Anda di halaman 1dari 37

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pajak

2.1.1 Definisi Pajak

dapat ditinjukkan, dan yang digunakan
dapat
ditinjukkan,
dan
yang
digunakan

Didalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2001/KUP

Pasal1 Ayat 1 yang dimaksud dengan pajak adalah:

“Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat”

Definisi pajak yang dikemukakan oleh Prof.Dr.Rochmat Soemitro, S.H

dalam buku Mardiasmo (2011:1) adalah sebagai berikut:

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang

(yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi)

yang

membayar

langsung

untuk

pengeluaran umum.

Beberapa pengertian pajak lainnya yang dikemukakan para ahli yang dikutip

oleh Waluyo (2013:2) adalah sebagai berikut :

“Edwin. R. A. Seligman:

Pajak adalah adanya kontribusi seseorang yang ditujukan kepada negara

tanpa adanya manfaat yang ditujukan secara khusus pada seseorang.

Soeparman Soemahamidjaja :

10

11

Pajak adalah iuran wajib berupa uang atau barang yang dipungut oleh

penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi

barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum”.

Mardiasmo (2011:1) merumuskan dari definisi diatas, dapat disimpulkan

bahwa pajak memiliki unsur:

1. Iuran dari rakyat kepada negara, yang berhak memungut pajak hanyalah

negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).

hanyalah negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang). 2. Berdasarkan undang-undang. Pajak dipungut berdasarkan

2. Berdasarkan undang-undang. Pajak dipungut berdasarkan atau dengan

kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.

3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung

dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya

kontraprestasi individual oleh pemerintah.

4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran-

pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun

1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah

diubah terakhir dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun

2007 menjelaskan bahwa:

“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang

pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang,

dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk

keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”

12

2.1.2 Fungsi Pajak

Fungsi pajak menurut Mardiasmo (2011:1)

1. Fungsi Penerimaan (budgetair)

Dalam

fungsi

budgetair

ini

pemungutan

pajak

bertujuan

untuk

memasukkan uang sebanyak-banyaknya ke dalam kas negara yang pada

waktunya akan digunakan oleh pemerintah untuk membiayai pengeluaran

negara baik untuk pengeluaran rutin dalam melaksanakan

pengusaha untuk memperbesar pemerataan pendapatan akan dapat
pengusaha
untuk
memperbesar
pemerataan
pendapatan
akan
dapat

mekanisme

pemerintahan maupun pengeluaran untuk membiayai pembangunan.

2. Fungsi Mengatur (regulerend)

Pada lapangan perekonomian, pengaturan pajak memberikan dorongan

dapat

juga

kepada

produksinya,

memberikan keringanan atau pembesaran pajak pada para penabung

dengan maksud menarik uang dari masyarakat dan menyalurkan antara

lain ke sektor produktif. Dengan adanya industri baru maka dapat

menampung tenaga kerja yang lebih banyak, sehingga pengangguran

berkurang dan

terlaksana untuk

mencapai keadilan sosial ekonomi dalam masyarakat.

2.1.3 Jenis Pajak

Menurut Waluyo (2013:12) jenis pajak dapat dikelompokkan ke dalam tiga

kelompok adalah sebagai berikut :

1. Menurut Golongan atau Pembebanan, diantaranya :

13

a. Pajak

Langsung,

adalah

pajak

yang

pembebanannya

tidak

dapat

dilimpahkan pihak lain, tetapi harus menjadi beban langsung wajib

pajak yang bersangkutan. Contoh : Pajak Penghasilan.

b. Pajak Tidak

Langsung,

adalah

pajak

yang pembebanannya dapat

dilimpahkan kepada pihak lain. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai

2. Menurut Sifat

Pembagian

pajak

menurut

sifat

dimaksudkan

pembedaan

dan

subjeknya yang selanjutnya dicari syarat
subjeknya
yang
selanjutnya
dicari
syarat

pembagiannya berdasarkan cirri-ciri prinsip adalah sebagai berikut :

a.

Pajak Subjektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada

dalam

arti

objektifnya,

memperhatikan keadaan dari wajib pajak. Contoh : Pajak Penghasilan.

b.

Pajak Objektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada

objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh :

Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah

3. Menurut Pemungutan dan Pengelolanya, diantaranya :

a.

Pajak Pusat, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan

digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh : Pajak

Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi

b.

dan Bangunan, dan Bea Materai.

Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan

digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Contoh : Pajak

reklame, Pajak hiburan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

(BPHTB), Pajak Bumi dan Bangunan sektor perkotaan dan pedesaan.

14

2.1.4 Kedudukan Hukum Pajak

Menurut Rochmat Soemitro dalam buku Aristanti (2011:9) hukum pajak

mempunyai kedudukan di antara hukum-hukum sebagai berikut :

a. Hukum Perdata

Mengatur hubungan anatara saat individu dengan individu lainnya.

b. Hukum Publik

Mengatur antara pemerintah dengan rakyatnya. Hukum ini dapat dirinci

Hukum Tata Negara Hukum Tata Usaha (Hukum Administrasi) Hukum pajak Hukum Pidana
Hukum Tata Negara
Hukum Tata Usaha (Hukum Administrasi)
Hukum pajak
Hukum Pidana

lagi sebagai berikut :

-

-

-

-

2.1.5 Teori Pemungutan Pajak

Beberapa teori pajak

pemungutan

berikut :

1.

2.

yang dikemukakan oleh para ahli sebagai dasar

yang kemudian dipaparkan oleh Siti Resmi (2013:5) adalah sebagai

Teori Asuransi

Teori ini menyatakan bahwa negara bertugas untuk melindungi orang dan

segala kepentinganya, meliputi keselamatan dan keamanan jiwa, dan juga

harta bendanya.

Teori Kepentingan

Teori ini awalnya hanya memperhatikan pembagian beban pajak yang

harus dipungut dari seluruh penduduk. Pembagian beban ini harus

15

didasarkan atas kepentingan masing-masing orang dalam tugas-tugas

pemerintah, termasuk perlindungan atas jiwa orang-orang itu beserta

harta bendanya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika biaya-biaya yang

dikeluarkan oleh negara dibebankan kepada mereka.

3. Teori Gaya Pikul

Teori ini menyatakan bahwa dasar keadilan pemungutan pajak terletak

pada jasa-jasa

yang diberikan

oleh

negara kepada warganya,

yaitu

menikmati perlindungan itu, yaitu dalam bentuk menekankan pada asas keadilan, bahwasanya pajak seseorang
menikmati
perlindungan
itu,
yaitu
dalam
bentuk
menekankan
pada
asas
keadilan,
bahwasanya
pajak
seseorang
kepentingan
negara
di
atas
kepentingan
warganya,

perlindungan atas jiwa dan harta bendanya. Untuk kepentingan tersebut

diperlukan biaya-biaya yang harus dipikul oleh segenap orang yang

Teori

ini

sama

pajak.

haruslah

beratnya untuk setiap orang. Pajak harus dibayar menurut gaya pikul

4. Teori Kewajiban Pajak Mutlak (Teori bakti)

Berlawanan dengan ketiga teori sebelumnya, yang tidak mengutamakan

teori

ini

maka

mendasarkan pada paham Organische Staatsler. Paham ini mengajarkan

bahwa karena sifat suatu negara maka timbullah hak mutlak untuk

memungut pajak. Orang-orang tidaklah berdiri sendiri, dengan tidak

adanya persekutuan tidak ada nada individu.

