Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
Kelompok 5 A:
Musnaini 11151020000013
2018
DAFTAR ISI
A. Hasil Praktikum..................................................................................................23
B. Pembahasan ........................................................................................................24
A. Kesimpulan ........................................................................................................40
DAFTAR PUSTAKA
i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat adalah suatu zat yang dimaksud untuk manusia untuk
mengurangi rasa sakit, menghambat, atau mencegah penyakit yang
menyerangnya. Obat yang diberikan pada pasien tersebut harus melalui
banyak proses di dalam tubuh. Dan bahan obat yang diberikan tersebut,
dengan cara apapun juga harus memiliki daya larut dalam air untuk
kemanjuran terapeutiknya.
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarutan suatu zat aktif sangat
penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari
kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap
ke dalam tubuh.
Suatu bahan obat yang diberikan dengan cara apapun dia harus
memiliki daya larut dalam air untuk kemanjuran terapeutiknya. Senyawa-
senyawa yang relatif tidak dapat dilarutkan mungkin memperlihatkan
absorpsi yang tidak sempurna, atau tidak menentu sehingga menghasilkan
respon terapeutik yang minimum. Daya larut yang ditingkatkan dari
senyawa-senyawa ini mungkin dicapai dengan menyiapkan lebih banyak
turunan yang larut, seperti garam dan ester dengan teknik seperti
mikronisasi obat atau kompleksasi.
Dalam bidang farmasi, laju disolusi sangat diperlukan karena
menyangkut tentang tentang waktu yang dibutuhkan untuk penglepasan obat
dalam bentuk sediaan dan diabsorbsi dalam tubuh. Jadi, semakin cepat
disolusinya maka makin cepat pula obat atau sediaan memberikan efek
kepada tubuh.
1.2.1 Bagaimana perbedaan disolusi antara tablet lepas lambat dan lepas
cepat
2
1.2.2 Apa saja pengaruh pemberian tablet lepas lambat dan lepas cepat
pada kinetika obat dalam tubuh
3
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Disolusi
2.1.1 Definisi Disolusi
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya bagi ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh.
Sediaan obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi
padat, seperti kapsul, tablet atau salep (Ansel, 1985).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan dalam
cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara
oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-
partikel obat larut dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran lambung-
usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah medium
asam atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam
lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi
(Ansel, 1985).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran
cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya.
Kalau tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami
disintegrasi menjadi granul-granul, dan granul-granul ini mengalami
pemecahan menjadi partikel-partikel halus. Disintegrasi, deagregasi dan
disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari
bentuk dimana obat tersebut diberikan (Martin, 1993).
Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu
zat terlarut dalam pelarut tertentu setiap satuan waktu. Persamaan kecepatan
menurut Noyes dan Whitney sebagai berikut (Ansel, 1993):
4
dM.dt-1 : Kecepatan disolusi
D : Koefisien difusi
5
Umumnya semakin tinggi suhu medium akan semakin banyak zat
aktif yang terlarut. Suhu medium dalam percobaan harus dikendalikan
pada keadaan yang konstan umumnya dilakukan pada suhu 37oC,
sesuai dengan suhu tubuh manusia. Adanya kenaikan suhu selain dapat
meningkatkan gradien konsentrasi juga akan meningkatkan tetapan
difusi, sehingga akan menaikkan kecepatan disolusi (Shargel et al.,
2005).
Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat
yang bersifat endotermik serta memperbesar harga koefisien difusi zat.
Menurut Einstein,koefisien difusi dapat dinyatakan melalui persamaan
berikut (Martin, 1993):
D : koefisien difusi
r : jari-jari molekul
k : konstanta Boltzman
ή : viskositas pelarut
T : suhu
c. Medium Kelarutan
Sifat medium larutan akan mempengaruhi uji pelarutan. Medium
larutan hendaknya tidak jenuh obat. Medium yang terbaik merupakan
persoalan tersendiri dalam penelitian. Beberapa peneliti telah
menggunakan cairan lambung yang diencerkan, HCL 0,1 N, dapar
fosfat, cairan lambung tiruan, air dan cairan usus tiruan tergantung dari
sifat produk obat dan lokasi dalam saluran pencernaan dan perkiraan
obat yang akan terlarut (Shargel et al., 2005).
d. Wadah
6
Ukuran dan bentuk dapat mempengaruhi laju dan tingkat kelarutan.
Untuk mengamati kemaknaan dari obat yang sangat tidak larut dalam
air mungkin perlu wadah berkapasitas besar (Shargel et al., 2005).
