Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH


Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah
negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada
di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik
dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar
di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu ia disebut
juga sebagai Nusantara. Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa
pada tahun 2006, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar
keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di
dunia meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk
pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang
dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta.

Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya.


Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting
setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya
menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan
India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada
awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama
Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk
memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era
penjelajahan samudra.

Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia


menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya
Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan
dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan
periode perubahan ekonomi yang pesat. Dari Sabang sampai

1
Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama
yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara
politis paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka
tunggal ika" ("Berbeda-beda tetapi tetap satu"), berarti
keberagaman yang membentuk negara. Jati diri suatu bangsa
bukan saja dapat kita lihat dari bagaimana karakter pokok dari para
warga bangsa, tetapi juga dari pilihan ideologi dan sistem
pemerintahan yang dipilih oleh bangsa tersebut.

Setiap negara memiliki sistem untuk menjalankan kehidupan


permerintahannya. Sistem tersebut adalah sistem pemerintahan.
Ada beberapa macam sistem pemerintahan di dunia ini seperti
presidensial dan parlementer. Setiap sistem pemerintahan memiliki
kelebihan dan kekurangan, karakteristik, dan perbedaan masing-
masing. Sejak tahun 1945 Indonesia pernah berganti sistem
pemerintahan. Indonesia pernah menerapkan kedua sistem
pemerintahan ini.

Selain itu terjadi juga perubahan pokok-pokok sistem


pemerintahan sejak dilakukan amandemen UUD 1945.
Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia adalah
negara yang menerapkan sistem pemerintahan presidensial.
Namun dalam perjalannannya, Indonesia pernah menerapkan
sistem pemerintahan parlementer karena kondisi dan alasan yang
ada pada waktu itu. Berikut adalah sistem pemerintahan Indonesia
dari 1945 hingga sekarang.

Sistem pemerintahan mempunyai sistem dan tujuan untuk


menjaga suatu kestabilan negara itu. Namun di beberapa negara
sering terjadi tindakan separatisme karena sistem pemerintahan
yang dianggap memberatkan rakyat ataupun merugikan rakyat.
Sistem pemerintahan mempunyai fondasi yang kuat dimana

2
penerapannya kebanyakan sudah mendarah daging dalam
kebiasaan hidup masyarakatnya dan terkesan tidak bisa diubah
serta cenderung statis. Jika suatu pemerintahan mempunya sistem
pemerintahan yang statis dan absolut maka hal itu akan
berlangsung selamanya sehingga adanya desakan kaum minoritas
untuk memprotes hal tersebut.

Secara luas, sistem pemerintahan itu menjaga kestabilan


masyarakat, menjaga tingkah laku kaum mayoritas maupun
minoritas, menjaga fondasi pemerintahan, menjaga kekuatan
politik, pertahanan, ekonomi dan keamanan sehingga menjadi
sistem pemerintahan yang kontinu dan bersifat demokrasi dimana
seharusnya masyarakat bisa turut andil dalam pembangunan
sistem pemerintahan tersebut. Hingga saat ini hanya sedikit negara
yang bisa mempraktikkan sistem pemerintahan itu secara
menyeluruh. Secara sempit, sistem pemerintahan hanya sebagai
sarana kelompok untuk menjalankan roda pemerintahan guna
menjaga kestabilan negara dalam waktu relatif lama dan mencegah
adanya perilaku reaksioner maupun radikal dari rakyatnya itu
sendiri.

Pokok-pokok sistem pemerintahan negara Indonesia


berdasarkan UUD 1945 sebelum diamandemen tertuang dalam
Penjelasan UUD 1945 tentang tujuh kunci pokok sistem
pemerintahan negara. Berdasarkan tujuh kunci pokok sistem
pemerintahan, sistem pemerintahan Indonesia menurut UUD 1945
menganut sistem pemerintahan presidensial. Sistem pemerintahan
ini dijalankan semasa pemerintahan Orde Baru di bawah
kepemimpinan Presiden Suharto.

Ciri dari sistem pemerintahan masa itu adalah adanya


kekuasaan yang amat besar pada lembaga kepresidenan. Hampir

3
semua kewenangan presiden yang di atur menurut UUD 1945
tersebut dilakukan tanpa melibatkan pertimbangan atau
persetujuan DPR sebagai wakil rakyat. Karena itu tidak adanya
pengawasan dan tanpa persetujuan DPR, maka kekuasaan
presiden sangat besar dan cenderung dapat disalahgunakan.
Mekipun adanya kelemahan, kekuasaan yang besar pada presiden
juga ada dampak positifnya yaitu presiden dapat mengendalikan
seluruh penyelenggaraan pemerintahan sehingga mampu
menciptakan pemerintahan yang kompak dan solid. Sistem
pemerintahan lebih stabil, tidak mudah jatuh atau berganti. Konflik
dan pertentangan antar pejabat negara dapat dihindari. Namun,
dalam praktik perjalanan sistem pemerintahan di Indonesia ternyata
kekuasaan yang besar dalam diri presiden lebih banyak merugikan
bangsa dan negara daripada keuntungan yang didapatkanya.

Memasuki masa Reformasi ini, bangsa Indonesia bertekad


untuk menciptakan sistem pemerintahan yang demokratis. Untuk
itu, perlu disusun pemerintahan yang konstitusional atau
pemerintahan yang berdasarkan pada konstitusi. Dalam
menjalankan sistem pemerintahan perlu memperhatikan asas
pemerintahan. Asas adalah dasar, pedoman atau sesuatu yang
dianggap kebenaraannya, yang menjadi tujuan berpikir dan prinsip
yang menjadi pegangan. Jadi dengan demikian yang menjadi asas
ilmu pemerintahan adalah dasar dari suatu sistem pemerintahan
seperti ideologi suatu bangsa, filsafah hidup dan konstitusi yang
membentuk sistem pemerintahannya.

