Anda di halaman 1dari 17

IFRS 1

FIRST TIME ADOPTION OF INTERNASIONAL FINANCIAL REPORTING


STANDART

I. Pendahuluan
Semakin derasnya arus globalisasi yang mengharuskan para pelaku bisnis
ikut serta dalam bisnis lintas negara telah menuntut adanya sistem akuntansi dan
pelaporan keuangan yang seragam dan dapat diterima di berbagai negara. Untuk itu
diperlukan suatu standar internasional yang berlaku sama di semua negara untuk
mempermudah proses rekonsiliasi bisnis. International Accounting Standards
yang lebih dikenal sebagai International Financial Reporting Standard (IFRS),
merupakan standar tunggal pelaporan akuntansi yang memberikan tekanan pada
penilaian (revaluation) profesional dengan pengungkapan yang jelas dan
transparan mengenai substansi ekonomis transaksi, penjelasan hingga mencapai
kesimpulan tertentu. Dengan demikian, pengguna laporan keuangan dapat dengan
mudah membandingkan informasi keuangan entitas antarnegara di berbagai
belahan dunia. Perbedaan utama standar internasional ini dengan standar yang
berlaku di Indonesia terletak pada penerapan revaluation model, yaitu
kemungkinan penilaian aset menggunakan nilai wajar, sehingga laporan keuangan
di sajikan dengan basis ‘true and fair’.
Tujuan diterapkannya IFRS merupakan suatu pengupayaan untuk
memperkuat arsitektur keungan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap
kurangnya transparansi informasi keuangan. Selain itu IFRS juga memastikan
bahwa laporan keungan interim perusahaan untuk periode-periode yang
dimaksukan dalam laporan keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas
tinggi yang :
1. Transparan bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang peiode yang
disajikan
2. Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada
IFRS
3. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para
pengguna
Beberapa hal yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan saat pertama kali
memakai IFRS adalah kesiapan dari akunting perusahaan agar segera mengupdate
pengetahuannya tentang IFRS sehubungan dengan perubahan SAK (Standar
Akuntansi Keuangan). Akuntan Manajemen/Perusahaan dapat mengatisipasi
dengan segera membentuk tim sukses konvergensi IFRS yang bertugas
mengupdate pengetahuan Akuntan Manajemen/Perusahaan, melakukan gap
analysis, dan menyusun road map konvergensi IFRS serta berkoordinasi dengan
proyek lainnya untuk optimalisasi sumber daya.
II. Ruang Lingkup
Standar ini berlaku apabila sebuah perusahaan menerapkan IFRS untuk
pertama kalinya melalui suatu pernyataan eksplisit dan tanpa syarat tentang
kesesuaian dengan IFRS. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa laporan
keuangan perusahaan yang pertama kali berdasarkan IFRS (termasuk laporan
keuangan interim untuk periode pelaporan tertentu) menyediakan titik awal yang
memadai dan transparan kepada para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang
seluruh periode yang disajikan.

III. Pengecualian Terhadap Aturan Adopsi Pertama Kali


Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pengecualian untuk penerapan
retrospektif IFRS adalah :
1. Penggabungan usaha sebelum tanggal transisi
2. Nilai wajar jumlah penilaian kembali yang dapat dianggap sebagai nilai
terpilih
3. Employee benefits
4. Perbedaan kumulatif atas translasi (penjabaran) mata uang asing, muhibah
(goodwill), dan penyesuain nilai wajar
5. Instrument keuangan termasuk akuntansi lindung nilai (hedging)

