Anda di halaman 1dari 20

CORPORATE GOVERNANCE

SAP 8
KOMITE AUDIT DAN KOMITE LAINNYA: PERAN, TANGGUNG JAWAB,
KOMPOSISI, KEEFEKTIFAN

OLEH :
KELOMPOK 8
IDA AYU NIRMA PRAMESWARI (1406305199 / 15)
PUTU NIRMALA CHANDRA DEVI (14063051200 / 16)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2016

PEMBAHASAN

1. KOMITE AUDIT DAN KOMITE LAINNYA


1.1 Komite Audit

0
Komite audit di Indonesia masih merupakan hal yang relatif baru. Perkembangan
komite audit di negara kita, sangat terlambat dibandingkan dengan negara lain. Hal tersebut
antara lain disebabkan Pemerintah baru saja menetapkan kebijakan tentang pemberlakuan
komite audit pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tertentu pada tahun 1999. Selain itu
anjuran dari Bapepam kepada perusahaan yang telah go publik agar memiliki komite audit
baru ditetapkan pada tahun 2000. Mengingat pentingnya keberadaan Komite Audit dalam
meningkatkan kinerja perusahaan, terutama dari aspek pengendalian, maka Komite Audit
perlu mendapatkan perhatian dari manajemen dan Dewan Komisaris serta pihak-pihak terkait
yang bertindak sebagai regulator seperti Menteri keuangan, Menteri BUMN, Bapepam, Bursa
Efek Jakarta & Bursa Efek Surabaya.

1.1.1 Peraturan Kementerian Keuangan Republik Indonesia Badan Pengawas Pasar


Modal Dan Lembaga Keuangan Nomor IX.I.5 tentang Pembentukan Dan
Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit
1. Ketentuan Umum
a. Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1) Komite Audit adalah komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab
kepada Dewan Komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi
Dewan Komisaris.
2) Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang berasal dari
luar Emiten atau Perusahaan Publik dan memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam angka 2 huruf c.
b. Emiten atau Perusahaan Publik wajib memiliki Komite Audit.
c. Komite Audit bertindak secara independen dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya.
d. Anggota Komite Audit diangkat dan diberhentikan oleh Dewan Komisaris.
e. Emiten atau Perusahaan Publik wajib memiliki piagam Komite Audit (audit
committee charter).
f. Piagam Komite Audit (audit committee charter) paling kurang memuat:
1) tugas dan tanggung jawab serta wewenang;
2) komposisi, struktur, dan persyaratan keanggotaan;
3) tata cara dan prosedur kerja;
4) kebijakan penyelenggaraan rapat;
5) sistem pelaporan kegiatan;
6) ketentuan mengenai penanganan pengaduan atau pelaporan
7) sehubungan dugaan pelanggaran terkait pelaporan keuangan; dan
8) masa tugas Komite Audit.
g. Piagam Komite Audit (audit committee charter) sebagaimana dimaksud dalam
huruf f wajib dimuat dalam laman (website) Emiten atau Perusahaan Publik.
2. Struktur dan Keanggotaan Komite Audit

1
a. Komite Audit paling kurang terdiri dari 3 (tiga) orang anggota yang berasal
dari Komisaris Independen dan Pihak dari luar Emiten atau Perusahaan Publik.
b. Komite Audit diketuai oleh Komisaris Independen.
c. Komisaris Independen wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan
tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau
mengawasi kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dalam waktu
6 (enam) bulan terakhir;
2) tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada
Emiten atau Perusahaan Publik tersebut;
3) tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan Emiten atau Perusahaan
Publik, anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, atau Pemegang
Saham Utama Emiten atau Perusahaan Publik tersebut; dan
4) tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung
yang berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik
tersebut.
3. Persyaratan Keanggotaan Komite Audit
a. wajib memiliki integritas yang tinggi, kemampuan, pengetahuan, pengalaman
sesuai dengan bidang pekerjaannya, serta mampu berkomunikasi dengan
baik;
b. wajib memahami laporan keuangan, bisnis perusahaan khususnya yang terkait
dengan layanan jasa atau kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik,
proses audit, manajemen risiko, dan peraturan perundang-undangan di bidang
Pasar Modal serta peraturan perundang-undangan terkait lainnya;
c. wajib mematuhi kode etik Komite Audit yang ditetapkan oleh Emiten atau
Perusahaan Publik;
d. bersedia meningkatkan kompetensi secara terus menerus melalui pendidikan
dan pelatihan;
e. wajib memiliki paling kurang satu anggota yang berlatar belakang pendidikan
dan keahlian di bidang akuntansi dan/atau keuangan;
f. bukan merupakan orang dalam Kantor Akuntan Publik, Kantor Konsultan
Hukum, Kantor Jasa Penilai Publik atau pihak lain yang memberi jasa
assurance, jasa non-assurance, jasa penilai dan/atau jasa konsultasi lain kepada
Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan dalam waktu 6 (enam)
bulan terakhir;
g. bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan
tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau

