, atau alkali. Ketika pH darah menunjukkan bahwa darah
lebih asam, maka hal ini terjadi akibat kadar karbon dioksida yang lebih tinggi. Sebaliknya
ketika pH darah tinggi yang menunjukkan bahwa darah lebih basa, maka hal ini terjadi akibat
kadar bikarbonat yang lebih tinggi.Bikarbonat adalah bahan kimia yang membantu mencegah
pH darah menjadi terlalu asam atau terlalu basa.Tekanan parsial oksigen adalah ukuran
tekanan oksigen terlarut dalam darah. Hal ini menentukan seberapa baik oksigen bisa mengalir
dari paru-paru ke dalam darah.Tekanan parsial karbon dioksida adalah ukuran tekanan karbon
dioksida terlarut dalam darah. Hal ini menentukan seberapa baik karbon dioksida dapat
mengalir keluar dari tubuh.Saturasi oksigen adalah ukuran dari jumlah oksigen yang dibawa
oleh hemoglobin dalam sel darah merah.Secara umum, nilai normal analisa gas darah adalah
sebagai berikut:pH darah normal (arteri): 7,38-7,42Bikarbonat (HCO3): 22-28 miliekuivalen per
literTekanan parsial oksigen: 75 sampai 100 mm HgTekanan parsial karbon dioksida (pCO2):
38-42 mm HgSaturasi oksigen: 94 sampai 100 persen.Adapun hasil abnormal dapat menjadi
tanda dari kondisi medis tertentu, sebagai berikut:pH darah: < 7,4, Bikarbonat: Rendah, pCO2:
Rendah => Asidosis Metabolik, contohnya pada gagal ginjal, syok, dan ketoasidosis diabetik
(KAD).pH darah: < 7,4, Bikarbonat: Tinggi, pCO2: Tinggi => Asidosis Respiratorik, contohnya
pada penyakit paru-paru, termasuk pneumonia atau PPOK.pH darah: > 7,4, Bikarbonat: Tinggi,
pCO2: Tinggi => Alkalosis Metabolik, contohnya pada muntah kronis, kalium darah rendah
(hipokalemia).pH darah: > 7,4, Bikarbonat: Rendah, pCO2: Rendah => Alkalosis Respiratorik,
contohnya pada Bernapas terlalu cepat, rasa sakit, atau kecemasan.Cara mudah membaca
hasil analisa gas darah (AGD):Jika pH darah rendah (asidosis), maka perhatikan nilai pCO2,
jika tinggi berarti respiratorik dan jika rendah berarti metabolik.Jika pH darah tinggi (alkalosis),
maka perhatikan nilai bikarbonat, jika tinggi berarti metabolik dan jika rendah berarti
respiratorik.Rentang normal dan abnormal dapat bervariasi tergantung pada lab karena
beberapa menggunakan pengukuran atau metode yang berbeda untuk menganalisa sampel
darah. Anda harus selalu bertanya dengan dokter untuk mendiskusikan hasil tes AGD secara
lebih rinci. Dokter akan dapat memberitahu Anda jika ternyata masih dibutuhkan pemeriksaan
lain selain analisa gas darah untuk memastikan penyakit atau pemantauan terapi.
Sumber: Analisa Gas Darah : Definisi, Pemeriksaan, Nilai Normal - Mediskus

