Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

REAKSI KIMIA PADA SIKLUS LOGAM TEMBAGA

Oleh :

Amanda Awalia Ramadhani (1708511050)

Kelompok 4B

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA

2017
REAKSI KIMIA PADA SIKLUS LOGAM TEMBAGA

I. TUJUAN PERCOBAAN

- Mempelajari perubahan kimia yang terjadi pada siklus logam Cu.

II. DASAR TEORI

Ilmu kimia mempelajari tentang peristiwa kimia yang ditandai dengan


berubahnya suatu zat menjadi izat lain. Perubahan itulah yang disebut perubahan
kimia dimana terjadi reaksi di dalamnya yang kemudian kita kenal dengan
reaksi kimia. Reaksi kimia adalah suatu reaksi antar senyawa kimia atau unsur
kimia yang melibatkan perubahan struktur dari molekul,yang umumnya berkaitan
dengan pembentukan dan pemutusan ikatan kimia. Reaksi kimia dimana satu atau
lebih zat yang berubah menjadi zat-zat baru yang sifat-sifatnya berbeda
dibandingkan dengan zat penyusun sebelumnya. Zat yang mengalami perubahan
disebut zat pereaksi (reaktan) dan zat yang terbentuk disebut hasil reaksi (produk).
Rumus-rumus pereaksi ditempatkan disebelah kiri dan hasil reaksi ditempatkan
disebelah kanan. Diantara dua sisi tersebut digabungkan dengan tanda kesamaan
(=) atau tanda panah (→).

Secara umum terdapat beberapa jenis reaksi kimia, antara lain :

1. Pembakaran

Adalah suatu reaksi dimana suatu unsur atau senyawa bergabung dengan
oksigen membentuk senyawa yang mengandung oksigen sederhana.

2. Penggabungan (sintetis)

Suatu reaksi dimana sebuah zat yang lebih kompleks terbentuk dari dua
atau lebih zat yang lebih sederhana (baik unsur maupun senyawa).

3. Penguraian

Suatu reaksi dimana suatu zat dipecah menjadi zat-zat yang lebih
sederhana.

4. Penggantian (Perpindahan tanggal)

Suatu reaksi dimana sebuah unsur pindahan unsur lain dalam suatu
senyawa.

5. Metatesis (pemindahan tanggal)

Suatu reaksi dimana terjadi pertukaran antara dua reaksi.


Dan berikut adalah ciri dari perubahan kimia :

a. Timbulnya Gas

Banyak reaksi kimia menghasilkan zat baru yang ditandai terbentuknya


gas pada suhu kamar. Sebagai contoh, apabila bongkahan kapur dimasukan ke
dalam air maka akan timbul gelembung-gelembung gas yang keluar dari
campuran air dan bongkahan kapur. Gelembung-gelembung gas tersebut
merupakan zat baru (gas karbon dioksida) hasil reaksi antara air dan kapur.
Karena dari peristiwa tersebut dihasilkan zat baru (yang kedua wujud gas pada
suhu kamar) maka peristiwa tersebut merupakan contoh reaksi kimia. Dengan
demikian, timbulnya gas dapat menjadi petunjuk bahwa reaksi kimia telah terjadi.

Secara sederhana,dalam reaksi kimia adanya gas yang terbentuk


ditunjukan dengan munculnya gelembung-gelembung dalam air yang direaksikan.

b. Timbulnya Endapan

Salah satu jenis reaksi yang umumnya berlangsung dalam larutan berair
yang cirinya adalah terbentuknya produk yang tak larut, atau endapan.
Chang,Raymond.2004.Kimia Dasar : Konsep - konsep Inti Jilid I Edisi
Ketiga.Erlangga : Jakarta

