Anda di halaman 1dari 18

REKAM MEDIS

A. Anamnesis

 

1.

Identifikasi :

Nama

: Ny. SUN

Umur

: 24 tahun

MR/Reg

: 1017631

Alamat

: Jln.Taman Murni No.937 Alang-Alang Lebar Palembang

Poliklinik

: 26 November 2018

2.

Riwayat perkawinan :

Menikah 1x, lamanya 1,5 tahun

3.

Riwayat Persalinan :

 

1.

Hamil ini.

4.

Riwayat reproduksi :

 

Menarche 12 tahun, siklus teratur 28 hari, lama 4 hari, HPHT 01-07-2018

5.

Riwayat penyakit :

 

1.R/ Morus Hansen tahun 2012 dengan pengobatan ROM selama 8 bulan tahun 2012 Dan Dinyatakan Release from Treatment/Sembuh

2.Morbus Hansen kembali kambuh tahun 2017 dan mendapatkan obat sampai agustus 2018.Pengobatan selesai.Os disarankan kontrol ke Bagian DV 6 bulan sekali

6.

Riwayat Antenatal care : -

 

7.

Riwayat sosio ekonomi/gizi: sedang

8.

Anamnesis khusus (autoanamnesa)

Keluhan utama : Hamil muda dengan riwayat Morbus Hansen

Os

datang

ke

poliklinik

Dermatologi

untuk

kontrol

Penyakit

Morbus

Hansen.Os kemudian mengaku hamil,lalu dikonsulkan ke poli obstetri dan ginekologi dengan diagnosa G1P0A0 hamil 16 minggu dengan Riwayat morbus Hansen Intrauterine .Os mendapatkan obat dari dermatologi,Ibuprofen 200 mg/ 8 jam. Benjolan dileher (-), riwayat berdebar-debar (-), riwayat tangan gemetar (-), napsu makan biasa, berat badan menurun (-), mual dan muntah (-). Os tidak

berobat. Riwayat perut mulas menjalar ke pinggang (-), Riwayat keluar darah lendir (-). Riwayat keluar air-air (-). Os mengaku hamil kiurang bulan

  • B. Pemeriksaan Fisik

    • 1. Status present

KU : sakits sedang

TD

: 110/80 mmHg

T

:36,8C

Sens: compos mentis

Nadi

: 80 x/m

RR : 20 x/m

TB : 150 cm

BB

: 41 kg

  • 2. Status general Kepala : Konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), stomatitis (- )Leher: JVP (5 - 2) cm H 2 O, pembesaran KBG (-), pembesaran tiroid (-) Thoraks :

Cor :

I : iktus cordis tidak terlihat

P : iktus cordis tidak teraba P :batas jantung dalam batas normal A : Hr : 80x/m regular, murmur (-), gallop (-) Pulmo:I : Statis dinamis kanan -kiri P : Stem fremitus kanan = kiri P : Sonor di kedua lapangan paru A : Ventrikular (+/+) normal. ronkhi (-/-),Wheezing (-/-) Ekstremitas inferior: edema pretibial (-/-)

  • 3. Status obstetri PemeriksaanLuar:

Tinggi fundus uteri 1/2 pusat-symphisis (10 cm),ballotemen eksterna (-),His (-)

Pemeriksaan Dalam:

VT dan inspekulo tidak dilakukan

(+),NT

Hasil Pemeriksaan USG

Tanggal 26-11-18

Dari Pemeriksaan USG didapatkan:

Tampak janin tunggal hidupintrauterine

 

Biometri Janin:

o

BPD: 4,7 cm

AC: 15,2 cm

EFW: 350 g

o

HC: 18,3 cm

FL: 3,4 cm

Plasenta di corpus posterior

 

Cairan ketuban cukup Kesan: Hamil 16 minggu JTH intrauterine

Tanggal 26-11-18 Dari Pemeriksaan USG didapatkan:  Tampak janin tunggal hidupintrauterine  Biometri Janin: o BPD:
Gambar 1. USG Ny. SUN C. Diagnosis: G P A hamil 16 minggu dengan Riwayat Morbus