IV. Laporan Posisi Keuangan Awal Menurut Standar Pelaporan Keuangan


Internasional
Laporan Posisi Keuangan, secara umum, menyajikan informasi mengenai
kekayaan perusahaan dan klaim-klaim sehubungan dengan kekayaan tersebut.
Klaim dalam hal ini, bisa berupa utang atau kepemilikan saham oleh pihak luar
(kreditur dan pemegang saham).
Penyajian Laporan posisi keuangan menurut IFRS, yaitu :
 Laporan Posisi Keuangan
 Laporan Laba Rugi Komprehensif
 Laporan Perubahan Ekuitas
 Laporan Arus Kas
 Catatan atas Laporan Keuangan
 Laporan Posisi Keuangan Komparatif awal periode dan penyajian retrospektif
terhadap penerapan kebijakan akuntansi
Penyajian aset dipisahkan menjadi 2 kelompok, yaitu
1. Aset Lancar (current assets)
Suatu aset diklasifikasikan ke dalam kelompok “aset lancar” apabila
memenuhi salah satu kriteria berikut ini:
 Dalam bentuk kas atau setara-kas yang penggunaannya tidak dibatasi
(untuk menyelesaikan liabilitas sekurang-kurangnya 12 bulan setelah
periode pelaporan); atau
 Diharapkan dapat direalisasikan dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal
laporan posisi keuangan (tanggal laporan posisi keuangan); atau
 Diharapkan dapat direalisasikan, baik digunakan/dikonsumsi sendiri
maupun untuk dijual kepada pihak lain, dalam “siklus operasi normal”
perusahaan; atau
 Dimiliki untuk maksud diperdagangkan
Jika tak satupun dari keempat kriteria di atas terpenuhi, maka suatu aset
diklasifikasikan ke dalam kelompok “aset tak lancar”.
Menggunakan ketentuan di atas, maka yang bisa diklasifikasikan ke dalam
kelompok aset lancar adalah item-item berikut ini:
a. Kas dan Setara Kas
b. Investasi Jangka Pendek untuk Diperdagangkan
c. Piutang Dagang (Piutang)
d. Persediaan
e. Uang Muka Biaya (Biaya Dibayar Dimuka)
2. Aset Tak Lancar (noncurrent assets)
Masuk ke dalam klasifikasi “Aset Tak Lancar’ antara lain:
a. Investasi Bersifat Held to maturity
b. Property Investasi
c. Tanah, Bangunan, Mesin, dan Peralatan
d. Aset Tak Berwujud
e. Aset Dimiliki untuk Dijual
f. Aset Lain – lain

Penyajian Liabilitas dipisahkan menjadi 2 kelompok, yaitu


1. Liabilitas Lancar (current liabilities)
Suatu liabilitas masuk klasifikasi “Liabilitas Jangka Pendek” (atau
Lancar) apabila :
 Diharapkan bisa diselesaikan (dibayar/dilunasi) dalam kurun waktu
operasional normal perusahaan; atau
 Jatuh tempo dalam jangka waktu tidak lebih dari 12 bulan dari tanggal laporan
posisi keuangan (tanggal laporan posisi keuangan); atau
 Dimiliki untuk maksud diperdagangkan; atau
 Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian laibilitas
selama sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.
Jika tak satupun diantara keempat kriteria di atas terpenuhi, maka suatu
liabilitas diklasifikasikan sebagai “Liabilitas Jangka Panjang”.
Masuk dalam klasifikasi liabilitas jangka pendek, antara lain :
a. Kewajiban yang timbul dari pembelian barang atau jasa yang digunakan dalam
operasional normal perusahaan, diantaranya :
 Utang Dagang
 Utang Tertulis Jangka Pendek
 Utang Upah dan Gaji Pegawai
 Utang Pajak
 Utang Lain-lain
b. Pembayaran diterima dimuka yang mengakibatkan timbulnya kewajiban untuk
menyerahkan barang atau jasa di masa yang akan datang, misalnya :
 Pendapatan Diterima Dimuka
 Deposit Dari Pelanggan
 Sewa Diterima Dimuka
c. Kewajiban lain yang akan jatuh tempo di periode berjalan, misalnya : promes
yang akan segera jatuh tempo.
Lebih jauh lagi, liabilitas lainnya yang masuk klasifikasi jangka pendek
adalah: liabilitas tidak diselesaikan dalam siklus operasi normal tetapi jatuh
tempo untuk diselesaikan dalam waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan
atau dimiliki untuk tujuan diperdagangkan. Misalnya :
 Liabilitas keuangan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk
diperdagangkan;
 Cerukan bank;
 Bagian jangka pendek dari liabilitas keuangan jangka panjang;
 Dividen terutang;
 Pajak penghasilan terutang; dan
 Terutang nonusaha lainnya
2. Liabilitas Tak Lancar (noncurrent liabilities)
Kewajiban-kewajiban yang akan terselesaikan melebihi siklus operasional
normal perusahaan masuk klasifikasi “Liabilitas Jangka Panjang”, antara lain :
 Kewajiban yang timbul sebagai bagian dari
strukturisasi modal perusahaan berjangka panjang, misalnya: pinjaman
bank jangka panjang, promes, kewajiban sewa jangka panjang.
 Kewajiban yang timbul tidak dari opersional normal perusahaan,
misalnya: kewajiban premi pensiun, liabiltas pajak tangguhan yang
penyelesaiannya belum diketahui secara pasti.