c. Timbulnya Perubahan Warna

Banyak reaksi kimia yang terjadi tidak disertai oleh timbulnya endapan
atau gas,tetapi ditandai oleh timbulnya warna yang baru.Sebagai contoh adalah
saat kita mencampurkan tembaga dengan larutan HNO3.Dapat kita lihat bahwa
terjadi perubahan warna dari yang awalnya bening menjadi biru muda.Selain itu
bisa juga saat kita memanaskan lempeng tembaga yang berwarna merah dengan
serbuk belerang yang berwarna kuning.Setelah dipanaskan maka akan terbentuk
zat baru yang berwujud padatan berwarna hitam.Pada kedua contoh peristiwa ini
terjadi perubahan kimia karena terbentuk zat yang baru.Dengan demikian,adanya
perubahan warna dapat menjadi petunjuk telah terjadi perubahan kimia.Praktikum
Kimia Dasar I

d. Timbulnya Perubahan Suhu

Timbulnya perubahan suhu dapat juga menjadi petunjuk terjadinya


perubahan kimia.Sebagai contoh adalah reaksi antara gamping dengan air yang
terdapat dalam tabung reaksi.Reaksi ini pun menyebabkan naiknya suhu air dalam
tabung reaksi.Pada peristiwa ini terbentuk zat baru yang larut dalam air dan zat
baru yang berwujud gas pada suhu kamar.Jadi,selain timbul panas,pada reaksi ini
juga timbul gelembung gas.
Perubahan suhu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Reaksi eksoterm : merupakan reaksi pembebasan panas dari sistem ke


lingkungan sehingga suhu lingkungan bertambah.

2. Reaksi endoterm : Merupakan reaksi penyerapan panas dari lingkungan ke


sistem sehingga suhu lingkungan berkurang

e. Habisnya Zat yang Bereaksi

Reaksi kimia dapat diamati dengan habisnya zat yang bereaksi disertai
dengan produk baru yang dihasilkan.Suatu reaksi kimia dihasilkan dengan
perbandingan massa yang tetap sesudah dan sebelum hasil reaksi.Seperti
hilangnya Cu(s) pada saat ditambah HNO3(aq).Peristiwa ini dapat terjadi karena
adanya interaksi antara molekul Cu dengan molekul HNO3.

f. Timbulnya Bau

Adanya bau bisa timbul pada reaksi kimia dikarenakan pencampuran suatu
zat.Misalnya,pada reaksi antara logam (Cu) dengan larutan asam nitrat (HNO3)
yang menghasilkan larutan tembaga (II) nitrat,gas nitrogen monoksida,dan air
yang akan menimbulkan bau baru.

Dalam mereaksikan suatu zat,diperlukan juga adanya ketelitian dalam


menghitung banyaknya suatu zat yang akan direaksikan. Dalam percobaan kali ini
harus ditentukan berapa mol Cu dan volume HNO3 yang digunakan agar reaksi
dapat berlangsung. Sebelumnya kita harus bisa menuliskan reaksi antara logam
Cu dengan HNO3. Kemudian kita tentukan perbandingan koefisien dari reaksi
tersebut dengan menggunakan konsep mol.

Massa satu mol zat sama dengan massa atom relatif/massa molekul relatif
dalam gram. Rumus mol suatu unsur/senyawa dirumuskan sebagai berikut.

Untuk unsur : 𝑚
𝑛= 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑚 = 𝑛 𝑥 𝐴𝑟
𝐴𝑟

Untuk senyawa : 𝑚
𝑛= 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑚 = 𝑛 𝑥 𝑀𝑟
𝑀𝑟
Dengan:

n = mol unsur/senyawa

m = massa unsur/senyawa

Ar = massa atom relative

Mr =massa molekul relative

Volume merupakan ukuran besarnya ruang yang ditempati oleh suatu zat
yang dilambangkan (V) dengan satuan liter (L). Avogadro menyatakan bahwa
volume setiap mol gas pada suhu 0℃ (273K) dan tekanan 1 atm (76 cmHg)
mempunyai volume 22,4 liter. Sehingga kondisi tersebut dinamakan sebagai
keadaan standar/STP (Standar Temperatur and Preassure) yang dituliskan dengan
(0℃, 1 𝑎𝑡𝑚). Hubungan volume gas dengan mol dapat dituliskan sebagai berikut.

𝑉
𝑉 = 𝑛 𝑥 22,4 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑛=
22,4

Keterangan :

V = volume gas STP

n = mol unsur/senyawa

Volume gas untuk keadaan tidak STP,maka dapat dihitung dengan menggunakan
rumus.

