Anda di halaman 1dari 24

PENGELOLAAN BIAYA LINGKUNGAN

A. PARADIGM EKOEFISIENSI.

Menurut Hansen Mowen (2005), ekoefiensi pada intinya mempertahankan bahwa


organisasi dapat memproduksi barang dan jasa yang lebih bermanfaat sedangkan secara simultan
mengurangi dampak lingkungan yang negatif, konsumsi sumber daya, dan biaya. Konsep ini
mengandung paling tidak tiga pesan penting.

1. Perbaikan kinerja ekologi dan ekonomi dapat dan sudah seharusnya saling melengkapi.
2. Perbaikan kinerja lingkungan seharusnya tidak lagi dipandang hanya sebagai amal dan
derma, melainkan sebagai persaingan.
3. Ekoefiensi adalah suatu pelengkap dan mendukung pengembangan yang
berkesinambungan.

Ekoefiensi mengimplikasikan bahwa peningkatan efisiensi berasal dari perbaikan kinerja


lingkungan. Beberapa penyebab-penyebab dan insentif-insentif untuk peningkatan ekoefiensi antara
lain :

1. Permintaan pelanggan akan produk yang lebih bersih.


2. Pegawai yang lebih baik dan produktivitas yang lebih besar.
3. Biaya modal yang lebih rendah dan asuransi yang lebih rendah.
4. Keuntungan sosial yang signifikan sehingga citra perusahaan menjadi lebih baik.
5. Inovasi dan peluang baru.
6. Pengurangan biaya dan keunggulan bersaing.

B. MENDEFINISIKAN BIAYA LINGKUNGAN.

Biaya lingkungan adalah dampak, baik moneter atau non-moneter yang terjadi oleh hasil
aktivitas perusahaan yang berpengaruh pada kualitas lingkungan. Menurut Arfan Ikhsan (2009),
biaya lingkungan pada dasarnya berhubungan dengan biaya produk, proses, sistem atau fasilitas
penting untuk pengambilan keputusan manajemen yang lebih baik. Tujuan perolehan biaya adalah
bagaimana cara mengurangi biaya-biaya lingkungan, meningkatkan pendapatan dan memperbaiki
kinerja lingkungan dengan memberi perhatian pada situasi sekarang, masa yang akan datang dan

1
biaya-biaya manajemen yang potensial. Biaya lingkungan meliputi biaya internal dan eksternal serta
berhubungan dengan semua biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan kerusakan lingkungan
dan perlindungan. Definisi-definisi tambahan antara lain meliputi:

1. Biaya lingkungan meliputi biaya-biaya dari langkah yang diambil, atau yang harus diambil
untuk mengatur dampak-dampak lingkungan terhadap aktivitas perusahaan dalam cara
pertanggungjawaban lingkungan, seperti halnya biaya lain yang dikemudikan dengan tujuan-
tujuan lingkungan dan keinginan perusahaan.
2. Biaya-biaya lingkungan meliputi biaya internal dan eksternal dan berhubungan terhadap
seluruh biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan kerusakan lingkungan dan
perlindungan.
3. Biaya-biaya lingkungan adalah pemakaian sumber daya disebabkan atau dipandu dengan
usaha-usaha (aktivitas) untuk: 1) mencegah atau mengurangi bahan sisa dan polusi, 2)
mematuhi regulasi lingkungan dan kebijakan perusahaan, 3) kegagalan memenuhi regulasi
dan kebijakan lingkungan.

Hansen Mowen (2006), biaya lingkungan dapat disebut biaya kualitas lingkungan
(environmental quality costs). Sama halnya dengan biaya kualitas, biaya lingkungan adalah biaya-
biaya yang terjadi karena adanya kualitas lingkungan yang buruk atau karena kualitas lingkungan
yang buruk mungkin terjadi. Maka, biaya lingkungan berhubungan dengan kreasi, deteksi, perbaikan,
dan pencegahan degradasi lingkungan.

C. LAPORAN BIAYA LINGKUNGAN.


2.1 Pengertian Akuntansi Biaya Lingkungan
Akuntansi lingkungan adalah identifikasi, pengukuran dan alokasi biaya-biaya lingkungan
hidup dan pengintegrasian biaya-biaya ke dalam pengambilan keputusan usaha serta
mengkomunikasikan hasilnya kepada para stockholders perusahaan. (junus dalam Sri Astuti dan
Ikhsan;2002)
Akuntansi lingkungan (Environmental Accounting) adalah istilah yang berkaitan dengan
dimasukkannya biaya lingkungan (environmental costs) ke dalam praktek akuntansi perusahaan atau
lembaga pemerintah. Biaya lingkungan adalah dampak (impact) baik moneter maupun non-moneter
yang harus dipikul sebagai akibat dari kegiatan yang mempengaruhi kualitas
lingkungan.(Djogo;2002)

2
Definisi Environmental Accounting antara lain :
1. Adalah penggabungan informasi manfaat dan biaya lingkungan kedalam macam2 praktek
akuntansi.
2. Adalah identifikasi, prioritisasi, kuantifikasi, atau kualifikasi, dan penggabungan biaya
lingkungan kedalam keputusan2 bisnis. Biaya lingkungan Biaya lingkungan adalah dampak,
baik moneter atau non-moneter terjadi oleh hasil aktifitas perusahaan yang berpengaruh
pada kualitas lingkungan.
Akuntansi biaya lingkungan merupakan pendekatan akuntansi biaya sistematis dan tidak
hanya berfokus pada akuntansi untuk biaya proteksi lingkungan, tetapi juga mempertim-
bangkan biaya lingkungan terhadap material dan energy. Akuntansi biaya lingkungan menunjukkan
biaya riil atas input dan proses bisnis serta memastikan adanya efisiensi biaya dan diaplikasikan
untuk mengukur biaya kualitas dan jasa.
Akuntansi lingkungan mengidentifikasi, menilai dan mengukur aspek penting dari kegiatan
sosial ekonomi perusahaan dalam memelihara kualitas lingkungan hidup sesuai dengan tujuan tang
telah ditetapkan, sehingga perusahaan tidak seenaknya untuk mengolah sumber daya tanpa
memperhatikan dampak terhadap masyarakat (Haniffa,2002)
Biaya-biaya yang terdapat dalam akuntansi biaya lingkungan: Biaya lingkungan dapat
diartikan sebagai biaya yang muncul dalam usaha mencapai tujuanseperti pengurangan biaya
lingkungan yang meningkatkan pendapatan, meningkatkan kinerjalingkungan yang perlu
dipertimbangkan saat ini dan yang akan datang. (Irawan, Lintasan Ekonomi : 2001)
Biaya lingkungan adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan berhubungan dengan
kerusakanlingkungan yang ditimbulkan dan perlindungan yang dilakukan. Biaya lingkungan
mencakup baik biaya internal (berhubungan dengan pengurangan proses produksi untuk
mengurangi dampak lingkungan) maupun eksternal (berhubungan dengan perbaikan kerusakan
akibat limbah yang ditimbulkan) (Susenohaji,2003)
1. Biaya pemeliharaan dan penggantian dampak akibat limbah dan gas buangan (waste and
emission treatment), yaitu biaya yang dikeluarkan untuk memelihara, memperbaiki,
mengganti kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah perusahaan.
2. Biaya pencegahan dan pengelolaan lingkungan (prevention and environmental
management) adalah biaya yang dikeluarkan untuk mencegah dan mengelola limbah untuk
menghindari kerusakan lingkungan.
3. Biaya pembelian bahan untuk bukan hasil produksi (material purchase value of non-product)
merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan yang bukan hasil produksi dalam
rangka pencegahan dan pengurangan dampak limbah dari bahan baku produksi.

