Anda di halaman 1dari 38
Hukum Acara Tata Usaha Negara 09/070 Pemeriksaan 09/073 Acara Penyampingan Gugatan Pengertian “rapat Permusyawaratan” dalam pasal 62 (1) UU No. 3 Tahun 1986 diartikan sebagai “raad kamer”, dalam pemeriksaan kamar tertutup, dilakukan oleh Ketua Pengudilan tanpa adanya proses antar pihak-pihak dan tanpa dilakukan pemeriksaan di muka umum, hal mana sesuai dengan maksud dan hakekat acara singkat dalam proses dismissal procedure. Hukum Tata Usaha Negara 04/010 Keputusan Tata Usaha Negara 04/011 Pengertian Keputusan Tata Usaha Negara. 04/030 Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara 04/031 Pengertian Pejabat Tata Usaha Negara Tindakan-tindakan hukum yang berkaitan dengan eksekusi perkara Perdata adalah termasuk kualifikasi “justitiele daad” yang mengandung sifat tehnis Peradilan, dan bukannya merupakan “Administratieve daad” yang mengandung sifat Urusan Pemerintahan dalam arti eksekutif. Kualitas Tergugat Asal (Ketua Mahkamah Agung) di dalam menerbitkan kedua surat a quo (surat Mahkamah Agung kepada Pengadilan Negeri untuk penundaan eksekusi) yang digugat dalam perkara ini, adalah bukan sebagai Pejabat Tata Usaha Negara, tetapi sebagai pejabat Kekuasaan Kehakiman yang menjalankan fungsi pengawasan terhadap Pejabat- pejabat kekuasaan Kehakiman bawahannya dalam bidang tehnis yuridis, yang buken merupakan kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara untuk mengujinya. 353 Penetapan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta tgl. 27-7-1993 No. 076/G/1993/PEND/PTUN.Jakarta. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA KETUA PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA; Setelah membaca surat gugatan yang diajukan oleh pihak Penggugat, tertanggal 28 Juni 1993, yang terdaftar pada Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, tertanggal 1 Juli 1993, di bawah Register Perkara Nomor : 076/G/1993/Pend/PTUN. JKT dan setelah gugatan tersebut menempuh suatu proses penelitian administrasi seperti tercatat dan sebagai berkas berita acara perkara Tata Usaha Negara ini; Menimbang, bahwa Drs. RJ. Kaptin Adisumarta, kewarganegaraan Indonesia, alamat Jalan Wusiryo No. 31 Menteng Jakarta Pusat, pekerjaan Direktur PT. Baskara Cahya Mas, yang dalam hal ini mengambil domisili di kantor Pengacara & Penasehat Hukum: Justiciabel, denan diwakili oleh kuasanya : 1. Comdr. Prof. Dr. Marthin Thomas, SH., PhD., MBA, KTj; 2. Dominggus Maurits Luiman, SH. 3. Gelora Tarigan, SH. dengan alamat Jalan Sukarjo Wiryopranoto No. 97B Jakarta Barat, atas dasar Surat Kuasa tertanggal 1 Juni 1993, yang telah memenuhi persyaratan menurut hukum dan terlampir dalam dan sebagai berkas Berita Acara Pemeriksaan perkara Tata Usaha Negara ini, yang untuk selanjutnya disebut sebagai pihak Penggugat; Dengan suratnya tersebut hendak mengajukan gugatan terhadap : Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, alamat Jalan Medan Merdeka Utara No. 13 Jakarta Pusat, yang untuk selanjutnya disebut sebagai pihak Tergugat; Menimbang, bahwa gugatan yang diajukannya tersebut berbunyi/terurai sebagai berikut : I, Alasan Gugatan : 1. Isi Gugatan a. Bahwa penggugat merasa “kepentingan dirugikan” oleh suatu putusan tertulis Tata Usaha Negara (Surat Penuridaan Eksekusi), yang dilakukan oleh Tergugat terhadap penggugat, atas putusan Mahkamah Agung No. 3619 K/Pdt/1988 tanggal 8 Juni 1992, yang 354 telah mempunyai “kekuatan hukum tetap dan kekuatan executorial”, 4 b. Bahwa menurut “asas umum eksekusi”, yang dapat Penggugat tarik dari ketentuan Pasal 195 ayat (1) dan Pasal 224 HIR, yang dapat “menunda suatu eksekusi” hanya melalui suatu “perdamaian” sebagaimana diatur “perdamaian” itu menurut Pasal 1851 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) antara pemohon eksekusi dan tereksekusi, atau karena “kesukarelaan tereksckusi” untuk melaksanakan putusan yang tercantum dalam amar putusan yang telah mempunyai “kekuatan hukum tetap” atau dengan sukarela mentaati dan memenuhi segala isi amar putusan yang menghukum tereksekusi. 2. Surat Penundaan Eksckusi Ketua Mahkamah Agung. a. Bahwa Ketua Mahkamah Agung (Tergugat), telah mengeluarkan “Surat Penundaan Eksekusi”, atas putusan Mahkamah Agung No. 3619 K/Pdt/1988 tanggal 8 Juni 1992, yang telah mempunyai “kekuatan hukum tetap” masing-masing sebagai berikut : 1. Surat permohonan penundaan pelaksanaan putusan Mah-kamah Agung No. 3619 K/Pdt/1988 tanggal 8 Juni 1992, dengan surat No. KMA/420/1V/1993 tanggal 2 April 1993, yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (vide bukti P- 1. 2. Surat permohonan penangguhan/penundana ~-pelaksanaan eksekusi putusan Mahkamah Agung No. 3619 K/Pdt/i98g tanggal 8 Juni 1992, dengan Surat No. KMA/420/1V/1993 tanggal 2 april 1993, yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (vide bukti P-2). , Bahwa “kedua Surat Penundaan Eksekusi” tersebut di atas yang dikeluarkan oleh Ketua Mahkamah Agung (Tergugat), “tidak” disertai alasan-alasan “extraordinary condition”, yang bersifat “kasuistis dan eksepsional”, karena alasan seperti ini sangat “efektif bobotnya” untuk “menunda eksekusi”. Melainkan di.dalam “kedua Surat Penundaan Eksekusi” termaksud, hanya berisi alasan-alasan yang bersifat “umum” (generalis) atau. bersifat “klasik” yang tidak relevan untuk menunda eksekusi putusan Mahkamah Agung No. 3619 K/Pdt/1988 tanggal 8 Juni 1992, yang telah. mempunyai “kekuatan hukum tetap”, yang seharusnya “ditolak” oleh Ketua Mahkamah Agung (Tergugat) berdasarkan Pasal 5 Bab II Peraturan 355