Nilai Normal Analisa Gas DarahHasil analisa gas darah dapat membantu dokter mendiagnosa
berbagai penyakit atau menentukan seberapa baik perawatan yang telah diterapkan, hasil akan
akan didapat meliputi:pH darah arteri, menunjukkan jumlah ion hidrogen dalam darah. pH
kurang dari 7,0 disebut asam, dan lebih besar pH dari 7,0 disebut basa, atau alkali. Ketika pH
darah menunjukkan bahwa darah lebih asam, maka hal ini terjadi akibat kadar karbon dioksida
yang lebih tinggi. Sebaliknya ketika pH darah tinggi yang menunjukkan bahwa darah lebih basa,
maka hal ini terjadi akibat kadar bikarbonat yang lebih tinggi.Bikarbonat adalah bahan kimia
yang membantu mencegah pH darah menjadi terlalu asam atau terlalu basa.Tekanan parsial
oksigen adalah ukuran tekanan oksigen terlarut dalam darah. Hal ini menentukan seberapa baik
oksigen bisa mengalir dari paru-paru ke dalam darah.Tekanan parsial karbon dioksida adalah
ukuran tekanan karbon dioksida terlarut dalam darah. Hal ini menentukan seberapa baik karbon
dioksida dapat mengalir keluar dari tubuh.Saturasi oksigen adalah ukuran dari jumlah oksigen
yang dibawa oleh hemoglobin dalam sel darah merah.Secara umum, nilai normal analisa gas
darah adalah sebagai berikut:pH darah normal (arteri): 7,38-7,42Bikarbonat (HCO3): 22-28
miliekuivalen per literTekanan parsial oksigen: 75 sampai 100 mm HgTekanan parsial karbon
dioksida (pCO2): 38-42 mm HgSaturasi oksigen: 94 sampai 100 persen.Adapun hasil abnormal
dapat menjadi tanda dari kondisi medis tertentu, sebagai berikut:pH darah: < 7,4, Bikarbonat:
Rendah, pCO2: Rendah => Asidosis Metabolik, contohnya pada gagal ginjal, syok, dan
ketoasidosis diabetik (KAD).pH darah: < 7,4, Bikarbonat: Tinggi, pCO2: Tinggi => Asidosis
Respiratorik, contohnya pada penyakit paru-paru, termasuk pneumonia atau PPOK.pH darah: >
7,4, Bikarbonat: Tinggi, pCO2: Tinggi => Alkalosis Metabolik, contohnya pada muntah kronis,
kalium darah rendah (hipokalemia).pH darah: > 7,4, Bikarbonat: Rendah, pCO2: Rendah =>
Alkalosis Respiratorik, contohnya pada Bernapas terlalu cepat, rasa sakit, atau
kecemasan.Cara mudah membaca hasil analisa gas darah (AGD):Jika pH darah rendah
(asidosis), maka perhatikan nilai pCO2, jika tinggi berarti respiratorik dan jika rendah berarti
metabolik.Jika pH darah tinggi (alkalosis), maka perhatikan nilai bikarbonat, jika tinggi berarti
metabolik dan jika rendah berarti respiratorik.Rentang normal dan abnormal dapat bervariasi
tergantung pada lab karena beberapa menggunakan pengukuran atau metode yang berbeda
untuk menganalisa sampel darah. Anda harus selalu bertanya dengan dokter untuk
mendiskusikan hasil tes AGD secara lebih rinci. Dokter akan dapat memberitahu Anda jika
ternyata masih dibutuhkan pemeriksaan lain selain analisa gas darah untuk memastikan
penyakit atau pemantauan terapi.
Sumber: Analisa Gas Darah : Definisi, Pemeriksaan, Nilai Normal - Mediskus

ANALISA GAS DARAH

(AGD)

1. Definisi

Gas darah arteri memungkinkan utnuk pengukuran pH (dan juga keseimbangan asam basa),
oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar bikarbonat, saturasi oksigen, dan kelebihan atau
kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah secara luas digunakan sebagai
pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun.
Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai tindakan penunjang yang
dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan suatu diagnosa hanya dari penilaian analisa gas
darah dan keseimbangan asam basa saja, kita harus menghubungkan dengan riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik, dan data-data laboratorium lainnya.
Pada dasarnya pH atau derajat keasaman darah tergantung pada konsentrasi ion H + dan dapat
dipertahankan dalam batas normal melalui 3 faktor, yaitu:

 Mekanisme dapar kimia

Terdapat 4 macam dapar kimia dalam tubuh, yaitu:

