Anda di halaman 1dari 12

KROMATOGRAFI PIGMEN MATA

(Drosophila melanogaster)
LAPORAN PRAKTIKUM
disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Genetika yang diampu oleh
Dr. Suhara, M.Pd.
Dr. Hj. Diah Kusumawaty, M.Si.

oleh:
Biologi A 2015
Kelompok 7
Ajeng Dwi Pratiwi (1505291)
Dian Pratiwi Patma (1501130)
Fahira Salsabila (1501618)
Jembar Galih Ramiati (1500255)
Nila Melati Karimah (1506799)
Qoriatul Zannah (1504984)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2018
A. Judul
Kromatografi Pigmen Mata

B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Hari, Tanggal : Rabu, 16 Mei 2018
Waktu : 07.00-09.30 WIB
Tempat : Laboratorium Mikrobiologi FPMIPA UPI

C. Tujuan
1. Mengamati pemisahan pigmen-pigmen mata pada lalat buah Drosophila
melanogaster dengan menggunakan teknik kromatografi kertas.
2. Mengetahui komponen warna mata apa saja yang dimiliki oleh Drosophila
melanogaster.
3. Menghitung nilai Rf pada setiap pigmen yang diperoleh dari hasil
pengamatan
4. Membandingkan pigmen-pigmen yang terdapat pada mutan dengan
pigmen pada lalat yang normal.

D. Landasan Teori
Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan tertentu yang
menggunakan pemisahan dua fase, yaitu suatu fase tetap (stationary) dan
fase bergerak (mobile) (Sastrohamidjojo dalam Hastomo, 2008).
Pada fase mobil, suatu zat dialirkan menembus sepanjang fase stasioner
dan cenderung menghanyutkan komponen campuran. Sedangkan pada fase
stationer cenderung menahan komponen campuran. Fase stasioner dapat
berupa kertas saring atau gel, sedangkan fase bergeraknya merupakan eluen
yang terdiri dari campuran pelarut. Mekanisme pemisahan dengan
kromatografi kertas prinsipnya sama dengan mekanisme pada kromatografi
kolom. Adsorben dalam kromatografi kertas adalah kertas saring, yakni
selulosa. Sampel yang akan dianalisis ditotolkan ke ujung kertas yang
kemudian digantung dalam wadah. Kemudian dasar kertas saring dicelupkan
kedalam pelarut yang mengisi dasar wadah. Fase mobile (pelarut) dapat saja
beragam. Air, etanol, asam asetat atau campuran zat-zat ini dapat digunakan
(Purnamasari, 2010)

Gambar 1. Menunjukkan apa yang tampak setelah pelarut telah bergerak hampir
seluruhnya ke atas.
Harga Rf mengukur kecepatan bergeraknya zona realtif terhadap garis
depan pengembang. Kromatogram yang dihasilkan diuraikan dan zona-zona
dicirikan oleh nilai-nilai Rf. Nilai Rf didefinisikan oleh hubungan: jarak (cm )
dari garis

Jarak yang ditempuh oleh senyawa


Rf =
Jarak yang ditempuh oleh pelarut

Pengukuran dapat dilakukan dengan mengukur jarak dari titik


pemberangkatan yakni pusat zona campuran awal ke garis depan pengembang
dan pusat rapatan tiap zona. Nilai Rf harus sama baik pada descending
maupun ascending. Nilai Rf akan menunjukkan identitas suatu zat yang
dicari, contohnya asam amino dan intensitas zona itu dapat digunakan sebagai
ukuran konsentrasi dengan membandingkan dengan noda-noda standar.
Hasil yang diperoleh dari analisis menggunakan kromatografi kertas
adalah warna bercak dan nilai Rf untuk menduga jenis senyawa yang
terkandung dalam suatu sampel bahan. Nilai Rf didefinisikan sebagai
kecepatan suatu senyawa saat bermigrasi dalam proses kromatografi. Nilainya
dapat ditentukan dengan membagi jarak yang ditempuh suatu senyawa (jarak
titik awal ke suatu bercak) dengan jarak yang ditempuh oleh garis depan
pengembang (jarak titik awal ke garis akhir). Nilai Rf suatu senyawa spesifik,
sehingga dengan mengetahui nilai Rf serta dapat diketahui jenis senyawa
yang terkandung dalam suatu sampel (Jazilah dalam Pambudi et al, 2014).
T.H. Morgan menemukan karakter mata putih (white). Selanjutnya
Beadle dan Tatum menemukan jenis lain dari warna mata Drosophila.
Berbagai perubahan pada gen (mutasi) dapat mempengaruhi struktur, fungsi,
atau pengaturan protein yaitu enzim. Warna mata pada mutan berbeda
dibandingkan yang lainnya karena terdapat kecacatan/kerusakan satu atau
beberapa enzim yang dibutuhkan dalam jalur biokimia dalam sintesis pigmen.
Konsekuensinya, pigmen menjadi hilang atau terdapat pigmen berbeda yang
terakumulasi karena kerusakan pada jalur biosintesis pigmen tersebut. Ada
dua jenis pigmen mata Drososphila yaitu :
1. Drosopterin yang menyebabkan warna merah pada mata
2. Ommokrom yang menyebabkan warna coklat pada mata
Pigmen pteridin berfluorensi dalam cahaya UV. Jka terjadi mutasi pada
gen yan berperan dalam pembentukan pteridin, maka warna mata ditentukan
oleh kombinasi pteridin yang ada. Apabila drosopterin tidak ada, warna mata
menjadi coklat. Apabila ommokrom tidak ada, warna mata menjadi merah
terang (Kusumawaty, 2016)

