Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH PANCASILA

AKTUALISASI PANCASILA

OLEH :
KELOMPOK 8
MUHAMMAD HANAFI 1710421029
ANNISA LORENZA 1710423005
MUTIA SEPTIA NINGSIH 1710423019

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam pertumbuhan dan perkembangan kebangsaan Indonesia, dinamika rumusan
kepentingan hidup-bersama di wilayah nusantara diuji dan didewasakan sejak
dimulainya sejarah kebangsaan Indonesia. Pendewasaan kebangsaan ini memuncak
ketika bangsa ini mulai dijajah dan dihadapkan pada perbedaan kepentingan ideologi
(awal Abad XIX) antara Liberalisme, Nasionalisme, Islamisme, Sosialisme-
Indonesia, dan Komunisme, yang diakhiri secara yuridis ketatanegaraan (18 Agustus
1945) dengan ditetapkannya Pancasila oleh Panitia Persiapan Kemerdekan Indonesia
(PPKI) sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam perkembangan selanjutnya ideologi Pancasila diuji semakin berat
terutama pada tataran penerapannya dalam kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan,
dan kenegaraan. Ujian ini berlangsung sejak ditetapkannya sampai dengan saat ini di
era reformasi. Salah satu isu sentral dan strategis yang melatarbelakangi adanya
pergantian kepemimpinan nasional di Indonesia Lama, Orde Baru, sampai ke Era
Reformasi) adalah berkaitan dengan penerapan Pancasila.
Sejak munculnya krisis moneter (1997) yang berdampak pada krisis nasional
yang bermultidimensi dan dimulainya Era Reformasi (1998), kritikan dan hujatan
terhadap penerapan Pancasila begitu menguat. Krisis itu ditunjukkan dengan adanya
berbagai permasalahan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan. Di antaranya
seperti pergantian kepemimpinan nasional yang tidak normal, kerusuhan sosial,
perilaku anarki, dayabeli masyarakat terpuruk, norma moral bangsa dilanggar, norma
hukum negara tidak dipatuhi, norma kebijakan pembangunan disiasati, dan hutang
luar negeri melonjak tinggi. Perilaku ini semua berpangkal pada tatakelola negara
yang kurang bertanggungjawab dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang
merajalela sebagai wujud dari penerapan Pancasila yang keliru. Karenanya, banyak
kalangan yang menjadi sinis dan menggugat efektivitas penerapan Pancasila.
Melihat kondisi bangsa Indonesia seperti itu diperlukan upaya-upaya untuk
mengatasinya.
BAB II. PEMBAHASAN