Ilmu pemerintahan itu sama sebagaimana ilmu-ilmu


kenegaraan lainnya yang banyak berkonotasi pada masalah
kekuasaan, maka di khawatirkan timbul kecenderungan pada
kesewenang-wenangan, oleh karena itu diperlukan etika yang
berakhir dari moral dan norma agama. Dengan demikian kita perlu

4
memperhatikan semua aspek yang berhubungan dengan sistem
pemerintahan agar sistem pemerintahan di Indonesia dapat
berjalan dengan baik dan sesuai dengan konstitusi negara
Indonesia.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1.2.1 Pengertian Sistem


1.2.2 Pengertian Pemerintahan
1.2.3 Pengertian Sistem Pemerintahan
1.2.4 Bentuk Pemerintahan
1.2.5 Macam- Macam Sistem Pemerintahan
1.2.6 Ciri- Ciri Sistem Pemerintahan Presidensial
1.2.7 Kelebihan Sistem Pemerintahan Presidensial
1.2.8 Kekurangan Sistem Pemerintahan Presidensial
1.2.9 Ciri- Ciri Sistem Pemerintahan Parlementer
1.2.10 Kelebihan Sistem Pemerintahan Parlementer
1.2.11 Kekurangan Sistem Pemerintahan Parlementer
1.2.12 Sistem Pemerintahan Indonesia
1.2.13 Pengaruh Sistem Pemerintahan Terhadap Negara

1.3. TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 Untuk memenuhi salah satu tugas sistem pemerintahan


1.3.2 Untuk mengetahui pengertian system
1.3.3 Untuk mengetahui pengertian pemerintahan
1.3.4 Untuk mengetahui pengertian system pemerintahan
1.3.5 Untuk mengetahui bentuk pemerintahan
1.3.6 Untuk mengetahui macam- macam sistem pemerintahan
1.3.7 Untuk mengetahui ciri- ciri sistem pemerintahan
presidensial
1.3.8 Untuk mengetahui kelebihan sistem pemerintahan
presidensial
1.3.9 Untu mengetahui kekurangan sistem pemerintahan
presidensial
1.3.10 Untuk mengetahui ciri- ciri sistem pemerintahan
parlementer
1.3.11 Untuk mengetahui kelebihan sistem pemerintahan
parlementer

5
1.3.12 Untuk mengetahui kekuranga sistem pemerintahan
parlementer
1.3.13 Untuk mengetahui sistem pemerintahan Indonesia
1.3.14 Untuk mengetahui sistem pemerintahan terhadap Negara

1.4. MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Sebagai pedoman untuk menambah wawasan dalam


menulis dan membuat suatu karya ilmiah terutama pada
makalah ini.
1.4.2 Sebagai referensi bagi penulis dalam pembuatan makalah
beikutnya.
1.4.3 Sebagai bahan bacaan dan lebih memahami bagaimna tata
cara penulisan makalah.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN SISTEM

Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling


berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-
item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara
merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain
seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk
suatu negara di mana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu
rakyat yang berada dinegara tersebut.Kata "sistem" banyak sekali
digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi
maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan
pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam.

6
Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah
sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka

 Pengertian Sistem Menurut Para Ahli

Terdapat beberapa definisi sistem yang dikemukakan oleh


para ahli. Diantaranya yaitu sebagai berikut.

1) Indrajid
Sistem adalah suatu perkumpulan komponen yang
saling memiliki hubungan antara komponen yang satu
dengan yang lainnya.
2) Jogianto
Gabungan banyak elemen yang memiliki hubungan
dan saling berinteraksi dalam menyelesaikan suatu tujuan
tertentu. Jogianto menyatakan bahwa dapat digambarkan
sebagai suatu kejadian yang nyata berupa manusia, benda,
atau orang yang nyata.
3) Murdick,R.G
Sistem adalah suatu kumpulan elemen yang di
dalamnya terdapat prosedur yang digunakan dalam rangka
mencari suatu tujuan bersama melalui cara pengoperasian
barang dan data pada saat tertentu. Cara ini ditujukan untuk
mendapatkan data atau informasi yang diinginkan.
4) Harijono Djojodihardjo
Pengertian sistem adalah gabungan suatu obyek
yang mempunyai hubungan baik dari segi fungsi maupun
hubungan tiap-tiap ciri-ciri obyek yang dengan keseluruhan
menjadi kesatuan yang mempunyai fungsi.
5) Lani Sidharta
Kumpulan beberapa unsur dimana unsur tersebut
saling berkaitan bersama dan beroperasi dalam mencapai
suatu tujuan sama.
6) Colin Cherry
Colin Cherry menyebutkan bahwa sistem adalah
keseluruhan yang dibentuk oleh berbagai bagian atau

7
assambel yang berasal dari berbagai sifat serta bagian-
bagiannya.
7) Pamudji
Suatu keseluruhan yang terorganisir atau suatu
kebulatan yang kompleks. Pamudji juga menyatakan bahwa
sistem merupakan suatu paduan himpunan dari berbagai hal
sehingga membentuk suatu keseluruhan yang utuh.
Keseluruhan yang utuh tersebut mencakup di dalamnya
yaitu terdapat berbagai macam komponen yang termasuk
sistem. Sistem tersebut memiliki fungsi masing-masing dan
berkaitan antara satu sistem bersama dengan sistem yang
lainnya dalam mencapai tujuan.

8) Sumantri
Sistem menurut Sumantri yaitu sekelompok bagian
dimana bagian tersebut saling mengisi dan bekerjasama
dalam menjalankan maksud tertentu. Apabila salah satu
sistem sedang terganggu atau mengalami suatu kerusakan
maka akan berpengaruh terhadap sistem yang lainnya.
Sehingga keseluruhan bagian tersebut tidak dapat
menjalankan fungsinya dengan maksimal.
9) Prajudl
Jaringan yang terdiri dari prosedur-prosedur yang saling
terikat antara prosedur yang satu dengan prosedur yang
lainnya. Keterikatan tersebut didasarkan oleh pola yang bulat
yang dapat menggerakkan fungsi utama maupun urusan.
10) R.FagendanA.Hall
Sistem adalah kumpulan dari objek yang mempunyai
suatu hubungan antara masing-masing obyek termasuk
hubungan mengenai sifat-sifat yang mereka miliki

2.2 PENGERTIAN PEMERINTAHAN

8
Government dari bahasa Inggris dan Gouvernment dari
bahasa Perancis yang keduanya berasal dari bahasa Latin, yaitu
Gubernaculum, yang berarti kemudi, tetapi diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia menjadi Pemerintah atau Pemerintahan dan
terkadang juga menjadi Penguasa.