𝑃𝑉 = 𝑛 . 𝑅 .T
Keterangan:

P = Tekanan gas (atm)

V = Volume gas (liter)


III. ALAT DAN BAHAN

1.Alat

- Gelas ukur
- Gelas kimia
- Kaca arloji
- Pipet tetes
- Batang pengaduk / Spatula
- Botol semprot
- Neraca Elektronic
- Penjepit
- Tissue
- Steambath / Alat pemanas

2.Bahan

- Logam Cu 0,2 gram


- Serbuk Fe
- Larutan HNO3 6 M
- Larutan NaOH 1 M
- Larutan H2SO4 1 M
- Air suling
IV. LANGKAH KERJA

Untuk mengamati peristiwa kimia yang terjadi,akan kita gunakan sepotong kecil
logam Cu.Untuk mempelajari perubahan kimia yang terjadi,mari lakukan
serangkaian percobaan berikut.

Serbuk Cu

Serbuk Cu 0.20 gram

HNO3

Gelas kimia ditutup dengan


kaca arloji

Larutan NaOH
Langkah 1 : Reaksi Logam Cu dan Asam Nitrat

Logam Cu Ditimbang dengan teliti seberat 0,2 gram, kemudian logam Cu


dimasukkan ke dalam gelas kimia 250 ml. Dihitung HNO3 yang diperlukan
menggunakan persamaan reaksi antara logam Cu dan asam nitrat. Larutan HNO3
6 M dengan gelas ukur dan pipet tetes. Larutan HNO3 yang sudah diukur dituang
ke dalam gelas kimia 250 ml yang berisi logam Cu. Gelas kimia ditutup dengan
kaca arloji. Gelas kimia beserta isinya dibiarkan selama seminggu.

Langkah 2 : Penambahan Larutan NaOH

NaOH 1 M yang diperlukan dihitung. NaOH 1 M yang di perlukan


diambil dengan gelas ukur dan pipet tetes. Gelas kimia yang sudah dibiarkan
semminggu dibuka kaca arlojinya. Larutan NaOH 1 M dituang ke dalam gelas
kimia sambil diaduk menggunakan batang pengaduk. Perubahan yang terjadi
diamati.

Langkah 3 : Pemanasan

50 ml air suling ditambahkan ke dalam gelas kimia. Gelas kimia dan


isinya dipanaskan sambil di aduk hinga mendidih dan tidak terjadi perubahan
yang dapat di amati. Setelah mendidih, batang pengaduk dikeluarkan dan
disemprot dengan aquades. Gelas kimia dan isinya dibiarkan dingin selama
kurang lebih 5 menit. Cairan dalam gelas kimia dituang ke gelas kimia lain
(dekantasi). Sisa padatan pada gelas kimia I dicuci dengan 50 ml air suling.
Padatan dibiarkan mengendap. Proses dekantasi dan pencucian diulangi,
kemudian hasilnya disimpan untuk proses selanjutnya.

Langkah 4 : Penambahan Larutan H2SO4

Dihitung larutan H2SO4 yang diperlukan dengan persamaan reaksi.


Larutan H2SO4 yang diperlukan diambil dengan gelas ukur dan pipet tetes.
Larutan H2SO4 ditambahkan ke dalam gelas kimia. Larutan diaduk sampai tidak
ada perubahan yang dapat diamati. Hasil yang diperoleh disimpan untuk
pengerjaan berikutnya.

Langkah 5 : Penambahan serbuk logam Fe

Logam Fe yang diperlukan dihitung dengan persamaan reaksi. Serbuk


logam Fe diambil menggunakan kaca arloji. Serbuk logam Fe ditambahkan ke
dalam gelas kimia dari langkah sebelumnya. Kemudian gelas kimia ditutup
dengan kaca arloji. Sesekali digoyang gelas kimia tersebut. Reaksi kimia
dibiarkan berlangsung hingga Fe habis bereaksi. Ini bisa dilihat dari tidak
timbulnya gas lagi. Hasil disimpan untuk percobaan berikutnya.