3
4. Biaya pengelolaan untuk produk (processing cost of non-product output) ialah biaya yang
dikeluarkan perusahaan untuk pengolahan bahan yang bukan hasil produk.
5. Penghematan biaya lingkungan (environmental revenue) merupakan penghematan biaya
atau penambahan penghasilan perusahaan sebgai akibat dari pengelolaan lingkungan.
6. Potensially hidden costs adalah biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk
memproduksi suatu produk sebelum proses produksi (missal : biaya desain produk), biaya
selama proses produksi (seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya
overhead) dan backend environment cost (missal : lisensi mutu produk)
7. Contingent cost adalah biaya yang mungkin timbul dan mungkin terjadi dalam suatu
perusahaan dan dibebankan pada contingent liabilities cost (Ex: biaya cadangan untuk
kompensasi kecelakaan yang terjadi)
8. Image and Relationship adalah biaya yang dipengaruhi oleh persepsi manajemen,
pelanggan, tenaga kerja, public dan lembaga pemerintah tentang kepatuhan terhadap
undang-undang lingkungan dan bersifat subjektif, contoh : pelaporan biaya lingkungan
secara sukarela oleh perusahaan.
9. Private cost merupakan biaya yang terjadi dalam suatu perusahaan yang berpengaruh
langsung terhadap bottom line perusahaan
10. Societal cost menggambarkan dampak biaya lingkungan dan sosial dalam suau entitas dan
merupakan biaya eksternal. Contoh adalah baiay yang dikeluarkan sebagai dampak
pencemaran lingkungan.

2.2 Model Biaya Kualitas Lingkungan


Salah satu pendekatan yang digunakan adalah model biaya kualitas
lingkungan. Dalam model kualitas lingkungan total, kondisi ideal adalah tidak adanya
kerusakan lingkungan; kerusakan dianggap sebagai degradasi langsung dari
lingkungan (misalnya polusi air dan udara) atau degradasi tidak langsung (misal
penggunaan bahan baku dan energi yang tidak perlu). Biaya lingkungan didefinisikan
sebagai biaya-biaya yang terjadi karena adanya kualitas lingkungan yang buruk atau
karena kualitas lingkungan yang buruk mungkin terjadi. Oleh karenanya biaya
lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention cost), yaitu biaya-
biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya limbah
dan/atau sampah yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Contoh:

4
biaya seleksi pemasok, seleksi alat pengendali polusi, desain proses dan
produk, training karyawan, dll.
b. Biaya deteksi lingkungan (environmental detection cost), yaitu biaya-biaya
untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan apakah produk, proses, dan
aktivitas lainnya telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku/tidak.
Contoh: biaya audit aktivitas lingkungan, pemeriksaan produk dan proses,
pelaksanaan pengujian pencemaran, pengukuran tingkat pencemaran, dll.
c. Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal failure cost),
yaitu biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan karena diproduksinya
limbah, tetapi tidak dibuang ke lingkungan luar. Contoh: biaya operasional
peralatan pengurang/penghilang polusi, pengolahan dan pembuangan limbah
beracun, pemeliharaan peralatan, daur ulang sisa bahan, dll.
d. Biaya kegagalan eksternal lingkungan (environmental external failure cost),
yaitu biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan setelah melepas
limbah/sampah ke dalam lingkungan.
1. Biaya kegagalan eksternal yang direalisasi (realized external failure cost),
yaitu biaya yang dialami dan dibayar oleh perusahaan. Contoh: biaya
membersihkan danau/tanah yang tercemar atau minyak yang tumpah, penyelesaian
klaim kecelakaan pribadi, hilangnya penjualan karena
reputasi lingkungan yang buruk, dll.
2. Biaya kegagalan ekternal yang tidak direalisasikan/biaya sosial (unrealized
external failure cost/social cost), yaitu biaya sosial yang disebabkan oleh
perusahaan tetapi dialami dan dibayar oleh pihak-pihak di luar perusahaan.
Contoh: biaya perawatan medis karena kerusakan lingkungan, hilangnya
lapangan pekerjaaan karena polusi, rusaknya ekosistem, dll.
Pelaporan biaya lingkungan menjadi penting jika perusahaan serius untuk
memperbaiki kinerja lingkungannya dan mengendalikan biaya lingkungannya.
Pelaporan biaya lingkungan menurut kategori memberikan dua hasil yang penting,
yaitu:
a. dampak biaya lingkungan terhadap profitabilitas,
b. Jumlah relatif yang dihabiskan untuk setiap kategori. Dari sudut pandang praktis,
biaya lingkungan akan menerima perhatian manajemen hanya jika jumlahnya
signifikan. Dalam kenyataannya, biaya lingkungan dapat secara signifikan
mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Laporan biaya juga menyediakan

5
informasi yang berhubungan dengan distribusi relatif dari biaya lingkungan. Biaya
kegagalan lingkungan dapat dikurangi dengan menginvestasikan lebih banyak
aktivitas-aktivitas pencegahan dan deteksi. Dimungkinkan bahwa model
pengurangan biaya lingkungan akan berperilaku serupa dengan model biaya kualitas
total, yaitu bahwa biaya lingkungan yang terendah diperoleh pada titik kerusakan
nol, sama seperti titik cacat nol pada model biaya kualitas total. Pengetahuan akan
biaya lingkungan dan hubungannya dengan produk dapat menjadi sebuah insentif
untuk melakukan inovasi dan meningkatkan efisiensi.