2. Faktor yang berkaitan dengan sifat fisikokimia obat
Sifat-sifat fisikokimia dari obat yang mempengaruhi laju disolusi
meliputi kelarutan, bentuk kristal, bentuk hidrat solvasi dan kompleksasi
serta ukuran partikel. Sifat-sifat fisikokimia lain seperti kekentalan serta
keterbatasan atau berperan pada permasalahan yang umum pada disolusi
dalam hal terbentuknya flokulasi, flotasi dan aglomerasi (Syukri,2002).
3. Faktor yang berkaitan dengan formulasi sediaan.
Formulasi sediaan berkaitan dengan bentuk sediaan, bahan
pembantu dan cara pengolahan (prossesing). Pengaruh bentuk sediaan
pada laju disolusi tergantung pada kecepatan pelepasan bahan aktif yang
terkandung didalamnya. Secara umum laju disolusi akan menurun menurut
urutan sebagai berikut: suspensi, kapsul, tablet, dan tablet salut. Secara
teoritis disolusi bermacam sediaan padat tidak selalu urutan dan
masalahnya sama, karena di antara masing-masing bentuk sediaan padat
tersebut akan ada perbedaan baik ditinjau dari segi teori maupun peralatan
uji disolusi (Syukri, 2002).
2.1.3 Metode Penentuan Kecepatan Disolusi
Ada 2 metode penentuan kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993):
1. Metode Suspensi
Serbuk zat padat ditambahkan ke dalam pelarut tanpa pengontrolan
terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu-waktu
tertentu dan jumlah zat yang larut ditentukan dengan cara yang sesuai.
7
Prinsip kerja alat disolusi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu (Dirjen
POM, 1995) :
1. Alat terdiri dari sebuah wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau bahan
transparan yang inert, suatu batang logam yang digerakkan oleh motor
dan keranjang yang berbentuk silinder dan dipanaskan dengan tangas air
pada suhu 370C.
2. Alat yang digunakan adalah dayung yang terdiri dari daun dan batang
sebagai pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian sehingga
sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada setiap titik dari sumbu vertikel
wadah dan berputar dengan halus tanpa goyangan yang berarti.
2.1.5 Mekanisme Disolusi
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran
cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya.
Kalau tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami
disintegrasi menjadi granul-granul, dan granul-granul ini mengalami
pemecahan menjadi partikel-partikel halus. Disintegrasi, deagregasi dan
disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari
bentuk dimana obat tersebut diberikan (Martin, A., et.all.,1993)
1) Larutan dari zat padat pada permukaan membentuk lapisan tebal yang
tetap atau film disekitar partikel
2) Difusi dari lapisan tersebut pada massa dari zat cair. Langkah pertama,.
larutan berlangsung sangat singkat. Langka kedua, difusi lebih lambat dan
karena itu adalah langkah terakhir.
Adapun mekanisme disolusi dapat digambarkan sebagai berikut :
8
Difusi layer model (theori film)
Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat, atau
jika obat diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh seperti itu,
laju obat yang terabsorbsi terutama akan tergantung pada kesanggupannya
menembus menembus pembatas membran. Tetapi, jika laju disolusi untuk
suatu partikel obat lambat, misalnya mungkin karena karakteristik zat obat atau
bentuk dosis yang diberikan , proses disolusinya sendiri akan merupakan tahap
yang menentukan laju dalam proses absorbsi. Perlahan-lahan obat yang larut
tidak hanya bisa diabsorbsi pada suatu laju rendah, obat-obat tersebut mungkin
tidak seluruhnya diabsorbsi atau dalam beberapa hal banyak yang tidak
diabsorbsi setelah pemberian ora, karena batasan waaktu alamiah bahwa obat
bisa tinggal dalam lambung atau saluran usus halus. (Martin, A., et.all.,1993).
9
larutan dengan kecepatan yang seharusnya. Untuk itulah sebabnya uji disolusi
dan ketentuan uji dikembangkan bagi hampir seluruh produk tablet (Martin,
A., et.all.,1993).
10
Farmakope Indonesia. Metode dayung sangat peka terhadap kemiringan
dayung. Pada beberapa produk obat, kesejajaran dayung yang tidak tepat
secara drastis dapat mempengaruhi hasil pelarutan. Standar kalibrasi
pelarutan yang sama digunakan untuk memeriksa peralatan sebelum uji
dilaksanakan (Dirjen POM, 1995).
