Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehilangan adalah suatu keadaan ketika individu berpisah dengan sesuatu yang
sebelumnya ada atau dimiliki, baik sebagian atau keseluruhan (Riyadi dan Purwanto,
2009).
Menangis, memanggil nama orang yang sudah meninggal secara terus-menerus,
marah, sedih dan kecewa merupakan beberapa respon yang tampak saat seseorang
mengalami peristiwa kehilangan, terutama akibat kematian orang yang dicintai.
Keadaan seperti inilah yang menurut Puri, Laking, dan Treasaden (2011) disebut
sebagai proses berduka, yang merupakan suatu proses psikologis dan emosional yang
dapat diekspresikan secara internal maupun eksternal setelah kehilangan. Individu
yang berduka membutuhkan waktu untuk menerima suatu peristiwa kehilangan, dan
proses berduka merupakan suatu proses yang sangat individual. Fase akut berduka
biasanya berlangsung 6-8 minggu dan penyelesaian respon kehilangan atau berduka
secara menyeluruh memerlukan waktu 1 bulan sampai 3 tahun (Keliat, Helena, dan
Farida, 2011).
Rotter (2009) mengatakan bahwa proses berduka memiliki karakteristik yang unik,
membutuhkan waktu, dapat difasilitasi tetapi tidak dapat dipaksakan, tetapi pada
umumnya mengikuti tahap yang dapat diprediksi. Proses berduka merupakan suatu
proses yang unik dan berbeda pada setiap individu. Tidak ada yang dapat memastikan
kapan seseorang dapat melewati semua tahapan dalam proses berduka, yang dapat
dilakukan adalah memfasilitasi sehingga proses berduka yang dialami individu dapat
sampai pada suatu tahap penerimaan.
Sanders dalam Bobak, Lowdermilk, dan Jeasen (2005) mengatakan bahwa intensitas
dan durasi respon berduka bergantung pada banyak hal dan salah satunya adalah usia.
Indriana (2012) mengatakan bahwa perbedaan usia antara orang tua dan anak-anak
memengaruhi pola pikir mereka tentang kematian, dengan perkembangan anak, maka
merekapun lebih matang menghadapi kematian. Seiring dengan meningkatnya usia
seseorang maka seharusnya mereka akan lebih banyak memiliki pengalaman langsung
mengenai kematian ketika teman-teman atau kerabat mereka menderita sakit dan
meninggal, sehingga peristiwa kematian seharusnya tidak lagi menjadi suatu peristiwa
yang tidak bisa untuk mereka hadapi. Indikator kepribadian positif yang tampak pada

1
usia dewasa akhir atau lansia adalah siap menerima kematian (Erikson dalam Nasir
dan Muhith, 2011). Semakin meningkat usia seseorang maka akan semakin meningkat
juga pemahaman dan penerimaan orang tersebut akan kematian, yang menyebabkan
akan semakin mudah juga orang tersebut untuk melalui semua tahapan proses berduka
yang harus dilalui untuk pada akhirnya mencapai suatu tahap penerimaan dari suatu
peristiwa kematian. Hasil pengamatan yang dilakukan pada lansia di Kabupaten
Ngada pada saat mengalami peristiwa kehilangan akibat kematian orang yang dicintai,
menggambarkan bahwa sangat sulit bagi mereka untuk menerima peristiwa kematian
itu sebagai suatu bentuk kehilangan yang aktual dan wajar, yang secara perlahan suka
atau tidak suka harus diterima dan diikhlaskan sebagai sesuatu yang sudah seharusnya
terjadi.Mereka akan selalu tampak sedih, mengkritik diri sendiri, memiliki pandangan
hidup yang pesimis, kurang memperhatikan perawatan diri, menarik diri dari
pergaulan bahkan dengan anggota keluarganya sendiri, berbicara lambat dengan nada
suara lemah, dan lebih banyak menunduk dan merenung sendiri dalam kesehariannya.
Kejadian ini dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama yaitu sepanjang
kehidupannya. Tidak ada ritual budaya khusus yang harus dilakukan oleh lansia dalam
jangka waktu lama terkait peristiwa kematian yang menyebabkan mereka tidak dapat
menerima suatu peristiwa kematian sebagai sesuatu yang harus diterima dan
diikhlaskan. Fenomena inilah yang menarik perhatian peneliti untuk melakukan
penelitian mengenai gambaran proses berduka akibat kematian orang yang dicintai
yang dialami oleh lansia di Kabupaten Ngada.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan gerontik pada semester 5 ,
dan diharapkan bagi mahasiswa agar mampu memahami tentang gangguan atas
kehilangan dan duka cita dan dapat membuat asuhan keperawatan gerontik pada
pasien dengan kehilangan dan berduka.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu memahami konsep teori dari berduka cita dan kehilangan
b. Mampu melakukan pengkajian keperawatan pada klien dengan kehilangan
dan berduka

2
c. Mampu menentukan masalah keperawatan pada klien dengan kehilangan dan
berduka
d. Mampu merencanakan asuhan keperawatan pada klien dengan kehilangan
dan berduka
e. Mampu melaksanakan tindakan sesuai perencanaan keperawatan pada klien
dengan kehilangan dan berduka
f. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada klien dengan kehilangan dan
berduka

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis
1. Definsi kehilangan dan berduka
a. Kehilangan adalah suatu keadaan ketika individu berpisah dengan sesuatu
yang sebelumnya ada atau dimiliki, baik sebagian atau keseluruhan (Riyadi
dan Purwanto, 2009). Menurut : Iyus.Y( 2007 ) Kehilangan adalah suatu
keadaan Individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian
menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan. Kehilangan
merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu selama
rentang kehidupan, sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan
cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang
berbeda. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa
kehilangan merupakan suatu keadaan gangguan jiwa yang biasa terjadi
pada orang- orang yang menghadapi suatu keadaan yang berubah dari
keadaan semula (keadaan yang sebelumya ada menjadi tidak ada).
b. Menangis, memanggil nama orang yang sudah meninggal secara terus-
menerus, marah, sedih dan kecewa merupakan beberapa respon yang
tampak saat seseorang mengalami peristiwa kehilangan, terutama akibat
kematian orang yang dicintai. Keadaan seperti inilah yang menurut Puri,
Laking, dan Treasaden (2011) disebut sebagai proses berduka, yang
merupakan suatu proses psikologis dan emosional yang dapat
diekspresikan secara internal maupun eksternal setelah
kehilangan.Grieving / berduka adalah reaksi emosional dari kehilangan
dan terjadi bersamaan dengan kehilangan baik karena perpisahan,
perceraian maupun kematian. Bereavement adalah keadaan berduka yang
ditunjukan selama individu melewati rekasi. ( Menurut : Iyus.Y,2007 ).

