Anda di halaman 1dari 4

PERBEDAAN RAHMAT,TAUFIK,DAN HIDAYAH BESERTA DALILNYA

1.Rahmat
Rahmat itu bermakna kasih sayang Allah swt terhadap seluruh hamba-hambanya dan seluruh
mahkluk ciptaanNya Rahmat Allah artinya pemberian Allah atas dasar kasih sayangNya atau bisa
disebut karunia Allah. rahmat bisa berupa ampunan dosa, perlindungan, petunjuk, dan kebaikan –
kebaikan lain. Setiap detik setiap ruang yang kita tempati selalu ada rahmat Allah. Kadar seorang
hamba memperoleh rahmat sesuai dengan kedekatannya dengan Allah. Sebagaimana hadits dari
Abu Hurairah radhiallahuanhu berkata : Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :
Sesungguhya Allah ta'ala berfirman : "Siapa yang memusuhi waliku maka Aku telah
mengumumkan perang dengannya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih
aku cintai kecuali dengan beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan
hambaku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah di luar
yang fardhu) maka Aku akan mencintainya dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah
pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk
melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk
berjalan. Jika dia meminta kepadaku niscaya akan aku berikan dan jika dia minta perlindungan
dari-Ku niscaya akan Aku lindungi " Riwayat Bukhori.(kitab Arba'iina Hadiitsan An Nawawiyah)

ۡ ‫َوأ َ َّما ٱلَّذِينَ ۡٱبيَض‬


َّ ‫َّت ُو ُجو ُه ُه ۡم فَ ِفى َر ۡح َم ِة‬
َ‫ٱَّللِ ه ُۡم فِي َہا َخ ٰـ ِلدُون‬
Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat
Allah [surga]; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Ali-Imran: 107).

2. TAUFIQ

Dalam bahasa Arab, istilah taufik ini berasal dari kata wāfaqa-yuwāfiqu-taufiq yang
bermakna memberikan pertolongan-taufik. Taufiq adalah memindahkan atau mengalihkan
makna dari suatu dalil kepada makna yang lain, sehingga tidak terdapat perlawanan atau
pertentangan lagi. Dalam praktek, lazimnya taufiq ini dilakukan ketika mujtahid tidak dapat
menemukan cara untu mentarjih salah satu dari dua dalil yang berlawanan. Dengan demikian
upaya yang dapat ditempuh adalah mengumpulkan dan memadukan kedua dalil itu. Kahar
Mansyur memberi contoh taufiq (penyesuaian) ini di bidang iddah, yaitu:

Nash pertama (1) adalah: QS. Al Baqarah ayat 234, yaitu: “Orang-orang yang meninggal dunia
dari kalangan muda meninggalkan para istri, hendaklah para isteri itu
menunggu (iddah)dengan dirinya selama empat bulan sepuluh hari”.

Nash kedua (2) adalah QS. AL-Thalaq ayat 3, yaitu: “Wanita yang hamil itu, iddahnya ialah
sampai melahirkan anaknya”.
Taufiq (penyesuaiannya) adalah :

1. Hendaklah wanita beriddah dengan iddah yang terlama dari dua macam iddah itu.
2. Tiap nash itu dipakai pada waktunya yang sesuai dengannya.

Contoh lain yang dapat ditaufiqkan adalah antara QS. A Baqarah ayat 180 dengan QS. An Nisa
ayat 11.

Dalam bahasa Arab, istilah taufik ini berasal dari kata wāfaqa-yuwāfiqu-taufiq yang bermakna
memberikan pertolongan-taufik. Dan istilah hidayah berasal dari kata hadā-yahdi-hidāyah yang
memiliki makna memberikan petunjuk.

Kesamaan dari kedua istilah di atas adalah sama-sama memiliki unsur memberi, pemberian dari
pada Allah swt kepada sang hamba.

Tapi, yang akan kita garisbawahi di sini adalah perbedaan antara kedua istilah di atas tadi. Yang
satu mengandung makna khusus dan lainya umum.

Dalam bukunya Muhammad Amin Aljundi (Alfaidah wal mut’ah fi imta’il asma’ bi ahlal
ma’lumat), sempat dibahas perbedaan antara keduanya.
Taufik, sering disebut juga hidayatut-taufiq wal-ilham yang bermakna petunjuk yang “khusus"
hanya dapat diberikan oleh Allah swt untuk para hamba-Nya,

‫إنك ال تهدى من أحببت ولكن هللا يهدى من يشاء‬

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi
Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui
orang-orang yang mau menerima petunjuk". (Al-Qasas 56).

