Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN KEUANGAN PROFORMA

1. PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PROFORMA


Penyusunan laporan keuangan proforma memerlukan banyak asumsi (seperti
tingkat pertumbuhan penjualan, perilaku biaya dari sejumlah pos rekening, tingkat investasi
pada mmodal kerja dan aktiva tetap, dan lain-lain. penggunaan software seperti spreadsheet
Lotus, Quattro Pro, Microsoft Excel bisa membantu penyusunan laporan keuangan
proforma, sekaligus melihat sensitivitas laporan keuangan proforma terhadap perubahan-
perubahan asumsi. Ada beberapa prosedur penyusunan laporan keuangan proforma,
diantaranya:
1. Memproyeksikan penjualan untuk sejumlah periode pada masa mendatang.
2. Memproyeksikan biaya operasional dan menunrunkan proyeksi pendapatan
operasional
3. Memproyeksikan total asset, utang, dan modal saham yang diperlukan untuk
mendukung tingkat operasi yang diproyeksikan.
4. Menentukan biaya pendanaan dari utang dan kemudian menurunkan dari
pendapatan operasional untuk memperoleh laba bersih proyeksi.
5. Menunrunkan laporan aliran kas dari laporan keuangan yang diproyeksikan

1.1. Memproyeksikan Laporan Laba Rugi


Memproyeksikan Penjualan
Hal pertama yang harus dilakukan adalah memproyeksikan penjualan. Proyeksi
penjualan akan dipakai untuk menurunkan angka-angka dalam laporan keuangan
proforma. Jika penjualan tumbuh dengan relative stabil, maka tingkat pertumbuhan
tersebut bisa dipakai untuk memproyeksikan penjualan pada masa-masa mendatang.
Jika faktor-faktor lain yang mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap penjualan
masa lalu, barangkali perlu dilakukan penyesuaian.
Memproyeksikan Biaya Operasional
Proyeksi biaya operasional tergantung pada asumsi perilaku biaya. Jika analis
bisa mengasumsikan biaya operasional mempunyai perilaku sebagai biaya variabel
sepenuhnya, analis bisa memproyeksikan biaya operasional pada masa mendatang
dengan menggunakan laporan keuangan common size (proporsional).
1.2. Memproyeksikan Neraca
Sesudah proyeksi penjualan dan laporan laba-rugi dibuat, langkah berikutnya
adalah membuat proyeksi neraca. Cara yang paling mudah membuat proyeksi ini
dilakukan dengan memproyeksikan sisi kiri neraca (sisi aktiva) terlebih dahulu, baru
kemudian menyusun komposisi yang diinginkan untuk sisi kanan (passive atau
pendanaan) neraca untuk tingkat total asset yang diproyeksikan.

1.3. Memproyeksikan Total Aset


Total asset bisa diproyeksikan dengan menggunakan pendekatan tingkat
pertumbuhan asset pada masa lalu. Pendekatan ini mempunyai keuntunga karena
mengaitkan proyeksi total asset dengan proyeksi penjualan. Kelemahannya adalah
kemungkinan proyeksi menghasilkan angka-angka yang tidak biasa (tidak wajar).

1.4. Memproyeksi Aset Individual


Untuk memproyeksi asset secara individual, sama halnya seperti ketika
memproyeksi total asset, analis bisa menggunakan tingkat pertumbuhan historis atau
menggunakan asumsi perputaran aktiva yang tetap.

1.5. Memproyeksi Utang dan Modal Saham


Tahap selanjutnya adalah menyusun sisi kanan neraca (sisi pasiva) yang dapat
dilakukan dengan menggunakan common size kanan. Pendekatan ini mengasumsikan
bahwa komposisi semacam itu tidak akan berubah untuk masa-masa mendatang.

1.6. Memproyeksikan Biaya Pendanaan


Setelah struktur modal diproyeksikan, analis bisa menghitung biaya pendanaan.
Langkah ini memerlukan asumsi bahwa struktur modal tidak akan berubah pada masa
mendatang, dan juga dengan tingkat bunga. Apabila struktur modal berubah maka
risiko perubahan akan berubah dan dengan demikian tingkat bunga juga bisa berubah
untuk mengkompensasi kenaikan risiko.

1.7. Memproyeksikan Laporan Aliran Kas


Langkah terakhir adalah memproyeksikan aliran kas. Proyeksi aliran kas
diturunkan dari proyeksi neraca dan proyeksi laporan laba rugi.
2. RASIO KEUANGAN PROFORMA
Setelah laporan keuangan proforma selesai disusun, analis bsa menyusun analisis rasio
untuk laporan keuangan proforma dengan cara yang sama dengan ketika membuat analisis
rasio untuk laporan keuangan. Analisis rasio terhadap laporan keuangan proforma akan
menunjukkan bahwa asumsi-asumsi yang dipakai untuk menyusun laporan keuangan
proforma akan menentukan besarnya laporan keuangan proforma.
Referensi

Hanafi, M. B. A., Dr. Mamduh M. Prof. Dr. Abdul Halim, M. B. A., Akt. 2018. Analisis
Laporan Keuangan Edisi Kelima. Yogyakarta: UPP STIM YKPN