1. Sistem dapar bikarbonat-asam karbonat

2. Sistem dapar fosfat

3. Sistem dapar protein

4. Sistem dapar hemoglobin

 Mekanisme pernafasan

 Mekanisme ginjal

Mekanismenya terdiri dari:

1. Reabsorpsi ion HCO3-

2. Asidifikasi dari garam-garam dapar

3. Sekresi ammonia

2. Gangguan asam basa sederhana

Gangguan asam basa primer dan


kompensasinya dapat diperlihatkan dengan memakai persamaan yang dikenal dengan
persamaan Henderson-Hasselbach. Persamaan asam basa adalah sebagai berikut:
Persamaan ini menekankan bahwa perbandingan asam dan basa harus 20:1 agar pH dapat
dipertahankan dalam batas normal. Persamaan ini juga menekankan kemampuan ginjal untuk
mengubah bikarbonat basa melalui proses metabolik, dan kemampuan paru untuk mengubah
PaCO2 (tekanan parsial CO2 dalam darah arteri) melalui respirasi. Nilai normal pH adalah 7, 35-
7,45. berikut ini adalah gambaran rentang pH:

Perubahan satu atau dua komponen tersebut menyebabkan gangguan asam dan basa. Penilaian
keadaan asam dan basa berdasarkan hasil analisa gas darah membutuhkan pendekatan yang
sistematis. Penurunan keasaman (pH) darah < 7,35 disebut asidosis, sedangkan peningkatan
keasaman (pH) > 7,45 disebut alkalosis. Jika gangguan asam basa terutama disebabkan oleh
komponen respirasi (pCO2) maka disebut asidosis/alkalosis respiratorik, sedangkan bila
gangguannya disebabkan oleh komponen HCO 3 maka disebut asidosis/alkalosis metabolik.
Disebut gangguan sederhana bila gangguan tersebut hanya melibatkan satu komponen saja
(respirasi atau metabolik), sedangkan bila melibatkan keduanya (respirasi dan metabolik) disebut
gangguan asam basa campuran.

Langkah-langkah untuk menilai gas darah:

1. Pertama-tama perhatikan pH (jika menurun klien mengalami asidemia, dengan dua


sebab asidosis metabolik atau asidosis respiratorik; jika meningkat klien mengalami
alkalemia dengan dua sebab alkalosis metabolik atau alkalosis respiratorik; ingatlah bahwa
kompensasi ginjal dan pernafasan jarang memulihkan pH kembali normal, sehingga jika
ditemukan pH yang normal meskipun ada perubahan dalam PaCO 2 dan HCO3 mungkin ada
gangguan campuran)

2. Perhatikan variable pernafasan (PaCO2 ) dan metabolik (HCO3) yang berhubungan


dengan pH untuk mencoba mengetahui apakah gangguan primer bersifat respiratorik,
metabolik atau campuran (PaCO2 normal, meningkat atau menurun; HCO3 normal,
meningkat atau menurun; pada gangguan asam basa sederhana, PaCO 2 dan HCO3 selalu
berubah dalam arah yang sama; penyimpangan dari HCO 3 dan PaCO2 dalam arah yang
berlawanan menunjukkan adanya gangguan asam basa campuran).

3. Langkah berikutnya mencakup menentukan apakah kompensasi telah terjadi (hal ini
dilakukan dengan melihat nilai selain gangguan primer, jika nilai bergerak yang sama dengan
nilai primer, kompensasi sedang berjalan).

4. Buat penafsiran tahap akhir (gangguan asam basa sederhana, gangguan asam basa
campuran)

 Rentang nilai normal

pH : 7, 35-7, 45 TCO2 : 23-27 mmol/L

PCO2 : 35-45 mmHg BE : 0 ± 2 mEq/L

PO2 : 80-100 mmHg saturasi O2 : 95 % atau lebih

HCO3 : 22-26 mEq/L


 Tabel gangguan asam basa:

