Anda di halaman 1dari 32

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Antenatal Care ( ANC)

1. Pengertian Antenatal Care

Antenatal care adalah pengawasan sebelum persalinan

terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan dalam

rahim (Winkjosastro, 2011,29)

2. Manfaat Pelayanan Antenatal Care

Manfaat dan antenatal care sangat besar karena dapat

mengetahui berbagai resiko dan komplikasi hamil sehingga ibu

hamiI dapat diarahkan untuk melakukan rujukan ke Rumah Sakit

(Manuaba, 2011,96).

3. Tujuan Antenatal Care

a. Tujuan Umum

Tujuan umum pemeriksaan antenatal adalah menyiapkan fisik

dan mental ibu serta menyelamatkan ibu dan anak dalam

kehamilan, persalinan, dan masa nifas agar sehat dan normal

setelah ibu melahirkan (Mansjoer Arief 2011,142)

b. Tujuan khusus

1) Mengenal dan menangani secara dini kemungkinan penyulit

yang terdapat saat kehamilan, persalinan dan nifas.

9
10

2) Mengenal dan menangani secara dini penyakit yang

menyertai kehamilan, persalinan dan nifas.

3) Memberikan nasehat dan petunjuk yang berkaitan dengan

kehamilan, persalinan, nifas, laktasi, dan aspek keluarga

berencana.

4) Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi dan

perinatal (Manuaba,IBG.2011,172)

4. Kebijakan

Pelayanan asuhan standar minimal termasuk 7 T :

a. Timbangan berat badan

b. Ukuran tekanan darah

b. Ukuran tinggi fundus (TFU)

c. Pemberian imunisasi TT (Tetanus Toxoid)

d. Pemberian tablet zat besixxcdexxxe minimal 90 tablet selama

kehamilan

e. Tes PMS (Penyakit Menular Seksual)

f. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan (Saifuddin A.B.

2013,76)

5. Jadwal kunjungan antenatal care

Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang

mengancam jiwanya.Oleh karena itu wanita hamil memerlukan

sedikitnya empat kali kunjungan selama periode antenatal.


11

a. Satu kali kunjungan sebelum 14 minggu

Informasi penting:

1) Membangun hubungan saling percaya antara petugas

kesehatan dengan ibu hamil.

2) Mendeteksi gejala dan menanganinya.

3) Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum,

anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional

yang merugikan.

4) Memulai persiapan kelahiran bayi dan persiapan untuk

menghadapi komplikasi.

5) Mendorong perilaku sehat.

b. Satu kali kunjungan antara minggu 14-18

1) Membangun hubungan saling percaya antara petugas

kesehatan dengan ibu hamil.

2) Mendeteksi gejala dan menanganinya.

3) Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum,

anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional

yang merugikan.

4) Memulai persiapan kelahiran bayi dan persiapan untuk

menghadapi komplikasi.

5) Mendorong perilaku sehat.

6) Kewaspadaan khusus mengenai preeklamsia

c. Dua kali kunjungan setelahminggu 28-36


12

1) Membangun hubungan saling percaya antara petugas

kesehatan dengan ibu hamil.

2) Mendeteksi gejala dan menanganinya.

3) Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum,

anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional

yang merugikan.

4) Memulai persiapan kelahiran bayi dan persiapan untuk

menghadapi komplikasi.

5) Mendorong perilaku sehat.

6) Palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada kehamilan

ganda.

7) Pemeriksaan HB pada kehamilan 28 minggu atau lebih sering

jika ada tanda-tanda anemia.

8) Tanyakan dan periksa tanda gejala penyakit menular seksual

dan ambil tindakan sesuai dengan ketentuan.

9) Tanyakan apakah ibu hamil merasakan hal-hal seperti

perdarahan,nyeri epigastrium, sesak nafas nyeri perut,dan

demam.

10) Setelah 36 minggu dilakukan kunjungan ulang satu kali

seminggu.
13

B. Tinjauan Umum Tentang Kehamilan

1. Pengertian Kehamilan

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin

dimana lamanya lahir normal adalah 280 hari atau 40 minggu atau

9 bulan (Manuaba, 2011,98).

2. Diagnosis Kehamilan

a. Tanda dugaan hamil

1) Amenorea (tidak datang bulan)

Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil

tidak dapat haid lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama

haid terakhir, supaya dapat ditentukan tuanya kehamilan dan

bila persalinan diperkirakan akan terjadi.