5. Teori Asas Gaya Beli

Teori ini tidak mempersoalkan asal mula negara

memungut pajak,

melainkan hanya melihat pada efeknya, dan memandang efek yang baik

16

itu sebagai dasar keadilanya. Menurut teori ini, fungsi pemungutan pajak

disamakan dengan pompa, yaitu mengambil gaya beli dari rumah tangga

dalam

masyarakat

untuk

rumah

tangga

negara,

dan

kemudian

menyalurkan kembali ke masyarakat dengan maksud untuk memelihara

hidup masyarakat dan untuk membawanya ke arah tertentu. Teori ini

mengajarkan

bahwa

penyelenggaraan

kepentingan

masyarakat

inilah

yang dapat dianggap sebagai dasar keadilan pemungutan pajak.

Pajak yang berdomisili atau bertempat
Pajak
yang
berdomisili
atau
bertempat

2.1.6 Asas Pemungutan Pajak

Asas pemungutan pajak yang dipaparkan oleh Siti Resmi (2013:10) di

dalam bukunya adalah sebagai berikut :

1. Asas Domisili (Asas Tempat tinggal)

Asas ini menyatakan bahwa negara berhak mengenakan pajak

atas

seluruh penghasilan Wajib Pajak yang bertempat tinggal di wilayahnya,

baik penghasilan yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Setiap

di

wilayah

Wajib

tinggal

Indonesia (Wajib Pajak Dalam Negeri) dikenakan pajak atas seluruh

penghasilan yang diperolehnya baik dari Indonesia maupun dari luar

Indonesia.

2. Asas Sumber

Asas ini menyatakan bahwa negara berhak mengenakan pajak atas

penghasilan yang bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat

tinggal Wajib Pajak. Setiap orang yang memperoleh penghasilan dari

17

Indonesia dikenakan pajak atas penghasilan dari Indonesia dikenakan

pajak atas penghasilan yang diperolehnya tadi.

3. Asas Kebangsaan

Asas

ini

menyatakan

bahwa

pengenaan

pajak

dihubungkan

dengan

kebangsaan suatu negara. Misalnya pajak bangsa asing di Indonesia

dikenakan atas setiap orang asing yang bukan berkebangsaan Indonesia

tetapi bertempat tinggal di Indonesia.

Tata Cara Pemungutan Pajak

pajak didasarkab pada objek (penghasilan
pajak
didasarkab
pada
objek
(penghasilan

stelsel

ini

adalah

pajak

yang

dikenakan

Di dalam Mardiasmo (2011:6) terdapat pemungutan pajak yang dapat

yang

nyata),

2.1.7

dilakukan berdasarkan 3 stelsel, yaitu:

1. Stelsel Nyata (riil stelsel)

Pengenaan

sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak,

yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya diketahui. Stelsel nyata

mempunyai kelebihan atau kebaikan dan kekurangan atau kelemahan.

lebih

realistis.

Kelebihan

Sedangkan kelemahan stelsel ini adalah pajak baru dapat dikenakan pada

akhir periode (setelah penghasilan riil diketahui).

2. Stelses Anggapan (fictieve stelsel)

Pengenaan

pajak

didasarkan

pada

suatu

anggapan

yang

diatur

oleh

undang-undang. Misalnya, penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan

tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak sudah dapat ditetapkan

besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak berjalan. Kelebihan stelsel

18

ini

adalah

pajak

dapat

dibayar

selama

tahun

berjalan,

tanpa

harus

menunggu pada akhir tahun. Sedangkan kelemahannya adalah pajak yang

dibayar tidak berdasarkan pada keadaan yang sesungguhnya.

3. Stelsel Campuran

Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan.

Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan,

kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan

Sistem pemungutan pajak yang memberi
Sistem
pemungutan
pajak
yang
memberi

yang

sebenarnya. Bila besarnya pajak menurut kenyataan lebih besar

daripada pajak menurut anggapan, maka wajib pajak harus menambah.

Sebaliknya, jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta kembali.

2.1.8 Sistem Pemungutan Pajak

Sistem Pemungutan Pajak yang dipaparkan oleh Siti Resmi (2013:11) di

dalam bukunya adalah :

1. Official Assessment System

kewenangan

aparatur

perpajakan untuk menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap

tahunya sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang

berlaku.

Dalam

sistem

ini,

inisiatif

serta

kegiatan

menghitung

dan

memungut pajak sepenuhnya berada di tangan para aparatur perpajakan.

Dengan demikian, berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak

banyak tergantung pada aparatur perpajakan (peranan dominan ada pada

aparatur perpajakan).

19

2. Self Assessment System

Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang Wajib Pajak dalam

menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunya sesuai

dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Dalam

sistem ini, inisiatif serta kegiatan menghitung dan memungut pajak

sepenuhnya berada di tangan Wajib Pajak. Wajib Pajak dianggap mampu

menghitung pajak, mampu memahami undang-undang perpajakan yang

diberi kepercayaan untuk: 1) Menghitung sendiri pajak yang terutang; 2) Memperhitungkan sendiri pajak yang terutang;
diberi kepercayaan untuk:
1)
Menghitung sendiri pajak yang terutang;
2)
Memperhitungkan sendiri pajak yang terutang;
3)
Membayar sendiri jumlah pajak yang terutang;
4)
Melaporkan sendiri jumlah pajak yang terutang;dan
5)
Mempertanggungjawabkan pajak yang terutang.

sedang berlaku, dan mempunyai kejujuran yang tinggi, serta menyadari

akan arti pentingnya membayar pajak. Oleh karena itu, Wajib Pajak

Dengan demikian, berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan

pajak banyak tergantung pada Wajib Pajak sendiri (peranan dominan ada

pada Wajib Pajak)

3. With Holding System

Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga

yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh

Wajib Pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan,

keputusan

presiden,

dan

peraturan

lainya

untuk

memotong

dan

20

memungut pajak, menyetor, dan mempertanggungjwabkan melalui saran

perpajakan yang tersedia.

2.2 Reformasi Perpajakan

2.2.1 Pengertian Reformasi Perpajakan

Menurut Chaizi Nasucha (2004:15) mengemukakan bahwa:

“Reformasi perpajakan merupakan resep untuk penyehatan ekonomi melalu pendekatan fiskal. Mengutip Williamson dalam Mas’oed (1994), reformasi perpajakan meliputi perluasan basis perpajakan, perbaikan administrasi perpajakan, mengurangi terjadinya penghindaran dan manipulasi pajak, serta mengatur pengenaan aset yang berada di luar negeri. Perubahan struktur pajak (tax base dan tax rate) terkait dengan perubahan dalam administrasi perpajakannya.”

