Anda di halaman 1dari 8

PENGENTASAN KEMISKINAN DAN PEMBERDAYAAN

MASYARAKAT

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia

Dosen Pengampu:
Dr. Lukman Hakim M.SA

Disusun oleh:
Linda Oktaviani 16080694015
Uswatun Chasanah 16080694023

S1 Akuntansi 16 A
Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Surabaya
2017
1. Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah suatu kondisi di mana ada ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan
dasar seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat
disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap
pendidikan dan pekerjaan.
Untuk memberi pemahaman konseptual, akan dikemukan dua pengertian kemiskinan, yaitu:
1. Secara kualitatif, definisi kemiskinan adalah suatu kondisi yang didalamnya hidup
manusia tidak layak sebagai manusia, dan
2. Secara kuantitatif, kemiskinan adalah suatu keadaan dimana hidup manusia serba
kekurangan, atau dengan bahasa yang tidak lazim “tidak berharta benda” (Mardimin,
1996:20)

2. Indikator Kemiskinan
Indikator-indikator kemiskinan sebagaimana di kutip dari Badan Pusat
Statistika, antara lain sebagi berikut:
1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan dan papan).
2. Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan,
sanitasi, air
bersih dan transportasi).
3. Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan
keluarga).
4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
5. Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
6. Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
7. Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
8. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
9. Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita korban
kekerasan
rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal dan terpencil).

3. Kondisi Kemiskinan di Indonesia


Jumlah penduduk miskin di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami penurunan, baik di
daerah pedesaan maupun daerah perkotaan.
 Pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita
per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,01 juta orang (10,86
persen), berkurang sebesar 0,50 juta orang dibandingkan dengan kondisi September
2015 yang sebesar 28,51 juta orang (11,13 persen).
 Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2015 sebesar 8,22
persen, turun menjadi 7,79 persen pada Maret 2016. Sementara persentase penduduk
miskin di daerah perdesaan naik dari 14,09 persen pada September 2015 menjadi
14,11 persen pada Maret 2016.
 Selama periode September 2015–Maret 2016, jumlah penduduk miskin di daerah
perkotaan turun sebanyak 0,28 juta orang (dari 10,62 juta orang pada September 2015
menjadi 10,34 juta orang pada Maret 2016), sementara di daerah perdesaan turun
sebanyak 0,22 juta orang (dari 17,89 juta orang pada September 2015 menjadi 17,67
juta orang pada Maret 2016).
 Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan
peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).
Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2016
tercatat sebesar 73,50 persen, kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi
September 2015 yaitu sebesar 73,07 persen.
 Jenis komoditi makanan yang berpengaruh terbesar terhadap nilai Garis Kemiskinan
di perkotaan maupun di perdesaan, di antaranya adalah beras, rokok kretek filter, telur
ayam ras, gula pasir, mie instan, bawang merah dan roti. Sedangkan untuk komoditi
bukan makanan yang terbesar pengaruhnya adalah biaya perumahan, listrik, bensin,
pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Sebab-sebab Struktural Kemiskinan di Indonesia


a. ketidakmampuan mengelola sumber daya alam dengan maksimal
b. kebijakan ekonomi yang tidak berkomitmen terhadap penanggulangan kemiskinan dan
semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi, padahal pertumbuhan ekonomi yang akan
mengurangi kemiskinan adalah kegiatan eko nomi yang melibatkan masyarakat miskin

Kebijakan pemerintah untuk Menanggulangi Kemiskinan


a. Masa kolonial: ‘Politik etis’ balas budi
b. Masa Orde Baru: terkait dengan program pembangunan nasional sejak Repelita I-V.
Program sektoral yang pernah diterapkan adalah: BIMAS, INMAS, dan P4K (Departemen
Pertanian), UPPKS (BKKBN), KUD dan Koperasi Simpan Pinjam (Departemen Koperasi),
UED-SP, BKD, dan PKK (Departemen Dalam Negeri), KUBE (Departemen Sosial), Wajar 9
tahun (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), dan pengembangan puskesmas
(Departemen Kesehatan)
c. Mulai Repelita VI diluncurkan Inpres Desa Tertinggal (IDT), yang meliputi: komponen
bantuan langsung sebesar Rp20.000.000,00/desa sebagai dana bergulir selama 3 tahun,
bantuan pendampingan pokmas IDT oleh tenaga pendamping Sarjana Pendamping Purna
Waktu (SP2W), bantuan pembangunan sarana prasarana.
d. Untuk masyarakat miskin di kelurahan tidak ‘tertinggal’ diluncurkan program
Takesra/Kukesra
e. ketika terjadi krisis ekonomi, jumlah penduduk miskin meningkat tajam karena merupakan
gabungan dari penduduk miskin lama dan penduduk baru yang bersifat sementara. Untuk
mengatasi masalah ini, dikeluarkan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang dibagi dalam
4 kelompok program: Departemen Teknis, Prioritas, Sektor-sektor Pembangunan, dan
Monitoring.