Gambar 1. USG Ny. SUN

  • C. Diagnosis: G 1 P 0 A 0 hamil 16 minggu dengan Riwayat Morbus Hansen janin tunggal hidup intrauterine

  • D. Terapi

    • - Obs. TTV, His

    • - Check laboratorium DR,Kimia Darah,Cek BTA

    • - Kontrol ulang ANC 4 minggu

-

T/Lain Sesuai TS DV

  • E. Hasil pemeriksaan laboratorium 26 November 2018 pukul 14.10 WIB

  • Darah rutin

Hb

Eritrosit

Leukosit

Trombosit

: 10.6 g/dL : 4.18 x 10 6 /L : 11.3 x 10 3 /L

:294x 10 3 /L

(11.40 15.0 g/dL) (3.8 5.2 10 6 /L) (3.6 11 10 3 /L) (150 440 10 3 /L)

Hematokrit

: 31%

(35-47%)

Hitung Jenis

:

Basofil

: 0

(0-1%)

Eosinofil

:

1

(1-6%)

Netrofil segmen

: 72

(50-70%)

Limfosit

: 19

(20-40%)

Monosit

: 8

(2-8%)

  • Kimia Klinik Metabolisme Karbohidrat

Glukosa sewaktu

: 82 mg/dL

<200 mg/dL

  • F. FOLLOW UP

I.

PERMASALAHAN

1.Bagaimana diagnosa Morbus Hansen pada pasien ini? 2.Apa sajakah komplikasi kehamilan yang dapat terjadi pada pasien dengan Morbus Hansen? 3.Bagaimanakah penatalaksanaan kehamilan dan persalinan pada pasien ini?

II.

ANALISIS KASUS 1. Bagaimana cara mendiagnosis morbus hansen pada pasien ini?

Diagnosis Lepra biasanya dapat dibuat dengan pemeriksaan fisik yang ditunjang dengan pemeriksaan BTA. Ada kalanya pemeriksaan lain juga dibutuhkan. TANDA KARDINAL KUSTA yaitu :

  • 1. Anastesia, ini mungkin dari lesi kulit individu, atau pada distribusi nervus perifer yang besar, seperti pada tuberculoid leprosy, atau mungkin melibatkan daerah saraf kecil pada lepromatous leprosy, diawali dengan permukaan ekstensor lengan dan kaki, tangan dan telapak kaki.

  • 2. Penebalan saraf, pada sisi dari predileksi

  • 3. Lesikulit, karakteristik yang penting dari lesi tuberculoid leprosy pada kulit gelap adalah hipopigmentasi, apakah mereka makula atau infiltrat. Pada kulit terang berwarna tembaga atau merah.

  • 4. Bakteri tahan asam pada pemeriksaan kulit pada lesi lepromatous dan

borderline. Minimal dua dari tiga tanda cardinal yang pertama atau yang

keempat harus ditemukan, untuk menegakkan diagnosis kusta.

DIAGNOSIS LABORATORIUM Sediaan hapusan kulit Hapusan dibuat dari lesi yang dicurigai serta dari sisi yang biasa terkena pada lepromatous leprosy, biasanya cuping hidung, dahi, dagu, permukaan ekstensor lengan, permukaan dorsal jari tangan, bokong, dan badan. Kulit dibersihkan dengan alcohol atau eter. Bila ada kecurigaan pasien dengan positif HIV, WHO merekomendasikan harus menggunakan sarung tangan saat mengambil