2) Nausea (enek) dan emesis (muntah)

Pengaruh estrogen dan progesterone terjadi pengeluaran

asam lambung yang berlebihan.

3) Mengidam

Mengidam sering terjadi pada bulan-bulan pertama akan

tetapi menghilang dengan makin tuanya kehamilan.

4) Pingsan

Terjadi gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral)

menyebabkan iskemia susunan saraf pusat.

5) Payudara tegang dan membesar


14

Keadaan ini disebabkan oleh pengaruh estrogen dan

progesterone yang merangsang duktuli dan alveoli di

mamma. Glandula Montgomery tanpak lebih jelas.

6) Sering kencing

Desakan rahim kedepan menyebabkan kandung kemih

cepat terasa penuh.

7) Konstipasi atau obstipasi

Terjadi karena tonus otot menurun yang disebabkan oleh

pengaruh hormone steroid.

8) Pigmentasi kulit

a) Sekitar pipi: chloasma gravidarum

Keluarnya melanophone stimulating hormone (HSH)

hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi kulit pada

kulit.

b) Dinding perut

Striae livide, striae nigra, linea aiba makin hitam.

c) Sekitar payudara

Hiperpigmentasi areola mammae, puting susu menonjol,

kalenjar niontgomery menonjol, pembuluh darah manifest

sekitar payudara.

9) Epulis ada!ah suatu hipertrofi papilla ginggivae. Sering

terjadi pada triwulan pertama kehamilan.


15

10) Varises atau pembesaran vena karena pengaruh dan

hormon estrogen dan progesterone terjadi pembesaran

pembuluh vena. Pembesaran pembuluh darah terjadi di

sekitar genitalia eksterna, kaki, betis dan payudara.

Pembuluh darah itu dapat menghilang setelah persalinan

(Saifuddin AB, 2011,94).

b. Tanda tidak pasti hamil.

1) Rahim membesar, sesuai tuanya kehamilan

2) Pada pemeriksaan dalam dijumpai:

a) Tanda hegar

Serviks menjadi lebih lembek dan keadaan keras seperti

cuping hidung pada wanita tidak haid menjadi lembut

seperti bibir pada wanita hamil.

b) Tanda chadwicks

Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan

vulva tampak lebih merah agak kebiru-biruan.

c) Tanda piscaseks

Uterus membesar ke salah satu jurusan hingga menonjol

jelas ke jurusan pembesaran tersebut.

d) Kontraksi Braxton hicks

Kontraksi kecil uterus bila dirangsang.

e) Teraba Ballotement
16

3) Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif

Sebagian tes kemungkinan palsu

c. Tanda pasti hamil

1) Gerakan janin dalam Rahim

a) Terlihat / teraba gerakan Janin

b) Teraba bagian-bagian Janin

2) Denyut jantung janin

a) Didengar dengan steloskop leanec, alat kardiotokograpi,

alat Doppler

b) Dilihat dengan alat Ultrasonografi

3. Perubahan FsioIogi yang terjadi dalam kehamilan

a. Rahim atau Uterus

Rahim yang semula biasanya sejempol atau beratnya 30

gram akan mengalami hipertropi dan hiperlasia sehingga

menjadi seberat 1000 gram saat akhir kehamilan. Otot rahim

mengalami hyperplasia dan hipertropi menjadi lebih besar, lunak

dan dapat mengikuti pembesaran janin karena pertumbuhan

janin.

Tafsiran besar pembesaran uterus pada perabaan tinggi

fundus Uteri:

1) Pada kehamilan 16 minggu tingginya rahim setengah jarak

dan simfisis dan pusat.


17

2) Pada hamil 20 minggu, fundus rahim terletak dua jari

dibawah pusat sedangkan pada umur 24 minggu tepat dua

tepi diatas pusat.

3) Pada hamil 28 minggu tingginya fundus uteri sekitar tiga jari

diatas pusat atau sepertiga jarak antara pusat dan prosessus

xifoideus.

4) Pada kehamilan 32 minggu tingginya fundus uteri setengah

jarak prosessus xifoideus dan pusat.

5) Pada kehamilan 36 minggu tinggi fundus uteri sekitar satu

jari dibawah xifoideus dalam hal kepala bayi belum masuk

pintu atas panggul.

6) Pada kehamilan berumur 40 minggu fundus uteri turun

setinggi tiga jari prosessus xifoideus. OIeh karena saat ini

kepala janin telah masuk pintu atas panggul (Manuaba I.