Pemerintahan dalam arti luas adalah segala kegiatan badan-


badan publik yang meliputi kegiatan legislatif, eksekutif dan
yudikatif dalam usaha mencapai tujuan negara. Pemerintahan
dalam ari sempit adalah segala kegiatan badan-badan public yang
hanya meliputi kekuasaan eksekutif.

Pemerintahan adalah lembaga atau badan public yang


mempunyai fungsi dan tujuan Negara, sedangkan pemerintahan
adalah lembaga atau badan-badan publik dalam menjalankan
fungsinya untuk mencapai tujuan Negara (Ermaya Suradinata)
Pemerintah adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk
membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang di wilayah
tertentu. Ada beberapa definisi mengenai sistem pemerintahan.
Sama halnya, terdapat bermacam-macam jenis pemerintahan di
dunia. Sebagai contoh: Republik, Monarki / Kerajaan,
Persemakmuran (Commonwealth). Dari bentuk-bentuk utama
tersebut, terdapat beragam cabang, seperti: Monarki Konstitusional,
Demokrasi, dan Monarki Absolut / Mutlak. Sistem pemerintahan
berasal dari gabungan dua kata sistem dan pemerintahan.

2.3 PENGERTIAN SISTEM PEMERINTAHAN

Kata sistem merupakan terjemahan dari bahasa Latin


(systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan
yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan
bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi

9
Sistem pemerintahan merupakan sistem yang digunakan oleh
pemerintah sebuah negara untuk mengatur negaranya. Sistem
pemerintahan berisi sekumpulan aturan-aturan dasar mengenai
pola kepemimpinan, pola pengambilan keputusan, pola
pengambilan kebijakan, dan berbagai macam hal lainnya.

Menurut ruang lingkup, pengertian sistem pemerintahan


dapat dijelaskan sebagai berikut

• Sistem pemerintahan dalam arti sempit

Sistem pemerintahan adalah sebuah kajian yang melihat


hubungan legislatif dan eksekutif dalam sebuah negara.
Berdasarkan kajian ini dibedakan dua model pemerintahan yakni,
system parlementer dan system presidensial .

• Sistem pemerintahan dalam arti luas

Sistem pemerintahan adalah suatu kajian pemerintahan


negara yang bertolak dari hubungan antara semua organ negara,
termasuk hubungan antara pemerintah pusat dengan bagian-
bagian yang ada didalam negara. Sistem pemerintahan negara
dibedakan menjadi negara kesatuan, negara serikat (federal), dan
negara konfederasi.

• Sistem pemerintahan dalam arti sangat luas

Sistem pemerintahan adalah suatu system pemerintahan


yang menitik beratkan hubungan antara negara dan rakyat. Sistem
ini dibedakan menjadi system pemerintahan monarki, pemerintahan
aristokrasi, dan pemerintahan demokrasi.

2.4 BENTUK PEMERINTAHAN

10
Terdapat berbagai jenis bentuk pemerintahan diantaranya :

2.4.1 Aristokrasi Berasal dari bahasa Yunani kuno aristo yang


berarti “terbaik” dan kratia yang berarti “untuk memimpin”.
Aristokrasi dapat diterjemahkan menjadi sebuah sistem
pemerintahan yang dipimpin oleh individu yang terbaik.
2.4.2 Demokrasi yaitu bentuk atau mekanisme sistem
pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan
kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara
untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Salah
satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang
membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif,
yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis
lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada
dalam peringkat yg sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan
independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan
agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan
saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.
Ketiga jenis lembaga-lembaga negara tersebut adalah
lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan
untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan
eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang
menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-
lembaga perwakilan rakyat (DPR, untuk Indonesia) yang
memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif..
2.4.3 Demokrasi totaliter Yaitu sebuah istilah yang diperkenalkan
oleh sejarahwan Israel, J.L. Talmon untuk merujuk kepada
suatu sistem pemerintahan di mana wakil rakyat yang terpilih
secara sah mempertahankan kesatuan negara kebangsaan
yang warga negaranya, meskipun memiliki hak untuk
memilih, tidak banyak atau bahkan sama sekali tidak
memiliki partisipasi dalam proses pengambilan keputusan

11
pemerintah. Ungkapan ini sebelumnya telah digunakan oleh
Bertrand de Jouvenel dan E.H. Carr.
2.4.4 Emirat (bahasa Arab: imarah, jamak imarat) adalah sebuah
wilayah yang diperintah seorang emir, meski dalam bahasa
Arab istilah tersebut dapat merujuk secara umum kepada
provinsi apapun dari sebuah negara yang diperintah anggota
kelompok pemerintah. Contoh penggunaan dalam arti yang
terakhir disebut adalah Uni Emirat Arab, yang merupakan
sebuah negara yang terdiri dari tujuh emirat federal yang
masing-masing diperintah seorang emir.
2.4.5 Federal adalah kata sifat (adjektif) dari kata Federasi.
Biasanya kata ini merujuk pada pemerintahan pusat atau
pemerintahan pada tingkat nasional. Federasi dari bahasa
Belanda, federatie, berasal dari bahasa Latin; foeduratio
yang artinya “perjanjian”. federasi pertama dari arti ini adalah
“perjanjian” daripada Kerajaan Romawi dengan suku bangsa
Jerman yang lalu menetap di provinsi Belgia, kira-kira pada
abad ke 4 Masehi. Kala itu, mereka berjanji untuk tidak
memerangi sesama, tetapi untuk bekerja sama saja.
2.4.6 Meritokrasi Berasal dari kata merit atau manfaat, meritokrasi
menunjuk suatu bentuk sistem politik yang memberikan
penghargaan lebih kepada mereka yang berprestasi atau
berkemampuan. Kerap dianggap sebagai suatu bentuk
sistem masyarakat yang sangat adil dengan memberikan
tempat kepada mereka yang berprestasi untuk duduk
sebagai pemimpin, tetapi tetap dikritik sebagai bentuk
ketidak adilan yang kurang memberi tempat bagi mereka
yang kurang memiliki kemampuan untuk tampil memimpin.
Dalam pengertian khusus meritokrasi kerap di pakai
menentang birokrasi yang sarat KKN terutama pada aspek
nepotisme.