2.3 Pengukuran Biaya Lingkungan


Biaya lingkungan harus dikelola dengan efektif dan efisien agar: 1) produk harus lebih
berdaya guna, dan 2) perusahaan dalam melakukan pengurangan biaya dengan cara: a) mengurangi
dampak negatif lingkungan, b) mengkonsumsi sumber daya alam secara efektif. Biaya lingkungan
perlu dilaporkan secara terpisah berdasarkan klasifikasi biayanya. Hal ini dilakukan supaya laporan
biaya lingkungan dapat dijadikan informasi yang informatif untuk mengevaluasi kinerja operasional
perusahaan terutama yang berdampak pada lingkungan.
Pelaporan biaya lingkungan adalah penting jika sebuah organisasi serius memperbaiki
kinerja lingkungannnya dan mengendalikan biaya lingkungannya. Langkah pertama yang baik adalah
laporan yang memberikan perincian biaya lingkungan menurut kategori.
Pelaporan biaya lingkungan menurut kategori memberikan dua hasil yang penting :
1. Dampak biaya lingkungan terhadap profitabilitas perusahaan
2. Jumlah relatif yang dihabiskan untuk setiap kategori.
Dengan mengelola lingkungan perusahaan secara efektif dan efisien, perusahaan dapat
membantu pembangunan secara berkesinambungan sehingga pelanggan dapat mengkonsumsi
produk yang ramah lingkungan. Di samping itu karyawan dapat bekerja dalam situasi kondusif, biaya
modal perusahaan rendah, biaya asuransi kesehatan rendah, dan masyarakat dapat hidup sehat.
Biaya lingkungan dapat dikelompokkan ke dalam biaya gagal eksternal dalam dimensi biaya
mutu yang besarnya dapat dihitung dari total biaya produksi. Makin tinggi biaya lingkungan, makin
tinggi beban biaya perusahaan dan menurunkan laba, atau mungkin dapat mengakibatkan kerugian.
Perhitungan biaya lingkungan disajikan dalam tabel 1.1, 1.2, dan 1.3.

6
Tabel 1.1
Laporan Biaya Lingkungan
Biaya Produksi Rp. 20.000, diproduksi 1.000 unit
Jenis Biaya Rp %
Biaya Pencegahan :
- Pelatihan 60
- Desain produk 180
- Pemilihan peralatan 40 1,4
280
Biaya Pemeriksaan :
- Pemeriksaan proses 240
- Pemeriksaan bahan 80 1,6
320
Biaya gagal internal :
- Biaya produk rusak atau cacat 400
- Biaya pemeliharaan peralatan 200 3
600
Biaya gagal eksternal :
- Biaya lingkungan alam (polusi udara, air) 200
- Biaya lingkungan ekonomi ( kerugian valas) 200
- Biaya lingkungan social (huru-hara, pemogokan) 200
- Biaya lingkungan politik (pungutan liar) 200
- Biaya lingkungan budaya (narkoba) 200
- Biaya kebersihan 200
- Biaya penataan lahan 200
- Biaya klaim kerusakan 400 9
1.800
Total 3.000 15

Tabel 1.2
Pembebanan Biaya Lingkungan
Jenis Biaya Biaya Per Unit
Biaya produksi per unit (20.000/1.000 unit) 20
Biaya pencegahan (280/1.000 unit) 0,028

7
Biaya pemeriksaan (320/1.000 unit) 0,032
Biaya gagal internal (600/1.000 unit) 0,60
Biaya gagal eksternal (1.800/1000 unit ) 0,180
Total biaya produksi 23

Tabel 1.3
Perhitungan Laba-Rugi Berbasis Biaya Lingkungan
(Harga per unit Rp 25, biaya pemasaran dan administrasi 10% dari penjualan)
Ada Biaya Tidak
Keterangan Lingkungan Ada Biaya
(Rp) Lingkungan
(Rp)
Pendapatan atas penjualan 25.000 25.000
Biaya produksi per unit (20.000/1.000 unit) = 20 20.000 20.000
Biaya pencegahan (280/1.000 unit) = 0,028 280 0
Biaya pemeriksaan (320/1.000 unit) = 0,032 320 0
Biaya gagal internal (600/1.000 unit) = 0,06 600 0
Biaya gagal eksternal ( 1800/1000 unit) = 0,18 1.800 0
Laba Kotor 2.000 5.000
Biaya pemasaran dan administrasi 10 % x 25.000 2.500 2.500
Laba (rugi) operasi (500) 2.500

Keterangan Tabel 1.3 :


Jika perusahaan tidak membayar biaya lingkungan, maka ia memperoleh laba operasi Rp
2.500, dan jika ia membayar biaya lingkungan ia menderita kerugian Rp 500. Oleh sebab itu
perusahaan harus mengelola biaya lingkungan serendah-rendahnya agar tidak menderita kerugian.

D. PENGURANGAN BIAYA LINGKUNGAN.


3.1 Membebankan Biaya Lingkungan
Produk dan proses merupakan sumber biaya lingkungan. Proses produksi
dapat menciptakan residu/limbah padat, cair dan gas yang selanjutnya dilepas ke
lingkungan dan berpotensi merusak lingkungan. Setelah produk dijual, penggunaan
dan pembuangannya oleh pelanggan juga dapat mengakibatkan kerusakan
lingkungan. Biaya lingkungan pasca pembelian (environmental postpurchase cost)

8
semacam ini sering kali ditanggung oleh masyarakat, dan bukan oleh perusahaan,
sehingga merupakan biaya sosial.
Perusahaan harus dapat menentukan bagaimana membebankan biaya
lingkungan ke produk dan proses. Beberapa hal perlu mendapat perhatian.
1. Biaya lingkungan penuh atau biaya privat penuh
a. Biaya lingkungan penuh (full environmental costing) adalah pembebanan
semua biaya lingkungan, baik yang bersifat privat maupun sosial, ke
produk. Biaya penuh memerlukan pengumpulan data dari pihak di luar
perusahaan.
b. Biaya privat penuh (full private costing) adalah pembebanan biaya privat
ke produk individual. Biaya lingkungan yang disebabkan oleh proses
internal perusahaan dibebankan ke produk. Biaya privat menggunakan
data yang dihasilkan di dalam perusahaan.
Pembebanan biaya lingkungan secara tepat dapat digunakan untuk
mengetahui profitabilitas suatu produk dan memungkinkan peluang perbaikan
dalam desain produk, efisiensi ekonomi, dan kinerja lingkungan.
2. Biaya lingkungan berbasis fungsi atau berbasis aktivitas
a. Penghitungan biaya berbasis fungsi membentuk suatu kelompok biaya
lingkungan dan menghitung tingkat/tarifnya dengan menggunakan
penggerak tingkat unit seperti jumlah jam tenaga kerja atau jam mesin.
Biaya lingkungan dibebankan ke setiap produk berdasarkan pemakaian
jam tenaga kerja atau jam mesin. Pendekatan ini cukup memadai untuk
produk yang relatif homogen, namun untuk banyak produk yang
bervariasi, pendekatan berbasis fungsi ini dapat mengakibatkan distrorsi
biaya, misalnya jika ternyata dari sekian banyak produk, hanya satu jenis
produk yang menghasilkan emisi maka biaya lingkungan seharusnya
hanya dibebankan pada produk yang bersangkutan.
b. Penghitungan berbasis aktivitas membebankan biaya ke aktivitas
lingkungan dan kemudian menghitung tingkat/tarif aktivitas. Tingkat ini
digunakan untuk membebankan biaya lingkungan ke produk berdasarkan
penggunaan aktivitas. Untuk perusahaan yang menghasilkan beragam
produk, pendekatan berbasis aktivitas lebih tepat digunakan.