V. Penyesuaian yang Diperlukan dalam Menyusun Laporan Posisi Keuangan


Awal Menurut Standar Pelaporan Keuangan Internasional
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun laporan posisi
keuangan menurut IFRS 1 antara lain :
1. Pendahuluan dan kerangka dasar
a. Desain IFRS diperuntukkan untuk entitas yang bersifat profit oriented dan
SME (Small Medium Enterprise). IFRS belum mengatur standar akuntansi
untuk perusahaan berbasis syariah.
b. Memungkinkan penilaian aset tetap berwujud dan tidak berwujud
menggunakan nilai wajar. Laporan keuangan harus disajikan dengan basis true
and fair (IFRS Framework par 46)
c. Entitas harus membuat pernyataan eksplisit tentang kepatuhan akan standar
IFRS
d. Tidak diatur secara khusus kapan entitas menyajikan laporan keuangan
e. Menganut standar akuntansi berbasis prinsip untuk meningkatkan transparansi,
akuntabilitas, dan keterbandingan laporan keuangan antar entitas secara global.
f. Tidak lagi mengakui prinsip konservatif, namun diganti dengan prinsip kehati-
hatian (Prudence)
2. Pengungkapan dan Penyajian Laporan Keuangan
a. Komponen laporan keuangan lengkap terdiri atas :
 Laporan posisi keuangan (laporan posisi keuangan)
 Laporan laba rugi komprehensif
 Laporan perubahan ekuitas
 Laporan arus kas
 Catatan atas laporan keuangan
 Laporan posisi keuangan komparatif awal periode dan penyajian
retrospektif terhadap penerapan kebijakan akuntansi
b. Berdasarkan ilustrasi IFRS :
Asset : Asset Tidak Lancar
Asset Lancar
Ekuitas : Ekuitas yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk
Hak nonpengendali
Liabilitas : Liabilitas jangka panjang
Liabilitas jangka pendek
c. Istilah minority interest (hak minoritas) diganti menjadi non controlling
interest (hak non pengendali) dan disajikan dalam Laporan perubahan ekuitas.
d. Tidak mengenal istilah pos luar biasa (extraordinary item)
e. Liabilitas jangka panjang disajikan sebagai Liabilitas jangka pendek jika akan
jatuh tempo dalam 12 bulan meskipun perjanjian pembiayaan kembali sudah
selesai setelah periode pelaporan dan sebelum penerbitan laporan keuangan
3. Laporan Arus Kas
a. Dianjurkan menggunakan metode langsung, namun metode tidak langsung tetap
diperbolehkan
b. Item pos luar biasa tidak diperbolehkan dalam IFRS
4. Persediaan
a. Pengukuran persediaan berdasarkan biaya atau net realizable value (nilai
realisasi bersih) mana yang lebih rendah.
b. IFRS melarang penggunaan metode LIFO (Last In First Out). Hanya boleh
menggunakan metode FIFO atau rata-rata tertimbang
5. Perubahan Kebijakan dan Prinsip Akuntansi dan Kesalahan Mendasar
a. Dicatat secara retrospektif dan dilakukan penyajian kembali terhadap laba
ditahan serta adanya penjelasan efek kumulatif perubahan pada saat periode
dilakukan perubahan
b. Konsep kesalahan mendasar (fundamental error) dihapus dan diganti dengan
Prior period error (Kesalahan periode lalu)
c. Perubahan estimasi dicatat secara retrospektif dengan cara melakukan
penyesuaian atas laba atau rugi tahun terjadinya perubahan estimasi dan laba
rugi periode yang akan datang jika mempengaruhi keduanya.
6. Peristiwa Setelah Tanggal Laporan posisi keuangan
a. Mengatur pengungkapan dan penyesuaian laporan keuangan terkait peristiwa
baik yang bersifat favorable maupun unfavorable yang terjadi antara akhir
periode pelaporan hingga tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit
b. Istilah Events after balance sheet date (peristiwa setelah tanggal laporan posisi
keuangan) direvisi menjadi Events after reporting period (Peristiwa setelah
periode pelaporan)
c. Terdapat istilah tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit (the date when
the financial statements are authorised for issue).
d. Terdapat pengungkapan fakta adanya pihak yang dapat mengubah laporan
keuangan setelah diterbitkan jika ada
7. Kontrak Kontsturksi
IAS mengharuskan penggunaan metode persentase penyelesaian
(percentage of completion method) untuk melakukan pengakuan terhadap
pendapatan dan beban jika realisasi konstruksi dapat diestimasi dengan andal. IAS
11 memberikan pedoman yang sangat terbatas dalam menentukan estimasi realisasi
kontrak
8. Pajak Penghasilan
a. IAS 12 mengatur tentang beda temporer (temporary difference) antara basis
pajak dengan basis komersil yang dijadikan basis dalam mengakui aset atau
kewajiban pajak tangguhan
b. Mencakup perbedaan temporer akibat adanya hibah pemerintah (government
grants)