2
mengawasi kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dalam waktu 6
(enam) bulan terakhir kecuali Komisaris Independen;
h. tidak mempunyai saham langsung maupun tidak langsung pada Emiten atau
Perusahaan Publik;
i. Dalam hal anggota Komite Audit memperoleh saham Emiten atau Perusahaan
Publik baik langsung maupun tidak langsung akibat suatu peristiwa hukum,
maka saham tersebut wajib dialihkan kepada pihak lain dalam jangka waktu
paling lama 6 (enam) bulan setelah diperolehnya saham tersebut.
j. tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan anggota Dewan Komisaris,
anggota Direksi, atau Pemegang Saham Utama Emiten atau Perusahaan Publik
tersebut; dan
k. tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung yang
berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik tersebut.
4. Masa Tugas
Masa tugas anggota Komite Audit tidak boleh lebih lama dari masa jabatan
Dewan Komisaris sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan dapat dipilih
kembali hanya untuk satu periode berikutnya.
5. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit
a. melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan Emiten
atau Perusahaan Publik kepada publik dan/atau pihak otoritas antara lain
laporan keuangan, proyeksi, dan laporan lainnya terkait dengan informasi
keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
b. melakukan penelaahan atas ketaatan terhadap peraturan perundangundangan
yang berhubungan dengan kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik;
c. memberikan pendapat independen dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara
manajemen dan Akuntan atas jasa yang diberikannya;
d. memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai penunjukan
Akuntan yang didasarkan pada independensi, ruang lingkup penugasan, dan
fee;
e. melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal dan
mengawasi pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas temuan auditor
internal;
f. melakukan penelaahan terhadap aktivitas pelaksanaan manajemen risiko yang
dilakukan oleh Direksi, jika Emiten atau Perusahaan Publik tidak memiliki
fungsi pemantau risiko di bawah Dewan Komisaris;
g. menelaah pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan
keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
h. menelaah dan memberikan saran kepada Dewan Komisaris terkait dengan
adanya potensi benturan kepentingan Emiten atau Perusahaan Publik; dan
3
i. menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi Emiten atau Perusahaan
Publik.
6. Wewenang Komite Audit
a. Mengakses dokumen, data, dan informasi Emiten atau Perusahaan Publik
tentang karyawan, dana, aset, dan sumber daya perusahaan yang diperlukan;
b. Berkomunikasi langsung dengan karyawan, termasuk Direksi dan pihak yang
menjalankan fungsi audit internal, manajemen risiko, dan Akuntan terkait
tugas dan tanggung jawab Komite Audit;
c. Melibatkan pihak independen di luar anggota Komite Audit yang diperlukan
untuk membantu pelaksanaan tugasnya (jika diperlukan); dan
d. Melakukan kewenangan lain yang diberikan oleh Dewan Komisaris.
7. Rapat Komite Audit
a. Komite Audit mengadakan rapat secara berkala paling kurang satu kali dalam
3 (tiga) bulan.
b. Rapat Komite Audit hanya dapat dilaksanakan apabila dihadiri oleh lebih dari
1/2 (satu per dua) jumlah anggota.
c. Keputusan rapat Komite Audit diambil berdasarkan musyawarah
untukmufakat.
d. Setiap rapat Komite Audit dituangkan dalam risalah rapat, termasuk apabila
terdapat perbedaan pendapat (dissenting opinions), yang ditandatangani oleh
seluruh anggota Komite Audit yang hadir dan disampaikan kepada Dewan
Komisaris.
8. Pelaporan
a. Komite Audit wajib membuat laporan kepada Dewan Komisaris atas setiap
penugasan yang diberikan.
b. Komite Audit wajib membuat laporan tahunan pelaksanaan kegiatan Komite
Audit yang diungkapkan dalam Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan
Publik.
c. Emiten atau Perusahaan Publik wajib menyampaikan kepada Bapepam dan LK
informasi mengenai pengangkatan dan pemberhentian Komite Audit dalam
jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja setelah pengangkatan atau
pemberhentian.
d. Informasi mengenai pengangkatan dan pemberhentian sebagaimana dimaksud
dalam huruf c wajib dimuat dalam laman (website) bursa dan/atau laman
(website) Emiten atau Perusahaan Publik.
9. Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana di bidang Pasar Modal, Bapepam
dan LK berwenang mengenakan sanksi terhadap setiap pelanggaran
ketentuan peraturan ini, termasuk pihak-pihak yang menyebabkan

4
terjadinya pelanggaran tersebut. Komite audit menurut Pedoman Good
Corporate Governance antara lain bertugas untuk:
a. Mendorong terbentuknya struktur pengawasan internal yang memadai;
b. Meningkatkan kualitas keterbukaan dan pelaporan keuangan;
c. Mengkaji ruang lingkup dan ketepatan external audit, ketepatan biaya external
audit serta kemandirian dan obyektivitas external auditor;
d. Mempersiapkan surat (yang ditandatangani oleh ketua Komite Audit) yang
menguraikan tugas dan tanggung jawab Komite Audit selama tahun buku yang
sedang diperiksa oleh external auditor, surat tersebut harus disertakan dalam
laporan tahunan yang disampingkan kepada pemegang saham

