Anda di halaman 1dari 33

Persamaan Dan Perbedaan Etika dengan Etiket

Etika berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Dalam bahasa Inggeris dikenal
sebagai ethics dan etiquette.

Persamaan antara etika dengan etiket yaitu:

 Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia.


 Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma
bagi perilaku manusia. Dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan
apa yang tidak boleh dilakukan.

Perbedaan antara etika dengan etiket yaitu :

 Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia, artinya cara yang ditentukan
dan diharapkan dalam sebuah kalangan tertentu. Sedangkan etika tidak terbatas
pada cara melakukan suatu perbuatan, melainkan etika memberi norma tentang
perbuatan itu sendiri, serta membahas tentang masalah apakah perbuatan tersebut
boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
 Etiket hanya berlaku untuk pergaulan, maksudnya adalah etiket hanya berlaku
apabila ada orang lain atau saksi mata. Sedangkan Etika selalu berlaku walaupun
tidak ada orang lain.
 Etiket bersifat relatif, artinya adalah seseorang yang dianggap melanggar etiket pada
salah satu kebudayaan belum tentu dianggap melanggar etika pada kebudayaan yang
lain. Sedangkan Etika bersifat tetap dan tidak dapat ditawar.
 Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja atau dari segi luar saja.
Sedangkan Etika memandang manusia dari segi dalam. maksudnya adalah, orang yang
memegang teguh etiket masih bisa bersikap munafik, sebaliknya orang yang
berpegang teguh pada etika tidak akan bersikap munafik, karna apabila orang
tersebut munafik, maka orang tersebut tidak bersikap etis (orang yang benar-benar
baik).

I. Definisi Etika, Etis, Etik dan Etiket


A. Pengertian Etika
Etika (etimologi), berasal dari bahasa Yunani ”Ethos” yang berarti watak kesusilaan atau
adat. Identik dengan perkataan moral yang berasal dari kata lain “Mos” yang dalam bentuk
jamaknya “Mores” yang berarti juga adat atau cara hidup (Zubair, 1987:13). Sedangkan
Etika menurut para ahli sebagai berikut (Abuddin, 2000: 88-89):
1. Ahmad Amin berpendapat, bahwa Etika merupakan ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa
yang seharusnya dilakukan manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan
mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.
2. Soegarda Poerbakawatja mengartikan Etika sebagai filsafat nilai, kesusilaan tentang baik buruk, serta berusaha
mempelajari nilai-nilai dan merupakan juga pengetahuan tentang nilai-nilai itu sendiri.
3. Ki Hajar Dewantara mengartikan Etika merupakan ilmu yang mempelajari soal kebaikan (dan keburukan) di
dalam hidup manusia semaunya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan
pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan.

Adapun Perbandingan yang dilakukan oleh K. Bertens terhadap arti kata ‘Etika’ yang
terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama dengan Kamus Bahasa Indonesia
yang baru. Dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama (Poerwadarminta, sejak 1953-
mengutip dari Bertens, 2000), Etika mempunyai arti sebagai: “ilmu pengetahuan tentang
asas-asas akhlak (moral)”. Sedangkan kata ‘Etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
yang baru (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988 – mengutip dari Bertens
2000), mempunyai arti :

1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral
(akhlak);

2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;

3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Dari perbadingan kedua kamus tersebut terlihat bahwa dalam Kamus Bahasa Indonesia
yang lama hanya terdapat satu arti saja yaitu Etika sebagai ilmu. Sedangkan Kamus
Bahasa Indonesia yang baru memuat beberapa arti. Kalau kita misalnya sedang membaca
sebuah kalimat di berita surat kabar “Dalam dunia bisnis Etika merosot terus” maka kata
‘Etika’ di sini bila dikaitkan dengan arti yang terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia
yang lama tersebut tidak cocok karena maksud dari kata ‘Etika’ dalam kalimat tersebut
bukan Etika sebagai ilmu melainkan ‘nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu
golongan atau masyarakat’. Jadi arti kata ‘Etika’ dalam Kamus Bahasa Indonesia yang
lama tidak lengkap.

K. Bertens berpendapat bahwa arti kata ‘Etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
tersebut dapat lebih dipertajam dan susunan atau urutannya lebih baik dibalik, karena arti
kata ke-3 lebih mendasar daripada arti kata ke-1. Sehingga arti dan susunannya menjadi
seperti berikut :

1. Nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok
dalam mengatur tingkah lakunya.

Misalnya, jika orang berbicara tentang Etika orang Jawa, Etika agama Budha, Etika
Protestan dan sebagainya, maka yang dimaksudkan Etika di sini bukan Etika sebagai ilmu
melainkan Etika sebagai sistem nilai. Sistem nilai ini bisaberfungsi dalam hidup manusia
perorangan maupun pada taraf sosial.

2. Kumpulan asas atau nilai moral.

Yang dimaksud di sini adalah kode etik. Contoh : Kode Etik Jurnalistik

3. ilmu tentang yang baik atau buruk.

Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai
tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat
dan sering kali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan
metodis. Etika di sini sama artinya dengan filsafat moral.

B. Pengertian Etis

Menurut Kamus Bahasa Indonesia

1. Berhubungan (sesuai) dengan Etika;

2. Sesuai dengan asas perilaku yang disepakati secara umum.

C. Pengertian Etik

Menurut Kamus Bahasa Indonesia

1. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;

2. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat

D. Pengertian Etiket

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia diberikan beberapa arti dari kata “etiket”, yaitu :
1. Etiket (Belanda) secarik kertas yang ditempelkan pada kemasan barang-barang
(dagang) yang bertuliskan nama, isi, dan sebagainya tentang barang itu.

2. Etiket (Perancis) adat sopan santun atau tata krama yang perlu selalu diperhatikan
dalam pergaulan agar hubungan selalu baik.

II. Etika Guru Dalam Profesionalisme Pendidikan


A. Pengertian Guru
Guru adalah Orang yang mengajar. Perkataan guru adalah hasil gabungan dua suku kata
yaitu `Gu’ dan `Ru’. Dalam bahasa jawa, Gu diambil daripada perkataan gugu bermakna
boleh dipercayai sedangkan Ru diambil daripada perkataan tiru yang bermaksud boleh
diteladani atau dicontohi. Jadi yang dimaksud dengan GURU adalah seseorang yang boleh
ditiru perkataannya, perbuatannya, tingkah lakunya, pakaiannya, amalannya dan boleh
dipercayai amanahnya yang dipertanggungjawabkan kepadanya untuk dilakukan dengan
jujur.
B. Pengertian Profesi

Profesi berasal dari bahasa latin “Proffesio” yang mempunyai dua pengertian yaitu
janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi:
kegiatan “apa saja” dan “siapa saja” untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan
suatu keahlian tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang
dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan
norma-norma sosial dengan baik.

Jabatan guru sebagai suatu profesi. Jabatan guru dapat dikatakan sebuah profesi karena
menjadi seorang guru dituntut suatu keahlian tertentu (mengajar, mengelola kelas,
merancang pengajaran) dan dari pekerjaan ini seseorang dapat memiliki nafkah bagi
kehidupan selanjutnya. Hal ini berlaku sama pada pekerjaan lain. Namun dalam
perjalanan selanjutnya, mengapa profesi guru menjadi berbeda dari pekerjaan lain.
Menurut artikel “The Limit of Teaching Proffesion,” profesi guru termasuk ke dalam
profesi khusus selain dokter, penasihat hokum. Kekhususannya adalah bahwa hakekatnya
terjadi dalam suatu bentuk pelayanan manusia atau masyarakat. Orang yang menjalankan
profesi ini hendaknya menyadari bahwa ia hidup dari padanya, itu haknya; ia dan
keluarganya harus hidup akan tetapi hakikat profesinya menuntut agar bukan nafkah
hidup itulah yang menjadi motivasi utamanya, melainkan kesediaannya untuk melayani
sesama.
Di lain pihak profesi guru juga disebut sebagai profesi yang luhur. Dalam hal ini, perlu
disadari bahwa seorang guru dalam melaksanakan profesinya dituntut adanya budi luhur
dan akhlak yang tinggi. Mereka (guru) dalam keadaan darurat dianggap wajib juga
membantu tanpa imbalan yang cocok. Atau dengan kata lain hakikat profesi luhur adalah
pengabdian kemanusiaan.

C. Dua Prinsip Etika Profesi Luhur

Tuntutan dasar Etika profesi luhur adalah sebagai berikut :


1. Ialah agar profesi itu dijalankan tanpa pamrih. Dr. B. Kieser menuliskan: “Seluruh ilmu dan usahanya hanya demi
kebaikan pasien/klien. Menurut keyakinan orang dan menurut aturan-aturan kelompok (profesi luhur), para
profesional wajib membaktikan keahlian mereka semata-mata kepada kepentingan yang mereka layani, tanpa
menghitung untung ruginya sendiri. Sebaliknya, dalam semua Etika profesi, cacat jiwa pokok dari seorang profe-
sional ialah bahwa ia mengutamakan kepentingannya sendiri di atas kepentingan kliennya.”
2. Adalah bahwa para pelaksana profesi luhur ini harus memiliki pegangan atau pedoman yang ditaati dan diperlukan
oleh para anggota profesi, agar kepercayaan para klien tidak disalahgunakan. Selanjutnya hal ini kita kenal sebagai
kode etik. Mengingat fungsi dari kode etik itu, maka profesi luhur menuntut seseorang untuk menjalankan tugasnya
dalam keadaan apapun tetap menjunjung tinggi tuntutan profesinya.