B.G. 2011,152)

b. Vagina

Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh

darah karena pengaruh estrogen sehingga tampak makin merah

dan kebiru-biruan (Wiknjosastro H.2011,78)

c. Ovarium

Indung telur pada seorang dewasa sebesar ibu jari

tangan terletak dikiri dan kanan, dekat pada dinding pelvis divosi

ovarika. Ovanium berhubungan dengan uterus dengan


18

Ligamentum Ovarium proprium sebagian besar ovarium berada

intraperitoneal dan tidak dilapisi oleh peritoneum. (Wiknjosastro

H .2011,87)

d. Payudara

Payudara akan membesar dan tegang, areola Iebih

banyak mengandung pigmen dan puting sedikit membesar.

Estrogen sedikit menimbulkan hipertropi system saluran

sedangkan progesterone menambahkan sel-sel asinus pada

payudara ini menjadi hipertrofis dibawah pengaruh estrogen dan

progesterone yang kadarnya meningkat, alveolus-alveolus mulal

terisi cairan, yakni kolostrum, dibawah pengaruh prolaktin

(Wiknjosastro H.2011,88.)

e. Sirkulasi darah ibu

1) Volume darah

Volume darah semakin meningkat dimana jumlah

serum darah lebih besar dan pertumbuhan sel darah,

sehingga terjadi semacam pengenceran darah (Himodilasi),

dengan puncaknya pada umur hamil 32 minggu. Serum

darah (Volume darah) bertambah sebesar 25 sampai 30%

sedangkan sel darah bertambah sekitar 20% (Manuaba

l.B.G. 2011,154.)
19

2) Sel darah

Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk

dapat mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim, tetapi

pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan

volume darah sehingga terjadi hemodilusi dan anemia

fisiologis maka laju darah semakin tinggi dan dapat

mencapai jumlah sebesar 10.000/mil. Dengan hemodilusi

dan anemia fisologis maka laju endap darah semakin tinggi

dan dapat mencapai empat kali dan angka normal.

(Manuaba I.B.G 2011,165.)

3) Sistem respirasi

Pada kehamilan terjadi juga perubahan system

respirasi untuk dapat memenuhi kebutuhan O2. disamping itu

terjadi desakan diagfragma karena dorongan rahim yang

membesar pada umur hamil 32 minggu, Sebagai

Kompensasi terjadinya desakan rahim dan kebutuhan O2

yang meningkat. Ibu hamil akan bernafas lebih dalam sekitar

20 sampai 25% dari biasanya (Manuaba I.B.G.2011,157).

4) Sistem pencernaan

a. Karena pengaruh estrogen, pengeluaran asam lambung

meningkat yang dapat menyebabkan:

1. Pengeluaran air liur yang berlebihan

2. Daerah lambung terasa panas


20

3. Terjadi mual dan sakit/pusing kepala terutama pagi

hari.

4. Muntah, yang terjadi disebut emesis gravadium

5. Muntah berlebihan sehingga menggangu kehidupan

sehari-hari disebut hiperemesis gravidarum.

6. Progesterone menimbulkan gerak usus makin

berkurang dan dapat menyebabkan obstipasi

(Manuaba I.B.G.2011,159).

5) Traktus urinarius

Karena pengaruh desakan hamil muda dan turunnya

kepala bayi pada hamil tua terjadi gangguan miksi dalam

bentuk sering kencing. Desakan tersebut menyebabkan

kandung kemih cepat terasa penuh. Terjadinya hemodilusi

menyebabkan metabolisme air makin lancar sehingga

pembentukan air senipun akan bertambah (ManuabaI.B.G.

2011,189)

6) Perubahan pada kulit

Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan

hiperpigmentasi karena pengaruh meanophore stimulating

hormone MSH pada obus hipofisis anterior dan pengaruh

kalenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae

gravidarum livide atau alba, areola mammae, papilla

mammae, linea nigra, pipi (chloasma gravidarum). Setelah


21

persalinan hiperpigmentasi ini akan rnenghilang (Manuaba

IB.G 2011,98).

7) Metabolisme

Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh

mengalami perubahan yang mendasar, dimana kebutuhan

nutrisi makin tinggi untuk pertumbuhan janin dan persiapan

memberikan ASI.