Jenis gangguan pH PCO2 HCO3


Asidosis respiratorik akut
N
Asidosis respiratorik terkompensasi sebagian

Asidosis respiratorik terkompensasi penuh N

Asidosis metabolik akut


N
Asidosis metabolik terkompensasi sebagian
Asidosis metabolik terkompensasi penuh N

Asidosis respiratorik dan metabolik

Alkalosis respiratorik akut N


Alkalosis respiratorik tekompensasi sebagian

Alkalosis respiratorik terkompensasi penuh N

Alkalosis metabolik akut N

Alkalosis metabolik terkompensasi sebagian

Alkalosis metabolic terkompensasi penuh


N
Alkalosis metabolik dan respiratorik
Klasifikasi gangguan asam basa primer dan terkompensasi:

1. Normal bila tekanan CO2 40 mmHg dan pH 7,4. Jumlah CO2 yang diproduksi dapat dikeluarkan
melalui ventilasi.
2. Alkalosis respiratorik. Bila tekanan CO2 kurang dari 30 mmHg dan perubahan pH, seluruhnya
tergantung pada penurunan tekanan CO2 di mana mekanisme kompensasi ginjal belum terlibat,
dan perubahan ventilasi baru terjadi. Bikarbonat dan base excess dalam batas normal karena
ginjal belum cukup waktu untuk melakukan kompensasi. Kesakitan dan kelelahan merupakan
penyebab terbanyak terjadinya alkalosis respiratorik pada anak sakit kritis.
3. Asidosis respiratorik. Peningkatan tekanan CO2 lebih dari normal akibat hipoventilasi dan
dikatakan akut bila peninggian tekanan CO2 disertai penurunan pH. Misalnya, pada intoksikasi
obat, blokade neuromuskuler, atau gangguan SSP. Dikatakan kronis bila ventilasi yang tidak
adekuat disertai dengan nilai pH dalam batas normal, seperti pada bronkopulmonari displasia,
penyakit neuromuskuler, dan gangguan elektrolit berat.
4. Asidosis metabolik yang tak terkompensasi. Tekanan CO2 dalam batas normal dan pH di bawah
7,30. Merupakan keadaan kritis yang memerlukan intervensi dengan perbaikan ventilasi dan
koreksi dengan bikarbonat.
5. Asidosis metabolik terkompensasi. Tekanan CO2 < 30 mmHg dan pH 7,30--7,40. Asidosis
metabolik telah terkompensasi dengan perbaikan ventilasi.
6. Alkalosis metabolik tak terkompensasi. Sistem ventilasi gagal melakukan kompensasi terhadap
alkalosis metabolik ditandai dengan tekanan CO2 dalam batas normal dan pH lebih dari 7,50
misalnya pasien stenosis pilorik dengan muntah lama.
7. Alkalosis metabolik terkompensasi sebagian. Ventilasi yang tidak adekuat serta pH lebih dari
7,50.
8. Hipoksemia yang tidak terkoreksi. Tekanan oksigen kurang dari 60 mmHg walau telah diberikan
oksigen yang adekuat
9. Hipoksemia terkoreksi. Pemberian O2 dapat mengoreksi hipoksemia yang ada sehingga normal.
10. Hipoksemia dengan koreksi berlebihan. Jika pemberian oksigen dapat meningkatkan tekanan
oksigen melebihi normal. Keadaan ini berbahaya pada bayi karena dapat menimbulkan retinopati
of prematurity, peningkatan aliran darah paru, atau keracunan oksigen. Oleh karena itu, perlu
dilakukan pemeriksaan yang lain seperti konsumsi dan distribusi oksigen.