hapusan. Pada lipatan kulit adalah dengan mengangkat jari telunjuk dan ibu jari dan diperas kuat untuk mencegah aliran darah. Sayatan kecil dibuat ke dalam dermis dengan pisau bedah steril yang kecil dan tajam (disarankan menggunakan bard-parker nomor 15). Mata pisau diputar sampai 90 derajat dan gunakan untuk mengikis permukaan potongan jaringan. Begitu diperoleh getahnya kemudian dioleskan ke kaca obyek dan dibiarkan kering. Hapusan darah, tidak berharga. Enam sampai delapan hapusan mungkin ditempatkan secara transversal pada obyek glass yang sama. Standarisasi slide digunakan dengan menggunakan tempat obyek glass untuk memegang selama dibuat hapusan di bawah dari tempat adalah kertas berwarna putih di mana garis enam sampai delapan ditandai dan tiap sisi dilakukan hapusan sepanjang garis dalam urutan yang ditetapkan. Ini membantu dalam kecepatan pemeriksaan sebagai salah satu satu tahapan pada semua hapusan yang sering cukup adekuat untuk menyeleasikan indeks basil dan indeks morfologi. Hapusan hidung dibuat dari segala sisi infiltrasi pada rongga hidung. Dengan menggunakan spekulum dan pencahayaan yang baik pada hidung adalah periksa dengan hati hati, dan gores lesi dengan cara mendatar atau dengan spatula. Di tempat hapusan hidung yang standar, pemeriksaan hapusan kerokan hidung sangat bermanfaat. Cairan hidung atau mucus diperoleh dengan mengeluarkan ingus pada plastik polyethilen dan secepatnya buat hapusan mukus, pewarnaan darah jika memungkinkan, pada slide yang terpisah. Ini tidak cukup membantu prosedur diagnositik, tapi dengan memperkirakan indeks morfologi. Sebagai bantuannya menentukan apakah seseorang terinfeksi. Slide dipanaskan untuk memfiksasi hapusan setelah hapusan kering, dan diwarnai dengan metode Zeihl Neelsen’s. Basil lepra tidak terlalu tahan asam seperti basil tuberkulosa. Modifikasi yang tepat pada metode ini untuk mencegah pentingnya pemanasan slide. Pada lepromaous leprosy lanjutan indeks bakteri adalah 5+ atau 6+, dan mulai turun setelah 1 tahun pengobatan. Pada cuping telinga pasien yang tidak mendapat pengobatan sering memberikan jumlah basil yang terbanyak. Pada permukaan dorsal tangan pasien yang mendapat pengobatan sering pada sisi terakhirmenjadi negatif.

Indeks menurun di antara rentang 0 sampai 2+ pada kusta tipe BT (gambar 4.9). Pemeriksaan hapusan kulit negative pada kusta tipe TT. Pemeriksaan hapusan kulit

hanya bida mendeteksi kuman basil yang konsentrasinya lebih dari 10 4 per gram kulit, dan juga tidak bisa digunakan untuk pemeriksaan pengobatan. Yang sama pentingnya adalah indeks morfologi, dengan presentasi dari kuman basil yang utuh saat diwarnai. Kuman basil yang diwarnai bentuk ireguler atau patah patah atau terfragmentasi adalah mati. Indeks morfologi ini merupakan indeks yang cukup berguna untuk melihat perkembangan pengobatan dan berubah cepat dari pada indeks bakteriologis. Pada lepromatous leprosy ini menurun sekitar 5 20% dari angka awal sampai nol setelah lima sampai enam bulan pengobatan tidak terputus dengan dapson, atau setelah lima minggu dengan rifampisin. Indeks morfologi meningkat setelah menurun menandakan bahwa pasien tidak minum obat atau kuman basil sudah resisten terhadap obat tersebut.

Histologi

Biosi kulit diindikasikan jika diagnosis meragukan, ini mungkin pada kusta tipe indeterminate leprosy. Biopsi cabang saraf kulit mungkin dapat mengkonfirmasi diagnosis neural leprosy pada presentasi lesi kulit. Biopsi kulit dibutuhkan untuk

klasifikasi yang tepat untuk kusta dan digunakan untuk membedakan antara penurunan dan pembalikan pada reaksi tipe 1 dan antara relaps dan reaksi setelah penghentian pengobatan pada borderline leprosy Bahan biopsi yang terbaik difiksasi pada FMA fiksatif (40% formaldehid 10 ml, mercuric chloride 2 g, asam asetat glacial 3 ml, air sampai 100 ml) untuk 2 jam dan kemudian dipindah ke dalam alkohol 70%. Untuk alternative bisa digunakan buffer formol saline sampai pH 7.0. irisan biasanya diwarnai dengan haematoxylin dan eosin untuk histologi, dan dengan metode fite- faraco untuk kuman basil.

