Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PENDAHULUAN

ASMATIKUS

A. Konsep Penyakit
1. Definisi
Asma didefinisikan sebagai penyakit inflamasi kronis jalan napas
yang ditandai dengan hiper-responsivitas jalan napas terhadap berbagai
rangsangan. Asma dimanifestasikan sebagai obstruksi jalan napas yang
bervariasi yang sembuh secara spontan atau setelah pemberian
bronkodilator (Hudak & Gallo, 2011).
Asma adalah kondisi peradangan saluran pernapasan yang kronis.
Inflamasi saluran pernapasan menyebabkan penyempitan saluran udara
akibat peningkatan usaha untuk memperoleh oksigen sampai level
alveolus (Terry & Weaver, 2011).
Status asmatikus merupkan serangan asma refraktori akut yang
tidak berespons terhadap terapi senyawa β₂-adrenergik atau teofilin
intravena (Guyton & Hall, 2016).
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa asma
merupakan suatu penyakit saluran pernapasan yang diakibatkan oleh
reaksi Inflamasi yang menyebabkan penyempitan pada saluran napas
sehingga dapat mengakibatkan kesukaran bernapas yang hebat.

2. Etiologi
Menurut Clark (2013), faktor-faktor penyebab dan pencetus asma
antara lain:
a. Jamur indoor/sick building syndrome
Data yang ada menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jamur
indoor dan penyakit pernapasan alergik. Terminology sick building
syndrome telah digunakan untuk berbagai macam penyakit yang
berhubungan dengan lingkungan internal. Hal ini sering diperberat
dengan adanya lingkungan yang lembab dan pertumbuhan jamur.
b. Radon
Merupakan gas radioaktif alami penyebab kanker yang dapat
ditemukan ditanah, air dan udara, baik didalam maupun diluar
ruangan. Diperkirakan lebih dari 50% dosis efektif radioaktif alami
setiap tahunnya disebabkan oleh paparan radon.
c. Binatang/Hewan peliharaan
Bintang melepaskan protein ke lingkungan sekitar melalui cairan
tubuhnya seperti saliva dan dander. Dander dapat didefinisikan
sebagai bahan organik atau protein dari tubuh hewan atau dapat juga
disebut sebagai serbuk hewan. Pada sebagian besar pasien alergi,
dender tidak membuat iritasi. Meskipun demikian, dander dapat
menjadi makanan untuk tungau debu untuk mengiritasi banyak pasien
asma. Allergen juga dapat dijumpai pada urin hewan pengerat liar atau
peliharaan. Pada akhirnya semua hewan termasuk manusia dapat
menghasilkan makanan yang cukup untuk tungau debu organic dan
memberikan kesempatan bagi pertumbuhan bakteri di rumah.
d. Tungau debu rumah
Tungau debu tidak bisa dihindari meskipun meminimalisai
pengaruh yang ditimbulkannya bisa dilakukan. Bantal dan matras
dapat dibungkus dengan pembungkus alergen plastik. Linen tempat
tidur harus dicuci secara rutin dengan air panas. Bantal, boneka dan
mainan juga dapat dicuci dengan cara biasa secara rutin. Deterjen dan
pemutih dapat juga berperan dalam mengurangi alergen tungau debu
pada proses pencucian.
e. Kecoa
Data menunjukan bahwa membasmi dan menghindari alergen
kecoa memiliki aspek yang positif pada asma. Makanan dan sampah
didalam rumah tidak boleh dibiarkan dalam keadaan terbuka. Racun,
seperti yang digunakan sebagai umpan kecoa dan alat semprot,
merupakan alat yang efektif dalam mengendalikan populasi kecoa,
tetapi dapat menimbulkan iritasi bagi pasien asma.

f. Serbuk sari
Serbuk sari saat musim serbuk sari bersifat iritatif pada banyak
pasien asma. Pemamtauan ketat pada rencana terapi masing-masing
individu dengan asma saat musim serbuk sari harus dilakukan dan
dilakukan penyesuaian terhadap obat-obatan yang diberikan agar
asmanya dapat terkontrol dengan baik.
g. Polusi udara dan gas buangan kendaraan
Banyak studi menunjukan bahwa peningkatan zat-zat tertentu dari
gas buangan kendaraan memberikan efek negative pada pasien asma.
Dipercaya bahwa pada pasien asma terjadi peningkatan stress
oksidatif saluran napas dan penurunan fungsi saluran napas pada
pasien asma ketika terpajar dengan polusi udara.
h. Asap rokok
Pasien asma, terutama anak-anak, harus menghindari asap rokok.
Asap rokok dapat mencetuskan serangan asma. Yang menarik, data
menunjukan efek yang bervariasi menurut usia. Efek merokok pasif
telah terbukti lebih berat dalam mencetuskan serangan asma pada
seorang anak bila yang merokok adalah ibunya daripada orang lain di
sekitar mereka. Selain itu, beberapa studi menunjukan bahwa ibu yang
perokok dapat meningkatkan resiko timbulnya asma saat masi bayi
dan kanak-kanak. Pasien asma dan keluraganya harus diberikan
edukasi untuk selalu menghindari asap rokok dan lingkungan yang
penuh asap rokok.
i. Gas iritan
Pajaran terhadap zat kimia seperti komponen formaldehida dan
senyawa organic Volatil (SOV) dapat mengiritasi saluran pernapasan
pasien asma dan mencetuskan serangan asma. Gas-gas SOV
dihasilkan dari berbagai macam sumber seperti produk rumah tangga,
seperti: cat, pelarut cat dan pelarut lainnya, pembersih dan
desinfektan, repelen serangga dan pengharum ruangan. Zat-zat kimia
yang dilepaskan ke udara oleh linolium yang dilepaskan dari proses
pembuatan kramik lantai, karpet, kertas lapis dinding, mebel dan
lukisan yang baru dapat meningkatkan resiko serangan pada pasien
asma. Pasien asma dan keluarganya harus diedukasi untuk
menghindari bau dari zat-zat tersebut.

National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP)


menyatakan bahwa faktor – faktor penyebab dan pencetus asma antara
lain (Hudak & Gallo, 2011):
a. Infeksi pernapasan oleh virus
b. Alergen lingkungan (debu, tungau dalam rumah tangga, asap rokok,
hewan berbulu, kecoa, serbuk sari dan jamur di dalam ruangan dan di
luar ruangan, parfum, kompor serta kayu bakar).
c. Olahraga, suhu, kelembapan.
d. Alergen atau iritan okupasional dan rekreasional.
e. Obat (aspirin, obat anti-inflamasi nonsteroid, dan penyekat beta).
f. Penyekat (sulfit).
g. Emosi.

3. Klasifikasi Asma
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan
menjadi 4 tipe, yaitu (Musliha, 2012; Muttaqin, 2010) :
a. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-
faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu
binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma
ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi
genetik terhadap alergi.
b. Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi
terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui,
seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya
infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi
lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat
berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema.
c. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai
karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik.
d. Status Asmatikus
Status asmatikus merupkan serangan asma refraktori akut yang
tidak berespons terhadap terapi senyawa β₂-adrenergik atau teofilin
intravena. Gambaran klinis dari status asmatikus yaitu adanya
ansietas akut, kesulitan bernafas secara nyata, takikardi, dan
diaforesis. Deteriorasi fungsi paru menyebabkan hipoventilasi
alveolar yang kemudian terjadi hipoksemia, hiperkapnia, dan
asidemia. Peningkatan PacO₂ pada pasien yang mengalami serangan
asma akut sering kali merupakan indikasi objektif pertama status
asmatikus (Hudak & Gallo, 2011; Musliha 2012).
Tabel 2.1
Tingkat Keparahan Asma
Derajat Gejala Gejala Malam Fungsi Paru
Hari
Intermiten Ringan 1. Gejala ≤ 2 kali seminggu ≤ 2 kali seminggu 1. FEV atau PEF ≥ 80 %
2. Asimtomatik dan PEF normal yang diprediksi
diantara eksaserbasi 2. Variabilitas PEF ≤ 20
3. Eksaserbasi singkat (beberapa %
jam sampai beberapa hari),
intensitas dapat bervariasi
Persisten Ringan 1. Gejala > 2 kali seminggu, > 2 kali sebulan FEV atau PEF > 80 %
namun < 1 kali sehari diprediksi
2. Eksaserbasi dapat
mempengaruhi aktivitas
Persisten Sedang 1. Gejala setiap hari > 1 kali seminggu 1. FEV atau PEF > 60 %
2. Penggunaan harian inhalasi sampai < 80 % yang
agonis beta2 kerja singkat diprediksi
3. Eksaserbasi mempengaruhi 2. Variabititas PEF > 30 %
aktivitas
4. Eksaserbasi ≥ 2 kali seminggu,
dapat berlangsung beberapa hari
Persisten Berat 1. Gejala berkelanjutan Sering 1. FEV atau PEF ≤ 60 %
2. Aktivitas fisik terbatas yang diprediksi
3. Eksaserbasi sering 2. Variabilitas PEF > 30 %
(Sumber: Hudak & Gallo, 2011)
Tabel 2.2
Klasifikasi Keparahan Eksaserbasi Asma
Ringan Sedang Berat Gagal Napas Yang
Mungkin Terjadi
Gejala
1. Dispnea 1. Saat Beraktivitas 1. Saat berbicara 1. Pada saat istirahat 1. Saat istirahat
2. Bicara 2. Dalam Kalimat 2. Dalam frasa 2. Dalam kata-kata 2. Diam
Tanda
1. Posisi tubuh 1. Mampu berbaring 1. Lebih suka 1. Tidak mampu 1. Tidak mampu
duduk berbaring berbaring
2. Frekuensi 2. Meningkat 2. Meningkat 2. Sering kali >30 2. > 30 x/menit
Pernapasan x/menit
3. Penggunaan 3. Biasanya tidak ada 3. Umumnya ada 3. Biasanya ada 3. Gerakan
otot bantu torakoabdominal
pernapasan paradoksikal
4. Suara napas 4. Mengi sedang pada 4. Mengi keras 4. Mengi keras saat 4. Gerakan udara
pertengahan selama ekspirasi dan sedikit tanpa
sampai akhir ekspirasi inspirasi mengi
respirasi
5. Frekuensi 5. < 100 5. 100-120 5. > 120 5. Bradikardia
jantung relatif
(x/menit)
6. Pulsus 6. < 10 6. 10-25 6. Sering > 25 6. Sering kali tidak
paradoksus ada
(mmHg)
7. Status 7. Mungkin agitasi 7. Biasanya 7. Biasanya agitasi 7. Bingung atau
mental agitasi mengantuk
Pengkajian
Fungsional
1. PEF (% 1. > 80 1. 50 – 80 1. < 50 atau respon 1. < 50
yang terhadap terapi
diprediksi berlangsung < 2
atau terbaik jam
secara
personal)
2. SaO2 (%, 2. > 95 2. 91 – 95 2. < 91 2. < 91
udara
ruangan)
3. PaO2 (mm 3. Normal 3. > 60 3. < 60 3. < 60
Hg, udara
ruangan)
4. PaCO2 (mm 4. < 42 4. < 42 4. ≥ 42 4. ≥ 42
Hg)
(Sumber: Hudak & Gallo, 2011)
4. Anatomi Fisiologi
a. Anatomi fisiologi sistem pernapasan

