Anda di halaman 1dari 6

AL ISLAM

“ Pengertian zakat , macam-macam zakat,syarat wajib zakat, golongan yang berhak


menerima zakat dan dasar hokum zakat ”

Oleh:

Fajri M. Syamsuddin
Npm; 121057420113062

FAKULTAS HUKUM
PROGRAMSTUDI ILMU HUKUM
UNIFERSITAS MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA
(UMMU) TERNATE 2014
1. Pengertian zakat
Zakat adalah salah satu rukun Islam. Zakat secara bahasa berarti tumbuh dan bertambah.
Dan menurut syari’at berarti sedekah wajib dari sebagian harta. Sebab dengan mengeluarkan
zakat, maka pelakunya akan tumbuh mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah SWT dan
menjadi orang yang suci serta disucikan[1]. Juga bisa berarti berkah, bersih, suci, subur, dan
berkembang maju. Dapat kita ambil kesimpulan bahwa kita sebagai umat muslim telah
diwajibkan oleh Allah SWT untuk mengeluarkan zakat, seperti firman Allah SWT “Dan
dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi
rahmat”. (QS An-Nur 56).

2. Macam-macam zakat
Macam-macam zakat secara garis besar ada dua macam yaitu zakat harta benda atau maal
dan zakat fitrah. Ulama madzhab sepakat bahwa tidak sah mengeluarkan zakat kecuali
dengan niat.

a. Zakat Maal

Maal sendiri menurut bahasa berarti harta. Jadi, zakat maal yaitu zakat yang harus
dikeluarkan setiap umat muslim terhadap harta yang dimiliki, yang telah memenuhi syarat,
haul, dan nishabnya. Dan syarat-syaratnya diantaranya:

Pertama, menurut Imamiyah syaratnya adalah baligh dan berakal. Jadi, orang gila dan anak-
anak tidak wajib mengeluarkan zakat. Kalau dalam madzhab Syafi’i, berakal dan baligh
tidak menjadi syarat. Bahkan orang gila dan anak-anak, wali mereka harus yang
mengeluarkan zakat atas nama mereka.

Kedua, menurut madzhab Syafi’i, syarat wajib zakat yang kedua adalah muslim. Sedangkan
menurut Imamiyah, disandarkan pada manusia baik muslim maupun non-muslim.

Ketiga, syarat berikutnya yaitu milik penuh. Disini berarti orang yang mempunyai harta itu
menguasai sepenuhnya terhadap harta bendanya, dan dapat mengeluarkan sekehendaknya.
Maka harta yang hilang tidak wajib dizakati, juga harta yang dirampas—dibajak dari
pemiliknya, sekalipun tetap menjadi miliknya.
Keempat, cukup satu tahun berdasarkan hitungan tahun qomariyah untuk selain biji-bijian,
buah-buahan, dan barang-barang tambang.

Kelima, sampai kepada nishab (ketentuan wajib zakat) ketika harus mengeluarkan. Setiap
harta yang wajib dizakati jumlah yang harus dikeluarkan berbeda-beda dan keterangan lebih
rinci akan dijelaskan nanti.

Keenam, orang yang punya utang, dan dia mempunyai harta yang sudah mencapai nishab.
Menurut Imamiyah dan Syafi’i, jika berhutang maka harus tetap wajib mengeluarkan zakat.
Menurut Hambali harus melunasi hutangnya terlebih dahulu. Menurut Maliki, jika berhutang
tetapi memiliki emas dan perak maka harus melunasi hutang terlebih dahulu. Dan jika yang
dimiliki selain emas dan perak maka tetap wajib zakat. Dan menurut Hanafi, jika berhutang
dimana utangnya itu menjadi hak Allah untuk dilakukan oleh seorang manusia dan manusia
lain tidak menuntutnya seperti haji dan kifarat-kifaratnya, maka tetap harus berzakat. Tetapi
jika berhutangnya itu untuk manusia dan Allah, serta manusia memiliki tuntutan atau
tanggung jawab untuk melunasinya, maka tidak wajib mengeluarkan zakat kecuali zakat
tanaman dan buah-buahan.[5]

Ulama madzhab sepakat bahwa zakat itu tidak diwajibkan untuk barang-barang hiasan dan
juga untuk tempat tinggal seperti rumah, pakaian, alat-alat rumah, kendaraan, senjata dan
lain sebagainya yang menjadi kebutuhan seperti alat-alat, buku-buku, dan perabot-perabot.
Lalu kemudian Imamiyah juga mengatakan harta benda yang sudah dicairkan ke dalam emas
dan perak tidak wajib dizakati.