Serodiagnosis

Pemeriksaan serologi spesifik untuk kustasekarang lebih mungkin untuk diidentifikasi :

1. Orang yang telah terinfeksi M.leprae. sebagian besar tidak berkembangan menjadi penyakit klinis

2. Orang dengan awal, subklinik lepromatous leprosy, di mana

mempunyai titer antibodi tinggi terhadap phenolic glycolipid I dan arabinomannan, dan di mana antigen M.leprae pada serum dan urin terdeteksi.

Pemeriksaan ini terbukti berguna untuk studi epidemiologi dan menemukan tempat di skema control, tapi sampai sekarang belum diaplikasikan dalam klinis dan diagnosis banding untuk kusta.

PEMERIKSAAN KULIT

Tes lepromin

Ini bukan pemeriksaan diagnostic untuk kusta : banyak orang yang tidak pernah terpapar infeksi M.leprae (sebagai contoh di Inggris) memilki reaksi Mitsuda positif. Tes ini positif untuk kasus seperti kusta tipe TT dan BT dan juga membantu dalam beberapa klasifikasi, tes ini negatif pada kusta tipe LL, BL, dan biasanya pada kusta tipe BB. tes positif pada kasus yang dicurigai inderteminated leprosy tidak termasuk diagnosis kusta atau diindikasikan bahwa penyakit ini menjadi tubeculoid leprosy. Ini mungkin digunakan dalam menilai pergeseran arah imunologi pda kusta tipe BT.

Tes histamin

Respon wheal dan flare terhadap histamine merupakan produk akhir dari reflek lokal dimana tergantung integritas serabut saraf simpatik. Jika bercak hipopigmentasi disebabkan karena kusta respon kulit terhadap histamine akan ditunda, berkurang atau tidqak ada.

Teteskan 0.001% asam histamine fosfst di tempat lesi yang dicurigai dan teteskan di tempat kulit normal. Kulit ditusuk dengan jrum pada tiap tetesan tadi dan atur waktunya, intensitas dan luasnya flare yang muncul selama 10 menit berikutnya dicatat. Pada kulit gelap tes ini sulit dibaca.

Tes pilocarpin

Berkeringat tergantung pada integritas dari serabut saraf parasimpatik. Bila bercak hipopigmentasi disebabkan oleh kusta respon kelenjar keringat terhadap obat kolinergik akan berkurang. Suntik 0.1 ml pilocarpin 0.06% intradermal pada bercak dan pada kulit yang normal sebagai control. Respon kelenjar keringat dinilai secara visual, atau lebih akurat dengan

perubahan bubuk quinizarin dari putih ke biru dimana bubuk ditaruh pada daerah yang dilakukan tes dan dapat dicat dengan larutan yodium dan dibiarkan kering sebelum disuntikkan pilocarpindan kemudian

taburi dengan bubuk pati; keringat akan membuat bubuk menjadi biru. Tes histamin dan pilocarpin jarang dibutuhkan. Tes yang simpel dan lebih prkatis dilakukan adalah dengan pasien olah raga di bawah sinar matahari dan lihat apakah bercak itu berkeringat atau tidak.

2.Apa sajakah komplikasi kehamilan yang dapat terjadi pada pasien dengan morbus hansen?