Gambar 2.1 Anatomi Sistem Pernapasan


(Sumber: Guyton & Hall, 2016)

Bronkhial Normal Asma Bronkhial

Gambar 2.2 Anatomi keadaan normal dan Asma Bronkhial

(Sumber: Guyton & Hall, 2016)


1) Organ pernapasan
a) Hidung
Hidung atau naso atau nasal merupakan saluran udara
yang pertama, mempunyai dua lubang (kavum nasi),
dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Di dalamnya
terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara,
debu, dan kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung
(Guyton & Hall, 2016).
b) Faring
Faring atau tekak merupakan tempat persimpangan
antara jalan pernapasan dan jalan makanan, terdapat di bawah
dasar tengkorak, di belakang rongga hidung, dan mulut
sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan faring dengan
organ-organ lain adalah ke atas berhubungan dengan rongga
hidung, dengan perantaraan lubang yang bernama koana, ke
depan berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan
ini bernama istmus fausium, ke bawah terdapat 2 lubang (ke
depan lubang laring dan ke belakang lubang esofagus) (Potter
& Perry, 2009; Guyton & Hall, 2016).
c) Laring
Laring atau pangkal tenggorokan merupakan saluran
udara dan bertindak sebagai pembentukan suara, terletak di
depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikal dan
masuk ke dalam trakhea di bawahnya. Pangkal tenggorokan
itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorokan yang
biasanya disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang - tulang
rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan
menutupi laring (Muttaqin, 2010; Guyton & Hall, 2016).
d) Trakea
Trakea atau batang tenggorokan merupakan lanjutan
dari laring yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin yang
terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku
kuda (huruf C) sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir
yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, hanya bergerak
ke arah luar. Panjang trakea 9 sampai 11 cm dan di belakang
terdiri dari jarigan ikat yang dilapisi oleh otot polos (Guyton
& Hall, 2016).
e) Bronkus
Bronkus atau cabang tenggorokan merupakan lanjutan
dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian
vertebra torakalis IV dan V, mempunyai struktur serupa
dengan trakea dan dilapisi oleh jenis set yang sama. Bronkus
itu berjalan ke bawah dan ke samping ke arah tampuk paru-
paru. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada
bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang.
Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang
kanan, terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang. Bronkus
bercabang-cabang, cabang yang lebih kecil disebut
bronkiolus (bronkioli). Pada bronkioli tidak terdapat cincin
lagi, dan pada ujung bronkioli terdapat gelembung paru atau
gelembung hawa atau alveoli (Syaifuddin, 2013; Guyton &
Hall, 2016).
f) Paru-paru
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian
besar terdiri dari gelembung (gelembung hawa atau alveoli).
Gelembug alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel.
Jika dibentangkan luas permukaannya kurang lebih 90 m².

Pada lapisan ini terjadi pertukaran udara, O2 masuk ke dalam

darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Banyaknya

gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah


(paru-paru kiri dan kanan) (Hudak & Gallo, 2011; Guyton &
Hall, 2016).
Paru-paru dibagi dua yaitu paru-paru kanan, terdiri dari
3 lobus (belahan paru), lobus pulmo dekstra superior, lobus
media, dan lobus inferior. Tiap lobus tersusun oleh lobulus.
Paru-paru kiri, terdiri dari pulmo sinistra lobus superior dan
lobus inferior. Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan yang kecil
bernama segmen. Paru-paru kiri mempunyai 10 segmen yaitu
5 buah segmen pada lobus superior, dan 5 buah segmen pada
inferior. Paru-paru kanan mempunyai 10 segmen yaitu 5 buah
segmen pada lobus superior, 2 buah segmen pada lobus
medialis, dan 3 buah segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap
segmen ini masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang
bernama lobulus (Terry & Weaver, 2011; Padila, 2013;
Guyton & Hall, 2016).
Di antara lobulus satu dengan yang lainnya dibatasi
oleh jaringan ikat yang berisi pembuluh darah getah bening
dan saraf, dan tiap lobulus terdapat sebuah bronkiolus. Di
dalam lobulus, bronkiolus ini bercabang-cabang banyak
sekali, cabang ini disebut duktus alveolus. Tiap duktus
alveolus berakhir pada alveolus yang diameternya antara 0,2-
0,3 mm (Guyton & Hall, 2016).
Letak paru-paru di rongga dada datarannya menghadap
ke tengah rongga dada atau kavum mediastinum. Pada bagian
tengah terdapat tampuk paru-paru atau hilus. Pada
mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus
oleh selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi 2
yaitu, yang pertama pleura visceral (selaput dada
pembungkus) yaitu selaput paru yang langsung membungkus
paru-paru. Kedua pleura parietal yaitu selaput yang melapisi
rongga dada sebelah luar. Antara keadaan normal, kavum
pleura ini vakum (hampa) sehingga paru-paru dapat
berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat)
yang berguna untuk meminyaki permukaanya (pleura),
menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada
sewaktu ada gerakan bernapas (Hudak & Gallo, 2011; Terry
& Weaver, 2011; Padila, 2013).

2) Proses terjadi pernapasan

Gambar 2.3 Proses Pernapasan

Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara


dari luar yang mengandung oksigen serta menghembuskan udara
yang banyak mengandung karbondioksida sebagai sisa dari
oksidasi keluar dari tubuh. Penghisapan udara ini disebut inspirasi
dan menghembuskan disebut ekspirasi. Jadi, dalam paru-paru
terjadi pertukaran zat antara oksigen yang ditarik dan udara

masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah secara

osmosis. Kemudian CO2 dikeluarkan melalui traktus respiratorius

(jalan pernapasan) dan masuk kedalam tubuh melalui kapiler-


kapiler vena pulmonalis kemudian massuk ke serambi kiri jantung
(atrium sinistra) menuju ke aorta kemudian ke seluruh tubuh
(jaringan-jaringan dan sel-sel), di sini terjadi oksidasi

(pembakaran). Sebagai sisa dari pembakaran adalah CO2 dan

dikeluarkan melalui peredaran darah vena masuk ke jantung


(serambi kanan atau atrium dekstra) menuju ke bilik kanan (ventrikel
dekstra) dan dari sini keluar melalui arteri pulmonalis ke jaringan
paru-paru. Akhirnya dikeluarkan menembus lapisan epitel dari

alveoli. Proses pengeluaran CO2 ini adalah sebagian dari sisa

metabolisme, sedangkan sisa dari metabolisme lainnya akan


dikeluarkan melalui traktus urogenitalis dan kulit (Smeltzer &
Bare, 2010; Guyton & Hall, 2016).

Setelah udara dari luar diproses, di dalam hidung masih


terjadi perjalanan panjang menuju paru-paru (sampai alveoli).
Pada laring terdapat epiglotis yang berguna untuk menutup laring
sewaktu menelan, sehingga makanan tidak masuk ke trakhea,
sedangkan waktu bernapas epiglotis terbuka, begitu seterusnya.
Jika makanan masuk ke dalam laring, maka akan mendapat
serangan batuk, hal tersebut untuk mencoba mengeluarkan
makanan tersebt dari laring (Purnami, 2015).

Terbagi dalam 2 bagian yaitu inspirasi (menarik napas)


dan ekspirasi (menghembuskan napas). Bernapas berarti
melakukan inpirasi dan eskpirasi secara bergantian, teratur,
berirama, dan terus menerus. Bernapas merupakan gerak refleks
yang terjadi pada otot-otot pernapasan. Refleks bernapas ini diatur
oleh pusat pernapasan yang terletak di dalam sumsum
penyambung (medulla oblongata). Oleh karena seseorang dapat
menahan, memperlambat, atau mempercepat napasnya, ini berarti
bahwa refleks bernapas juga dibawah pengaruh korteks serebri.

Pusat pernapasan sangat peka terhadap kelebihan kadar CO2

dalam darah dan kekurangan dalam darah. Inspirai terjadi bila


muskulus diafragma telah mendapat rangsangan dari nervus
frenikus lalu mengerut datar (Smeltzer & Bare, 2010).

Muskulus interkostalis yang letaknya miring, setelah


,mendapat rangsangan kemudian mengerut dan tulang iga (kosta)
menjadi datar. Dengan demikian jarak antara sternum (tulang
dada) dan vertebra semakin luas dan melebar. Rongga dada
membesar maka pleura akan tertarik, yang menarik paru-paru
sehingga tekanan udara di dalamnya berkurang dan masuklah
udara dari luar (Guyton & Hall, 2016).