E. Alat dan Bahan


Tabel 1. Alat yang digunakan Praktikum Kromatografi Pigmen Mata
No Nama Alat Jumlah
1 Mikroskop stereo 1 unit
2 Jarum 1 unit
3 Ketas saring 1 unit
4 Cawan petri 1 unit
5 Botol kultur 2 unit
6 Botol bius 1 unit
No Nama Alat Jumlah
7 Lampu ultraviolet (UV) 1 unit
8 Bejana kromatografi dengan tutup 1 unit
9 Pipet tetes 1 unit
10 Gunting 1 unit
11 Stepler 1 unit

Tabel 2. Bahan yang digunakan Praktikum Kromatografi Pigmen Mata


No Nama Bahan Jumlah
1 Kloroform 2 ml
3 Larutan NBA 2 ml
4 Vaselin 1 botol
5 Sediaan Drosophila normal 3 ekor
6 Sediaan mutan Drosophila tipe white eye 3 ekor
7 Sediaan mutan Drosophila tipe sepia 3 ekor

F. Langkah Kerja

Diambil organ mata dari


Kertas saring berukuran Dibuat tanda 0 memakai
setiap jenis lalat baik
16x16 cm diberi tanda pensil sebagai tanda
yang mutan maupun
seperti gambar garis pertama.
yang normal

Kertas digulung sehingga


diletakkan di titik 0 pada
berbentuk seperti Botol kromatografi
kertas lalu ditekan agar
gambar, kedua sisi kertas dimasukkan larutan NBA
pecah menggunakan
tidak boleh bertindihan sampai mencapai
ujung jarum pentul yang
kemudian kertas ketinggian 1 cm
bulat
distapler

bagian tutupnya diberi Biarkan proses


Kertas yang telah
vaselin agar tidak ada penyerapan zat warna
digulung dimasukkan ke
udara yang masuk saat berlangsung, hentikan
botol dengan posisi
proses kromatografi proses tersebut saat zat
tegak
berlangsung warna mencapai batas

Kertas yang telah kering


Kemudian kertas bisa diamati di bawah
diangkat dan sinar UV untuk melihat
dikeringkan di dalam panjang proyeksi pigmen
oven warna mata yang
terbentuk

Bagan 1. Langkah Kerja Penanaman bawang pada Praktikum Kromatografi


Pigmen Mata
G. Hasil Pengamatan
Tabel 3. Hasil Pengamatan Kromatografi Pigmen Mata
Jenis Jenis Jarak
Spesies RF Gambar
Warna Pigmen Pendaran

Merah

4,9/10,2
Normal Drosopterin 4,9 cm
= 0,48

Orange

Gambar 1. Hasil Kromatografi


(Dok. Kelompok 7A, 2018)
Coklat Omokrom
Merah 3,7/10,2
Sephia 3,7 cm
Drosopterin = 0,36
Orange

Yellow
- - - -
white

Gambar 2. Hasil Kromatografi


(Dok. Kelompok 7A, 2018)

H. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, kami melakukan pengamatan terhadap pigmen
mata pada lalat buah Drosophila melanogaster dengan cara kromatografi
kertas. Seperti yang kita ketahui bahwa lalat buah memiliki 2 jenis pigmen,
yaitu pigmen merah atau Pteridin dan pigmen cokelat atau Ommokrom.
Untuk itu, mata lalat buah Drosophila melanogaster wild type dan beberapa
mutan (White mutan dan Sepia mutan) dipisahkan dari kepala, ditekan, dan
ditempatkan pada kertas saring yang telah disiapkan. Setelah dimasukkan ke
dalam bejana Kromatografi yang menggunakan pelarut NBA (N-Butanol
Asetatglasial Akuades) kertas saring tersebut kemudian didiamkan selama 45
menit sampai larutan naik pada batas yang telah ditentukan yaitu 10,2 cm.
Kertas saring tersebut memperlihatkan pergerakan larutan NBA yang cepat
dibandingkan dengan pergerakan bahan yang akan dipisahkan yaitu
pergerakan warna pigmen mata. Pigmen mata tidak akan terlihat dengan mata
telanjang ataupun cahaya putih (lampu neon/lampu pijar) tetapi akan
mengalami perpijaran/fluoresensi dalam cahaya UV.
Berdasarkan hasil praktikum, setelah dilihat dengan mata telanjang
pada ketiga mata Drosophila yang diuji (wild type, mutan White, mutan
Sepia), hanya dua yang mengandung pigmen drosophterin atau orange, dan
yang paling banyak kandungan pigmen drosophterinnya yaitu pada mata
Drosophila wild type, sedang pada mata mutan Sepia, dan tidak ada pada
mata mutan White. Sedangkan setelah di fluoresensi menggunakan sinar UV,
didapatkan pigmen mata Drosophila wild type yaitu drosopterin/orange,
isoxanthopterin/violet blue, dan xanthopterin/green blue, tetapi kandungan
pigmen terbanyaknya adalah isoxanthopterin/violet blue. Pigmen mata
Drosophila mutan Sepia terdiri dari isoxanthopterin/ violet blue dan
xanthopterin/green blue, tetapi kandungan pigmen terbanyaknya adalah
xanthopterin/green blue. Sedangkan pada mata Drosophila mutan White
tidak ada pigmen mata yang muncul. Untuk jarak pigmen mata wild type
setelah di fluoresensi menggunakan sinar UV adalah 0,48 cm, jarak pigmen
pada mata mutan Sepia adalah 0,36 cm, dan jarak pigmen pada mata mutan
White adalah 0. Jadi, Rf (Rate of Fluoresensi) pada masing-masing mata lalat
Drosophila melanogaster wild type, mutan Sepia dan mutan White berturut-
turut adalah (0,48), (0,36), dan (0).
Pada mata lalat Drosophila melanogaster wild type, tidak terjadi mutasi
pada gen yang berperan dalam pembentukan pteridin sehingga warna mata
tergantung kepada kombinasi jenis pteridin yang ada, dalam mata wild type
tersebut tidak ada kelompok ommokrom sehingga warna mata akan menjadi
merah terang. Lalat Drosophila melanogaster mata sepia terjadi mutasi pada
gen yang berperan dalam pembentukan atau sintesis pteridin/drosopterin yaitu
pada saat perubahan dihidrobiopterin menjadi sepiapterin sehingga
sepiapterin tidak diubah menjadi xanthopterin. Sedang kan pada sintesis
Ommokrom tetap terjadi sehingga warna cokelat lebih mendominasi
dibandingkan dengan warna merah. Dengan kata lain, mata pada mutan sepia
adalah cokelat. Sedangkan pada mata mutan White memiliki warna putih
jernih. Pada mata White nilai Rf adalah 0 dan hal ini sesuai dengan teori.
Pada mutan tipe White ini terjadi mutasi pada kedua sintesis pigmen yaitu
mutasi yang menyebabkan hilangnya kelompok ommokrom dan kelompok
pteridin/drosopterin sehingga pembentukan warna pigmen mata tidak terjadi.