Efek Morbus Hansen pada kehamilan 11,12 Hipotiroid baik bermakna maupun subklinis (kadar TSH melebihi batas atas dengan kadar FT4 yang normal), memiliki efek selama kehamilan dan juga pada perkembangan janin.Perbedaan sedikit saja pada konsentrasi hormon tiroid selama kehamilan dapat menyebabkan perubahan signifikan kecerdasan anak.Kadar hormon tiroid yang rendah selama kehamilan dapat menyebabkan keterlambatan fungsi kognitif verbal dan nonverbal pada masa awal kanak-kanak, defek psikomotorik, dan bahkan retardasi mental. Hipotiroid yang tidak terdiagnosis hingga trimester pertama berisiko tinggi penurunan fungsi intelektual dan kognitif bagi anak.Hipotiroid berat pada ibu, berhubungan dengan kerusakan perkembangan intelektual anak diduga akibat suplai transplasenta yang tidak adekuat selama kehamilan. Hipotiroksinemia pada ibu terbukti dapat meningkatkan resiko keterlambatan fungsi kognitif verbal dan nonverbal pada saat usia awal anak-anak. Kadar TSH ibu pada awal kehamilan tidak berhubungan dengan efek keterlambatan fungsi kognitif pada anak walaupun merupakan indikator kurangnya fungsi tiroid ibu selama kehamilan. Selain itu, terdapat hubungan antara hipotiroid dengan penurunan fertilitas.Wanita hamil yang memiliki hipotiroid memiliki resiko lebih tinggi mengalami komplikasi obstetri seperti abortus, lahir mati, anemia, hipertensi dalam kehamilan, solusio plasenta, perdarahan post partum.

2

Efek kehamilan terhadap myopia 13,14 Keberadaan reseptor estrogen telah dijadikan sebagai penyebab modifikasi fisiologis di kornea dan lensa selama kehamilan, sering mengarah kepada derajat miopi dan defisiensi akomodasi. Kornea mengalami peningkatan pada ketebalan centralnya antara 1and 16 μm yang dikarenakan edema kornea terhadap retensi cairan dalam kehamilan. Terdapat bukti bahwa selama kehamilan kornea menebal akibat hidrasi stroma yang berlebihan yang dikarenakan aktivasi reseptor estrogen dan karena pengaruh hormon-hormon tersebut terhadap elastisitas dan biomekanik jaringan kornea. Beberapa penulis mempelajari perubahan refaksi selama kehamilan dan menemukan bahwa sekitar 14% dari wanita hamil mengalami beberapa perubahan pada ketajaman visualnya, kesalahan refraksi dan peralihan miopi, perubahan-perubahan yang akan kembali kepada level sebelum kehamilan dalam beberapa bulan setelah persalinan. Peralihan miopia disebabkan karena peningkatan kurvatur lensa, sedangkan perubahan refraksi terjadi dikarenakan adanya perubahan pada kurvaktur kornea atau penebalan dan/atau robekan selaput.

Kompilikasi kehamilan pada myopia:

Pada kebanyakan wanita, akan terjadi penurunan sensitivitas kornea saat kehamilan namun akan kembali normal hingga 8 minggu post partum. Hal ini dapat dihubungkan dengan peningkatan ketebalan kornea yang menyebabkan edema pada kornea. Peningkatan kelenturan lensa pun terjadi sehingga terjadi pergeseran refraksi terutama myopia. 15,16 Miopi patologis biasanya didefinisikan sebagai ekuivalen spheris > 6.00 diopters atau panjang aksial bola mata >26.5 mm. Pasien-pasien dengan miopi axial tinggi

berada pada resiko yang lebih besar mengalami degenerasi retina progresif atau kelainan patologi pada mata lainnya. Komplikasi retina karena miopia berat yang dapat menyebabkan kebutaan antara lain : ablasi retina, degenerasi retina, perdarahan retina, dan lain-lain. Pasien dengan miopi berat (spheris minimal -6.0 D) lebih rentan terhadap kelainan okular. Prevalensi glaukoma lebih tinggi pada orang dewasa dengan miopi, dan resiko kelainan chorioretinal seperti ablasi retina, atrofi

3

korioretina meningkat sesuai dengan tingkat keparahan miopi dan panjang aksial bola mata. 13

3. Bagaimana penatalaksanaan morbus hansen selama kehamilan dan persalinan pada pasien ini?

Pengobatan hipotiroid selama kehamilan

Levotiroksin adalah terapi pilihan jika status nutrisi iodin tidak adekuat. Wanita hamil hipotiroid memerlukan dosis tiroksin lebih besar, dan wanita yang sudah menerima terapi tiroksin sebelum hamil memerlukan peningkatan dosis harian, biasanya 30-50% di atas dosis sebelum konsepsi. Pengobatan sebaiknya dimulai dengan dosis 100-150 µg perhari atau 1.7-2.0 µg per kg berat badan saat tidak hamil, dengan peningkatan dosis hingga 2.0-2.4 µg per kg berat badan saat hamil. Kadar serum FT4 dan TSH sebaiknya diukur 1 bulan setelah mulai terapi.Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan FT4 dan TSH normal selama kehamilan.