Ekspirasi, pada suatu saat otot-otot akan kendor lagi


(diafragma akan menjadi cekung, muskulus interkostalis miring
lagi) dan dengan demikian rongga dan dengan demikian rongga
dada menjadi kecil kembali, maka udara didorong keluar. Jadi
proses respirasi atau pernapasan ini terjadi karena adanya
perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru.
Pernapasan dada, pada waktu seseorang bernapas, rangka dada
terbesar bergerak, pernapasan ini dinamakan pernapasan dada. Ini
terdapat pada rangka dada yang lunak, yaitu pada orang-orang
muda dan pada perempuan (Hudak & Gallo, 2011).

Pernapasan perut, jika pada waktu bernapas diafragma


turun naik, maka ini dinamakan pernapasan perut. Kebanyakan
pada orang tua, Karena tulang rawannya tidak begitu lembek dan
bingkas lagi yang disebabkan oleh banyak zat kapur yang
mengendap di dalamnya dan banyak ditemukan pada laki-laki
(Natik, 2014).

b. Fisiologi sistem pernapasan


Oksigen dalam tubuh dapat diatur menurut keperluan. Manusia
sangat membutukan okigen dalam hidupnya, kalau tidak mendapatkan
oksigen selama 4 menit akan mengakibatkan kerusakan pada otak
yang tidak dapat diperbaiki lagidan bisa menimbulkan kematian.
Kalau penyediaan oksigen berkurang akan menimbulkan kacau
pikiran dan anoksia serebralis (Terry & Weaver, 2011).
1) Pernapaan paru
Pernapasan paru adalah pertukaran oksigen dan karbondioksida
yang terjadi pada paru-paru. Pernapasan melalui paru-paru atau
pernapasan eksterna, oksigen diambil melalui mulut dan hidung
pada waktu bernapas yang oksigen masuk melalui trakea sampai
ke alveoli berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonar.
Alveoli memisahkan okigen dari darah, oksigen menembus
membran, diambil oleh sel darah merah dibawa ke jantung dan
dari jantung dipompakan ke seluruh tubuh. Di dalam paru-paru
karbondioksida merupakan hasil buangan yang menembus
membran alveoli. Dari kapiler darah dikeluarkan melalui pipa
bronkus berakhir sampai pada mulut dan hidung. Empat proses
yang berhubungan dengan pernapasan pulmoner (Musliha, 2012;
Muttaqin, 2010):

a) Ventilasi pulmoner, gerakan pernapasan yang menukar udara


dalam alveoli dengan udara luar.
b) Arus darah melalui paru-paru, darah mengandung oksigen
masuk ke seluruh tubuh, karbondioksida dari seluruh tubuh
masuk ke paru-paru.
c) Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian rupa dengan
jumlah yang tepat, yang bisa dicapai untuk semua bagian.
d) Difusi gas yang menembus membran alveoli dan kapiler,
karbondioksida lebih mudah berdifusi dari pada oksigen.
Proses pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi
ketika konsentrasi dalam darah mempengaruhi dan merangsang
pusat pernapasan terdapat dalam otak untuk memperbesar

kecepatan dalam pernapasan, sehingga terjadi pengambilan O2

dan pengeluaran CO2 lebih banyak. Darah merah (hemoglobin)

yang banyak mengandunng oksigen dari seluruh tubuh masuk ke


dalam jaringan, mengambil karbondioksida untuk dibawa ke paru-
paru dan di paru-paru terjadi pernapasan eksterna (Andra, 2013).
2) Pernapasan Sel
a) Transpor gas paru-paru dan jaringan
Selisih tekanan parsial antara O2 dan CO2 menekankan

bahwa kunci dari pergerakangas O2 mengalir dari alveoli

masuk ke dalam jaringan melalui darah, sedangkan CO2

mengalir dari jaringan ke alveoli melalui pembuluh


darah.Akan tetapi jumlah kedua gas yang ditranspor ke
jaringan dan dari jaringan secara keseluruhan tidak cukup bila

O2 tidak larut dalam darah dan bergabung dengan protein

membawa O2 (hemoglobin). Demikian juga CO2 yang larut

masuk ke dalam serangkaian reaksi kimia reversibel


(rangkaian perubahan udara) yang mengubah menjadi senyawa
lain. Adanya hemoglobin menaikkan kapasitas pengangkutan

O2 dalam darah sampai 70 kali dan reaksi CO2 menaikkan

kadar CO2 dalam darah mnjadi 17 kali (Sholeh, 2012).

b) Pengangkutan oksigen ke jaringan


Sistem pengangkutan O2 dalam tubuh terdiri dari paru-
paru dan sistem kardiovaskuler. Oksigen masuk ke jaringan
bergantung pada jumlahnya yang masuk ke dalam paru-paru,
pertukaran gas yang cukup pada paru-paru, aliran darah ke
jaringan dan kapasitas pengangkutan O2 dalam darah.Aliran
darah bergantung pada derajat konsentrasi dalam jaringan dan
curah jantung. Jumlah O2 dalam darah ditentukan oleh jumlah
O2 yang larut, hemoglobin, dan afinitas (daya tarik)
hemoglobin (Yunus, 2009).
Transpor oksigen melalui beberapa tahap yaitu :
(1) Tahap I : oksigen atmosfer masuk ke dalam paru-paru.
Pada waktu kita menarik napas tekanan parsial oksigen
dalam atmosfer 159 mmHg. Dalam alveoli komposisi
udara berbeda dengan komposisi udara atmosfer tekanan
parsial O2 dalam alveoli 105 mmHg ((Yunus, 2009).

(2) Tahap II : darah mengalir dari jantung, menuju ke paru-


paru untuk mengambil oksigen yang berada dalam alveoli.
Dalam darah ini terdapat oksigen dengan tekanan parsial
40 mmHg. Karena adanya perbedaan tekanan parsial itu
apabila tiba pada pembuluh kapiler yang berhubungan
dengan membran alveoli maka oksigen yang berada dalam
alveoli dapat berdifusi masuk ke dalam pembuluh kapiler.
Setelah terjadi proses difusi tekanan parsial oksigen dalam
pembuluh menjadi 100 mmHg (Yunus, 2009; Hudak &
Gallo, 2011).
(3) Tahap III : oksigen yang telah berada dalam pembuluh
darah diedarkan keseluruh tubuh. Ada dua mekanisme
peredaran oksigen dalam darah yaitu oksigen yang larut
dalam plasma darah yang merupakan bagian terbesar dan
sebagian kecil oksigen yang terikat pada hemoglobin

dalam darah. Derajat kejenuhan hemoglobin dengan O2

bergantung pada tekanan parsial CO2 atau pH. Jumlah O2

yang diangkut ke jaringan bergantung pada jumlah


hemoglobin dalam darah (Yunus, 2009; Puspita, 2015).
(4) Tahap IV : sebelum sampai pada sel yang membutuhkan,
oksigen dibawa melalui cairan interstisial lebih dahulu.
Tekanan parsial oksigen dalam cairan interstisial 20
mmHg. Perbedaan tekanan oksigen dalam pembuluh darah
arteri (100 mmHg) dengan tekanan parsial oksigen dalam
cairan interstisial (20 mmHg) menyebabkan terjadinya
difusi oksigen yang cepat dari pembuluh kapiler ke dalam
cairan interstisial (Hudak & Gallo, 2011).
(5) Tahap V : tekanan parsial oksigen dalam sel kira-kira
antara 0-20 mmHg. Oksigen dari cairan interstisial
berdifusi masuk ke dalam sel. Dalam sel oksigen ini
digunakan untuk reaksi metabolism yaitu reaksi oksidasi
senyawa yang berasal dari makanan (karbohidrat, lemak,

dan protein) menghasilkan H2O, CO2 dan energi (Terry &

Waever, 2011).
c) Reaksi hemoglobin dan oksigen
Dinamika reaksi hemoglobin sangat cocok untuk

mengangkut O2.Hemoglobin adalaah protein yang terikat

pada rantai polipeptida, dibentuk porfirin dan satu atom besi


ferro. Masing-masing atom besi dapat mengikat secara

reversible (perubahan arah) dengan satu molekul O2. Besi

berada dalam bentuk ferro sehingga reaksinya adalah


oksigenasi bukan oksidasi. Transpor karbondioksida

Kelarutan CO2 dalam darah kira-kira 20 kali kelarutan O2

sehingga terdapat lebih banyak CO2 dari pada O2 dalam

larutan sederhana. CO2 berdifusi dalam sel darah merah

dengan cepat mengalami hidrasi menjadi H2CO2 karena

adanya anhidrase (berkurangnya sekresi kerigat) karbonat


berdifusi ke dalam plasma. Penurunan kejenuhan hemoglobin

terhadap O2 bila darah melalui kapiler – kapiler jaringan.

Sebagian dari CO2 dalam sel darah merah beraksi dengan

gugus amino dari protein, hemoglobin membentuk senyawa


karbamino (senyawa karbondioksida). Besarnya kenaikan

kapasitas darah mengangkut CO2 ditunjukkan oleh selisih

antara garis kelarutan CO2 dan garis kadar total CO2

diantara 49 ml CO2 dalam darah arterial 2,6 ml dalah

senyawa karbamino dan 43,8 ml dalam HCO2 (Syaifuddin,


2010; Musliha, 2012; Muttaqin, 2010; Padila, 2013; Guyton
& Hall, 2016).