9
3.2 Penilaian Biaya Siklus Hidup
Biaya produk lingkungan dapat menunjukkan kebutuhan untuk meningkatkan
pembenahan produk perusahaan. Pembenahan produk meliputi praktik mendesain,
membuat, mengolah, dan mendaur ulang produk untuk meminimalkan dampak
buruknya terhadap lingkungan. Untuk meningkatkan pembenahan produk dilakukan
penilaian siklus hidup (life cycle), yaitu pengidentifikasian pengaruh lingkungan dari
suatu produk selama siklus hidupnya dan kemudian mencari peluang untuk
memperoleh perbaikan lingkungan. Penilaian siklus hidup membebankan biaya dan
keuntungan pada pengaruh lingkungan dan perbaikan.
Siklus hidup suatu produk meliputi:
1. Ekstraksi sumber daya
2. Pembuatan produk
3. Penggunaan produk
4. Daur ulang dan pembuangan.
5. Pengemasan produk (merupakan bagian siklus hidup produk yang sering tidak
disebutkan).
Sudut pandang siklus hidup semacam ini menggabungkan sudut pandang pemasok,
produsen dan pelanggan. Penilaian biaya siklus hidup merupakan bagian mendasar
dari penilaian siklus hidup. Penilaian biaya siklus hidup membebankan biaya ke dampak lingkungan
dari beberapa desain produk. Biaya ini adalah fungsi dari penggunaan bahan baku, energi yang
dikonsumsi, dan pelepasan ke lingkungan yang berasal dari manufaktur produk.
Penilaian siklus hidup didefinisikan oleh tiga tahapan formal:
1. Analisis persediaan (inventory analysis): memberikan perincian bahan baku,
energi, dan pelepasan ke lingkungan dari suatu produk.
2. Analisis dampak (impact analysis): menilai pengaruh lingkungan dari
beberapa desain dan memberikan peringkat relatif/penilaian biaya dari
pengaruh-pengaruh tersebut.
3. Analisis perbaikan (improvement analysis): bertujuan untuk mengurangi
dampak lingkungan yang ditunjukkan oleh analisis persediaan dan dampak.

10
Gambar 1.1 Tahapan Siklus HidupProduk

3.3 Strategi Biaya Lingkungan


Ada tiga strategi untuk mengelola biaya lingkungan.
1. Strategi Akhir dari pipa (End of pipe strategy). Dalam pendekatan ini, perusahaan
menghasilkan limbah atau polutan, dan kemudian membersihkannya sebelum dibuang ke
lingkungan. Scrubber cerobong asap, pengolahan air limbah, dan filter karbon udara adalah
contoh-contoh strategi akhir pipa.
2. Strategi Proses perbaikan (Process improvement strategy). Dalam pendekatan ini,
perusahaan memodifikasi produk dan proses produksi untuk menghasilkan polutan sedikit
atau tidak ada, atau mencari cara untuk mendaur ulang limbah internal.
3. Strategi pencegahan (Prevention strategy). Strategi utama untuk memaksimalkan nilai dari
kegiatan pencemaran yang berhubungan dengan melibatkan ... tidak menghasilkan polutan
apapun di tempat pertama. Dengan strategi ini, perusahaan menghindari semua masalah
dengan pihak berwenang dan dalam banyak kasus, menghasilkan perbaikan laba yang
signifikan.

11
3.4 Akuntansi Pertanggungjawaban Lingkungan Berbasis Aktivitas dan Strategi
Akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas berfokus pada proses dan tim.
Tanggungjawab kinerja diukur berdasarkan faktor keuangan dan non keuangan/operasional. Waktu,
kualitas, dan efisiensi merupakan dimensi penting dari kinerja karena sistem ini bertujuan untuk
menghasilkan produk dengan biaya rendah, berkualitas tinggi, dan diterima konsumen tepat waktu.
Sistem akuntansi pertanggungjawaban ini dikembangkan oleh perusahaan yang beroperasi
dalam lingkungan yang kompetitif dan menuntut perbaikan berkelanjutan (continuous
improvement). Perubahan dapat dilakukan melalui:
1. Perbaikan proses (improvement process)
2. Proses inovasi (innovation process)
3. Penciptaan proses (process creation).
Karena berbagai perubahan proses tersebut memerlukan aktivitas tim, maka reward berdasarkan
tim lebih sesuai untuk digunakan daripada reward individu.

Analisis Nilai Proses


Analisis nilai proses merupakan sesuatu yang mendasar dalam akuntansi
pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas; lebih berfokus pada aktivitas dibanding pada biaya, dan
lebih menekankan pada kinerja sistem secara keseluruhan dibanding kinerja individu.
1. Analisis Penggerak
Pengelolaan aktivitas memerlukan pemahaman terhadap penyebab biaya aktivitas. Analisis
penggerak merupakan suatu usaha pengidentifikasian faktorfaktor yang menjadi penyebab
utama biaya aktivitas. Misal: biaya perpindahan bahan ternyata disebabkan oleh tata letak
pabrik, maka penataan kembali tata letak pabrik diharapkan dapat mengurangi biaya
perpindahan bahan.
2. Analisis Aktivitas
Analisis aktivitas adalah proses mengidentifikasikan, menjelaskan, dan mengevaluasi
aktivitas organisasi. Analisis aktivitas menghasilkan outcome:
a. Aktivitas apa yang dilakukan
b. Bagaimana aktivitas dilakukan
c. Waktu dan sumber daya yang diperlukan untuk melakukan aktivitas
d. Penilaian terhadap aktivitas (bernilai tambah & tidak bernilai tambah)
- Aktivitas disebut bernilai tambah (value added activities) jika memenuhi tiga kondisi:
1. Aktivitas menghasilkan perubahan
2. Aktivitas sebelumnya tidak menghasilkan perubahan tersebut

