Anda di halaman 1dari 15

Penyakit Maag dan Tindakan

Terapi secara Sederhana


MAKALAH

Disusun Oleh Kelompok 1


Reguler 2
1. Nafisah (165070200111004)
2. Nurva Prastya Ningrum (165070200111014)
3. Dika Febrianti (165070200111002)
4. Delfira Arizda (165070200111020)
5. Destasya Hayyu Qorirah Pragian (165070200111016)
6. Tyas Febri Ghea Rachmadi (165070200111008)
7. Samuel Bayu Santoso Hari Susilo (165070200111010)

PROGRAM STUDI
ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2016/2017
Kata Pengantar

Segala puji bagi Syukur kami panjatkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan
harapan. Dalam makalah ini kami membahas tentang Pengetahuan Penyakit Maag dalam
Penelitian indikasi pengobatan di Fakultas UB. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun
tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik.

Didalam makalah ini disusun dalam rangka memperdalam pemahaman mahasiswa


akan. Pengetahuan dan Cara bagaimana menanggulangi penyakit seperti halnya penyakit
maag yang saat sekarang ini. Dan harapan kami makalah ini dapat menambah pengetahuan
tentang penyakit maag dan indikasi yang ada didalam makalah ini.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada guru bahasa Indonesia yaitu
Bapak Muhammad Hambali yang telah membimbing kami sebagai penyusun agar dapat
mengerti tentang bagaimana cara menyusun karya tulis ilmiah yang baik dan sesuai kaidah.
Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada pembaca.
Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun membutuhkan kritik
dan saran dari pembaca yang membangun, Terima kasih.

Malang, 16 Desember 2016

Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................................. i
Daftar Isi ......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 . Latar Belakang ................................................................... 1
2.1 Perumusan Masalah ........................................................... 1
3.1 Tujuan penelitian ............................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Swamedikasi ...................................................................... 3
2.2 Informasi Obat ................................................................... 3
2.3 Penyakit maag .................................................................... 3
2.3.1 Pengertian Maag ....................................................... 4
2.3.2 Gejala Maag .............................................................. 7
2.3.3 Penyebab Maag .........................................................
2.3.4 Obat yang digunakan dalam penatalaksanaan
penyakit maag ...........................................................

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ....................................................................... 21
3.2 Saran ................................................................................. 21

Daftar Pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Seiring dengan perkembangan dunia kesehatan berbagai obat baru telah ditemukan
dan informasi yang berkaitan dengan perkembangan obat tersebut juga semakin banyak
(Depkes RI, 2008). Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus
diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 melalui pembangunan nasional yang
berkesinambungan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Daris, 2008).
Tujuan diselenggarakan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal.

Kerasionalan dalam penggunaan obat sangat dibutuhkan mengingat obat dapat


bersifat sebagai racun apabila penggunaannya tidak tepat (Anief, 1997). Hal yang harus
dihindari dalam penggunan obat yaitu tidak tepat (dosis, indikasi, cara penggunaan, tidak
mempertimbangkan kondisi atau riwayat penyakit pasien, dan lain-lain), tidak aman, tidak
ekonomis. Kebutuhan informasi obat erat kaitanya dengan pengetahuan dan sikap
pengunjung apotek (Green et al., 1980). Obat berperan penting dalam pelayanan kesehatan.
Penanganan dan pencegahan berbagai pemyakit yang tidak dapat dilepaskan dari tindakan
terapi dengan obat atau farmakoterapi (Depkes RI, 2008).

Menurut penelitian sebelumnya, tingkat pengetahuan penyakit maag pada


mahasiswa Fakultas Farmasi UB kategori baik sekali sebesar 69 (69%) dari 100 responden
sedangkan tindakan swamedikasi penyakit maag dalam kategori baik sekali sebesar 93
(93%) dari 100 responden (Wardani, 2011). Berdasarkan survey sebagian mahasiswa
Fakultas Kedokteran dan Jurusan Ilmu Kesehatan melalui wawancara ditemukan 28 (80%)
dari 35 mahasiswa pernah menderita penyakit maag dan pernah melakukan swamedikasi
untuk mengatasi keluhan maag, sedangkan sisanya yaitu 7 tidak diobati. Dari survei awal
inilah peneliti ingin mengetahui seberapa besar swamedikasi penyakit maag pada
mahasiswa Bidang Kesehatan di UB.
1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan suatu masalah yaitu:

1. Bagaimana tingkat pengetahuan mahasiswa Bidang Kesehatan di UB terhadap


swamedikasi maag?
2. Bagaimana tindakan swamedikasi gambaran penggunaan obat maag pada mahasiswa
Bidang Kesehatan di UB ?
3. Bagaimana kerasionalan penggunaan obat maag pada mahasiswa Bidang Kesehatan di
UB ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan yang dilakukan penelitian ini
adalah:

1. Mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Bidang Kesehatan di UB terhadap


swamedikasi maag.
2. Mengetahui tindakan swamedikasi gambaran penggunaan obat maag pada mahasiswa
Bidang Kesehatan di UB.
3. Mengetahui kerasionalan penggunaan obat maag pada mahasiswa Bidang Kesehatan di
UB
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Swamedikasi

Swamedikasi (pengobatan sendiri) berarti mengobati segala keluhan padadiri sendiri


dengan obat-obat yang dibeli sendiri di apotek atau toko obat atas inisiatif sendiri tanpa
nasehat dokter (Tjay dan Rahardja,1993). Keuntungan pengobatan sendiri menggunakan
obat bebas dan obat bebas terbatas antara lain: aman bila digunakan sesuai dengan aturan,
efektif untuk menghilangkan keluhan (karena 80% keluhan bersifat selflimiting), efisiensi
biaya, efisiensi waktu, bias ikut berperan dalam mengambil keputusan terapi dan
meringankan beban pemerintah dalam keterbatasan jumlah tenaga dan sarana kesehatan di
masyarakat.
Resiko dari swamedikasi adalah tidak mengenali keseriusan gangguan. Keseriuasan
gangguan dapat dinilai salah satu atau mungkin tidak dikenali, sehingga pengobatan sendiri
bisa dilakukan terlalu lama. Gangguan bersangkutan dapat memperhebat keluhan, sehingga
dokter perlu menggunakan obat-obat yang lebih keras. Resiko lain adalah penggunaan obat
kurang tepat. Obat bisa digunakan dengan cara salah, terlalu lama atau dalam takaran
terlalu besar. Guna mengatasi resiko tersebut, maka perlu mengenali kerugian-kerugian
tersebut. Aturan pakai atau peringatan-peringatan yang di ikutsertakan dalam kemasan obat
hendaknya dibaca secara seksama dan di taati dengan baik (Tjay dan Rahardja, 1993).

2.2 Informasi Obat

Pasien harus paham dalam memilih obat sebagai upaya pengobatan sendiri. Disini
peran farmasis atau apoteker untuk membantu memilih obat yang tepat. Informasi tehadap
golongan obat untuk pengobatan sendiri akan dapat menolong pemakai untuk memahami
lebih baik mengenai aksi obat, mencegah, dan merawat resiko yang mungkin timbul.
Informasi obat dapat diperoleh dari setiap kemasan, leaflet atau brosur obat.
Sebelum menggunakan obat, termasuk obat bebas dan bebas terbatas harus diketahui sifat
dan cara pemakainnya agar penggunaannya tepat dan aman. Informasi tersebut dapat
diperoleh dari etiket atau brosur pada kemasan obat bebas dan bebas terbatas. Pada setiap
brosur atau kemasan obat selalu dicantumkan: nama obat, komposisi, indikasi, informasi
cara kerja obat, aturan pakai,peringatan (khusus untuk obat bebas terbatas), perhatian, nama
produsen, nomor batch/lot, nomor registrasi, tanggal kadaluarsa (Depkes RI, 2006)
2.3 Penyakit Maag

2.3.1 Pengertian Maag

Sakit maag adalah peningkatan produksi asam lambung sehingga terjadi iritasi
lambung. Maag atau sakit lambung memilki gejala khas berupa rasa nyeri atau perih pada
ulu hati meskipun baru saja selesai makan. Namun kalau rasa perih hanya terjadi sebelum
makan atau di waktu lapar dan hilang setelah makan, biasanya karena produksi asam
lambung berlebihan dan belum menderita sakit maag (Depkes RI, 2006).

