Anda di halaman 1dari 3

TUGAS ILMU KEBIDANAN DAN KEMAJIRAN

PERSENTASI FETAL

NAMA : MARIA MELANNY OVERA

NIM : 1609010042

Distokia adalah suatu gangguan dari suatu proses kelahiran atau partus, yang mana dalam
stadium pertama dan stadium kedua dari partus itu keluarnya fetus menjadi lebih lama dan sulit,
sehingga menjadi tidak mungkin kembali bagi induk untuk mengeluarkan fetus kecuali dengan
pertolongan manusia. Pada umumnya kejadian distokia lebih sering terjadi pada sapi perah
dibanding sapi potong.

Kasus distokia umumnya terjadi pada induk yang baru pertama kali beranak, induk yang
masa kebuntingannya jauh melebihi waktu normal, induk yang terlalu cepat dikawinkan, hewan
yang kurang bergerak, kelahiran kembar dan penyakit pada rahim. Distokia dapat disebabkan
oleh faktor induk dan faktor anak (fetus) Aspek induk yang dapat mengakibatkan distokia
diantaranya kegagalan untuk mengeluarkan fetus akibat gangguan pada rahim yaitu rahim sobek,
luka atau terputar, gangguan pada abdomen (rongga perut) yang mengakibatkan
ketidakmampuan untuk merejan, tersumbatnya jalan kelahiran, dan ukuran panggul yang tidak
memadai. Aspek fetus yang dapat mengakibatkan distokia diantaranya defisiensi hormon
(ACTH/cortisol) ukuran fetus yang terlalu besar, kelainan posisi fetus dalam uterus serta
kematian fetus dalam uterus.

Ukuran fetus yang terlalu besar dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu keturunan, faktor
pejantan yang terlalu besar sedangkan induk kecil, lama kebuntingan, jenis kelamin fetus yaitu
fetus jantan cenderung lebih besar, kebuntingan kembar. Faktor nutrisi induk juga berperan,
yakni pemberian pakan terlalu banyak dapat meningkatkan berat badan fetus dan timbunan
lemakdalam rongga panggul yang dapat menurunkan efektifitas perejanan.

a. Gejala Distokia

Dua gejala distokia adalah perpanjangan periode kelahiran (di atas 8 jam) dan fetus
terbukti tidak berada pada orientasi yang tepat untuk kelahiran normal (3,5 jam). Jika sapi tidak
dilahirkan pada waktu yang spesifik atau fetus malpresentasi, bantuan dokter hewan sangat
diperlukan. malpresentasi diindikasikan oleh perpanjangan labor atau sapi tidak keluar dalam
waktu yang telah dijelaskan di atas. Beberapa malpresentasi dapat diatasi sendiri dengan
menolak sapi ke belakang dan dia akan berorientasi sendiri. Jika terdapat keraguan untuk
memperbaiki malpresentasi, pemanggilan dokter hewan sangat diperlukan.

Mengidentifikasi batas pasti dimana kelahiran normal berhenti dan distokia terjadi
tidaklah mudah. Walaupun keseluruhan durasi kelahiran sangat bervariasi, harus ada tanda-tanda
kemajuan yang terus-menerus selama pengeluaran fetus. Kelahiran mungkin menjadi melambat
pada keturunan-keturunan tertentu, seperti pada Charolais, atau jika anak sapi relatif besar. Anak
sapi dapat bertahan hingga 8 jam selama tahap kedua kelahiran tetapi waktu pengeluaran
biasanya lebih pendek. Penyimpangan dari kondisi normal yang tampak atau diduga ada harus
diperiksa. Indikasi dari terjadinya distokia meliputi:

 Tahap pertama kelahiran yang lama dan tidak progresif


Sapi berdiri dengan postur abnormal selama tahap pertama kelahiran. Pada kasus
torsiuterus sapi dapat berdiri dengan punggung menurun dalam postur saw horse'.
 Pengejanan kuat selama 30 menit tanpa munculnya anak sapi
 Kegagalan anak sapi untuk dikeluarkan dalam waktu 2 jam setelah amnion
tampak pada vulva.

b. Pencegahan Distokia.

Beberapa tindakan atau cara yang dapat dilakukan sebagai usaha pencegahan distokia
yaitu berikan pakan yang cukup pada sapi dara yang akan melahirkan selama 24 bulan sehingga
sapi'sapi berada dalam kondisi tubuh yang baik untuk melahirkan tetapi tidak overconditioned,
area kelahiran harus bersih, kering dan mempunyai ventilasi baik, obsevasi kelahiran secara
seksama, berikan waktu yang cukup pada sapi untuk menyiapkan kelahiran sendiri, lakukan
prosedursanitasi yang ketat ketika pemeriksaan dilakukan, mengetahui limit waktu untuk
memanggil bantuan dokter hewan ketika kesulitan terjadi dan sebelum sapi menjadi lemah,
berikan perawatan neo'natal yang baik, dan seleksi induk untuk sapi dara dengan kelahiran yang
normal.

c. Faktor Penyebab Distokia

1) Umur, berat badan, ukuran pelvis induk : insiden distokia yang tinggi terjadi padasapi
dara, yang dikawinkan sewaktu muda, dan pada kelahiran pertama sapi,namun hal ini
dapat hilang seiring bertambah besarnya induk. Diameter pelvis danarea pelvis juga
meningkat seiring pertumbuhan dari berat badan induk. Jarak eksternal diantara tuber
coxae juga harus lebih besar dari 40 cm sebelum sapi dara dikawinkan.
2) Lama kebuntingan : hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada beberapa rascontinental
(Bos taurus) menunjukkan waktu kebuntingan lebih lama, sampaihampir 290 hari
dibandingkan waktu normal sapi yakni 283 hari. Pada sapi yang bunting lebih lama juga
dapat meningkatkan berat anak sapi rata-rata 0,5 kg per hari dan panjang tulang fetus
juga meningkat.
3) Sekitar 80% seluruh sapi yang melahirkan fetus mati mempunyai anatomi reproduksi
yangnormal. Kebanyakan dari sapi - sapi tersebut mati karena perlukaan yang dihasilkan
dari kesulitanatau hambatan melahirkan. Faktor - faktor yang berkontribusi terhadap
problem ini digolongkankedalam tiga kategori yaitu efek fetus, efek induk, dan posisi
saat kelahiran.

Penanganan yang dapat dilakukan diantaranya:


 Mutasi, mengembalikan presentasi, posisi dan postur fetus agar normal dengan cara di
dorong (ekspulsi), diputar (rotasi) dan ditarik (retraksi).
 Penarikan paksa, apabila uterus lemah dan janin tidak ikut menstimulir perejanan.
 Pemotongan janin (Fetotomi), apabila presentasi, posisi dan postur janin yang abnormal
tidak bisa diatasi dengan mutasi/ penarikan paksa dan keselamatan induk yang
diutamakan.
 Operasi Secar (Sectio Caesaria), merupakan alternatif terakhir apabila semua cara tidak
berhasil. Operasi ini dilakukan dengan pembedahan perut (laparotomy) dengan alat dan
kondisi yang steril.

Daftar pustaka
Ir. Amirudin Aidin Beng
Sumber :
• //www.scribd.com/doc/184910782/Distokia
• Kelviano Muqit. LAPORAN TUGAS TUTORIAL BLOK 15 UP 5RUMINANSIA
IDISTOKIA PADA SAPI.2011