Singkatnya jabatan guru juga merupakan sebuah profesi. Namun demikian profesi ini
tidak sama seperti profesi-profesi pada umumnya. Bahkan boleh dikatakan bahwa profesi
guru adalah profesi khusus luhur. Mereka yang memilih profesi ini wajib menyadari
bahwa daya dorong dalam bekerja adalah keinginan untuk mengabdi kepada sesama serta
menjalankan dan menjunjung tinggi kode etik yang telah diikrarkannya, bukan semata-
mata segi materinya belaka.

D. Tuntutan Seorang Guru

Di atas telah dijelaskan tentang mengapa profesi guru sebagai profesi khusus dan luhur.
Berikut akan diuraikan tentang dua tuntutan yang harus dipilih dan dilaksanakan guru
dalam upaya mendewasakan anak didik. Tuntutan itu adalah:

1. Mengembangkan visi anak didik tentang apa yang baik dan mengembangkan self esteem
anak didik.

2. Mengembangkan potensi umum sehingga dapat bertingkah laku secara kritis terhadap
pilihan-pilihan. Secara konkrit anak didik mampu mengambil keputusan untuk
menentukan mana yang baik atau tidak baik.

Apabila seorang guru dalam kehidupan pekerjaannya menjadikan pokok satu sebagai
tuntutan yang dipenuhi maka yang terjadi pada anak didik adalah suatu pengembangan
konsep manusia terhadap apa yang baik dan bersifat eks-klusif. Maksudnya adalah bahwa
konsep manusia terhadap apa yang baik hanya dikembangkan dari sudut pandang yang
sudah ada pada diri siswa sehingga tidak terakomodir konsep baik secara universal. Dalam
hal ini, anak didik tidak diajarkan bahwa untuk mengerti akan apa yang baik tidak hanya
bertitik tolak pada diri siswa sendiri tetapi perlu mengerti konsep ini dari orang lain atau
lingkungan sehingga menutup kemungkinan akan timbulnya visi bersama (kelompok)
akan hal yang baik.

Berbeda dengan tujuan yang pertama, tujuan yang kedua lebih menekankan akan
kemampuan dan peranan lingkungan dalam menentukan apa yang baik tidak hanya
berdasarkan pada diri namun juga pada orang lain berikut akibatnya. Di lain pihak guru
mempersiapkan anak didik untuk melaksanakan kebebasannya dalam mengembangkan
visi apa yang baik secara konkrit dengan penuh rasa tanggung jawab di tengah kehidupan
bermasyarakat sehingga pada akhirnya akan terbentuklah dalam diri anak “sense of
justice” dan “sense of good”. Komitmen guru dalam mengajar guna pencapaian tujuan
mengajar yang kedua lebih lanjut diuraikan bahwa guru harus memiliki loyalitas terhadap
apa yang ditentukan oleh lembaga (sekolah). Sekolah selanjutnya akan mengatur guru,
KBM dan siswa supaya mengalami proses belajar-mengajar yang berlangsung dengan baik
dan supaya tidak terjadi penyalahgunaan jabatan. Namun demikian, sekolah juga perlu
memberikan kebebasan bagi guru untuk mengembangkan, memvariasikan, kreativitas
dalam merencanakan, membuat dan mengevaluasi sesuatu proses yang baik (guru
mempunyai otonomi). Hal ini menjadi perlu bagi seorang yang profesional dalam
pekerjaannya.

E. Etika Keguruan

Sebenarnya kode Etika pada suatu kerja adalah sifat-sifat atau ciri-ciri vokasional, ilmiah
dan aqidah yang harus dimiliki oleh seorang pengamal untuk sukses dalam kerjanya.
Lebih ketara lagi ciri-ciri ini jelas pada kerja keguruan. Dari segi pandangan Islam, maka
agar seorang muslim itu berhasil menjalankan tugas yang dipikulkan kepadanya oleh
Allah SWT pertama sekali dalam masyarakat Islam dan seterusnya di dalam masyarakat
antara-bangsa maka haruslah guru itu memiliki sifat-sifat yang berikut:

1. Bahwa tujuan, tingkah laku dan pemikirannya mendapat bimbingan Tuhan (Rabbani),
seperti disebutkan oleh Allah SWT dalam Firman-Nya :

ِ َّ‫َاب َو ْال ُح ْك َم َوالنُّب َُّوة َ ث ُ َّم يَقُ ْو ُل لِلن‬


َ‫اس ُك ْونُواْ ِعبَادًا ِلى مِ ن د ُْو ِن هللاِ َولَك ِْن ُك ْونُواْ َربَّانِيِيْنَ بِ َما ُك ْنت ُ ْم تُعَ ِل ُم ْون‬ َ ‫َما َكانَ ِلبَش ٍَر أَن يُؤْ تِيَهُ هللاُ ْال ِكت‬

َ ‫ْال ِكت‬
َ‫َاب َو ِب َما كُ ْمت ُ ْم تَد ُْرسُون‬
Artinya : Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah
dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-
penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi
orang-orang rabbani (ialah orang yang Sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah SWT),
Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Q.S. Al-
Imram : 79).

2. Bahwa ia mempunyai persiapan ilmiah, vokasional dan budaya menerusi ilmu-ilmu


pengkhususannya seperti geografi, ilmu-ilmu keIslaman dan kebudayaan dunia dalam
bidang pengkhususannya.

3. Bahwa ia ikhlas dalam kerja-kerja kependidikan dan risalah Islamnya dengan tujuan
mencari keredhaan Allah S.W.T dan mencari kebenaran serta melaksanakannya.

4. Memiliki kebolehan untuk mendekatkan maklumat-maklumat kepada pemikiran


murid-murid dan ia bersabar untuk menghadapi masalah yang timbul.

5. Bahwa ia benar dalam hal yang didakwahkannya dan tanda kebenaran itu ialah tingkah
lakunya sendiri, supaya dapat mempengaruhi jiwa murid-muridnya dan anggota-anggota
masyarakat lainnya. Seperti makna sebuah hadith Nabi Saw, “Iman itu bukanlah berharap
dan berhias tetapi meyakinkan dengan hati dan membuktikan dengan amal”.

6. Bahwa ia fleksibel dalam mempelbagaikan kaedah-kaedah pengajaran dengan


menggunakan kaedah yang sesuai bagi suasana tertentu. Ini memerlukan bahwa guru
dipersiapkan dari segi professional dan psikologikal yang baik.

7. Bahwa ia memiliki sahsiah yang kuat dan sanggup membimbing murid-murid ke arah
yang dikehendaki.

8. Bahwa ia sedar akan pengaruh-pengaruh dan trend-trend global yang dapat


mempengaruhi generasi dan segi aqidah dan pemikiran mereka.

9. Bahwa ia bersifat adil terhadap murid-muridnya, tidak pilih kasih, ia mengutamakan


yang benar. Seperti makna firman Allah SWT dalam surah al-Maidah ayat ke 8,

ْ‫علَى أَالَّ ت َ ْع ِدلُواْ آ ْع ِدلُواْ ه َُو أ َ ْق َربُ لِلت َّ ْق َوى َوآتَّقُوا‬ َ ‫ش َهدَآ َء بِ ْال ِقسْطِ َوالَ يَجْ ِر َمنَّ ُك ْم‬
َ ‫شنَئ َانُ قَ ْو ٍم‬ ِ َّ ِ َ‫يَأَيُّ َها الَّ ِذيْنَ َءا َمنُواْ ُك ْونُواْ قَ َّوامِ يْن‬
ُ ‫ّلِل‬
َ‫آهللَ إِ َّن هللاَ َخبِي ٌْر بِ َما ت َ ْع َملُ ْون‬

Artinya : Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah,
Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Maidah : 8).