2. Sebab – sebab kehilangan


Menurut : Aspiani,(2014) sebab-sebab kehilangan terbagi menjadi empat yaitu :
a. Kehilangan fungsi, misalnya : fungsi seksual dan fungsi kontrol usus.
b. Hilangnya gambaran diri atau citra diri.
c. Hilangnya seseorang yang sangat dekat hubungannya.

4
d. Kehilangan barang yang berharga ( rumah, mobil, dan tabungan ).

3. Sifat – sifat kehilangan


Menurut Rando.( 1984 ) dalam buku Aspiani : 2014. Sifat – sifat kehilangan
dibagi menjadi dua :
a. Tiba – tiba (Tidak dapat diramalkan)
Kehilangan secara tiba-tiba dan tidak diharapkan dapat mengarah pada
pemulihan dukacita yang lambat. Kematian karena tindak kekerasan,
bunuh diri, pembunuhan atau pelalaian diri akan sulit diterima.
b. Berangsur – angsur (Dapat Diramalkan)
Penyakit yang sangat menyulitkan, berkepanjangan, dan menyebabkan
yang ditinggalkan mengalami keletihan emosional

4. Tipe kehilangan
Menurut Aspiani. ( 2014 ) tipe kehilangan dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Actual Loss
Kehilangan yang dapat dikenal atau diidentifikasi oleh orang lain, sama
dengan individu yang mengalami kehilangan. Contoh : kehilangan anggota
badan, uang, pekerjaan, anggota keluarga.
b. Perceived Loss ( Psikologis )
Kehilangan Sesuatu yang dirasakan oleh individu bersangkutan namun
tidak dapat dirasakan / dilihat oleh orang lain. Contoh : Kehilanga masa
remaja, lingkungan yang berharga.
c. Anticipatory Loss
Perasaan kehilangan terjadi sebelum kehilangan terjadi. Individu
memperlihatkan perilaku kehilangan dan berduka untuk suatu kehilangan
yang akan berlangsung. Sering terjadi pada keluarga dengan klien
(anggota) menderita sakit terminal.

5. Kategori kehilangan
Menurut Wahdania. ( 2010) kategori kehilangan dibagi menjadi lima yaitu :
a. Kehilangan objek eksternal.
Kehilangan benda eksternal mencakup segala kepemilikan yang telah
menjadi usang berpinda tempat, dicuri, atau rusak karena bencana alam.

5
Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang terhadap benda yang hilang
bergantung pada nilai yang dimiliki orng tersebut terhadap nilai yang
dimilikinya, dan kegunaan dari benda tersebut.
b. Kehilangan lingkungan yang telah dikenal
Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah
dikenal mencakup lingkungan yang telah dikenal Selama periode tertentu
atau kepindahan secara permanen. Contohnya pindah ke kota baru atau
perawatan diruma sakit.
c. Kehilangan orang terdekat
Orang terdekat mencakup orangtua, pasangan, anak-anak, saudara
sekandung, guru, teman, tetangga, dan rekan kerja. Artis atau atlet terkenal
mumgkin menjadi orang terdekat bagi orang muda. Riset membuktikan
bahwa banyak orang menganggap hewan peliharaan sebagai orang
terdekat. Kehilangan dapat terjadi akibat perpisahan atau kematian.
e. Kehilangan aspek diri
Kehilangan aspek dalam diri dapat mencakup bagian tubuh, fungsi
fisiologis, atau psikologis. Orang tersebut tidak hanya mengalami
kedukaan akibat kehilangan tetapi juga dapat mengalami perubahan
permanen dalam citra tubuh dan konsep diri.
f. Kehilangan hidup
Kehilangan dirasakan oleh orang yang menghadapi detik-detik dimana
orang tersebut akan meninggal.

6. Reaksi Berduka
Menurut Hidayat .(2009), rekasi berduka menjadi lima yaitu :
a. Fase pengingkaran ( denial )
Perasaan tidak percaya, syok, biasanya ditandai dengan menangis, gelisah,
lemah, letih, dan pucat.
b. Fase marah ( anger )
Perasaan marah dapat diproyeksikan pada orang atau benda yang ditandai
dengan muka merah, suara keras, tangan mengepal, nadi cepat, gelisah dan
perilaku agresif.
c. Fase tawar-menawar ( bargaining )

6
Individu mampu mengungkapkan rasa marah akan kehilangan, ia akan
mengekspresikan rasa bersalah takut dan berdosa.
d. Fase depresi
Individu menunjukkan sifat menarik diri, tidak mau bicara, putus asa.
Perilaku yang muncul seperti menolak makan, susah tidur, dan dorongan
libido menurun.
e. Fase menerima ( acceptance )
Fase ini berkaitan dengan reorganisme perasaan kehilangan, pikiran yang
berpusat pada kehilangan obyek mulai berkurang.

7. Gejala – gejala umum


Menurut Iyus.Y (2007), gejala-gejala umum kehilangan dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Tahap 1
Merasa shock atau terpukul dan tidak percaya. Hampir semua tingkah laku
yang tidak merusak merupakan sikap penyesuaian pada tahap ini.
b. Tahap 2
Munculnya kesadaran akan peristiwa kehilangan tersebut kemungkinan
klie lanjut usia akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang peristiwa
kehilangan tersebut serta pengaruhnya terhadap seseorang.
c. Tahap 3
Pulih kembali, tingkah laku yang tampak, misalnya kemampuan untuk
memahami dan menghayati kehilangan tersebut. Setelah itu melanjutkan
kegiatan hidupnya sehari-hari dengan cara : merencanakan masa depannya,
seraya mengingat kembali kejadian baik yang menyenangkan maupun yang
menyedihkan yang diakibatkan oleh peristiwa tersebut secara realistis.

8. Penatalaksanaan
Menurut Aspiani.(2014) Penatalaksanaan dibagi menjadi :
a. Tahap 1
1) Luangkan waktu sekurang-kurangnya 15 – 20 menit sehari untuk
bercakap-cakap bersama klien lanjut usia.
2) Berikan kesempatan pada klien lanjut usia untuk mengarahkan
pembicaraan.