I. JAWABAN PERTANYAAN
1. Apakah yang disebut fluoresensi? Jelaskan proses fluoresensi yang terjadi.
Jawab :
Suatu zat yang berinteraksi dengan radiasi, setelah mengabsorpsi radiasi
tersebut, bisa mengemisikan radiasi dengan panjang gelombang yang
umumnya lebih besar daripada panjang gelombang radiasi yang diserap
peristiwa tersebut dinamakan fluoresensi. Peristiwa fluororesensi
merupakan peristiwa pemantulan warna/ berpendarnya warna yang
tersembunyi karena absorbsi cahaya tertentu yang diberikan secara
disengaja. Peristiwa ini biasanya terjadi terhadap senyawa-senyawa
tertentu yang mempunyai sifat memendarkan cahaya. Dalam hal ini
digunakan sinar UV karena pigmen mata pada lalat buah (Drosophila
melanogaster) tidak bisa terlihat menggunakan cahaya putih (lampu neon).
Oleh sebab itu digunakan sinar UV, dimana sinar UV bersifat
memendarkan cahaya pada pigmen mata. Setelah kromatogram pada
kertas disinari dengan sinar ultraviolet (UV) masing-masing komponen
pigmen mata yang merupakan senyawa pteridin akan mengabsorbsi cahaya
ultraviolet dengan panjang gelombang tertentu dan memendarkan warna
yang lebih kontras sesuai dengan warna asli senyawa tersebut. Cara
pemisahan komponen-komponen kimiawi yang ada dalam jaringan
tersebut menggunakan prinsip interaksi molekul yang berbeda melalui
medium stasioner (fase diam) di bawah pengaruh fase gerak. Cara
pemisahan tersebut berdasarkan kecepatan migrasi tiap-tiap komponennya
melalui medium stasioner (fase diam) di bawah pengaruh fase gerak
(mobile). Aliran (gerakan) fase gerak tersebut menyebabkan perbedaan
migrasi campuran, sehingga warna dapat terpisahkan.
2. Hitunglah nilai Rf dari setiap pigmen yang tampak.
Jawab :
Nilai Rf (rate of flow) dari masing-masing pigmen mata :
a. Warna mata : Normal (++) / merah tua
Komponen warna yang memisah : merah dan orange
Panjang pendaran = cm
Nilai Rf = a’ / a = x = cm
b. Warna mata : Cloth (Cl) / merah terang
Komponen warna yang memisah : merah dan orange
Panjang pendaran = cm
Nilai Rf = a’ / a = x/x= cm
c. Warna mata : Sepia (Se) / merah kecoklatan/ keunguan
Komponen warna yang memisah : coklat, merah, dan orange
Panjang pendaran = cm
Nilai Rf hitam keunguan = a’ / a = x/x= cm
d. Warna mata : White (w) / putih pucat
Komponen warna yang memisah : kuning
Panjang pendaran = cm
Nilai Rf = a’ / a = x/x = cm
3. Apakah tujuan dari praktikum ini?
Jawab :
a. Mengamati pemurnian/ pemisahan pigmen-pigmen mata pada lalat
buah Drosophla melanogaster dengan menggunakan teknik
kromatografi kertas.
b. Mengetahui komponen warna mata apa saja yang dimiliki oleh
Drosophila melanogaster
c. Menghitung nilai Rf pada setiap pigmen yang diperoleh dari hasil
pengamatan,
d. Menyimpulkan berdasarkan hasil kromatografi tersebut pigmenpigmen
yang termasuk ke dalam drosopterin dan kelompok ommokrom.
e. Membandingkan pigmen-pigmen yang terdapat pada mutan dengan
pigmen pada lalat yang normal
J. SIMPULAN
1. Pigmen-pigmen mata yang terkandung dalam Drosophila melanogaster
tipe normal setelah dilihat menggunakan sinar UV, yakni drosopterin,
isoxantopterin, dan xanthopterin.
2. Nilai Rf pada praktikum ini sebagai berikut.
a. Warna mata : Wild (++) / merah  Nilai Rf = 4,9/10,2 = 0,48 cm
b. Warna mata : Sepia (Se) / kecoklatan  Nilai Rf = 5,1/10,2 = 0,5 cm
c. Warna mata : White (w) / putih pucat  Nilai Rf = 0/10,2= 0 cm
3. Drosophila memiliki 2 jenis pigmen, yaitu pigmen merah atau Pteridin
dan pigmen cokelat atau Ommokrom.
a. Tipe normal tidak ada kelompok ommokrom sehingga warna mata
akan menjadi merah. Pada pengamatan mendominasi pigmen
drosopterin dan isoxantopterin.
b. Mutan sepia terjadi sintesis Ommokrom sehingga warna mata
kecokelatan lebih mendominasi. Pada pengamatan mendominasi
pigmen xanthopterin.
c. Mutan white terjadi mutasi pada kedua sintesis pigmen kelompok
ommokrom dan kelompok pteridin sehingga pembentukan warna
pigmen mata tidak terjadi.
DAFTAR PUSTAKA

Surya.2008. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press


Hastomo, A. (2008). Analisis Rhodamin B dan Metanil Yellow dalam Jelly di
Pasar Kecamatan Jebres Kotamadya Surakarta dengan Metode
Kromatografi Lapis Tipis. (Skripsi). Fakultas Farmasi, Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Kusumawaty, D. (2016). Pedoman Praktikum Genetika. Bandung: UPI.
Pambudi, et al. (2014). “Identifikasi Bioaktif Golongan Flavonoid Tanaman
Anting-Anting (Acalypha indica L.)”. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri
Sains dan Teknologi, 2(3), hlm. 178-187.
Purnamasari, L. (2010). Analisa Zat Pewarna pada Minuman Ringan Blackberry
dengan Metode Kromatografi Kertas. (Skripsi). Program Studi D III
Kimia Analis Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Sumatera Utara
CEK PLAGIARISME