Perubahan metabolisme adalah:

a) Metabolisme basal naik sebesar 15% sampai 20% dari

semula, terutama pada trimester ketiga.

b) Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dan

155 mEq perliter menjadi 145 mEq perliter disebabkan

hemodolasi darah dan kebutuhan mineral yang

diperlukan janin.

c) Kebutuhan protein wanita hamil makin tinggi untuk

pertumbuhan dan perkembangan janin. Perkembangan

organ kehamilan dan persiapan laktasi. Dalam makanan

diperlukan protein tinggi sekitar ½ gr/kg BB atau sebutir

telur ayam sehari.

d) Kebutuhan kalori didapat dan karbohidrat, lemak dan

protein.

e) Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil


22

1. Kalsium 1,5 gram setiap hari 30 sampai 40 gram

untuk pembentukan tulang dan janin.

2. Fosfor rata-rata 2 gram dalam sehari.

3. Zat besi, 800 mgr, atau 30 sampai 50 mgr sehari.

4. Air, ibu hamil memerlukan air cukup banyak dan

dapat terjadi retensi air.

f. Berat badan ibu hamil bertambah

Berat badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5

sampai 16,5 kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat

badan sekitar ½ kg/minggu. Pertambahan berat badan ini

dapat dirinci sebagai berikut:

1. Janin 32,5 kg

2. Plasenta 0,5 kg

3. Air ketuban 1 kg

4. Rahim sekitar 1 kg

5. Timbunan lemak 1,5 kg

6. Timbunan protein 2 kg

7. 7 Retensiairgaram 1,5 kg

(Manuaba I.B.G.2011,176)
23

C. Tinjauan Khusus Tentang Presentase Bokong

1. Pengertian Presentase Bokong

Presentase Bokong merupakan keadaan dimana janin

terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong

berada di bagian bawah kavum uteri (Prawirohardjo, 2010,606).

2. Klasifikasi Presentase Bokong

a. Presentasi bokong murni (frank breech)

Yaitu letak sungsang dimana kedua kaki terangkat ke atas

sehingga ujung kaki setinggi bahu atau kepala janin.

b. Presentasi bokong kaki sempurna (complete breech)

Yaitu letak sungsang dimana kedua kaki dan tangan menyilang

sempurna dan di samping bokong dapat diraba kedua kaki.

c. Presentasi bokong kaki tidak sempurna (incomplete breech)

Yaitu letak sungsang dimana hanya satu kaki di samping

bokong, sedangkan kaki yang lain terangkat ke atas (Kasdu,

2011,28).

Gambar 2.1 presentase bokong

Sumber : (Pra wirohardjo, 2011,166)


24

3. Etiologi Presentase Bokong

Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin

terhadap ruangan didalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang

lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relative lebih banyak, sehingga

memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian

janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak

sungsang, ataupun letak lintang. Pada kehamilan triwulan terakhir

janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relative

berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai yang terlipat

lebih besar daripada kepala, maka bokong dipaksa menempati

ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada

dalam ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan

demikian dapat dimengerti mengapa pada kehamilan belum cukup

bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada

kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam

presentasi kepala. Faktor-faktor lain yang memegang peranan

dalam terjadinya letak sungsang diantaranya adalah multiparitas,

hamil kembar, hidramnion, hidrosefalus, plasenta previa, dan

panggul sempit. Kadang-kadang letak sungsang disebabkan

karena kelainan uterus dan kelainan bentuk uterus. Plasenta yang

terletak di daerah kornu fundus uteri dapat pula menyebabkan letak

sungsang karena plasenta mengurangi luas ruangan di daerah

fundus (Prawirohardjo.2011,81).
25

a. Prematuritas karena bentuk rahim relatif kurang lonjong,

b. air ketuban masih banyak dan kepala anak relatif besar

c. Plasenta previa karena menghalangi turunnya kepala ke dalam

pintu atas panggul.

d. Kelainan bentuk kepala: hidrocephalus, anencephalus, karena

kepala kurang sesuai dengan bentuk pintu atas panggul.

e. Fiksasi kepala pada pintu atas panggul tidak baik atau tidak

ada, misalnya pada panggulsempit, hidrosefalus, plasenta

previa, tumor – tumor pelvis dan lain – lain.

f. Janin mudah bergerak,seperti pada hidramnion, multipara

g. Gemeli (kehamilan ganda)

h. Kelainan uterus, seperti uterus arkuatus ; bikornis, mioma uteri.

i. Janin sudah lama mati.

j. Sebab yang tidak diketahui.