12
3. Aktivitas ini memungkinkan dilaksanakannya aktivitas lainnya. Contoh:
pemotongan kayu, perakitan, dan pengecatan pada usaha furniture.
- Aktivitas disebut tidak bernilai tambah (non value added activities), yaitu semua
aktivitas selain dari aktivitas yang penting untuk dilakukan dan diperlukan untuk
menjaga kelangsungan bisnis. Contoh: penjadwalan, pemindahan, waktu tunggu,
pemeriksaan, dan penyimpanan. Biaya bernilai tambah = SQ x SP Biaya tidak bernilai
tambah = (AQ – SQ) SP SQ : tingkat output bernilai tambah dari suatu aktivitas SP :
harga standar tiap unit dari ukuran output aktivitas AQ : kuantitas aktual
penggunaan sumber daya fleksibel atau kapasitas aktivitas praktis yang diperoleh
untuk sumber daya terikat.
- Pengurangan biaya dapat dilakukan melalui empat cara:
a. Eliminasi aktivitas (activity elimination), yaitu menghilangkan aktivitas yang tidak
bernilai tambah.
b. Pemilihan aktivitas (activity selection), yaitu memilih aktivitas dari desain paling
efektif yang mampu mengurangi biaya.
c. Pengurangan aktivitas (activity reduction), yaitu meningkatkan efisiensi dari
aktivitas yang diperlukan.
d. Pembagian aktivitas (activity sharing), yaitu meningkatkan efisiensi dari aktivitas
yang diperlukan dengan menggunakan skala ekonomis, menghindari munculnya
aktivitas baru.
3. Pengukuran Kinerja Aktivitas.
Ukuran kinerja aktivitas yang digunakan meliputi efisiensi, kualitas, dan waktu. Adapun
ukuran keuangan dari efisiensi aktivitas, meliputi:
1. Laporan biaya akivitas bernilai tambah dan aktivitas tidak bernilai tambah
2. Trend dalam laporan aktivitas biaya
3. Penentuan standar Kaizen
Standar Kaizen berfokus pada pengurangan biaya dari produk dan proses yang sudah
ada melalui pengurangan biaya-biaya tidak bernilai tambah. Pengendalian terhadap
proses pengurangan biaya ini dilakukan melalui penggunaan dua subsiklus: (1) siklus
kaizen (siklus perbaikan berkelanjutan) dan (2) siklus pemeliharaan.
4. Benchmarking
Dengan benchmarking, manajemen mengidentifikasi peluang perbaikan aktivitas serta
menggunakan praktik terbaik sebagai standar dalam evaluasi kinerja aktivitas.
5. Manajemen Kapasitas

13
Kapasitas aktivitas menunjukkan jumlah berapa kali suatu aktivitas dapat dilakukan.
Penggerak aktivitas akan mengukur kapasitas aktivitas. Dua pertanyaan yang perlu
dijawab.
a. Seberapa besar seharusnya kapasitas aktivitas tersebut? Hal ini menunjukkan
kemampuan untuk mengukur jumlah peningkatan yang masih dimungkinkan.
b. Seberapa banyak kapasitas yang dimiliki digunakan? Hal ini menunjukkan biaya non
produktif dan sekaligus peluang untuk mengurangi kapasitas dan mengurangi biaya.
6. Life Cycle Costing
Siklus hidup produk adalah waktu keberadaan produk mulai dari pengkonsepan hingga
tidak terpakai. Biaya siklus hidup adalah semua biaya yang berhubungan dengan produk
selama keseluruhan umur hidupnya, termasuk di dalamnya biaya pengembangan,
produksi, dan dukungan logistik.

Akuntansi pertanggungjawaban lingkungan berbasis strategi adalah langkah selanjutnya


dalam evolusi akuntansi pertanggungjawaban. Sistem akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan
strategi (Balanced Scorecard) menerjemahkan misi dan strategi organisasi ke dalam tujuan
operasional dan mengukur empat perspektif yang berbeda: perspektif keuangan, perspektif
pelanggan, perspektif proses, dan perspektif (pembelajaran dan pertumbuhan) infrastruktur.
Elemen sistem pertanggungjawaban berdasarkan strategi terdiri dari beberapa hal sebagai
berikut :
1. Penempatan Tanggung Jawab selain mempertahankan perspektif proses dan keuangan, juga
perspektif pelanggan dan pembelajaran serta pertumbuhan (infrastruktur).
2. Pembuatan Ukuran Kinerja meliputi orientasi proses dari sistem aktivitas.
3. Pengukuran Kinerja berorientasi pada proses (efisiensi),dengan pelanggan (kepuasan
pelanggan); dengan infrastruktur (kepuasan dan keahlian pegawai), dengan konsekuensi
ekonomi dari pelaksanaan proses (trend biaya).
4. Pemberian Penghargaan berdasarkan grup karena dicapai melalui usaha tim.
Perspektif lingkungan memiliki lima tujuan utama, yaitu:
1. Meminimalkan penggunaan bahan baku atau bahan yang masih asli
2. Meminimalkan penggunaan bahan berbahaya
3. Meminimalkan kebutuhan energi untuk produksi dan penggunaan produk
4. Meminimalkanpelepasan limbah padat, cair, dan gas
5. Memaksimalkan peluang untuk daur ulang