Malcolm Gilis yang dikemukakan kembali
Malcolm
Gilis
yang
dikemukakan
kembali

oleh

Menurut

Siti

Kurnia

Rahayu(2010:97) atribut yang menjadi dasar suatu reformasi perpajakan:

1. Breadth of reform. Reformasi perpajakan memfokuskan pada struktur

pajak atau sistem pajak, dan administrasi pajak

2. Scope of reform. Reformasi perpajakan dilakukan secara comprehensive

(semua sumber penerimaan yang penting), atau dilakukan secara parsial

(hanya meliputi satu atau dua komponen penting dari sistem perpajakan)

3. Revenue Goals. Reformasi perpajakan untuk meningkatkan penerimaan

dalam presentase terhadap PDB yaitu rasio pajak (revenue enhancing);

untuk mengganti penerimaan (revenue neutral reform; atau bahkan untuk

mengurangi penerimaan (revenue-decreasing reform)

21

4. Equity

goals.

Reformasi

perpajakan

untuk

menegakkan

keadilan

(redistributive). Orang berpenghasilan tidak sama, pajaknya diperlakukan

tidak sama juga, namun jika reformasi perpajakan tidak dimaksudkan

untuk merubah distribusi pendapatan yang sudah ada maka disebut

distributionally neutral reform.

5. Resource

allocations

goal.

Reformasi

perpajakan

yang

berusaha

mengurangi pengenaan pajak pada sumber daya agar dapat dialokasikan

efisien (euconomically neutral), jika sistem of reform. Dilakukan dengan mengubah
efisien
(euconomically neutral),
jika
sistem
of
reform.
Dilakukan
dengan
mengubah

maka disebut interventionist reforms.

Timing

lebih

perpajakan

untuk

mempengaruhi aliran sumber daya sektor ekonomi atau aktivitas tertentu

seluruh

kebijakan

perpajakan secara bersamaan disebut contemporaneous reform, dengan

implementasi bertahap disebut phased reform, atau perubahan kebijakan

perpajakan yang tidak berkaitan dilakukan dalam beberapa tahun lebih

disebut successive reforms.

6.

Menurut Siti Kurnia Rahayu(2010:98), alasan negara melakukan reformasi

dalam perpajakan adalah:

1. Untuk menstabilkan perekonomian yang tidak menentu karena pengaruh

perekonomian internasional maupun nasional.

2. Upaya mengalihkan sektor penerimaan APBN dari migas yang semula

sebagai sektor primadona menjadi pajak sebagai sumber yang lebih dapat

menjanjikan

karena

secara

rasional

pajak

berkelanjutan tidak seperti migas.

adalah

penerimaan

yang

22

3. Usaha

mengikuti

ketentuan

dunia

terutama

dalam

hal

pendanaan

(pinjaman luar negeri) yang mensyaratkan struktur pajak yang ada harus

disesuaikan dengan kondisi seharusnya.

4. Meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak

Tujuan Reformasi Perpajakan:

1. Meningkatkan

kualitas

pelayanan

kepada

Wajib

Pajak

sebagai

sumber aliran dana untuk mengisi kas negara.

2. Menekan terjadinya penyelundupan pajak oleh Wajib Pajak. 3. Meningkatkan kepatuhan bagi Wajib Pajak dalam
2.
Menekan terjadinya penyelundupan pajak oleh Wajib Pajak.
3.
Meningkatkan kepatuhan bagi Wajib Pajak dalam penyelenggaraan
kewajiban perpajakanya.
4.
Menerapkan
konsep
Good
Governance,
adanya
transparansi,
responsibility,
keadilan
dan
akuntabilitas
dalam
meningkatkan
kinerja instansi pajak, sekaligus publikasi jelasnya pos penggunaan
pengeluaran dana pajak.
5.
Meningkatkan penegakan hukum pajak, pengawasan yang tinggi
dalam pelaksanaan administrasi pajak baik kepada fiskus maupun

kepada Wajib Pajak.

2.2.2 Reformasi Perpajakan di Indonesia

Reformasi perpajakan yang dilakukan di Indonesia dimulai sejak tahun 1983

dimana saat itu terjadi reformasi atau perubahan sistem mendasar atas pengelolaan

perpajakan Indonesia dari sistem Official Assessment ke sistem Self Assessment.

Perubahan sistem ini bertujuan untuk mengurangi kontak langsung antara Aparat

Pajak dengan wajib pajak yang sebelumnya dikhawatirkan dapat menimbulkan

23

praktik-praktik ilegal untuk menghindari atau mengurangi kewajiban perpajakan

para wajib pajak yang bersangkutan. Diana Sari (2013:6)

Reformasi perpajakan adalah perubahan yang mendasar di segala aspek

perpajakan, melalui reformasi:

a. Moral, etika, dan integritas Aparat Pajak

b. Kebijakan perpajakan

c. Pelayanan kepada masyarakat wajib pajak

Undang Perpajakan;
Undang Perpajakan;

d. Pengawasan terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan

e. Pemberian reward dan penerapan punishment yang tegas terhadap Aparat

Pajak

Reformasi perpajakan secara komperhensif sebagai satu kesatuan dilakukan

terhadap tiga bidang pokok atau utama yang secara langsung menyentuh pilar

perpajakan, yaitu:

a.

b.

Bidang Administrasi, yakni melalui reformasi administrasi perpajakan;

Bidang Peraturan, dengan melakukan amandemen terhadap Undang-

c.

Bidang Pengawasan, membangun bank data perpajakan nasional.

2.2.3 Pengertian Reformasi Administrasi Perpajakan

Menurut Chaizi Nasucha yang dikemukakan kembali oleh Siti Kurnia

Rahayu(2010:97), reformasi administrasi perpajakan adalah :

Reformasi administrasi perpajakan adalah penyempurnaan atau perbaikan kinerja administrasi, baik secara individu, kelompok, maupun kelembagaan agar lebih efisien, ekonomis dan cepat”

24

2.3 Modernisasi Sistem Administrasi Perpajakan

2.3.1 Definisi Modernisasi

Modernisasi dalam ilmu sosial merujuk pada sebuah bentuk transformasi

dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik

dengan harapan akan tercapai kehidupan masyarakat yang lebih maju,

berkembang, dan makmur.

1.

2.

2.3.2

lebih maju, berkembang, dan makmur . 1. 2. 2.3.2 Adapun definisi modernisasi menurut para ahli, diantaranya

Adapun definisi modernisasi menurut para ahli, diantaranya

(Dudung, 2015) :

Menurut Wilbert E Moore modernisasi adalah transformasi total co-

eksistensi tradisional atau pra-modern dalam hal teknologi dan organisasi

sosial terhadap pola ekonomi dan politik yang menjadi ciri negara-negara

barat yang stabil.