c. Pengakuan pajak tangguhan yang berasal dari Goodwill yang muncul dari
penggabungan usaha tidak diijinkan
d. Tidak mengatur pengungkapan yang berasal dari pos luar biasa
e. Tidak mengatur tentang PPh Final
f. Tidak mengatur tentang SKP
g. Terdapat pengaturan beda temporer dari perbedaan basis pelaporan fiskal dan
komersial sebagai konsekuensi penerapan model revaluasi sebagaimana diatur
dalam IAS 16
9. Aset Tetap
a. Penerapan prinsip nilai wajar dalam penilaian Aset. Aset dapat diukur dengan
menggunakan dua pendekatan, yaitu model revaluasi dan model harga
perolehan.
b. Nilai selisih akibat adanya revaluasi disajikan dalam lapora laba rugi dan
ekuitas
c. Metode penyusutan yang digunakan harus ditelaah secara periodik. Koreksi
akibat penelaahan ini akan diperlakukan sesuai dengan IAS 8. Dimungkinkan
juga perubahan terhadap metode penyusutan jika dalam hasil review terdapat
perubahan signifikan dengan pola pemanfaatan ekonomi yang diharapkan dari
aset tersebut.
d. Manajemen harus melakukan review atas nilai residu dan masa manfaat aset
setiap tahun. Jika terdapat perubahan, maka disesuaikan dengan menggunakan
IAS 8
10. Sewa
a. Aset sewa pembiayaan dikapitalisasi jika kontrak sewa mengalihkan secara
substansial seluruh resiko dan manfaat terkait kepemilikan aset. Suatu sewa
diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak mengalihkan
mengalihkan secara substansial seluruh resiko dan manfaat terkait
kepemilikan aset.
b. Kriteria yang harus dipenuhi untuk diklasifikasikan sebagai sewa
pembiayaan:
 Pengalihan kepemilikan aset pada akhir masa sewa
 Lesse memiliki hak opsi untuk membeli dengan harga cukup rendah di
akhir masa sewa
 Masa sewa meliputi sebagian besar umur ekonomis aset
 Pada awal sewa nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum
mendekati nilai wajar aset
 Aset sewa bersifat khusus dimana lessee yang menggunakannya tanpa
perlu modifikasi
c. Tidak mengatur tentang sewa pembiayaan tanah
11. Pendapatan
a. Pendapatan diakui jika dapat terukur dengan andal, manfaat ekonomi yang
probable. Jika pendapatan diakui dari transaksi penjualan, maka pendapatan
diakui jika resiko dan manfaat aset yang diperjual belikan telah dialihkan
pada pembeli
b. Pengakuan pendapatan pada industry khusus tidak diatur
12. Imbalan Kerja
a. Imbalan kerja dibagi dalam dua kelompok yaitu imbalan kerja jangka pendek
dan imbalan pasca kerja
b. Dengan menggunakan metode Projected unit credit method
c. Tidak mengatur imbalan kerja ekuitas
13. Hibah Pemerintah
Hibah pemerintah, termasuk yang bersifat moneter, diakui ketika terdapat
kepastian bahwa entitas yang menerima akan memenuhi semua persyaratan
yang diharuskan dalam ketentuan. Hibah akan diakui sebagai laba pada periode
periode pelaporan dimana entitas mengeluarkan biaya untuk memperoleh hibah
tersebut
14. Mata Uang Asing
a. Pengaturan tentang mata uang fungsional dan mata uang asing terdapat di
IAS 21 tentang The Effects of Changes in Foregn Exchange Rates
b. IAS 21 mengharuskan penggunaan indikator primer dan sekunder. Indikator
primer terdiri dari harga barang dan jasa, mata uang pembayaran bahan baku,
upah, dan biaya lain. Indikator sekunder terdiri dari mata uang dominan
dalam pendanaan, operasional, dan hubungan antara anak perusahaan dan
induk.
c. Proses penjabaran laporan keuangan dilakukan jika mata uang pelaporan
yang digunakan berbeda dengan mata uang fungsional (mata uang dasar
entitas bisnis dalam menyajikan laporan keuangan)
d. Jika mata uang fungsional laporan keuangan adalah mata uang suatu
ekonomi yang sedang mengalami inflasi tinggi, maka laporan keuangan
harus disajikan kembali sesuai IAS 29 tentang Financial Reporting in Hyper
Inflation Economies
15. Biaya Pinjaman
Biaya pinjaman yang dapat diatribusikan langsung terhadap akuisisi, konstruksi,
atau produksi suatu aset harus dikapitalisasi sebagai bagian biaya perolehan aset
tersebut.
16. Hubungan Istimewa
a. Definisi dan criteria pihak yang memiliki hubungan istimewa diatur secara
detail
b. Pengungkapan dilakukan secara luas termasuk pengungkapan tentang
kompensasi yang diberikan perusahaan terhadap manajemen dan karyawan
kunci dalam bentuk imbalan jangka pendek, imbalan pasca kerja, imbalan
jangka panjang, pemutusan hubungan kerja dan imbalan saham
c. Pengeliminasian akun ketika dilakukan konsolidasi laporan keuangan harus
diungkapkan
17. Dana Pensiun
a. Standar ini digunakan untuk seluruh entitas yang menyelenggarakan program