2.3.2 Gejala Maag

Beberapa gejala sakit maag yang merupakan dasar diagnosa adalah riwayat rasa
tidak enak berulang di ulu hati ½ hingga 1 jam setelah makan (pencernaan) dan timbul
terutama pada dini hari, merupakan gejala khas. Rasa nyeri akan menghilang dengan diberi
makanan atau antasida, sekurangkuranganya untuk sementara. Rasa mual dan muntah
sering sekali menyertai rasa nyeri di ulu hati. Selain bersendawa, berat badan biasa
menurun, sering tak cocok makanan tertentu misalnya lemak, makanan yang pedas dan
makanan yang membuat gas (Riyanto, 2008).
Nyeri serta rasa panas pada ulu hati dan dada, mual, kadang disertai muntah dan
perut kembung (Depkes RI, 2006). Gejala-gejala umumnya tidak ada atau kurang nyata,
kadang kala dapat berupa gangguan pada pencernaan, nyeri lambung dan muntah-muntah
akibat erosi kecil di selaput lendir serta adakalanya terjadi pendarahan (Tjay dan Rahardja,
2007). Gastritis akibat terapi penyinaran menyebabkan nyeri, mual dan heartburn (rasa
hangat atau rasa terbakar pada dada), yang terjadi karena adanya tukak di lambung (Dipiro,
dkk., 2008).

2.3.3 Penyebab
Peningkatan produksi asam lambung dapat terjadi karena (Depkes RI, 2006) :
1) Makanan atau minuman yang merangsang lambung yaitu makanan yang pedas atau
asam, kopi dan alkohol.
2) Faktor stress baik stress fisik (setelah pembedahan, penyakit berat, luka bakar)
maupun stress mental.
3) Obat-obat tertentu yang digunakan dalam jangka waktu lama (missal: obat rematik,
anti inflamsi).
4) Jadwal makan yang tidak teratur.
Faktor-faktor lain yang kurang kuat berkaitan dengan sakit lambung antara lain adalah
riwayat keluarga yang menderita sakit maag, kurangnya daya mengatasi atau adaptasi yang
buruk terhadap stress.
2.3.4 Obat digunakan Dalam Penatalaksanaan Sakit Maag