Menurut JW School modernisasi adalah transformasi, perubahan dalam

masyarakat dalam segala aspeknya. Teori modernisasi menggambarkan

proses transformasi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern

atau mundur.

Definisi Sistem

Kata sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu “systema” yang berarti

kesatuan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem adalah

perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu

totalitas; sususan

metode.

yang teratur dari pandangan, teori, asas, dan sebagainya;

25

Adapun definisi sistem menurut para ahli, diantaranya (Hedi, 2014):

1. Menurut Ludwig Von Bartalanfy Sistem adalah seperangkat unsur yang

saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan

lingkungan.

2. Menurut Salisbury Sistem adalah sekelompok bagian atau komponen-

komponen yang bekerja sama sebagai suatu kesatuan fungsi.

3. Menurut John Mc Manama Sistem adalah sebuah struktur konseptual yang

John Mc Manama Sistem adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang

tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai

suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara

efektif dan efisien.

2.3.3 Definisi Administrasi

Definisi administrasi menurut A. Dunsire dalam Siti Kurnia (2010:92):

“Administrasi diartikan sebagai arahan, pemerintahan, kegiatan, implementasi, mengarahkan, penciptaan prinsip-prinsip implementasi kebijakan, kegiatan melakukan analisis, menyeimbangkan dan mempresentasikan keputusan, pertimbangan-pertimbangan kebijakan, sebagai pekerjaan individual dan kelompok dalam menghasilkan barang dan jasa publik, dan sebagai arena bidang kerja akademik dan teoritis.

2.3.4 Administrasi Perpajakan

Menurut

Sophar

Lumbantoruan

(1997),

administrasi

perpajakan

(tax

administration) ialah cara-cara atau prosedur pengenaan dan pemungutan pajak.

Siti Kurnia Rahayu (2010:93).

Administrasi pajak dalam arti sebagai prosedur meliputi antara lain tahap-

tahap pendaftaran wajib pajak, penetapan pajak, pembayaran pajak, pelaporan

pajak, dan penagihan pajak. tahap-tahap yang tidak solid dapat merupakan sumber

26

kecurangan (tax evasion). Laporan Bank Dunia menyatakan bahwa: “Poor tax

administration undermines the effectiveness of the desired tax structure and raises

distortion. A poor designed tax structure makes administration mor difficult

Lawrence H. Summers dalam Siti Kurnia Rahayu(2010:93)

De Jantscher (1997) menekankan peran penting administrasi perpajakan

dengan

menuju

pada

kondisi

terkini,

dan

pengalaman

di

berbagai

negara

berkembang. Kebijakan perpajakan (tax policy) yang dianggap baik (adil dan

Suatu negara dapat dengan sukses mencapai dalam menghasilkan penerimaan pajak yang optimal perpajakannya
Suatu
negara
dapat
dengan
sukses
mencapai
dalam
menghasilkan
penerimaan
pajak
yang
optimal
perpajakannya
mampu
dengan
efektif
melaksanakan

sasaran

efisien) dapat saja kurang sukses menghasilkan penerimaan atau mencapai sasaran

lainnya karena administrasi perpajakan tidak mampu melaksanakannya. (Gunadi,

2003)

Administrasi perpajakan berperan penting dalam sistem perpajakan di

yang

karena

sistem

suatu

negara.

diharapkan

administrasi

perpajakan di suatu negara yang dipilih. Pada dasarnya sasaran administrasi

perpajakan adalah upaya peningkatan kepatuhan taxpayers dalam pemenuhan

kewajiban perpajakan dan pelaksanaan ketentuan perpajakan secara seragam satu

persepsi antara wajib pajak dan fiskus sama dalam menilai suatu ketentuan untuk

mendapatkan penerimaan maksimal dengan biaya yang optimal.

Toshiyuki dalam Siti Kurnia Rahayu(2010:95) menyatakan bahwa untuk

mencapai hal tersebut

disyaratkan beberapa kondisi administrasi perpajakan

dalam suatu negara adalah seperti berikut ini:

27

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

2.3.5

Harus berdasarkan peraturan perundang-undangan dan transparan.

Dapat merealisasikan perpajakan yang sah dan adil sesuai ketentuan dan

menghilangkan

kewenang-wenangan,

dipengaruhi kepentingan pribadi.

arogansi,

dan

perilaku

yang

Dapat mencegah dan memberikan sanksi serta hukuman yang adil atas

ketidakjujuran dan pelanggaran serta penyimpangan.

Mampu menyelenggarakan sistem perpajakan yang efisien dan efektif.

Suparman (2007) tentang pengertian individu, kelompok maupun kelembagaan agar
Suparman
(2007)
tentang
pengertian
individu,
kelompok
maupun
kelembagaan
agar

Meningkatkan kepatuhan membayar pajak.

Memberikan dukungan terhadap pertumbuhan dan pembangunan usaha

yang sehat masyarakat pembayar pajak.

Dapat memberikan kontribusi atas pertumbuhan demokrasi masyarakat.

Pengertian Modernisasi Sistem Administrasi Perpajakan

Menurut

sistem

administrasi

secara

perpajakan modern adalah penyempurnaan atau perbaikan kinerja administrasi

baik

lebih

efisien,

ekonomis, dan cepat.

Sistem modernisasi administrasi perpajakan menurut Liberti Pandiangan

(2007:7) menyatakan bahwa:

“Sistem modernisasi administrasi perpajakan adalah restruksi organisasi, penyempurnaan proses bisnis melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi, dan penyempurnaan manajemen SDM. Konsep ini disesuiakan dengan iklim, kondisi, dan sumber daya yang ada di Indonesia”

Menurut

Siti

Kurnia

(2010:109)

modernisasi

sistem

perpajakan

di

lingkungan DJP bertujuan untuk menerapkan Good Governance dan pelayanan

28

prima

kepada

masyarakat.

Good

governance,

merupakan

penerapan

sistem

administrasi perpajakan yang transparan dan akuntabel, dengan memanfaatkan

sistem informasi teknologi yang handal dan terkini. Strategi yang ditempuh adalah

pemberian pelayanan prima sekaligus pengawasa intensif kepada para wajib

pajak.

Selain

itu,

untuk

mencapai

tingkat

kepatuhan

pajak

yang

tinggi,

meningkatkan

kepercayaan

administrasi

perpajakan

dan

mencapai

tingkat

produktivitas pegawai pajak yang tinggi.

2.3.6

Siti Kurnia Rahayu (2010:117) terdapat Meningkatkan kepatuhan sukarela - Program kampanye sadar dan peduli pajak
Siti
Kurnia
Rahayu
(2010:117)
terdapat
Meningkatkan kepatuhan sukarela
- Program kampanye sadar dan peduli pajak
- Program pengembangan pelayanan perpajakan

Meningkatkan Kepatuhan Perpajakan

1.

2.

Penerapan Modernisasi Sistem Administrasi Perpajakan

Menurut

program-program

reformasi administrasi perpajakan jangka menengah Direktorat Jenderal Pajak

adalah sebagai berikut:

A.