11
terdiri atas suatu dayung yang terdiri dari batang dan daun logam yang
merupakan satu kesatuan dapat disalut dengan suatu penyalut inert yang
sesuai (Departemen Kesehatan, 2014). Tablet atau kapsul diletakkan pada
labu disolusi terbuat dari borosilikat dan beralas bulat yang berfungsi
untuk memperkecil turbelensi dari medium disolusi. Alat ditepatkan dalam
suatu bak/ labu medium yang beruhu konstan 370C ± 0,50C. posisi dan
kesejajaran dayung ditetapkan dalam USP. Kesejajaran dayung yang tidak
tepat pada beberapa produk obat secara drastic dapat mempengaruhi hasil
disolusi. Alat ini dapat disertai sinker untuk mencegah tablet mengapung
dan membantu posisi tablet atau kapsul tetap berada dibawah dayung
(Shargel dkk.,2015).
3. Alat disolusi tipe III USP (metode reciprocating cylinder)
Alat terdiri dari rangkaian labu kaca beralas rata berbentuk silinder
yang bergerak bolak-balik. Rangkaian alat terbuat dari bahan yang sesuai,
inert dan tidak mengabsorpsi. Labu yang berisi medium disolusi tercelup
sebagian didalam suatu penangas yang sesuai dengan ukuran sedemikian
sehingga dapat mempertahankan suhu didalam wadah pada 370C ± 0,50C
selama pengujian berlangsung (Departemen Kesehatan,2014). Alat
disolusi tipe III biasanya digunakan untuk sediaan obat dengan pelepasan
termodifikasi.
12
menit. Pada metode flow through cell ini laju aliran dan denyut harus
diperhatikan (Departemen Kesehatan,2014).
5. Alat disolusi tipe V USP (metode paddle over disk)
Alat uji disolusi tipe V sangat cocok digunakan untuk sediaan
transdermal. Pada alat disolusi tipe v menggunakan labu dan dayung
seperti alat disolusi tipe II tetapi dengan penambahan suatu cakram baja
tahan karat untuk menahan sediaan transdermal pada dasar labu. Suhu
dipertahankan pada 370C ± 0,50C dan jarak antara bilah dayung dan
permukaan cakram dipertahankan pada jarak 25 mm ± 2 mm selama
penetapan berlangsung. Cakram diletakkan sedemikian rupa sehingga
permukaan pelepasan sejajar dengan bilah dayung.
6. Alat disolusi tipe VI USP (metode rotating silinder)
Sama dengan alat disolusi tipe V, alat disolusi tipe VI sangat cocok
digunakan untuk sediaan transdermal. Alat disolusi sama seperti alat
disolusi tipe I tetapi keranjang dan tangkai pemutar diganti dengan elemen
pemutar silinder yang terbuat dari baja tahan karet. Suhu dipertahankan
pada suhu 370C ± 0,50C selama penetapan berlangsung.
7. Alat disolusi tipe VII USP (metode reciprocating holer)
Alat uji disolusi tipe VII USP sangat cocok digunakan untuk
sediaan non disintegrating oral modified release atau dapat digunakan
sediaan transdermal. Alat disolusi tipe VII ini terdiri dari suatu rangkaian
wadah volumetric utuk laruan yang sudah dikalibrasi dan terbuat dari kaca
atau bahan inert yang sesuai, sebuah rangkaian motor dan pendorong
untuk menggerakkan system turun naik secara vertical dan mengarahkan
system secara horizontal otomatis ke deret labu yang berbeda jika
diinginkan, dan satu rangkaian penyangga cuplikan yang berbentuk
cakram.
2.1.8 Perbedaan Disolusi dan Difusi
Disolusi merupakan kecepatan zat aktif larut dari suatu bentuk sediaan
utuh/ pecahan/ partikel yang berasal dari bentuk sediaan itu sendiri.
Kecepatan disolusi zat aktif dari keadaan polar atau dari sediaannya
didefinisikan sebagai jumlah zat aktif yang terdisolusi per unit waktu di
13
bawah kondisi antar permukaan padat-cair, suhu dan kompisisi media yang
dibakukan (Shargel, 1988). Disolusi juga didefinisikan sebagai suatu proses
melarutnya zat kimia atausenyawa obat dari sediaan padat ke dalam
suatu medium tertentu. Ujidisolusi berguna untuk mengertahui
seberapa banyak obat yang melarut dalam medium asam atau basa
(lambung dan usus halus). Laju disolusi suatu obat adalah kecepatan
perubahan dari bentuk padatmenjadi terlarut dalam medianya setiap
waktu tertentu. Jadi disolusimenggambarkan kecepatan obat larut
dalam media disolusi. Kecepatandisolusi adalah suatu ukuran yang
menyatakan banyaknya suatu zat terlarut dalam pelarut tertentu setiap satuan
waktu.