4. Patofisiologi Presentase Bokong

Penjelasan dari patofisiologi tersebut diatas adalah letak

janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap

ruangan dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32

minggu, jumlah air ketuban relatif lebih banyak, sehingga

memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian

janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak

sungsang atau letak lintang. Pada kehamilan triwulan terakhir janin

tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif berkurang.


26

Karena bokong dengan kedua tungkai terlipat lebih besar daripada

kepala, maka bokong dipaksa untuk menempati ruang yang lebih

luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada ruangan yang lebih

kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti

mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak

sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan,

janin sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala.

Sayangnya, beberapa fetus tidak seperti itu. Sebagian dari mereka

berada dalam posisi sungsang (Imadeharyoga, 2012: 3).

5. Diagnosis Presentase Bokong

Diagnosis letak sungsang yaitu pada pemeriksaan luar

kepala tidak teraba di bagian bawah uterus melainkan teraba di

fundus uteri Kadang-kadang bokong janin teraba bulat dan dapat

memberi kesan seolah-olah kepala, tetapi bokong tidak dapat

digerakkan semudah kepala. Seringkali wanita tersebut

menyatakan bahwa kehamilannya terasa lain daripada yang

terdahulu, karena terasa penuh di bagian atas dan gerakan terasa

lebih banyak di bagian bawah. Denyut jantung janin pada umumnya

ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi daripada umbilicus.

Apabila diagnosis letak sungsang dengan pemeriksaan luar

tidak dapat dibuat, karena misalnya dinding perut tebal, uterus

mudah berkontraksi atau banyaknya air ketuban, maka diagnosis

ditegakkan berdasarkan pemeriksaan dalam. Apabila masih ada


27

keragu-raguan, harus dipertimbangkan untuk melakukan

pemeriksaan ultrasonografik. Setelah ketuban pecah, dapat diraba

lebih jelas adanya bokong yang ditandai dengan adanya sacrum,

kedua tuber ossis iskii, dan anus. Bila dapat diraba kaki, maka

harus dibedakan dengan tangan. Pada kaki terdapat tumit,

sedangkan pada tangan ditemukan ibu jari yang letaknya tidak

sejajar dengan jari-jari lain dan panjang jari kurang lebih sama

dengan panjang telapak tangan. Pada persalinan lama, bokong

janin mengalami edema, sehingga kadang-kadang sulit untuk

membedakan bokong dengan muka. Pemeriksaan yang teliti dapat

membedakan antara bokong dengan muka karena jari yang akan

dimasukkan ke dalam anus mengalami rintangan otot, sedangkan

jari yang dimasukkan ke dalam mulut akan meraba tulang rahang

dan alveola tanpa ada hambatan. Pada presentasi bokong kaki

sempurna, kedua kaki dapat diraba di samping bokong sedangkan

pada presentasi bokong kaki tidak sempurna, hanya teraba satu

kaki di samping bokong (Prawirohardjo, 2011, 609-611).

6. Cara persalinan presentase bokong :

a. Pervaginam

Persalinan letak sungsang dengan pervaginam mempunyai

syarat yang harus dipenuhi yaitu pembukaan benar-benar

lengkap, kulit ketuban sudah pecah, his adekuat dan tafsiran

berat badan janin < 3600 gram. Terdapat situasi-situasi tertentu


28

yang membuat persalinan pervaginam tidak dapat dihindarkan

yaitu ibu memilih persalinan pervaginam, direncanakan bedah

sesar tetapi terjadi proses persalinan yang sedemikian cepat,

persalinan terjadi di fasilitas yang tidak memungkinkan

dilakukan bedah sesar, presentasi bokong yang tidak

terdiagnosis hingga kala II dan kelahiran janin kedua pada

kehamilan kembar. Persalinan pervaginam tidak dilakukan

apabila didapatkan kontra indikasi persalinan pervaginam bagi

ibu dan janin, presentasi kaki, hiperekstensi kepala janin dan

berat bayi > 3600 gram, tidak adanya informed consent, dan

tidak adanya petugas yang berpengalaman dalam melakukan

pertolongan persalinan (Prawirohardjo, 2011, 95).

b. Persalinan spontan (spontaneous breech)

Yaitu janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu

sendiri (cara bracht). Pada persalinan spontan bracht ada 3

tahapan yaitu tahapan pertama yaitu fase lambat, fase cepat,

dan fase lambat kedua.

1) Fase lambat pertama:

Mulai dari lahirnya bokong sampai umbilikus (scapula).