14
Manajemen berbasis aktivitas menyediakan sistem operasional yang
menghasilkan perbaikan lingkungan. Aktivitas lingkungan diklasifikasikan sebagai
aktivitas bernilai tambah (value added) dan tidak bernilai tambah (nonvalue added).
Kunci dari pendekatan lingkungan ini adalah mengidentifikasi akar penyebab
aktivitas tak bernilai tambah kemudian mendesain ulang produk serta proses untuk
meminimalkan dan akhirnya menghilangkan aktivitas tak bernilai tambah tersebut.
Perbaikan keuntungan harus menghasilkan keuntungan keuangan yang
signifikan. Hal ini berarti bahwa perusahaan telah mencapai trade off yang
menguntungkan antara aktivitas kegagalan dan aktivitas pencegahan. Jika keputusan
ekoefisien yang dibuat, maka total biaya lingkungan harus terhapus bersamaan
dengan perbaikan kinerja lingkungan. Hal ini bisa diukur dengan menggunakan tren
biaya lingkungan tak bernilai tambah dan tren total biaya lingkungan, yaitu dengan:
1. mempersiapkan laporan biaya lingkungan yang tak bernilai tambah dari periode
berjalan dan membandingkannya dengan periode sebelumnya,
2. menghitung biaya lingkungan total sebagai persentase penjualan dan menelusuri nilai ini
selama beberapa periode.
Kelemahan utama dari perbaikan berkelanjutan adalah tidak mampu untuk menyesuaikan
dengan misi dan strategi organisasi secara keseluruhan. Oleh karenanya, diperlukan perbaikan
berkelanjutan yang terarah.
Akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan strategik menerjemahkan visi dan misi
organisasi ke dalam strategi operasional dan mengembangkan dimensi pertanggungjawaban
menjadi empat dimensi, yaitu :
1. Keuangan (financial)
2. Pelanggan (customer)
3. Proses bisnis internal (internal business process)
4. Serta pembelajaran dan pertumbuhan (learning & growth).
Ukuran kinerja dirancang agar dapat mengkomunikasikan strategi bisnis dan membantu
menyelaraskan tujuan individu dan organisasi. Ukuran yang dipilih harus menyeimbangkan antara
ukuran lag vs lead, objektif vs subjektif, keuangan vs non keuangan, dan antara internal vs eksternal.
Reward untuk individu diberikan berdasarkan ukuran kinerja multidimensi.

Balance Scorecard (BSC)


Balance Scorecard (BSC) adalah suatu sistem manajemen stratejik yang merupakan
operasionalisasi dari akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan strategi. BSC menerjemahkan misi

15
dan strategi organisasi ke dalam tujuan operasional ukuran kinerja untuk empat perspektif yang
berbeda:
1. Keuangan: mendeskripsikan konsekuensi ekonomi dari tindakan yang dilakukan dalam tiga
perspektif lain (pelanggan, proses bisnis internal, pembelajaran & pertumbuhan). Contoh:
pertumbuhan pendapatan, pengurangan biaya, dan pemanfaatan aset.
2. Pelanggan: menentukan pelanggan dan segmen pasar yang diambil dalam operasional
bisnis. Contoh: peningkatan pangsa pasar, akuisisi pelanggan baru, retensi pelanggan,
kepuasan pelanggan, profitabilitas pelanggan, dll.
3. Proses bisnis internal: menjelaskan proses bisnis internal yang diperlukan untuk
menyediakan nilai bagi pelanggan dan pemilik perusahaan. Contoh: proses inovasi, proses
operasional, dan responsivitas terhadap pelanggan.
4. Pembelajaran dan pertumbuhan: menentukan kemampuan yang diperlukan organisasi
untuk menciptakan peningkatan dan pertumbuhan jangka panjang.

E. Membebankan Biaya Kualitas ke Produk Dengan Unit Base dan Activity Base

4.1 Quality Cost


Menurut Hansen & Mowen (2007) mendefinisikan biaya kualitas sebagai aktivitas yang
berkaitan dengan kualitas, yang dilakukan karena ada kemungkinan produk yang buruk atau telah
terdapat produk yang buruk. Biaya yang muncul dari aktivitas tersebut dikatakan sebagai biaya
kualitas.

4.2 Kategori Biaya Kualitas


Menurut Hansen & Mowen (2007), biaya kualitas dibagi menjadi dua yaitu biaya
pengendalian dan biaya kegagalan. Masing-masing dari biaya tersebut dapat dibagi lagi menjadi dua
bagian:

1. Biaya Pencegahan Biaya yang dikeluarkan untuk mencegah kegiatan pengendalian, dimana
biaya ini dikeluarkan untuk mencegah atau mendeteksi kualitas yang buruk.
a. Prevention Cost
Biaya yang terjadi untuk mencegah munculnya kualitas yang buruk pada suatu produk
atau jasa yang dihasilkan
b. Appraisal Cost
Biaya yang terjadi karena menetnukan apakah produk atau jasa telah sesuai dengan
persyaratan perusahaan atau kebutuhan pelanggan. Biaya ini termasuk biaya inspeksi,
uji coba, audit kualitas, dan beban-beban lain yang sejenis.

16
2. Biaya Kegagalan Biaya ini merupakan kegagalan dari pengendalian yang disebabkan dari
material dan produknya tidak dapat memenuhi kualitas yang ditetapkan.
a. Internal Failure Cost
Terjadi karena produk dan jasa yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi atau
kebutuhan pelanggan. Ketidaksesuaian ini dideteksi sebelum dikirim ke pihak luar.
b. External Cost Failure
Termasuk biaya ketidakpuasan yang terjadi diluar perusahaan seperti komplain dari
konsumen dan kegagalan pemenuhuan kualitas produk. Menurut Hansen dan Mowen
(2007) biaya kegagalan eksternal terjadi karena produk dan jasa gagal untuk memenuhi
kebutuhan atau memuaskan kebutuhan konsumen setelah produk dan jasa tersebut
berada ditangan konsumen.

4.3 Biaya Produk Lingkungan

Biaya lingkungan dari proses produksi, pemasaran, dan pengiriman produk serta biaya
lingkungan pasca pembelian yang disebabkan oleh penggunaan dan
pembuangan produk merupakan contoh-contoh biaya produk lingkungan.

Penghitungan biayalingkungan penuh adalah pembebanan semua biaya lingkungan, baik


yang bersifat privat maupun sosial, ke produk. Penghitungan biaya privat penuh adalah pembebanan
biaya privat ke produk individual. Biaya privat dapat dibebankan dengan menggunakan data yang
dihasilkan di dalam perusahaan, sedangkan biaya penuhmemerlukan pengumpulan data yang
dihasilkan di luar perusahaan, yaitu dari pihak ketiga

4.4 Pembebanan Produk Lingkungan Berbasis Fungsi

Dengan menggunakan definisi biaya lingkungan dan kerangka kerja klasifikasi yang baru
dikembangkan, biaya lingkungan harus dipisahkan ke dalam kelompok biaya lingkungan dan tidak
lagi disembunyikan di dalam overhead seperti halnya dalam kebanyakan system akuntansi. Dalam
penghitungan biaya berbasis fungsi, dibentuk suatu kelompok biaya lingkungan dan tingkat
atau tarifnya dihitung dengan menggunakan penggerak tingkat unit seperti jumlah jam tenaga kerja
dan jam mesin.Biaya lingkungan kemudian dibebankan kepada setiap produk berdasarkan
pemakaian jam tenaga kerja langsung atau jam mesin. Pendekatan ini dapat berjalan baik
untuk produk yang homogen. Namun, dalam perusahaan yang memiliki banyak produk
yang bervariasi, pembebanan biaya semacam ini dapat mengakibatkan distorsi biaya.