Supaya partikel padat terdisolusi maka molekul solut pertama-tamaharus
memisahkan diri dari permukaan padat, kemudian bergerakmenjauhi
permukaan memasuki pelarut. Tergantung pada kedua proses ini dan
bagaimana cara proses transpor berlangsung maka perilakudisolusi
dapatdigambarkan secara fisika. Dari segi kecepatan disolusi yangterlibat
dalamzat murni, ada tiga dasar model fisika yang umum, yaitu:
- Model Lapisan Difusi (Diffusion Layer Model)
Model ini pertama kali diusulkan oleh Nerst dan Brunner.Pada
permukaan padat terdapat satu lapis tipis cairan dengan ketebalan,
merupakan komponen kecepatan negatif dengan arah
yangℓberlawanan dengan permukaan padat. Reaksi pada permukaan
padat-cair berlangsung cepat. Begitu model solut melewati antar muka
“liquidfilm – bulk film”, pencampuran secara cepat akan terjadi dan
gradien konsentrasi akan hilang. Karena itu kecepatan disolusi
ditentukan oleh difusi gerakan Brown dari molekul dalam liguid film.
- Model Barrier Antarmuka (Interfacial Barrier Model).
Model ini menggambarkan reaksi yang terjadi pada permukaanpadat
dan dalam hal ini terjadi difusi sepanjang lapisan tipiscairan.
Sebagai hasilnya, tidak dianggap adanya kesetimbangan padatan-larutan,
dan halini harus dijadikan pegangan dalam membahas modelini. Proses
pada antar muka padat-cair sekarang menjadi pembataskecepatan
14
ditinjau dari proses transpor. Transpor yang relatif cepatterjadi
secara difusi melewatilapisan tipis statis (stagnant).
- Model Dankwert (Dankwert Model)
Model ini beranggapan bahwa transport solut menjauhi
permukaan padat terjadi melalui cara paket makroskopik pelarut
mencapai antar muka padat-cair karena terjadi pusaran difusi secaraacak.
Disolusi suatu sediaan obat akan terjadi pada suatu mukosa untuk
kemudian dilanjutkan ke proses absorpsi. Absorpsi obat setelah penggunaan
melalui mulut dapat terjadi pada rongga mulut dan anus. Umumnya hal
penting yang diharapkan dan sebagian besar contoh adalah semakin
besarabsorbsi maka semakin baik. Maka dari itu peran disolusi
akan mempengaruhi proses absorpsi.
Sedangkan Difusi adalah pergerakan molekul suatu zat secara random
yang menghasilkan pergerakan molekul efektif dari konsentrasi tinggi
kekonsentrasi rendah (Trihandaru, 2012). Difusi juga dapat di artikan sebagai
peristiwa zat yang ada didalam pelarut berpindah atau mengalir, dari bagian
yang memiliki konsentrasi tinggi ke bagian yang memiliki konsentrasi
rendah. Proses difusi akan terus terjadi hingga semua zat tersebar secara
merata dan seimbang. Proses ini terjadi karena adanya pergerakan partikel
suatu zat cair, padat maupun gas.
2.2 Tablet
2.2.1 Definisi Tablet
Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa-cetak berbentuk rata
atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau
lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Dalam pembuatan tablet, zat berkhasiat,
zat-zat lain kecuali pelicin dibuat granul (butiran kasar), karena serbuk yang
halus tidak mengisi cetakan tablet dengan baik maka dibuat granul agar
mudah mengalir mengisi cetakan serta menjaga agar tablet tidak retak (Anief,
1994).
Selain mengandung zat aktif, dalam pembuatan tablet diperlukan
bahanbahan tambahan yaitu bahan pengisi, pengikat, penghancur, pelicin dan
pewarna. Bahan tambahan memegang peranan penting dalam pembuatan
15
tablet, di antaranya bahan pengikat. Bahan pengikat dimaksudkan untuk
menjamin penyatuan bersama dari partikel serbuk dalam sebuah butir
granulat. Kompaktibilitas tablet dapat dipengaruhi oleh tekanan kompresi
maupun bahan pengikat. Bahan pengikat yang biasa digunakan adalah gula,
amilum, gelatin, tragakan, povidon (PVP), gom arab dan zat lain yang sesuai
(Voigt, 1984).
Uji disolusi merupakan proses melarutnya suatu zat kimia atau senyawa
obat dari sediaan padat ke dalam suatu medium tertentu. Uji disolusi berguna
untuk mengetahui seberapa banyak obat yang melarut dalam medium asam
atau basa (lambung dan usus halus). Oleh karena kecepatan melarut zat aktif
seringkali 3 menjadi tahap penentu kecepatan untuk proses absorpsi, maka uji
pelarutan (dissolution test) memberikan informasi yang lebih akurat (Ansel,
1989).