Langkah 6 : Mendapatkan Cu kembali (Recovery Cu)


Cairan bening dalam gelas kimia di dekantasi. Endapan dicuci dengan 50
ml air suling kemudian endapan dibiarkan mengendap, kemudian proses dekantasi
diulangi. Proses pencucian dan dekantasi diulangi sebanyak dua kali. Cawan
penguap bersih ditimbang dan di catat massanya. Endapan dituang ke cawan
penguap. Kemudian endapan dikeringkan dengan cara memanaskannya diatas
steambath. Cawan penguap beserta isinya ditimbang dan di catat massanya. Massa
Cu dihitung, kemudian di hitung rendemennya.
V. HASIL PENGAMATAN.

1. Percobaan I (Reaksi antara logam Cu dan larutan HNO3)

No Logam Cu Pengamatan
1 Massa 0,2 gram
2 Wujud Padat
3 Warna Merah bata
4 Bentuk Serbuk

No Larutan HNO3 Pengamatan


1 Volume 1.3 mL
2 Wujud Cair
3 Warna Bening
4 Bentuk Larutan

No 3Cu + 8 HNO3 → 3Cu (NO3)2 + 2NO + 4H2O Pengamatan


1 Warna Biru
2 Bau Ada
3 Peningkatan Suhu Meningkat
4 Adanya Gas Ada
5 Endapan -
6 Zat yang Bereaksi Habis (kepingan Cu
hilang)

2. Percobaan II (Penambahan larutan NaOH)

No Larutan NaOH Pengamatan


1 Volume 11 mL
2 Wujud Cair
3 Warna Bening
4 Bentuk Larutan
No Cu(NO3)2 + 2NaOH → Cu(OH)2 + 2NaNO3 Pengamatan
1 Warna Biru Pekat
2 Bau -
3 Peningkatan Suhu Meningkat
4 Adanya Gas -
5 Endapan Ada
6 Zat yang Bereaksi Habis

3. Percobaan III (Pemanasan)

Ditambah 50 mL air suling pada gelas kimia hasil reaksi percobaan II

NO Cu(OH)2 → CuO + H2O Pengamatan


1 Warna Larutan Bening
2 Warna Endapan Hitam
3 Bau -
4 Peningkatan Suhu Meningkat
5 Adanya Gas -
6 Endapan Ada
7 Zat yang Bereaksi Habis
Keterangan :

Endapan yang timbul merupakan endapan CuO.

4. Percobaan IV (Penambahan H2SO4)

No Larutan H2SO4 Pengamatan


1 Wujud Cair
2 Warna Bening
3 Bentuk Larutan
4 Volume 3 mL

No CuO + H2SO4 → CuSO4 + H2O Pengamatan


1 Warna Larutan Biru muda Seperti semula
2 Bau -
3 Peningkatan Suhu Meningkat
4 Adanya Gas -
5 Endapan -
6 Zat yang Beraksi Habis
5. Percobaan V (Penambahan Fe)

No Logam Fe (Serbuk) Pengamatan


1 Wujud Padat
2 Warna Abu-abu
3 Bentuk Serbuk
4 Massa 0,2 gram

No CuSO4 + Fe → Cu + FeSO4 Pengamatan


1 Warna Larutan Biru Kehijauan
2 Warna Endapan Merah Bata
3 Bau -
4 Adanya Gas Ada
5 Endapan Ada
6 Zat yang Bereaksi Sisa
Keterangan :

Endapan yang telah didapatkan merupakan serbuk Cu yang telah terbentuk


kembali.

6. Percobaan VI (Recovery Cu)


 Menghitung massa Cu
Diketahui: massa cawan kosong = 19,98 gram
Massa cawan dan isinya = 20.14 gram
Maka, massa Cu = massa cawan dan isi – massa cawan kosong
= 20,14 gram – 19,98 gram = 0,16 gram

 Recovery Cu

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝐶𝑢
𝑅𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 = 𝑋100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝐶𝑢
0,16
= 𝑋100%
0,20

