Anda di halaman 1dari 8

Pengertian Ekosistem Danau

Ekosistem adalah hubungan antara kumpulan beberapa populasi disuatu tempat yang mengadakan
interaksi, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan lingkungan abiotik dan hubungannya
adalah timbal balik.

Danau adalah ceruk atau cekungan pada permukaan bumi yang berisi air. Jadi ekosistem danau adalah
hubungan beberapa populasi yang hidup disuatu ceruk atau cekungan pada permukaan bumi yang berisi
air yang mengadakan interaksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan lingkungan abiotik
dan hubungannya adalah timbal balik

B. Komponen Biotik dan Abiotik Ekosistem Danau

Komponen ekosistem danau tersusun atas komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup (abiotik)
yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Komponen Biotik

Komponen biotik dalam ekosistem danau meliputi semua jenis makhluk hidup seperti manusia, hewan,
tumbuhan dan mikroorganisme.

a. Komponen Biotik Danau Berdasarkan Fungsinya

Berdasarkan fungsinya, organisme air tawar dibedakan menjadi 3 macam:

1) Produsen: terdiri dari golongan ganggang, ganggang hijau dan ganggang biru golongan
spermatophyta, misal: eceng gondok, teratai, kangkung, genger,kiambang.

2) Konsumen: meliputi hewan-hewan, serangga, udang, siput, cacing, dan hewan-hewan lainnya.

3) Dekomposer/pengurai: sebagian besar terdiri atas bakteri dan mikroba lain.

b. Komponen Biotik Danau Berdasarkan Kebiasaan Hidupnya Didalam Air

Berdasarkan kebiasaan kehidupan dalam air, organisme air tawar dibedakan atas 5 macam:

1) Plankton: terdiri atas fitoplankton (plankton tumbuhan) dan zooplankton (plankton hewan),
merupakan organisme yang gerakannya pasif selalu dipengaruhi oleh arus air.

2) Nekton: organisme yang bergerak aktif berenang. Contoh: ikan, serangga air.

3) Neston: organisme yang beristirahat dan mengapung di permukaan air.

4) Bentos: organisme yang hidup di dasar perairan.

5) Perifiton: organisme yang melekat pada suatu substrat (batang, akar, batu-batuan) di perairan.

c. Berdasarkan Cara Memperoleh Makanan


Berdasarkan cara memperoleh makanan atau energi, dibagi menjadi 2 kelompok:
1) Organisme autotrof: organisme yang dapat mensintesis makanannya sendiri. Tumbuhan hijau
tergolong organisme autotrof, peranannya sebagai produsen dalam ekosistem air tawar.
2) Fagotrof dan Saprotrof: merupakan konsumen dalam ekosistem air tawar. Fogotrof adalah
pemakan organisme lain, sedang Saprotrof adalah pemakan sampah atau sisa organisme lain.
2. Komponen Abiotik
Komponen-komponen abiotik utama dalam ekosistem adalah sebagai berikut :
a. Suhu
Kelembapan dan suhu juga sangat memengaruhi keberadaan suatu organisme dalam suatu
ekosistem. Kelembapan dan suhu berpengaruh terhadap hilangnya air yang terjadi melalui
penguapan. Setiap organisme memiliki toleransi yang berbeda-beda terhadap suhu dan
kelembapan. Suhu terendah yang masih memungkinkan organisme hidup disebut sebagai suhu
minimum. Suhu yang paling sesuai dan mendukung kehidupan untuk organisme disebut sebagai
suhu optimum, sedangkan suhu tertinggi yang masih dapat ditoleransi atau memungkinkan
organisme hidup disebut sebagai suhu maksimum.
Suhu lingkungan merupakan faktor penting dalam persebaran organisme karena pengaruhnya
pada proses biologis dan ketidakmampuan sebagian besar organisme untuk mengatur suhu
tubuhnya secara tepat. Sel bisa pecah jika air yang terdapat didalamnya membeku pada suhu
dibawah 0oC, dan protein pada sebagian besar organism akan mengalami denutrasi pada suhu
diatas 45oC. Selain itu, sejumlah organisme dapat mempertahankan suatu metabolisme yang
cukup aktif pada suhu yang sangat rendah atau pada suhu yang sangat tinggi.
b. Air
Organism air tawar hidup berendam di dalam suatu lingkungan akuatik, tetapi organisme
tersebut menghadapi permasalahan keseimbangan air jika tekanan osmosis air intraselulanya
tidak sesuai dengan tekanan osmosis disekitarnya.
c. Cahaya Matahari
Matahari memberikan energi yang menggerakkan hampir seluruh ekosistem, meskipun hanya
tumbuhan dan organisme fotosintetik. Dalam ekosistem akuatik, intensitas dan kualitas cahaya
membatasi persebaran organisme fotosintetik. Setiap meter kedalaman air secara selektif
menyerap sekitar 45% cahaya merah dan sekitar 2% cahaya biru yang melaluinya. Sebagai
hasilnya, sebagian besar fotositesis dalam lingkungan akuatik terjadi relative didekat permukaan
air. Akan tetapi, organisme fotosintetik itu sendiri menyerap banyak cahaya yang menembus air,
yang selanjutnya akan mengurangi intensitas dan kualitas cahaya pada air di bawahnya.

