Anda di halaman 1dari 4

tapi karena batuan-batuan diabas diketemukan pula dalam zaman-zaman yang lain di pulau

Sumatera maka nama ini diganti dengan nama formasi-Saling. Umur formasi ini diperkirakan Kapur
Bawah berdasarkan fosil-fosil yang tidak baik tersimpannya di dalam batukapur tersebut. Kemudian
ternyata bahwa formasi itu mengandung pula fosil Lacazina dan Lovcenipora vinassai sehingga
demikian sebagian dari formasi itu antaranya Alectrvonia, Norinea, dan Phanoroptyxis. Formasi
Saling ini ditutupi oleh Formasi Lahat yang berumur Oligo-Miosen. Di Sumatra Selatan diketemukan
pula suatu formasi yang kemungkinan menutupi formasi Saling yaitu formasi Lingsing. Formasi
terakhir ini tertutup pula oleh formasi Lehat yang berumur Oligo-Miosen tersebut. Formasi Lingsing
terdiri dari skali gampingan, radiolarit, basalt ofiolit, andesit, lava, dan batugamping mengandung
Orbitolina yang menunjukkan umur batas atas Cenoman, kemungkinan juga Kapur Bawah yaitu
Aptia. Kerumitan tektonik menyebabkan bahwa hubungan formasi-formasi Saling dan Lingsing
belum kita ketahui dengan pasti. Ada kemungkinan kedua formasi itu kira-kira seumur dan
perbedaannya hanya terletak dalam fasiesnya masing-masing.

Di Jambi, dijumpai endapan-endapan yang mengandung Neocomites menunjukkan umur


Kapur. Hubungan antara endapan-endapan ini dengan lapisan-lapisan Kapur di Sumatra Selatan
belum jelas.

Di Kalimantan Tengah diketemukan apa yang disebut formasi Kapur Seberuang atau juga
dinamakan kelompok Seberuang yang berumur Kapur. Kelompok Seberuang ini dibagi menjadi dua
formasi, yaitu bagian bawah disebut Formasi Bedungan sedang yang atas dinamakan formasi
Selangkai. Keduanya tertutup secara tidak selaras oleh batupasir-Plateau berumur Paloogen di
bawahnya terdapat pula ketidak selarasan. Formasi Bedungan, yang bersifat transgresi, dapat lagi
dibagi dua bagian, yaitu yang bawah terdiri dari skali, napal, batupasir, polimik, dan konglomerat
yang mempunyai fragmen-fragmen hasil kikisan formasi Boyan serta bantuan-batuan sekis kristalin,
serta fosil-fosil berumur Valangia seperti Phyllocoros, Hoplites neocomiensis, Pecten cowvori, dan
Schloonbachia. Bagian atas dari formasi Bedungan itu terdiri dari batulempung skali gampingan,
echinoida, pelocypodda, dan radiolaria yang kesemianya menunjukkan umur Valangia Atas-
Hauterivia Bawah. Formasi Selangkai yang menutupi secara selaras formasi Bedungan dapat dibagi
menjadi tiga bagian. Bagian paling bawah, yaitu formasi Selangkai Bawah berumur Heuterivia-Aptin,
terdiri dari napal mengandung banya sekali fosil-fosil antaranya Pecton cowperi, ammonit,
Orbitolina, Haploceras, Belemnit, echinoida, Trigonia, Vola, Lima, Anatina, Pachydiscus dan
Turriliiters. Di bagian teratas malahan di jumpai fosil-fosil tanaman yang mengunjukkan lingkungan
pengendapan rawa-rawa serta membuktikan pula bahwa cekungannya lebih menjadi dangkal pada
waktu akhir pengendapan bagian bawah formasi Selangkai ini. Formasi Bedungan bagian atas
beserta formasi Selangkai Bawah ini dikelompokkan menjadi satu formasi Batik.

Formasi Selangkai bagian tengah, atau formasi Selangkai Tengah, terdiri dari konglomerat
dasar yang fragmen-fragmennya terdiri dari batugamping, pegmatit, granit dan sekis. Ke atas
dijumpai napal pasi ran, arkoso, batupasir lempungan dengan fosil-fosil tanaman, Trigonia,
Orbitolina, Aviculo, dan ammonit.
Formasi Selangkai T..... berumur Ce-noman-Turon.