Inilah sifat-sifat terpenting yang patut dipunyai oleh seorang guru Muslim di atas mana
proses penyediaan guru-guru itu harus dibina. Buku-buku pendidikan telah juga
memberikan ciri-ciri umum seorang guru, ciri-ciri itu tidak keluar dan sifat-sifat berikut:

1. Tahap pencapaian ilmiah

2. Pengetahuan umum dan keluasan bacaan

3. Kecerdasan dan kecepatan berfikir

4. Keseimbangan jiwa dan kestabilan emosi

5. Optimisme dan Antusiasme dalam pekerjaan

6. Kekuatan sahsiah

7. Memelihara penampilan (mazhar)

8. Positif dan semangat optimisme

9. Yakin bahwa ia mempunyai risalah

Dari uraian di atas jelaslah bahwa seorang guru Muslim memiliki peranan bukan saja di
dalam sekolah, tetapi juga diluarnya. Oleh yang demikian menyiapkannya untuk di dalam
sekolah dan di luar sekolah. Tanggungjawab ini harus dipikul bersama oleh institusi-
institusi penyiapan guru seperti fakultas-fakultas pendidikan dan maktab-maktab
perguruan bersama-sama dengan masyarakat Islam sendiri, sehingga guru-guru yang
dihasilkannya adalah guru yang soleh, membawa perbaikan (muslih), memberi dan
mendapat petunjuk untuk menyiarkan risalah pendidikan Islam.

III. Etika Guru Dalam Pendidikan Islam


Istilah Etika dalam ajaran Islam tidak sama dengan apa yang diartikan oleh para ilmuan
barat. Bila Etika barat sifatnya ”antroposentrik” (berkisar sekitar manusia), maka Etika
islam bersifat ”teosentrik” (berkisar sekitar Tuhan). Dalam Etika Islam suatu perbuatan
selalu dihubungkan dengan amal saleh atau dosa, dengan pahala atau siksa, dengan surga
atau neraka (Musnamar, 1986: 88).
Dipandang dari segi ajaran yang mendasari Etika Islam tergolong Etika teologis.Menurut
Dr. H. Hamzah Ya’qub pengertian Etika teologis ialah yang menjadi ukuran baik dan buruknya
perbuatan manusia, didasarkan atas ajaran Tuhan. Segala perbuatan yang diperintahkan Tuhan
itulah yang baik dan segala perbuatan yang dilarang oleh Tuhan itulah perbuatan yang
buruk (Ya’qub, 1985: 96).

Karakter khusus Etika Islam sebagian besar bergantung kepada konsepnya mengenai
manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan alam dan
masyarakat (Naquib,1993: 83).

Al-Quran dan Al-Hadits adalah dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk
setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian asfek kehidupan yang
sangat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim
yang dikehendaki Al-Quran dan As-Sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap,
ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT. Persepsi
atau gambaran masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan
banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin
pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyahnya saja. Padahal, itu
hanyalah salah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada
pribadi seorang muslim. Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri
khas yang mesti melekat pada pribadi muslim antara lain :
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih).
Salimul Aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah
yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan
ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya.

Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala
perbuatannya kepada Allah. Firman-Nya ;

َ‫ب ا ْلعَالَمِ يْن‬ َ ‫قُ ْل ِإ َّن‬


َ َ‫صالَتِى َونُسُكِى َو َمحْ ي‬
ِ َّ َ ‫اي َو َم َماتِى‬
ِ ‫ّلِل َر‬

Artinya : “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah


untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (Q.S. Al-An’am : 162). Karena aqidah yang bersih merupakan
sesuatu yang amat penting, maka pada masa awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah,
Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan Aqidah, Iman dan Tauhid.

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar).


Shahihul Ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu
haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat“. Dari ungkapan
ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah
merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau
pengurangan.
3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh).
Matinul Khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik
dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan
akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di
akhirat.

Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan
kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al
Qur’an. Allah berfirman :

‫عظِ ي ٍْم‬ ٍ ُ‫َو ِإنَّكَ لَعَلَى ُخل‬


َ ‫ق‬

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (Q.S. Al-Qalam :
4).

4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani).


Qowiyyul Jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan
jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan
ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji
merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan
kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan
pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Karena kekuatan
jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah. (HR. Muslim)
5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir).
Mutsaqqoful Fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu
salah satu sifat Rasul adalah Fathonah (cerdas). Di dalam Islam, tidak ada satupun
perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir.
Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.
Allah SWT berfirman :
Artinya : (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat
di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan
mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat
menerima pelajaran”. (Q.S. Az-Zumar : 9).

6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu).


Mujahadatul Linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang
muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk.
Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat
menuntut adanya kesungguhan.
Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.
Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran
Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga
ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)
7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu).
Harishun Ala Waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu
mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak
bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti Wal Fajri, Wad
Dhuha, Wal Asri, dan seterusnya.

Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam
sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tidak
sedikit manusia yang rugi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai
mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif,
tidak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah
memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup
sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk
dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fii Syuunihi (teratur dalam suatu urusan).


Munazhzhaman Fii Syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh
Al-Quran maupun As-Sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait
dengan masalah Ubudiyah maupun Muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan
dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan
bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara proffesional. Apapun yang
dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat,
berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti
mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.

9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri).


Qodirun Alal Kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini
merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang
menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian
terutama dari segi ekonomi. Tidak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah
dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena, pribadi muslim
tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar
dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan
masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al
Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptidakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki
keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari
Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya
diperlukan skill atau ketrampilan.

10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain).


Nafi’un Lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang
dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang
disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak
menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.
Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya
semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam
masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).

Menurut Hasyim Asya’ri ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang pendidik
islam, bebera hal tersebut adalah adab atau Etika bagi alim / para guru. Paling tidak
menurut Hasyim Asya;ri ada dua puluh Etika yang harus dipunyai oleh guru ataupun
calon guru diantaranya :
1. Selalu berusah mendekatkan diri kepada Allah dalam keadaan apapun, bagaimanapun dan dimanapun.
2. Mempunyai rasa takut kepada Allah, takut atau khouf dalam keadaan apapun baik dalam gerak, diam, perkataan
maupun dalam perbuatan.
3. Mempunyai sikap tenang dalam segala hal.
4. Berhati-hati atau wara’ dalam perkataan maupun dalam perbuatan.
5. Tawadhu, tawadhu adalah dalam pengertian tidak sombong, dapat juga dikatakan rendah hati.
6. Khusyu’ dalam segala ibadahnya.
7. Selalu berpedoman kepada hukum Allah dalam segala hal.
8. Tidak menggunakan ilmunya hanya untuk tujuan duniawi semata.
9. Tidak rendah diri dihadapan pemuja dunia.
10. Zuhud, dalam segala hal.
11. Menghindari pekerjaan yang menjatuhkan martabatnya.
12. Menghindari tempat–tempat yang dapat menimbulkan maksiat.
13. Selalu menghidupkan syi’ar islam.
14. Menegakkan sunnah Rasul.
15. Menjaga hal- hal yang sangat di anjurkan.
16. Bergaul dengan sesama manusia secara ramah,
17. Menyucikan jiwa.
18. Selalu berusaha mempertajam ilmunya.
19. Terbuka untuk umum, baik saran maupun kritik. Selalu mengambil ilmu dari orang lain tentang ilmu yang tidak
diketahuinya.
20. Meluangkan waktu untuk menulis atau mengarang buku.

Dengan memiliki dua puluh Etika tersebut diharapkan para guru menjadi pendidik yang
baik, pendidik yang mampu menjadi teladan anak didik. Di sisi lain, ketika pendidik
mempunyai Etika, maka yang terdidik pun akan menjadi anak didik yang beretika juga,
karena keteladanan mempunyai peran penting dalam mendidik akhlak anak. Untuk itu
perlu kiranya para calon pendidik maupun yang telah menjadi pendidik untuk memiliki
etika tersebut.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian atau dari teori-teori para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa Etika
adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia dan merupakan
ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang
dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Penilaian baik dan buruk tersebut
berdasarkan pendapat akal pikiran dan bimbingan A;-Quran juga As-Sunnah.

Dan jika makna Etika dihubungkan dengan pendidikan Agama Islam atau Etika
Pendidikan Agama Islam merupakan Etika yang lebih mengarah atau mangacu kepada
upaya membimbing, memandu, mengarahkan, membiasakan dan memasyarakatkan
hidup yang sesuai dengan norma atau nilai-nilai yang dipandang baik dalam lingkungan
masyarakat.

Dalam dunia Pendidikan ada yang namanya kode etik guru. Kode etik guru diartikan
sebagai aturan tata susila keguruan. Maksudnya aturan-aturan tentang keguruan (yang
menyangkut pekerjaan-pekerjaan guru) dilihat dari segi susila. Dengan demikian kode
etik guru merupakan norma secara formal dalam mengatur tingkah laku guru. Karena
guru sebagaimana kita ketahui merupakan suri tauladan bagi siswa atau peserta didiknya.

Tingkah laku atau moral guru pada umumnya merupakan penampilan lain dari
kepribadiannya. Bagi anak didik yang masih kecil, guru adalah contoh teladan yang sangat
penting dalam pertumbuhannya, guru adalah orang pertama sesudah orang tua yang
mempengaruhi pembinaan kepribadian anak didik. Cara guru berpakaian, berbicara,
berjalan dan bergaul juga merupakan penampilan kepribadian lain, yang juga mempunyai
pengaruh terhadap anak didik.