d. Angin
Angin memperkuat suhu lingkungan pada organisme dengan cara meningkatkan hilangnya
panas melalui penguapan (evaporasi) dan konveksi (factor wind-chill atau pendinginan oleh
angin).
e. Batu dan Tanah
Struktur fisik, pH, dan komposisi mineral batuan serta tanah akan membatasi persebaran
tumbuhan dan hewan yang memakannya, sehingga menjadi salah satu penyebab timbulnya pola
mengelompok pada area tertentu yang acak (patchiness) pada ekosistem terrestrial yang sering
kita lihat. Pada ekosistem akuatik, komposisi substrat dapat mempengaruhi factor kimiawi dalam
air, yang selanjutnya akan mempengaruhi tumbuhan dan hewan penghuni ekosistem akuatik.
f. Tingkat keasaman atau Ph tanah
Tumbuhan hanya bisa hidup normal dalam suasana tanah yang tidak begitu asam dan basa atau
dalam keadaan netral atau Ph 7. Apabila tanah terlalu asam (Ph kurang 7) atau terlalu basa (Ph
lebih 7) pertumbuhannya akan terganggu.

C. Ciri-Ciri Ekosistem Danau


Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang,
dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang,
sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar.
Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Adaptasi organisme air tawar adalah sebagai berikut.
1. Adaptasi tumbuhan
Tumbuhan yang hidup di air tawar biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa
alga biru dan alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga maksimum dan akan berhenti sendiri.
Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantean)mempunyai akar jangkar (akar
sulur). Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan
tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.
2. Adaptasi hewan
Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan
menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya
ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara
keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan.

D. Macam-Macam Danau
1. Berdasarkan Jenis Airnya
Danau yang terbagi didasarkan jenis air nya , menjadi
a. Danau air tawar yaitu danau yang berair tawar, danau jenis ini memiliki ciri yaitu memiliki
pelepasan berupa sungai, contoh danau toba
b. Danau air asin yaitu danau yang berair asin dimana danau jenis ini tidak memliki pelepasan,
karena merupakan akhir dari sungai dan pelepasan hanya merupakan penguapan saja. Contoh :
Danau sentani (Papua).
c. Danau air asam yaitu danau yang airnya berasal dari belerang. dan memiliki ciri : biasanya
merupakan kawah gunung berapi yang berisi air hujan dan airnya berwarna hijau kekuning-
kuningan. Contoh Danau Tangkuban perahu.
2. Berdasakan Kapasitas Air
Danau berdasarkan kapasitas airnya , terbagi menjadi
a. Danau permanen : yaitu dana yang kapasitas airnya tidak dipengaruhi oleh musim
b. Danau temporer yaitu dana yang kapasitas airnya bersifat fluktuaktif (meluap ketika
musim hujan dan surut ketika musim kemarau).