12
2.4.7 Monarkisme adalah sebuah dukungan terhadap pendirian,
pemeliharaan, atau pengembalian sistem kerajaan sebagai
sebuah bentuk pemerintahan dalam sebuah negara.Negara
Kota adalah negara yang berbentuk kota yang memiliki
wilayah, memiliki rakyat,dan pemerintahan berdaulat penuh.
2.4.8 Negara kota biasanya memiliki wilayah yang kecil yang
meiliki luas sebesar kota pada umumnya. Negara-negara
kota dewasa ini adalah Singapura, Monako dan Vatikan.
2.4.9 Oligarki (Bahasa Yunani: Ὀλιγαρχία, Oligarkhía) adalah
bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara
efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat,
baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau militer.
Kata ini berasal dari kata bahasa Yunani untuk “sedikit”
(ὀλίγον óligon) dan “memerintah” (ἄρχω arkho).
2.4.10 Otokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang kekuasaan
politiknya dipegang oleh satu orang. Istilah ini diturunkan
dari bahasa Yunani autokratôr yang secara literal berarti
“berkuasa sendiri” atau “penguasa tunggal”. Otokrasi
biasanya dibandingkan dengan oligarki (kekuasaan oleh
minoritas, oleh kelompok kecil) dan demokrasi (kekuasaan
oleh mayoritas, oleh rakyat).
2.4.11 Plutokrasi merupakan suatu sistem pemerintahan yamg
mendasarkan suatu kekuasaan atas dasar kekayaan yang
mereka miliki. Mengambil kata dari bahasa Yunani, Ploutos
yang berarti kekayaan dan Kratos yang berarti kekuasaan.
riwayat keterlibatan kaum hartawan dalam politik kekuasaan
memang berawal di kota Yunani, untuk kemudian diikuti di
kawasan Genova, Italia

2.5 MACAM- MACAM SISTEM PEMERINTAHAN

Sistem pemerintahan negara dibagi menjadi dua klasifikasi


besar, yaitu:

13
2.5.1 Sistem pemerintahan parlementer.

Sistem parlementer adalah sebuah sistem pemerintahan di


mana parlemen memiliki peranan penting dalam pemerintahan.
Dalam hal ini parlemen memiliki wewenang dalam mengangkat
perdana menteri dan parlemen pun dapat menjatuhkan
pemerintahan, yaitu dengan cara mengeluarkan semacam mosi
tidak percaya.

Berbeda dengan sistem presidensiil, di mana sistem


parlemen dapat memiliki seorang presiden dan seorang perdana
menteri, yang berwenang terhadap jalannya pemerintahan. Dalam
presidensiil, presiden berwenang terhadap jalannya pemerintahan,
namun dalam sistem parlementer presiden hanya menjadi simbol
kepala negara saja. Sistem parlementer dibedakan oleh cabang
eksekutif pemerintah tergantung dari dukungan secara langsung
atau tidak langsung cabang legislatif, atau parlemen, sering
dikemukakan melalui sebuah veto keyakinan. Oleh karena itu, tidak
ada pemisahan kekuasaan yang jelas antara cabang eksekutif dan
cabang legislatif, menuju kritikan dari beberapa yang merasa
kurangnya pemeriksaan dan keseimbangan yang ditemukan dalam
sebuah republik kepresidenan.

Sistem parlemen dipuji, dibanding dengan sistem


presidensiil, karena kefleksibilitasannya dan tanggapannya kepada
publik. Sistem parlemen biasanya memiliki pembedaan yang jelas
antara kepala pemerintahan dan kepala negara, dengan kepala
pemerintahan adalah perdana menteri, dan kepala negara ditunjuk
sebagai dengan kekuasaan sedikit atau seremonial. Namun
beberapa sistem parlemen juga memiliki seorang presiden terpilih
dengan banyak kuasa sebagai kepala negara, memberikan
keseimbangan dalam sistem ini. Negara yang menganut sistem

14
pemerintahan parlementer adalah Inggris, Jepang, Belanda,
Malaysia, Singapura dan sebagainya

Pada prinsipnya sistem pemerintahan parlementer menitik


beratkan pada hubungan antara organ negara pemegang
kekuasaan eksekutif dan legeslatif. Sistem ini merupakan sisa-sisa
peninggalan sistem pemerintahan dalam arti paling luas yakni
morankhi. Dikatakan demikian karena kepala negara apapun
sebutanya mempunyai kedudukan yang tidak dapat di ganggu
gugat. Sedangkan penyelenggara pemerintah sehari-hari
diserahkan kepada menteri.

2.5.2 Sistem pemerintahan Presidensial

Sistem presidensial (presidensiil), atau disebut juga dengan


sistem kongresional, merupakan sistem pemerintahan negara
republik di mana kekuasan eksekutif dipilih melalui pemilu dan
terpisah dengan kekuasan legislatif. Dalam sistem pemerintahan
presidensial, badan eksekutif dan legislatif memiliki kedudukan
yang independen. Kedua badan tersebut tidak berhubungan secara
langsung seperti dalam sistem pemerintahan parlementer. Mereka
dipilih oleh rakyat secara terpisah.

Sistem pemerintahan ini dianut oleh Amerika Serikat,


Filipina, Indonesia dan sebagian besar negara-negara Amerika
Latin dan Amerika Tengah. Menurut Rod Hague, pemerintahan
presidensiil terdiri dari 3 unsur yaitu: i) Presiden yang dipilih rakyat
memimpin pemerintahan dan mengangkat pejabat-pejabat
pemerintahan yang terkait. ii) Presiden dengan dewan perwakilan
memiliki masa jabatan yang tetap, tidak bisa saling menjatuhkan. iii)
Tidak ada status yang tumpang tindih antara badan eksekutif dan
badan legislatif. iv) Dalam sistem presidensial, presiden memiliki

15
posisi yang relatif kuat dan tidak dapat dijatuhkan karena rendah
subjektif seperti rendahnya dukungan politik.