7
3) Katakan kepada klien lanjut usia bahwa dengan peristiwa itu berarti ia
telah melakukan sesuatu yang baik.
4) Terima tingkah laku klien lanjut usia yang tidak merusak fisik.
b. Tahap 2
1) Gabungkan pengaruh peristiwa kehilangan tersebut baik pada diri
klien lanjut usia maupun keluarganya selama pembicaraan dengan
klien lanjut usia.
2) Libatkan klien lanjut usia dalam merencanakan dan melakukan
perawatan diri.
c. Tahap 3
1) Diskusikan bersama klien lanjut usia segi-segi positif dan
negatifnya peristiwa kehilangan tersebut.
2) Berikan motivasi untuk merncanakan masa depannya.
3) Apabila klien lanjut usia menyangkal dengan dengan melakukan
sesuatu yang membahayakan fisiknya, batasi tindakan tersebut
dengan menghadapkan klien lanjut usia kepada kenyataan yang ada.
4) Intervensi dilakukan sesuai dengan tahapan yang dialami klien.
5) Ulangi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan klien agar ia dpat
mencari jawabanya berkat bantuan perawat.

9. Rencana selanjutnya
Menurut Aspiani.(2014) rencana selanjutnya adalah :
a. Yakinkanlah bahwa klien lanjut usia masih mempunyai dukungan yang baik
dari keluarga maupun teman-temannya.
b. Yakinkanlah bahwa klien lanjut usia sadar akan normalnya keadaan tersebut
dan mengerti setiap orang juga mengalami proses yang sama bila mengalami
kehilangan.

B. Tinjauan Kasus Teoritis


1.Pengkajian
Menurut Aspiani.(2014) pengkajian dalam kehilangan dan berduka adalah
sebagai berikut :
a. Identitas pasien

8
Identitas klien biasanya dikaji pada klien dengan proses berduka adalah
usia karena banyak klien lansia yang mengalami proses kehilangan.
b. Keluhan utama
Keluhan utama yang sering ditemukan pada klien dengan masalah
psikososial : berduka / kehilangan adalah klien mengungkapkan kesedihan
yang mendalam karena proses kehilangan.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat kesehatan saat ini berupa uraian mengenai keadaan klien saat ini
mulai timbulnya keluhan yang dirasakan sampai saat dilakukan pengkajian.

d. Riwayat kesehatan dahulu


Riwayat kesehatan yang lalu seperti adanya riwayat maslah psikososial
sebelumnya dan bagaimana penanganannya.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Yang perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang mengalami gangguan
psikologi seperti yang dialami oleh klien, atau adanya penyakit genetic
yang mempengaruhi psikososial.
f. Pemeriksaan fisik
1) Keadaaan umum
Keadaan umum klien lansia yang mengalami psikososial : Berduka
biasanya lemah.
2) Kesadaran
Kesadaran biasanya composmentis.
3) Tanda – tanda Vital
a) Suhu dalam batas normal ( 37C).
b) Nadi meningkat atau normal ( 70-80 x / menit ).
c) Tekanan darah kadang meningkat atau menurun.
d) Pernafasanya biasanya mengalami normal atau meningkat.
4) Pemeriksaan Review of Sistem (ROS)
a) Sistem pernafasan : ( B1 : Breathing )
Dapat ditemukan peningkatan frekuensi nafas dan atau maih
dalam batas normal.
b) Sistem sirkulasi : ( B2 : Bleeding )

9
Dapat ditemukan adanya perubahan frekuensi nadi (
meningkat ) atau masih dalam batas normal.
c) Sistem persarafan : ( B3 : Brain )
Klien apatis, agitasi, gangguan konsentrasi, kurang
perhatian, gangguan persepsi sensori, insomnia.
d) System perkemihan : ( B4 : Bleder )
Klien tidak mengalami gangguan dalam berkemih.
e) System pencernaan : ( B5 : Bowel )
Klien dapat makan berlebihan atau kurang, konstipasi,
perubahan berat badan.

f) System muskoloskletal : ( B6 : Bone )


Klien mengeluh adanya kelemahan otot.

g. Pola fungsi kesehatan


Yang perlu dikaji adalah aktivitas apa saja yang biasa dilakukan
sehubungan dengan adanya masalah psikososial depresi :
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Klien mengalami gangguan persepsi, klien mengalami gangguan dalam
memelihara dan menangani masalah kesehatannya.
2) Pola nutrisi
Klien dapat mengalami makan berlebih / kurang, kadang tidak nafsu
makan.
3) Pola eliminasi
Klien tidak mengalami gangguan dalam berkemih, klien kadang
mengalami konstipasi.
4) Pola istirahat dan tidur
Klien mengalami insomnia.
5) Pola aktivitas dan istirahat
Klien kadang mengalami gangguan dalam pemenuhan aktivitas sehari-
hari karena penurunan minat. Pengkajian kemampuan klien dalam
memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari dapat menggunakan indeks
KATZ.
6) Pola hubungan dan peran

10
Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan peran klienterhadap
anggota keluarga dan masyarakat tempat tinggal, pekerjaan, tidak
punya rumah, dan masalah keuangan. Pengkajian APGAR Keluarga
( Tabel APGAR keluarga ).
7) Pola sensori dan kognitif
Klien kadang mengalami ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan
minat dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, mencela diri sendiri,
untuk mengetahui status mental klien dapat dilakukan pengkajian
menggunakan table short portable mental status quesionare ( SPMSQ ).
8) Pola persepsi dan konsep diri
Klien mengalami gangguan konsep diri, perasaan murung, rasa
bersalah, ketidakberdayaan, keputusasaan, kesedihan, harga diri rendah.
Untuk mengkaji tingkat depresi klien dapat menggunakan tabeel
inventaris depresi beck ( IDB ) atau geriatric depression scale ( GDS ).
9) Pola seksual dan reproduksi
Klien mengalami penurunan minat terhadap pemenuhan kebutuhan
seksual.
10) Pola mekanisme / penanggulangan stress dan koping
Klien kadang menggunakan mekanisme koping yang tidak aktif dalam
menangani stress yang dialaminya.
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien tidak mengalami gangguan dalam spiritual.