b. Zakat Fitrah

Zakat fitrah disini berarti juga zakat badan atau tubuh kita. Setiap menjelang Idul Fitri
orang Islam diwajibkan membayar zakat fitrah sebanyak 3 liter dari jenis makanan yang
dikonsumsi sehari-hari. Hal ini ditegaskan dalam hadist dari Ibnu Umar, katanya
“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah, berbuka bulan Ramadhan, sebanyak satu sha’
(3,1 liter) tamar atau gandum atas setiap muslim merdeka atau hamba, lelaki atau
perempuan.“(H.R. Bukhari).
3. Syarat wajib zakat

a. Islam
b. Memiliki kelebihan harta untuk makan sehari-hari. Ketika Rasulullah SAW mengutus
Mu’az ke Yaman, ia memerintahkan, “Beritahukanlah kepada penduduk Yaman,
sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada mereka zakatyang diambil dari orang-orang
kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir dikalangan mereka.” (HR. Jamaah ahli
hadits). Rasulullah SAW juga bersabda. “Barang siapa meminta-mintasedang ia mencukupi
sesungguhnya ia memperbanyak api neraka (siksaan). Para sahabat ketika itu bertanya “Apa
yang dimaksud dengan mencukupi itu?” Jawab Rasulullah SAW, “ Artinya mencukupi
baginya adalah sekedar cukup buat dia makan tengah hari dan malam hari.” (HR. Abu
Daud dan Ibnu Majah). Kelebihan harta yang dimaksud tentu saja bukan barang yang
dipakai sehari-hari seperti rumah, perabotan, dan lain-lain. Jadi tidak perlu menjual sesuatu
untuk membayar zakat fitrah.
 Orang yang dibebani untuk mengeluarkan zakat fitrah adalah:
Pertama, orang yang dibebani untuk mengeluarkan zakat fitrah itu muslim yang tua maupun
muda. Juga termasuk orang gila dan wali untuk anak kecil juga. Kedua, orang yang mampu.
Menurut Syafi’i, orang yang mampu adalah orang yang mempunyai lebih makanan pokok
untuk diri dan keluarga pada siang dan malam harinya. Sedangkan menurut Imamiyah,
orang yang mampu adalah orang yang mempunyai belanja untuk satu tahun, untuk diri dan
keluarganya, baik memperolehnya dengan bekerja maupun dengan kekuatan, dengan syarat
ia dapat mengembangkannya.[6]
 Jumlah yang harus dikeluarkan
Ulama madzhab bahwa tiap orang wajib mengeluarkan satu sha’ satu gantang baik untuk
gandum, kurma, anggur kering, beras, maupun jagung, dan seterusnya yang menjadi
kebiasaan makanan pokok. Dan setiap gantang diperkirakan 3 kg.
Setiap jenis makanan itu 3 kg, bisa berupa harga dari jenis makanan yang berlaku umum di
suatu masyarakat. Dan barang yang hendak dikeluarkan untuk zakat fitrah haruslah yang
bagus dan tidak boleh dicampur dengan yang rusak. Yang paling utama adalah memberikan
sesuatu yang lebih baik dan berguna bagi masyarakat setempat.[7]
 Waktu wajibnya mengeluarkan zakat fitrah
Menurut Syafi’i adalah ketika akhir bulan ramadhan dan awal bulan syawal, artinya pada
tenggelamnya matahari dan sebelumnya sedikit dalam jangka waktu dekat pada hari akhir
bulan ramadhan. Disunnahkan mengeluarkannya pada awal hari raya, dan diharamkan
mengeluarkannya setelah tenggelamnya matahari pada hari pertama di bulan syawal, kecuali
kalau ada udzur.

4. Golongan yang berhak menerima zakat

Yang berhak menerima

Ada delapan pihak yang berhak menerima zakat, tertera dalam Surah at-Taubah ayat 60
yakni:

 Fakir - Mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi
kebutuhan pokok hidup.
 Miskin - Mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
dasar untuk hidup.[4]
 Amil - Mereka yang mengumpulkan dan membagikan zakat.[5]
 Mu'allaf - Mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan barunya.
 Hamba sahaya - Budak yang ingin memerdekakan dirinya
 Gharimin - Mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk
memenuhinya.[6]
 Fisabilillah - Mereka yang berjuang di jalan Allah (misal: dakwah, perang dsb)
 Ibnus Sabil - Mereka yang kehabisan biaya di perjalanan

5. Dasar hukum zakat


- QS (Al-Baqarah (2):43) ("Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta
orang-orang yang ruku'".)
- QS (At-Taubah (9):35) (Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam,
lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan)
kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka
rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.")

- QS (At-Taubah (9):103) ("Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu
kamu membersihkan dan menyucikan mereka...")

- QS (6: 141) (Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan
delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari
buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan).

- Allah berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 60, sebagai berikut :

ِ ‫ب َو ْالغ‬
‫َار ِميْنَ َو ِف ْي‬ ِ ‫علَ ْي َها َو ْال ُم َؤلَّفَ ِة قُلُ ْوبُ ُه ْم َوفِي‬
ِ ‫الر َقا‬ َ َ‫سا ِكي ِْن َو ْال َعا ِل ِميْن‬َ ‫اء َو ْال َم‬
ِ ‫صدَقَاتُ ِل ْلفُقَ َر‬َّ ‫ِإنَّ َما ال‬
َ ُ‫ضةً ِمنَ هللاِ َوهللا‬
‫ع ِل ْي ٌم َح ِك ْي ٌم‬ َ ‫س ِب ْي ِل َف ِر ْي‬
َّ ‫هللا َواب ِْن ال‬
ِ ‫س ِب ْي ِل‬
َ

“Sesungguhnya sedekah (zakat) itu untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para
amil (pengurus zakat), para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak,
orang-orang yang mempunyai utang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang
dalam perjalanan”.