Pengobatan myopia saat kehamilan Pada saat kehamilan, terjadi peningkatan ketebalan kornea yang menyebakan edema kornea atau bahkan perubahan pada lapisan retina. Peningkatan kelenturan lensa pun terjadi sehingga terjadi pergeseran refraksi terutama myopia. Penggunaan kontak lens dan kaca mata pada wanita saat kehamilan dan beberapa minggu post partum dapat menjadi pilihan untuk masalah refraksi. Namun, untuk operasi mata pada kelainan refraksi sebelum proses kelahiran, disarankan untuk ditunda hingga refraksi pada mata stabil post partum. 16 Managemen kelahilan perlu diperhatikan pada wanita yang memiliki resiko tinggi seperti myopia berat dan ablasio retina. Disarankan untuk melakukan induksi persalinan untuk meminimalisir durasi persalinan atau persalinan dengan alat bantu dan pada beberapa kasus dilakukan SC. Pada beberapa literature terdapat efek yang relevan antara persalinan dengan perubahan pada retina. Neri dan rekan-rekan dalam Esther, P. menyebutkan , tidak ada perubahan retina yang signifikan pada wanita

4

dengan tingkat myopia 4.5 15 D dengan pemeriksaan funduskopi saat pre dan post persalinan spontan, walaupun terjadi degenerasi pada retina. 17 Pada kasus glaucoma, miopia, retina degenerasi dan ablasio retina seringkali dilakuan tindakan SC. Hal ini dikarenakan, pada wanita dengan glukoma akan terjadi peningkatan tekanan intraocular dan potensi pengurangan perfusi akibat maneuver valsava selama proses persalinan normal berlangsung, sekitar 4-12 mmHg. Pada fluktuasi tekanan bola mata ini, akan terjadi kerusakan saraf optik. Untuk wanita dengan myopia berat, degenerasi retina atau riwayat ablasio retina, studi mengatakan tidak ada hubungan antara persaliana pervaginam dengan penyakit tersebut, namun pada permasalahan refraksi atau vitreus retina diperlukan intervensi lebih lanjut. 18 Sekitar 0.6 % dari dokter kandungan dan 73% dokter mata merekomendasikan lahiran secara pervaginam. Chiu dan kolega mengadakan survey pada 2015 pada dokter mata dan dokter kandungan, wanita melahirkan secara pervaginam memiliki resiko untuk rhegmatogenous retinal detachment termasuk myopia. Sebanyak 34 % obstetrician-gynecologists merekomendasikan SC atau melahirkan pervaginam dengan alat bantu. 17,19 Menurut literatur, persalinan pervaginam tidak berubungan dengan ablasi retina baru pada wanita dengan miopia berat. Hannah dan rekan-rekan melakukan survey terhadap dua spesialisasi yaitu optamologi dan obstetri, untuk menilai rekomendasi mereka terhadap jenis persalinan apa yang aman bagi wanita dengan resiko tinggi ablasi retina (miopia berat, riwayat operasi retina, riwayat kerusakan retina atau ablasi retina). Mereka menyimpulkan bahwa dokter kandungan mungkin merekomendasikan intervensi bedah yang tidak perlu terhadap para wanita tersebut. Terdapat beberapa indikasi tindakan SC pada kelainan mata diantaranya miopia, retinopati, galukoma, dan ablasio retina. Dalam hal ini, diperlukan intervensi unutk mencegah komplikasi lebih lanjut yang dapat terjadi. 20,21

5

6

KESIMPULAN

  • 1. Hormon tiroid berfungsi mengatur aktivitas metabolik dan seluler, memelihara

keseimbangan hormon tiroid dalam batas normal selama kehamilan sangat penting untuk mencegah dampak buruk.