2.2.2 Jenis-Jenis Tablet
Menurut Ansel (1989), ada 13 jenis tablet, yaitu:
1. Tablet Kompresi
Yaitu tablet kompresi dibuat dengan sekali tekanan menjadi berbagai
bentuk tablet dan ukuran, biasanya kedalam bahan obatnya diberi
tambahan sejumlah bahan pembantu. Bahan tambahan pembantu pada
tablet kompresi antara lain:
a) Pengencer atau pengisi, yang ditambahkan jika perlu kedalam
formulasi supaya membentuk ukuran tablet yang diinginkan.
b) Pengikat atau perekat, yang membantu pelekatan partikel dalam
formulasi.
c) Penghancur, membantu menghancurkan tablet setelah pemberian
sampai menjadi partikel-partikel yang lebih kecil.
d) Antirekat pelincir atau zat pelincir, yaitu zat yang meningkatkan
aliran bahan memasuki cetakan tablet.
e) Bahan tambahan lain, seperti zat warna dan zat pemberi rasa.
2. Tablet Kompresi Ganda
16
Yaitu tablet kompresi berlapis, dalam pembuatannya memerlukan
lebih dari satu kali tekanan. Hasilnya menjadi tablet dengan beberapa
lapisan atau tablet didalam tablet.
3. Tablet Salut Gula
Tablet kompresi ini mungkin diberi lapisan gula berwarna dan
mungkin juga tidak, lapisan ini larut dalam air dan cepat terurai begitu
ditelan. Gunanya melindungi obat dari udara dan kelembaban atau untuk
menghindari gangguan dalam pemakaiannya akibat rasa dan bau dari
bahan obat. Kerugian dari lapisan gula ini adalah pengolahannya
membutuhkan waktu dan keahlian serta menambah berat serta ukuran
tablet.
4. Tablet Diwarnai Coklat
Yaitu lapisan coklat merupakan hal yang penting dalam sejarah
karena diwaktu itu hanya coklat yang dipakai untuk menyalut dan
mewarnai tablet.
17
8. Tablet Kunyah
Tablet dikunyah lembut segera hancur ketika dikunyah atau dibiarkan
melarut dalam mulut, menghasilkan dasar seperti krim dari mannitol yang
berasa dan berwarna khusus.
9. Tablet Effervescent
Yaitu tablet berbuih dibuat dengan cara kompresi granul yang
mengandung garam effervescent atau bahan lain yang mampu melepaskan
gas ketika bercampur dengan air.
10. Tablet Triturat
Tablet ini bentuknya kecil dan biasanya silinder, dibuat dengan cetakan
atau dibuat dengan kompresi dan biasanya mengandung sejumlah kecil
obat keras. Tablet triturat harus mudah larut seluruhnya dalam air.
11. Tablet Hipodermik
Yaitu tablet yang dimasukkan di bawah kulit untuk digunakan oleh dokter
dalam membuat larutan parenteral secara mendadak.
18
sediaan padat dirancang untuk melepaskan obatnya ke dalam tubuh agar
diserap secara cepat seluruhnya. Sebaliknya, produk lain dirancang untuk
melepaskan obatnya secara perlahan-lahan supaya penglepasannya lebih lama
dan memperpanjang obatnya (Ansel et al, 1999). Tipe obat tersebut dikenal
dengan tablet atau kapsul extended release, controlled release (penglepasan
terkendali), prolonged release (penglepasan diperpanjang) atau sustained
release (penglepasan diperlambat).
Keterbatasan bentuk sediaan konvensional peroral adalah: melepaskan
secara cepat seluruh kandungan dosis setelah diberikan, konsentrasi obat
dalam plasma dan di tempat aksi mengalami fluktuasi sehingga tidak mungkin
untuk mempertahankan konsentrasi terapetik secara konstan di tempat aksi
selama waktu pengobatan, fluktuasi konsentrasi obat dapat menimbulkan
overdosis atau underdosis jika nilai Cmax dan Cmin melewati jendela
terapetik obat, hal ini dapat dilihat pada Gambar 1. Untuk obat dengan t1/2
pendek membutuhkan frekuensi pemberian lebih sering untuk
mempertahankan konsentrasi obat dalam jendela terapetik, dan frekuensi
pemberian obat yang lebih sering dapat menyebabkan pasien lupa sehingga
dapat menyebabkan kegagalan terapi (Collet and Moreton, 2002).
19
secara berangsur-angsur dan terus-menerus melepaskan sejumlah obat lainnya
untuk 6 memelihara tingkat pengaruhnya selama periode waktu yang
diperpanjang, biasanya 8 sampai 12 jam. Keunggulan tipe bentuk sediaan ini
menghasilkan kadar obat dalam darah yang merata tanpa perlu mengulangi
pemberian unit dosis (Ansel et al, 1999).