Disebut fase lambat oleh karena tahapan ini tidak perlu

ditangani secara tergesa-gesa mengingat tidak ada bahaya

pada ibu dan anak yang mungkin terjadi.


29

2) Fase cepat:

Mulai lahirnya umbilikus sampai mulut. Pada fase ini, kepala

janin masuk panggul sehingga terjadi oklusi pembuluh darah

talipusat antara kepala dengan tulang panggul sehingga

sirkulasi uteroplasenta terganggu. Disebut fase cepat oleh

karena tahapan ini harus terselesaikan dalam 1 – 2 kali

kontraksi uterus (sekitar 8 menit).

3) Fase lambat kedua:

Mulai lahirnya mulut sampai seluruh kepala. Fase ini disebut

fase lambat oleh karena tahapan ini tidak boleh dilakukan

secara tergesa-gesa untuk menghidari dekompresi kepala

yang terlampau cepat yang dapat menyebabkan perdarahan

intrakranial.

Gambar 2.2 Pertolongan p ersalinan secara bracht2

Sumber : (Pra wirohardjo, 2011,166)


30

c. Manual aid

Yaitu janin dilahir an sebagian dengan t naga dan k ekuatan ibu

dan sebagian lagi de gan tenag a penolong Pada persalinan

den gan cara manual aid ada 3 tahapa n yaitu : tahap pertam a

lahirnya bokong sa mpai pusar yang dilahirkan dengan kekuatan

ibu sendiri, tahap kedua lahirnya bahu dan lengan yang

memakai tenaga penolong dengan cara klasik, mueller, lovset;

tahap ketiga lahirnya kepala dengan memakai cara mauriceau

dan forceps piper.

Berikut ini cara melahirkan bahu dan lengan pada letak

sungsang dengan cara klasik :

1) Kedua kaki janin dipegang dengan tangan kanan penolong

pada pergelangan kakinya dan dielevasi ke atas sejauh

mungkin sehingga perut janin mendekati perut ibu.

2) Bersamaan dengan itu tangan kiri penolong dimasukkan ke

dalam jalan lahir dengan jari telunjuk menelusuri bahu janin

sampai pada fossa cubiti kemudian lengan bawah dilahirkan

dengan gerakan seolah-olah lengan bawah mengusap muka

janin.

3) Untuk melahirkan lengan depan, pegangan pada

pergelangan kaki janin diganti dengan tangan kanan

penolong dan ditarik curam ke bawah sehingga punggung

janin mendekati punggung ibu. Dengan cara yang sama


31

lengan dapat dilahirkan

Gambar 2.3 Pengeluaran lengan secara klasik

Sumber : (Prawirohardjo, 2011,168)

Berikut ini melahirkan bahu dan lengan pada letak

sungsang dengan cara mueller :

1) Badan janin dipegang secara femuro-pelvis dan sambil

dilakukan traksi curam ke bawah sejauh mungkin sampai

bahu depan di bawah simfisis dan lengan depan dilahirkan

dengan mengait lengan di bawahnya.

2) Setelah bahu dan lengan depan lahir, maka badan janin yang

masih dipegang secara femuro-pelvis ditarik ke atas sampai

bahu belakang lahir.

Gambar 2.4 Pengeluaran lengan muller

Sumber : (Prawirohardjo, 2011,169)


32

Berikut ini melahirkan bahu dan lengan

dengan cara lovset :

1) Badan janin dipegang secara femuro-pelvis dan sambil

dilakukan traksi curam ke bawah badan janin diputar

setengah lingkaran, sehingga bahu belakang menjadi bahu

depan.

2) Sambil melakukan traksi, badan janin diputar kembali ke

arah yang berlawanan setengah lingkaran demikian

seterusnya bolak-balik sehingga bahu belakang tampak di

bawah simfisis dan lengan dapat dilahirkan

Gambar 2.5 Pengeluaran lengan secara lovset

Sumber : (Prawirohardjo, 2011, 170)

Berikut ini melahirkan kepala dengan cara mauriceau :

1) Tangan penolong yang sesuai dengan muka janin

dimasukkan ke dalam jalan lahir.

2) Jari tengah dimasukkan ke dalam mulut dan jari telunjuk serta

jari ke empat mencengkeram fossa canina sedangkan jari

yang lain mencengkeram leher.

3) Badan anak diletakkan di atas lengan bawah penolong


33

seolah-olah janin menunggang kuda. Jari telunjuk dan jari ke

tiga penolong mencengkeram leher janin dari arah punggung.