ETIKA
Dilihat dari asal usul kata :
• Berasal dari bahasa latin, Etica; falsafah moral dan merupakan pedoman cara hidup
yang benar dilihat dari sudut pandang budaya, susila dan agama.
• Berasal dari bahasa Yunani; Ethos: kebiasaan, watak.
Kamus Besar Bahasa Indonesia :
• Ilmu tentang apa yang baik dan buruk, tentang hak dan kewajiban moral.
• Kumpulan asas atau nilai yang berkenan dengan akhlak.
• Nilai mengenai benar dan salah yang dianut masyarakat.
Peran dan manfaat etika (Ketut Rinjin, 2004 melalui Sjafri Mangkuprawira, 2006):
• Manusia hidup dalam jajaran norma moral, religius, hukum, kesopanan, adat istiadat
dan permainan. Oleh karena itu, manusia harus siap mengorbankan sedikit
kebebasannya.
• Norma moral memberikan kebebasan bagi manusia untuk bertindak sesuai dengan
kesadaran akan tanggung jawabnya = human act, dan bukan an act of man. Menaati
norma moral berarti menaati diri sendiri, sehingga manusia menjadi otonom dan bukan
heteronom.
• Mengajak orang bersikap kritis dan rasional dalam mengambil keputusan secara
otonom.
• mengarahkan perkembangan masyarakat menuju suasana yang tertib, teratur, damai
dan sejahtera
• Sekalipun sudah ada norma hukum, etika tetap diperlukan karena
 norma hukum tidak menjangkau wilayah abu-abu.
 norma hukum cepat ketuinggalan zaman, sehingga sering terdapat celah-celah hukum.
 norma hukum sering tidak mampu mendeteksi dampak secara etis dikemudian hari.
 etika mempersyaratkan pemahaman dan kepedulian tentang kejujuran, keadilan dan
prosedur yang wajar terhadap manusia, dan masyarakat.
 asas legalitas harus tunduk pada asas moralitas.

Hubungan etika, norma, dan hukum


Jika kita membahas tentang norma, etika, dan hukum tentunya kita tidak dapat
melepaskannya dari segi moral. Dari arti kata, etika dapat disamakan dengan moral.
Moral berasal dari bahasa latin mos yang berarti adat kebiasaan.
Beberapa ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda tantang hubungan antara moral dan
etika. Menurut Lawrence Konhberg terdapat hubungan antara moral dengan etika.
Menurut Lawrence Konhberg pendidikan moral merupakan dasar dari pembangunan etika.
Pendidikan moral itu sendiri terdiri dari ilmu sosiologi, budaya, antropologi, psikologi,
filsafat,pendidikan, dan ilmu poitik. Pendapat Lawrence Konhberg berbeda dengan
pendapat Sony Keraf. Soni Keraf membedakan antara moral dengan etika. Nilai-nilai
moral mengandung nasihat, wejangan, petuah, peraturan, dan perintah turun temurun
melalui suatu budaya tertentu. Sedangkan etika merupakan refleksi kritis dan rasional
mengenai nilai dan norma manusia yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan
perilaku hidup manusia.
Karena etika dan moral saling mempengaruhi, maka keduanya tentu memiliki hubungan
yang erat dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Norma sebagai bentuk
perwujudan dari etika dan moral yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Norma
tersebut dapat berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Meski tiap
daerah memiliki norma yang berbeda-beda namun tujuannya tetap sama yaitu mengatur
kehidupan bermasyarakat agar tercipta suasana yang mendukung dalam hidup
bermasyarakat. Sedangkan hukum merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan bermasyarakat yang memiliki etika, moral, dan norma-norma didalamnya
Hukum berperan sebagai `penjaga` agar etika, moral, dan norma-norma dalam
masyarakat dapat berjalan dengan baik. Apabila terjadi pelanggaran terhadap etika,moral,
dan norma maka hukum akan berperan sebagai pemberi sanksi. Sanksi tersebut dapat
berupa sanksi sosial sebagai akibat dari pelanggaran norma-norma sosial masyarakat dan
sanksi hukum apabila norma-norma yang dilanggar juga termasuk dalam wilayah
peraturan hukum yang berlaku.

Kaitan Antara Nilai, Norma dan Interaksi Sosial

Kaitan Antara Nilai, Norma dan Interaksi Sosial - Di dalam kehidupan


sosial berkembang beberapa sistem nilai. Secara garis besar sistem nilai
tersebut dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) sistem nilai yang
berhubungan dengan benar dan salah yang disebut dengan logika, (2)
sistem nilai yang berhubungan dengan baik dan buruk atau pantas dan
tidak pantas yang disebut dengan etika, dan (3) sistem nilai yang
berhubungan dengan indah dan tidak indah yang disebut dengan
estetika.

Nilai-nilai sosial sangat erat kaitannya dengan norma-norma sosial. Jika


nilai sosial dikatakan sebagai standar normatif dalam berperilaku sosial
yang merupakan acuan-acuan sikap dan perasaan yang diterima oleh
masyarakat sebagai dasar untuk merumuskan apa yang dianggap benar
dan penting, maka norma sosial merupakan bentuk kongkrit dari nilai-
nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat. Di dalam sistem norma
terdapat aturan-aturan dan sanksi-sanksi jika aturan-aturan tersebut
dilanggar. Dengan demikian, sistem nilai dan sistem norma tersebut
akan melandasi perilaku setiap individu dalam berinteraksi di kehidupan
masyarakat.

Nilai dan norma memegang peranan yang sangat penting dalam


kehidupan sosial. Dapat kita perhatikan contohnya pada nilai-nilai etis
dalam berlalu lintas. Pada prinsipnya setiap orang harus menjaga nilai-
nilai etis di dalam berlalu lintas. Untuk merealisasikan sistem nilai
tersebut disusunlah norma-norma untuk mengatur lalu lintas yang
terdiri dari seperangkat aturan main dan sekaligus penegaknya.

Misalnya ada rambu-rambu lalu lintas, kendaraan harus dilengkapi


dengan surat-surat dan perlengkapan lainnya, pengendara motor wajib
mengenakan helm, pengemudi harus memiliki SIM, dan ketentuan-
ketentuan lainnya yang harus dipenuhi. Jika terdapat pengendara yang
melanggar aturan-aturan tersebut maka akan ditilang. Tilang hanya
akan dikenakan kepada mereka yang terbukti telah melakukan
pelanggaran.

Banyak sekali contoh-contoh lain yang memperlihatkan hubungan


antara nilai- nilai sosial, norma-norma sosial, dengan interaksi sosial.
Hampir semua interaksi di dalam kehidupan sosial kita diliputi oleh
aturan-aturan main tersebut. Nah, coba carilah contoh lain tentang
hubungan antara nilai sosial, norma sosial, dan interaksi sosial yang ada
di lingkungan sekitar kalian berada.

Penting Untuk Diingat

Nilai dan norma memegang peranan yang sangat penting sebagai


pengatur tata kehidupan bermasyarakat. Nilai dan norma bersifat
abstrak dan merupakan unsur terpenting dari suatu kebudayaan. Nilai
dan norma harus dijunjung tinggi agar peri kehidupan sosial dapat
terjalin secara harmonis sehingga tercipta stabilitas sosial. Pelanggaran
terhadap sistem nilai dan norma akan menimbulkan konflik dalam
kehidupan sosial.

Berdasar pada beberapa definisi di atas, nilai sosial merupakan standar


normatif bagi manusia dalam berperilaku sosial. Nilai sosial merupakan
sikap dan perasaan yang diterima oleh masyarakat sebagai dasar untuk
merumuskan apa yang dianggap benar dan penting. Nilai sosial sangat
besar peranannya dalam membentuk pandangan hidup. Perwujudan
nilai-nilai sosial dalam peri kehidupan juga akan membentuk identitas
budaya suatu masyarakat tertentu yang membedakan dengan budaya
masyarakat yang lain.

Perwujudan norma sosial dapat berbentuk tertulis dan tidak tertulis.


Berdasar kekuatan yang mengikat sistem nilai dalam kehidupan
masyarakat, norma sosial dapat digolongkan dalam beberapa macam,
yaitu cara (usage), kebiasaan (folkways), tata susila (mores), adat istiadat
(customs), hukum (laws), dan agama (religion).

Pengertian Moral
“Secara etimologis, kata moral berasal dari kata ‘mos’ dalam bahasa lati, yang bentuk jamaknya

‘mores’, yang artinya adalah tata cara atau adat istiadat (http//:staff.uny.ac.id). Kamus Besar Bahasa

Indonesia (1989:592), “moral diartikan sebagai aklak, budi pekerti, atau susila”.

Secara terminologis, terdapat berbagai pendapat tentang pengertian moral yang dilihat dari segi

subtansi materilnya memang tidak Nampak perbedaan, namun dalam bentuk formalnya berbeda.