Tujuan terapi maag yaitu mengurangi atau menghilangkan gajala pada penderita,
menurunkan frekuensi atau kekambuhan dan durasi refluks gastroesofagus, mengobati
mukosa yang terluka, dan mencegah berkembangnya komplikasi. Terapi penyakit maag
dikelompokkan menjadi beberapa bagian yaitu modifikasi gaya hidup dan terapi dengan
antasid, antogonis reseptor H2 dan atau inhibitor pompa proton, pemberian terapi
farmakologi dengan mengurangi kekuatan asam, dan terapi intervensi (pembedahan
antirefluks dan terapi endoskopi (Fitri 2013).
Sakit maag pada awalnya diobati secara simptomatik dengan pemberian obat yang
menetralisasi atau menghambat produksi asam lambung berlebihan (jenis antasida) atau
obat penghambat produksi asam yang memperbaiki motilitas usus (sistem gerakan usus).
Apabila setelah dua minggu obat tidak memberikan reaksi yang berarti, dokter akan
memeriksa dengan bantuan peralatan khusus seperti USG, endoskopi, dan lain-lain (Depkes
RI, 2006).
a. Antasida
Antasida adalah senyawa yang mempunyai kemampuan untuk menetralkan asam
lambung atau mengikatnya (Depkes RI, 2008). Semua obat antasida mempunyai fungsi
untuk mengurangi gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung, tukak
lambung, gastritis, tukak usus dua belas jari dengan gejala seperti mual, muntah, nyeri
lambung, nyeri ulu hati dan perasaan penuh pada lambung (Depkes RI, 2006).
Kebanyakan kerja antasida bersifat lokal karena hanya sebagian kecil dari zat
aktifnya yang diabsorbsi. Antasida merupakan asam lemah maka jika berikatan dengan
asam yang ada di lambung menyebabkan keasaman lambung berkurang (Priyanto, 2008).
Penggunaan antasida bersama-sama dengan obat lain sebaiknya dihindari karena mungkin
dapat menggangu absorbsi lain. Selain itu antasida mungkin dapat merusak salut enteric
yang dirancang untuk mencegah pelarutan obat dalam lambung (Depkes RI, 2009).
Antasida yang mengandung magnesium tidak boleh digunakan pada pasien dengan
klirens kreatinin kurang dari 30 ml/menit karena eksresi magnesium dapat menyebabkan
toksisitas. Hiperkalemia dapat terjadi pada pasien dengan fungsi renal normal dengan
intake kalsium karbonat lebih dari 20 gram/hari dan pasien gagal ginjal dengan intake lebih
dari 4 gram/hari (Depkes RI, 2008).
Antasida paling baik diberikan saat muncul atau diperkirakan akan muncul gejala,
lazimnya diantara waktu makan dan sebelum tidur, 4 kali sehari atau lebih (Depkes RI,
2008). Sediaan antasida dapat digolongkan menjadi :
1) Antasida dengan kandungan Alumunium dan atau Magnesium
Antasida yang mengandung alumunium atau magnesium yang relatif tidak larut
dalam air seperti magnesium karbonat, hidroksida, dan trisilikat serta alumunium glisinat
dan hidroksida, bekerja lama bila berada dalam lambung sehingga sebagian besar tujuan
pemberian antasida tercapai (Depkes RI, 2008).
Sediaan yang mengandung magnesium mungkin dapat menyebabkan diare,
sedangkan sediaan yang mengandung alumunium mungkin dapat menyebabkan konstipasi
(Depkes RI, 2009). Antasida yang mengandung magnesium dan alumunium daoat
mengurangi efek samping pada usus besar ini (Depkes RI, 2008).
a) Alumunium Hidroksida
Zat koloidal ini sebagian terdiri dari alumunium hidroksida dan sebagian lagi
sebagai alumunium oksida terikat pada molekul air. Zat ini berkhasiat adstringens yaitu
menciutkan selaput lender berdasarkan sifat ion alumunium yang membentuk kompleks
dengan protein. Juga dapat menutupi tukak lambung dengan suatu lapisan pelindung (Tjay
dan Rahardja, 2007). Dosis yang digunakan adalah 1-2 tablet dikunyah 4 kali sehari dan
sebelum tidur atau diperlukan dan sediaan suspense 1-2 sachet (7-14 mL), 3-4 kali sehari,
anak dibawah 8 tahun ½-1 sachet, 3-4 kali sehari. Contoh obat yang mengandung
alumunium hidroksida antara lain: Tomaag, Magtral, Corsamaag, Aludonna, Actal, Waisan,
Polysilane (Depkes RI, 2011).
b) Magnesium Hidroksida
Magnesium hidroksida memiliki daya netralisasi kuat, cepat dan banyak digunakan
dalam sediaan terhadap gangguan lambung bersama alumunium hidroksida, karbonat,