1.2 Komite Lainnya


1.2.1 Komite Lainnya Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG)
1. Komite Nominasi dan Remunerasi
a. Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris
dalam menetapkan kriteria pemilihan calon anggota Dewan Komisaris dan
Direksi serta sistem remunerasinya;
b. Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris
dalam mempersiapkan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi dan
mengusulkan besaran remunerasinya. Dewan Komisaris dapat mengajukan
calon tersebut dan remunerasinya untuk memperoleh keputusan RUPS dengan
cara sesuai ketentuan Anggaran Dasar. Bagi perusahaan yang sahamnya
tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang
menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk atau
jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai
dampak luas terhadap kelestarian lingkungan;
c. Komite Nominasi dan Remunerasi diketuai oleh Komisaris Independen dan
anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau pelaku profesi dari luar
perusahaan.
d. Keberadaan Komite Nominasi dan Remunerasi serta tata kerjanya dilaporkan
dalam RUPS.
2. Komite Kebijakan Risiko
a. Komite Kebijakan Risiko bertugas membantu Dewan Komisaris dalam
mengkaji sistem manajemen risiko yang disusun oleh Direksi serta menilai
toleransi risiko yang dapat diambil oleh perusahaan;
b. Anggota Komite Kebijakan Risiko terdiri dari anggota Dewan Komisaris,
namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari luar
perusahaan.
3. Komite Kebijakan Corporate Governance

5
a. Komite Kebijakan Corporate Governance bertugas membantu Dewan
Komisaris dalam mengkaji kebijakan GCG secara menyeluruh yang disusun
oleh Direksi serta menilai konsistensi penerapannya, termasuk yang bertalian
dengan etika bisnis dan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social
responsibility);
b. Anggota Komite Kebijakan Corporate Governance terdiri dari anggota Dewan
Komisaris, namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari
luar perusahaan;
c. Bila dipandang perlu, Komite Kebijakan Corporate Governance dapat
digabung dengan Komite Nominasi dan Remunerasi

1.2.2 Komite-Komite Lainnya Di BUMN


Berdasarkan pasal 70 UU No. 17 tahun 2003 tentang BUMN antara lain disebutkan
bahwa komisaris dan dewan pengawas BUMN wajib membentuk komite audit yang bekerja
secara kolektif dan berfungsi membantu komisaris dan dewan pengawas dalam melaksanakan
tugasnya. Selain komite audit, komisaris atau dewan pengawas dapat membentuk komite lain
yang ditetapkan oleh menteri. Sesuai penjelasan pasal 70 UU BUMN, komite lain yang
dimaksud disini, yaitu komite remunerasi dan komite nominasi.

1.2.3 Komite-Komite Lainnya di Perbankan


Bank Indonesia melalui surat edaran kepada semua bank umum konvensional di
Indonesia No 15/15/DPNP tangal 29 april 2013 mengenai pelaksanaan Good Corporate
Governance bagi Bank Umum, pada bagian IV komite, menyebutkan bahwa dewan
komesaris wajib membentuk susunan organisasi setidaknya komite audit, komite pemantau
risiko, serta komite remunerasi dan nominasi, dalam rangka mendukung efektivitas tugas dan
tanggung jawab dewan komesaris.

1.2.4 Komite Komite Lainnya di Perusahaan Publik


Berdasarkan peraturan OJK No.34/POJK.04/2014 tanggal 8 Desember 2014 tentang
Komite Nominasi dan remunerasi emiten atau perusahaan public, antara lain menyebutkan :
 Pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan komite nominasi dan remunerasi adalah
komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada dewan komesaris dalam
membantu melaksanakan fungsi dan tugas dewan komesaris dalam membantu
melaksanakan fungsi dan tugas dewan komesaris terkait nominasi dan remunerasi
terhadap anggota dewan komesaris.

6
 Pasal 2, emiten atau perusahaan public wajib memiliki fungsi nominasi dan
remunerasi yang wajib dilaksanakan oleh dewan komesaris. Komite nominasi dadan
remunerasi dapat dibentuk secara terpisah.
 Mengenai keanggotaan diatur dalam pasal 3,yaitu komite nominasi dan remunerasi
paling kurang terdiri dari 3 orang anggota dengan ketentuan :
a) Satu orang ketua merangkap anggota yang merupakan komesaris
independen,dan;
b) Anggota lainnya yang dapat berasal dari :
1) Anggota dewan komesaris
2) Pihak yang berasal dari luar emiten atau perusahan public yang
bersangkutan ;atau
3) Pihak yang menduduki jabatan manajerial di bawah direksi
yang membidangi sumber daya manusia.
 Pasal 8, komite nominasi dan remunerasi mempunyai tugas dan tanggung jawab
paling kurang :
a) Terkait dengan fungsi nominasi :
1) Memberikan rekomendasi kepada dewan komesaris mengenai :
 Komposisi jabatan anggota direksi dan atau anggota dewan
komesaris
 Kebijakan dan kreteria yang dibutuhkan dalam proses
nominasi; dan
 Kebijakan evaluasi kinerja bagi anggota direksi dan atau
anggota dewan komesaris
2) Membantu dewan komesaris melakuakn penilaian kinerja dewan
direksi dan atau anggota dewan komesaris berdasarkan tolok ukur
yang telah disusun sebagai bahan evaluasi.
3) Memberikan rekomendasi kepada dewan komesaris mengenai
program pembangunan kemampuan anggota direksi dan atau
anggota dewan komesaris; dan
4) Meberikan usulan calon yang memenuhi syarat sebagai anggota
direksi dan atau anggota dewan komesaris kepada dewan komesaris
untuk disampaikan kepada RUPS.
b) Terkait dengan fungsi remunerasi :
1) Memberikan rekomendasi kepada dewan komesaris mengenai :
-Struktur remunerasi
-Kebijakan atas remunerasi; dan
-Besaran atas remunerasi
2) Membantu dewan komesaris melakukanpenilaian kinerja dengan
kesesuaian remunerasi yang diterima masing masing anggota
direksi dan atau anggota dewan komesaris.