Widjaja (dalam http//:staff.uny.ac.id)menyatakan, bahwa moral adalah ajaran baik atau buruknya suatu
perbuatan. Al-Ghazali (dalam http//:staff.uny.ac.id), mengemukakan bahwa akhlak padanan dari kata

moral merupakan suatu watak yang melekat erat dalam diri manusia dan merupakan asal dari timbulnya

suatu perbuatan tertentu dari diri manusia.


Wila Huky, sebagaimana dikutip oleh Bambang Darueso (dalam http//:staff.uny.ac.id)
merumuskan pengertian moral secara komprehensif rumusan formalnya sebagai berikut:
a. Moral sebagai perangkat ide-ide tentang tingkah laku hidup, dengan warna dasar tertentu yang dipegang
oleh sekelompok manusia di dalam lingkungan tertentu.
b. Moral adalah ajaran tentang laku hidup yang baik berdasarkan pandangan hidup atau agama tertentu.
c. Moral sebagai tingkah laku hidup manusia, yang mendasarkan pada kesadaran, bahwa ia terikat oleh
keharusan untuk mencapai yang baik , sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam
lingkungannya.

Perkembangan Moral Menurut Jean Piaget


Perkembangan moral dapat pula dipahami melalui pendekatan kognitif. Piaget (dalam Slavin,

2006:51) bahkan mempercayai bahwa struktur kognitif dan kemampuan kognitif anak adalah dasar dari

pengembangan moralnya. Kemampuan kognitif itulah yang kemudian akan membantu anak untuk

mengembangkan penalaran yang berkaitan dengan masalah sosial. Untuk mempelajari penalaran moral

anak-anak, Piaget menghabiskan waktu yang panjang untuk mengamati anak-anak yang sedang

bermain kelereng dan menanyakan kepada mereka tentang aturan permainan yang digunakan. Dalam

permainan kelereng tersebut Piaget menemukan beberapa hal yaitu anak di bawah usia 6 tahun pada

kenyataannya belum mengenal aturan permainan, sedangkan anak mulai usia 6 tahun sudah mengenal

adanya aturan dalam permainan, meskipun mereka belum menerapkannya dengan baik dalam

permainan. Anak usia 10-12 tahun , anak-anak sudah mampu mengikuti aturan permainan yang berlaku

dan mereka sadar bahwa aturan tersebut dibuat untuk menghindari pertikaian antar pemain.

Piaget kemudian membagi tahap perkembangan moral anak menjadi dua tahapan, yaitu tahap

heteronomous dan tahap autonomous. Sebelum mempelajari perbedaan kedua tahap tersebut berikut

ini akan dibahas beberapa hal yang berkaitan dengan pengamatan Piaget terhadap anak-anak yang

sedang bermain kelereng.


A. Pengembangan aturan permainan

Sebelumnya telah dibahas bahwa Piaget mencoba mempelajari tingkah laku anak melalui

permainan kelereng. Hal itu dilakukan Piaget untuk memahami bagaimana anak-anak berpikir dan

menyesuaikan konsepsinya mengenai aturan-aturan yang berlaku. Jean Piaget memilih permainan
kelereng, selain untuk memperoleh jawaban atas penelitiannya, juga untuk memberikan kebebasan
anak-anak untuk menjelaskan dan membuat aturan sendiri. Dari hasil wawancaranya dengan anak-anak

pada tingkat usia yang berbeda, diperolehlah jawaban yang berbeda-beda pula.

Berikut ini hasil pengamatan Piaget (dalam Cahyono dan Suparyo, 1985:28), diketahui bahwa:

a. Anak-anak disekitar usia 3 tahun, belum mengembangkan permainannya sendiri dan cenderung bermain

individual tanpa kerjasama. Anak-anak pada usia ini cenderung menerima aturan tanpa proses

pertimbangan terlebih dahulu.

b. Anak-anak usia 3-5 tahun, mulai bermain secara berkelompok, meskipun masing-masing anak masih

menganggap pendapatnya yang paling benar. Anak-anak ini belum memiliki empati dan belum mampu

menempatkan diri dalam pergaulan. Anak-anak pada usia ini cenderung memperhatikan aturan yang

berasal dari orang dewasa, meskipun pada usia ini mereka sering melanggar aturan tersebut.

c. Anak usia 7-8 tahun, mulai muncul perhatian untuk menyeragamkan aturan permainan meskipun aturan

permainannya umumnya masih belum jelas (kabur).

d. Anak usia 11-12 tahun, mulai dapat menentukan dan membuat kesepakatan bersama tentang aturan

permainan. Anak sudah dapat melihat bahwa aturan sebagai suatu yang bisa diubah dan dibuat

berdasarkan kesepakatan.
B. Intensi dan konsekuensi

Konsepsi anak tentang aturan dapat berubah-ubah sesuai dengan tahap perkembangan

moralnya. Untuk memahami perubahan konsepsi yang terjadi, Piaget menghadapkan anak pada

masalah-masalah moral seperti berbohong.Dari hasil penelitiannya, Piaget (dalam Cahyono dan

Suparyo, 1985:31)menyatakan, bahwa anak-anak dengan usia lebih muda cenderung menilai suatu

perbuatan berdasarkan konsekuensi yang hanya bersifat material. Anak-anak dengan usia yang lebih

tua berpikir sebaliknya, mereka sudah mampu memperhatikan intensi kesalahan yang muncul dari suatu
perbuatan.

Intensi dan komsekuensi merupakan gambaran perubahan perkembangan moral dari tahap

heteronomous ke tahap autonomous. Dalam mengetahui pendapat anak tentang makna berbohong,

Piaget (dalam Cahyono dan Suparyo, 1985:32) melakukan tanya jawab dengan anak-anak. Pada tanya

jawab itu, diperolehlah hasil bahwa anak-anak yang lebih muda usianya memberi makna bahwa bohong

sesuatu yang jelek dan tidak seorangpun sanggup mengatakannya. Anak-anak yang usianya lebih tua

memberi makna bohong adalah sesuatu yang tidak dapat dipercaya dan tidak baik untuk diucapkan.
C. Hukuman-hukuman ekspiatoris dan resiprokal

Melalui cerita-cerita sederhana yang berhubungan dengan pelanggaran dalam keluarga, yaitu

antara orang tua dan anak, Piaget mencoba untuk mengidentifikasi konsepsi anak-anak mengenai
keadilan. Piaget (dalam Cahyono dan Suparyo, 1985:33) mengklasifikasikan hukuman ke dalam dua
bentuk, yaitu hukuman-hukuman yang bersifat ekspiatoris (expiatory punishment) dan hukuman-

hukuman yang bersifat resiprositas (reciprocity punishment).

Hukuman yang bersifat ekspiatoris, Sherwood (dalam Cahyono dan Suparyo, 1985:33)

mengemukakan, bahwa hukuman harus atas pertimbangan yang wajar antara bobot kesalahan dan juga

bobot penderitaan si pelanggar atas hukuman yang ditimpakan. Contoh hukuman ekspiatoris dalam

keluarga antara lain memukul, menampar, tidak memberi uang jajan, dilarang bermain untuk sementara

waktu, dan sebagainya. Hukuman yang bersifat resiprositas (dalam Cahyono dan Suparyo, 1985:34)

senantiasa membuat keterkaitan antara hukuman dengan tindakan kesalahan yang dibuat. Melalui hal

tersebut, diharapkan si pelanggar sadar akan akibat-akibat perbuatannya. Bentuk hukuman resiprositas

dapat berupa ganti rugi dan pengucilan.

Berdasarkan hasil pengamatan Piaget (dalam Cahyono dan Suparyo, 1985:34), diketahui

bahwa hukuman resiprositas dikembangkan oleh anak-anak yang tingkat perkembangan moralnya pada

tahap Autonomous. Dari 100 anak yang diwawancarai, Piaget mencatat bahwa anak pada usia 6-7 tahun

30% memilih hukuman ini, anak pada usia 8-10 tahun mencapai 50% memilih hukuman ini, dan anak

pada usia 11-12 tahun mencapai 80% memilih hukuman ini. Sebaliknya, hukuman ekspiatoris dipilih

anak-anak yang perkembangan moralnya pada tahap heteronomous. Anak-anak pada tingkat usia ini,

percaya bahwa keadilan selalu berhubungan dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukan seseorang,

dan orang tersebut akan memperoleh hukuman atas kesalahannya tersebut secara alamiah.
D. Antara Equality dan Equity

Membahas mengenai keadilan, Piaget menekankan pada dua bentuk keadilan


distributif yaitu equality dan equatity. Menurut pandangan Piaget (dalam Cahyono dan Suparyo,

1985:35), equality yaitu pemikiran bahwa tiap manusia harus diperlakukan secara sama,

sedangkan equity yaitu pemikiran yang lebih mempertimbangkan tiap-tiap individu.