Kekurangan Program
a. Tiidak ada program lanjutan, sehingga kelompok yang sukses dalam tahap pertama susah
mengembangkan lanjutannya
b. Terhambatnya laju pertumbuhan karena sistem pertanggungjawaban yang saling mengikat
c. Timing pencairan kredit yang tidak tepat
d. kurangnya kordinasi dan integrasi program antar instansi

Paradigma Baru Pemberantasan Kemiskinan di Indonesia


a. Penerbitan UU pemberantasan kemiskinan sehingga program pemberantasan
kemiskinan lebih diprioritaskan oleh pemerintah dan masyarakat
b. Program pemberantasan harus bersifat multi-sektor
c. Perencanaan dan pelaksanaan dilaksanakan bersama antara pemerintah dengan
masyarakat, sehingga program sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan potensi
aktual masyarakat dapat lebih tergali
d. Masyarakat dijadikan subyek, bukan sekedar obyek program
e. Pertanggungjawaban program tidak hanya kepada pemerintah tetapi juga kepada
masyarakat
f. Program yang berkesinambungan
g. Ukuran keberhasilan ditentukan berdasarkan kemampuan masyarakat keliar dari
belenggu kemiskinan

4. Pemberdayaan Masyarakat
Menjelang pertengahan 1997, beberapa saat sebelum krisis ekonomi muncul, tingkat
pendapatan per kepala di Indonesia sudah melebihi 1000 dolar AS, dan saat ini jauh lebih
tinggi. Namun hanya 10% rakyat yang menikmati 90% PN, sedangkan 90% rakyat hanya
menikmati 10% PN. Kenaikan PN pada masa itu hanya dinikmati oleh kelompok 10%
tersebut, sedangkan pendapatan dari kelompok 90% tidak mengalami perbaikan yang berarti.
Pada 1990, Bank Dunia mendeklarasikan bahwa suatu peperangan yang berhasil melawan
kemiskinan perlu dilakukan secara serentak pada tiga front:
a. Pertumbuhan ekonomi yang luas dan padat karya yang menciptakan kesempatan kerja
dan pendapatan bagi kelompok miskin
b. Pengembangan SDM (pendidikan, kesehatan, dan gizi) yang memberi mereka
kemampuan lebih baik untuk memanfaatkan kesempatan yang diciptakan oleh
pertumbuhan ekonomi
c. Membuat suatu jaringan pengaman sosial untuk penduduk miskin yang sama sekali
tidak mampu untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan dari pertumbuhan ekonomi
dan perkembangan SDMakibat ketidakmampuan fisik dan mental, bencana alam,
konflik sosial,dan terisolasi secara fisik.

Pemberdayaan
Pemberdayaan merupakan suatu penumbuhan kemandirian melalui pemberian kekuatanatau
daya untuk mewujudkan SDM yang handal dan berkualitas, dengan ciri:
- Mandiri
- Profesional
- Berjiwa wirausaha
- Mempunyai dedikasi
- Etos kerja, disiplin,
- Berwawasan global
Sehingga mampu membangun usaha yang berdaya saing tinggi menghadapi globalisasi dan
liberalisasi perekonomian dunia.

Penyebab Belum Berdaya


a. Penyebab Internal:
- Berusaha subsisten
- Lahan semakin sempit
- Belum bankable
- Pendidikan rendah
- Kelembagaan belum berfungsi
- Akses pasar rendah
- Akses teknologi dan informasi rendah
b. Penyebab Eksternal:
- Posisi tawar rendah
- Produsen monopsoni/oligopsoni
- Dukungan lembaga keuangan rendah
- Pungutan liar masih tinggi
- Tidak ada penjamin risiko

Pengertian Pemberdayaan Masyarakat sebenarnya mengacu pada kata


“Empowerment”, yaitu sebagai upaya mengaktualisasikanpotensi yang sudah dimiiki oleh
masyarakat. Jadi pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan masyarakat nelayan adalah
pendekatan pada pentingnya masyarakat lokal yang mandiri sebagai suatu sistem yang
mengorganisir diri mereka sendiri.
Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian tentunya diharapkan memberikan
peranan kepada individu bukan sebagai obyek, tetapi sebagai pelaku/aktor yang menentukan
hidup mereka sendiri.
Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berpusat pada manusia, melandasi wawasan
pengelolaan sumber daya lokal, yang merupakan mekanisme perencanaan yang menekankan
pada teknologi pembelajaran sosial dan strategi perumusan program.
Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
mengaktualisasikan dirinya.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keberdayaan masyarakat terletak pada proses
pengambilan keputusan sendiri untuk mengembangkan pilihan-pilihan adaptasi terhadap
perubahan lingkungan dan sosial.
Perkembangan Kemiskinan September 2015 – Maret 2016

1. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2016 mencapai 28,01 juta orang (10,86
persen), menurun 0,50 juta orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada
September2015 yang sebanyak 28,51 juta orang (11,13 persen).
2. Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan menurun lebih banyak dibanding penurunan
jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan. Selama periode September 2015–Maret 2016,
penduduk miskin di daerah perkotaan menurun sekitar 0,28 juta orang, sementara di daerah
perdesaan menurun sekitar 0,22 juta orang.
3. Sebagian besar penduduk miskin tinggal di daerah perdesaan. Pada Maret 2016, penduduk
miskin yang tinggal di daerah perdesaan sebesar 63,08 persen dari seluruh penduduk miskin,
sementara pada September 2015 sebesar 62,75 persen.

