Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH PENGOLAHAN LIMBAH PETERNAKAN

“Potensi Biogas Melalui Pemanfaatan Limbah Padat Pada Peternakan Sapi


Perah Bangka Botanical Garden Pangkalpinang”

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
KELAS B

ILMAN SYAHID AL-KAUTSAR 200110150222


TALITHA ALA DENANEER 200110160029
SARFINA NADILAH PUTRI 200110160037
NISA NURYAWATI PUTRI 200110160050
HILMAWAN YUSUF HABIBIE 200110160173
MUHAMAD FAROJA S 200110160217
M AMIEN H 200110160224
GELAR ABIFADILLA 200110160230
MUHAMMAD RIONALDI R 200110160254

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penyusun panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa,

karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga penyusun dapat

menyelesaikan makalah dengan judul “Potensi Biogas Melalui Pemanfaatan

Limbah Padat Pada Peternakan Sapi Perah Bangka Botanical Garden

Pangkalpinang”.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi mata kuliah Pengoalahan Limbah

Peternakan. Penyusun menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak

Ir.Sudiarto M.M sebagai dosen pengampu mata kuliah Pengoalahan Limbah

Peternakan yang telah memberikan kesempatan pada penyusun untuk mengikuti

kuliah sehingga penyusun mendapatkan ilmu yang lebih luas.

Penyusun menyadari adanya kekurangan dalam laporan yang kami susun,

oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang baik sehingga kami

dapat menjadi lebih baik lagi kedepannya.

Jatinangor, 28 Oktober 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

BAB HALAMAN

KATA PENGANTAR .............................................................. ii

DATAR ISI ................................................................................ 3

I. PENDAHULUAN ...................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ...................................................................... 4
1.2 Identifikasi Masalah .............................................................. 5
1.3 Maksud dan Tujuan............................................................... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................ 6


2.1 Limbah Peternakan Ayam ..................................................... 6
2.2 Limbah Bulu Ayam .............................................................. 6
2.3 Kandungan Gizi ................................................................... 8
2.4 Fermentasi ............................................................................. 9
III. PEMBAHASAN ........................................................................ 11
3.1 Potensi Biogas Sebagai Sumber Energi ................................ 11
3.2 Analisa Aspek Lingkungan ................................................... 13

3.3 Manajemen Pemanfaatan Biogas .......................................... 14

IV. KESIMPULAN .......................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA .................................................................. 17

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Potensi biogas (m3 /hari) ................................................ 13

Tabel 2. Pemabagian Tugas .......................................................... 20

3
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan pembangunan peternakan harus memperhatikan keadaan

lingkungan sekitarnya. Dengan adanya usaha peternakan selain dihasilkan produk

peternakan baik berupa daging maupun susu, juga menghasilkan limbah yang

harus dikelola dengan baik.

Limbah peternakan meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu

kegiatan usaha peternakan baik berupa limbah padat dan cairan, gas, maupun sisa

pakan. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau

dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari pemotongan

ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau dalam fase

cairan (air seni atau urine, air dari pencucian alat-alat).Sedangkan limbah gas

adalah semua limbah berbentuk gas atau dalam fase gas.

Salah satu hasil pengolahan dari limbah ternak adalah biogas. Biogas

merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari

bahan-bahan organik termasuk di antaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah

domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang

biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah

metana dan karbon dioksida.Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar

kendaraan maupun untuk menghasilkan listrik. Nilai kalori dari 1 meter kubik

Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel.

Biogas juga sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah

lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana, batu bara, maupun bahanbahan

lain yang berasal dari fosil.

4
1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana potensi biogas sebagai sumber energi

2. Bagaimana aspek lingkungan Indonesia terhadap pemanfaatan biogas

3. Bagaimana manajemen pemanfaatan biogas

1.3 Maksud dan Tujuan

1. Mengetahui potensi biogas sebagai sumber energi

2. Mengetahui aspek lingkungan Indonesia terhadap pemanfaatan biogas

3. Mengetahui bagaimana manejemen pemanfaatan biogas

5
II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Limbah Peternakan Ayam

Usaha peternakan ayam akhir‑akhir ini mulai sering dituding sebagai

usaha yang ikut mencemari lingkungan. Oleh karena itu, agar petemakan ayam

tersebut merupakan suatu usaha yang berwawasan lingkungan dan efisien, maka

tatalaksana pemeliharaan, perkandangan, dan penanganan limbahnya harus

selalu diperhatikan. Limbah merupakan sejenis kotoran yang merupakan hasil

pembuangan atau hasil ikutan dari peternakan ayam.

Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian telah menyadari hal

tersebut dengan mengeluarkan peraturan menteri melalui SK Mentan No.

237/1991 dan SK Mentan No. 752/1994, yang menyatakan bahwa usaha

peternakan dengan populasi tertentu perlu dilengkapi dengan upaya pengelolaan

dan pemantauan lingkungan. Untuk usaha peternakan ayam ras pedaging, yaitu

populasi lebih dari 15.000 ekor per siklus terletak dalam satu lokasi, sedangkan

untuk ayam petelur, populasi lebih dari 10.000 ekor induk terletak dalam satu

hamparan lokasi (Deptan, 1991; 1994).

2.2 Limbah Bulu Ayam

Salah satu limbah yang kini banyak ditemui adalah bulu ayam, berupa

limbah yang banyak dihasilkan dari industri Rumah Pemotongan Ayam (RPA).

Saat ini, banyak bermunculan industri peternakan ayam sebagai dampak positif

dari peningkatan permintaan konsumen terhadap daging ayam. Peningkatan

industri peternakan ayam turut mendongkrak usaha pemotongan ayam yang

6
berdampak pada peningkatan limbah industri berupa bulu ayam. Anonim (2012)

melaporkan bahwa populasi ayam pedaging di Provinsi Jawa Tengah sebanyak

55.621.113 ekor. Populasi ayam pedaging berbanding lurus dengan jumlah limbah

yang dihasilkan oleh RPA yang salah satunya berupa bulu ayam. Sekitar 4-5% dari

bobot hidup ayam pedaging adalah bulu dan rata-rata bobot panennya sebesar 1,6

kg (Sa’adah dkk., 2013).

Limbah bulu ayam yang tidak dimanfaatkan dan dibuang begitu saja di

lingkungan sekitar RPA dapat menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu,

menjadi tempat bersarangnya penyakit, dan biasanya sangat mengganggu

kesehatan manusia (Periasamy dan Subash, 2004). Dampak lain, yaitu dapat

menurunkan kualitas tanah karena limbah bulu ayam sangat sulit terdegradasi di

lingkungan atau proses dekomposernya memakan waktu yang cukup lama. Hal ini

dikarenakan sebagian besar proteinnya berupa keratin atau protein fibrous berupa

serat. Keratin adalah produk pengerasan jaringan epidermal tubuh seperti kuku,

rambut, dan bulu yang tersusun atas protein serat (fibrous) yang kaya akan sistein

dan sistin (Suntornsuk dkk., 2005; Sinoy dkk., 2011). Oleh sebab itu, limbah bulu

ayam resisten terhadap perombakan atau degradasi dan merupakan masalah serius

di lingkungan (Savitha dkk., 2007). Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan

pengelolaan dan penanganan limbah yang juga merupakan kebijakan pemerintah

dalam melestarikan fungsi lingkungan hidup, seperti yang tercantum dalam

Undang – Undang Dasar Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1997 tentang

Pengelolaan Lingkungan Hidup, yaitu upaya terpadu untuk melestarikan fungsi

yang meliputi kebijakan penataan, pemanfaatan, pemeliharaan, pemulihan,

pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup (Anonim, 2012).

7
Dalam pengelolaan limbah, perlu diterapkan teknologi berwawasan

lingkungan yang dapat mengatasi permasalahan lingkungan dengan melestarikan

fungsi lingkungan. Pelestarian fungsi lingkungan dapat dilakukan dengan prinsip

zero waste, yaitu mengurangi atau meminimalisasi pencemaran lingkungan

dengan cara pemanfaatan limbah. Limbah bulu ayam telah dimanfaatkan dengan

diolah sebagai pupuk dan kerajinan kemoceng (Abubakar dkk., 2000). Ada juga

yang memanfaatkan sebagai bahan shuttle cock dan lukisan. Bulu ayam berpotensi

untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak (Supriyati dkk., 2000) karena memiliki

kandungan protein yang tinggi, yaitu 80- 90% dari bahan kering, melebihi

kandungan protein kasar bungkil kedelai (42,5%) dan tepung ikan (66,5%) (Adiati

dan Puastuti, 2004). Komposisi kimia tepung bulu ayam yang belum difermentasi

adalah 81% protein, 1,2% lemak, 86% bahan kering, dan 1,3% abu (Zerdani dkk.,

2004), selain itu juga tepung bulu ayam mengandung mineral kalsium 0,19%,

fosfor 0,04%, kalium 0,15% dan sodium

0,15% (Kim dan Patterson, 2000).