Sungguh Taufik dari-Nya ini akan kita peroleh manakala apa yang kita mau, menyamai dengan
apa yang Allah mau, atau menyamakan persepsi keduabelah pihak ; khaliq dan makhluk. Jika
keduanya telah sama, maka dengan segera akan kita peroleh taufiq dari-Nya swt.

3. HIDAYAH
Hidayah, ini bentuknya “umum", siapa dan apa pun bisa menjadi tempat dititipaknya
wasilah petunjuk dari-Nya, dan hidayah ini sendiri memiliki cakupan yang luas.

‫وإنك لتهدى إلى صراط مستقيم‬


……… dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS
Ash-Shura ayat 52).

Sebenarnya sudah sejak lama Allah swt telah menitipkan hidayah itu kepada para manusia. dan
kemudian para manusianyalah sendiri yang seharusnya menjemputnya.

Diantara wasilah yang menjadi sebab sampainya hidayah sudah ada pada diri kita adalah hidayah
akal cerdas, jasmani yang sehat, mata yang dapat melihat dengan jelas, hidung yang dapat
bernafas dengan segar, dan pendengaran yang dipergunakan untuk menyimak banyak hal. Semua
itu adalah hidayah Allah yang sudah dari sejak lama dianugerahkan kepada kita sebagai manusia.
Dan manusianya sendirilah yang mempergunakan wasilah hidayah tadi untuk menjemput
hidayahnya.

“Semoga Allah melenggangkan taufik-Nya untuk kita semua, dan menjadikan kita manusia yang
faham untuk bersegera memanfaatkan hidayah yang telah diberikan sejak lama".

Hidayah secara bahasa berarti ar-rasyaad (bimbingan) dan ad-dalaalah (dalil/petunjuk)5.

Adapun secara syar’i, maka Imam Ibnul Qayyim membagi hidayah yang dinisbatkan kepada
Allah Ta’ala menjadi empat macam:

1. Hidayah yang bersifat umum dan diberikan-Nya kepada semua makhluk, sebagaimana yang
tersebut dalam firman-Nya:

{‫ش ْيءٍ خ َْلقَهُ ث ُ َّم َهدَى‬ َ ‫}قَال ََربُّنَا الَّذِي أ َ ْع‬


َ ‫طى ُك َّل‬

“Musa berkata: “Rabb kami (Allah Ta’ala) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap
makhluk bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS Thaahaa: 50).

Inilah hidayah (petunjuk) yang Allah Ta’ala berikan kepada semua makhluk dalam hal yang
berhubungan dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup mereka dalam urusan-urusan dunia,
seperti melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menjauhi hal-hal yang membinasakan untuk
kelangsungan hidup di dunia.

2. Hidayah (yang berupa) penjelasan dan keterangan tentang jalan yang baik dan jalan yang
buruk, serta jalan keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah ini tidak berarti melahirkan
petunjuk Allah yang sempurna, karena ini hanya merupakan sebab atau syarat, tapi tidak mesti
melahirkan (hidayah Allah Ta’ala yang sempurna). Inilah makna firman Allah:

{‫} َوأ َ َّما ث َ ُمود ُ فَ َهدَ ْينَا ُه ْم فَا ْست َ َحبُّوا ْال َع َمى َعلَى ْال ُهدَى‬

“Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai
kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk” (QS Fushshilat: 17).

Artinya: Kami jelaskan dan tunjukkan kepada mereka (jalan kebenaran) tapi mereka tidak mau
mengikuti petunjuk.

Hidayah inilah yang mampu dilakukan oleh manusia, yaitu dengan berdakwah dan menyeru
manusia ke jalan Allah, serta menjelaskan kepada mereka jalan yang benar dan memperingatkan
jalan yang salah, akan tetapi hidayah yang sempurna (yaitu taufik) hanya ada di tangan Allah
Ta’ala, meskipun tentu saja hidayah ini merupakan sebab besar untuk membuka hati manusia
agar mau mengikuti petunjuk Allah Ta’ala dengan taufik-Nya.

Allah Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya:

ِ ‫}و ِإنَّكَ لَت َ ْهدِي ِإلَى‬


{‫ص َراطٍ ُم ْستَ ِق ٍيم‬ َ

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam) benar-benar memberi


petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).

PERBEDAAN RAHMAT,TAUFIK, DAN HIDAYAH

Rahmat itu bermakna kasih sayang Allah swt terhadap seluruh hamba-hambanya dan seluruh
mahkluk ciptaanNya. Hidayah bermakna petunjuk atau bimbingan Allah bagi hamba-hambanya
yang bertawakal, taufik adalah restu Allah berupa terwujudnya amal-amal baik.