pension
b. Laporan keuangan dibedakan antara :
 Dana pension iuran pasti, terdiri dari laporan aset bersih yang tersedia
untuk manfaat dan informasi terkait kebijakan pendanaan.
 Dana pension manfaat pasti, terdiri dari laporan informasi aset bersih,
nilai sekarang manfaat yang dijanjikan, serta surplus dan defisit.
c. Penilaian investasi menggunakan nilai wajar
18. Laporan Keuangan Konsolidasi
a. Akun minority interest dihapuskan dan diganti dengan non controlling
interest yang disajikan sebagai bagian ekuitas
b. Pengendalian ada jika suatu entitas memiliki 50% hak suara, kecuali dapat
dibuktikan bahwa tidak ada pengendalian.
c. Laporan keuangan konsolidasi harus mencakup “semua” anak perusahaan,
kecuali jika akuisisi terhadap anak perusahaan termasuk kriteria sebagai
dimiliki untuk dijual, maka harus disajikan sebagaimana diatur dalam IFRS 5
tentang Non-current Assets Held for Sale and Discontinued Operations
d. Entitas induk dapat tidak menyajikan laporan keuangan konsolidasi jika :
 Entitas induk tersebut adalah entitas anak yang dimiliki seluruhnya, atau
entitas anak yang dimiliki sebagian olehentitas lainnya dan pemilik lain,
termasuk pihak yang tidakmemiliki hak suara, yang telah diinformasikan
dan tidak menolak entitas induk tersebut untuk tidak menyajikan laporan
keuangan konsolidasian;
 Instrumen utang dan instrumen ekuitas entitas induk tersebut tidak
diperdagangkan di pasar publik
 Entitas induk sedang tidak dalam proses menerbitkan sekuritas ke publik
 Entitas induk akhir atau entitas induk antara telah menghasilkan laporan
keuangan konsolidasi sesuai IFRS
e. IFRS mengijinkan penggunaan penggunaan 2 pendekatan, yaitu pendekatan
proporsi kepemilikan dan pendekatan nilai wajar.
19. Investasi di Perusahaan Asosiasi
a. Terdapat pengaturan rinci tentang penjabaran dan selisih penjabaran mata
uang asing terhadap nilai investasi yang dicatat dengan menggunakan metode
ekuitas.
b. Terdapat pengaturan tentang cara pembuktian pengaruh signifikan suatu
perusahaan sehingga perusahaan investee dikategorikan sebagai perusahaan
asosiasi
20. Pelaporan dalam Kondisi Ekonomi Hiperinflasi
a. Kriteria kondisi hiperinflasi :
 Penduduknya lebih memilih untuk menyimpan kekayaan mereka dalam
bentuk aset nonmoneter atau dalam mata uang asing yang relatif stabil.
Jumlah mata uang lokal yang dimiliki segera diinvestasikan untuk
mempertahankan daya beli;
 Penduduknya mempertimbangkan jumlah moneter bukan dalam mata uang
lokal tetapi dalam mata uang asing yang relatif stabil. Harga-harga
mungkin dikuotasikan dalam mata uang asing tersebut;
 Harga yang berlaku dalam penjualan dan pembelian secara kredit
ditentukan dengan memasukkan faktor ekspektasi hilangnya daya beli
selama periode kredit, bahkan jika periode kreditnya singkat;
 Suku bunga, upah dan harga dikaitkan dengan indeks harga; dan
 Tingkat inflasi kumulatif selama tiga tahun mendekati atau melebihi
100%.
b. Terdapat prosedur detail bagaimana cara menyajikan kembali akun akun
dalam laporan keuangan
21. Modal Ventura
a. Kerja sama operasi dibagi atas tiga skema, yaitu pengendalian bersama
operasi, pengendalian bersama aset, dan pengendalian bersama entitas
b. Menggunakan metode ekuitas atau metode proporsional
22. Laporan Keuangan Interim
a. Penyajian laporan keuangan interim harus dilakukan secara komparatif
dengan periode interim tahun sebelumnya untuk laporan laba rugi, arus kas
dan laporan perubahan ekuitas. Namun laporan posisi keuangan periode
interim dibandingkan dengan laporan posisi keuangan tahunan yang terakhir
b. Manajemen dapat menyajikan laporan keuangan dengan format ringkas
(condensed financial statement) dengan selected explanatory notes
23. Penurunan Nilai Aset
a. Penurunan nilai aset tidak boleh melampauai batas nilai tercatatnya
b. Perusahaan tidak diperkenankan melakukan reversal atas penurunan nilai
Goodwil pada periode interim sebelumnya
24. Agrikultur
a. Mengatur penyajian aset biologi dan produk pertanian serta pelaporannya yang
menggunakan nilai wajar
b. Menggunakan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual (konsep akresi).
Selisihnya dimasukkan dalam laporan laba rugi
25. Restrukturisasi Utang Bermasalah
Tidak diatur dalam satu standar khusus, namun tersirat dalam IAS 23 tentang
Borrowing Cost dan IAS 37 tentang Provisions, Contingent Liabilities and
Contingent Asset
26. Kuasi Reorganisasi
Tidak diatur dalam satu standar khusus