5. Patofisiologi Dan Pathway


Patofisiologi asma meliputi limitasi aliran udara dan inflamasi
saluran napas. Dengan memahami saluran napas ini, dapat memberikan
jalan untuk mengembangkan rencana terapi yang adekuat dan
memperoleh atau mempertahankan kontrol asma (Hudak & Gallo, 2011).
a. Limitasi Aliran Udara/Penyempitan Jalan Napas
Etiologi pasti limitasi aliran udara pada asma masih belum
diketahui, meskipun terdapat beberapa faktor yang telah dikaitkan
dengan hal ini. Komponen yang sering menjadi penyebab adalah
kontraksi otot polos bronkus yang didefinisikan sebagai kontraksi
atau penyempitan cepat jalan napas akibat mediator dan
neurotransmiter bronkokonstriktor. Akibat penyempitan jalan napas
ini, maka aliran udara menjadi sempit dan menimbulkan bunyi
“mengi” yang sering disebut sebagai asma.
Brokokonstriksi bersifat reversible dengan pemberian
brokodilator. Edema atau cairan didalam saluran napas disebabkan
oleh kebocoran mikrovaskular akibat mediator inflamasi. Hal ini
dapat diatasi dengan pemberiaan oabt-obatan antiinflamasi.
Hipersekresi mucus adalah terminologi yang digunakan untuk
menggambarkan peningkatan sekresi mucus dan eksudat inflamasi
yang terjadi pada plasma. Data menunjukan bahwa pada pasien asma
terjadi peningkatan jumlah sel goblet di epitel saluran napas dan
pembesaran kelenjar submukosa. Sumbatan mucus dikatakan terjadi
jika terdapat bagian saluran napas yang tersumbat dan udara tidak
dapat keluar dan masuk ke jalan napas dibawahnya. Remodelling
saluran napas adalah perubahan struktural saluran napas yang terjadi
dalam jangka waktu lama. Seperti yang telah kita ketahui bahwa
bahkan sebelum onset gejala asma muncul, banyak pasien asma yang
telah mengalami remodelling pada saluran napasnya sampai pada
derajat tertentu. Fibrosis subefitel terjadi akibat pembentukan serat
kolagen dan proteoglikan dibawah membran basalis (Terry &
Weaver, 2011; Guyton & Hall, 2016).
Substansi-substansi ini juga dapat terdeposit pada lapisan lain
di saluran napas dan menyebabkan terjadinya fibrosis pada daerah
tersebut. Otot polos saluran napas membesar akibat dua mekanisme
primer: hipertropi dan hyperplasia. Hal ini mengakibatkan
peningkatan ketebalan dinding saluran napas. Telah kita ketahui
bahwa mediator inflamasi berperan pada perubahan-perubahan ini.
Kita juga mengetahui bahwa terjadi peningkatan proliferasi
pembuluh darah pada dinding saluran napas yang dapat
mengakibatkan dinding saluran napas menjadi tebal. Data
menunjukan bahwa perubahan-perubahan ini berkaitan dengan
derajat keparahan pasien asma dan tidak sepenuhnya reversible
dengan terapi yang ada saat ini.
b. Hiper-reaktivitas Saluran Napas
Adalah terminology yang digunakan untuk menggambarkan
kecenderungan jalan napas untuk menyempit akibat paparan
terhadap berbagai macam stimulus. Hiperreaktivitas jalan napas
dinilai berdasarkan derajat respons kontraktil terhadap uji metakolin
yang dapat membantu menentukan derajat tingkat keparahan asma
seseorang.
c. Inflamasi Saluran Napas
Data menunjukan bahwa inflamasi saluran napas muncul pada
pasien asma meskipun gejalanya tidak muncul. Hal ini terjadi pada
semua tipe asma. Meskipun biasanya disebut juga sebagai inflamasi
salura napas, namun hal ini terjadi pada seluruh system respirasi.
Walaupun begitu, inflamasi sering banyak terjadi pada bronkus
ukuran sedang. Inflamasi yang terjadi pada asma memiliki pola yang
sama dengan inflamasi yang terjadi pada reaksi alergi.
d. Imunoglobulin
Adalah suatu molekul protein kecil yang dihasilkan oleh
system imun untuk “berikatan” dengan permukaan antigen atau
iritan. Dengan berikatan ke permukaan antigen, mereka berperan
sebagai bendera untuk memanggil sel-sel dalam system imun yang
lain untuk datang dan membantu menghadapi antigen tersebut.
Terdapat serangkaian mekanisme yang kompleks yang akhirnya
menghasilkan Ig. Ketika sebuah antigen masuk kedalam tubuh
manusia, sel darah putih yang dikenal dengan limfosit T atau sel T
datang dan berikatan dengan antigen tersebut. Sel T akan memanggil
sel “helper”, dikenal juga sabagai sel TH untuk mengatur pelepasan
sitokin yang dapat menstimulasi sel limfosit B. Sel limfosit B adalah
sel yang memproduksi antibody Ig yang akan berikatan dengan
antigen. Terminology proliferasi sel-B digunakan ketika suatu Ig
telah berikatan dengan antigen dan memicu sel limfosit B untuk
berproduksi dan membuat Ig lebih banyak. Sel TH juga dipercaya
untuk selalu mengekspresikan protein CD4 yang ada dipermukaan
sel, sehingga mereka juga dikenal sebagai sel T CD4+.
Terdapat beberapa kelas antibody yang dihasilkan akibat reaksi
alergi dan dikenal sebagai Imunoglobulin. Kelas antibody tersebut
yaitu IgM, IgG, IgA, IgD dan IgE. Ketila secara spesifik kita
mendiskusikan reaksi alergi, termasuk asma alergi, Imunoglobulin
yang terlibat adalah IgE. Ketika tubuh bereaksi terhadap antigen
dengan secara spesifik menghasilkan IgE, antigen disebut sebagai
allergen dan individu yang mengalami reaksi alergi disebut memiliki
riwayat atopi atau alergi. Pada individu tersebut, IgE bersirkulasi
didalam darah bersamaan dengan sel-sel inflamasi yang disebut
basophil yang berikatan dengan permukaan sel inflamasi didalam
tubuh yang dikenal sebagai sel mast (Potter & Perry, 2010; Hudak &
Gallo, 2011; Musliha, 2012; Guyton & Hall, 2016).
e. Sel Mast dan Basofil
Basofil banyak ditemukan di aliran darah. Sel mast terdapat
hampir di seluruh jaringan dala tubuh terutama jaringan saluran
napas. Kedua sel inflamasi ini memiliki lebih dari 100.000 reseptor
tempat berikatan dengan IgE. Ketika seorang individu terpapar
dengan suatu allergen dan menghasilkan IgE yang berikatan dengan
reseptor tersebut, sel mast dan basofil sudah “mengenali” allergen
tersebut, sehingga bila di lain waktu individu tersebut terpapar
dengan allergen yang sama, sel mast dan basofil akan melepaskan
mediator-mediator kimia yang menyebabkan rekasi alergi. Para
klinisi harus mengetahui bahwa sekali seorang individu
tersentisisasi, maka sel mast dan basofil akan tetap mencetuskan
reaksi alergi selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun
(Musliha, 2012; Guyton & Hall, 2016).
f. Mediator-Mediator Kimia
Mediator kimia yang dihasilkan oleh sel mast dan paling kita
ketahui adalah histamine. Histamine akan berikatan dengan reseptor
histamine (H1) yang dapat dijumpai pada sebagian besar sel tubuh
dan mencetuskan gejala alergi seperti pembengkakan, bersin-bersin
dan gatal. Kelompok lain mediator kimia adalah golongan leukotrien
sisteinil. Zat-zat ini biasanya dilepaskan antara 5 dan 30 mneit
setelah aktivasi sel mast atau basofil. Zat golongan ini mempunyai
efek yang sama seperti histamin, meskipun biasanya memiliki
potensi yang lebih kuat. Secara spesifik, leukotrien D4 memiliki
potensi 10 kali lebih kuat dibanding dengan histamin. Leukotriene
sisteinil merupakan mediator yang satu-satunya yang bila mediator
ini dihambat, pasien akan menunjukan perbaikan gejala asma dan
perbaikan fungsi paru. Golongan mediator lain yang berperan pada
asma dikenal sebagai kemokin. Kemokin ini dihasilkan oleh sel
epitel saluran napas dan berfungsi untuk memanggil sel-sel inflamasi
lainnya untuk datang ke saluran napas. Eotaksin adalah sejenis
kemokin yang relative selektif untuk memanggil eosinophil. Timus
dan activation-regulated kemokin (TARK) dan makrofag. Turunan
kemokin (MTK) telah ditemukan berfungsi untuk menarik sel Th2.
Sitokin adalah protein pemberi sinyal yang berfungsi sebagai
mediator komunikasi antar sel saat proses inflamasi pada asma.
Pengukuran terhadap kadar sitokin ini dapat membantu kita untuk
menentukan derajat berat ringannya proses inflamasi yang terjadi.
Sitokin ini dapat dibagi menjadi empat kategori: limfokin adalah
sitokin yang dihasilkan oleh sel limfosit T; sitokin proinflamasi yang
berfungsi untuk mengamplifikasi dan mencetusaakn respon
inflamasi; sitokin antiinflamasi yang berfungsi menghambat
inflamasi; dan kemokin. Regulasi sitokin yang dikeluarkan oleh sel-
sel yang terdapat di saluran napas merupakan target utama terapi
kortikosteroid dan imunosupresan sel-T pada asma (Potter & Perry,
2010; Musliha, 2012).
Nitrit oksida adalah vasodilator poten yang dihasilkan oleh sel
epitel saluran napas. NO mempunyai peran dalam pengaturan tonus
vascular, respons terhadap trauma vascular dan hemostatis. NO
merupakan neurotransmitter untuk saraf nonkolinergik dan juga
memiliki aktivitas antimicrobial, imunologik dan proinflamasi. Saat
terjadi bronkospasme dan inflamasi, terjadi peningkatan NO yang
dihasilkan saat ekspirasi. Oleh sebab itu, pengukuran kadar NO yang
dikeluarkan saat ekspirasi merupakan uji noninvasif untuk evaluasi
inflamasi terkait asma dan telah digunakan sebagai marker dalam
menentukan efektifitas terapi asma. (Muttaqin, 2010; Hudak &
Gallo, 2011; Margaret Varnell Clark, 2011; Guyton & Hall, 2016).
Bagan 2.1
PATHWAY

Faktor pencetus : Antigen yang terikat Mengeluarkan histamin, Permiabilitas Edema mukosa sekresi Spasme otot polos dan
Alergen, Stres, Cuaca pada permukaan sel platelet, bradikinin, dan kapiler produktif kontriksi sekresi kelenjar
→ mast atau basofil. → zat kimia lain. → meningkat. → otot polos meningkat →
dan Genetik. bronkus meningkat.