dimetikon, dan alginat (Tjay dan Rahardja, 2007). Dosis yang digunakan 1-2 tablet
dikunyah 4 kali sehari dan sebelum tidur atau bila diperlukan dan sediaan suspensi 5 mL, 3-
4 kali sehari. Contoh obatnya: Promag, Ticomag, Tomaag, Farmacro, Mylacid (Depkes RI,
2011).
c) Kombinasi Mg(OH)2, CaCO2, Famotidin
Dalam dosis yang sama (1 g), MgO lebih efektif untuk mengikat asam daripada
natrium bokarbonat, tetapi memiliki sifat pencahar sebagai efek sampingnya (lenih ringan
dari Mg sulfat). Untuk mengatasi hal ini, maka zat ini diberikan dalam kombinasi dengan
alumunium hidroksida atau kalsium karbonat (perbandingan Mg(OH)2:CaCO3 = 1:5) yang
memiliki sifat sembelit. Magnesium oksida tidak diserap usus sehingga tidak menyebabkan
alkalosis (Tjay dan Rahardja, 2007). Dosis dewasa dan anak diatas 12 tahun yaitu sehari 2 x
1 tablet kunyah, diminum jika timbul gejala atau 1 jam sebelum makan. Maksimum 2
tablet/hari (2 tablet 24 jam). Sebaiknya tidak diminum bersamaan makanan. Tablet
dikunyah sebelum ditelan. Untuk anak dibawah 12 tahun digunakan sesuai dengan petunjuk
dokter. Contoh obatnya: Neosanmag fast dan Promag double action (Riyanto 2008).
d) Kompleks magnesium hidrotalsit
Hidrotalsit adalah magnesium alumunium hidroksikarbonat dengan daya netralisasi
tetapi agak lemah. pH tidak meningkat diatas lima. Zat ini juga bekerja sebagai antipepsin
yang dapat mengikat dan menginaktivasi empedu yang mengalir naik ke dalam lambung
akibat refluks. Setelah kembali di suasana basa dari usus, garam-garam empedu dibebaskan
lagi. Dosis untuk dewasa 3-4 kali sehari, 1-2 tablet. Dosis untuk anak-anak 6-12 tahun yaitu
3-4 kali sehari, ½-1 tablet. Dianjurkan untuk minum obat ini segera pada saat timbul gejala
dan dilanjutkan 1-2 jam sebelum makan atau sesudah makan dan sebelum tidur malam.
Dapat diminum dengan air atau dikunyah langsung (Depkes RI, 2008). Contoh obatnya:
Promag, Talcit, Ultacit (Yuliarti 2009).
e) Magnesium karbonat
Dosis yang digunakan 1-2 tablet dikunyah 4 kali sehari dan sebeluum tidur atau saat
diperlukan dengan dosis suspense 5 mL, 3-4 kali sehari. Contoh obat yang beredar antara
lain: Alumunium hidroksida dan Magnesium trisilikat, Antasida DOEN, Decamag,
Hufamag, Magasida, Mylanta, Promag, Stopmag, Waisan (Depkes RI, 2008).
f) Magnesium trisilikat
Magnesium trisilikat bekerja lebih lambat dan lebih lama daripada natrium
bikarbonat. Daya netralisasinya cukup baik, juga berkhasiat adsorben (menyerap zat-zat
lain pada permukaanya). Obat ini bereaksi dengan asam lambung dan membentuk selesium
hidroksida yang menutupi tukak lambung dengan suatu lapisan pelindung yang berbentuk
gel. Efek samping pada penggunaan jangka panjang zat ini adalah pembentukan batu ginjal
(batu silikat) (Tjay dan Rahardja, 2007).
2) Antasida dengan kandungan Asam Karbonat
Natrium bikarbonat merupakan antasida yang larut dalam air dan bekerja cepat.
Namun dalam dosis berlebih dapat menyebabkan alkolisis. Seperti antasida lainnya yang
mengandung karbonat, terlepasnya karbon dioksida dapat menyebabkan bersendawa
(Depkes RI, 2008). Natrium bikarbonat merupakan antasida sistemik yang sekarang sudah
sangata jarang digunakan. Penggunaan obat ini sebaiknya dihindari pada pasien yang
menjalani diet garam (). Kelebihan natrium menyebabkan retensi cairan yang berakibat
udem dan tekanan darah naik (Priyanto, 2008).
3) Antasida dengan kandungan Bismuth dan Kalsium
Antasida yang mengandung bismuth (kecuali kelat) sebaiknya dihindari karena
bismuth yang terabsorbsi bersifat neurotoksik dan cenderung menyebabkan konstipasi.
Antasida yang mengandung kalsium dapat menginduksi sekresi asam lambung. Pada dosis
rendah manfaat klinisnya diragukan, sedangkan penggunaan dosis berat jangka panjang
dapat menyebabkan hiperkalsemia, dan alkalosis (PPNI 1996).
4) Antasida dengan kandungan Simetokin.
Senyawa antasida lain seringkali ditemukan dalam sediaan tunggalmaupun
kombinasi. Simetikon diberikan sendiri atau ditambahkan pada antasida sebagai antibuih
untuk meringankan kembung (flatulen). Pada perawatan paliatif dapat mengatasi cegukan.