VI. Kebijakan Akuntansi

Kebijakan akuntansi adalah mengenai bagaimana memilih kebijakan


akuntansi. IAS 8/PSAK 25 ini mengatur hirerarki atau urutan acuan yang perlu kita
ikuti dalam rangka memilih suatu kebijakan akuntansi.
Dalam suatu periode akuntansi mewajibkan kita untuk menerapkan
kebijakan ini secara konsisten sepanjang tidak terdapat standar akuntansi yang
secara spesifik mengatur berbeda. Apabila terdapat standar yang mengatur spesifik
yang mengatur berbeda maka kita harus mengacu ke standar tersebut dan
menenerapkannya secara konsisten.
Perubahan kebijakan akuntansi diperbolehkan jika :
1. Dibutuhkan perubahan berdasarkan IFRS
2. Hasil dari laporan keuangan menghasilkan informasi yang relevan dan handal
untuk keperluan bisnis
Ada beberapa ketentuan yang harus ditaati sebelum merubah kebijakan
akuntansi yang ada :
1. Dalam kondisi terdapat standar akuntansi yang mengatur secara spesifik
Mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam standar tersebut. Namun
ketentuan dalam paragraf selanjutnya memberikan sedikit kelonggaran yaitu
diijinkan untuk tidak mengikuti ketentuan dalam suatu standar dalam kondisi
dampak penerapannya tidak material dan tidak dimaksudkan untuk mencapai
tujuan suatu penyajian teretentu yang dapat mengakibatkan tidak tercapainya
tujuan pelaporan keuangan untuk menghasilkan laporan keuangan yang berisi
informasi relevan dan andal.
2. Dalam kondisi tidak terdapat standar akuntansi yang mengatur secara spesifik
Jika tidak terdapat standar akuntansi yang secara spesifik mengatur
transaksi yang dilakukan oleh suatu perusahaan, maka mangement dari
perusahaan tersebut diberikan kewenangan untuk menggunakan
pertimbangannya sendiri untuk menentukan kebijkan akuntansi bagi transaksi
tersebut. Kebijakan akuntansi yang dipilih harus menghasilkan informasi yang
relevan dan andal dengan beberapa kriteria sebagaimana disebutkan dalam
paragraf diatas. Ketentuan ini memperjelas arti pentingnya pencapaian tujuan
dibuatnya standar akuntansi yaitu untuk menghasilkan informasi yang relevan
dan andal.

-Toyota Industries Corporation-


Perkiraan dan penilaian dalam penyusunan sesuai IFRS dalam laporan
keuangan konsolidasi, manajemen memerlukan untuk membuat sejumlah
penilaian, perkiraan dan asumsi asumsi yang dapat berdampak pada penerapan
kebijakan akuntansi, pelaporan mengenai pendapatan dan biaya, serta aset dan
kewajiaban. Efek dari perubahan dalam akuntansi diperkirakan dalam periode
pelaporan di mana perubahan itu dibuat dan periode pelaporan tersebut pada masa
depan. Informasi berkenaan dengan penilaian yang digunakan dalam menerapkan
kebijakan akuntansi dapat bersifat material terhadap laporan keuangan konsolidasi
tahunan dimasukkan ke dalam catatan 3 ‘kebijakan akuntansi yang signifikan’.
Informasi berkenaan dengan ketidakpastian yang timbul dari asumsi dan perkiraan
dalam laporan keuangan konsolidasi adalah sebagai berikut
Catatan 11. Goodwill and Intangible Assets (impairment)
Catatan 18. Employee Benefits (asumsi berdasarkan perhitungan aktuaris)