17
4.5 Pembebanan Biaya Lingkungan Berbasis Aktivitas
Munculnya penghitungan biaya berbasis aktivitas (activity-based costing) ikut memfasilitasi
penghitungan biaya lingkungan.

4.6 Penilaian Siklus Hidup


Penilaian biaya siklus hidup merupakan bagian mendasar dari penilaian siklus hidup.
Pembebanan produk adalah praktik mendesain, mengolah, dan mendaur ulang produk untuk
meminimalkan dampak buruknya terhadap lingkungan. Penilaian siklus hidup adalah sarana untuk
meningkatkan pembenahan produk. Penilaian siklus hidup mengidentifikasi pengaruh lingkungan
dari suatu produk di sepanjang siklus hidupnya dan kemudian mencari peluang untuk memperoleh
perbaikan lingkungan. Penilaian biaya siklus hidup membebankan biaya dan keuntungan pada
pengaruh lingkungan dan perbaikan.

4.7 Siklus Hidup Produk


Tahapan dalam siklus hidup antaaraa lain :
1. Ekstraksi sumber daya
2. Pembuatan produk
3. Penggunaan produk
4. Daur ulang dan pembuangan
5. Pengemasan produk
Sudut pandang siklus hidup yang digunakan mengggabungkan sudut pandang pemasok,
produsen, dan pelanggan. Hubungan internal maupun eksternal dianggap penting dalam menilai
pengaruh lingkungan dari produk, desain produk, dan desain proses yang berbeda-beda.
Penilaian siklus hidup didefinisikan oleh tiga tahapan formal :
1. Analisis Persediaan
Menyebutkan jenis dan jumlah input bahan baku dan energy yang dibutuhkanserta pelepasan ke
lingkungan yang dihasilkan dalam bentuk rsidu padat, cair,dan gas. Anylisis ini mencakup seluruh
siklus hidup produk.

2. Analisis Dampak
Menilai pengaruh lingkungan dari beberapa desain bersaing dan menyediakan peringkat relative
dari pengaruh-pengaruh tersebut
3. Analisis Perbaikan
Bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditunjukkan oleh tahap persediaan dan
dampak

18
4.8 Penilaian Biaya
Penilaian biaya siklus hidup membebankan biaya ke dampak lingkungan dari beberapa
desain produk. Biaya ini adalah fungsi dari penggunaan bahan baku, energy yang dikonsumsi, dan
pelepasan ke lingkungan yang berasal dari manufaktur produk. Sebelum menilai pembebanan
produk ini, pertama-tama perlu dilakukan analisis persediaan yang memberikan perincian bahan
baku, energy, dan pelepasan kelingkungan. Analisis ini dilakukan di sepanjang siklus hidup produk.
Setelah selesai, dampak keuangan dan operasional dapat dinilai dan langkah-langkah dapat diambil
untuk memperbaiki kinerja lingkungan. Langkah terakhir ini juga disebut dengan analisis lingkungan.
Isu manajemen biaya strategik muncul dalam setiap aktivitas cost life cycle. Metode untuk
melakukan analisis cost life cycle adalah penentuan target biaya (target costing), teori kendala
(theory of constraint) dan life cycle costing. Penentuan biaya target digunakan untuk mengelola
biaya, terutama dalam aktivitas desain. Teori kendala digunakan untuk mengelola biaya produksi.
Life-cycle costing digunakan pada seluruh cost life cycle untuk meminimumkan biaya secara
keseluruhan

F. LIFE CYCLE COST ASSESSMENT.

5.1 Pengertian Life Cycle Cost


Life cycle costing merupakan teknik manajemen yang digunakan untuk mengidentifikasi dan
memonitor biaya produk selama siklus hidupnya. Siklus hidup meliputi semua tahap, mulai dari
perancangan produk dan pembelian bahan baku hingga pengiriman dan pelayanan atas produk yang
sudah jadi.
Siklus akuntansi biaya dalam suatu perusahaan mengikuti siklus kegiatan usaha perusahaan
yang bersangkutan. Siklus akuntansi biaya untuk perusahaan manufaktur, dimulai dengan
pengolahan bahan baku dibagian produksi dan berakhir dengan penyerahan produk jadi ke bagian
gudang. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan harga pokok
bahan baku yang dimasukkan dalam proses produksi, dilanjutkan dengan pencatatan biaya tenaga
kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang dikonsumsi untuk produksi, serta berakhir dengan
disajikannya harga pokok produk jadi yang diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang.
5.2 Life Cycle Costing
Life cycle costing memberikan perspektif jangka panjang karena mempertimbangkan semua
biaya selama umur produk atau jasa. Total biaya selama siklus hidup dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Biaya hulu, terdiri dari riset dan pengembangan, desain yang membuat prototype,
pengujian, teknis, dan pengembangan kualitas.
2. Biaya produksi, terdiri dari pembelian, biaya produksi langsung, biaya produksi tidak
langsung.

19
3. Biaya hilir, terdiri dari pemasaran dan distribusi pengemasan, pengangkutan, contoh,
promosi, advertensi, dan pelayanan serta garansi keluhan, pelayanan, pertanggungjawaban
produk, dukungan kepada pelanggan.

1. Biaya Hulu
a. Desain
Karena manajer mempertimbangkan biaya hulu dan hilir, pengambilan keputusan pada tahap
desain merupakan sesuatu yang penting. Meskipun biaya yang terjadi pada tahap desain mungkin
hanya merupakan presentase yang kecil dari total selama biaya siklus hidup, keputusan pada tahap
desain membuat perudahaan berkomitmen pada rencana produksi, pemasaran dan layanan yang
ada.
Oleh karena itu, biaya desain mempengaruhi sebagian besar lainnya yang dikeluarkan selama
siklus produk tersebut. Faktor – faktor penentu keberhasilan pada tahap desain adalah sbb :
1. Mempercepat waktu peluncuran ke pasar
2. Menurunkan biaya layanan/perbaikan yang diharapkan
3. Mempermudah produksi
4. Merencanakan dan mendesain proses
Ada empat metode desain yang umum sebagai berikut :
a. Rekayasa Teknik Dasar
Merupakan teknik dimana desainer produk bekerja secara terpisah dari fungsi pemasaran dan
produksi untuk mengembangkandesain dengan rencana dan spesifikasi khusus.
- Pembuatan Prototipe
Merupakan mode dimana model – model fungsional dikembangkan dan di uji coba oleh para
teknisi dan pemakaian yang dipilih untuk percobaan.
- Templating
Merupakan mtode desain produk yang ada pada saat ini ditambahkan atau dikurangi agar sesuai
dengan spesifikasi produk baru yang diharapkan.
- Rekayasa Simultan
Merupakan perkembangan penting baru yang merupakan pengganti pendekatan rekayasa dasar,
sebaliknya rekayasa simultan merupakan pendekatan yang terintegrasi, dimana proses desain/teknis
dilakukan selama siklus hidu biaya oleh tim –tim lintas fungsi.
b. Pengujian
Proses dan materi pengujian yang dipilih biasanya dilakukan dengan menerapkan dengan teknik-
tenik ekperimental secara formal dan sekaligus dijadikan landasan untuk tahap perencanaan