3. Berdasarkan Produksi Materi Organik


Danau berdasarkan produksi materi organiknya, yaitu sebagai berikut.
a. Danau oligotropik
Oligotropik merupakan sebutan untuk danau yang dalam dan kekurangan makanan, karena
fitoplankton di daerah limnetik tidak produktif. Ciri-cirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh
sedikit organisme, dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.
b. Danau eutropik
Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan kandungan makanan,
karena fitoplankton sangat produktif. Ciricirinya adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam
organisme, dan oksigen terdapat di daerah profundal.
4. Berdasarkan Proses Terbentuknya
Berdasarkan proses terbentuknya, danau dibedakan atas beberapa jenis yaitu sebagai berikut :
a. Danau Tektonik, yaitu danau yang terbntuk oleh tenaga endogen yang bersumber dari
gerakan tektonik seperti cekungan-cekungan akibat patahan dan lipatan. Contohnya Danau
Tempe, Danau Tondano dan Danau Towuti di Sulawesi.
b. Danau Vulkanik, yaitu danau bekas gunung api. Air danau berasal dari curah hujan yang
tertampung pada lubang kepundan atau kaldera. Contohnya Danau Kawah Gunung Kelud,
Gunung Batur, dan Gunung Galunggung.
c. Danau Vulkano-Tektonik, yaitu danau yang terbentuk karena gabungan proses vulkanik dan
tektonik. Patahan atau depresi pada bagian permukaan bumi pasca letusan. Dapur magma yang
telah kosong menjadi tidak stabil sehingga terjadi pemerosotan atau patah. Cekungan akibat
patahan tersebut kemudian diisi oleh air contohnya Danau Toba di Sumatera.

E. Pembagian Daerah dalam Ekosistem Danau


1. Daerah litoral
Daerah ini merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal. Air yang
hangat berdekatan dengan tepi.Tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan
daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air. Komunitas organisme sangat beragam
termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis,
serangga, krustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular, itik dan
angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.
2. Daerah limnetik
Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih dapat ditembus sinar
matahari. Daerah ini dihuni oleh berbagai fitoplankton, termasuk ganggang dan sianobakteri.
Ganggang berfotosintesis dan bereproduksi dengan kecepatan tinggi selama musim panas dan
musim semi. Zooplankton yang sebagian besar termasuk Rotifera dan udang-udangan kecil
memangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan-ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh
ikan yang lebih besar, kemudian ikan besar dimangsa ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan.
3. Daerah profundal
Daerah ini merupakan daerah yang dalam, yaitu daerah afotik danau. Mikroba dan organisme
lain menggunakan oksigen untuk respirasi seluler setelah mendekomposisi detritus yang jatuh
dari daerah limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba
4. Daerah bentik
Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bento dan sisa-sisa organisme
mati.
Gbr. Berbagai Organisme Air Tawar Berdasarkan Cara Hidupnya
Gbr. Empat Daerah Utama Pada Danau Air Tawar