7
2 PERANAN KOMITE AUDIT
Menurut FCGI, peran komite audit adalah untuk mengawasi dan memberi masukan
kepada dewan komisaris dalam hal terciptanya mekanisme pengawasan. Komite audit
memberikan pendapat kepada dewan komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang
disampaikan oleh direksi kepada dewan komisaris, mengidentifikasi hal-hal yang
memerlukan perhatian komisaris, dan melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan
tugas dewan komisaris.

3 TANGGUNG JAWAB KOMITE AUDIT


Jenis tugas dan tanggung jawab Komite Audit yang diangkat sebuah perusahaan yang
satu tidak pernah sama persis dengan perusahaan yang lain. Hal itu disebabkan karena adanya
perbedaan skala, jenis usaha, kebutuhan dan domisili masing-masing perusahaan. Walaupun
demikian tugas dan tanggung jawab Komite Audit tidak boleh menyimpang dari tugas dan
tanggung jawab Board of Directors.
Dalam kaitannya dengan penugasan external auditor oleh perusahaan, The ASX
Corporate Governance Council menyatakan komite audit mempunyai tugas khusus, sebagai
berikut :
a. Mengungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan, apakah jasa non-audit yang
diberikan perusahan akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan perusahaan
telah mempengaruhi independensi mereka
b. Memberikan rekomendasi kepada Boards of Directors dalam pengangkatan,
penggantian, remunerasi dan memonitor efektifitas dan independensi auditor
c. Menentukan ruang lingkup eksternal auditor dan meninjau jangka waktu kontrak
dengan mereka
d. Mempelajari ketidaksamaan pendapat yang substansial antara manajemen perusahaan
dan auditor
e. Memonitor independensi karyawan dalam perusahaan
f. Meneliti apakah berbagai macam hubungan bisnis antara perusahaan dengan eksternal
auditor dapat mempengaruhi independensi auditor dalam mengemukakan pendapat
mereka
g. Paling sedikit sekali setahun menyelenggarakan rapat dengan eksternal auditor, tanpa
dihadiri manajemen perusahaan
Dewan Audit diatur berdasarkan Surat Keputusan Bank Indonesia No.
27/163/KEP/DIR/1995 tanggal 31 Maret 1995 dan Surat Edaran Bank Indonesia No.
8
27/8/UPPB/1995 tanggal 31 Maret 1995. Menurut ketentuan tersebut Dewan Audit dalam
perbankan memiliki 6 (enam) tanggung jawab sebagai berikut :
 Menyetujui Internal Audit Charter, menanggapi rencana audit intern dan masalah-
masalah yang ditemukan oleh Auditor Intern serta menentukan pemeriksaan khusus
oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) apabila terdapat dugaan terjadinya
kecurangan, penyimpangan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
 Mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam hal audit tidak menindaklanjuti
laporan Kepala SKAI.
 Memastikan bahwa laporan-laporan yang disampaikan kepada Bank Indonesia serta
Instansi lain yang berkepentingan telah dilakukan dengan benar dan tepat waktu.
Selain itu, Bank juga mematuhi ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku.
 Memastikan bahwa manajemen menjamin baik auditor ekstern maupun intern dapat
bekerja sama dengan standar auditing yang berlaku.
 Memastikan bahwa manajemen telah menjalankan usahanya sesuai prinsip
pengelolaan bank secara sehat.
 Efektivitas pelaksanaan fungsi SKAI. Seperti halnya komite audit di perusahaan.

4 KOMPOSISI KEANGGOTAAN KOMITE AUDIT


Komite Audit biasanya terdiri dari dua hingga tiga orang anggota. Dipimpin oleh
seorang Komisaris Independen. Seperti komite pada umumnya, Komite audit yang
beranggotakan sedikit cenderung dapat bertindak lebih efisien. Akan tetapi, Komite Audit
beranggota terlalu sedikit juga menyimpan kelemahan yakni minimnya ragam pengalaman
anggota. Sedapat mungkin anggota Komite Audit memiliki pemahaman memadai tentang
pembuatan laporan keuangan dan prinsip-prinsip pengawasan internal.
Agar mampu bekerja efektif, Komite Audit dibantu staff perusahaan dan auditor
eksternal. Komite juga harus memiliki akses langsung kepada stand dan penasehat
perusahaan seperti keuangan dan penasehat hukum. Keberadaan Komite Audit diatur melalui
Surat Edaran Bapepam Nomor: SE/03 PM/2002 (bagi perusahaan publik) dan keputusan
Menteri BUMN Nomor: Kep-103/MBU/2002 (Bagi BUMN) Komite Audit sedikitnya terdiri
dari tiga orang, diketuai oleh seorang Komisaris Independen perusahaan dengan dua orang
eksternal yang independen serta menguasai dan memiliki latar belakang akuntansi dan
keuangan.