Memelihara (maintaining) Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Patuh

- Program pengembangan pelayanan prima

- Program penyederhanaan pemenuhan kewajiban perpajakan

3.

Menangkal Ketidakpatuhan Perpajakan (Combatting Noncompliance)

- Program merevisi pengenaan sanksi

- Program menyikapi berbagai kelompok wajib pajak tidak patuh

- Program meningkatkan efektivitas pemeriksaan

29

- modernisasi

Program

aturan

dan

metode

pemeriksaan

dan

penagihan

- Program penyempurnaan ekstensifikasi

- Program pemanfaatan teknologi terkini dan pengembangan IT

masterplan

- Program pengembangan dan pemanfaatan bank data

B.

Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat terhadap Administrasi Perpajakan

1.

2.

Meningkatkan citra DJP - Program merevisi UU KUP - Program penerapan Good Corporate Covernance -
Meningkatkan citra DJP
-
Program merevisi UU KUP
-
Program penerapan Good Corporate Covernance
-
-
Program penyempurnaan prosedur pemeriksaan
Melanjutkan
Pengembangan
Adiministrasi
Large
-
LTO

Program perbaikan mekanisme keberatan dan banding

Taxpayer

Office

(LTO) atau Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar

Program peningkatan pelayanan, pemeriksaan dan penagihan pada

- Program peningkatan jumlah Wajib Pajak terdaftar pada LTO

selain BUMN/BUMD

- Program penerapan sistem administrasi LTO pada Kanwil DJP

Jakarta Khusus

- Program penerapan sistem administrasi LTO pada Kanwil lainnya

30

C. Meningkatkan Produktivitas Aparat Perpajakan

1. pajak. 2. Kantor Pusat/Kanwil DJP 3. 4. Program peningkatan mutu sarana dan prasarana kerja
1.
pajak.
2.
Kantor Pusat/Kanwil DJP
3.
4.
Program peningkatan mutu sarana dan prasarana kerja
5.
Program penyusunan rencana kerja operasional
Program
dan
kegiatan
dalam
kerangka
reformasi
perpajakan
dilakukan
secara
komperhensif
meliputi
aspek
perbaikan
struktur
organisasi
dan
kelembagaan,
serta
perpajakan,
pemeriksaan
dan
penagihan,
pembayaran,
pengawasan agar lebih efektif dan efisien.

dan

Program reorganisasi DJP berdasarkan fungsi dan kelompok wajib

Program peningkatan kemampuan pengawasan dan pembinaan oleh

Program penyusunan kebijakan baru untuk manajemen SDM

modernisasi

lunak,

perangkat

perangkat keras, dan sumber daya manusia. Reformasi perangkat lunak adalah

dan

penyempurnaan

penyederhanaan sistem operasi mulai dari pengenalan dan penyebaran informasi

hingga

pelayanan,

Keseluruhan operasi berbasis teknologi informasi dan ditunjang kerjasama

operasi dengan instansi

lain. Revisi

Undang-Undang perpajakan dan peraturan

terkait

lainnya,

juga

penerapan

praktik

tata

pemerintahan

yang

bersih

dan

berwibawa (good governance) dilaksanakan dalam konteks penegakan hukum dan

keadilan

yang

memayungi

semua

lini

dan

tahapan

operasional.

Reformasi

perangkat keras diupayakan pengadaan sarana dan prasarana yang memenuhi

persyaratan mutu dan menunjang upaya modernisasi administrasi perpajakan di

seluruh Indonesia.

31

Penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional

merupakan program reformasi aspek sumber daya manusia, antara lain melalui

pelaksanaan fit and proper test secara ketat, penempatan pegawai sesuai kapasitas

dan

kapabilitasnya,

reorganisasi,

pengembangan self capacity.

kaderisasi,

pelatihan

dan

program

2.3.7 Dimensi Modernisasi Sistem Administrasi Perpajakan

Menurut

Siti Kurnia Rahayu (2009:110) Modernisasi 1. Kantor Pusat
Siti
Kurnia
Rahayu
(2009:110)
Modernisasi
1. Kantor Pusat

Implementasi konsep administrasi perpajakan

Administrasi

Perpajakan yang dilakukan pada dasarnya meliputi:

1) Restrukturisasi Organisasi

modern yang berorientasi

pada pelayanan dan pengawasan adalah struktur organisasi DJP perlu

diubah, baik di level kantor pusat sebagai pembuat kebijakan maupun di

level kantor operasional sebagai pelaksana implementasi kebijakan.

Struktur Kantor Pusat DJP (KP DJP) ikut disesuaikan berdasarkan

fungsi agar sesuai dengan unit vertical di bawahnya. Ke depanya

KP

DJP

dirancang

sebagai

Pusat

Analisis

dan

Perumusan

Kebijakan (Center of Policy Making and Analysis) atau hanya

menjalankan tugas dan pekerjaan yang sufatnya non operasional.

Untuk itu struktur KP DJP dibagi menjadi:

a. Direktorat yang menangani day-to-day operation (1 sekretariat,

9 direktorat)

32

b. yang menangani

Direktorat

pengembangan/

transformasi

(3

direktorat)

c. memperkuat

Untuk

beberapa

fungsiyang

dianggap

penting,

maka

dibentuk

beberapa

direktorat

baru

umtuk

menangani

intelijen dan penyidik perpajakan, ekstensifikasi perpajakan,

dan hubungan masyarakat (public relations), serta

d.

Beberapa

subdirektorat

baru

menangani

penelitian

2. Kantor Operasional a. yang ada, yaitu Kantor Pelayanan Pajak Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
2.
Kantor Operasional
a.
yang
ada,
yaitu
Kantor
Pelayanan
Pajak
Kantor Pelayanan Pajak (KPP)

yang

perpajakan, kepatuhan internal, dan transfer pricing.

Dalam memudahkan Wajib Pajak, ke tiga jenis kantor pajak

(KPP),

Kantor

Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KPPBB), serta Kantor

Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak (Karipka), dilebur menjadi

Dengan demikian Wajib Pajak cukup datang ke satu kantor saja

untuk menyelesaikan seluruh masalah perpajakanya.

b. Struktur berbasis fungsi diterapkan pada KPP dengan sistem

administrasi modern untuk dapat merelisasikan debirokratisasi

pelayanan sekaligus melaksanakan pengawasan terhadap Wajib

Pajak secara lebih sistematis berdasarkan analisis resiko,

c. Unit vertical DJP dibedakan berdasarkan segementasi Wajib

Pajak, yaitu

- KPP Wajib Pajak Besar

33

- KPP Madya

- KPP Pratama

Dengan

pembagian

seperti

ini,

diharapkan

strategi

dan

pendekatan terhadap wajib pajak pun dapat disesuaikan dengan

karakteristik wajib pajak yang ditangani, sehingga hasil yang

diperoleh dapat lebih optimal.

d.