2.3 Kandungan Gizi

Berdasarkan kandungan gizinya, bulu ayam dapat dijadikan pakan hewan,

salah satunya sebagai bahan pakan ikan (Imansyah, 2006). Penyusunan formulasi

pakan ikan harus memperhatikan nutrisi yang diperlukan ikan pada umumnya,

yaitu protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin (Agustono dkk., 2007).

Meskipun kandungan protein tinggi, tetapi protein bulu ayam merupakan jenis

protein yang sulit dicerna, karena tergolong jenis protein keratin (Joshi dkk.,

2007). Keratin merupakan produk pengerasan jaringan epidermal tubuh seperti

kuku, rambut, dan bulu yang tersusun atas protein serat (fibrous) yang kaya

8
akan sistein dan sistin (Sinoy dkk., 2011). Di samping itu, keratin tersusun

atas 14% ikatan disulfida sehingga menjadi sangat stabil, kaku, dan tidak dapat

dicerna dengan baik oleh enzim proteolitik seperti tripsin, pepsin, dan papain

yang terdapat dalam organ pencernaan (Brandelli, 2008; Mazotto dkk., 2011).

Daya cerna protein keratin bulu ayam dalam organ pencernaan hewan

ruminansia hanya sebesar 5,8% (Achmad, 2001). Daya cerna protein yang rendah

tersebut menjadi satu kendala untuk menjadikan bulu ayam sebagai sumber

protein pakan ikan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas bulu ayam,

terlebih dahulu akan dijadikan tepung bulu ayam selanjutnya difermentasi.

2.4 Fermentasi

Fermentasi umumnya dilakukan oleh mikrooganisme. Mikroorganisme

pendegradasi keratin di antaranya adalah jenis bakteri Bacillus sp. (Tiwary dan

Gupta, 2012). Salah satu bakteri yang dapat mendegradasi keratin adalah bakteri B.

subtilis (Madigan, dan Martinko, 2005). Bakteri B. subtillis memiliki kemampuan

mendegradasi keratin yang terdapat pada bulu ayam karena terdapat enzim

keratinolitik yang dihasilkan. Fermentasi yang dilakukan oleh inokulum Bacillus

sp. mampu meningkatkan daya cerna dan mempengaruhi kualitas protein.

Wulandari dkk. (2013) menyatakan bahwa teknik hidrolisis secara fisikokimia dan

biologi mampu meningkatkan daya cerna tepung bulu ayam. Fermentasi pada

dasarnya memperbanyak mikroorganisme yang menghasilkan enzim yang dapat

merombak bahan yang sulit dicerna menjadi mudah dicerna sehingga dapat

memperbaiki kualitas pakan, dan menambah aroma atau flavor (Sefrita, 2008).

9
Keratinase mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam menurunkan

kadar keratin melalui perombakkan struktur jaringan kimia dinding sel, pemutusan

ikatan hidrogen, dan ikatan disulfida penyusun keratin (Rodriguez dkk., 2009).

Penelitian menggunakan bakteri Bacillus sp. dalam fermentasi bulu ayam pernah

dilakukan oleh Desi (2002) dengan menggunakan spesies B. licheniformis.

Hasilnya menunjukkan bahwa setelah dilakukan fermentasi, kadar protein kasar

pada bulu ayam meningkat dari 95,17% menjadi 97,12% menggunakan inokulum

sebanyak 10 mL/2 g tepung bulu ayam.

10
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Potensi biogas sebagai sumber energi

Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian di Serpong telah

mengkaji pemanfaatan energi biogas dari kotoran sapi untuk lampu penerangan

dan kompor gas. Ternyata biogas layak secara teknis dan ekonomis. Biogas juga

telah dikaji untuk pembangkit listrik. (Balai Besar Pengembangan Mekanisasi

Pertanian Situgadung, 2007)

Jumlah ternak sapi yang dimiliki oleh Peternakan BBG adalah 223 ekor.