5 EFEKTIVITAS KERJA KOMITE AUDIT


Meskipun komite audit pada saat ini telah diakui keberadaannya hampir disemua
perusahaan di negara maju, terutama di Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Sampai saat ini

9
belum ada kesepakatan mengenai tolak ukur dari keberhasilan atau keefektiviitasan komite
audit.
Komite audit dapat melakukan sinergi dengan audit internal untuk lebih meningkatkan
system pengendalian internal perusahaan. Apabila terdapat dugaan penyimpangan atau
kecurangan di perusahaan yang melibatkan direksi perusahaan, maka komisaris dapat
menugaskan komite audit untuk melakukan audit khusus (fraud audit). Dalam hal ini, komite
audit dapat meminta bantuan pihak eksternal (outsourcing) untuk melakukan audit investiatif
(investigative audit) atau audit forensic (forensic audit) guna mengungkap terjadinya praktik
kecurangan yang signifikan di perusahaan.
Kalbers dan Fogarty (1993) telah melakukan penelitian mengenai factor-faktor yang
mempengaruhi efektivitas kerja komite audit. Hasil penelitian mereka yang dimuat dalam
Auditing a journal of practice & theory berjudul “Audit Committee Effectiveness : An
Empirical Investigation Of The Contribution Of Power” antara lain mengungkapkan bahwa
terdapat tiga factor dominan yang berpengaruh terhadap keberhasilan komite audit dalam
mengemban tugasnya. Ketiga faktor itu adalah kewenangan formal dan tertulis dari komite
audit, kerjasama mnajemen, dan kualitas (kompetensi) anggota komite audit. Selain itu,
efektivitas kerja komite audit juga sangat dipengaruhi oleh pola hubungan (relationship) dan
tingkat intensitas komunikasi antara komite audiot dengan berbagai pihak.

KASUS PT KERETA API INDONESIA (PT KAI)

1. LATAR BELAKANG KASUS


PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) terdeteksi adanya kecurangan dalam penyajian
laporan keuangan. Ini merupakan suatu bentuk penipuan yang dapat menyesatkan investor
dan stakeholder lainnya. Kasus ini juga berkaitan dengan masalah pelanggaran kode etik
profesi akuntansi. Diduga terjadi manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI tahun

10
2005, perusahaan BUMN itu dicatat meraih keutungan sebesar Rp6,9 Miliar. Padahal apabila
diteliti dan dikaji lebih rinci, perusahaan justru menderita kerugian sebesar Rp63 Miliar.
Komisaris PT KAI Hekinus Manao yang juga sebagai Direktur Informasi dan
Akuntansi Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan mengatakan,
laporan keuangan itu telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik S. Manan. Audit terhadap
laporan keuangan PT KAI untuk tahun 2003 dan tahun-tahun sebelumnya dilakukan oleh
Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), sedangkan untuk tahun 2004 diaudit oleh BPK dan
akuntan publik.
Hasil audit tersebut kemudian diserahkan Direksi PT KAI untuk disetujui sebelum
disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham, dan Komisaris PT KAI yaitu Hekinus
Manao menolak menyetujui laporan keuangan PT KAI tahun 2005 yang telah diaudit oleh
akuntan publik. Setelah hasil audit diteliti dengan seksama, ditemukan adanya kejanggalan
dari laporan keuangan PT KAI tahun 2005 sebagai berikut:
1. Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan
keuangan itu dimasukkan sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005. Kewajiban
PT KAI untuk membayar surat ketetapan pajak (SKP) pajak pertambahan nilai (PPN)
sebesar Rp 95,2 Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada akhir
tahun 2003 disajikan dalam laporan keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada
beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung beban pajak itu. Padahal
berdasarkan Standar Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah ditagih itu tidak
bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT KAI ada kekeliruan direksi dalam mencatat
penerimaan perusahaan selama tahun 2005.
2. Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp24 Miliar yang
diketahui pada saat dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen PT KAI
sebagai kerugian secara bertahap selama lima tahun. Pad akhir tahun 2005 masih
tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai kerugian sebesar Rp6
Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam tahun 2005.
3. Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai
kumulatif sebesar Rp674,5 Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp70 Miliar
oleh manajemen PT KAI disajikan dalam neraca per 31 Desember 2005 sebagai
bagian dari hutang.
4. Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan
tidak tertagihnya kewajiban pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada
pelanggan pada saat jasa angkutannya diberikan PT KAI tahun 1998 sampai 2003.
11
Perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara Komisaris dan auditor akuntan
publik terjadi karena PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Ketiadaan tata
kelola yang baik itu juga membuat komite audit (komisaris) PT KAI baru bisa mengakses
laporan keuangan setelah diaudit akuntan publik. Akuntan publik yang telah mengaudit
laporan keuangan PT KAI tahun 2005 segera diperiksa oleh Badan Peradilan Profesi Akuntan
Publik. Jika terbukti bersalah, akuntan publik itu diberi sanksi teguran atau pencabutan izin
praktik.
Kasus PT KAI berawal dari pembukuan yang tidak sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Sebagai akuntan sudah selayaknya menguasai prinsip akuntansi berterima umum
sebagai salah satu penerapan etika profesi. Kesalahan karena tidak menguasai prinsip
akuntansi berterima umum bisa menyebabkan masalah yang sangat menyesatkan.
Laporan Keuangan PT KAI tahun 2005 disinyalir telah dimanipulasi oleh pihak-pihak
tertentu. Banyak terdapat kejanggalan dalam laporan keuangannya. Beberapa data disajikan
tidak sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Hal ini mungkin sudah biasa terjadi dan
masih bisa diperbaiki. Namun, yang menjadi permasalahan adalah pihak auditor menyatakan
Laporan Keuangan itu Wajar Tanpa Pengecualian. Tidak ada penyimpangan dari standar
akuntansi keuangan. Hal ini lah yang patut dipertanyakan.
Dari informasi yang didapat, sejak tahun 2004 laporan PT KAI diaudit oleh Kantor
Akuntan Publik. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan BPK sebagai
auditor perusahaan kereta api tersebut. Hal itu menimbulkan dugaan kalau Kantor Akuntan
Publik yang mengaudit Laporan Keuangan PT KAI melakukan kesalahan.
Profesi Akuntan menuntut profesionalisme, netralitas, dan kejujuran. Kepercayaan
masyarakat terhadap kinerjanya tentu harus diapresiasi dengan baik oleh para akuntan. Etika
profesi yang disepakati harus dijunjung tinggi. Hal itu penting karena ada keterkaitan kinerja
akuntan dengan kepentingan dari berbagai pihak. Banyak pihak membutuhkan jasa akuntan.
Pemerintah, kreditor, masyarakat perlu mengetahui kinerja suatu entitas guna mengetahui
prospek ke depan. Yang Jelas segala bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh akuntan
harus mendapat perhatian khusus. Tindakan tegas perlu dilakukan.