2. Diagnosa keperawatan
Menurut Aspiani.(2014) diagnosa keperawatan terdapat empat diagnosa yaitu :
a. Berduka antisipasi berhubungan dengan proses kehilangan ditandai dengan
klien mengungkapkan adanya kehilangan, sedih, rasa bersalah, perubahan
pola komunikasi, marah. Klien mengungkapkan penolakan terhadap
kehilangan berarti, perubahan pola makan, tidur, mimpi, tingkat
aktivitas,libido, klien mengatakan kesulitan mengambil peran yang berbeda
atau peran baru.
b. Berduka disfungsional berhubungan dengan proses kehilangan ditandai
dengan klien mengungkapkan adanya distress kehilangan. Klien menolak
terhadap kehilangan, klien merasa bersalah, marah, sedih, menangis,

11
kesulitan mengekspresikan kehilangan, terdapat perubahanpola makan,
aktivitas, libido,konsentrasi dan tugas.
c. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan gangguan gambaran
diri, proses kehilangan, perubahan peran sosial, kurangnya pengakuan/
penghargaan ditandai dengan klien menunjukkan perilaku tidak asertif,
klien menganggap diri tidak berdaya, tidak berguna.
d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan depresi, kesepian, berduka,
terlambat tidur, kehilangan teman tidur, takut berpisah dengan orang
terdekat, penuaan ditandai dengan klien mengatakan terbangun dalam
waktu yang lama, insomnia yang lama, permulaan tidur >30 menit,klien
mengeluh kesulitan untuk memulai tidur, mengeluh istirahat tidak merasa
puas, tidur tidak puas, menurunnya kemampuan fungsi.

12
4. Rencana Tindakan Keperawatan ( INTERVENSI NIC – NOC )

Tabel 2.1 Intervensi menurut Nanda NIC-NOC

NO DX KEPERAWATAN NOC/ TUJUAN RENCANA KEPERAWATAN


1. Berduka antisipasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama Pendengar aktif (active listening) :
berhubungan dengan proses … X 24 jam klien menunjukkan kemampuan  Tentukan maksud dari interaksi.
kehilangan ditandai dengan mengatasi duka cita dengan criteria :  Perlihatkan ketertarikan dengan klien.
klien mengungkapkan  Klien menggunakan koping yang efektif.  Gunakan pertanyaan atau pernyataan untuk
adanya kehilangan, sedih,  Klien mencari informasi tentang penyakit dan mendorong ekspresi dari pikiran , perasaan dan
rasa bersalah, perubahan pengobatannya. perhatian.
pola komunikasi, marah.  Klien menggunakan dukungan sosial yang  Gunakan perilaku non verbal untuk memfasilitasi
Klien mengungkapkan tersedia. komunikasi (misalnya : cara berdiri untuk
penolakan terhadap  Klien mencari bantuan professional sesuai menyampaikan pesan).
kehilangan berarti, kebutuhan.  Dengarkan klien dengan penuh perhatian.
perubahan pola makan,  Klien melaporkan gejala fisik dari stress dan  Anjurkan klien untuk berkomunikasi secara
tidur, mimpi, tingkat penurunan perasaan negative. perlahan dan mengulangi permintaan.
aktivitas,libido, klien  Klien mengungkapkan pikiran, perasaan dan  Klarifikasi pesan pikiran menggunakan pertanyaan
mengatakan kesulitan kepercayaan spiritual tentang kehilangan. dan umpan balik.
mengambil peran yang
 Klien mengatakan secara verbal ketakutan/  Hindari hambatan untuk mendengar aktif (seperti :
berbeda atau peran baru. kekhawatiran. meminimalkan perasaan, solusi yang mudah,
 Klien tidak larut dalam kesedihan. interupsi,berbicara tentang diri sendiri).
 Klien mengungkapkan perasaan tentang  Sering berikan pujian positif pada klien yang
produktivitas, kebergunaan dan optimisme. berusaha memberikan informasi.
 Dengarkan klien untuk mendorong ekspresi
perasaan,pikiran dan perhatian.
Bantu control marah (Anger Control Assistance) :
 Bina hubungan saling percaya dengan klien.
 Gunakan ketenangan dalam pendekatan pada klien.
 Batasi akses situasi yang menyebabkan frustasi agar
klien dapat mengekspresikan kemarahan secara

13
adaptif.
 Dorong klien untuk mencari bantuan dari staf
keperawatan atau orang lain yang bertanggung
jawab selama periode peningkatan ketenangan.
 Cegah kerugian fisik jika marah langsung terhadap
diri sendiri dan orang lain.
 Berikan jalan keluar untuk mengkespresikan
kemarahan dan ketegangan fisik.
 Berikan klien ketenangan hati selama petugas
kesehatan memberikan intervensi untuk mencegah
klien kehilangan control.
 Gunakan control eksternal (misalnya : restrain fisik
atau manual dan pengasingan) sesuai kebutuhan
untuk menenangkan klien yang mengekspresikan
kemarahan dengan cara maladaftif.
 Berikan feedback terhadap perilaku klien untuk
membantu klien mengidentifikasi kemarahan.
 Dorong klien untuk mendiskusikan pengalaman
kehilangan sbelumnya.
 Dorong klien untuk mengungkapkan tentang
kehilangan yang dulu dan sekarang.
 Gunakan kalimat yang penuh empati pada klien
yang berduka.
 Dorong klien untuk mengidentifikasi tentang
ketakutannya.
 Ajarkan tentang proses dari berduka sesuai
kebutuhan
 Dukung kemajuan tahapan proses berduka klien.
 Libatkan orang terdekat dalam mendiskusikan dan
pengambilan keputusan sesuai kebutuhan.
 Bantu keluarga untuk mengidentifikasi strategi

14
koping individu.
 Dorong klien untuk mengimplementasikan budaya,
agama dan sosial dihubungan dengan kehilangan.
 Komunikasikan penerimaan klien tentang proses
kehilangan.
 Identifikasikan sumber dukungan sosial.
 Bantu klien ,megidentifikasi modifikasi gaya hidup
yang dibutuhkan.

Peningkatan dukungan system (Support Sistem


enhancement ) :
 Evaluasi respon psikologi klien terhadap situasi dan
kesediaan dukungan system.
 Identifikasi tingkat dukungan keluarga.
 Identifikasi tingkat dukungan keluarga.
 Identifikasi tingkat dukungan financial keluarga.
 Tentukan support system yang digunakan klien saat
ini.
 Pantau situasi keluarga saat ini.
 Dorong klien untuk berpartisipasi dalam aktivitas
sosial dan komunitas.
 Dorong klien untuk berhubungan dengan orang
yang memiliki minat dan tujuan yang sama.
 Evaluasi sumber komunitas yang adekuat untuk
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan klien.
 Libatkan keluarga/ orang terdekat/ teman dalam
perawatan dan perencanaan.
 Jelaskan pada klien mengenai bagaimana cara
mendapatkan bantuan.
2. Berduka disfungsional Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama Pendengar aktif (active listening) :
berhubungan dengan proses … X 24 jam klien menunjukkan kemampuan  Tentukan maksud dari interaksi.