Terdiri dari sapi perah, jantan dan pedet. Namun karena limbah padat tidak hanya

diolah dengan digester menjadi biogas tetapi juga dikomposkan maka yang

selama ini berjalan adalah dengan kapasitas digester 4m3 hanya terisi 2 arko atau

132 kg kotoran dari sapi perah saja yang diolah menjadi biogas. Biogas yang

dihasilkan pun hanya untuk memenuhi kebutuhan sebagai bahan bakar kompor

gas saja dan tidak dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik pada lampu

penerangan dan mesin yang menggunakan energi listrik lainnya. Menurut

informan petugas biogas yang ada biogas yang dihasilkan pernah diaplikasikan

sebagai sumber energi lampu penerangan kandang sebelum mengalami kemacetan

dan kerusakan pada digester akibat penyumbatan di dalam digester akibat

kandungan feses yang mengandung bungkil kelapa sawit yang masa jenisnya

lebih berat sehingga tidak dapat terangkat dan mengendap di tangki. Sampai

dengan sekarang belum diaplikasikan kembali biogas sebagai sumber energy

lampu penerangan kandang.

11
Sapi perah yang ada di Peternakan BBG berjumlah 42 ekor dengan berat

450 – 500 kg. Dengan Jumlah ternak yang ada seharusnya berpotensi untuk

memanfaatkan biogas sebagai sumber energi untuk kebutuhan kelistrikan dan

bahan bakar di bagian peternakan. Kotoran sapi merupakan kotoran yang paling

efisien digunakan sebagai penghasil biogas karena setiap 10- 20 kg kotoran

perhari dapat menghasilkan 2 m3 biogas. Dimana energi yang terkandung dalam 1

m3 biogas sebesar 2000-4000 Kkal atau dapat memenuhi kebutuhan memasak

bagi satu keluarga (4-5 orang) selama 3 jam (Suriawiria,2005).

Dari hasil pengukuran berat badan maka dapat dikategorikan berat badan

sapi perah di BBG berkisar antara 400 – 450 kg. Menurut Riliandi (2010) sapi

perah dewasa menghasilkan 25 kg feses perhari. Senada dengan yang

diungkapkan oleh Wiryosoehanto,1985 dan Soedono 1990 dalam Solihat (2001)

bahwa sapi laktasi dengan berat 450 kg menghasilkan kurang lebih 25 kg urin dan

feses per hari. Dengan demikian bisa diasumsikan bahwa sapi perah di Peternakan

BBG menghasilkan 25 kg limbah setiap hari per ekor.

Potensi seekor sapi dengan bobot 450 kg dapat menghasilkan limbah

berupa feses dan urin lebih kurang 25 kg per hari. Menurut Balai Besar

Pengembangan Mekanisme Pertanian Badan Litbang Pertanian, Departemen

Pertanian (2008) yang dikutip oleh Hanif (2010) bahwa dalam setiap 25-30 kg

feses sapi, kandungan bahan kering (BK) adalah 20% dan biogas yang dihasilkan

adalah 0,023 sampai dengan 0,040 m3 /kg BK. Dengan Jumlah sapi perah yang

ada di Peternakan BBG yaitu 42 ekor maka produksi kotoran sapi perhari di BBG

adalah 1.050 kg/hari. Kandungan bahan kering total untuk kotoran sapi adalah

20% dari jumlah produksi kotoran sapi basah yaitu 210 kgBK. Berdasarkan

keterangan dari United Nations (1984) yang dikutip oleh Widodo (2004) bahwa

12
dalam 1 kg kotoran ternak sapi/kerbau menghasilkan 0,023 – 0,040 m3 biogas,

sehingga nilai maksimal potensi biogas dari kotoran sapi di Peternakan BBG

adalah 8,4m3 /hari sebagaimana tercantum dalam tabel berikut ini.