3. Tujuan

 Menilai tingkat keseimbangan asam dan basa


 Mengetahui kondisi fungsi pernafasan dan kardiovaskuler

 Menilai kondisi fungsi metabolisme tubuh

4. Indikasi

 Pasien dengan penyakit obstruksi paru kronik

 Pasien deangan edema pulmo

 Pasien akut respiratori distress sindrom (ARDS)

 Infark miokard

 Pneumonia

 Klien syok

 Post pembedahan coronary arteri baypass

 Resusitasi cardiac arrest

 Klien dengan perubahan status respiratori

 Anestesi yang terlalu lama

5. Lokasi pungsi arteri

 Arteri radialis dan arteri ulnaris (sebelumnya dilakukan allen’s test)

 Arteri brakialis

 Arteri femoralis

 Arteri tibialis posterior

 Arteri dorsalis pedis


Arteri femoralis atau brakialis sebaiknya tidak digunakan jika masih ada alternatif lain, karena
tidak mempunyai sirkulasi kolateral yang cukup untuk mengatasi bila terjadi spasme atau
trombosis. Sedangkan arteri temporalis atau axillaris sebaiknya tidak digunakan karena adanya
risiko emboli otak.

Contoh allen’s test:

Cara allen’s test:

Minta klien untuk mengepalkan tangan dengan kuat, berikan tekanan langsung pada arteri
radialis dan ulnaris, minta klien untuk membuka tangannya, lepaskan tekanan pada arteri,
observasi warna jari-jari, ibu jari dan tangan. Jari-jari dan tangan harus memerah dalam 15 detik,
warna merah menunjukkan test allen’s positif. Apabila tekanan dilepas, tangan tetap pucat,
menunjukkan test allen’s negatif. Jika pemeriksaan negatif, hindarkan tangan tersebut dan
periksa tangan yang lain.

6. Komplikasi

 Apabila jarum sampai menebus periosteum tulang akan menimbulkan


nyeri
 Perdarahan

 Cidera syaraf

 Spasme arteri

7. Faktor yang mempengaruhi pemeriksaan AGD

 Gelembung udara

Tekanan oksigen udara adalah 158 mmHg. Jika terdapat udara dalam sampel darah maka ia
cenderung menyamakan tekanan sehingga bila tekanan oksigen sampel darah kurang dari 158
mmHg, maka hasilnya akan meningkat.

 Antikoagulan

Antikoagulan dapat mendilusi konsentrasi gas darah dalam tabung. Pemberian heparin yang
berlebihan akan menurunkan tekanan CO2, sedangkan pH tidak terpengaruh karena efek
penurunan CO2 terhadap pH dihambat oleh keasaman heparin.

 Metabolisme

Sampel darah masih merupakan jaringan yang hidup. Sebagai jaringan hidup, ia membutuhkan
oksigen dan menghasilkan CO2. Oleh karena itu, sebaiknya sampel diperiksa dalam 20 menit
setelah pengambilan. Jika sampel tidak langsung diperiksa, dapat disimpan dalam kamar
pendingin beberapa jam.

 Suhu

Ada hubungan langsung antara suhu dan tekanan yang menyebabkan tingginya PO 2 dan
PCO2. Nilai pH akan mengikuti perubahan PCO2.
Nilai pH darah yang abnormal disebut asidosis atau alkalosis sedangkan nilai PCO2 yang
abnormal terjadi pada keadaan hipo atau hiperventilasi. Hubungan antara tekanan dan saturasi
oksigen merupakan faktor yang penting pada nilai oksigenasi darah
8. Hal-hal yang perlu diperhatikan

 Tindakan pungsi arteri harus dilakukan oleh perawat yang sudah terlatih

 Spuit yang digunakan untuk mengambil darah sebelumnya diberi heparin untuk
mencegah darah membeku

 Kaji ambang nyeri klien, apabila klien tidak mampu menoleransi nyeri, berikan anestesi
lokal

 Bila menggunakan arteri radialis, lakukan test allent untuk mengetahui kepatenan arteri

 Untuk memastikan apakah yang keluar darah vena atau darah arteri, lihat darah yang
keluar, apabila keluar sendiri tanpa kita tarik berarti darah arteri

 Apabila darah sudah berhasil diambil, goyangkan spuit sehingga darah tercampur rata
dan tidak membeku

 Lakukan penekanan yang lama pada bekas area insersi (aliran arteri lebih deras
daripada vena)