15
kehilangan ditandai dengan mengatasi duka cita disfungsional dengan  Perlihatkan ketertarikan dengan klien.
klien mengungkapkan criteria :  Gunakan pertanyaan atau pernyataan untuk
adanya distress kehilangan.  Klien malaporkan dukungan sosial yang mendorong ekspresi dari pikiran , perasaan dan
Klien menolak terhadap adekuat. perhatian.
kehilangan, klien merasa  Klien melaporkan duka cita secara verbal  Gunakan perilaku non verbal untuk memfasilitasi
bersalah, marah, sedih,  Klien menyatakan arti dari kehilangan secara komunikasi (misalnya : cara berdiri untuk
menangis, kesulitan verbal. menyampaikan pesan).
mengekspresikan  Klien melaporkan gejala fisik dari stress dan  Dengarkan klien dengan penuh perhatian.
kehilangan, terdapat penurunan perasaan negative.  Anjurkan klien untuk berkomunikasi secara
perubahan pola makan,  Klien mengatakan secara verbal ketakutan/ perlahan dan mengulangi permintaan.
aktivitas, libido,konsentrasi kekhawatiran.  Klarifikasi pesan pikiran menggunakan pertanyaan
dan tugas.  Klien tidak larut dalam kesedihan. dan umpan balik.
 Klien mengungkapkan perasaan tentang  Hindari hambatan untuk mendengar aktif (seperti :
produktivitas, kebergunaan dan optimisme. meminimalkan perasaan, solusi yang mudah,
interupsi,berbicara tentang diri sendiri).
 Sering berikan pujian positif pada klien yang
berusaha memberikan informasi.
 Dengarkan klien untuk mendorong ekspresi
perasaan,pikiran dan perhatian.
Bantu control marah (Anger Control Assistance) :
 Bina hubungan saling percaya dengan klien.
 Gunakan ketenangan dalam pendekatan pada klien.
 Tentukan perilaku pengharapan yang sesuai untuk
mengekspresikan kemarahan, berikan klien
tingkatan fungsi fisik dan kognitif.
 Batasi akses situasi yang menyebabkan frustasi agar
klien dapat mengeskpresikan kemarahan.
 Dorong klien untuk mencari bantuan dari staf
keperawatan atau orang lain yang bertanggung
jawab selama periode peningkatan ketenangan.
 Cegah kerugian fisik jika marah langsung terhadap

16
diri sendiri dan orang lain.
 Berikan jalan keluar untuk mengkespresikan
kemarahan dan ketegangan fisik.
 Berikan klien ketenangan hati selama petugas
kesehatan memberikan intervensi untuk mencegah
klien kehilangan control.
 Gunakan control eksternal (misalnya : restrain fisik
atau manual dan pengasingan) sesuai kebutuhan
untuk menenangkan klien yang mengekspresikan
kemarahan dengan cara maladaftif.
 Berikan feedback terhadap perilaku klien untuk
membantu klien mengidentifikasi kemarahan.
 Dorong klien untuk mendiskusikan pengalaman
kehilangan sbelumnya.
 Dorong klien untuk mengungkapkan tentang
kehilangan yang dulu dan sekarang.
 Gunakan kalimat yang penuh empati pada klien
yang berduka.
 Dorong klien untuk mengidentifikasi tentang
ketakutannya.
 Ajarkan tentang proses dari berduka sesuai
kebutuhan
 Dukung kemajuan tahapan proses berduka klien.
 Libatkan orang terdekat dalam mendiskusikan dan
pengambilan keputusan sesuai kebutuhan.
 Bantu keluarga untuk mengidentifikasi strategi
koping individu.
 Dorong klien untuk mengimplementasikan budaya,
agama dan sosial dihubungan dengan kehilangan.
 Komunikasikan penerimaan klien tentang proses
kehilangan.

17
 Identifikasikan sumber dukungan sosial.
 Bantu klien ,megidentifikasi modifikasi gaya hidup
yang dibutuhkan.
Peningkatan dukungan system (Support Sistem
enhancement ) :
 Evaluasi respon psikologi klien terhadap situasi dan
kesediaan dukungan system.
 Tentukan keadekuatan jaringan sosial klien.
 Identifikasi tingkat dukungan keluarga.
 Identifikasi tingkat dukungan keluarga.
 Identifikasi tingkat dukungan financial keluarga.
 Tentukan support system yang digunakan klien saat
ini.
 Pantau situasi keluarga saat ini.
 Dorong klien untuk berpartisipasi dalam aktivitas
sosial dan komunitas.
 Dorong klien untuk berhubungan dengan orang
yang memiliki minat dan tujuan yang sama.
 Evaluasi sumber komunitas yang adekuat untuk
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan klien.
 Rujuk keprogram komunitas dasar : promosi,
preventif, pengobatan dan rehabilitative sesuai
kebutuhan.
 Libatkan keluarga/ orang terdekat/ teman dalam
perawatan dan perencanaan.
 Jelaskan pada klien mengenai bagaimana cara
mendapatkan bantuan.