Penurunan Suplai darah dan Konsentrasi Penyempitan / obstruksi


← oksigen kejantung ← Hipoksemia. ← oksigen dalam ← proksimal dari bronkus
cardiac output.
berkurang. darah menurun. pada tahap ekspirasi dan
↓ inspirasi.
Gangguan Pertukaran
Kelemahan Tekanan darah Gas
dan keletihan. ← menurun.
Tekanan partial Mucus berlebih,
oksigen di dalam batuk, wheezing,
↓ alveoli menurun. sesak napas.
Intoleransi Aktivitas
Ketidakefektifan Pola Peningkatan Penyempitan
kerja otot Ketidakefektifan Bersihan
Napas jalan napas.
pernapasan. Jalan Napas

Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari


Penurunana nafsu Usaha mendapatkan
Kebutuhan Tubuh
makan atau anoreksia. suplai O2 yang adekuat
dengan mengurangi
(Sumber: Musliha, 2012; Muttaqin, 2010; Hudak & Gallo, 2011; faktor pencetus.
Usaha mencari Informasi
Terry & Weaver, 2011; Padila, 2013; Natik, 2014; dan pengetahuan.
Guyton & Hall, 2016). Upaya meningkatkan
kualitas kesehatan.
6. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang muncul pada asma, antara lain (Alwi, 2015):
a. Sukar bernapas yang timbul intermitten
b. Terdengar “wheezing” pada waktu ekspirasi
c. Batuk dengan sputum yang kental
d. Ekspirasi memanjang dengan hiperinflasi nada
e. Pernapasan cuping hidung
f. Sianosis pada permukaan kuku
g. TRIAS gejala asma terdiri atas :
1) Dispnea (sesak napas), terjadi karena pelepasan histamine dan
leukotrien yang menyebabkan kontraksi otot polos sehingga
saluran napas menjadi sempit.
2) Batuk, adalah reaksi tubuh untuk mengeluarkan hasil dari
inflamasi atau benda asing yang masuk ke saluran napas.
3) Mengi (bengek), suara napas tambahan yang terjadi akibat
penyempitan bronkus.
h. Gambaran klinis pasien yang menderita asma :
1) Gambaran objektif :
a) Sesak napas parah dengan ekspirasi memanjang disertai
wheezing.
b) Dapat disertai dengan sputum kental dan sulit dikeluarkan.
c) Bernapas dengan menggunakan otot-otot napas tambahan.
d) Sianosis, takikardia, gelisah dan pulsus paradoksus.
e) Fase ekspirasi memanjang dengan disertai wheezing (di afek
dan hilus).
2) Gambaran subjektif :
a) Pasien mengeluhkan sukar bernapas, sesak dan anoreksia.
3) Gambaran psikososial
a) Cemas, takut, mudah tersinggung dan kurang pengetahuan
pasien terhadap situasi penyakitnya.
7. Penatalaksanaan
Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Asma Di Indonesia (2013)
menyatakan bahwa serangan asma bervariasi dari ringan sampai berat
bahkan dapat bersifat fatal atau mengancam jiwa. Penatalaksanaan yang
tepat terhadap penderita asma dapat membantu mengurangi serangan asma
yang berulang. Penatalaksanaan awal di kegawatdaruratan pada penderita
asma yaitu sebagai berikut:
a. Melakukan penilaian awal pada derajat asma dengan mengkaji riwayat
penderita asma serta melakukan pemeriksaan fisik.
b. Pemberian oksigenisasi dengan nasal canul (4-6 l/m).
c. Pemberian inhalasi β₂-agonis kerja singkat (nebulasi) setiap 20 menit
dalam 1 jam atau agonis β₂-injeksi (terbulatin 0.5 ml secara subkutan
atau adrenalin 1 g dalam 0.3 ml secara subkutan).
d. Pemberian kortikosteroid sistemik dengan indikasi:
1) Serangan asma berat.
2) Tidak ada respon segera dengan pengobatan bronkodilator.
3) Dalam pemberian kortikosteroid oral.
e. Setelah dilakukan tindakan nebulasi, lakukan pemeriksaan ulang
terhadap saturasi O2, nilai APE (Arus Puncak Ekspirasi), tanda dan
gejala asma serta lakukan observasi selama 1-2 jam dengan kriteria:
1) Respon baik dan stabil, APE (Arus Puncak Ekspirasi) > 70% nilai
prediksi dan saturasi O2 > 90% , maka pasien boleh pulang dan
pengobatan dilanjutkan dengan inhalasi agonis β₂ serta pemberian
kortikosteroid oral.
2) Respon tidak baik, resiko tinggi distress, APE (Arus Puncak
Ekspirasi) > 50% dan < 70%, saturasi O₂ tidak ada perbaikan,
maka pasien harus diawat.
3) Respon buruk, resiko tinggi distress, gejala bertambah berat, APE
(Arus Puncak Ekspirasi) < 30%, PCO₂ 45 mmHg, PO₂ < 60
mmHg, maka ganti terapi oksigen dengan masker, pemberian
kortikosteroid oral, pertimbangan pemberian intubasi dan
ventilasi mekanik serta penderita harus dirawat di unit perawatan
intensif.

Secara umum pengobatan pada asma bronkial terbagi menjadi 2,


yaitu (Musliha, 2010; Boswick, 2013; Sutrisno, 2013):
a. Pengobatan non farmakologik:
1) Memberikan penyuluhan
2) Menghindari faktor pencetus
3) Pemberian cairan
4) Fisiotherapy
5) Batuk efektif
6) Deep Breathing Exercise
7) Diafragmatic Breathing Exercise
8) Beri O2 bila perlu
b. Pengobatan farmakologik:
1) Bronkodilator: obat yang melebarkan saluran napas. Terbagi dalam
2 golongan:
a) Simpatomimetik/ adrenergik (Adrenalin dan efedrin)
Nama obat:
Orsiprenalin (Alupent), Fenoterol (berotec), Terbutalin
(bricasma).
Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk
tablet, sirup, suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan:
MDI (Metered dose inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk
halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma
Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent, Berotec,
brivasma serta Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi
aerosol (partikel-partikel yang sangat halus) untuk selanjutnya
dihirup
b) Santin (teofilin)
Nama obat: Aminofilin (Amicam supp), Aminofilin
(Euphilin Retard), Teofilin (Amilex).Efek dari teofilin sama
dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya
berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya
saling memperkuat.
Cara pemakaian: Bentuk suntikan teofillin/aminofilin
dipakai pada serangan asma akut, dan disuntikan perlahan-
lahan langsung ke pembuluh darah. Karena sering merangsang
lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum
sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai
sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini.
Teofilin ada juga dalam bentuk suppositoria yang cara
pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini
digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum
teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering).
c) Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat
pencegah serangan asma. Manfaatnya adalah untuk penderita
asma alergi terutama anak-anak. Kromalin biasanya diberikan
bersama-sama obat anti asma yang lain dan efeknya baru
terlihat setelah pemakaian satu bulan.
d) Ketolifen
Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti
kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg/hari.
Keuntungan obat ini adalah dapat diberikan secara oral
(Musliha, 2012).
8. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis asma bronkhial sudah dapat ditegakkan hanya dengan
anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik, namun pemeriksaan
penunjang dibutuhkan untuk menajamkan diagnosis. Pemeriksaan
diagnostik untuk penderita asma dapat dilakukan dengan cara beberapa
pemeriksaan, antara lain sebagai berikut (Hudak & Gallo, 2011;
Kartikawati, 2011; Nugroho, 2012):
a. Spirometri
Peningkatan VEP1 (Volume Ekspirasi Paksa 1 detik) ≥ 12%
dan 200cc setelah pemberian bronkodilator menandakan reversibilitas
penyempitan jalan napas sesuai dengan asma.
b. Pemeriksaan Radiologi
1) Foto thorak
Pada foto thorak akan tampak corakan paru yang
meningkat, hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada asma
kronik, atelektasis juga ditemukan pada anak-anak  6 tahun.

2) Foto sinus paranasalis.


Diperlukan jika asma sulit terkontrol untuk melihat adanya
sinusitis.
b. Pemeriksaan darah
Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan
sekret hidung, bila tidak eosinofilia kemungkinan bukan asma .
c. Uji faal paru
Dilakukan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai
hasil provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti
perjalanan penyakit. Alat yang digunakan untuk uji faal paru
adalah peak flow meter, caranya anak disuruh meniup flow meter
beberapa kali (sebelumnya menarik napas dalam melalui mulut
kemudian menghebuskan dengan kuat).
d. Uji kulit alergi dan imunologi
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk.
Alergen yang digunakan adalah alergen yang banyak didapat di
daerahnya.

9. Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah (Purwadianto,
2013):
a. Status asmatikus adalah setiap serangan asma berat atau yang kemudian
menjadi berat dan tidak memberikan respon (refrakter) adrenalin dan
atau aminofilin suntikan dapat digolongkan pada status asmatikus.
Penderita harus dirawat dengan terapi yang intensif.
b. Atelektasis adalah pengerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat
penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat
pernapasan yang sangat dangkal.
c. Hipoksemia adalah tubuh kekurangan oksigen
d. Pneumotoraks adalah terdapatnya udara pada rongga pleura yang
menyebabkan kolapsnya paru.
e. Emfisema adalah penyakit yang gejala utamanya adalah penyempitan
(obstruksi) saluran napas karena kantung udara di parumenggelembung
secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas.