Khusus di kantor opersional, terdapat posisi baru yang disebut

Account Representative, yang mempunyai tugas antara lain

memberikan bantuan konsultasi perpajakan kepada wajib pajak,

baru,

dan

memberitahukan peraturan perpajakan mengawasi kepatuhan wajib pajak e. Proses Bisnis Melalui
memberitahukan
peraturan
perpajakan
mengawasi kepatuhan wajib pajak
e.
Proses
Bisnis
Melalui

yang

Untuk lebih memberikan rasa keadilan bagi wajib pajak, seluruh

penanganan keberatan dilakukan oleh Kantor Wilayah yang

merupakan unit vertical di atas KPP yang menerbitkan surat

ketetapan pajak sebagai hasil dari pemeriksaan pajak.

Pemanfaatan

Teknologi

2) Penyempurnaan

Komunikasi dan Informasi

Kunci perbaikan birokrasi yang berbelit-belit adalah perbaikan

business process, yang mencakup metode, sistem, dan prosedur kerja.

Untuk itu, perbaikan business process merupakan pilar penting program

modernisasi DJP, yang diarahkan pada penerapan full automation dengan

memanfaatkan

teknologi

informasi

dan

komunikasi,

pekerjaan yang sifatnya klerikal.

terutama

untuk

34

Langkah awal perbaikan business process adalah penulisan dan

dokumentasi yaitu melalui :

a. Standard Operating Procedures (SOP) untuk sertiap kegiatan

di seluruh unit DJP. Sampai dengan akhir tahun 2007, sekitas

1900 SOP di lingkungan DJP telah berhasil diidentifikasikan,

ditulis, dan dijadikan acuan pelaksanaan tugas dan pekerjaan

bagi para pegawai.

b. Perbaikan business process dilakukan antara penerapan e-system dengan dibukanya fasilitas: - - e-SPT
b. Perbaikan
business
process
dilakukan
antara
penerapan e-system dengan dibukanya fasilitas:
-
-
e-SPT (penyerahan SPT dalam media digital)
-
-
internet)
dalam melaksanakan kewajiban perpajakanya.

lain

dengan

e-filing (pengiriman SPT secara online melalui internet)

e-payment (fasilitas pembayaran online untuk PBB), dan

e-registration (pendaftaran NPWP secara online melalui

semua fasilitas tersebut diciptakan guna memudahkan Wajib Pajak

c. Untuk sistem administrasi internal saat ini terus dilakukan

pengembangan

dan penyempurnaan Sistem

Informasi DJP

(SIDJP).

Salah

satu

fitur

penting

sistem

tersebut

adalah

case

management

dan

workflow

system

yang

digunakan

untuk

administrasi

persuratan,

proses

pelayanan,

serta

pengadministrasian

account

wajib

pajak.

Sistem

informasi

35

manajemen

internal

seperti

Sistem

Kepegawaian,

Sistem

Informasi Keuangan dan Akuntansi, Sistem Pelaporan, dan

Key Performance Indicator (KPI) juga terus dikembangkan.

3) Penyempurnaan Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)

Langkah perbaikan di bidang SDM :

a. DJP melakukan pemetaan kompetensi untuk seluruh 30.000

pegawai DJP guna mengetahui sebaran kuantitas dan kualitas

kompetensi pegawai. b. Seluruh jabatan harus harus dievaluasi dan dianalisis untuk selanjutnya ditentukan job grade
kompetensi pegawai.
b.
Seluruh jabatan harus harus dievaluasi dan dianalisis untuk
selanjutnya ditentukan job grade dari masing-masing jabatan
tersebut.
c.
Selanjutnya beban kerja dari masing-masing jabatan tersebut
dianalisis
yang
kemudian
dikaitkan
juga
dengan
pengembangan
sistem
pengukuran
kinerja
masing-masing
pegawai.
d.
Sebagai
catatan,
pembuatan
dan
dokumentasi
SOP
untuk

seluruh proses pekerjaan dapat dimanfaatkan juga sebagai

standard penilaian kinerja.

e. Semuanya itu nantinya akan dimanfaatkan untuk membuat

sistem jenjang karir, khususnya sistem mutasi dan promosi,

serta sistem remunerasi yang lebih jelas, adil, dan akuntabel.

36

4) Pelaksanaan Good Governance

DJP dengan program modernisasinya senantiasa berupaya menerapkan

prinsip-prinsip Good Governance tersebut berupa:

a. Pembuatan dan penegakan Kode Etik Pegawai yang secara

tegas

mencantumkan

kewajiban

dan

larangan

bagi

para

pegawai DJP dalam pelaksanaan tugasnya, termasuk sanksi-

sanksi bagi setiap pelanggaran Kode Etik Pegawai tersebut.

b. penyelewengan di bidang perpajakan, Ombudsman Nasional. Dalam lingkup internal DJP sendiri, telah dibawah
b.
penyelewengan
di
bidang
perpajakan,
Ombudsman Nasional.
Dalam
lingkup
internal
DJP
sendiri,
telah
dibawah
Direktorat
Kepatuhan
Internal
dan
yang
sifatnya
lebih
ke
pencegahan

Pemerintah telah menyediakan berbagai saluran pengaduan

yang sifatnya independen untuk menangani pelanggaran atau

Komisi

seperti

dibentuk

dua

Subdirektorat yang khusus menangani pengawasan internal

Transformasi

Sumber Daya Aparatur yaitu Subdirektorat Kepatuhan Internal

dan

(preventif)

Subdirektorat

Investigasi

Internal

yang

sifatnya

lebih

ke

pengusutan dan dan penghukuman (reaktif)

c. Pembentukan complaint center di masing-masing Kanwil

modern untuk menampung keluhan wajib pajak merupakan

bukti komitmen DJP untuk selalu meningkatkan pelayanan

kepada Wajib Pajaknya sekaligus pengawasan bagi internal

DJP.

37

2.4 Kepatuhan Perpajakan

2.4.1 Pengertian Kepatuhan Perpajakan

Definisi kepatuhan menurut Siti Kurnia Rahayu (2010:138) :

“Kepatuhan perpajakan adalah tindakan wajib pajak dalam pemenuhan

kewajiban

perpajakannya

sesuai

dengan

ketentuan

peraturan

perundangundangan dan peraturan pelaksanaan perpajakan yang berlaku

dalam suatu negara”.

pelaksanaan perpajakan yang berlaku dalam suatu negara”. Definisi kepatuhan menurut Safri Nurmantu yang dikemukakan

Definisi kepatuhan menurut Safri Nurmantu yang dikemukakan kembali

oleh Siti Kurnia Rahayu (2010:138) menyatakan bahwa :

“Kepatuhan perpajakan yang didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana

melaksanakan

wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan

hak perpajakannya.”

2.5 Kepatuhan Wajib Pajak

2.5.1 Pengertian Kepatuhan Wajib Pajak

Menurut Chaizi Nasucha (2004:45),

Kepatuhan Wajib Pajak dapat diidentifikasi dari kepatuhan wajib pajak dalam mendaftarkan diri, kepatuhan untuk menyetorkan kembali Surat Pemberitahuan (SPT), kepatuhan dalam penghitungan dan pembayaran pajak terutang, dan kepatuhan dalam pembayaran tunggakan”

2.5.2 Jenis-jenis Kepatuhan Wajib Pajak

38

Terdapat dua macam kepatuhan, menurut Safri Nurmantu (2005:148) yakni :

1. Kepatuhan Formal, adalah suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi

kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang

perpajakan.