Tabel 1. Potensi biogas (m3 /hari) Dalam Limbah Padat (Feces) Sapi

Perah BBG

Peternakan Sapi Perah BBG

Benchmark produksi gas per kg


0,023-0,04
kotoran ternak (m3)

Kandungan bahan kering kotoran


20%
sapi

Jumlah Limbah Padat Harian


210
(kg/hari)

Potensi Biogas Harian (m3/hari) 8,4

Sumber ; Data primer yang telah diolah (2013)

3.2 Analisa aspek lingkungan

Indonesia adalah salah satu negara yang menyumbang kadar emisi gas rumah

kaca yang besar didunia. Hampir setengah dari populasi penduduk indonesia

mempunyai kendaraan yang mengeluarkan gas CO2, tetapi menurut laporan

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tahun 2006, emisi gas rumah kaca

yang dikeluarkan oleh sektor transportasi tidak sebanding dengan emisi gas yang

dikeluarkan oleh sektor peternakan. Pada laporan FAO, dinyatakan hanya 13,1 %

13
emisi yang dihasilkan oleh sektor transportasi, sedangkan pada sektor peternakan

dihasilkan 18 % (FAO,2006).

Ada beberapa penyebab atau faktor yang bisa membuat sektor peternakan

bisa menyumbang kadar gas rumah kaca sebesar itu, salah satu diantaranya adalah

fermentasi dari pencernaan ternak dalam suatu peternakan. Pada peternakan yang

berskala besar, limbah ternak akan bertambah seiring dengan peningkatan

produksinya.

Untuk menghitung analisis aspek lingkungan dari peternakan sapi perah

Bangka Botanical Garden Pangkalpinang, diperlukan untuk mengetahui konsumsi

bahan yang dibutuhkan dalam peternakan tersebut dan juga faktor emisi yang

dikeluarkan dari bahan tersebut. Perhitungan ini jika diuraikan : Emisi GRK = Ai

x EFi ,dimana Ai sebagai konsumsi bahan jenis dan EFi sebagai faktor dari emisi

yang dikeluarkan dari bahan jenis yang dikonsumsi. Pada peternakan ini, faktor

emisi gas metan dari fermentasi pencernaan ternak adalah 61 kg/ekor, maka dapat

diketahui bahwa peternakan ini menyumbang emisi gas metan sebesar 13503 kg

atau 340075 kg/tahun emisi gas CO2e.

Sedangkan untuk pengolahan 1 ton emisi CO2e menurut perhitungan emisi

GHG berdasarkan standar Protokol Kyoto memerlukan biaya sebesar 30 Euro,

dimana 1 Euro = Rp. 12000 (Juni,2013) sehingga biaya untuk pengolahan 1 ton

emisi CO2e adalah Rp. 360000.

3.3 Manajemen pemanfaatan biogas

Biogas merupakan salah satu ciptaan yang bisa menggantikan kompor dalam

pemamfaatannya di kehidupan sehari - hari. Biogas mendapatkan kalor dari

limbah - limbanh yang sudah tidak dapat digunakan lagi seperti feses sapi. Dalam

14
penggunaannya biogas bisa mengurangi gas emisi rumah kaca yang timbul dari

limbah - limbah yang tidak terpakai. Potensi biogas di dalam peternakan adalah

besar jika bisa mengolahnya dengan benar.

Dalam peternakan ini sendiri biogas yang dihasilkan dapat digunakan sebagai

lampu penerangan kandang 60 - 100 watt selama 50 jam, sebagai sumber

penggerak energi 1 PK selama 17 jam, dan menghasilkan energi listrik 39,48

kWh, dan dapat memasak 3 jenis makanan untuk 40 -48 porsi. Dengan

dihasilkannya energi listrik sebesar 39,48 kWh, peternakan ini bisa menyediakan

penerangan berupa 35 buah lampu penerangan berdaya 25 watt yang dinyalakan

selama 12 jam/hari dan disediakan pula listrik untuk mesin pemerah susu dengan

daya 0,55 watt. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Suriwiria (2005) bahwa

penggunaan energi 1m3 biogas dapat dimamfaatkan untuk penerangan lampu 60 -

100 watt selama 6 jam, memasak 3 jenis makanan untuk 5 - 6 orang, bisa juga

sebagai tenaga untuk menjalanan motor 1 PK selama 2 jam. Serta menurut

Suhendra (2008) bahwa diketahui 1 m3 dapat dikonversikan untuk memenuhi

kebutuhan listrik 4,7 kWh energi listrik.