2. PEMBAHASAN KASUS
Kasus di atas merupakan Kasus Manipulasi Laporan Keuangan PT KAI yang dilakukan
oleh Manajemen PT KAI dan ketidakmampuan KAP dalam mengindikasi terjadinya
manipulasi.

12
2.1 Analisis 5 Question Approach
1) Profitable
a) Pihak yang diuntungkan adalah Manajemen PT KAI karena kinerja keuangan
perusahaan seolah-olah baik (laba Rp6.9 M), meskipun pada kenyataannya
menderita kerugian Rp 63 M. Tidak tertutup kemungkinan, pihak manajemen
memperoleh bonus dari “laba semu” tersebut.
b) Pihak lain yang diuntungkan adalah KAP S. Manan & Rekan, dimana
dimungkinkan memperoleh Fee khusus karena memberikan opini Wajar Tanpa
Pengecualian.
2) Legal
a) PT KAI melanggar Pasal 90 UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
“Dalam kegiatan perdagangan efek, setiap pihak dilarang secara langsung
maupun tidak langsung
b) Menipu atau mengelabui Pihak lain dengan menggunakan sarana dan atau
cara apa pun
c) Turut serta menipu atau mengelabui Pihak lain dan
d) Membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta yang material atau tidak
mengungkapkan fakta yang material agar pernyataan yang dibuat tidak
menyesatkan mengenai keadaan yang terjadi pada saat pernyataan dibuat
dengan maksud untuk menguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk
diri sendiri atau Pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi Pihak lain untuk
membeli atau menjual Efek.”
PT KAI dapat dikenakan sanksi sesuai Pasal 107 UU No.8 Tahun 1995 yang
menyatakan:
“Setiap Pihak yang dengan sengaja bertujuan menipu atau merugikan Pihak lain atau
menyesatkan Bapepam, menghilangkan, memusnahkan, menghapuskan, mengubah,
mengaburkan, menyembunyikan, atau memalsukan catatan dari Pihak yang
memperoleh izin, persetujuan, atau pendaftaran termasuk Emiten dan Perusahaan
Publik diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).”
KAP S. Manan & Rekan melanggar Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP).
3) Fair
Perbuatan manajemen PT.KAI merugikan publik/masyarakat dan pemerintah.
a) Publik (investor); dirugikan karena memperoleh informasi yang menyesatkan,
sehingga keputusan yang diambil berdasarkan informasi keuagan PT. KAI
menjadi tidak akurat/salah.
b) Pemerintah; dirugikan karena dengan rekayasa keuangan tersebut maka pajak

13
yang diterima pemerintah lebih kecil.
4) Right
a) Hak-hak Publik; dirugikan karena investor memperoleh informasi yang
menyesatkan, sehingga keputusan yang diambil menjadi salah/tidak akurat.
b) Pemerintah; dirugikan karena pajak yang diterima pemerintah menjadi lebih
kecil.
5) Suistainable Development
Rekayasa yang dilakukan manajemen PT KAI bersifat jangka pendek dan bukan
jangka panjang, karena hanya menginginkan keuntungan/laba untuk kepentingan
pribadi/manajemen (motivasi bonus).