  • 2. Akan terjadi penurunan sensitivitas kornea dan peningkatan kelenturan lensa pun

terjadi sehingga terjadi pergeseran refraksi terutama myopia saat kehamilan

  • 3. Penggunaan kontak lens dan kaca mata pada wanita saat kehamilan dan beberapa

minggu post partum dapat menjadi pilihan untuk masalah refraksi

7

Referensi

  • 1. Laksmi, P, Mansjoer A, Alwi I.Penyakit-penyakit Pada Kehamilan: Peran Seorang Internis.

Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2014. Hal 359

  • 2. Kariadi S. Disfungsi tiroid pada kehamilan. In: Djokomoeljanto, editor. Buku ajar tiroidologi

klinik. Semarang. Pusat Penerbit Diponegoro: 2007

3.Semiardji G. Penatalaksanaan hipertiroidisme dan hipotiroidisme pada kehamilan. Naskah lengkap penatalaksanaan penyakit-penyakit tiroid bagi dokter. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit; 2008.

  • 4. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL et al. Obstetri

Williams. Tiroid dan Penyakit Endokrin Lain.Edisi 23 Volume 2. New York, McGraw Hill. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal 1050

  • 5. Purnamasari D, Subekti I, Adam JMF, Tahapary D. Indonesian clinical practice guidelines for

the management of thyroid dysfunction during pregnancy. JAFES Journal. 2013;28(1);18-20.

  • 6. Vaughan DG, Asbury T, Riordan-Eva P. Oftalmologi Umum ed.18. Jakarta: Widya Medika;

2015:1.

  • 7. Sidarta, Ilyas. Ilmu Penyakit Mata ed. III. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010:1.

  • 8. Taylor D, Hyot CS. Pediatric Ophtalmology and Starbismus theory and practice. Ed 3.

Philadelphia: Elsevier Saunders; 2005.

  • 9. Perdami. Ilmu Penyakit Mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran ed. II. Jakarta:

Sagung Seto; 2010: 46-56.

  • 10. American Optometric Association. Care of the Patient with Myopia. Optometric Clinical

Practice Guideline; 2006: 17-19.

  • 11. Tan TO, Cheng YW, Caughey AB. Are women who are treated for hypothyroidism at risk for

pregnancy complications?.American Journal of Obstetric and Gynecology. 2006.e1-3

  • 12. Chan S, Boelaert K. Optimal management of hypothyroidism, hypothyroxinaemia and

euthyroid TPO antibody positivity preconception and in pregnancy. Clinical Endocrinology.

  • 2015. 313-326

    • 13. Lancu, G., et al. Particularities of myopia in pregnancy. Gineco.eu review: 2013; 9(34).

    • 14. Pizzarello L: Refractive changes in pregnancy. Graefes Arch CliExp Ophthalmol 241:484,

2003.

  • 15. Sunness JS, Santos A. Pregnancy and the Mother’s eye. In: Duane’s Clinical Ophthalmology

on CD-ROM. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2001.

8

  • 16. International Journal of Research in Medical Sciences Pandey AN. Eye in pregnancy. Int J

Res Med Sci. 2014 Feb;2(1):16-20

  • 17. Esther, P., George, W., Lesley, R. Obstetric opinions regarding the method of delivery in

women that have had surgery for retinal detachment. J R Soc Med Sh Rep 2011;2:24

  • 18. Ocular Changes During Pregnancy Dtsch Arztebl Int 2014; 111(33-34): 567-76; DOI:

10.3238/arztebl.2014.0567 Mackensen, F; Paulus, W E; Max, R; Ness, T

  • 19. Chiu H, Steele D, McAlister C, Lam W. Delivery recommendations for pregnant females with

risk factors for rhegmatogenous retinal detachment. Can J Ophthalmol. 2015;50:4.

  • 20. Seyed-Farzad Mohammadi, et al. A Survey of ophthalmologist and gynecologists regarding

termination of pregnancy and choice of delivery mode in the presence of eye diseases.Irian Society of Ophthalmology: 2016.

  • 21. Socha MW, Piotrowiak I, Jagielska I, et al. Retrospective analysis of ocular disorders and

frequency of cesarean sections for ocular indications in 2000-2008our own experience. Ginekol

Pol 2010;81:18891

9