Untuk mengamati perbedaan kedua bentuk keadilan distributif tersebut, Piaget mengangkat

masalah-masalah ke dalam sebuah cerita untuk mengetahui respon anak-anak berdasarkan tingkat

usianya. Dari respon-respon yang muncul, Piaget (dalam Cahyono dan Suparyo, 1985:36) membedakan

respon tersebut ke dalam tiga tahap yaitu:


1. Tahap Just, di mana anak berpikir bahwa apa yang dikatakan orang dewasa adalah ibarat hukum yang

harus dijalankan.
2. Tahap Equality Orientation, di mana anak berpikir bahwa tidak peduli saat menghadapi hukuman ataupun

sedang menolak perintah, mereka akan lebih melihat kekuasaan tertinggi.


3. Tahap Equity Dominates, di mana anak berpikir bahwa equalitas (perlakuan sama) tidak akan pernah

dikembangkan tanpa memperhatikan situasi yang dihadapi tiap individu.

Berdasarkan pembahasan dan penjabaran di atas, Piaget (dalam Slavin,

2006:52), menyimpulkan bahwa terdapat dua tahap perkembangan moral dengan ciri-cirinya masing-

masing,yaitu sebagai berikut:

Tabel Tahap Perkembangan Moral Piaget


Tahap heteronomous Tahap Autonomous
(tahap realisme moral) (tahap independensi moral)
Anak usia <12 tahun Anak usia >12 tahun
Diberi label tahap moralitas kendala Diberi label tahap moralitas kerjasama
Aturan dipandang sebagai paksaan Aturan dipandang sebagai hasil
dari orang yang lebih dewasa kesepakatan bersama
Menilai perilaku moral berdasarkan Menilai perilaku moral berdasarkan niat
konsekuensinya pelakunya
Hukuman dipandang sebagai Hukuman dipandang sebagai sesuatu
konsekuensi otomatis dari pelanggaran hal yang tidak serta merta, namun
dipengaruhi oleh niat pelakunya

Perkembangan Moral Menurut Lawrence


Kohlberg
Mengembangkan teori dari Piaget, Lawrence Kohlberg membagi perkembangan moral menjadi

tiga tingkatan, yaitu tingkat prekonvensional, tingkat konvensional, dan tingkat postkonvensional (Slavin,

2006:54). Menurut pandangan Kohlberg dari tiga tingkatan tersebut, anak harus melewati enam tahap

dalam dirinya. Setiap tahap memberikan jalan untuk menuju ke tahap selanjutnya ketika anak mampu

menemukan ‘aturan’ pada tahap itu, kemudian anak harus meninggalkan penalaran moral dari tahap

awal menuju ke tahap berikutnya. Dengan cara tersebut, penalaran moral anak berkembang melalui tiga

tingkat yang berbeda meskipun tidak semua anak mampu menguasainya (Manning, 1977:108).

Tahapan-tahapan perkembangan moral yang dikemukakan Kohlberg jauh lebih kompleks

dibanding dengan tahapan-tahapan perkembangan moral dalam teori Piaget. Berikut ini adalah tiga

tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg (dalam Cahyono dan Suparyo, 1985:37-45), di mana

masing-masing tingkat memuat dua tahap perkembangan moral:


1. Tingkat Prekonvensional
Pada tingkat pertama ini, anak sangat tanggap terhadap norma-norma budaya, misalnya norma-

norma baik atau buruk, salah atau benar, dan sebagainya. Anak akan mengaitkan norma-norma tersebut

sesuai dengan akibat yang akan dihadapi atas tindakan yang dilakukan. Anak juga menilai norma-norma

tersebut berdasarkan kekuatan fisik dari yang menerapkan norma-norma tersebut.

Pada tingkat prekonvensional ini dibagi menjadi dua tahap yaitu:


a. Tahap Punishment and Obedience Orientation

Pada tahap ini, secara umum anak menganggap bahwa konsekuensi yang ditimbulkan dari

suatu tindakan sangat menentukan baik-buruknya suatu tindakan yang dilakukan, tanpa melihat sisi

manusianya. Tindakan-tindakan yang tidak diikuti dengan konsekuensi dari tindakan tersebut, tidak

dianggap sesuatu hal yang buruk.


b. Tahap Instrumental-Relativist Orientation atau Hedonistic Orientation

Pada tahap ini, suatu tindakan dikatakan benar apabila tindakan tersebut mampu memenuhi

kebutuhan untuk diri sendiri maupun orang lain. Tindakan yang tidak memberikan pemenuhan kebutuhan

baik untuk diri sendiri maupun orang lain dapat dianggap sebagai tindakan baik selama tindakan tersebut

tidak merugikan.

Pada tahap ini hubungan antar manusia digambarkan sebagaimana hubungan yang

berlangsung di pusat perbelanjaan, di mana terdapat timbal balik dan sikap terus terang yang menempati

kedudukan yang cukup penting.


2. Tingkat Konvensional

Pada tingkat perkembangan moral konvensional, memenuhi harapan keluarga, kelompok,

masyarakat, maupun bangsanya merupakan suatu tindakan yang terpuji. Tindakan tersebut dilakukan

tanpa harus mengaitkan dengan konsekuensi yang muncul, namun dibutuhkan sikap dan loyalitas yang
sesuai dengan harapan-harapan pribadi dan tertib sosial yang berlaku.

Pada tingkat ini, usaha seseorang untuk memperoleh, mendukung, dan mengakui keabsahan

tertib sosial sangat ditekankan, serta usaha aktif untuk menjalin hubungan positif antara diri dengan orang

lain maupun dengan kelompok di sekitarnya. Pada tingkat konvensional ini dibagi menjadi dua tahap

yaitu:
a. Tahap Interpersonal Concordance atau Good-Boy/Good-Girl Orientation

Pandangan anak pada tahap ini, tindakan yang bermoral adalah tindakan yang menyenangkan,

membantu, atau tindakan yang diakui dan diterima oleh orang lain. Anak biasanya akan menyesuaikan

diri dengan apa yang dimaksud tindakan bermoral. Moralitas suatu tindakan diukur dari niat yang
terkandung dalam tindakan tersebut. Jadi, setiap anak akan berusaha untuk dapat menyenangkan orang

lain.
b. Tahap Law and Order Orientation

Pada tahap ini, pandangan anak selalu mengarah pada otoritas, pemenuhan aturan-aturan, dan

juga upaya untuk memelihara tertib sosial. Tindakan bermoral dianggap sebagai tindakan yang

mengarah pada pemenuhan kewajiban, penghormatan terhadap suatu otoritas, dan pemeliharaan tertib

sosial yang diakui sebagai satu-satunya tertib sosial yang ada.


3. Tingkat Postkonvensional

Pada tingkat ketiga ini, terdapat usaha dalam diri anak untuk menentukan nilai-nilai dan prinsip-

prinsip moral yang memiliki validitas yang diwujudkan tanpa harus mengaitkan dengan otoritas kelompok

maupun individu dan terlepas dari hubungan seseorang dengan kelompok. Pada tingkat ketiga ini, di

dalamnya mencakup dua tahap perkembangan moral, yaitu:


a. Tahap Social-Contract, Legalistic Orientation

Tahap ini merupakan tahap kematangan moral yang cukup tinggi. Pada tahap ini tindakan yang

dianggap bermoral merupakan tindakan-tindakan yang mampu merefleksikan hak-hak individu dan

memenuhi ukuran-ukuran yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh masyarakat luas.

Seseorang yang berada pada tahap ini menyadari perbedaan individu dan pendapat. Oleh karena itu,

tahap ini dianggap tahap yang memungkinkan tercapainya musyawarah mufakat. Tahap ini sangat

memungkinkan seseorang melihat benar dan salah sebagai suatu hal yang berkaitan dengan nilai-nilai

dan pendapat pribadi seseorang. Pada tahap ini, hukum atau aturan juga dapat dirubah jika dipandang

hal tersebut lebih baik bagi masyarakat.


b. Tahap Orientation of Universal Ethical Principles

Pada tahap yang tertinggi ini, moral dipandang benar tidak harus dibatasi oleh hukum atau

aturan dari kelompok sosial atau masyarakat. Namun, hal tersebut lebih dibatasi oleh kesadaran manusia

dengan dilandasi prinsip-prinsip etis. Prinsip-prinsip tersebut dianggap jauh lebih baik, lebih luas dan

abstrak dan bisa mencakup prinsip-prinsip umum seperti keadilan, persamaan HAM, dan sebagainya.

Pengaruh Teori-Teori Perkembangan Menurut


Piaget dan Kohlberg dalam Dunia Pendidikan
Dalam teori Piaget, disimpulkan bahwa pendidikan sekolah seharusnya menitikberatkan pada

pengembangan kemampuan siswa mengambil keputusan dan memecahkan masalah. Pembinaan


perkembangan moral dilakukan dengan cara-cara yang menuntut siswa untuk mengembangkan aturan
yang adil. Pendidikan nilai menitikberatkan kepada pengembangan perilaku yang dilandasi oleh

penalaran moral dalam kehidupan masyarakat(http://iwansukmanuricht.blogspot.com).