b. Antagonis Reseptor H2

Semua antagonis reseptor H2 mengatasi tukak lambung dan duodenum dengan cara
mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat penghambatan reseptor histamin-H2.
Antagonis H2 sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal,
kehamilan dan pada pasien menyusui (PPNI 1996). Efek samping antagonis reseptor H2
adalah diare dan gangguan saluran cerna lainnya, pengaruh terhadap pemeriksaan fungsi
hati, sakit kepala, pusingm ruam, dan rasa letuh. Contoh obat-obatan yang termasuk
golongan antagonis reseptor H2 antara lain yaitu Famotidin, Ranitidin, Ranitidin bismuth
nitrat dan simetidin (Depkes 1998).

4. Pencegahan
Hingga saat ini belum ada cara yang mudah untuk hidup sehat terbebas dari sakit
maag selain memperbaiki pola hidup dan pola makan. Diantaranya menghindari makanan
berlemak dan berminyak serta menambah asupan makanan berserat. Berolahraga secara
teratur dan menghindari stress juga sangat membantu karena stress dapat memicu
pengeluaran asam lambung

Kacang Hijau
Untuk pengobatan secara tradisional, salah satunya dapat memanfaatkan kacang
hijau yang terbukti memiliki vitamin dan mineral essensial yang sangat tinggi.
Para penderita maag disarankan untuk mempertimbangkan makanan yang dapat
mengurangi serangan nyeri lambung, seperti kentang, pisang, brokoli, kol, dan bubur.
Selain dapat menetralisir asam lambung, makanan tersebut juga dapat memberi rasa
kenyang yang lebih lama.

Kentang
Sumber karbohidrat yang baik dan mampu memberikan rasa kenyang yang cukup
lama. Bubur kentang atau jus kentang yang bersifat basa di pagi hari bermanfaat untuk
menetralisir asam lambung sebelum Anda menyantap makanan lain.
Pisang Masak
Mengandung kalium, selain melon, pepaya dan tomat. Kalium yang dikandung
dalam buah-buahan tersebut bermanfaat menyeimbangkan pH (derajat keasaman) di dalam
lambung. Pisang juga mampu memberi rasa kenyang sehingga amat baik dikonsumsi di
antara waktu makan. Selain itu, pisang juga kaya akan potasium yang mampu menormalkan
peningkatan tekanan darah akibat serangan stres.

Brokoli
Merupakan sumber kalium dan sulfur yang baik. Sulfur mampu berperan sebagai
antioksidan pelindung lapisan dalam kulit lambung. Brokoli juga kaya akan vitamin C yang
baik untuk memelihara stamina tubuh. Makanan lain yang mengandung sulfur adalah
bawang merah dan bawang putih.

Bubur Ayam
Bagi penderita sakit maag akut sangat berguna untuk mencegah dan meringankan
serangan rasa sakit. Sebaiknya hindari sate jeroan yang sulit dicerna, namun sebagai
penambah rasa boleh ditambahkan telur rebus, kecap dan sedikit kerupuk.

Lidah Buaya
Bermanfaat meredakan panas dalam dan mempercepat penyembuhan luka.
Kandungan saponinnya mempunyai kemampuan antiseptik, sedangkan kandungan
antrakuinon dan kuinonnya berkhasiat sebagai antibiotik, penghilang rasa sakit dan
merangsang pertumbuhan sel baru pada kulit. Selain itu, kandungan mukopolisakarida di
dalam lidah buaya juga berguna untuk memulihkan radang, termasuk radang saluran
pencernaan dan arthritis.