Namun masih ada mekanisme untuk mengontrol presiden.


Jika presiden melakukan pelanggaran konstitusi, pengkhianatan
terhadap negara, dan terlibat masalah kriminal, posisi presiden bisa
dijatuhkan. Bila ia diberhentikan karena pelanggaran-pelanggaran
tertentu, biasanya seorang wakil presiden akan menggantikan
posisinya.

2.6 CIRI- CIRI SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENSIAL

1. Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala


Pemerintahan

Ciri-ciri utama dari sistem pemerintahan pemerintahan


presidensial yaitu presiden tidak hanya menjabat sebagai kepala
negara tetapi juga sebagai kepala pemerintahan. Kepala negara
menjalankan fungsi simbolik yang mewakili bangsa dan memiliki
kedudukan seremonial untuk pengesahan undang-undang,
pengambilan sumpah menteri, pengukuhan dan pelantikan kabinet.

Adapun kepala pemerintahan menjalankan fungsi pengaturan


penyelenggaraan negara. Dengan demikian, dalam sistem
pemerintahan presidensial ini presiden menjalan kedua fungsi
sekaligus yaitu fungsi simbolik dan fungsi pengaturan
penyelenggaraan negara.

2. Presiden Dipilih Langsung oleh Rakyat

Salah satu ciri-ciri sistem pemerintahan presidensial adalah


presiden yang dipiih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum.

3. Tidak Adanya Lembaga Tertinggi Negara

16
Dalam sistem pemerintahan presidensial tidak dikenal lagi
adanya sebuah lembaga tertinggi negara. Dalam hal ini adalah
MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) yang memegang
supremasi tertinggi. Semua wewenang dan tugas lembaga negara
atas dasar kedaulatan rakyat terdapat pada Pasal 1 ayat (2) UUD
1945 yang berbunyi “Kedaulatan ada di tangan rakyat dan
dilaksanakan menurut Undang-Undang”. Presiden tidak lagi
bertanggung jawab kepada MPR tetapi kepada konstitusi, dengan
kata lain pejabat eksekutif tidak bertanggung jawab kepada pejabat
legislatif.

4. Kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Sama Kuat

Dalam pembahasan sebelumnya telah diuraikan bahwa pada


sistem pemerintahan presidensial tidak ada lagi yang namanya
lembaga tertinggi negara dan kedaulatan ada pada rakyat. Dengan
demikian kekuasaan eksekutif dan legislatif menjadi sama kuatnya
sehingga keduanya tidak dapat saling menjatuhkan. Hal ini akan
berbeda jika lembaga eksekutif harus bertanggung jawab kepada
lembaga legislatif.

5. Adanya Kejelasan Pembagian Kekuasaan Eksekutif


dan Legislatif

Terdapat pemisahan yang jelas tentang pembagian


kekuasaan atara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif dalam
sistem pemerintahan presidensial. Oleh karena itu, antara lembaga
satu dengan lainnya dapat saling melakukan pengawasan sehingga
meminimalisir adanya penyalahgunaan wewenang. Tidak hanya itu
saja, pemisahan kekuasaan dapat terjadi secara personal. Personal
yang dimaksud disini adalah seorang eksekutif tidak dapat
merangkap menjadi legislatif, begitu juga sebaliknya jika sudah
mememiliki jabatan di lembaga legislatif tidak dapat merangkap lagi

17
menjadi eksekutif. Meskipun demikian, penerapan pemisahan
kekuasaan secara personal ini tidak berlaku di semua negara yang
menganut sistem pemerintahan presidensial.

6. Supremasi Konstitusi

Ciri-ciri lainnya dalam sistem pemerintahan presidensial


adalah adanya supremasi konstitusi. Oleh karena itu presiden dan
wakil presiden sebagai pemerintah eksekutif mempertanggung –
jawabkan pemerintahannya kepada konstitusi. Pemerintah tidak
akan dikenai sanksi jika tidak memenuhi janji-janji yang ia
kampanyekan menjelang pemilu, tetapi ia akan diberikan sanksi jika
melanggar konstitusi.

7. Presiden Bertanggung Jawab Kepada Rakyat

Sesuai dengan supremasi konstitusi pada sistem


pemerintahan presidensial maka dalam sistem pemerintahan
tersebut presiden dan wakil presiden bertanggung jawab langsung
kepada rakyat. Hal ini dikarenakan kedaulatan tertinggi berada di
tangan rakyat. Adapun untuk kedaulatan kekuasaan negara sendiri
menganut formulasi Trias Politica yang dikenalkan oleh
Montesquieu yaitu terdiri dari kekuasaan legislatif, eksekutif, dan
yudikatif.

8. Adanya Kejelasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil


Presiden

Sistem pemerintahan presidensial menunjukkan adanya


kejelasan masa jabatan presiden dan wakil presiden karena
semuanya telah diatur di dalam konstitusi yaitu UUD 1945. Masa
jabatan presiden telah ditetapkan dengan jelas dalam Pasal 7 yang
berbunyi “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya
selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali”.

18
Dengan demikian, tidak ada yang dapat menduduki jabatan
presiden lebih dari 2 (dua) kali periode.

9. Kabinet Dibentuk oleh Presiden

menjalankan fungsinya sebagai kepala negara dan kepala


pemerintah, presiden membentuk kabinetnya sendiri yang terdiri
dari menteri-menteri seperti tercantum dalam Pasal 17 ayat (1)
yang berbunyi “Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara”.
Para menteri ini dipilih, diangkat, dilantik, dan diberhentikan sendiri
oleh presiden sehingga alur pertanggung – jawabannya juga
kepada presiden bukan kepada DPR. Menteri-menteri ini
membantu menjalankan tugas-tugas presiden dengan membidangi
urusan tertentu baik membawahi sebuah departemen maupun non
departemen. Oleh karena itu terdapat 2 (dua) jenis kementerian
yaitu departemen kementerian dan kementerian non departemen.
Adanya departemen yang dibawahi oleh menteri sudah diatur
dalam UUD 1945, namun keberadaan menteri non departemen
merupakan sebuah konvensi nasional.