= 80 %
VI. PEMBAHASAN

1.Langkah I

Pada percobaan pertama logam Cu seberat 0,2 gram yang sudah disiapkan
dipotong menjadi bagian yang kecil, bahkan diusahakan sekecil mungkin agar
logam Cu nantinya dapat cepat bereaksi dengan larutan HNO3. Kemudian, logam
Cu ditambah larutan HNO3 untuk mengoksidasi logam Cu agar membentuk
larutan Cu(NO3)2 dan akan menimbulkan gas NO serta H2O, reaksi dari langkah
satu dapat dinotasikan sebagai berikut :

3Cu(s) + 8HNO3(aq) → Cu(NO3)2(aq) + 2NO(g) + 4H2O(l)

Perhitungan larutan HNO3 yang ditambahkan :

Logam Cu = 0,2 gram


𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎
n =
𝑀𝑟

0,2
n Cu =
64

n Cu = 0,003 mol
8
n HNO3 = 3 𝑥 0,003 = 0,008 mol

𝑛 0,008 0,008
M HNO3 = ↔6𝑀= ↔l= = 0,0013 𝐿
𝑙 𝑙 6

Pada langkah pertama membuktikan bahwa reaksi kimia pada logam Cu terjadi,
dengan perubahan warna larutan yang semula bening menjadi biru, adanya bau
dan timbulnya gas yaitu NO dan logam Cu habis bereaksi.

2.Langkah II

Penambahan larutan NaOH pada larutan hasil langkah I tujuanya menetralkan


kondisi larutan yang semula asam,yaitu dengan cara menambahkan larutan NaOH
yang bersifat basa

Cu(NO3)2(aq) + 2NaOH(aq) → Cu(OH)2(aq) + 2NaNO3(aq)

1 : 2 : 1 : 2
Agar reaksi mencapai kesetimbangan maka larutan NaOH yang perlu
ditambahkan :

n Cu = n Cu(NO3)2

n Cu(NO3)2 = 0,003 mol

𝐾𝑜𝑒𝑓.𝑁𝑎𝑂𝐻
maka : n NaOH = 𝐾𝑜𝑒𝑓. 𝑥 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑢(𝑁𝑂3 )2
𝐶𝑢(𝑁𝑜3 )2

2
= 1 𝑥 0,003 = 0,006 mol

Karena NaOH yang digunakan adalam 1 M maka Volume NaOH yang diperlukan
adalah

𝑛 0,006
M=𝑉 ↔1𝑀 = ↔ 𝑉 = 0,006 𝐿 = 6 𝑚𝐿
𝑉

Cu dalam Cu(NO3)2 bereaksi dengan NaOH membentuk Cu(OH)2 yang


menyebabkan warna larutan menjadi biru pekat.Hal ini menunjukan bahwa
Cu(NO3)2 telah habis bereaksi dengan larutan NaOH menbentuk larutan Cu(OH)2.

3.Langkah III

Larutan Cu(OH)2 yang telah diencerkan dengan menambahkan air suling


sebanyak 50 mL dipanaskan dengan kompor elektrik.Tujuan pemanasan ini
adalah memisahkan air dan larutan agar dapat diamati perubahannya.

Dengan hasil :

Cu(OH)2 : Berwarna biru pekat

CuO : Setelah dipanaskan berwarna hitam pekat dan mengendap

H2O : Cairan yang berwarna putih bening

Dengan reaksi sebagai berikut :

Cu(OH)2(aq) → CuO(s) + H2O(l)

Setelah pemanasan,timbul endapan berwarna hitam kemudian larutan mulai


berubah warna dari biru pekat menjadi bening.Larutan Cu(OH)2 teroksidasi
menjadi endapan CuO dan menghasilkan H2O.Sebelum endapan disimpak hasil
dari pemanasan tadi hari di dekantasi/proses pencucian.Tujuanya memisahkan air
bekas pemanasan adan endapan CuO agar logam CuO benar-benar bersih.
4.Langkah IV

Penambahan H2SO4,dengan tujuan mengikat Cu yang ada pada senyawa CuO


agar Cu dalam keadaan asam kembali.

CuO(s) + H2SO4(aq) → CuSO4(aq) + H2O(l)

Molalitas H2SO4 = 2 M

Karena n Cu = nCuO = nCu(NO3)2= nH2SO4 maka jumlahnya adalah 0,003 mol.