Kol
Meski banyak dijauhi karena mengandung gas, banyak ahli kesehatan yang justru
memanfaatkan kol untuk mengatasi penyakit maag. Menurut Dr. Michael T. Murray, ahli
naturopati dari Bellevue Washington, kol mengandung asam amino glutamin yang dapat
meningkatkan aliran darah ke perut, memberikan nutrisi bagi sel dalam lambung,
membantu melindungi lapisan perut, dan mengobati luka pada saluran pencernaan.
Mengenai konsumsi kol ini, sebaiknya konsultasikan dengan dokter Anda.
Permen Karet (bukan utk dimakan),
Aktivitas mengunyah bisa merangsang produksi air liur yang bersifat basa sehingga
mampu menetralisir asam lambung. Selain itu, bertambahnya produksi air liur juga dapat
meningkatkan upaya pembersihan lambung.

Pencegahan Penyakit Maag


Hingga saat ini belum ada cara yang mudah untuk hidup sehat terbebas dari sakit
maag selain memperbaiki pola hidup dan pola makan. Diantaranya menghindari makanan
berlemak dan berminyak serta menambah asupan makanan berserat.
Berolahraga secara teratur dan menghindari stress juga sangat membantu karena stress
dapat memicu pengeluaran asam lambung. Dengan begitu Penyakit Maag dan
Pengobatannya bisa diminimalisir rasa sakit dan efeknya.

.Mendiagnosis Gastritis
Gastritis didiagnosis melalui satu atau lebih tes-tes medis:
 Endoskopi saluran pencernaan bagian atas. Dokter mendorong dengan pelan-pelan
suatu endoscope, suatu tabung kecil yang berisi sebuah kamera kecil, melalui mulut
anda (atau adakalanya melalui hidung) dan turun kedalam lambung anda untuk melihat
pada lapisan perut/lambung. Dokter akan memeriksa peradangan dan mungkin
mengeluarkan suatu contoh kecil jaringan untuk pemeriksaan. Prosedur untuk
mengangkat suatu contoh jaringan disebut sebuah biopsi.
 Tes Darah. Dokter mungkin memeriksa jumlah sel darah merah anda untuk melihat
apakah anda mempunyai anemia, yang berarti bahwa anda tidak mempunyai cukup sel-
sel darah merah. Anemia dapat disebabkan oleh perdarahan dari lambung.
 Tes Tinja/Feces. Tes ini memeriksa kehadiran darah dalam feces anda, suatu tanda
perdarahan. Tes feces mungkin juga digunakan untuk mendeteksi kehadiran H. pylori
dalam saluran pencernaan.
BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan

Seorang yang mempunyai riwayat sakit atau mempunyai sakit maag. Mereka sering

mengkonsumsi makanan yang menurut mereka baik bagi tubuh mereka baik bagi mereka.

Tapi kebanyak dari mereka kurang memperhatikan makanan mereka, dan terjadilah maag.

Menurut pendapat ahli kesehatan, ternyata puasa dapat memperbaiki sistem pencernaan dan

mengurangi penyakit maag juga.

Seperti kita ketahui, jenis maag ada dua macam; maag ringan dan maag berat.

Untuk seseorang yang menderita maag berat memang tidak dianjurkan untuk berpuasa.

Namun bagi penderita maag ringan, puasa justru akan membantu proses kesembuhan

penyakit maag.

Pada intinya, maag disebabkan oleh tidak teraturnya pola makan seseorang. Timbul

pergesekan pada jaringan pencernaan sehingga menyebabkan asam lambung meningkat.

Puasa merupakan sebuah cara untuk mendisiplinkan diri dalam hal makan. Dengan

sendirinya tubuh akan terbantu dengan asupan yang continue dan bergizi.

B.SARAN.
Mengharapkana saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini,demi
terwujudnya makalah yang benar dan bisa dipertanggung jawabkan.
Daftar Pustaka

Depkes, R. (1998). "Standar Asuhan Keperawatan." Jakarta: Direktorat Rumah Sakit


Umum dan Pendidikan, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik.

Fitri, R. (2013). "Deskripsi Pola Makan Penderita Maag Pada Mahasiswa Jurusan
Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang, skripsi." Padang:
Universitas Negeri Padang.

PPNI, D. (1996). "Standar Praktik Keperawatan." Jakarta: DPP PPNI.

Riyanto (2008). "Penyakit maag atau lambung." google scholar.

Yuliarti, N. (2009). Panduan Pencegahan dan Mengatasi Penyakit Maag, Andi: Yogyakarta.