10. Partai Politik Hanya Sebagai Fasilitator

Setiap calon presiden dan wakil presiden tentunya diusung


oleh partai politik. Dalam sistem pemerintahan presidensial, partai
politik hanya berfungsi sebagai fasilitator. Berbeda dengan sistem
pemerintahan parlementer dimana partai politik memiliki peran
utama dalam memasukkan ideologi politik. Walaupun diusung oleh
partai politik, presiden tetap bertanggung jawab langsung kepada
rakyat. Adapun terhadap partai yang mengusungnya maka
pertanggungjawaban bersifat perseorangan atau individu.

19
2.7 KELEBIHAN SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENSIAL

1. Badan eksekutif lebih stabil kedudukannya karena tidak


tergantung pada parlemen.

2. Masa jabatan badan eksekutif lebih jelas dengan jangka


waktu tertentu. Misalnya, masa jabatan Presiden Amerika Serikat
adalah empat tahun, Presiden Filipina adalah enam tahun dan
Presiden Indonesia adalah lima tahun.

3. Penyusun program kerja kabinet mudah disesuaikan


dengan jangka waktu masa jabatannya.

4. Legislatif bukan tempat kaderisasi untuk jabatan-jabatan


eksekutif karena dapat diisi oleh orang luar termasuk anggota
parlemen sendiri.

5. Bahwa seorang Menteri tidak dapat di jatuhkan Parlemen


karena bertanggung jawab kepada presiden.

6. Pemerintah dapat leluasa karena tidak ada bayang-bayang


krisis kabinet

7. Menteri tidak dapat di jatuhkan Parlemen karena


bertanggung jawab kepada presiden.

8. Pemerintah dapat leluasa waktu karena tidak ada bayang-


bayang krisis kabinet

9. Ini memastikan pemerintahan yang stabil

10. Sistem pemerintahan ini paling cocok untuk keadaan darurat

11. Ini mengarah pada efisiensi dalam administrasi

12. Kurang pengaruh Para Pihak Partai

20
13. Jenis pemerintahan ini didasarkan pada teori Pemisahan
Kekuasaan

2.8 KEKURANGAN SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENSIAL

1. Kekuasaan eksekutif diluar pengawasan langsung legislatif


sehingga dapat menciptakan kekuasaan mutlak.

2. Sistem pertanggungjawaban kurang jelas.

3. Pembuatan keputusan atau kebijakan publik umumnya hasil


tawar-menawar antara eksekutif dan legislatif sehingga dapat
terjadi keputusan tidak tegas

4. Pembuatan keputusan memakan waktu yang lama

5. Pengawasan rakyat lemah.

6. Pengaruh rakyat dalam kebijakan politik Negara kurang


mendapat perhat

7. Kadang-kadang mengarah pada non-kerjasama antara


Eksekutif dan Legislatif

8. Dalam sistem ini pemerintah tidak bertanggung jawab atas


administrasi harian kepada Parlemen

9. Teori Pemisahan Kekuasaan tidak baik untuk suara kerja


Pemerintah:

10. Karena konstitusi sangat kaku, menjadi sangat sulit untuk


membuat perubahan di dalamnya sesuai dengan perubahan zaman

2.9 CIRI-CIRI SISTEM PEMERINTAHAN PARLEMENTER

21
1. Dikepalai oleh seorang perdana menteri sebagai kepala
pemerintahan sedangkan kepala negara dikepalai oleh
presiden/raja.

2. Kekuasaan eksekutif presiden ditunjuk oleh legislatif


sedangkan raja diseleksi berdasarkan undang-undang.

3. Perdana menteri memiliki hak prerogratif (hak istimewa)


untuk mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri yang
memimpin departemen dan non- departemen.

4. Menteri-menteri hanya bertanggung jawab kepada


kekuasaan legislatif.

5. Kekuasaan eksekutif bertanggung jawab kepada kekuasaan


legislatif.

6. Kekuasaan eksekutif dapat dijatuhkan oleh legislatif.

7. Kelebihan sistem parlementer

8. Pembuat kebijakan dapat ditangani secara cepat karena


mudah terjadi penyesuaian pendapat antara eksekutif dan legislatif.
Hal ini karena kekuasaan eksekutif dan legislatif berada pada satu
partai atau koalisi partai.

9. Garis tanggung jawab dalam pembuatan dan pelaksanaan


kebijakan publik jelas.

10. Adanya pengawasan yang kuat dari parlemen terhadap


kabinet sehingga kabinet menjadi berhati-hati dalam menjalankan
pemerintahan

11. Pembuatan keputusan menggunakan waktu yang cepat

22
12. Ada banyak fleksibilitas dalam sistem pemerintahan
Parlementer untuk mengatasi situasi yang berubah dan bahkan
keadaan darurat

2.10 KELEBIHAN SISTEM PEMERINTAHAN PARLEMENTER

1. Pembuat kebijakan dapat ditangani secara cepat karena


mudah terjadi penyesuaian pendapat antara eksekutif dan legislatif.
Hal ini karena kekuasaan eksekutif dan legislatif berada pada satu
partai atau koalisi partai.

2. Garis tanggung jawab dalam pembuatan dan pelaksanaan


kebijakan publik jelas.

3. Adanya pengawasan yang kuat dari parlemen terhadap


kabinet sehingga kabinet menjadi berhati-hati dalam menjalankan
pemerintahan.

2.11 KEKURANGAN SISTEM PEMERINTAHAN PARLEMENTER

1. Kedudukan badan eksekutif/kabinet sangat tergantung pada


mayoritas dukungan parlemen sehingga sewaktu-waktu kabinet
dapat dijatuhkan oleh parlemen.

2. Kelangsungan kedudukan badan eksekutif atau kabinet tidak


bisa ditentukan berakhir sesuai dengan masa jabatannya karena
sewaktu-waktu kabinet dapat bubar.

3. Kabinet dapat mengendalikan parlemen. Hal itu terjadi


apabila para anggota kabinet adalah anggota parlemen dan berasal
dari partai meyoritas. Karena pengaruh mereka yang besar
diparlemen dan partai, anggota kabinet dapat mengusai parlemen.