Formasi Selangkai bagian atas, atau formasi Selangkai Atas, terdiri dari konglomeratnya
dasar dibagian paling bawahnya dengan fragmen-fragmen batugemping, hornfols dan keratofir
kwarsa. Ke atas endapan-endapannya terdiri dari batupasir lempungan dengan Globotruncana.
Umur formasi Selangkai Atas ini adalah Senon.

Umur formasi Selangkai dapat disamakan dengan endapan-endapan Kapur di daerah


Trichonopoly(India Selatan), yaitu sebagai berikut: formasi Selangkai Bawah seumur dengan
Ootatoor, formasi Selangkai Tengah seumur dengan Trichonopoly, serta formasi Selangkai Bawah
seumur dengan Aricloor.

Di Kalimantan Barat, di bagian hulu sungai Kapuas, endapan-endapan Kapur diketemukan di


daerah Seberuang. Fosil-fosil serta keadaan fosilisesinya mirip dengan fosil-fosil yang diketemukan di
daerah Jambi. Di antaranya terdapat fosil Trocholina yang di daratan Eropa mempunyai umur
Bajochia-Tithon, akan tetapi di Asia Tenggara, khususnya di bagian barat Kalimantan ini sampai
mencapai umur Kapur Bawah. Ke arah utara, endapan-endapan Kapur ini secara tidak selaras
tertutup pula oleh batupasir-Plateau berumur Paleogen.

Di pegunungan Neratus diketemukan formasi Namunggul dengan N..... dan Orbitolina yang
masing-masing mempunyai umur Kapur Atas dan Kapur Tengah, sehingga umur formasi ini adalah
Kapur Tengah-Atas. Formasi ini lebih muda dari intrusi peridotit yang juga diketemukan di
pegunungan ini, yang seperti telah kita ketahui berupa batuan intrusi dalam formasi Paniungan
berumur Jura Atas.

Di daerah Sulawesi endapan-endapan Kapur mempunyai fasies bermacam-macam dan


mempunyai umur Kapur Tengah-Atas serta terdiri dari batugemping, batugemping napalan, skali
dengan fnuria Globotruncana, serta batupasir. Endapan-endapan Jura di pulau ini umumnya
mempunyai fasies seperti endapan-endapan Kapur itu, sehingga kita perkirakan bahwa di zaman-
zaman mula Jura sampai Kapur di Sulawesi terjadi sedimentasi terus menerus tanpa ada gangguan
apa-apa, yang menyebabkan secara statigrafi sangat sulit untuk memisahkan batuab-batuan dari
kedua zaman itu. Kesulitan ini ditambah pula dengan struktur yang sangat rumit dari pulau Sulawesi.

Di jazirah Tangan Selatan diketemukan seri skali lempungan-grauwaeke-arkose yang


mungkin berumur Kapur serta terletak diatas batuan-batuan uckis kristalin dan serpentin. Seri ini
tertutup oleh lapisan-lapisan Eosen. Umur dari seri Kapur ini didasarkan atas persamaan dengan seri
Palelo Atas di pulau Timor yang sebagian berumur Kapur dan juga terletak di atas batuan-batuan
sekis kristalin dan batuan ultrabasa serta mengandung radiolaria.

Pengetahuan kita tentang Kapur, umumnya Kesosoikum, dibagian Tanah Sulawesi sangat
kurang disebabkan struktur yang sangat rumit,sehingga penyebaran serta statigrafi lapisan-lapisan
itu sangat terganggu. Batuan-batuannya umumnya terdiri dari diabas,tufa,
frauwacke,napal,batugemping, dan fosil-fosil yang diketemukan ialah Orbitolina berumur Kapur.
Astrarera berumur Kapur Atas, amomonit-emmonit yang udah ..... Jura, radiolaria dari zaman Kapur,
serta malahan fornad nifera dari zaman Eosen.