15
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARA

4.1 Kesimpulan

1) Potensi biogas sebagai sumber energi dapat dipergunakan dengan baik.

Energi yang dihasilkan oleh biogas dapat digunakan untuk keperluan

dapur sebagai bahan bakar kompor gas ataupun sebagai penggerak

generator listik.

2) Limbah peternakan menyumbang cukup banyak emisi gas rumah kaca

ketika tidak diolah dengan baik. Dampak terhadap lingkungan dengan

dibuatnya biogas ini dapat mengurangi efek rumah kaca yang terjadi.

3) Limbah peternakan yang diolah menjadi biogas dapat digunakan sebagai

bahan bakar kompor gas dan juga pembangkit tenaga listrik yang dapat di

bergunakan sebagai penerangan kandang.

4.2 Saran

Limbah peternakan memiliki potensi yang cukup besar sebagai penghasil

energi alternatif untuk bahan bakar kompor gas maupun pembangkit

listrik. Limbah peternakan harus dapat lebih diperhatikan oleh semua

kalangan terutama pemerintah, peternakan dan sarjana peternakan agar

bersama-sama dapat mengolah limbah peternakan menjadi suatu hal yang

bermanfaat.

16
DAFTAR PUSTAKA

 Abubakar, Triyantini, Setyanto, H., Supriyati, Sugiarto, dan Wahyudi, M., 2000.
Survey Potensi Ketersediaan Bulu Ayam, Cara Pengolahan dan Pemotongan Ternak
Ayam di TPA. Laporan Penelitian T.A. 1999/2000. Balai Penelitian Ternak. Bogor.

 Achmad, W., 2001. Potensi Limbah Agroindustri Sebagai Pakan Sapi Perah. Skripsi.
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
 Adiati, U., dan Puastuti, W., 2004. Bulu Ayam Untuk Pakan Ruminansia. Balai
Peternakan. Bogor.
 Agustono, Lokapirnasari, W.P., Setyono, H., dan Nurhajati, T., 2007. Pengantar
Teknologi Pakan Ikan. Universitas Airlangga. Surabaya.
 Anonim, 2012. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan. CV. Alnindra Dunia
Perkasa. Jakarta.
 Brandelli, A., 2008. Bacterial Keratinases: Useful Enzymes for Bioprocessing
Agroindustrial Wastes and Beyond.Food Bioprocess Technol, 1:105-116.
 Desi, M., 2002. Aktivitas Keratinase Bacillus licheniformis dalam Memecah Keratin
Bulu Ayam. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
 Deptan. 1991. Surat Keputusan Menteri Pertanian, SK Mentan No.
237/Kpts/RC.410/1991. Departemen Pertanian RI. Jakarta
 Deptan. 1994. Surat Keputusan Menteri Pertanian, SK Mentan No.
752/Kpts/OT.210/10/94,21 Oktober 1994. Departemen Pertanian RI. Jakarta
 Joshi. S. G., Tejashwini, M. M., Revati, N., Sridevi, R., dan Roma, D., 2007.
Isolation, Identification and Characterization of Feather Degrading Bacterium.
Department of Biotechnology. New Delhi.

 Kim, W.K., dan Patterson, P.H., 2000. Nutritional Value of Enzyme or Sodium
Hydroxide- Treated Feathers from Dead Hens. Journal of Poultry Science, 79:528–