2. Kepatuhan Material, yaitu suatu keadaan dimana wajib pajak secara

substantif memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai

dan jiwa undang-undang perpajakan. Kepatuhan
dan
jiwa
undang-undang
perpajakan.
Kepatuhan

sisi

meliputi kepatuhan formal.

Kriteria Kepatuhan Wajib Pajak

Kriteria wajib pajak

material

dapat

patuh menurut KMK No.544/KMK.04/2000 dalam

2.5.3

Siti Kurnia Rahayu (2010:139), menyatakan bahwa kepatuhan wajib pajak adalah:

1. Tepat waktu dalam menyampaikan SPT untuk semua jenis pajak dalam 2

tahun terakhir.

2. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali telah

memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak.

3. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana dibidang

perpajakan dalam jangka waktu 10 tahun terakhir.

4. Dalam 2 tahun terakhir menyelenggarakan pembukuan dan dalam hal

terhadap

wajib

pajak

pernah

dilakukan

pemeriksaan,

koreksi

pada

pemeriksaan yang terakhir untuk masing-masing jenis pajak yang terutang

paling banyak 5%.

39

5. Wajib pajak yang laporan keuangannya untuk 2 tahun terakhir diaudit oleh

Akuntan Publik dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, atau pendapat

dengan pengecualian sepanjang tidak mempengaruhi laba rugi fiskal.

2.5.4 Dimensi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi

Menurut

Chaizi

Nasucha

(2004),

Kepatuhan

Wajib

Pajak

dapat

diidentifikasikan dari :

- Kepatuhan Wajib Pajak dalam medaftarkan diri,

- Kepatuhan untuk menyetorkan kembali Surat Pemberitahuan (SPT)

- Kepatuhan dalam penghitungan dan pembayaran pajak terutang, dan

- Kepatuhan dalam pembayaran tunggakan

2.6 Pengaruh Penerapan Modernisasi Sistem Administrasi Perpajakan

perubahannya mendasar pada ketentuan
perubahannya
mendasar
pada
ketentuan

perpajakan

(Siti

Kurnia

Rahayu,

2010:99).

Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi

Reformasi perpajakan yang dilakukan di Indonesia di mulai sejak tahun

1984, diawali dengan reformasi perpajakan (first tax reform) dilakukan pada

tahun

perundang-

sistem

1984,

peraturan

undangan

Pembaruan

perpajakan di Indonesia ini diusahakan tersusun sistem pepajakan yang sederhana,

kesederhanaan diperlukan agar mudah dimengerti dan dilakukan oleh wajib pajak

dan fiskus dan penyederhanaan tersebut bukan berarti berarti harus mengorbankan

pemerataan oleh karena sistem yang baru tetap mempunyai progresivitas. Siti

Kurnia Rahayu (2010:99).

Selain

itu

pembaruan

sistem

perpajakan

juga

melakukan

pembenahan

aparatur perpajakan dengan meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam

40

rangka memahami, menguasai dan melaksanakan peraturan perpajakan yang baru

dan

meningkatkan

pelayanan

kepada

Wajib

Pajak

agar

dapat

mendorong

kepatuhan

Wajib

Pajak

yang

akhirnya

akan

mempengaruhi

peningkatan

penerimaan pajak, selain itu juga mmbenahi baik menyangkut prosedur, tata kerja,

disiplin maupun mental. Siti Kurnia Rahayu (2010:109).

Melalui modernisasi administrasi perpajakan diharapkan terbangun pilar-

pilar pengelolaan pajak yang kokoh sebagai fundamental penerimaan Negara yang

Siti Kurnia Rahayu(2010:109). Good Governance merupakan sistem teknologi yang handal dan terkini, selain itu
Siti
Kurnia
Rahayu(2010:109).
Good
Governance
merupakan
sistem
teknologi
yang
handal
dan
terkini,
selain
itu
untuk
tingkat
kepatuhan
pajak
yang
tinggi,
meningkatkan
kepercayaan
Kurnia
Rahayu
(2010:109).
Kondisi
perpajakan
yang
menuntut
aktif
Wajib
Pajak
dalam
menyelenggarakan
pepajakannya

Siti

baik dan berkesinambungan, modernisasi sistem perpajakan dilingkungan DJP

bertujuan untuk menerapkan Good Governance dan pelayanan prima kepada

masyarakat.

penerapan sistem administrasi perpajakan yang transparan dan akuntabel, dengan

memanfaatkan

mencapai

administrasi perpajakan dan mencapai tingkat produktivitas pegawai pajak yang

tinggi.

keikutsertaan

membutuhkan kepatuhan Wajib pajak yang tinggi. Siti Kurnia (2010:137).

Kepatuhan Wajib Pajak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kondisi

sistem administrasi perpajakan di suatu Negara, pelayanan kepada Wajib Pajak,

penegakan hukum perpajakan, pemeriksaan pajak, dan tarif pajak. Kepatuhan

wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan adalah merupakan tujuan

utama dari pemeriksaan pajak, sehingga dari hasil pemeriksaan akan diketahui

tingkat kepatuhan Wajib Pajak, bagi wajib pajak yang tingkat kepatuhannya

41

tergolong rendah, diharapkan dengan dilakukannya pemeriksaan terhadapnya

dapat memberikan motivasi positif agar untuk masa-masa selanjutnya menjadi

lebih baik, oleh karena itu pemeriksaaan pajak juga

sekaligus sebagai sarana

pembinaan dan pengawasan terhadap wajib pajak Siti Kurnia Rahayu (2010:245).

Dengan demikian maka dengan adanya modernisasi sistem administrasi

perpajakan dapat membantu dan meningkatkan kepatuhan pajak dari wajib pajak.

Dalam hal ini peneliti ingin melihat tingkat kepatuhan wajib pajak sesudah adanya

terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak. Sistem Administrasi Perpajakan terhadap Tingkat Kepatuhan mengambil
terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak.
Sistem
Administrasi
Perpajakan
terhadap
Tingkat
Kepatuhan
mengambil
penelitian
pada
KPP
Pratama
Malang
Utara
menghasilkan
kesimpulan
bahwa
Penerapan
sistem

modernisai sistem administrasi perpajakan seperti dengan adanya penerapan e-

filling, e-SPT, e-payment, dan e-registration apakah dengan adanya modernisasi

sistem administrasi perpajakan dapat tercapai atau tidak berpengaruh sama sekali

Hal ini didukung oleh temuan hasil penemuan Listania Triwigati (2013)

yang melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Penerapan Modernisasi

Wajib

Pajak

tersebut

penelitian

administrasi

perpajakan

modern memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap

kepatuhan Wajib

Pajak.