18
1) 2) 3) 4)
3. Harga diri rendah situasional Setelah dilakukan tindakan keperawatan Peningkatan Harga Diri
berhubungan dengan proses selama…x 24 jam diharapkan klien: Self Esteem Enhancement)
kehilangan, perubahan peran 1. Menunjukan harga diri yang adekuat  Dorong klien untuk mengidentifikasi
social, ditandai klien dengan kriteria : kekuatannya
menunjuukan prilaku tidak  Klien mengucapkan penerimaan  Dorong klien untuk mempertahankan kontak
asertif, klien menganggap diri diri secara verbal mata saat berkomunikasi dengan orang lain
tidak berdaya, tidak berguna.  Klien menunjukan komunikasi  Berikan pengalaman yang dapat meningkatkan
terbuka otonomi klien
 Klien menunjukan pemenuhan  Bantu klien untuk mengidentifikasi respon
peran yang penting positif dari orang lain
 Klien mau menerima kritikan dari  Jangan memberikan kritikan negative
orang lain  Jangan menyindir klien
 Klien mau melakukan kontak  Berikan kepercayaan pada kemampuan klien
dengan orang lain mengendalikan situasi
 Klien memahami kekuatan diri  Bantu klien untuk membuat tujuan yang
 Klien berpartisipasi dalam reatistis yang dapat meningkatkan harga diri
pembuatan keputusan tentang  Bantu kien untuk menerima pertahanan diri
perencanaan perawatan dari orang lain
 Klien melakukan prilaku yang  Bantu klien untuk mengeluarkan persepsi
dapat meningkatkan rasa percaya negatif terhadap dirinya sendiri
diri  Dorong klien untuk meningkatkan kemampuan
diri sesuai kebutuhan
 Eksplorasi alasan menkritik diri sendiri
 Dorong klien untuk evaluasi prilakunya
 Fasilitasi lingkungan dan aktivitas yang dapat
meningkatkan harga diri klien
 Bantu klien untuk mengidentifikasi pengaruh
penting dari budaya, agama, ras, gende, dan

19
usia terhadap harga diri
 Pantau frekuensi ungkapan diri negatif klien
 Pantau tingkat harga diri klien setiap waktu
sesuai kebutuhan
 Buatlah pertanyaan yang positif tentang klien

Bantu Kontrol Marah


Anger Control Assistance)
 Bina hubungan saling percaya dengan klien
 Gunakan ketenangan dalam pendekatan pada
klien
 Tentukan prilaku pengharapan yang sesuai
2. Klien menunjukan kemmpuan membuat untuk mengekspresikan kemarahan, berikan
keputusan dengan kriteria : klien tingkatan fungsi fisik dan kognitif
 Klien mampu mengidentifikasi  Cegaah kerugian fisik jika marah langsung
alternative dan kemungkinan terhadap diri sendiri dan orang lain
konsekuensi yang mungkin
 Baatasi akses situasi yang menyebabkan
timbul frustasi agar klien dapat mengekspresikan
 Klien mengidentifikasi sumber- kemarahan secara adaptif
sumber yang di perlukan untuk
 Dorong klien untuk mencari bantuan dari staf
mendukung setiap alternatif
keperawatan atau orang lain yang bertanggung
 Klien dapat memilih setiap jawab selama priode peningkatan ketegangan
alternatif
 Beri jalan keluar untuk mengekspresikan
kemarahan dan ketegangan fisik
 Beri klien ketenangan hati selama petugas
kesehatan memberikan intervensi untuk
mencegah kehilangan control
 Gunakan control eksternal misalnya restrain
fisik atau manual dan pengasingan sesuai
kebutuhan untuk menenangkan klien yang
mengekspresikan kemarahan dengan cara

20
maladaptive
 Berikan feedback terhadap prilaku klien untuk
membantu klien mengidenrifikasi kearahan
 Membantu klien untuk mengidentifikasi
kemarahan
 Identifikasi fungsi marah, frustasi dan
kemarahan hebat pada klien
 Anjurkan klien untuk menggunakan tindakan
ketenangan
 Bantu klen dalam mengembangkan metode
mengekspresikan kemarahan yang sesuai
misalnya kalimat yang asertif dan berperasaan
 Berikan contoh bagaimanna mengekspresikan
kemarahan yang sesuai
4. Gangguan pola tidur Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama Peningkatan tidur
berhubungan dengan depresi, …x24 jam diharapkan klien menunjukkan tidur ( sleep enhancement ) :
kesepian, berduka, terlambat yang addekuat dengan kriteria :  Tentukan aktivitas dan pola tidur klien.
tidur, kehilangan teman tidur  Klien menunjukkan jam tidur tidak  Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat selama
takut berpisah dengan orag terganggu. sakit, stress psikososial .
terdekat, penuaan ditandai  Klien melaporkan tidak ada masalah  Tentukan efek dari pengobatan terhadap pola
dengan klien mengatakan dengan pola, kualitas dan rutinitas tidur tidur klien.
terbangun dalam waktu yang atau istirahat.  Pantau dan catat pola tidur dan jumlah jam
lama, insomnia yang lama,  Klien menunjukkan perasaan segar tidur kien.
permulaan tidur >30 menit, setelah tidur atau istirahat.  Pantau pola tidur dan catat adanya gangguan
klien mengeluh kesulitan  Klien melaporkan terjaga dengan waktu fisik ( seperti : ketakutan atau kecemasan )
untuk memulai tidur, yang sesuai . yang dapat mengganggu tidur.
mengeluh istirahat tidak  Klien dapat mengidentifikasi tindakan  Ajarkan klien untuk memonitor pola tidurnya.
merasa puas, menurunnya yang dapat meningkatkan tidur / istirahat.  Pantau pengaruh kelelahan akibat aktivitas
kemampuan fungsi.  Klien menunjukkan kenyamanan fisik selama bangun untuk mencegah kelelahan.
dan psikologis.  Atur lingkungan yang dapat meningkatkan
tidur ( seperti : pencahayaan, suhu, matras dan

21
temapat tidur ).
 Dorong klien untuk mempertahankan waktu
tidur rutin dan fasilitasi peralihan dari bangun
ke tidur.
 Fasilitasi klien dalam mengatur rutinitas waktu
tidur sesuai kebutuhan.
 Bantu klien untuk menghilangkan situasi stress
yang dapat menggangu jadwal tidur.
 Anjurkan klien unuk menghindari makan
diantara waktu tidur.
 Bantu klien untuk mengurangi waktu tidur
disiang hari dengan meningkatkan aktivitas
sesuai kebutuhan.
 Anjurkan klien untuk menghindari makan
diantara waktu tidur.
 Bantu klien untuk mengurangi waktu tidur
disiang hari dengan meningkatkan aktivitas
sesuai kebutuhan.
 Anjurkan klien untuk menggunakan teknik
non farmakologi : relaksasi otot untuk
mengatasi gangguan tidur.
 Tingkatkan kenyamanan klien dengan
massage, mengatur posisi dan sentuhan.
 Anjurkan klien untuk meningkatkan jam tidur
sesuai kebutuhan.
 Ajarkan klien / orang terdekat tentang factor-
faktor yang berkontribusi dalam gangguan pola
tidur seperti : perubahan fisik, psikologi, gaya
hidup, shift kerja dan bekerja dalam waktu
yang lama dan factor yang lingkungan.
 Identifikasi obat tidur apa saja yang digunakan