4) Kedua tangan penolong menarik kepala janin curam ke

bawah sambil seorang asisten melakukan fundal pressure.

5) Saat suboksiput tampak di bawah simfisis, kepala janin

dielevasi ke atas dengan suboksiput sebagai hipomoklion

sehingga berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, mata, dahi,

ubun-ubun besar dan akhirnya seluruh kepala.

Gambar 2.6 Pengeluaran kepala secara mauriceau

Sumber : (Prawirohardjo, 2011,67)1

D. Manajemen Asuhan Kebidanan

1. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan

Proses asuhan kebidanan adalah dinamis, bertanggung jawab

terhadap perubahan status kesehatan setiap wanita, dan

mengantisipasi masalah potensial sebelum terjadi (IBI, 2000).

Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan

oleh bidan dalam menetapkan metode pemecahan masalah

secara sistematis, mulai dari pengkajian, analisis data, diagnose


34

kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. (Hidayat Asri

2011, 74)

2. Tahapan Dalam Manajemen Asuhan Kebidanan

Langkah I. Identifikasi Data Dasar

Mengumpulkan data adalah menghimpun informasi tentang

klien/orang yang meminta asuhan. Kegiatan mengumpulkan data

dimulai saat klien masuk dan dilanjutkan secara terus menerus

selama proses asuhan kebidanan berlangsung. Data dapat

dikumpulkan dari berbagai sumber yakni sumber yang dapat

memberikan informasi paling akurat yang dapat diperoleh secepat

mungkin dan upaya sekecil mungkin.

Teknik pengumpulan data ada tiga yakni:

1) Observasi, yakni pengumpulan data melalui indera:

penglihatan (perilaku, tanda fisik, kecacatan, ekspresi wajah)

2) Wawancara, yakni pembicaraan terarah yang umumnya

dilakukan pada pertemuan tatap muka. Dalam wawancara

yang penting diperhatikan adalah data yang ditanyakan

diarahkan ke data yang relevan.

3) Pemeriksaan, yakni dilakukan dengan memakai instrumen

atau alat pengukur (Hidayat Asri 2012, 75-76 ).

Langkah II. Identifikasi Diagnose atau Masalah Aktual

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap

diagnose atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan


35

interpretasi yang benar atas data-data yang dikumpulkan. Data

dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga

ditemukan masalah atau diagnose yang spesifik (Hidayat Asri 2011,

76).

Langkah III. Mengidentifikasi Diagnose atau Masalah Potensial

Pada langkah ini kita mengidentifikasikan masalah atau

diagnose potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan

diagnose potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan

diagnose yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan

antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil

mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnose

atau masalah potensial ini benar-benar terjadi. (Hidayat Asri 2011,

77).

Langkah IV. Tindakan Emergency/ Kolaborasi

Pada langkah ini, bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau

dokter segera melakukan konsultasi atau melakukan penanganan

bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan

kondisi klien. Langkah ini mencermikan kesinambungan dari proses

penatalaksanaan kebidanan (Purwandari 2011, 80).

Langkah V. Rencana Tindakan/ Intervensi

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh

ditentukan oleh langkah sebelumnya. Semua keputusan yang

dibuat dalam merencanakan suatu asuhan yang komprehensif


36

harus merefleksikan alasan yang benar,berlandaskan

pengetahuan, teori yang berkaitan dan up to date serta

divalidasikan dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan

apa yang tidak diinginkan oleh klien. (Hidayat Asri 2011, 78).

Langkah VI. Implementasi

Pada langkah ini, rencana asuhan menyeluruh yang telah

diuraikan sebelumnya dilaksanakan secara efisien dan aman.

Manajemen yang efisien akan menyingkat waktu, biaya dan

meningkatkan mutu asuhan. Perencanaan ini dilakukan seluruhnya

oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim

kesehatan lain. (Purwandari 2011, 81).

Langkah VII. Evaluasi

Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektivan dari asuhan

yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan

bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan

kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah

dandiagnose.Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang

benar efektif dalam pelaksanaannya. (Hidayat Asri 2011, 79).

3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan

Pendokumentasian Manajemen Asuhan Kebidanan (SOAP)

adalah catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis, dan tertulis.

Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian

mengenai asuhan yang telah dan akan dilakukan pada seorang


37

pasien, di dalamnya tersirat proses berfikir bidan yang sistematis

dalam menghadapi seorang pasien sesuai langkah-langkah

manajemen kebidanan.