B. Konsep Asuhan Keperawatan


Proses keperawatan adalah adalah suatu proses pemecahan masalah
yang dinamis dalam usaha memperbaiki atau memelihara klien sampai ke
taraf optimal melalui pendekatan yang sistematis untuk mengenal dan
membantu kebutuhan klien (Muttaqin, 2010; Kartikawati, 2011; Musliha,
2012).
Dalam asuhan keperawatan pasien dengan asma bronkial,
menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari 5 tahap, yaitu:
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan merupakan salah satu dari komponen dari
proses keperawatan yaitu suatu usaha yang dilakukan oleh perawat dalam
menggali permasalahan dari klien meliputi usaha pengumpulan data
tentang suatu kesehatan seseorang klien secara sistematis, menyeluruh,
akurat, singkat dan berkesinambungan.
Pengkajian keperawatan harus selalu dirancang sesuai kebutuhan
klien. Apabila pada kondisi klien perawat dihadapkan pada klien yang
menderita penyakit akut, perawat perlu membekali diri tentang kondisi
gejala yang berhubungan dan perawat boleh memilih untuk hanya
mengkaji sistem tubuh yang terlibat. Pengkajian keperawatan yang
komprehensif biasanya akan dilakukan pada klien dalam kondisi lebih
sehat, kemudian perawat mempelajari status kesehatan total pasien.
(Muttaqin, 2010; Boswick, 2013).
Pengkajian yang biasa dilakukan pada pasien dengan asma,
meliputi hal-hal sebagai berikut (Musliha, 2012; Sutrisno, 2013; Yayasan
Ambulans Gawat Darurat 118, 2015):

a. Pengkajian Primer
1) Airway
Umumnya terjadi penyumbatan pada jalan napas akibat
adanya bronkospasme ataupun sekresi yang tertahan, whezzing,
mengi.
2) Breathing
Kaji ketidakefektifan pola napas, respiratory rate, saturasi
oksigen, seak napas, adanya napas cuping hidung, adanya
penggunaan otot bantu napas, abnormalitas pernapasan, adanya
retraksi dinding dada.
3) Cirkulation
Kaji heart rate, tekanan darah, capillary refille, adanya
sianosis.
4) Disability
Kaji tingkat kesadaran pasien serta kondisi secara umum (GCS,
AVPU), ukuran dan reaksi pupil
5) Exposure
Pengkajian adanya cidera atau kelainan lain dan kondisi
lingkungan yang ada di sekitar pasien.

b. Pengkajian Sekunder
1) Keluhan utama
Pada umumnya orang tua mengeluh anaknya batuk dengan
atau tanpa produksi mucus; sering bertambah berat saat malam
hari atau dini hari sehingga membuat anak sulit tidur. Jika
asmanya berat maka gejala yang akan muncul yaitu perubahan
kesadaran seperti mengantuk, bingung, saat serangan asma,
kesulitan bernapas yang hebat, takikardia, kegelisahan hebat
akibat kesulitan bernapas, berkeringat (Margaret Varnell Clark,
2013).

2) Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan pada klien dengan asma meliputi hal-hal
sebagai berikut:
a) Riwayat kesehatan sekarang
Merupakan pengembangan dari keluhan utama yang biasa
ditemukan menggunakan pendekatan PQRST, dimana P atau
paliatif/provokative merupakan hal atau faktor yang
mencetuskan terjadinya penyakit, hal yang memperberat atau
meperingan, Q atau qualitas dari suatu keluhan atau penyakit
yang dirasakan, R atau region adalah daerah atau tempat
dimana keluhan dirasakan, S atau severity adalah derajat
keganasan atau intensitas dari keluhan tersebut, T atau time
adalah waktu dimana keluhan dirasakan, time juga
menunjukan lamanya atau kekerapan
b) Riwayat kesehatan yang lalu
Penyakit yang pernah diderita anak perlu diketahui
sebelumnya, karena mungkin ada kaitannya dengan penyakit
sekarang. Riwayat kesehatan menjelaskan tentang riwayat
perawatan di RS, alergi, penyakit kronis dan riwayat operasi.
Selain itu juga menjelaskan tentang riwayat penyakit yang
pernah diderita klien yang ada hubungannya dengan penyakit
sekarang seperti riwayat panas, batuk, filek, atau penyakit
serupa pengobatan yang dilakukan.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Dikaji mengenai adanya penyakit pada keluarga yang
berhubungan dengan asma pada anak, riwayat penyakit
keturunan atau bawaan seperti asma, diabetes melitus, dan
lain-lain.
3) Genogram
Merupakan gambaran struktur keluarga klien, dan
gambaran pola asuh klien.

4) Alergi
Kaji adanya alergi terhadap makanan, obat-obatan,
lingkungan dan lain-lain.
5) Obat-obatan
Kaji penggunaan obat-obatan yang sedang atau pernah
dikonsumsi.
6) Pemeriksaan Fisik
a) Pemeriksaan fisik
(1) Kepala
Amati bentuk dan kesimetrisan kepala, kebersihan
kepala pasien, lingkar kepala. Pada asma tidak ditemukan
masalah pada saat dilakukan pemeriksaan kepala.
(2) Mata
Perhatikan apakah jarak mata lebar atau lebih kecil,
amati kelopak mata terhadap penetapan yang tepat, periksa
alis mata terhadap kesimetrisan dan pertumbuhan
rambutnya, amati distribusi dan kondisi bulu matanya,
bentuk serta amati ukuran iris apakah ada peradangan atau
tidak, kaji adanya oedema pada mata. Pada asma tidak
ditemukan masalah pada saat dilakukan pemeriksaan mata.
(3) Hidung
Amati pasien, apakah pasien menggunakan napas
cuping hidung
(4) Mulut
Periksa bibir terhadap warna, kesimetrisan,
kelembaban, pembengkakan, lesi, periksa gusi lidah, dan
palatum terhadap kelembaban, keutuhan dan perdarahan,
amati adanya bau, periksa lidah terhadap gerakan dan
bentuk, periksa gigi terhadap jumlah, jenis keadaan,
inspeksi faring menggunakan spatel lidah. Biasanya
ditemukan pada mulut terdapat napas barbau tidak sedap,
bibir kering dan pecah-pecah, lidah tertutup selaput putih
kotor, ujung dan tepinya kemerahan
(5) Telinga
Periksa penempatan dan posisi telinga, amati
penonjolan atau pendataran telinga, periksa struktur telinga
luar dan ciri-ciri yang tidak normal, periksa saluran telinga
luar terhadap hygiene, rabas dan pengelupasan. Lakukan
penarikan aurikel apakah ada nyeri atau tidak lakukan
palpasi pada tulang yang menonjol di belakang telinga
untuk mengetahui adanya nyeri tekan atau tidak
(6) Leher
Gerakan kepala dan leher klien dengan ROM yang
penuh, periksa leher terhadap pembengkakan kelenjar getah
bening, lakukan palpasi pada trakea dan kelenjar tiroid
(7) Dada
Amati kesimetrisan dada terhadap retraksi atau
tarikan dinding dada kedalam, amati jenis pernapasan,
amati gerakan pernapasan dan lama inspirasi serta
ekspirasi, lakukan perkusi diatas sela iga, bergerak secara
simentris atau tidak dan lakukan auskultasi lapang paru.
(8) Abdomen
Periksa kontur abdomen ketika sedang berbaring
terlentang, periksa warna dan keadaan kulit abdomen, amati
turgor kulit. Lakukan auskultasi terhadap bising usus serta
perkusi pada semua area abdomen.
(9) Ekstremitas
Kaji bentuk kesimetrisan bawah dan atas,
kelengkapan jari, apakah terdapat sianosis pada ujung jari,
adanya oedema, kaji adanya nyeri pada ekstremitas.
(10) Genetalia dan anus
Kaji kebersihan sekitar anus dan genetalia, inspeksi
ukuran genetalia, posisi, uretra, inspeksi adanya tanda-
tanda pembangkakan, periksa anus adanya robekan,
hemoroid, polip.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi
jalan napas ditandai dengan perubahan frekuensi napas, perubahan
irama napas, penurunan bunyi napas, dispnea, sputum dalam jumlah
napas yang berlebihan, batuk yang tidak efektif dan gelisah.
b. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan keletihan otot
pernapasan yang ditandai dengan bradipnea, dispnea, fase ekspirasi
memanjang, ortopnea, penggunaan otot bantu pernapasan, pernapasan
cuping hidung, perubahan ekskursi dada, pola napas abnormal (mis.
irama, frekuensi, kedalaman) dan takipnea.
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan hipoksemia yang
ditandai dengan pernapasan abnormal (kecepatan, irama, kedalaman),
dispnea, sianosis, takikardi, hipoksia, napas cuping hidung,gasdarah
arteri abnormal dan hipoksemia.
d. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan laju metabolik, hiperaktivitas pernapasan,
dispnea saat makan, kelemahan otot yang ditandai dengan diare,
bising usus hiperaktif, ketidakmampuan memakan makanan, tonus
otot menurun, kelemahan otot pengunyah, kelemahan otot untuk
menelan, penurunan berat badan dan membran mukosa pucat.
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, lesu dan pucat
yang di tandai dengan respon tekanan darah abnormal terhadap
aktivitas, respon frekuensi jantung abnormal terhadap aktivitas dan
menyatakan merasa lemah.
f. Kesiapan Meningkatkan Manjemen Kesehatan, yang ditandai dengan
mengekspresikan keinginan untuk melakukan penanganna terhadap
faktor resiko, mengekspresikan keinginan untuk melakukan
penanganan terhadap gejala, mengekspresikan keinginan untuk
melakukan penanganan terhadap regimen yang diprogramkan, dan
mengekspresikan keinginan untuk menangani penyakit.
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah semua tindakan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini ke
status kesehatan yang diuraikan dalam hasil yang di harapkan. Langkah-
langkah dalam membuat perencanaan keperawatan meliputi: penetapan
prioritas, penetapan tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan,
menentukan intervensi keperawatan yang tepat dan pengembangan
rencana asuhan keperawatan. Setelah diagnosa keperawatan dirumuskan
secara spesifik, perawat menggunakan kemampuan berfikir kritis untuk
segera menetapkan prioritas diagnosa keperawatan dan intervensi yang
penting sesuai dengan kebutuhan klien (Muttaqin, 2010; Musliha, 2012;
Purnami, 2015).