Dalam teorinya, Kohlberg menolak konsep pendidikan nilai/karakter tradisional yang

berdasarkan pada pemikiran bahwa ada seperangkat kebajikan seperti kejujuran, kesabaran, dan

sebagainya yang menjadi landasan perilaku moral. Konsep tersebut dinilai tidak membimbing siswa

untuk memahami kebajikan mana yang sungguh baik untuk diikuti. Oleh karena itu, Kohlberg mengajukan

pendekatan pendidikan nilai dengan menggunakan pendekatan klasifikasi nilai yang bertolak dari asumsi

bahwa tidak ada satu-satunya jawaban yang benar terhadap suatu persoalan moral, tetapi di dalamnya

ada nilai yang penting sebagai dasar berpikir dan bertindak (http://iwansukmanuricht.blogspot.com).

Daftar Rujukan:

Cahyono, C.H & Suparyo, W. 1985. Tahap-Tahap Perkembangan Moral. Malang: IKIP Malang.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Manning, S.A. 1977. Child And Adolescent Development. Washington, D.C: Departement of Psychology

University of the District of Columbia.


Slavin, R.E. 2006. Educational Psychology Theory and Practice. United States of America: Johns Hopkins

University.
Universitas Negeri Yogyakarta. Dasar-Dasar Pengertian Moral. (Online),

(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/DASAR%20PENGERTIAN%20MORAL.pdf), diakses 10

September 2013.

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang


merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat
juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam
memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang
luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.

Filsafat ialah seperangkat keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap, cita-cita,


aspirasi-aspirasi, dan tujuan-tujuan, nilai-nilai dan norma-norma, aturan-aturan
dan prinsip etis. Menurut Sidney Hook, filsafat juga pencari kebenaran, suatu
persoalan nilai-nilai dan pertimbangan-pertimbangan nilai untuk melaksanakan
hubungan-hubungan kemanusiaan secara benar dan juga berbagai
pengetahuan tentang apa yang buruk atau baik untuk memutuskan bagaimana
seseorang harus memilih atau bertindak dalam kehidupannya.

Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak
dan kewajiban moral.

Etiket adalah adat sopan santun atau tata krama yang perlu selalu diperhatikan
dalam pergaulan agar hubungan selalu baik. Etiket memandang manusia dari
segi lahiriah saja. Orang yang berpegang pada etiket bisa juga bersifat
munafik. Sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Orang yang
etis tidak mungkin bersifat munafik, sebab orang yang bersifat etis pasti orang
yang sungguh-sungguh baik.

Norma adalah ketentuan, aturan, kriteria, atau syarat yang mengandung nilai
tertentu yang harus dipatuhi oleh warga masyarakat di dalam berbuat dan
bertingkah laku sehingga terbentuk masyarakat yang tertib, teratur, dan aman.

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan


berguna bagi manusia.

Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik. Baik pada diri seseorang
maupun pada suatu masyarakat atau kelompok masyarakat. Yang berarti etika
berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik,
dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang
lain. Dengan kata lain, etika adalah nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi
pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

Nilai dan norma memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan
sosial. Sebagai contoh, pada prinsipnya setiap orang harus menjaga nilai-nilai
etis dalam berlalu lintas. Untuk merealisasikan sistem nilai tersebut, disusunlah
norma-norma untuk mengatur lalu lintas.
Maka hubungan kelimanya ialah sebagai berikut: dasar dari etika dan etiket
ialah filsafat tentang perilaku yang baik dan yang buruk. Etika berhubungan
erat dengan norma seperti tata cara, kebiasaan, sopan santun, dan adat.
Norma ialah perwujudan dari nilai-nilai. Sehingga nilai dan norma sangat
penting untuk membentuk suatu etika. Dengan adanya nilai dan norma akan
dapat membuat lingkungan bertindak sesuai etika yang berlaku dalam
lingkungan masyarakat.

ENGERTIAN & CONTOH DARI ETIKA TELEOLOGI, DEONTOLOGI, TEORI HAK, TEORI KEUTAMAAN
Oktober 11, 2011, 9:56 am
Filed under: Uncategorized

1. a. Etika Teleologi

Teleologi berasal dari akar kata Yunani telos, yang berarti akhir, tujuan, maksud, danlogos, perkataan. Teleologi
adalah ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu. Istilah teleologi
dikemukakan olehChristian Wolff, seorang filsuf Jerman abad ke-18. Teleologi merupakan sebuah studi tentang
gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah,
dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan
sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam
bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di
luar manusia.

Dalam dunia etika, teleologi bisa diartikan sebagai pertimbangan moral akan baik buruknya suatu tindakan
dilakukan , Teleologi mengerti benar mana yang benar, dan mana yang salah, tetapi itu bukan ukuran yang
terakhir.Yang lebih penting adalah tujuan dan akibat.Betapapun salahnya sebuah tindakan menurut hukum, tetapi
jika itu bertujuan dan berakibat baik, maka tindakan itu dinilai baik.Ajaran teleologis dapat menimbulkan bahaya
menghalalkan segala cara. Dengan demikian tujuan yang baik harus diikuti dengan tindakan yang benar menurut
hukum.Perbincangan “baik” dan “jahat” harus diimbangi dengan “benar” dan “salah”. Lebih mendalam lagi, ajaran
teleologis ini dapat menciptakan hedonisme, ketika “yang baik” itu dipersempit menjadi “yang baik bagi diri sendiri.

 Egoisme Etis

Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi
dan memajukan dirinya sendiri.

Contoh : (mungkin masih ada) para petinggi politik yang saling berebut kursi “kekuasaan” dengan melakukan
berbagai cara yang bertujuan bahwa dia harus mendapatkannya.
 Utilitarianisme

berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”.

Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan
saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.

Contoh : melakukan kerja bakti yang di adakan di lingkungan sekitar, sebagai upaya untuk kebersihan lingkungan
dan membuat tempat tersebut juga jadi nyaman dan sehat untuk masyarakatnya.

1. b. Deontologi

Istilah deontologi berasal dari kata Yunani ‘deon’ yang berarti kewajiban.

Yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban.

Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang
terpenting.

Contoh : kewajiban seseorang yang memiliki dan mempecayai agamanya, maka orang tersebut harus
beribadah, menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.

1. c. Teori Hak

Teori Hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban
bagaikan dua sisi uang logam yang sama. Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah
pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku.

Contoh : asisten rumah tangga yang mempunyai hak untuk mendapatkan gaji bulanannya setelah ia melakukan
kewajibannya mengurus rumah dan sebagainya.

1. d. Teori Keutamaan (Virtue)

Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan
memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral. memandang sikap atau akhlak seseorang. Tidak
ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya.

Contoh keutamaan :

1. Kebijaksanaan : seorang pemimpin yang memiliki sifat bijaksana dalam segala urusan.
2. Keadilan : mampu bersifat adil dalam menentukan pilihan.
3. Suka bekerja keras : mau terus berjuang dalam bekerja, sehingga pada akhirnya dapat menikmati hasil
jerih payahnya yang baik.
4. Hidup yang baik : tidak pernah melakukan hal – hal yang dapat merugikan sekitarnya,dapat menikmati
hidup dengan tenang, nyaman dan tentram.
, 14 Desember 2014

TEORI-TEORI YANG BERKAITAN DENGAN


CONTOH KASUS ETIKA DEONTOLOGI
Pengertian

Kata ‘etika’ berasal dari kata Yunani "ethos" yang mengandung arti yang cukup luas yaitu,
kebiasaan, adab, akhlak, watak, perasaan, sikap dan cara berpikir. Definisi etika bisnis sendiri
sangat beraneka ragam tetapi memiliki satu pengertian yang sama, yaitu pengetahuan tentang tata
cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang
berlaku secara universal dan secara ekonomi/sosial, dan penerapan norma dan moralitas ini
menunjang maksud dan tujuan kegiatan bisnis (Muslich,1998:4).

Teori Etika Bisnis

Ada empat macam teori etika yaitu :

1. Teori Etika Teleologi

Istilah teleologi dikemukakan oleh Christian Wolff seorang filsuf Jerman abad ke-18. Teleologi
merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan,
tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam
suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis
mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah.

Dalam dunia etika, teleologi diartikan sebagai pertimbangan moral akan baik buruknya suatu
tindakan dilakukan. Betapa pun salahnya sebuah tindakan menurut hukum, tetapi jika itu
bertujuan dan berakibat baik, maka tindakan itu dinilai baik. Dengan demikian tujuan yang baik
harus diikuti dengan tindakan yang benar menurut hukum. Perbincangan “baik” dan “jahat” harus
diimbangi dengan “benar” dan “salah”. Ajaran teleologis ini dapat menciptakan hedonisme, ketika
“yang baik” itu dipersempit menjadi “yang baik” bagi diri sendiri.

Utilitarianisme.

Berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan
adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang
melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.

Utilitarianisme, dibedakan menjadi dua macam :

 Utilitarianisme Perbuatan (Act Utilitarianism)


 Utilitarianisme Aturan (Rule Utilitarianism)
Contoh : Melakukan kerja bakti yang diadakan di lingkungan sekitar, sebagai upaya untuk
kebersihan lingkungan dan membuat tempat tersebut juga jadi nyaman dan sehat untuk
masyarakatnya.