 Keluarkan udara dari spuit jika sudah berhasil mengambil darah dan tutup ujung jarum
dengan karet atau gabus

 Ukur tanda vital (terutama suhu) sebelum darah diambil

 Segera kirim ke laboratorium ( sito )

I. Persiapan pasien

 Jelaskan prosedur dan tujuan dari tindakan yang dilakukan

 Jelaskan bahwa dalam prosedur pengambilan akan menimbulkan rasa sakit

 Jelaskan komplikasi yang mungkin timbul

 Jelaskan tentang allen’s test


J. Persiapan alat

 Spuit 2 ml atau 3ml dengan jarum ukuran 22 atau 25 (untuk anak-anak) dan nomor 20
atau 21 untuk dewasa

 Heparin

 Yodium-povidin

 Penutup jarum (gabus atau karet)

 Kasa steril

 Kapas alkohol

 Plester dan gunting

 Pengalas

 Handuk kecil

 Sarung tangan sekali pakai

 Obat anestesi lokal jika dibutuhkan

 Wadah berisi es

 Kertas label untuk nama

 Thermometer

 Bengkok
9. Prosedur kerja

1. Baca status dan data klien untuk memastikan pengambilan AGD

2. Cek alat-alat yang akan digunakan

3. Cuci tangan

4. Beri salam dan panggil klien sesuai dengan namanya

5. Perkenalkan nama perawat

6. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada klien

7. Jelaskan tujuan tindakan yang dilakukan

8. Beri kesempatan pada klien untuk bertanya

9. Tanyakan keluhan klien saat ini

10. Jaga privasi klien

11. Dekatkan alat-alat ke sisi tempat tidur klien

12. Posisikan klien dengan nyaman


13. Pakai sarung tangan sekali pakai

14. Palpasi arteri radialis

15. Lakukan allen’s test

16. Hiperekstensikan pergelangan tangan klien di atas gulungan handuk

17. Raba kembali arteri radialis dan palpasi pulsasi yang paling keras dengan menggunakan
jari telunjuk dan jari tengah

18. Desinfeksi area yang akan dipungsi menggunakan yodium-povidin, kemudian diusap
dengan kapas alkohol

19. Berikan anestesi lokal jika perlu

20. Bilas spuit ukuran 3 ml dengan sedikit heparin 1000 U/ml dan kemudian kosongkan spuit,
biarkan heparin berada dalam jarum dan spuit

21. Sambil mempalpasi arteri, masukkan jarum dengan sudut 45 ° sambil menstabilkan arteri
klien dengan tangan yang lain

22. Observasi adanya pulsasi (denyutan) aliran darah masuk spuit (apabila darah tidak bisa
naik sendiri, kemungkinan pungsi mengenai vena)

23. Ambil darah 1 sampai 2 ml

24. Tarik spuit dari arteri, tekan bekas pungsi dengan menggunakan kasa 5-10 menit

25. Buang udara yang berada dalam spuit, sumbat spuit dengan gabus atau karet

26. Putar-putar spuit sehingga darah bercampur dengan heparin

27. Tempatkan spuit di antara es yang sudah dipecah

28. Ukur suhu dan pernafasan klien

29. Beri label pada spesimen yang berisi nama, suhu, konsentrasi oksigen yang digunakan
klien jika kilen menggunakan terapi oksigen

30. Kirim segera darah ke laboratorium


31. Beri plester dan kasa jika area bekas tusukan sudah tidak mengeluarkan darah (untuk
klien yang mendapat terapi antikoagulan, penekanan membutuhkan waktu yang lama)

32. Bereskan alat yang telah digunakan, lepas sarung tangan

33. Cuci tangan

34. Kaji respon klien setelah pengambilan AGD

35. Berikan reinforcement positif pada klien

36. Buat kontrak untuk pertemuan selanjutnya

37. Akhiri kegiatan dan ucapkan salam

38. Dokumentasikan di dalam catatan keperawatan waktu pemeriksaan AGD, dari sebelah
mana darah diambil dan respon klien