V = n/M ; M H2SO4 = n/V,V= 0,003 / 2 = 0,0015 L = 1,5 mL

Jadi penambahan H2SO4 ke dalam CuO = 1,5 mL

Seharusnya larutan H2SO4 2M yang ditambahkan adalah 1,5 mL namun kami


mencoba menambahkan larutan H2SO4 2M sebanyak 2 mL,sehingga larutan yang
harusnya berwana biru bening dalam percobaan kali ini berubah warna menjadi
biru kehijuan.

5.Langkah V

Penambahan serbuk Fe,bertujuan untuk mengikat SO4 dalam senyawa CuSO4 agar
terbentuk endapan logam Cu murni.

CuSO4(aq) + Fe(s) → Cu(s) + FeSO4(aq)

Berat logam Fe yang diperlukan untuk menikat SO4 dalam senyawa CuSO4 :

Massa Fe = Ar Fe x n Fe = 55,8 x 0,003 = 0,17 gram

Setelah logam Fe ditambahkan ke dalam larutan CuSO4 larutan berubah warna


menjadi putih kemudian timbul endapan Cu yang berwarna coklat
kemerahan.Namun dalam percobaan kami menambahkan logam Fe seberat 0,2
gram,sehingga menyebabkan larutan teroksidasi dan logam Fe dalam larutan
berkarat.Dampaknya logam Fe menempel pada diding gelas kimia dan larutan
berwarna coklat karat.

6.Langkah VI

GAGAL

Disebabkan karena penambahan logam Fe yang terlalu berlebihan dan


penambahan larutan H2SO4 yang berlebihan.(tidak sesuai stoikiometri)
VII. KESIMPULAN

1.Dalam percobaan tentang beberapa reaksi kimia dengan menggunakan siklus


logam tembaga (Cu) maka dapat diperoleh kesimpulan tentang beberapa peristiwa
yang menandakan berlangsungnya perubahan kimia yaitu :

A. Habisnya zat yang direaksikan

B. Dihasilkan produk baru dari reaktan yang habis direaksikan

C. Timbul Gas

D. Terjadi perubahan warna

E. Timbul endapan

F. Terjadi perubahan suhu

G. Tercium adanya bau baru

2. Pada perubahan atau reaksi kimia berlaku hukum kekekalan massa (Hukum
Lavoizer) yang dikemukakan oleh Lavoizer yaitu jumlah massa sebelum dan
sesudah reaksi ialah sama.Massa suatu zat berbanding lurus dengan jumlah
partikel (atom-atom),maka jumlah atom yang bereaksi (pereaksi) akan sama
dengan jumlah atom-atom zat hasil reaksi.

3. Perhitungan zat-zat yang terlibat dalam proses reaksi menggunakan perhitungan


stoikiometri yang terdiri dari beberapa konsep-konsep mol yaitu pencarian
mol,massa,volume dan hubungannya dengan perbandingan koefisien.
VIII. DAFTAR PUSTAKA

Staf Kimia Dasar.2014.Penuntun Praktikum Kimia Dasar I.Jurusan Kimia


FMIPA,Universitas Udayana :Bukit Jimbara,Bali

Chang,Raymond.2004.Kimia Dasar : Konsep - konsep Inti Jilid I Edisi


Ketiga.Erlangga : Jakarta

Purba,Michael.2002.Kimia SMA Kelas XII.Jakarta : Erlangga.

Sutresna,Nana.2005.Kimia SMA Kelas XI.Bandung : Grafindo Media Utama.

Purba,Michael.2002.Kimia SMA Kelas X.Jakarta : Erlangga.

Pudjaatmaka,Buku VOGEL Kimia Analisis Kuantitattif Anorganik,Penerbit Buku


Kedokteran EGC : Jakarta

Syukri,Unggul.1999.Kimia Dasar I.ITB : Bandung

Wismono,Jaka.2004.Kimia dan Kecakapan Hidup.Jakarta : Ganeca Exact

Petrucci,Ralph.H,1999.KIMIA DASAR : Prinsip dan Terapan Modern,Edisi


Keempat-Jilid 2,Erlangga : Jakarta.