2.2 Prinsip Etika yang Dilanggar


Selain akuntan eksternal dan komite audit yang melakukan kesalahan dalam hal
pencatatan laporan keuangan, akuntan internal di PT. KAI juga belum sepenuhnya
menerapkan 8 prisip etika akuntan. Dari kedelapan prinsip akuntan yaitu tanggung jawab
profesi, kepentingan publik, integritas, objektifitas, kompetensi dan kehati-hatian profesional,
kerahasiaan, perilaku profesional, dan standar teknis, prinsip-prinsip etika akuntan yang
dilanggar antara lain :

1) Tanggung jawab profesi


Dimana seorang akuntan harus bertanggung jawab secara professional
terhadap semua kegiatan yang dilakukannya. Akuntan Internal PT. KAI kurang
bertanggung jawab karena dia tidak menelusuri kekeliruan dalam pencatatan dan
memperbaiki kesalahan tersebut sehingga laporan keuangan yang dilaporkan
merupakan keadaan dari posisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.
2) Kepentingan Publik
Dimana akuntan harus bekerja demi kepentingan publik atau mereka yang
berhubungan dengan perusahaan seperti kreditur, investor, dan lain-lain. Dalam kasus
ini akuntan PT. KAI diduga tidak bekerja demi kepentingan publik karena diduga
sengaja memanipulasi laporan keuangan sehingga PT. KAI yang seharusnya menderita
kerugian namun karena manipulasi tersebut PT. KAI terlihat mengalami keuntungan.
Hal ini tentu saja sangat berbahaya, termasuk bagi PT. KAI. Karena, apabila kerugian
tersebut semakin besar namun tidak dilaporkan, maka PT. KAI bisa tidak sanggup
menanggulangi kerugian tersebut.
3) Integritas
Dimana akuntan harus bekerja dengan profesionalisme yang tinggi. Dalam
kasus ini akuntan PT. KAI tidak menjaga integritasnya, karena diduga telah melakukan
manipulasi laporan keuangan.
4) Objektifitas

14
Dimana akuntan harus bertindak obyektif dan bersikap independen atau tidak
memihak siapapun. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak obyektif karena
diduga telah memanipulasi laporan keuangan sehingga hanya menguntungkan pihak-
pihak tertentu yang berada di PT. KAI.
5) Kompetensi dan kehati-hatian professional
Akuntan dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh
kehati-hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk
mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat yang
diperlukan. Dalam kasus ini, akuntan PT. KAI tidak melaksanakan kehati-hatian
profesional sehingga terjadi kesalahan pencatatan yang mengakibatkan PT. KAI yang
seharusnya menderita kerugian namun dalam laporan keuangan mengalami
keuntungan.
6) Perilaku profesional
Akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten
selaras dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesinya. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak berperilaku
profesional yang menyebabkan kekeliruan dalam melakukan pencatatanlaporan
keuangan, dan hal ini dapat mendiskreditkan (mencoreng nama baik) profesinya.

7) Standar teknis
Akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan
mematuhi standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan
keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk
melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan
prinsip integritas dan obyektifitas. Dalam kasus ini akuntan tidak melaksanakan prinsip
standar teknis karena tidak malaporkan laporan keuangan sesuai dengan standar
akuntansi keuangan. Contohnya, pada saat PT Kereta Api Indonesia telah tiga tahun
tidak dapat menagih pajak pihak ketiga. Tetapi, dalam laporan keuangan itu, pajak
pihak ketiga dinyatakan sebagai pendapatan. Padahal, berdasarkan standar akuntansi
keuangan tidak dapat dikelompokkan dalam bentuk pendapatan atau asset.

2.3 Sikap yang Diambil


1. Manajemen PT KAI
a) Melakukan koreksi atas salah saji atas: pajak pihak ketiga yang dimasukkan
sebagai asset; penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan yang
belum dibebankan; bantuan pemerintah yang seharusnya disajikan sebagai

15
bagian modal perseroan.
b) Meminta maaf kepada stakeholders melalui konferensi pers dan berjanji tidak
mengulangi kembali di masa datang.
2. KAP S. Manan & Rekan & Rekan
a) Melakukan jasa profesional sesuai SPAP, dimana tiap anggota harus berperilaku
konsisten dengan reputasi profesionalnya dengan menjauhi tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesioreksi
b) Melakukan koreksi atas opini yang telah dibuat
c) Melakukan konferensi pers dengan mengungkapkan bahwa oknum yang
melakukan kesalahan sehingga menyebabkan opini atas Laporan Keuangan
menjadi tidak seharusnya telah diberikan sanksi dari pihak otorisasi, dan
berjanji tidak mengulang kembali kejadian yang sama di masa yang akan
datang.