22
klien.
 Atur stimulus lingkungan untuk
mempertahankan siklus tidur siang dan malam
klien yang normal.
 Diskusikan klien dan keluarga tentang teknik
peningkatan tidur.
 Berikan informasi melalui pamphlet tentang
teknik untuk meningkatkan tidur.
Manajamen lingkungan
(environmental management ) :
 Ciptakan lingkunngan yang aman bagi klien.
 Identifikasi keamanan yang dibutuhkan klien,
tingkat fungsi fisik dan kognitif klien dan riwayat
perilaku.
 Pindahkan lingkungan yang berbahaya.
 Hindari objek yang dapat membahayakan
lingkungan.
 Amankan klien dengan pengaman samping sesuai
kebutuhan.
 Siapkan tempat tidur yang sesuai kebutuhan.
 Tempatkan perlengkapan ruangan yang dapat
mengakomodasi ketidakmampuan klien atau
keluarga.
 Berikan ruangan tersendiri sesuai indikasi.
 Ciptakan lingkungan yang bersih dan tempat tidur
yang nyaman.
Manajemen pengobatan
( medication management )
 Tentukan obat apa yang dibutuhkan klien.
 Tentukan kemampuan klien dalam mengobati
dirinya sendiri.

23
 Pantau efektifitas pemberian obat-obatan.
 Ajarkan klien / anggota keluarga tentang
metode pengolahan obat-obatan sesuai
kebutuhan.
 Berikan informasi pada klien / anggota
keluarga tentang perubahan pengobatan
dirinya secara tertulis atau dengan penjelasan.
 Anjurkan klien untuk memperhatikan
pengobatan.
Sumber : Nurarif, A,H ; Kusuma, H (2013),Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC

24
25
5. Implementasi
a. Diagnosa keperawatan : berduka antisipasi
1) Pendengar aktif (active listening) :
a) Tentukan maksud dari interaksi.
b) Perlihatkan ketertarikan dengan klien.
c) Gunakan pertanyaan atau pernyataan untuk mendorong ekspresi dari
pikiran , perasaan dan perhatian.
2) Bantu control marah (Anger Control Assistance) :
a) Mendorong klien untuk mencari bantuan dari staf keperawatan atau
orang lain yang bertanggung jawab selama periode peningkatan
ketenangan.
b) Mencegah kerugian fisik jika marah langsung terhadap diri sendiri dan
orang lain.
c) Memberikan jalan keluar untuk mengkespresikan kemarahan dan
ketegangan fisik.
d) Memberikan klien ketenangan hati selama petugas kesehatan
memberikan intervensi untuk mencegah klien kehilangan control.
3) Peningkatan dukungan system (Support Sistem enhancement ) :
a) Evaluasi respon psikologi klien terhadap situasi dan kesediaan
dukungan system.
b) Dorong klien untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial dan
komunitas.
c) Dorong klien untuk berhubungan dengan orang yang memiliki
minat dan tujuan yang sama.
d) Evaluasi sumber komunitas yang adekuat untuk mengidentifikasi
kekuatan dan kelemahan klien.
e) Melibatkan keluarga/ orang terdekat/ teman dalam perawatan dan
perencanaan.
f) Menjelaskan pada klien mengenai bagaimana cara mendapatkan
bantuan.
b. Diagnosa keperawatan : berduka disfungsional
1) Pendengar aktif (active listening) :
a) Tentukan maksud dari interaksi.
b) Perlihatkan ketertarikan dengan klien.

26
c) Gunakan pertanyaan atau pernyataan untuk mendorong ekspresi dari
pikiran , perasaan dan perhatian.
2) Bantu control marah (Anger Control Assistance) :
a) Dorong klien untuk mencari bantuan dari staf keperawatan atau
orang lain yang bertanggung jawab selama periode peningkatan
ketenangan.
b) Cegah kerugian fisik jika marah langsung terhadap diri sendiri dan
orang lain.
c) Berikan jalan keluar untuk mengkespresikan kemarahan dan
ketegangan fisik.
d) Berikan klien ketenangan hati selama petugas kesehatan
memberikan intervensi untuk mencegah klien kehilangan control.
3) Peningkatan dukungan system (Support Sistem enhancement ) :
a) Evaluasi respon psikologi klien terhadap situasi dan kesediaan
dukungan system.
b) Dorong klien untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial dan
komunitas.
c) Dorong klien untuk berhubungan dengan orang yang memiliki minat
dan tujuan yang sama.
d) Evaluasi sumber komunitas yang adekuat untuk mengidentifikasi
kekuatan dan kelemahan klien.
e) Libatkan keluarga/ orang terdekat/ teman dalam perawatan dan
perencanaan.
f) Jelaskan pada klien mengenai bagaimana cara mendapatkan bantuan.
c. Diagnosa Keperawatan : Harga diri rendah situasional
1) Peningkatan Harga Diri
a) Dorong klien untuk mengidentifikasi kekuatannya
b) Dorong klien untuk mempertahankan kontak mata saat
berkomunikasi dengan orang lain
c) Bantu klien untuk mengeluarkan persepsi negatif terhadap dirinya
sendiri
d) Dorong klien untuk meningkatkan kemampuan diri sesuai kebutuhan
e) Pantau tingkat harga diri klien setiap waktu sesuai kebutuhan
f) Buatlah pertanyaan yang positif tentang klien

27
2) Bantu control marah (Anger Control Assistance) :
a) Dorong klien untuk mencari bantuan dari staf keperawatan atau orang
lain yang bertanggung jawab selama periode peningkatan ketenangan.
b) Cegah kerugian fisik jika marah langsung terhadap diri sendiri dan
orang lain.
c) Berikan jalan keluar untuk mengkespresikan kemarahan dan
ketegangan fisik.
d) Berikan klien ketenangan hati selama petugas kesehatan memberikan
intervensi untuk mencegah klien kehilangan control.