Aktualisasi merupakan suatu bentuk kegiatan melakukan realisasi antara


pemahaman akan nilai dan norma dengan tindakan dan perbuatan yang dilakukan
dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan aktualisasi pancasila, berarti penjabaran
nilai-nilai pancasila dalam bentuk norma-norma, serta merealisasikannya dalam
kehidupan berBangsa dan berNegara. Dalam aktualisasi Pancasila ini, penjabaran
nilai-nilai Pancasila dalam bentuk norma-norma, dijumpai dalam bentuk norma
hukum, kenegaraan, dan norma-norma moral. Sedangkan realisasinya dikaitkan
dengan tingkah laku semua warga negara dalam masyarakat, berBangsa dan
berNegara, serta seluruh aspek penyelenggaraan negara.
Aktualisasi Pancasila dapat dibedakan atas dua macam yaitu aktualisasi
Pancasila obyektif dan subyektif :
1. Aktualisasi Pancasila secara objektif
Dimaksudkan sebagai bentuk penjabaran nilai-nilai Pancasila secara nyata
dalam bentuk norma-norma pada setiap aspek penyelenggaraan negara, baik dalam
bidang legislatif, eksekutif, dan yudikatif maupun pada semua bidang kenegaraan
lain. Aktualisasi nilai-nilai Pancasila secara objektif terutama berkaitan dengan
peraturan perundang-undangan Indonesia.
Contohnya : dalam penyelenggaraan kenegaraan maupun tertib hukum
Indonesia, asas politik dan tujuan negara, serta pelaksanaan konkretnya didasarkan
pada dasar falsafah negara (Pancasila)
Seluruh hidup kenegaraan dan tertib hukum di Indonenesia didasarkan atas
serta diliputi oleh dasar filsafat negara, asas politik dan tujuan negara, yakninya
Pancasila, diantaranya:
- Garis-garis Besar Haluan Negara.
- Hukum, perundang-undangan dan peradilan.
- Pemerintahan.
- Politik dalam negeri dan luar negeri.
- Keselamatan, keamanan dan pertahanan.
- Kesejahteraan
- Kebudayaan
- Pendidikan dan lain sebagainya.
Di bidang budaya, aktualisasi Pancasila berwujud sebagai pengkarakter sosial
budaya (keadaban) Indonesia yang mengandung nilai-nilai religi, kekeluargaan,
kehidupan yang selaras-serasi-seimbang, serta kerakyatan; profil sosial budaya
Pancasila dalam kehidupan bangsa Indonesia yang gagasan, nilai, dan
norma/aturannya yang tanpa paksaan sebagai sesuatu yang dibutuhkan; proses
pembangunan budaya yang dibelajarkan/dikondisikan dengan tepat dan
diseimbangkan dalam tatanan kehidupan, bukan sebagai suatu warisan dari generasi
ke generasi; serta penguat kembali proses integrasi nasional baik secara vertikal
maupun horizontal.
Di bidang keagamaan, aktualisasi ini berwujud sebagai ideologi yang
menerapkan prinsip agama apabila melaksanakan prinsip-prinsip tauhid, keadilan,
kebebasan, musyawarah, persamaan, toleransi, amar makhruf dan nahi mungkar,
serta kritik interen. Di samping itu Pancasila berwujud sebagai ideologi yang paling
memungkinkan bangsa Indonesia bersatu dalam NKRI yang nilai-nilainya
universal,yaitu yang sesuai dengan ‘lima tujuan hukum agama’: memelihara agama,
memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara keturunan dan kehormatan, dan
memelihara harta; filsafat dan ideologi yang tidak bertentangan dengan wawasan
keagamaan; yang memelihara persatuan-umat, bukan penyatuan-umat; serta yang
sebagai hasil kontrak-sosial budaya bangsa Indonesia.
2. Aktualisasi nilai-nilai Pancasila secara subjektif
Dimaksudkan sebagai upaya merealisasi penjabaran nilai-nilai Pancasila
dalam bentuk norma-norma ke dalam diri setiap pribadi, perseorangan, setiap warga
negara, setiap individu, setiap penduduk, setiap penguasa, dan setiap orang
Indonesia. Aktualisasi nilai-nilai Pancasila secara subjektif dapat tercapai bila nilai-
nilai Pancasila tetap melekat dalam hati sanubari bangsa Indonesia. Dan demikian itu
disebut dengan Kepribadian Bangsa Indonesia (Kepribadian Pancasila). Maka
dengan hal inilah bangsa Indonesia memiliki ciri karakteristik yang menunjukkan
perbedaannya dengan bangsa lain.
Aktualisasi Subyektif ini lebih penting dari Aktualisasi Obyektif, karena
Aktualisasi Pancasila yang subyektif merupakan kunci keberhasilan Aktualisasi