20
BAB III
METODOLOGI
3.1. Alat dan Bahan
Alat Bahan
Gelas Ukur Tablet metformin XR dan IR
alat uji disolusi HCl
Spatel monosodium hidrogen pospat
Pipet tetes Disodium higrogen pospat
Erlemeyer
Spektrofotometri
Beaker Gelas
3.2.Cara Kerja
No Cara Kerja Gambar
1. Dibuat Kurva Kalibrasi dan dicari
lambda maksimum untuk membuat
seri konsentrasi Tablet lepas lambat
(extended release) dan tables lepas
cepat (immediate Release)
21
3. Diukur menggunakan pH meter. Bila
pH kurang dari 7 dapat ditambahkan
NaOH pekat. Bila lebih dari 7 dapat
ditambahkan HCl pekat
22
konsentrasi setelah dilakukan analisis
menggunakan sektrofotometri
23
BAB IV
4.1. Hasil
Konsentrasi data
Waktu Pengenceran KonsentrasiAsli(ppm) %Disolusi
spektro(ppm)
Konsentrasi data
Waktu Pengenceran KonsentrasiAsli(ppm)
spektro (ppm)
24
20 5.25 80x 5.25 x 80 = 420
25
Menghitung % disolusi
𝐴
%Disolusi = 𝑥 100%
𝐽𝑚𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑓
Dimana:
*Jmlzataktif = 500 mg
*A perluditambahFaktorKoreksidarikonsentrasisebelumnya
26
Waktu % Disolusi
A= 103.32 mg
103.32 𝑚𝑔
%D= 𝑥 100%= 20.664%
500 𝑚𝑔
A= 210.24 mg
(210.24mg+1.148 mg)
%D= 𝑥 100%= 42.2776%
500 𝑚𝑔
A= 378 mg
(378𝑚𝑔+1.148𝑚𝑔+2.336𝑚𝑔)
%D= 𝑥 100%= 76.2968%
500 𝑚𝑔
A= 483.12 mg
(483.12𝑚𝑔+1.148𝑚𝑔+2.336𝑚𝑔+4.2𝑚𝑔)
%D= 𝑥 100%= 98.1608%
500 𝑚𝑔
A= 468.72 mg
(468.72mg+1.148𝑚𝑔+2.336𝑚𝑔+4.2𝑚𝑔+5.36𝑚𝑔)
%D= 𝑥 100%= 96.3544%
500 𝑚𝑔
A= 469.44 mg
(469.44mg+1.148𝑚𝑔+2.336𝑚𝑔+4.2𝑚𝑔+5.36𝑚𝑔+5.2𝑚𝑔)
%D= 𝑥 100%=97.54%
500 𝑚𝑔
27
A= 312.3mg
(312.3 𝑚𝑔+1.148𝑚𝑔+2.336𝑚𝑔+4.2𝑚𝑔+5.36𝑚𝑔+5.2𝑚𝑔+5.2𝑚𝑔)
%D= 𝑥 100%=
500 𝑚𝑔
67.1552%
40 9 10x 90 16.6082
28
Konsentrasi data
Waktu Pengenceran Konsentrasi Asli (ppm)
spektro(ppm)
40 9 10x 9 x10 = 90
10 38 38 x 10 = 380 µg =0.38 mg
40 90 90 x 10 = 900 µg =0.9 mg
29
60 116 116 x 10 = 1160 µg =1.16 mg
Menghitung % disolusi
𝐴
%Disolusi = 𝑥 100%
𝐽𝑚𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑓
Dimana:
*Jmlzataktif = 500 mg
*A perluditambahFaktorKoreksidarikonsentrasisebelumnya
30
Waktu % Disolusi
A= 24.75 mg
24.75mg
%D= 𝑥 100% = 4.95%
500𝑚𝑔
A= 34.2 mg
A= 56.16 mg
A=68.58 mg
A= 81 mg
31
(81 mg + 0.275 mg + 0.38 mg+0.624mg+0.762 mg)
%D= 𝑥 100% =
500𝑚𝑔
16.6082%
A= 95.94 mg
=19.7762%
A= 104.4 mg
%D=
( 104.4 mg + 0.275 mg + 0.38 mg+0.624mg+0.762mg+0.9mg+1.06mg)
𝑥 100%
500𝑚𝑔
=21.6814%
Dari data-data yang telah dicari diatas, maka untuk dibuat kurva dengan
memplotkan % Disolusi pada sumbu y danWaktu (menit) pada sumbu x.