F. Fungsi dan Manfaat Ekosistem Danau


Beberapa fungsi dan manfaat danau sebagai ekosistem antara lain :
1. sebagai sumber plasma nutfah yang berpotensi sebagai penyumbang bahan genetik;
2. sebagai tempat berlangsungnya siklus hidup jenis flora/fauna yang penting,
3. sebagai sumber air yang dapat digunakan langsung oleh masyarakat sekitarnya
(rumahtangga, industri dan pertanian);
4. sebagai tempat penyimpanan kelebihan air yang berasal dari air hujan, aliran permukaan,
sungai-sungai atau dari sumber-sumber air bawah tanah;
5. memelihara iklim mikro, di mana keberadaan ekosistem danau dapat mempengaruhi
kelembaman dan tingkat curah hujan setempat;
6. sebagai sarana transportasi untuk memindahkan hasil-hasil pertanian dari tempat satu ke
tempat lainnya;
7. sebagai penghasil energi melalui PLTA;
8. sebagai sarana rekreasi dan objek pariwisata.
9. Sebagai sumber air yang paling praktis dan murah untuk kepentingan domestik maupun
industri,
10. Sebagai sistem pembuangan yang memadai dan paling murah (Connell & Miller,1995).
G. Cara Melestarikan Ekosistem Danau
1. Jangan membuang sampah dan limbah sembarangan
2. Jangan jadikan danau sebagai toilet raksasa
3. Batasi budidaya keramba apung
4. Batasi kuota penangkapan ikan
5. Batasi daerah untuk pemancingan
6. Menjaga hutan disekeliling danau agar tidak ditebang.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Ekosistem danau tersusun atas komponen biotik dan komponen abiotik. Ekosistem danau
ditandai oleh adanya bagian perairan yang dalam sehingga tumbuh-tumbuhan berakar tidak dapat
tumbuh di bagian ini. Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan
kedalaman dan jaraknya dari tepi dengan 4 zona yang digolongkan ke dalam zona litoral,
limnetik, profundal dan bentik. Selain itu berdasarkan produksi materi organik-nya danau
dikelompokkan menjadi danau oligotropik dan eutropik. Dilihat dari susunan dan fungsinya,
ekosistem danau tersusun atas komponen autotrof, heterotrof, decomposer dan abiotik.
Sedangkan berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidupnya, hewan yang hidup di danau terdiri
dari plankton, nekton, neuston, perifiton dan bentos. Yang mana semua komponen-komponen
tersebut saling ketergantungan antar satu dengna lainnya.
2. Adapun upaya dalam melestarikan dan menjaga ekosistem danau ialah dengan tidak
membuang sampah dan limbah sembarangan, membatasi kuota penangkapan ikan, dan menjaga
hutan disekeliling danau agar tidak ditebang.

Pada daerah aliran sungai (DAS) dan daerah tangkapan air danau (DTA) serta sempadan danau, potensi
kerusakan yang dapat terjadi pada umumnya adalah:

 Kerusakan lingkungan dan erosi lahan yang disebabkan oleh penebangan hutan dan pengolahan
lahan yang tidak benar, sehingga menimbulkan erosi dan sedimentasi dan menyebabkan
pendangkalan serta penyempitan danau.
 Pembuangan limbah penduduk, industri, pertambangan dan pertanian yang menyebabkan
pencemaran air danau.

Berbagai kegiatan yang berlangsung pada perairan danau juga berpotensi merusak ekosistem akuatik,
yaitu:

 Penangkapan ikan dengan cara yang merusak sumber daya (overfishing).


 Pembudidayaan ikan dengan keramba jaring apung yang tidak terkendali sehingga berpotensi
pembuangan limbah pakan ikan dan pencemaran air.
 Pengambilan air danau sebagai air baku ataupun sebagai tenaga air (PLTA) yang kurang
memperhitungkan keseimbangan hidrologi danau sehingga mengubah karakteristik permukaan
air danau dan sempadan danau.

Berbagai sumber dan dampak permasalahan tersebut telah merusak ekosistem akuatik danau dan
berpotensi atau telah terjadi pada beberapa danau di Indonesia (Tabel 3.1). Kerusakan yang terjadi antara
lain adalah sebagai berikut:

 Pendangkalan dan penyempitan danau, yang telah merusak ekosistem danau bertipe paparan
banjir.
 Pencemaran kualitas air danau yang menggangu pertumbuhan biota akuatik dan pemanfaatan air
danau. Bila terjadi bencana arus balik (overturn) bahan pencemaran dari dasar danau terangkat ke
permukaan air.
 Kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity).
 Pertumbuhan gulma air sebagai akibat pencemaran limbah organik dan zat hara (unsur Nitrogen
dan Phosphor).
 Pertumbuhan alga atau marak alga (algae bloom) yang disebabkan proses penyuburan air danau
akibat pencemaran limbah organik dan zat penyubur.
 Perubahan fluktuasi muka air danau, yang disebabkan oleh kerusakan DAS dan DTA serta
pengambilan air dan tenaga air, sehingga mengganggu keseimbangan ekologis daerah sempadan
danau.