Pancasila secara Obyektif.
Di dalam mengaktualisasi nilai-nilai Pancasila sangat mungkin ditemukan
adanya masalah yang berkaitan dengan hidup kemasyarakatan, kebangsaan, dan
kenegaraan. Untuk itu solusi terbaik untuk mengatasi persoalan kebangsaan adalah
dengan kembali pada nilai-nilai Pancasila. Beberapa cara yang dapat dijadikan
alternatif untuk kembali dan melakukan aktualisasi nilai-nilai Pancasila saat ini
adalah sebagai berikut. Pertama, membumikan Pancasila dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara terus-menerus dan aktual.
Kedua, aktualisasi melalui internalisasi nilai-nilai Pancasila, baik melalui
pendidikan formal maupun nonformal. Pada tataran pendidikan formal perlu
revitalisasi mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di sekolah. Sebagai
sebuah nilai, Pancasila tidak cukup hanya dipelajari, tetapi harus diresapi, dihayati,
dan dipahami secara mendalam.
Ketiga, aktualisasi melalui keteladanan para pemimpin baik pemimpin formal
(pejabat negara) maupun informal (tokoh masyarakat). Dengan keteladanan yang
dijiwai nilai-nilai Pancasila, diharapkan masyarakat luas akan mengikuti.
Pendidik adalah pemimpin pendidikan, yang dalam konteks pembelajaran di
sekolah adalah para guru, sedangkan dalam konteks pendidikan informal adalah
orang tua dan dalam konteks pendidikan nonformal adalah tokoh masyarakat.
Melalui proses sosialisasi, para peserta didik akan belajar tentang sikap dan perilaku
yang relevan dengan lingkungan sosial budaya dari orang tua, guru, teman sebaya,
dan tokoh masyarakat.
Pendidik yang mampu menunjukkan sikap dan keteladanan terpuji akan
menjadikan makin menguatnya nilai-nilai Pancasila di kalangan peserta didik. Tugas
pemimpin pendidikan dalam konteks ini adalah membantu mengondisikan peserta
didik pada sikap, perilaku, atau kepribadian yang benar agar peserta didik mampu
menjadi agents of change dalam mengaktualisasi nilai-nilai Pancasila bagi diri
sendiri, lingkungan, masyarakat, dan siapa saja yang dijumpai tanpa harus
membedakan suku, agama, ras, dan golongan.
Di samping itu Pancasila diaktualisasikan sebagai yang mendorong dan
menjamin adanya affirmative actions, yaitu (a) anak yatim dan fakir miskin
dipelihara oleh negara, (b) setiap orang berhak atas pekerjaan yang layak bagi
kemanusiaan, serta (c) tidak ada diskriminasi (positive discriminations). Untuk ini
perlu pengembangan Sistem Ekonomi Pancasila yang rumusannya adalah yang
sebagaimana diatur dalam Pasal 33 UUD 1945 (sebelum dirubah), sehingga dapat
menjamin dan berpihak pada pemberdayaan koperasi serta usaha menengah, kecil,
dan mikro (UMKM).
BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan kita dalam makalah ini, kita seharusnya jangan membiarkan negara
kita terus terpuruk. Kita harus mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap
kehidupan kita masing-masing. Kita jangan hanya menjadi pembaca-pembaca yang
baik, tapi kita harus mewujudkannya dalam setiap kehidupan kita dalam berbangsa
dan bernegara.

3.2 Saran
Hendaklah kita sebagai warga negara bukan sampai dalam deskripsi saja, namun
hendaklah kita sebagai warga negara mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan sehari- hari. Karena dengan begitu negara kita akan mengalami perubahan
kearah yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Astrid S. Susanto Sunario, 2000, Pancasila (untuk Abad ke-21), Jakarta.


Agus Widjojo, 2000, Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Pertahanan,
Jakarta.
A.T. Soegito, 1997, Pokok-pokok materi: Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia,
Semarang.
---------, 1998, Sejarah Indonesia Kontemporer sebagai Materi Pendidikan
Pancasila (Analisis Berbagai Permasalahannya), Bogor: Ditbinsarak Ditjen
Dikti Depdikbud.
---------, 1999, Nasionalisme Indonesia (Pengertian dan Perkembangannya), Jakarta.
Koento Wibisono Siswomihardjo, 2000, Pancasila sebagai Paradigma
Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Jakarta.