Menurut Naga (2012) Intervensi atau pengembangan


strategi desain untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi
masalah-masalah yang telah diidentifikasikan dalam diagnosis
keperawatan. Rencana keperawatan ini disesuaikan dengan
kondisi klien dan fasilitas yang ada, sehingga rencana tindakan
keperawatan dapat dilaksanakan dengan prinsip ONEK, obserfasi
( rencana tindakan untuk mengkaji atau melakukan obserfasi
terhadap kemajuan klien untuk memantau secara langsungyang
dilakukan secara kontinu), nursing treatmen (rencana tindakan
yang dilakukan untuk mengurangi, memperbaiki, dan mencegah
peluasan masalah), education (rencana tindakan yang berbentuk
pendidikan kesehatan), kolaboratif (tindakan medis yang
dilimpahkan pada perawat). Dalam referensi intervensi dituliskan
sesuai dengan kriteria intervensi NIC (Nursing Intervension
Clasification) dan NOC (Nursing Outcome Clasification), dan
diselesaikan secara SMART yaitu Spesifik (jelas atau khusus),
Measurable (dapat diukur), Achievable (dapat diterima), Rasional
dan Time (ada kriteria waktu).
Tabel 2.3
Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas NOC : NIC:
Airway Managemen Airway Management
berhubungan dengan obstruksi jalan Setalah dilakukan tindakan keperawatan
a. Posisikan pasien untuk a. Melancarkan pernapasan klien
napas ditandai dengan : selama.........pasien diharapkan dapat memaksimalkan ventilasi udara
b. Lakukan terapi fisik dada, b. Merilekskan dada untuk
a. Perubahan frekuensi napas. menunjukan efektifitas bersihan jalan
sesuai kebutuhan memperlancar pernapasan klien
b. Perubahan irama napas. napas, dengan memenuhi krteria hasil : c. Ajarkan klien batuk efektif c. Mengeluarkan secret yang
menghambat jalan pernapasan
c. Penurunan bunyi napas.  Ststus pernapasan: Kepatenan jalan
d. Berikan treatment aerosol atau d. Memperlancar saluran
d. Dispnea napas nebulasi sesuai kebutuhan pernapasan
e. Berikan terapi oksigen, sesuai e. Memenuhi kebutuhan oksigen
e. Sputum dalam jumlah napas No Indikator A T kebutuhan dalam tubuh
yang berlebihan. 1. Suara nafas tambahan
2. Pernafasan cuping hidung Vital Signs Monitoring Vital Signs Monitoring
f. Batuk yang tidak efektif. 3. Dispnea saat istirahat a. Mengukur tekanan darah, nadi, a. Mendeteksi adanya gangguan
g. Gelisah 4. Dispnea saat aktivitas temperature, dan status respirasi dan kardiovaskuler
ringan respirasi, sesuai kebutuhan. b. Mendeteksi adanya keabnormalan
(Sumber : NANDA International, 5. Penggunaan otot bantu b. Auskultasi suara paru suara paru
2015-2017) napas c. Mendeteksi adanya gangguan
6. Batuk c. Periksa adanya sianosis pada respirasi dan kardiovaskular.
7. Akumulasi sputum central dan perifer (Sumber : Doenges, 2012)
Keterangan :
1 = Sangat berat (Sumber : NIC, 2016)

2 = Berat
3 = Cukup
4 = Ringan
5 = Tidak ada
(Sumber : NOC, 2016)
2. Ketidakefektifan Pola Napas NOC NIC:
Respiratory Monitoring Respiratory Monitoring
berhubungan dengan keletihan otot Setalah dilakukan tindakan keperawatan
a. Monitor frekuensi, ritme, a. Untuk mendeteksi adanya
pernapasan yang ditandai dengan: selama.........pasien diharapkan dapat kedalaman pernapasan. gangguan pernapasan
b. Monitor adanya suara b. Untuk mendeteksi adanya
a. Bradipnea menunjukan keefektifan pola napas, dengan
abnormal/noisy pada gangguan pernapasan
b. Dispnea memenuhi krteria hasil : pernapasan seperti snoring atau
crowing.
c. Fase ekspirasi memanjang  Vital sign dalam batas normal.
c. Kaji keperluan suctioning c. Memperlancar saluran
d. Ortopnea  Status pernapasan klien kembali dengan melakukan auskultasi pernapasan
untuk mendeteksi adanya
e. Penggunaan otot bantu normal dengan indikator :
crackles dan rhonchi di
pernapasan NO Indikator A T sepanjang jalan napas.
1. Frekuensi pernapasan d. Catat onset, karakteristik dan d. Mengetahui karakteristik batuk
f. Pernapasan cuping hidung
2. Irama Pernapasan durasi batuk. untuk dapat memberikan
g. Perubahan ekskursi dada 3. Suara napas tambahan intervensi yang tepat
4. Kedalaman inspirasi e. Ajarkan teknik e. Dapat meningkatan sirkulais dan
h. Pola napas abnormal (mis.,
5. Penggunaan otot bantu nonfarmakologis: diafragmatic mempertahankan asma yang
irama, frekuensi, kedalaman) pernapasan breathing exercise atau latihan terkontrol, sehingga hasil
6. Dispnea saat beraktivitas nafas perut dan Deep breathing metabolisme tubuh dan energi
i. Takipnea
ringan exercise atau latihan nafas penggerak untuk melakukan
(Sumber : NANDA International, 7. Pernapasan cuping dalam. aktivitas menjadi lebih besar,
2015-2017) hidung serta pengurang distres
8. batuk pernapasan selama periode
dispnea.
Ket :
f. Kolaborasi bersama dokter dan f. Menyusun rencana tindakan yang
1 = Deviasi berat dari kisaran
tim medis lain dalam pemberian tepat
normal. terapi pengobatan.
2 = Deviasi cukup berat dari
Vital Signs Monitoring Vital Signs Monitoring
kisaran norml. a. Mengukur tekanan darah, nadi, a. Mendeteksi adanya gangguan
temperature, dan status respirasi dan kardiovaskuler
3 = Deviasi sedang dari kisaran
respirasi, sesuai kebutuhan. b. Mendeteksi adanya keabnormalan
normal. b. Auskultasi suara paru suara paru
c. Monitor adanya gangguan
4 = Deviasi ringan dari kisaran
c. Periksa adanya sianosis pada respirasi dan kardiovaskular.
normal. central dan perifer
(Sumber : Doenges, 2012; Natik,
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran
(Sumber : NIC, 2016) 2014)
normal.
(Sumber : NOC, 2016)
3. Gangguan pertukaran gas NOC : NIC:
Airway Managemen Airway Management
berhubungan dengan hipoksemia Setelah dilakukan tindakan keperawatan
a. Posisikan pasien untuk a. Melancarkan pernapasan klien
ditandai dengan : selama............pasien diharapkan tidak memaksimalkan ventilasi udara
b. Lakukan terapi fisik dada, b. Merilekskan dada untuk
a. Pernapasan abnormal mengalami gangguan pertukan gas dengan
sesuai kebutuhan memperlancar pernapasan klien
(kecepatan, irama, kedalaman) memenuhi kriteria hasil: c. Ajarkan klien batuk efektif c. Mengeluarkan secret yang
menghambat jalan pernapasan
b. Dispnea  Vital sign dalam batas normal
d. Berikan treatment aerosol atau d. Memperlancar saluran
c. Sianosis  Status pernapasan: ventilasi nebulasi sesuai kebutuhan pernapasan
e. Berikan terapi oksigen, sesuai e. Memenuhi kebutuhan oksigen
d. Takikardi
kebutuhan dalam tubuh
e. Hipoksia Respiratory Monitoring Respiratory Monitoring
a. Monitor frekuensi, ritme, a. Untuk mendeteksi adanya
f. Hipoksemia No Indikator A T
kedalaman pernapasan. gangguan pernapasan
g. Napas cuping hidung 1. Penggunaan otot bantu b. Monitor adanya suara b. Untuk mendeteksi adanya
nafas abnormal/noisy pada gangguan pernapasan
h. Gas darah arteri abnormal. 2. Suara nafas tambahan pernapasan seperti snoring atau
(Sumber : NANDA International, 3. Retraksi dinding dada crowing.
2015-2017) 4. Dispnea saat istirahat c. Kaji keperluan suctioning c. Memperlancar saluran
5. Dispnea saat aktivitas dengan melakukan auskultasi pernapasan
ringan untuk mendeteksi adanya
6. Akumulasi sputum crackles dan rhonchi di
7. Frekuensi pernapasan sepanjang jalan napas.
8. Kedalaman inspirasi d. Catat onset, karakteristik dan d. Mengetahui karakteristik batuk
9. Sianosis durasi batuk. untuk dapat memberikan
Keterangan : e. Kolanorasi bersama doker dan intervensi yang tepat
1 = Sangat berat tim medis lain dalam pemberian e. Menyusun rencana tindakan yang
terapi pengobatan. tepat
2 = Berat
3 = Cukup Vital Signs Monitoring
a. Mengukur tekanan darah, nadi, Vital Signs Monitoring
4 = Ringan temperature, dan status a. Mendeteksi adanya gangguan
respirasi, sesuai kebutuhan. respirasi dan kardiovaskuler
5 = Tidak ada
b. Auskultasi suara paru. b. Mendeteksi adanya keabnormalan
(Sumber : NOC, 2016) c. Periksa adanya sianosis pada suara paru
central dan perifer. c. Mendeteksi adanya gangguan
respirasi dan kardiovaskular.