23
4. Parlemen menjadi tempat kaderisasi bagi jabatan-jabatan
eksekutif. Pengalaman mereka menjadi anggota parlemen
dimanfaatkan dan manjadi bekal penting untuk menjadi menteri
atau jabatan eksekutif lainnya.

5. Kurangnya inisiatif pada bagian dari anggota parlemen

6. Ada kecenderungan untuk melayang ke arah


ketidakstabilan.

7. Pemerintahan Parlemen tidak memiliki kompetensi dan


efektifitas, karena para menteri kebanyakan amatir

2.12 SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA

1.) Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut Konstitusi RIS

Konsitusi RIS adalah sistem pemerintahan berdasarkan


sistem kabinet parlementer. Untuk melihat bukti-buktinya ialah
Pasal 1 Ayat (2), Konstitusi RIS dinyatakan bahwa kekuasaan
kedaulatan rakyat Indonesia Serikat dilakukan oleh pemerintah
bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat.
didalam menyelenggarakan pemerintahan RIS, menurut ketentuan
Pasal 118 Ayat (1) dinyatakan bahwa presiden tidak dapat diganggu
gugat, tetapi tanggung jawab kebijaksanaan pemerintah berada
ditangan menteri-menteri, baik secara bersama-sama untuk
seluruhnya maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-
sendiri. Tanggung jawab kebijaksanaan pemerintah berada
ditangan menteri. Apabila kebijaksanaan menteri / para menteri
ternyata tidak dapat dibenarkan oleh DPR, maka menteri atau
menteri-menteri itu harus mengundurkan diri atau DPR dapat
membubarkan para menteri (kabinet) tersebut dengan alasan mosi
tidak percaya. Sebaliknya, pemerintah dapatjuga membubarkan

24
DPR apabila pemerintah mengganggap DPR tidak menyuarakan
kehendak rakyat atau DPR sudah dianggap tidak representatif.
Salah satu ciri yang utama dari sistem ini ialah bahwa sekaligus
presiden merupakan unsur dari pemerintah, namun ia tidak dapat
diganggu gugat (pasal 118 konsultasi RIS ).

Sedangkan ciri-ciri yang lainnya adalah :

• Kabinet, yang dipimpin oleh Perdana Menteri bertanggung


jawab kepada Parlemen

• Susunan anggota dan program Kabinet didasarkan atas


suara terbanyak Parlemen

• Masa jabatan Kabinet tidak ditentukan dengan pasti lamanya

• Kabinet dapat dijatuhkan pada setiap waktu oleh Parlemen,


sebaiiknya pemerintah dapat membubarkan Parlemen. .

RIS menganutsistem perwakilan bicameral (dua kamar)


terdiri dari

1. Senat

Senat adalah perwakilan daerah-daerah. Setiap daerah-


daerah mempuyai dau anggota dalam senat, yang berhak
mengeluarkan masing-masing satu suara dalam senat (pasal 80
konstitusi RIS).

2. Dewan Perwakilan Rakyat,

DPR adalah perwakilan seiuruh rakyat Indonesia dan terdiri


dari 150 anggota yang terbagi atas dasar perundingan bersama.

Senat turut berwenang bersama-sama pemerintah dan DPR


dalam hal:

25
• Mengubah konstitusi RIS ( pasal 190 – 191 K – RIS )

• Penetapan undang-undang federal,yang menyangkut satu,


beberapa atau semua daerah-daerah atau bagian-bagiannya.

(pasal 127 huruf a dan 128 ayat (2) konstitusi RIS)

• Penetapan Undang-Undang federal untuk menetapkan


Anggaran Belanja RIS (Pasal 168 konstitusi RIS)

2.) Sistem Pemerintahan Indonesia menurut UUDS 1950

Sistem pemerintahan yang dianut oleh Undang-Undang


Sementara 1950 yang berlaku antara 17 Agustus 1950 sampai
dengan 5 Juli 1959 adalah parlementer. Hal ini dijelaskan dalam
pasal-pasal berikut:

a. Pasal 45 ayat1 UUDS 1950

“Presiden adalah kepala negara"

b. Pasal 83 ayat1 UUDS 1950

"Presiden dan Wakil Presiden tidak dapat diganggu gugat"

c. Pasal 83 ayat 2 UUDS 1950

"Menteri-menteri bertanggungjawab atas keseluruhan


kebijaksanaan pemerintah baik bersama-sama untukseluruhnya
maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri"

d. Pasal 84 UUDS 1950

“Presiden berhak membubarkan DPR keputusan presiden yang


menyatakan pembubaran itu memenntahkan pula untuk
mengadakan pemilihan DPR dalam 30 hari”

26
Namun sistem pemerintahan yang dianut UUDS 1950 tidak jauh
berbeda dengan yang dianut oleh Konstitusi RIS 1949 yantu sistem
parlementer semu (Quasi parlementer) Ketidakmurnian (semu)
parlementer pada masa UUDS 1950 ditandai dengan ciri ciri
sebagai berikut:

a. perdana menteri diangkat oleh presiden (seharusnya oleh


parlemen) (Pasal 51 ayat 2)

b. kekuasaan perdana menteri sebagai ketua dewan menteri


masih dicampur tangani oleh presiden (seharusnya presiden hanya
sebagai kepala negara dan kepala pemerintahannya adalah
perdana menteri) (Pasal 46 ayat 1)

c. pembentukan kabinet dilakukan oleh presaden dengan


menunjuk seseorang atau beberapa orang pembentuk kabinet
(lazimnya oleh parlemen) (Pasal 50 jo 51 ayat 1)

d. pengangkatan atau penghentian menteri menteri dan kabinet


dilakukan dengan keputusan presiden (|azimnya oleh parlemen)
(Pasal 51 ayat 5)

e. Presiden dan wakul presnden berkedudukan selam sebagai


kepala negara juga sebagai kepala pemerintahan (seharusnya
terpisah) (Pasal 45 jo 46 ayat 1)

3.) Sistem Pemerintahan menurut UUD 1945 sebelum


diamandemen:

Pokok-pokok sistem pemerintahan negara Indonesia


berdasarkan UUD 1945 sebelum diamandemen tertuang dalam
Penjelasan UUD 1945 tentang tujuh kunci pokok sistem
pemerintahan negara tersebut sebagai berikut :

27
1. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas
hukum (rechtsstaat).