2.7 Kerangka Pemikiran

Kepatuhan wajib pajak adalah faktor penting dalam merealisasikan target

penerimaan pajak. Semakin tinggi kepatuhan wajib pajak, maka penerimaan pajak

akan

semakin

meningkat,

demikian

pula

sebaliknya.

Oleh

karenanya

menumbuhkan kepatuhan wajib pajak sudah seharusnya menjadi agenda utama

42

Direktorat Jenderal Pajak (DJP), selain memacu kinerja pegawai agar memiliki

kemampuan, dedikasi, wawasan, dan tanggung jawab sebagai penyelenggara

Negara di bidang perpajakan. Amin Laili (2013).

Melalui modernisasi administrasi perpajakan diharapkan terbangun pilar-

pilar pengelolaan pajak yang kokoh sebagai fundamental penerimaan Negara yang

baik dan berkesinambungan, modernisasi sistem perpajakan dilingkungan DJP

bertujuan untuk menerapkan Good Governance dan pelayanan prima kepada

Good Governance merupakan penerapan yang transparan dan akuntabel, dengan tinggi, meningkatkan kepercayaan
Good
Governance
merupakan
penerapan
yang
transparan
dan
akuntabel,
dengan
tinggi,
meningkatkan
kepercayaan
administrasi

sistem

masyarakat.

perpajakan

administrasi

sistem

memanfaatkan

teknologi yang handal dan terkini, selain itu untuk mencapai tingkat kepatuhan

pajak

dan

yang

perpajakan

mencapai tingkat produktivitas pegawai pajak yang tinggi. Siti Kurnia Rahayu

(2010:109). Kondisi perpajakan yang menuntut keikutsertaan aktif Wajib Pajak

pajak

dalam menyelenggarakan pepajakannya membutuhkan kepatuhan Wajib

yang tinggi. Siti Kurnia Rahayu (2010:137).

Hal ini didukung oleh temuan hasil penemuan Listania Triwigati (2013)

yang melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Penerapan Modernisasi

Sistem

Administrasi

Perpajakan

terhadap

Tingkat

Kepatuhan

Wajib

Pajak

mengambil

penelitian

pada

KPP

Pratama

Malang

Utara

penelitian

tersebut

menghasilkan

kesimpulan

bahwa

Penerapan

sistem

administrasi

perpajakan

modern memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap

kepatuhan Wajib

Pajak.

Berdasarkan

uraian

di

atas

maka

peneliti

membuat

pemikiran sederhana seperti di bawah ini :

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran

Reformasi Perpajakan

ini : Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Reformasi Perpajakan 43 skema kerangka Reformasi Administrasi Perpajakan

43

skema kerangka

Reformasi Administrasi Perpajakan Modernisasi Sistem Administrasi Pepajakan (X) Kepatuhan Wajib Pajak (Y) -
Reformasi Administrasi Perpajakan
Modernisasi Sistem Administrasi
Pepajakan (X)
Kepatuhan Wajib Pajak
(Y)
- Restrukturisasi Organisasi
-
- Penyempurnaan Proses
Bisnis Melalui Pemanfaatan
Teknologi Komunikasi dan
Informasi
Kepatuhan Wajib Pajak
dalamMendaftarkan Diri
-
Kepatuhan untuk
Menyetorkan Kembali SPT
-
- Penyempurnaan Manajemen
Sumber Daya Manusia
(SDM)
Kepatuhan dalam
Perhitungan dan
Pembayaran Pajak Terutang
-
- Pelaksanaan Good
Governance
Siti Kurnia Rahayu (2010)
Kepatuhan dalam
Pembayaran Tunggakan
Chaizi Nasucha (2004)

2.8 Hipotesis Penelitian

Hipotesis

merupakan

jawaban

sementara

terhadap

rumusan

44

masalah

penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk

pertanyaan Sugiyono (2009:96). Pada hakekatnya kepatuhan dan kesadaran Wajib

Pajak dipengaruhi oleh kondisi sistem administrasi perpajakan. Langkah langkah

perbaikan administrasi diharapkan dapat mendorong kepatuhan Wajib Pajak

melalui dua cara yaitu pertama, Wajib Pajak patuh karena mendapatkan pelayanan

baik kepada Wajib Pajak. Perbaikan pelayanan
baik
kepada
Wajib
Pajak.
Perbaikan
pelayanan

yang baik, cepat, dan menyenangkan serta pajak

yang mereka bayar akan

bermanfaat bagi pembangunan bangsa. Kedua, Wajib Pajak akan patuh karena

mereka berpikir bahwa mereka akan mendapat sanksi berat akibat pajak yang

tidak mereka laporkan terdeteksi sistem informasi dan administrasi perpajakan

(Surjoputro dan Widodo,2004). Direktorat Jenderal Pajak sebagai lembaga yang

berwenang menangani masalah perpajakan harus berbenah memberi pelayanan

yang

lewat

program

lebih

perubahan (Change Program), penegakan hukum dan pelaksanaan kode etik yang

lebih baik harus diprioritaskan agar administrasi perpajakan dapat berjalan secara

efektif dan efisien. Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini berkaitan

dengan ada atau tidaknya pengaruh Penerapan Modernisasi Sistem Administrasi

Perpajakan terhadap tingkat Kepatuhan Wajib Pajak, yang akan dirumuskan

sebagai berikut:

Ho : Penerapan Modernisasi Sistem Administrasi Perpajakan tidak memiliki

pengaruh terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.

Ha :

Penerapan

Modernisasi

Sistem

Administasi

Perpajakan

45

mempunyai

pengaruh secara signifikan terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Orang

Pribadi.

2.9 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1. Sri dan Ita Pengaruh Modernisasi
Penelitian Terdahulu
No
Nama Peneliti
Judul Penelitian
Hasil Penelitian
1.
Sri dan Ita
Pengaruh Modernisasi
Sistem Administrasi
Perpajakan Terhadap
Kepatuhan Wajib Pajak
Modernisasi sistem
administrasi
perpajakan tidak
memiliki pengaruh
signifikan terhadap
kepatuhan wajib
pajak.
2.
Aris Wardhana
Pengaruh Modernisasi
Sistem Administrasi
Perpajakan terhadap Tingkat
Kepatuhan Pengusaha Kena
Pajak
Sistem Administrasi
Perpajakan Modern
memberikan
pengaruh terhadap
Kepatuhan
Pengusaha Kena
Pajak
3.
Listania Triwigati
Pengaruh Penerapan
Modernisasi Sistem
Administrasi Perpajakan
terhadap Tingkat Kepatuhan
Wajib Pajak
Penerapan sistem
administrasi
perpajakan modern
memiliki
pengaruh
yang positif
signifikan terhadap
kepatuhan Wajib
Pajak.
4.
Endri Hartanti
Pengaruh Sistem
Administrasi Perpajakan
Modern terhadap Kepatuhan
Wajib Pajak
Sistem Administrasi
Perpajakan Modern
memberikan
pengaruh signifikan
terhadap Kepatuhan
Wajib Pajak

46

46