Managemen Asam-Basa Managemen Asam-Basa


a. Pertahankan kepatenan jalan a. Untuk membuat klien agar
napas. bernafas dengan baik tanpa
adanya gangguan.
b. Lakukan pemeriksaan arteri gas b. Untuk mengetahui tekanan gas
darah (AGD), serum dan darah (O2 dan CO2) sehingga
tingkat elektrolit urine. kondisi pasien tetap dapat
dipantau.
c. Berikan posisi untuk c. Posisi yang tepat menyebabkan
memfasilitasi ventilasi yang berkurangnya tekanan diafragma
memadai (misalnya membuka ke atas sehingga ekspresi paru
jalan napas dan mengangkat maksimal sehingga klien dapat
kepala tempat tidur. bernafas dengan leluasa.
d. Pantau gejala gagal pernafasan d. Agar perawat cepat mengetahui
(misalnya PaO2 rendah, PaCO2 jika terjadinya gagal nafas
tinggi dan kelelahan otot sehingga tidak membuat kondisi
pernafasan). klien menjadi semakin buruk.
e. Pantau pola pernapasan. e. Sebagai indikator adanya
gangguannafas dan indikator
dalam tindakanselanjutnya.
f. Berikan terapi oksigen, jika f. Untuk memenuhi kebutuhan
perlu oksigen klien.
(Sumber : NIC, 2016) (Sumber : Doenges, 2012)
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang NOC : NIC : Manajemen Nutrisi
Nutrition Managenent
dari kebutuhan b.d laju metabolik, Setelah dilakukan tindakan keperawatan
(Manajemen Nutrisi).
hiperaktivitas pernapasan, dispnea selama..........pasien diharapkan dapat a. Lakukann pengkajian status a. Pengkajian penting dilakukan
nutrisi klien untuk mengetahui status nutrisi
saat makan, kelemahan otot memenuhi asupan nutrisi sesuai kebutuhan
klien sehingga dapat menentukan
pengunyah ditandai dengan : tubuh dengan memenuhi kriteria hasil: intervensi yang diberikan
b. Identifikasi adanya alergi atau b. Agar dapat dilakukan intervensi
a. Diare  Berat Badan Terkontrol
intoleransi makanan yang dalam pemberian nutrisi dan obat-
b. Bising usus hiperaktif.  Status Nutrisi: dimiliki klien obatan untuk klien
c. Tentukan jumlah kalori dan jenis c. Membantu dalam mengidentifikasi
c. Ketidakmampuan memakan
nutrisi yang dibutuhkan untuk malnutrisi protein-protein,
makanan. No Indikator A T memenuhi persyaratan gizi khususnya apabila berat badan
1. Adanya peningkatan kurang dari normal
d. Tonus otot menurun.
berat badan sesuai d. Hitung balance cairan harian d. Untuk mengetahui keseimbangan
e. Kelemahan otot pengunyah. dengan tujuan. klien nutrisi klien dan tidak terjadinya
2. Berat badan ideal sesuai dehidrasi
f. Kelemahan otot untuk menelan.
dengan tinggi badan. e. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk e. Untuk membantu memenuhi
g. Penurunan Berat Badan 3. Mampu menentukan jumlah kalori dan kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan
mengindentifikasi nutrisi yang dibutuhkan klien oleh klien
h. Membran mukosa pucat
kebutuhan nutrisi.
(Sumber : NANDA International, 4. Tidak ada tanda-tanda Nutrition Monitoring (Monitor Monitor Nutrisi
2015-2017) malnutrisi. Nutrisi) a. Penting untuk mengetahui
5. Tidak terjadi penurunan a. Monitor mual dan muntah. karakteristik mual dan muntah serta
berat badan yang berarti faktor-faktor yang mempengaruhi
Keterangan: mual dan muntah. Apabila
karakteristik dan faktor penyebab
1 = Sangat menyimpang dari mual dan muntah telah diketahui,
kisaran normal. dapat menentukan intervensi yang
akan diberikan
2 = Banyak Menyimpang dari b. Anjurkan makan sedikit tapi b. Makan sedikit tapi sering dapat
kisaran norml. sering. meningkatkan intake nutrisi pada
klien
3 = Cukup menyimpang dari c. Monitor kalori dan asupan c. Untuk mengetahui masukan oral
kisaran normal. makanan. makanan selama 24 jam sudah
apakah sudah tepat
4 = Sedikit menyimpang dari d. Lakukan pengukuran berat badan d. Untuk mengetahui asupan nutrisi
kisaran normal. klien. yang dibutuhkan klien sudah tepat
(Sumber : NIC, 2016) dan sesuai atau sebaliknya terjadi
5 = Tidak menyimpang deviasi dari malnutrisi
kisaran normal. (Sumber : Carpenito, 2009)

(Sumber : NOC, 2016)


5. Intoleransi aktivitas berhubungan Setalah dilakukan tindakan keperawatan NIC :
selama...........pasien diharapkan dapat Activity Therapy
dengan keletihan, lesu dan pucat
menunjukan toleransi terhadap aktivitas a. Kolaborasi dengan tim therapist a. Mengkaji setiap aspek klien
ditandai dengan : dengan memenuhi krteria hasil : untuk merencanakan dan monitor terhadap terapi latihan yang
 Vital sign dalam batas normal. program latihan. direncanakan
a. Respon tekanan darah abnormal
 Toleransi terhadap aktifitas: b. Bantu klien untuk memilih b. Aktivitas yang teralau berat dan
terhadap aktivitas. NO INDIKATOR A T aktivitas yang sesuai dengan tidak sesuai dengan kondisi klien
Frekuensi nadi saat kondisi. dapat memperburuk toleransi
b. Respon frekuensi jantung 1.
beraktivitas terhadap latihan.
abnormal terhadap aktivitas. Frekuensi pernapasan saat c. Bantu klien untuk melakukan c. Melatih kekuatan dan irama
2. aktivitas/latihan fisik secara jantung selama aktivitas latihan
c. Menyatakan merasa lemah. beraktivitas
Kemudahan bernapas ketika teratur.
(Sumber : NANDA International, 3. d. Anjurkan klien dan keluarga d. Mengetahui setiap perkembangan
beraktivtas
2015-2017) Kekuatan tubuh bagian untuk mengenali tanda dan gejala yang muncul segera setelah terapi
4. kelelahan saat aktivitas. aktivitas dilakukan
bawah
Kemudahan dalam e. Anjurkan klien untuk membatasi e. Mencegah timbulnya sesak akibat
5. melakukan aktivitas sehari- aktivitas yang cukup berat seperti aktivitas fisik yang terlalu berat
hari berjalan jauh, berlari,
Ket: mengangkat beban berat, dll.
1 = Sangat Terganggu f. Ukur vital sign klien. f. Memantau kondisi klien secara
2 = Banyak Terganggu (Sumber : NIC, 2016) umum
3 = Cukup Terganggu (Sumber : Carpenito, 2009)
4 = Sedikit Terganggu
5 = Tidak Terganggu
(Sumber : NOC, 2016)
6. Kesiapan Meningkatkan Manjemen NOC: NIC :
Setalah dilakukan tindakan keperawatan Pendidikan Kesehatan Pendidikan Kesehatan:
Kesehatan, yang ditandai dengan:
selama............. jam pasien diharapkan dapat a. Indentifikasi pengetahuan a. Untuk mengetahui tingkat
a. Mengekspresikan keinginan memahami yang disampaikan perawat, kesehatan dan gaya hidup yang pengetahuan klien dan keluarga
dengan krteria hasil : dijalani oleh keluarga. dalam mengatasi masalah.
untuk melakukan penanganna  Pendidikan Kesehatan: b. Bantu keluarga untuk b. Untuk membantu meningkatkan
NO INDIKATOR A T meningkatkan gaya hidup yang derajat kesehatan klien.
terhadap faktor resiko.
Mengetahui tanda dan 3 4 sehat
b. Mengekspresikan keinginan 1. c. Motivasi keluarga agar c. Untuk memberikan dukungan
gejala asma
Mengetahui faktor 2 4 mengubah perilaku kesehatan klien dan keluarga dalam
untuk melakukan penanganan 2.
penyebab terjadinya asma dan gaya hidup sehat. meningkatkan derajat kesehatan.
terhadap gejala. Mengetahui tindakan- 3 4 d. Jelaskan manfaat meningkatkan d. Untuk menunjukan hal yang
tindakan yang perlu perilaku kesehatan. positif dalam meningkatkan
c. Mengekspresikan keinginan 3.
dilakukan pada saat derajat kesehatan.
untuk melakukan penanganan darurat (Sumber : NIC, 2016) Sumber : Doenges, 2012)
terhadap regimen yang Mengetahui kondisi yang 3 4
4.
memicu asma
diprogramkan. Mengetahui strategi untuk 3 4
d. Mengekspresikan keinginan mengelola faktor resiko
5.
lingkungan yang bisa
untuk menangani penyakit. dikendalikan
(Sumber : NANDA International, Mengetahui obat yang 3 4
6.
2015-2017) digunakan untuk asma
Keterangan :
1 : tidak ada pengetahuan
2 : pengetahuan terbatas
3 : pengetahuan sedang
4 : Pengetahuan banyak
5 : pengetahuan sangat banyak
(Sumber : NOC, 2016)
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah serangkaian pelaksanaan rencana tindakan
keperawatan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status
kesehatan yang di hadapi ke status kesehatan yang lebih baik yang
menggambarkan kriteria hasil dalam rentang yang diharapkan (Potter &
Perry, 2010).
5. Evaluasi
Tahap terakhir dalam proses keperawatan yaitu evaluasi tindakan.
Dimana evaluasi keperawatan adalah proses keperawatan mengukur
respon klien terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan klien ke arah
pencapaian tujuan. Asuhan keperawatan lain dari evaluasi mencakup
pengukuran kwalitas asuhan keperawatan yang diberikan dalam
lingkungan perawat kesehatan. Perawat mengevaluasi setiap kemajuan
dan pemulihan klien. Evaluasi merupakan aspek penting proses
keperawatan karena kesimpulan yang ditarik dari evaluasi menentukan
apakah intervensi keperawatan harus diakhiri, dilanjutkan atau diubah
(Muttaqin, 2010; Potter & Perry, 2010).
6. Discharge Planning
Discharge planning adalah proses sistematis yang diberikan
kepada pasien ketika akan meninggalkan tempat pelayanan kesehatan
baik pulang ke rumah maupun melakukan perawatan di Rumah Sakit lain
(Plotel, 2010). Discharge planning yang dapat dilakukan secara mandiri
oleh klien yaitu (Natik, 2014; Purnami 2015):
a. Kenali Allergen yang dapat menimbulkan asma seperti debu,
serbuk bunga, asap rokok, polusi udara, suhu, kelembapan, tungau,
serangga dan makanan.
b. Fokuskan pada perawatan mandiri di rumah, seperti latihan napas
diafragma, latihan batuk efektif, latihan napas dalam.
c. Hindari faktor pemicu seperti stress, olahraga, suhu, kelembapan.
d. Keluarga perlu memahami tentang pengobatan, nama obat, dosis,
efek samping dan waktu pemberian.