2. Sistem Konstitusional.

3. Kekuasaan negara yang tertinggi di tangan Majelis


Permusyawaratan Rakyat.

4. Presiden adalah penyelenggara pemerintah negara


yang tertinggi dibawah Majelis Permusyawaratan Rakyat.

5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan


Perwakilan Rakyat.

6. Menteri negara ialah pembantu presiden, menteri


negara tidak bertanggungjawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

4.) Sistem pemerintahan Negara Indonesia Berdasarkan UUD


1945 Setelah Diamandemen

Sekarang ini sistem pemerintahan di Indonesia masih dalam


masa transisi. Sebelum diberlakukannya sistem pemerintahan baru
berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen keempat tahun 2002,
sistem pemerintahan Indonesia masih mendasarkan pada UUD
1945 dengan beberapa perubahan seiring dengan adanya transisi
menuju sistem pemerintahan yang baru. Sistem pemerintahan baru
diharapkan berjalan mulai tahun 2004 setelah dilakukannya Pemilu
2004.

Berdasarkan undang – undang dasar 1945 sistem pemerintahan


Negara Republik Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum, tidak


berdasarkan kekuasaan belaka.

28
2. Pemerintahan berdasarkan atas sistem konstitusi (hukum
dasar) tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas).

3. Kekuasaan Negara yang tertinggi berada di tangan majelis


permusyawaratan rakyat.

4. Presiden adalah penyelenggara pemerintah Negara yang


tertinggi dibawah MPR. Dalam menjalankan pemerintahan Negara
kekuasaan dan tanggung jawab adalah ditangan prsiden.

5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. Presiden


harus mendapat persetujuan dewan perwakilan rakyat dalam
membentuk undang – undang dan untuk menetapkan anggaran
dan belanja Negara.

6. Menteri Negara adalah pembantu presiden yang


mengangkat dan memberhentikan mentri Negara. Menteri Negara
tidak bertanggung jawab kepada DPR.

7. Kekuasaan kepala Negara tidak terbatas. presiden harus


memperhatikan dengan sungguh – sungguh usaha DPR.

2.13 PENGARUH SISTEM PEMERINTAHAN TERHADAP NEGARA

Sistem pemerintahan negara-negara didunia ini berbeda-


beda sesuai dengan keinginan dari negara yang bersangkutan dan
disesuaikan dengan keadaan bangsa dan negaranya.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, sistem pemerintahan
presidensial dan sistem pemerintahan parlementer merupakan dua
model sistem pemerintahan yang dijadikan acuan oleh banyak
negara. Amerika Serikat dan Inggris masing-masing dianggap
pelopor dari sistem pemerintahan presidensial dan sistem

29
pemerintahan parlementer. Dari dua model tersebut, kemudian
dicontoh oleh negara-negar lainnya.

Sistem pemerintahan suatu negara berguna bagi negara


lain. Salah satu kegunaan penting sistem pemerintahan adalah
sistem pemerintahan suatu negara menjadi dapat mengadakan
perbandingan oleh negara lain. Suatu negara dapat mengadakan
perbandingan sistem pemerintahan yang dijalankan dengan sistem
pemerintahan yang dilaksakan negara lain. Negara-negara dapat
mencari dan menemukan beberapa persamaan dan perbedaan
antarsistem pemerintahan. Tujuan selanjutnya adalah negara dapat
mengembangkan suatu sistem pemerintahan yang dianggap lebih
baik dari sebelumnya setelah melakukan perbandingan dengan
negara-negara lain. Mereka bisa pula mengadopsi sistem
pemerintahan negara lain sebagai sistem pemerintahan negara
yang bersangkutan.

Dengan demikian, sistem pemerintahan suatu negara dapat


dijadikan sebagai bahan perbandingan atau model yang dapat
diadopsi menjadi bagian dari sistem pemerintahan negara lain.
Amerika Serikat dan Inggris masing-masing telah mampu
membuktikan diri sebagai negara yang menganut sistem
pemerintahan presidensial dan parlementer seara ideal.

30
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Sistem pemerintahan negara menggambarkan adanya


lembaga-lembaga yang bekerja dan berjalan saling berhubungan
satu sama lain menuju tercapainya tujuan penyelenggaraan
negara. Lembaga-lembaga negara dalam suatu sistem politik
meliputi empat institusi pokok, yaitu eksekutif, birokratif, legislatif,
dan yudikatif. Selain itu, terdapat lembaga lain atau unsur lain
seperti parlemen, pemilu, dan dewan menteri.

Pembagian sistem pemerintahan negara secara modern


terbagi dua, yaitu presidensial dan ministerial (parlemen).
Pembagian sistem pemerintahan presidensial dan parlementer
didasarkan pada hubungan antara kekuasaan eksekutif dan
legislatif. Dalam sistem parlementer, badan eksekutif mendapat
pengwasan langsung dari legislatif. Sebaliknya, apabila badan
eksekutif berada diluar pengawasan legislatif maka sistem
pemerintahannya adalah presidensial. Dalam sistem pemerintahan
negara republik, lebaga-lembaga negara itu berjalan sesuai dengan
mekanisme demokratis, sedangkan dalam sistem pemerintahan
negara monarki, lembaga itu bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip
yang berbeda.

Sistem pemerintahan suatu negara berbeda dengan sistem


pemerintahan yang dijalankan di negara lain. Namun, terdapat juga
beberapa persamaan antar sistem pemerintahan negara itu.
Misalnya, dua negara memiliki sistem pemerintahan yang sama.

31
Perubahan pemerintah di negara terjadi pada masa genting, yaitu
saat perpindahan kekuasaan atau kepemimpinan dalam negara.

3.2 SARAN

Berdasarkan kesimpulan tersebut, makalah ini mempunyai


banyak kekurangan dan jauhnya dari kesempurnaan, oleh karena
itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah
penulis harapkan.

32