VII. Periode Pelaporan


Tanggal pelaporan (reporting date) adalah tanggal nearaca untuk laporan
keuangan pertama yang secara eksplisit menyatakan bahwa laporan tersebut sesuai
dengan IFRS. Laporan keuangan disusun sekurang-kurangnya sekali dalam satu
tahun. Jika entitas mengubah periode pelaporan dan menyusun laporan keuangan
untuk periode yang bukan satu tahun, entitas harus mengungkapkan alasan
perubahan itu dan menegaskan bahwa jumlah – jumlah yang disajikan tidak
sepenuhnya dapat dibandingkan.

-Toyota Industries Corporation-


Dilihat dari laporan keuangan tahun 2017 Toyota Industries Corporation
dan anak perusahaannya telah mengadopsi Standar Pelaporan Keuangan
Internasional (IFRS) untuk konsolidasi laporan keuangan dari laporan tahunan dari
tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2017. Tanggal transisi adopsi IFRS adalah 1
April 2015.
VIII. Pengecualian Opsional Dari Standar Pelaporan Keuangan Internasional
Lainnya

Sebuah Entitas juga harus membuat laporan posisi keuangan IFRS


pembuka pada tanggal transisi IFRS. Tanggal transisi IFRS adalah awal periode
dimana sebuah entitas menyajikan informasi komparatif berdasarkan IFRS dalam
laporan keuangan IFRSnya. Sebagai contoh, bila berdasarkan target IAI Indonesia
akan full convergence pada 1 Januari 2012, itu artinya pada laporan keuangan
akhir tahunnya per 31 Desember 2012 semua perusahaan di Indonesia harus
membuat laporan keuangan komparatif per 31 Desember 2011 juga, dan juga harus
menyajikan laporan posisi keuangan (hanya laporan posisi keuangan saja) pada
awal periode komparatif yaitu per 1 Januari 2011. Sehingga dalam contoh ini
tanggal transisi IFRS adalah tanggal 1 Januari 2011 (dalam IFRS 1, tanggal ini
disebut dengan laporan posisi keuangan IFRS pembuka (opening IFRS
statement of financial position)). Penerapan mundur ini disebut dengan istilah
retrospektif.

IX. Pengecualian Mandatori Terhadap Penerapan Berlaku Surut Standar


Pelaporan Keuangan Internasional Lainnya

Tahun pertama perusahaan menerapkan IFRS memberikan kejadian unik


ketika akan melaporkan laporan keuangan di tahun tersebut, karena persyaratan
transisi dari IFRS 1, laporan keuangan untuk setidaknya satu tahun sebelum
pergeseran yang tersedia di bawah dua set standar akuntansi: GAAP lokal dan
IFRS. Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan Indonesia bergeser ke IFRS pada
tahun 2009, itu diperlukan untuk menyajikan laporan keuangan komparatif
retrospektif disesuaikan dengan IFRS untuk setidaknya satu tahun sebelum tahun
2009, yaitu untuk tahun 2008. Dalam hal ini, laporan keuangan penuh 2008 yang
tersedia di bawah kedua PSAK Indonesia dan IFRS, termasuk laporan posisi
keuangan pembukaan. Hal ini memungkinkan untuk perbandingan dan
identifikasi perbedaan antara mereka. Namun, perbandingan itu tidak
sepenuhnya tepat sebagai IFRS 1 dipersalahkannya pengecualian tertentu dan
pembebasan. Dalam aplikasi retrospektif, SAK efektif pada tanggal pelaporan
sepenuhnya diterapkan, tidak termasuk pengecualian wajib dan pengecualian
opsional. Pengecualian dan pembebasan dari IFRS 1 adalah satu kali perawatan
yang mungkin tidak mewakili aplikasi yang sedang berlangsung dari SAK.
Pengecualian mengacu pada kebijakan akuntansi yang tidak retrospektif karena
mereka biasanya akan membutuhkan pengecualian, pada gilirannya, memberikan
perlakuan akuntansi beberapa alternatif yang tersedia secara opsional.