32
Kurva %Disolusi Tablet Metformin IR
120
80 76.2968
% Disolusi 60
67.1552
40 42.2776
20 20.664
0 0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)
15
13.9718
11.363
10
6.895
5 4.95
0 0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)
4.2. Pembahasan
Suatu obat yang di minum secara oral akan melalui tiga fase: fase
farmasetik (disolusi), farmakokinetik, dan farmakodinamik, agar kerja obat dapat
terjadi. Dalam fase farmasetik, obat berubah menjadi larutan sehingga dapat
menembus membrane biologis, proses ini di sebut disolusi. Jadi, disolusi adalah
suatu proses perpindahan molekul zat dari dalam bentuk padat ke dalam bentuk
cairan (proses melarutnya suatu obat) (Shargel, 1998)
Disolusi obat merupakan proses ketika molekul obat dibebaskan dari fase
padat dan masuk ke dalam fase larutan atau proses pelarutan senyawa aktif dari
bentuk sediaan padat ke dalam media pelarut (Ansel, 1985).
33
Disolusi berguna sebagai prediksi awal untuk mengetahui absorpsi suatu
obat dan tahap penentu bagi zat aktif yang sukar larut. Disolusi dapat
mengakibatkan perbedaan aktivitas biologi dari suatu zat obat mungkin
diakibatkan oleh laju dimana obat menjadi tersedia untuk diserap
tubuh.Sedangkan laju disolusi adalah jumlah zat aktif yang dapat larut dalam
waktu tertentu pada kondsisi antar permukaan cair- padat, suhu dan komposisi
media yang dibakukan. Tetapan laju disolusi merupakan suatu besaran yang
menunjukkan jumlah bagian senyawa obat yang larut dalam media per satuan
waktu (Shargel,1998)
Uji disolusi yang diterapkan pada sediaan obat bertujuan untuk mengukur
serta mengetahui jumlah zat aktif yang terlarut dalam media pelarut yang
diketahui volumenya pada waktu dan suhu tertentu, menggunakan alat tertentu
yang didesain untuk uji parameter disolusi. Uji disolusi digunakan untuk berbagai
alasan dalam industri; dalam pengembangan produk baru, untuk pengawasan
mutu, dan untuk membantu menentukan kesetaraan hayati. Perkembangan
regulasi terbaru, seperti skema klasifikasi biofarmasetika, telah menegaskan
pentingnya disolusi dalam peraturan tentang per ubahan setelah mendapat izin dan
memperkenalkan kemungkinan mengganti uji klinis dengan uji disolusi dalam
kasus-kasus tertentu (Dressman dkk, 1998)
Pada praktikum kali ini dilakukan uji disolusi pada sediaan tablet
Metformin IR (immediate release/lepas cepat) dan tablet Metformin XR (extended
34
release/lepas lambat). Metformin. Perbedaan tablet Metformin IR dan XR yakni
ada pada segi waktu disolusi dimana untuk Metformin IR dalam waktu 30 menit
harus larut tidak kurang dari 80% C4H11N5.HCl (Metformin) dalam medium
dapar fosfat, dari jumlah yang tertera pada etiket (digunakan metformin 500 mg)
(FI V, 2014). Sedangkan untuk metformin XR dalam USP 32 dijelaskan bahwa
presentase metformin yang terdisolusi haruslah ≥ 85% setelah 12 jam dalam
medium dapar fosfat (USP 32).
Media disolusi yang digunakan dalam praktikum ini adalah dapar fosfat
yang berupa campuran monosodium hidrogen pospat dengan disodium hidrogen
pospat, pada praktikum kali ini dibuat larutan dapar fosfat sebanyak 1 liter.
Kemudaian dilakukan pengujian disolusi, diisi wadah alat uji disolusi dengan
larutan dapar/ buffer pospat 3 chamber untuk obat lepas cepat dan 3 chamber
untuk obat lepas lambat, kedalamnya dimasukan masing-masing tablet lepas cepat
dan lepas lambat, dan lakukan uji disolusi dengan pengaturan temperatur 37˚C ±
0.5˚C dan kecepatan pengadukan 100 rpm. Tiap 5, 10,20,30, 40,50,60 menit
diambil sampel larutan dapar yang telah tercamur dengan obat lepas lambat dan
lepas cepat untuk dianalisis absorbansi dan seri konsentrasi nya dengan
menggunakan spektrofotometri. Didapatkan hasil absorbansi dan konsentrasi
setelah dilakukan analisis menggunakan spektrofotometri
35
nilai disolusinya pada waktu 30 menit harus larut tidak kurang dari 80% (FI V,
2014). Sementara pada tablet Metformin XR kita masih belum dapat memastikan
karena waktu pengujian yang kurang dari waktu yang tercantum di literatur
dimana dalam USP 32 dijelaskan bahwa nilai disolusi Metformin XR pada waktu
setelah 12 jam harus sebesar >85% dimana pengujian kita hanya selama 1 jam dan
didapat nilai % disolusinya sebesar 21%, butuh pengujian lebih lama lagi untuk
memastikan nilai % disolusi untuk Metformin XR ini
Untuk % disolusi Metformin IR jika dibandingkan dengan jurnal yang telah ada
sendiri didapat pada kurva berikut
67.1552
60
40 42.2776
20 20.664
0 0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)
36
Kurva %Disolusi Tablet Metformin XR
25
21.6814
20 19.7762
16.6082
% Disolusi
15
13.9718
11.363
10
6.895
5 4.95
0 0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (Menit)
Dari kedua kurva diatas dapat dilihat bahwa dioslusi hasil pengujian pada
menit awal sesuai dengan jurnal (Sari, Saifullah, dan Okti. 2013) dimana pada
menit-menit awal obat terdisolusi dengan baik dan cepat dengan obat saat tersebut
sedang mengalami fase disintegrasi dan disolusi.