2. Teori Deontologi

Teori Deontologi yaitu berasal dari bahasa Yunani, “Deon” berarti tugas dan “Logos” berarti
pengetahuan. Sehingga Etika Deontologi menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara
baik. Suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibatnya atau tujuan
baik dari tindakan yang dilakukan, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada
diri sendiri. Dengan kata lainnya, bahwa tindakan itu bernilai moral karena tindakan itu
dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu.

Contoh : Kewajiban seseorang yang memiliki dan mempercayai agamanya, maka orang tersebut
harus beribadah, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

3. Teori Hak

Teori hak yakni merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena berkaitan dengan
kewajiban. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena
itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis. Teori hak ini adalah pendekatan yang
paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku.

Contoh : asisten rumah tangga yang mempunyai hak untuk mendapatkan gaji bulanannya setelah
ia melakukan kewajibannya mengurus rumah dan sebagainya.

4. Teori Keutamaan

Teori keutamaan yakni memandang sikap atau akhlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah suatu
perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya. Keutamaan bisa
didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan
memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral.

Contoh :

 Kebijaksanaan : seorang pemimpin yang memiliki sifat bijaksana dalam segala urusan.
 Keadilan : mampu bersifat adil dalam menentukan pilihan.
 Suka bekerja keras : mau terus berjuang dalam bekerja, sehingga pada akhirnya dapat
menikmati hasil jerih payahnya yang baik.
 Hidup yang baik : tidak pernah melakukan hal-hal yang dapat merugikan sekitarnya,
dapat menikmati hidup dengan tenang, nyaman dan damai.

Macam-macam Etika

Adapun Jenis-jenis Etika adalah sebagai berikut:

1. Etika Filosofis

Etika filosofis secara harfiah dapat dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan berfilsafat
atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, etika sebenarnya adalah bagian dari
filsafat; etika lahir dari filsafat.

Ada dua sifat etika, yaitu:

Non-empiris

Filsafat di golongkan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu empiris adalah ilmu yang didasarkan pada
fakta atau kongkret. Namun filsafat berusaha melampaui yang kongkret dengan seolah-olah
menanyakan apa di balik gejala-gejala kongkret. Demikian pula dengan etika. Etika tidak hanya
berhenti pada apa yang nyata yang secara faktual dilakukan, tetapi bertanya tentang apa yang
seharusnya dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

2. Praktis Cabang-cabang

Filsafat berbicara mengenai sesuatu “yang ada”. Akan tetapi etika tidak terbatas pada itu,
melainkan bertanya tentang “apa yang harus dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang
filsafat bersifat praktis karena langsung berhubungan dengan apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan manusia. Etika tidak bersifat teknis melainkan reflektif, dimana etika hanya
menganalisis tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, hak dan kewajiban, sambil melihat
teori-teori etika masa lalu untuk menyelidiki kekuatan dan kelemahannya.

3. Etika Teologis

Secara umum, etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari presuposisi-
presuposisi teologis. Definisi tersebut menjadi kriteria pembeda antara etika filosofis dan etika
teologis.

Terdapat dua hal-hal yang berkait dengan etika teologis. Pertama, etika teologis bukan hanya milik
agama tertentu, melainkan setiap agama dapat memiliki etika teologisnya masing-masing. Kedua,
etika teologis merupakan bagian dari etika secara umum, karena itu banyak unsur-unsur di
dalamnya, dan dapat dimengerti setelah memahami etika secara umum.

Setiap agama dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa yang diyakini dan
menjadi sistem nilai-nilai yang di anutnya. Dalam hal ini, antara agama yang satu dengan yang lain
dapat memiliki perbedaan di dalam merumuskan etika teologisnya.
Secara umum Etika dapat dibagi menjadi :

a. Etika Umum

Berbicara mengenai norma dan nilai moral, kondisi-kondisi dasar bagi manusia untuk bertindak
secara etis,bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika, lembaga-lembaga
normatif dan semacamnya.

b. Etika Khusus

Adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang
khusus. Penerapan ini bisa berwujud: Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam
bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang di latarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan
manusia bertindak etis: cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan/tindakan, dan teori
serta prinsip moral dasar yang ada akibatnya.

Etika Khusus dibagi lagi menjadi 3:

a. Etika Individual, lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.

b. Etika Sosial, berbicara mengenai kewajiban dan hak, sikap dan pola perilaku manusia sebagai
makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. Etika individual dan etika sosial tidak
dapat dipisahkan. Karena kewajiban seseorang terhadap dirinya berkaitan langsung dan dalam
banyak hal mempengaruhi pula kewajibannya dengan orang lain, dan demikian pula sebaliknya.
Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia lain.

Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini terbagi atau terpecah
menjadi banyak bagian/bidang.

c. Etika Lingkungan Hidup, menjelaskan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya
dan juga hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang secara langsung
maupun tidak langsung berdampak pada lingkungan hidup secara keseluruhan.

Model Etika Dalam Bisnis

Carroll dan Buchollz (2005) dalam Rudito (2007:49) membagi tiga tingkatan manajemen dilihat
dari cara para pelaku bisnis dalam menerapkan etika dalam bisnisnya.

1. Immoral Manajemen

Immoral manajemen merupakan tingkatan terendah dari model manajemen dalam menerapkan
prinsip-prinsip etika bisnis. Manajer yang memiliki manajemen tipe ini pada umumnya sama
sekali tidak mengindahkan apa yang dimaksud dengan moralitas, baik dalam internal
organisasinya maupun bagaimana dia menjalankan aktivitas bisnisnya. Para pelaku bisnis yang
tergolong pada tipe ini, biasanya memanfaatkan kelemahan-kelemahan dalam komunitas untuk
kepentingan dan keuntungan diri sendiri, baik secara individu atau kelompok mereka. Kelompok
manajemen ini selalu menghindari diri dari yang disebut etika. Bahkan hukum dianggap sebagai
batu sandungan dalam menjalankan bisnisnya.

2. Amoral Manajemen

Tingkatan kedua dalam aplikasi etika dan moralitas dalam manajemen adalah amoral manajemen.
Ada dua jenis lain manajemen tipe amoral ini, yaitu :

Pertama, manajer yang tidak sengaja berbuat amoral (unintentional amoral manager). Tipe ini
adalah para manajer yang dianggap kurang peka, bahwa dalam segala keputusan bisnis yang
diperbuat sebenarnya langsung atau tidak langsung akan memberikan efek pada pihak lain. Oleh
karena itu, mereka akan menjalankan bisnisnya tanpa memikirkan apakah aktivitas bisnisnya
sudah memiliki dimensi etika atau belum. Manajer tipe ini mungkin saja punya niat baik, namun
mereka tidak bisa melihat bahwa keputusan dan aktivitas bisnis mereka apakah merugikan pihak
lain atau tidak. Tipikal manajer seperti ini biasanya lebih berorientasi hanya pada hukum yang
berlaku, dan menjadikan hukum sebagai pedoman dalam beraktivitas.

Kedua, tipe manajer yang sengaja berbuat amoral. Manajemen dengan pola ini sebenarnya
memahami ada aturan dan etika yang harus dijalankan, namun terkadang secara sengaja
melanggar etika tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bisnis mereka, misalnya ingin
melakukan efisiensi dan lain-lain. Namun manajer tipe ini terkadang berpandangan bahwa etika
hanya berlaku bagi kehidupan pribadi kita, tidak untuk bisnis. Mereka percaya bahwa aktivitas
bisnis berada di luar dari pertimbangan-pertimbangan etika dan moralitas.

3. Moral Manajemen

Tingkatan tertinggi dari penerapan nilai-nilai etika atau moralitas dalam bisnis adalah moral
manajemen. Dalam moral manajemen, nilai-nilai etika dan moralitas diletakkan pada level standar
tertinggi dari segala bentuk perilaku dan aktivitas bisnisnya. Manajer yang termasuk dalam tipe
ini hanya menerima dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku namun juga terbiasa meletakkan
prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinannya. Seorang manajer yang termasuk dalam tipe ini
menginginkan keuntungan dalam bisnisnya, tapi hanya jika bisnis yang dijalankannya secara legal
dan juga tidak melanggar etika yang ada dalam komunitas, seperti keadilan, kejujuran, dan
semangat untuk mematuhi hukum yang berlaku. Hukum bagi mereka dilihat sebagai minimum
etika yang harus mereka patuhi, sehingga aktivitas dan tujuan bisnisnya akan diarahkan untuk
melebihi dari apa yang disebut sebagai tuntutan hukum. Manajer yang bermoral selalu melihat
dan menggunakan prinsip-prinsip etika seperti, keadilan, kebenaran, dan aturan-aturan emas
(golden rule) sebagai pedoman dalam segala keputusan bisnis yang diambilnya.