Beberapa faktor terkait penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama periode
September 2015–Maret 2016 adalah:
a. Selama periode September 2015–Maret 2016 terjadi inflasi umum relatif rendah yaitu
tercatat sebesar 1,71 persen.
b. Secara nasional, rata-rata harga daging ayam ras mengalami penurunan sebesar 4,08 persen
yaitu dari Rp37.742,- per kg pada September 2015 menjadi Rp36.203,- per kg pada Maret
2016. Selain itu, harga eceran komoditas bahan pokok lain yang mengalami penurunan
adalah telur ayam ras yaitu mengalami penurunan sebesar 0,92 persen dan minyak goreng
yang mengalami penurunan sebesar 0,41 persen.
c. Nominal rata-rata upah buruh tani per hari pada Maret 2016 naik sebesar 1,75 persen
dibanding upah buruh tani per hari September 2015, yaitu dari Rp46.739,00 menjadi
Rp47.559,00. Selain itu, rata-rata upah buruh bangunan
per hari pada Maret 2016 naik sebesar 1,23 persen dibanding upah buruh tani
per hari September 2015, yaitu dari Rp79.657,00 menjadi Rp81.481,00.
d. Persentase kenaikan pendapatan (proxy pengeluaran) penduduk miskin di desil 1 dan desil
2 cukup tinggi sebesar masing-masing 7,53 persen dan 7,82 persen (Maret 2015–Maret
2016).
e. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2016
mencapai 5,50 persen, mengalami penurunan dibandingkan keadaaan pada
Agustus 2015 yang sebesar 6,18 persen.

Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan


1. Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk
miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan
keparahan kemiskinan. Selain upaya memperkecil jumlah penduduk miskin,
kebijakan penanggulangan kemiskinan juga terkait dengan bagaimana mengurangi
tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan.
2. Pada periode September 2015–Maret 2016, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengalami peningkatan. Indeks Kedalaman
Kemiskinan pada September 2015 sebesar 1,84 dan mengalami peningkatan menjadi
1,94 pada Maret 2016. Demikian juga dengan Indeks Keparahan Kemiskinan
mengalami peningkatan dari 0,51 menjadi 0,52 pada periode yang sama. Peningkatan
ini lebih banyak dikarenakan oleh peningkatan di perdesaan, sementara di perkotaan
baik P1 dan P2 tercatat menurun.
3. Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di
daerah perdesaan lebih tinggi daripada di daerah perkotaan. Pada Maret 2016, nilai
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk daerah perkotaan sebesar 1,19 sedangkan
di daerah perdesaan jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 2,74. Pada periode yang sama
nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan adalah 0,27 sedangkan di
daerah perdesaan mencapai sebesar 0,79.
Daftar Pustaka

M Ikbal, d. (2013). Makalah. Dipetik Februari 13, 2017, dari dokumen.tips:


http://dokumen.tips/documents/pengentasan-kemiskinan-dan-pemberdayaan-
masyarakat-makalah.html
Pengertian Kemiskinan Jenis Faktor Penyebab Menurut Para Ahli. (t.thn.). Dipetik Februari
13, 2017, dari www.landasan teori.com:
http://www.landasanteori.com/2015/08/pengertian-kemiskinan-jenis-faktor.html
Statistik, B. P. (2014, Desember 17). Jumlah Penduduk Miskin, Persentase Penduduk Miskin
dan Garis Kemiskinan, 1970-2013. Dipetik Februari 13, 2017, dari www.bps.go.id:
https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1494
Statistik, B. P. (2016, Juli 18). Persentase Penduduk Miskin Maret 2016 Mencapai 10,86
Persen. Dipetik Februari 13, 2017, dari www.bps.go.id:
https://www.bps.go.id/brs/view/id/1229
Subianto, S. (t.thn.). Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat. Dipetik
Februari 13, 2017, dari http://www.slideshare.net:
http://www.slideshare.net/subiantoterindah/pengentasan-kemiskinan-dan-
pemberdayaan-masyarakat
Statistik, B. P. (2016,September). Kemiskinan. Dipetik Februari 13, 2017, dari
https://www.bps.go.id/website/pdf_publikasi/Laporan-Bulanan-Data-Sosial-Ekonomi-
September-2016_rev.pdf