37
sampel, karena obat selalu diambil saat telah mencapai %terdisolusi 98% dan
medium selalu diganti sesuai sample, menyebabkan konsentrasi obat yang sudah
terdisolusi nyaris seluruhnya menjadi sedikit akibat sampling dan tidak adanya
lagi obat yang terdisolusi.
38
Hal ini juga sesuai dimana didapat hasil nilai % disolusi praktikum untuk
Metformin XR ini pada waktu 1 jam sebesar 21 %, masuk rentang nilai standar di
USP 32 yakni 20-40%. Dengan demikian bila dibanding dengan harga %
terdisolusi praktikum pada menit ke 60 yang mana adalah 21% maka masuk
kedalam range persyaratan USP untuk Metformin extended release yamg
mengharuskan tablet MXR terdisolusi 20%-40% pada 60 menit pertamanya
39
BAB 5
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Uji disolusi yang diterapkan pada sediaan obat bertujuan untuk mengukur
serta mengetahui jumlah zat aktif yang terlarut dalam media pelarut yang
diketahui volumenya pada waktu dan suhu tertentu, menggunakan alat
tertentu yang didesain untuk uji parameter disolusi
Sampel yang digunakan pada praktikum ini yakni Metformin immediate
release (IR) dan Metformin extended release (XR)
Pada Metformin IR nilai % dioslusi sesaui dengan literature yang ada
yakni 98,16 % pada waktu menit ke-30 dimana dalam Farmakope
Indonesia V tahun 2014 dijelaskan bahwa nilai disolusi Metformin IR
setelah 30 menit harus larut tidak kurang dari 80%. Namun kurva pada
praktikum sedikit tidak sesuai dimana di menit-menit akhir (menit 30-40-
50) menglami fluktuasi yang disebabkan oleh beberapa hal seperti faktor
pengenceran ataupun kurang tepat saat pengambilan sampel uji dari
praktikan
Sedangkan pada Metformin XR didapat nilai % disolusi pada menit ke 60
sesuai dengan literatur yang tercantum dalam USP yakni 20-40% dimana
hasil nilai % disolusi praktikum sebesar 21%.
5.2. Saran
40
DAFTAR PUSTAKA
Collett, J., and Moreton, C., 2002, Modified – release Peroral Dosage Form,
dalam Aulton, M. E., Pharmaceutics: The Science Of Dosage Form Design,
Edisi II, Churchill Livingstone, Edinburg – Londion – New York –
Philadelphia – St Louis Sydney – Toronto, 289-305
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia edisi V.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Isnawati, A., 2003, Profil Disolusi dan Penetapan Kadar Tablet Kotrimoksazol
Generic Berlogo dan Tablet Dengan Nama Dagang, Media Litbang
Kesehatan ; XIII (2): 21.
Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014. Jakarta : Kemenkes RI;
2015.
Lachman, Leon, 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri II,
Universitas Indonesia Press, Jakarta
Lordi, N.G. Sustained Release Dosage Form. Dalam: Lachman, Leon, Herbert A.
Lieberman, dan joseph L. kanig. The Theory and Practice of Industrial
Pharmacy. Lea & Febringer, Philadelphia.1986: 314-320, 430-431
Martin, Alfred, 1993. Farmasi Fisik. Universitas Indonesia Press: Jakarta
41
Nanjwade , Basavaraj K., Sunil R Mhase dan FV Manvi. 2011. Formulation of
Extended-Release Metformin Hydrochloride Matrix Tablets. Nigeria:
Tropical Journal of Pharmaceutical Research August 2011; 10 (4): 375-383
© Pharmacotherapy Group
42