17
534.
 Madigan, M.T., dan Martinko, J. M., 2005. Brock Biology of Microorganisms (11th
ed.). Prentice Hall. New Jersey.
 Periasamy, A.H., dan Subash, C.B.G., 2004. Keratinophilik Fungi of Poultry Fram
and Father Dumping Soil In Tamil Nadu. University of Madras. Madras.
 Rodriguez, M.R., Valdivia, E., Soler, J.J. Vivaldi, M.M., Martin-Platero, A.M., dan
Martinez- Bueno, M., 2009. Symbiotic Bacteria Living in the Hoopoe’s Uropygial
Gland Prevent Feather Degradation. J. Exp. Biol, 212:3621- 3626.
 Suntornsuk, W., Tongjun, J., Onnim, P., Oyama, H., Ratanakanokchai, K., Kusamran,
T., dan Oda, K., 2005. Purification and Characterisation of Keratinase from A
Thermotolerant Feather Degrading Bacterium. World Jurnal of Microbiology &
Biotechnology. 21:1111- 1117.
 Sa’adah, N., Hastuti, R., dan Prasetya, N.B.A., 2013. Pengaruh Asam Formiat pada
Bulu Ayam Sebagai Adsorben Terhadap Penurunan Kadar Larutan Zat Warna Tekstil
Remazon Golden Yellow RNL. Jurnal Kimia Universitas Diponegoro, 1(1):202-209.
 Savitha, G. Joshi, M.M., Tejashwini, N., Revati, R., Sridevi, S., dan Roma, D., 2007.
Isolation, Identification and Characterization of a Feather Degrading Bacterium.
International Journal of Poultry Science, 6(9):689-693.
 Sefrita, A., 2008. Pengaruh Dosis Inokulum dan Lama Fermentasi Tepung Bulu
Ayam dengan Bakteri Bacillus coagulans Terhadap Kandungan Protein Kasar dan
Aktivitas Enzim Keratinase. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Andalas.
Padang.
 Sinoy, S., Bhausaheb, T.C.P., dan Rajendra, P.P., 2011. Isolation and identification
of feather degradable microorganism. VSRD-TNTJ, 2(3):128-136.
 Supriyati, Purwadinata, T., dan Kompiang, I.P., 2000. Produksi Mikroba Terseleksi
Pemecah Keratin pada Bulu Ayam Skala Laboratorium. Seminar Nasional
Peternakan dan Veteriner 2000. Balai Penelitian Ternak. Bogor.
 Tiwary, E., dan Gupta, R., 2012. Rapid Conversion of Chicken Feather to Feather
Meal Using Dimeric Keratinase from Bacillus licheniformis ER-15. J. Bioproces
Biotechniq. 2:4

18
 Wulandari, Adi, W., dan Rahayu, S., 2013. Kecernaan Lemak dan Energi Konsentrat
Monogastrik Berbasis Hidrolist Tepung Bulu Ayam secara In Vitro. Jurnal Ilmiah
Peternakan, 1(2):430-43
 Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Situgadung.2007. Biogas untuk
Generetor Listrik Skala Rumah Tangga.Warta Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Vol.29.No.2.2007.
 Hanif.A. 2010. Studi Pemanfaatan Biogas Sebagai Pembangkit Listrik 10 kw
Kelompok Tani Mekarsari Desa Dander Bojonegoro Menuju Desa Mandiri Energi.
Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi
Industri Institut Teknologi Sepuluh November

 Riliandi, D.K. 2010. Studi pemanfaatan kotoran sapi untuk genset Listrik biogas,

penerangan dan memasak Menuju desa nongkojajar (kecamatan tutur) Mandiri

energi. http://digilib.its.ac.id/public/I TS-Undergraduate-13491- Presentation.pdf

diakses pada tanggal 27 Oktober 2018.

 Solihat, S. 2001. Penanganan Limbah Ternak Sapi Perah di Tiga Lokasi di Daerah

Bogor. Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

 Suriawiria. 2005. Menuai Biogas dari Limbah. http://www. Pikiran Rakyat Cyber

Media.

 Widodo, T.W., Nurhasanah, A. 2004. Kajian Teknis Teknologi Biogas dan Potensi

Pengembangannya di Indonesia. Prosiding seminar nasional mekanisasi

pertanian.Hal189–202

19
NAMA NPM TUGAS

Ilman Syahid Al-Kautsar 200110150222 Bab 4 kesimpulan dan saran

Talitha Ala Denaneer 200110160029 Bab 3 Pembahasan 2

Sarfina Nadilah Putri 200110160037 Bab 2 kajian pustaka

Nisa Nuryawati Putri 200110160050 Bab 2 kajian pustaka

Hilmawan Yusuf Habibie 200110160173 Editor Makalah (format tulisan,

margin, dan print)

Muhamad Faroja S 200110160217 Editor Makalah (bagian edit

redaksi, daftar isi, daftar tabel,

kata pengantar, dapus,

tabelpembagian tugas)

M Amien H 200110160224 Bab 1 pendahuluan

Gelar Abifadilla 200110160230 PPT

Muhammad Rionaldi R 200110160254 Bab 3 Pembahasan 1

20