d. Diagnosa Keperawatan : gangguan pola tidur


1) Peningkatan tidur
a) Tentukan aktivitas dan pola tidur klien.
b) Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat selama sakit, stress psikososial.
c) Pantau dan catat pola tidur dan jumlah jam tidur kien.
d) Anjurkan klien untuk menggunakan teknik non farmakologi : relaksasi
otot untuk mengatasi gangguan tidur.
e) Tingkatkan kenyamanan klien dengan massage, mengatur posisi dan
sentuhan.
f) Anjurkan klien untuk meningkatkan jam tidur sesuai kebutuhan.
g) Ajarkan klien / orang terdekat tentang factor-faktor yang berkontribusi
dalam gangguan pola tidur seperti : perubahan fisik, psikologi, gaya
hidup, shift kerja dan bekerja dalam waktu yang lama dan factor yang
lingkungan.
h) Berikan informasi melalui pamphlet tentang teknik untuk
meningkatkan tidur.
2) Manajamen lingkungan (environmental management ) :
a) Ciptakan lingkunngan yang aman bagi klien.
b) Siapkan tempat tidur yang sesuai kebutuhan.
c) Tempatkan perlengkapan ruangan yang dapat mengakomodasi
ketidakmampuan klien atau keluarga.
d) Berikan ruangan tersendiri sesuai indikasi.
e) Ciptakan lingkungan yang bersih dan tempat tidur yang nyaman.
3) Manajemen pengobatan ( medication management )
a) Tentukan obat apa yang dibutuhkan klien.
b) Tentukan kemampuan klien dalam mengobati dirinya sendiri.
c) Ajarkan klien / anggota keluarga tentang metode pengolahan obat-
obatan sesuai kebutuhan.
d) Berikan informasi pada klien / anggota keluarga tentang perubahan
pengobatan dirinya secara tertulis atau dengan penjelasan.
e) Anjurkan klien untuk memperhatikan pengobatan.

28
6. Evaluasi Keperawatan (Aspiani,2014)
e. Diagnosa keperawatan : Berduka antisipasi
1) Klien menggunakan koping yang efektif.
2) Klien mencari informasi tentang penyakit dan pengobatannya.
3) Klien menggunakn dukungan social yang tersedia.
4) Klien melaporkan gejala fisik dari stress dan penurunan perasaan negatif.
5) Klien mengungkapkan pikiran, perasaan dan kepercayaan spiritual tentang
kehilangan.
6) Klien mengatakan secara verbal ketakutan / kekhawatiran.
7) Klien tidak larut dalam kesedihan.
f. Diagnosa keperawatan : Berduka disfungsional
1) Klien melaporkan dukungan social yang adekuat.
2) Klien melaporkan duka cita secara verbal.
3) Klien menyatakan arti dari kehilangan secara verbal.
4) Klien melaporkan gejala fisik dari stress dan penurunan perasaan negative.
5) Klien mengungkapkan perasaan tentang kehilangan.
g. Diagnosa keperawatan : Harga diri rendah situasional
1) Klien mengungkapkan penerimaan diri secara verbal.
2) Klien menunjukkan komunikasi terbuka.
3) Klien mau menerima kritikan dari orang lain.
4) Klien mau melakukan kontak dengan orang lain.
5) Klien memahami kekuatan diri
6) Klien melakukan perilaku yang dapat meningkatkan rasa percaya diri.
h. Diagnosa keperawatan : Gangguan pola tidur
1) Klien menunjukkan jam tidur tidak terganggu.
2) Klien melaporkan tidak ada masalah dengan pola, kualitas dan rutinitas,
tidur atau istirahat.
3) Klien tampak segar setelah tidur atau istirahat.
4) Klien tampak nyaman.

29
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan data-data yang diperoleh, akhirnya dapat disimpulkan bahwa kehilangan
merupakan suatu keadaan gangguan jiwa yang bisa terjadi pada orang-orang yang
menghadapi suatu keadaan yang berubah dari keadaan semula (keadaan yang sebelumnya
ada menjadi tidak ada). Kehilangan bisa meliputi kehilangan objek eksternal, lingkungan
yang dikenal, orang terdekat, aspek diri, dan kehilangan hidup. Di dalam menangani
pasien dengan respon kehilangan, diperlukan prinsip-prinsip keperawatan yang sesuai,
misalnya pada anak atau pada orang tua dengan respon kehilangan (kematian anak).
Pengkajian yang dapatdilakukan yaitu dengan mengidentifikasi faktor predisposisi dan
fektor presipitasi.
Dimana factor predisposisi meliputi :

1. Genetik
Genetik adalah Faktor keturunan atau yang diturunkan oleh orang tua
2. Kesehatan Jasmani
3. Kesehatan Mental
4. Pengalaman Kehilangan di Masa Lalu
5. Struktur Kepribadian

B. Saran
Setelah kami membuat kesimpulan tentang asuhan keperawatan pada klien
dengan respon kehilangan dan berduka (Loss and Grief), maka kami menganggap
perlu adanya sumbang saran untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu asuhan
keperawatan.
Adapun saran-saran yang dapat kami sampaikan sebagai berikut:
1. Dalam perencanaan tindakan, harus disesuaikan dengan kebutuhan klien pada
saat itu.
2. Dalam perumusan diagnosa keperawatan, harus diprioritaskan sesuai dengan
kebutuhan maslow ataupun kegawatan dari masalah.
3. Selalu mendokumentasikan semua tindakan keperawatan baik yang kritis
maupun yang tidak.

30
DAFTAR PUSTAKA

 Aspiani.Y.R.2014.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik Jilid 2.Jakarta:TIM


 Budi, Anna Keliat. 2009. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta :
EGC
 Indriana, Y. (2012). Gerontologi dan Progeria. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
 Iyus, Yosep. 2007. Keperawatan Jiwa. Refika Aditama : Bandung
 Keliat, B.A., Novy H.C.D., & Pipin, F. (2011). Manajemen Keperawatan
Psikososial dan Kader Kesehatan Jiwa. Jakarta; EGC
 NANDA.2011. Diagnosis Keperawatan : Defenisi dan Klasifikasi. Jakarta : EGC
 Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan volume 1. Jakarta: EGC.
 Puri, B.K., P.J. Laking, & I.H. Treasaden. (2011). Buku Ajar Psikiatri.Edisi 2.
Diterjemahkan oleh: W. M. Roan dan Huriawati Hartanto. Jakarta; EGC
 Riyadi, S & Teguh, P. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta; GRAHA
ILMU
 Rotter, J.C. (2009). Family Grief and Mourning. The Family Journal Vol.8 (no
3), 275.,
 Suseno, Tutu April. 2004. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia: Kehilangan,
Kematian dan Berduka dan Proses keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.
 Wahdaniah.2010. Konsep Kehilangan.Jakarta : TIM

31

Anda mungkin juga menyukai