20
berikutnya yang lebih mendetail, yang nantinya akan diuji. Pada tahap pelaksanaan masih akan
dilakukan pengujian lebih lanjut, sampai dihasilkan produk yang benar-benar optimal hingga dapat
dianggap selesai.
c. Pengembangan Kualitas
Dalam zaman quality assurance, konsep kualitas mengalami perluasan, dari konsep yang sempit,
hanya terbatas pada tahap produksi, ke tahap desain dan koordinasi dengan departemen jasa
(seperti perencanaan dan pengendalian produksi, pergudangan).
Dalam zaman ini pula diperkenalkan konsep total quality control (TQC) oleh armand
Feigenbaum pada tahun 1956. Menurut Feigenbaum, kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh
pekerjaan manufaktur, namun lebih luas dari itu, keterlibatan pemasok, desain dan pengembangan
produk, dan kerja tim antar fungsi.

2. Biaya Produksi
Biaya produksi meliputi semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi yaitu semua
biaya dalam rangka pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap untuk dijual. Biaya
produksi dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu :
a. Biaya Bahan Baku
Bahan baku adalah berbagai macam bahan yang diolah menjadi produk selesai dan
pemakaiannya dapat diidentifikasikan secara langsung, atau diikuti jejaknya , atau merupakan bagian
dari produk tertentu. Biaya bahan baku adalah harga perolehan berbagai macam bahan baku yang
dipakai di dalam kegiatan pengolahan produk
b. Biaya Tenaga kerja Langsung
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang jasanya dapat diidentifikasikan atau diikuti
jejak manfaatnya pada produk tertentu. Biaya tenaga kerja langsung adalah balas jasa yang
diberikan oleh perusahaan kepada tenaga kerja langsung dan jejaknya manfaatnya dapat
diidentifikasikan pada produk tertentu.
c. Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung, contohnya seprti biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik.
- Biaya Produksi Langsung
Biaya langsung, berkaitan dengan obyek biaya tertentu dan dapat ditelusuri ke obyek biaya
tersebut dengan cara yang layak secara ekonomi (efektif-biaya). contoh; biaya kaleng atau botol
untuk produk teh botol.
- Biaya Produksi Tak Langsung

21
berkaitan dengan obyek biaya tertentu namun tidak dapat ditelusuri ke obyek biaya tersebut
dengan cara yang layak secara ekonomi (efektif-biaya). Contoh; biaya gaji supervisor

3. Biaya Hilir
1. Biaya pemasaran
Biaya Pemasaran adalah meliputi semua dalam melaksanakan kegiatan pemasaran atau
kegiatan untuk menjual barang dan jasa perusahaan kepada para pembeli sampai dengan
pengumpulan piutang menjadi kas. Sesuai dengan fungsi pemasaran, biaya pemasaran digolongkan
menjadi :
1). Biaya untuk menimbulkan pesanan, contohnya seperti biaya promosi dll.
2). Biaya untuk melayani pesanan, diantaranya :
- Biaya fungsi penggudangan dan penyimpanan produk selesai
- Biaya fungsi pengepakan dan pengiriman
- Biaya fungsi pemberian kredit dan penagihan piutang
- Biaya fungsi administrasi penjualan.
2. Biaya Promosi
Biaya promosi merupakan sejumlah dana yang dikucurkan perusahaan ke dalam promosi untuk
meningkatkan penjualan. Biaya Promosi dapat dikategorikan sebagai biaya langsung apabila terkait
langsung dengan suatu produk atau proyek. Tetapi apabila Biaya Promosi ini bersifat umum untuk
seluruh kegiatan perusahaan, ia dapat dikategorikan sebagai biaya operasi.
3. Biaya Layanan Konsumen
Biaya Layanan konsumen adalah sekumpulan biaya yang dikeluarkan untuk mengevaluasi,
mendapatkan, dan menggunakan produk atau jasa tersebut.

5.3 Manfaat Analisis Life Cycle Cost


o Untuk meningkatkan kesadaran biaya. Penerapan LCC akan meningkatkan kesadaran akan
manajemen dan insinyur pada faktor-faktor yang mendorong biaya dan sumber daya yang
diperlukan oleh item, sehingga bisa dilakukan program pengurangan biaya.
o Seluruh biaya hidup evaluasi. LCC memungkinkan evaluasi pilihan bersaing berdasarkan seluruh
biaya hidup.

22
o Memaksimalkan pendapatan. Dengan menerapkan LCC, operasi dan biaya pemeliharaan
berkurang tanpa scarifying kinerja alat produksi melalui analisis parameter kinerja dan biaya
driver.
o Memahami prosedur untuk menerapkan LCC termasuk pengembangan Biaya Siklus Hidup
model untuk berbagai aplikasi.
o Memahami latar belakang teoritis nilai waktu uang dan analisis risiko serta dampaknya
terhadap proses pengambilan keputusan.

Laporan: Analisis Produk Baru Proyek No.001

Estimasi siklus hidup produk: 2 tahun

Proyeksi potensi penjualan: 1000 unit (siklus hidup), harga Rp 2/unit

Target operating profit margin 20%

Proyeksi laporan laba-rugi siklus hidup

23
Penjualan (1000 unit @ Rp 2) 2.000

Biaya Input:

Bahan 500

Upah 400

Biaya overhead pabrik 300

Biaya mutu 100

Biaya pemasaran 250

Biaya administrasi 150

Laba siklus hidup (laba operasi) 300

Berdasarkan proyeksi laba rugi di atas menunjukkan bahwa laba operasi terhadap penjualan
(operating profit margin) sebesar: (Rp 300 / Rp 2.000) = 15%. Dengan demikian produk baru tersebut
ditolak, karena target laba operasi terhadap penjualan sebesar 20%.

24

Anda mungkin juga menyukai