Pendokumentasian atau catatan manajemen kebidanan dapat

diterapkan dengan metode SOAP. Dalam metode SOAP, S adalah

data Subjektif,O adalah data Objektif, A adalah Analysis/Assessment

dan P adalah Planning. Merupakan catatan yang bersifat sederhana,

jelas, logis dan singkat. Prinsip dalam metode SOAP ini merupakan

proses pemikiran penatalaksanaan manajemen kebidanan.

S (Data Subjektif)

Data Subjektif (S), merupakan pendokumentasian manajemen

kebidanan menurut Helen Varney langkah pertama (penkajian data),

terutama data yang diperoleh melalui anamnesis. Data Subjektif ini

berhubungan dengan masalah dari sudut pandang pasien. Ekspresi

pasien mengenai kekhawatiran dan keluhannya yang dicatat sebagai

kutipan langsung atau ringkasan yang akan berhubungan langsung

dengan diagnosis. Data Subjektif ini nantinya akan menguatkan

diagnosis yang akan disusun. Pada pasien yang bisu, di bagian data

di belakang huruf “S”, diberi tanda “O” atau “X”. Tanda ini akan

menandakan bahwa pasien adalah tuna wicara.

O (Data Objektif)

Data Objektif (O) merupakan pendokumentasian manajemen

kebidanan menurut Helen Varneypertama (pengkajian data),


38

terutama data yang diperoleh melalui hasil observasi yang jujur dari

pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan

diagnostik lain. Catatan medik dan informasi dari keluarga atau

orang lain dapat dimasukkan dalam data objektif ini. Data ini akan

memberikan bukti gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan

dengan diagnosis.

A (Assessment)

A (Analysis/Assessment), merupakan pendokumentasian hasil

analisis dan interpretasi (kesimpulan) dari data subjektif dan objektif.

Dalam pedokumentasian manajemen kebidanan, karena keadaan

pasien yang setiap saat bisa mengalami perubahan, dan akan

ditemukan informasi baru dalam data subjektif maupun data objektif,

maka proses pengkajian data akan menjadi sangat dinamis.

P (Planning)

Planning/perencanaan,adalah membuat rencana asuhan saat

ini dan yang akan datang. Rencana asuhan disusun berdasarkan

hasil analis dan interpretasi data. Rencana asuhan ini bertujuan

untuk mengusahakan tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin

dan mempertahankan kesejahteraannya. Rencana asuhan ini harus

bisa mencapai kriteria tujuan yang diinginkan dicapai dalam batas

waktu tertentu. Tindakan yang dilaksanakan harus mampu

membantu pasien mencapai kemajuan dan harus sesuai dengan

hasil kolaborasi tenaga kesehatan lain antara lain dokter.


39

Dalam Planning ini juga harus mencantumkan

evaluation/evaluasi, yaitu tafsiran dari evek tindakan yang telah

diambil untuk menilai efektivitas asuhan/hasil pemeriksaan tindakan.

Evaluasi berisi analisis yang telah dicapai dan merupakan fokus

ketepatan nilai tindakan/asuhan. Jika kriteria tujuan tidak tercapai,

proses evaluasi ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan

tindakan alternatif sehingga tercapai tujuan yang diharapkan. Untuk

pendokumentasian proses evaluasi ini, diperlukan sebuah catatan

perkembangan, dengan tepat mengacu pada metode SOAP

(Dokumentasi Kebianan, Wafi Nur Muslihatun ; 2010.122-125).


40

Tabel 1 : Proses Manajemen Kebidanan, Kompetensi Bidan dan


Dokumentasi SOAP

Pencatatan dari
Alur pikir bidan
asuhan kebidanan

Proses Manajemen Pendokumenta


Kebidanan sian asuhan
kebidanan

7 Langkah Varney SOAP/Notes


5 Langkah
(Kompetensi
Bidan)

Pengumpulan data Data Subjektif


Objejektif
Diagnosa/masalah
aktual
Antisipasi Assesment Assesment/
diagnosa/masalah / Diagnosa Diagnosa
potensial
Tindakan
segera/kolaborasi
Planning :
Perencanaan Perencanaan a. Konsul
b. Tes lab
Implementasi Implementasi c. Rujukan
Evaluasi Evaluasi d. Pendidikan/
Konseling.
e. Follow up
Sumber : Simatupang E.J, 2010, s.