-Toyota Industries Corporation-


Toyota Industries Corporation saat ini sedang mengevaluasi potensi
dampak dari mengadopsi IFRS tersebut dan intepretasinya dalam laporan keuangan
keuangan dan kinerja bisnis, yang tidak dapat diperkirakan pada saat tanggal
pelaporan. Standar akuntansi dan interpretasi yang belum diadopsi oleh perusahaan
adalah sebagai berikut :

X. Penyajian dan Pengungkapan


Basis penyajian laporan keuangan bertujuan umum (general purpose
financial statements) diatur dalam IAS 1 yang sebagian besar ketentuannya
diadopsi di Indonesia menjadi PSAK 1. Laporan keuangan bertujuan umum,
selanjutnya disebut laporan keuangan, adalah laporan keuangan yang dimaksudkan
untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang tidak berada dalam posisi untuk
meminta entitas menyiapkan laporan untuk memenuhi kebutuhan informasi
mereka. Semua laporan keuangan harus disajikan dan dipandang sama pentingnya.
Penerapan IFRS/SAK dengan pengungkapan tambahan yang diperlukan
seharusnya akan menghasilkan laporan keuangan yang menyajikan secara wajar
posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian wajar
berarti menggambarkan secara apa adanya (jujur) dampak transaksi, kejadian, serta
kondisi lainnya sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, liabilitas,
penghasilan, dan beban yang dinyatakan dalam Kerangka Konseptual.

-Toyota Industries Corporation-


(Lihat Catatan 37)
Toyota Industries Corporation mengumumkan pada pertemuan dewan
direksi yang digelar pada tanggal 1 Februari 2017 bahwa perusahaan akan
mengadopsi Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) sebagai pengganti
dari prinsip prinsip akuntansi yang berlaku umum di jepang (GAAP Jepang),
Untuk Konsolidasi Laporan Keuangan dari tahun fiskal yang berakhir pada 31
Maret 2017. Perusahaan telah memutuskan untuk mengadopsi IFRS untuk analisa
akuntansi manajemen yang lebih baik dalam grupnya, sekaligus untuk
meningkatkan komparasi dari informasi dalam keuangan di bidang pasar modal
internasional. Berikut jadwal perusahaan terkait dengan adopsi IFRS:
 April 2017 Laporan keuangan untuk tahun fiskal yang berakhir 31 Maret
2017 (GAAP Jepang)
 Mei 2017 Laporan keuangan konsolidasi untuk tahun fiskal yang berakhir
31 Maret 2017 (GAAP Jepang)
 Juni 2017 Laporan tahunan untuk tahun fiskal yang berakhir 31 Maret
2017 (IFRS)
Dilihat dari laporan keuangan tahun 2017 Toyota Industries Corporation
dan anak perusahaannya telah mengadopsi Standar Pelaporan Keuangan
Internasional (IFRS) untuk konsolidasi laporan keuangan dari laporan tahunan dari
tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2017. Tanggal transisi adopsi IFRS adalah 1
April 2015.
Kesesuaian Laporan Keuangan Konsolidasi dengan IFRS sebagai
perusahaan dalam memenuhi persyaratan tertentu dari standar pelaporan keuangan
internasional sesuai dengan pasal 1-2 dari peraturan laporan keuangan konsolidasi,
laporan keuangan konsolidasi perseroan telah dipersiapkan sesuai dengan standar
pelaporan keuangan internasional (IFRS) yang diijinkan dalam ketentuan pasal 93.
Toyota Industries Corporation mempersiapkan laporan keuangan
konsolidasi sesuai dengan IFRS pada tahun fiskal 2017 (1 April 2016 sampai
dengan 31 Maret 2017). Tanggal transisi ke IFRS adalah 1 April 2015. Di transisi
ini perusahaan Mengadopsi IFRS 1 'First-time Adoption of International Financial
Reporting Standards’ dan dampak dari adopsi ke IFRS di laporan keuangan ini
dituangkan dalam catatan 37 ‘Pengungkapan Transisi ke IFRS’
Perkiraan dan penilaian dalam penyusunan sesuai IFRS dalam laporan
keuangan konsolidasi, manajemen memerlukan untuk membuat sejumlah
penilaian, perkiraan dan asumsi asumsi yang dapat berdampak pada penerapan
kebijakan akuntansi, pelaporan mengenai pendapatan dan biaya, serta aset dan
kewajiaban. Efek dari perubahan dalam akuntansi diperkirakan dalam periode
pelaporan di mana perubahan itu dibuat dan periode pelaporan tersebut pada masa
depan. Informasi berkenaan dengan penilaian yang digunakan dalam menerapkan
kebijakan akuntansi dapat bersifat material terhadap laporan keuangan konsolidasi
tahunan dimasukkan ke dalam catatan 3 ‘kebijakan akuntansi yang signifikan’.
Catatan 37 Pengungkapan Transisi ke IFRS