2.4 Rekomendasi Agar Kasus Serupa Tidak Terulang


a. Membangun kultur perusahaan yang baik; dengan mengutamakan integritas, etika
profesi dan kepatuhan pada seluruh aturan, baik internal maupun eksternal,
khususnya tentang otorisasi.
b. Mendahulukan kepentingan publik daripada kepentingan publik.
c. Merekrut manajemen baru yang memiliki integritas dan moral yang baik, serta
memberikan siraman rohani kepada karyawan akan pentingnya integritas yang baik
bagi kelangsungan usah perusahaan.
d. Memperbaiki sistem pengendalian internal perusahaan.
e. Corporate Governance dilakukan oleh manajemen yang dirancang dalam rangka
mengeliminasi atau setidaknya menekan kemungkinan terjadinya fraud. Corporate
governance meliputi budaya perusahaan, kebijakan-kebijakan, dan pendelegasian
wewenang.
f. Transaction Level Control Process yang dilakukan oleh auditor internal, pada
dasarnya adalah proses yang lebih bersifat preventif dan pengendalian yang
bertujuan untuk memastikan bahwa hanya transaksi yang sah, mendapat otorisasi
yang memadai yang dicatat dan melindungi perusahaan dari kerugian.
g. Retrospective Examination yang dilakukan oleh Auditor Eksternal diarahkan untuk
mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan perusahaan.
h. Investigation and Remediation yang dilakukan forensik auditor. Peran auditor
forensik adalah menentukan tindakan yang harus diambil terkait dengan ukuran
dan tingkat kefatalan fraud, tanpa memandang apakah fraud itu hanya berupa
pelanggaran kecil terhdaap kebijakan perusahaan ataukah pelanggaran besar yang

16
berbentuk kecurangna dalam laporan keuangan atau penyalahgunaan asset.
i. Penyusunan Standar yang jelas mengenai siapa saja yang pantas menjadi apa baik
untuk jabatan fungsional maupun struktural ataupun untuk posisi tertentu yang
dianggap strategis dan kritis. Hal ini harus diiringi dengan sosialisasi dan
implementasi (enforcement) tanpa ada pengecualian yang tidak masuk akal.
j. Diadakan tes kompetensi dan kemampuan untuk mencapai suatu jabatan tertentu
dengan adil dan terbuka. Siapapun yang telah memenuhi syarat mempunyai
kesempatan yang sama dan adil untuk “terpilih”. Terpilih artinya walaupun pejabat
lain diatasnya tidak “berkenan” dengan orang tersebut, tetapi karena ia yang
terbaik maka tidak ada alasan logis untuk menolaknya ataupun memilih yang orang
lain. Disinilah peran profesionalisme dikedepankan
k. Akuntabilitas dan Transparansi setiap “proses bisnis” dalam organisasi agar
memungkinkan monitoring dari setiap pihak sehingga penyimpangan yang
dilakukan oknum-oknum dapat diketahui dan diberikan sangsi tanpa kompromi.

3. ANALISIS
Dari kasus studi diatas tentang pelanggaran Etika dalam berbisnis itu merupakan suatu
pelanggaran etika profesi perbankan pada PT KAI pada tahun tersebut yang terjadi karena
kesalahan manipulasi dan terdapat penyimpangan pada laporan keuangan PT KAI. Pada
kasus ini juga terjadi penipuan yang menyesatkan banyak pihak seperti investor tersebut.
Seharusnya PT KAI bertindak profesional dan jujur sesuai pada asas-asas etika profesi
akuntansi.

4. KESIMPULAN
Di masa sekarang ini, keberadaan komite telah diterima sebagai suatu bagian dari tata
kelola organisasi perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Selain itu kehadiran
komite audit akhir-akhir ini telah mendapat respon yang positif dari berbagai pihak. Selain
itu, perusahaan yang telah go publik diharapkan agar memiliki komite audit untuk membantu
kegiatan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Perusahaan dan Komite Audit diharapkan
telah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi
dan standar audit yang ada demi kestabilan dan keefektifan kinerja perusahaan.

17
DAFTAR PUSTAKA

Baridwan, Zaki. 2000. Peran dan Fungsi Komisaris Independen dan Komite Audit. Makalah
Seminar Konvensi Nasional Akuntansi IV, Jakarta.

Eddie M. Gunadi & Toto J. Alamsyah. 2000. Direktur Kepatuhan : Gantikan Fungsi Dewan
Audit, Media Akuntansi, No.5 Tahun I.

Effendi, M. Arief. 2001. Persepsi Dewan Komisaris & Direksi Badan Usaha Milik Negara
terhadap pembentukan Komite Audit. Thesis, Program Magister Akuntansi (MAKSI),
Universitas Indonesia.

Herwidayatmo. 2000. Peran dan Fungsi Komisaris Independen dan Komite Audit.
Simposium Nasional Akuntansi II dan Konvensi Nasional Akuntansi IV, Jakarta.

Kalbers, Lawrence P. & Forgathy, Timothy J. 1993. Audit Committee Effectiveness : An


Empirical Investigation of the Contribution of Power, Auditing A Journal of Practice
& Theory.Vol. 12, No. 1, Spring.

Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN Nomor : KEP-102/M-PBUMN/2002


tanggal 31 Juli 2002 tentang pembentukan komite audit bagi BUMN.

Sutojo, Siswanto dan Aldridge, E John. 2008. Good Corporate governance. Jakarta : PT.
Damar Mulia Pustaka

The Institute of Internal Auditors Research Foundation : Improving Audit Committee


Performance : What Works Best, A Research Report prepared by Price Waterhouse,
First printing, 1993.

18
Utama, Marta. 2004. Komite Audit, Good Corporate Governance Dan Pengungkapan
Informasi. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia Vol. 1 pp. 61 – 79.

19