Anda di halaman 1dari 9

1.

Tujuan

2. DASAR TEORI

Bengkoang

Bengkuang (Pachyrhizus erorus) berasal dari daerah Amerika Tengah dan Selatan
terutama di daerah Mexico. Suku Aztec menggunakan biji tanaman bengkuang ini sebagai
obat-obatan. Kemudian pada abad ke-17, Spanyol menyebarkan tanaman ini ke daerah
Philipina sampai akhirnya menyebar ke seluruh Asia Pasifik . Tumbuhan yang berasal dari
Amerika tropis ini termasuk dalam suku polong-polongan atau Fabaceae. Tanaman ini masuk
Indonesia dari Manila melalui Ambon, dan sejak saat itulah bengkuang dibudidayakan
diseluruh negeri . Bengkuang sekarang ini lebih banyak dibudayakan di daerah Jawa dan
Madura atau di dataran rendah. Di tempat asalanya, tumbuhan ini dikenal dengan xicama atau
jicama. Orang jawa menyebutnya sebagai besusu

Menurut Van Steenis (2005), klasifikasi tanaman bengkuang adalah :

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatoph

Sub Divisio : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonee

Ordo : Fabales

Famili : Fabaceae

Genus : Pachyrhizus
Spesies : Pachyrhizus erosus L. Urban

Bengkuang (Pachyrhizys erosus) dikenal dari umbi (cormus) putihnya yang bisa
dimakan sebagai komponen rujak dan asinan atau dijadikan masker untuk menyegarkan
wajah dan memutihkan kulit. Bagian umbi merupakan bagianyang dikomsumsi dari tanaman
bengkuang karena mengandung gula, pati dan oligosakarida yang dikenal dengan nama
inulin.

Tanaman ini memiliki panjang 2-6 m, bentuk dan majemuk, dengan 3 selebaran per
daun, banyak bunga dan sekali berbunga memiliki panjang hingga 55 cm. Bunga dari jenis
polong-polongan ini memiliki kelopak biru atau putih buah legum, dengan panjang 6-13 cm
dan lebar 8-17 mm serta berbulu ketika muda. Bentuk benih pipih, bulat atau persegi,
bewarna cokelat, hijau atau kemerahan. Ukuran umbi bervariasi sesuai dengan kondisi
pertumbuhan.

Walaupun umbinya dapat dimakan, namun bagian bengkuang yang lain seperti biji
sangat beracun karena mengandung rotenon, sejenis tuba. Racun ini sering dipakai untuk
membunuh serangga atau menangkap ikan. Biji bengkuang yang telah masak kaya akan lipid
yaitu lebih kurang 30%, namun tidak dapat dimakan karena mengandung isoflavonaid yang
tinggi yaitu rotenon, isoflavanon dari furano-3-fenil kumarin yang sangat beracun bagi
manusia (Hilman 2012).

Umbi bengkuang tidak tahan terhadap suhu rendah, sehingga mudah mengalami
kerusakan. Karena itulah, umbi sebaiknya disimpan pada tempat kering bersuhu maksimal
16℃. Umbi bengkuang dapat bertahan sekitar dua bulan dengan penyimpanan pada
kelembapan dan suhu yang sesuai (Astawan 2009).

Manfaat Bengkoang

Bengkuang termasuk umbi-umbian yang memiliki kandungan air tinggi. Bentuknya bulat
dengan ujung yang meruncing. Buah ini sering digunakan untuk bahan rujak. Bengkoang
kaya akan vitamin C, kalsium, fosfor dan serat makanan (Sekarinda dan Rosalin 2006).

Komposisi kimia yang seperti itu memungkinkan umbi bengkuang digunakan sebagai
obat, baik obat luar maupun obat dalam. Untuk obat luar, bengkuang dijadikan masker wajah
yang memberikan kesegaran pada kulit wajah. Untuk obat dalam, bengkuang dapat mengatasi
penyakit diabetes melitus, demam, eksim, sariawan dan wasir.
Menurut Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI (1992) komposisi bengkuang dapat
dilihat pada tabel berikut:

Pati Bengkuang

Pati atau amilum yang terdapat dalam alam tidak larut dalam air dan memberikan
warna biru dengan iodium. Hasil hidrolisis pati/ amilum adalah glukosa. Hidrolisis
pati akan terjadi pada pemanasan dengan asam encer dimana berturut-turut akan
dibentuk amilodeksterin yang memberikan warna biru dengan iodium, eritrodekstrin
memberi warna merah dengan iodium serta berturut-turut akan dibentuk
akroodekstrin, maltosa dan glukosa yang tidak memberi warna dengan iodium.

Pati adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih,
tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan
untuk menyimpan kelebiham glukosa dalam jangka panjang. Hewan dan manusia
juga menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting.

Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi
yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras sedangkan amilopektin
menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin
sedangkan amilopektin tidak bereaksi. Penjelasan untuk gejala ini belum pernah bisa
tuntas dijelaskan.

Dalam bahasa sehari-hari isitlah “pati” kerap dicampuradukkan dengan “tepung” serta
“kanji”. Pati adalah penyusun uatama dari tepung. Tepung bisa jadi tidak murni hanya
mengandung pati, karena tercampur dengan protein, pengawet dan sebagainya.
Tepung beras mengandung pati beras, protein, vitamin dan lain-lain bahan yang
terkandung pada bulir beras. Orang bisa juga mendapatkan tepung yang merupakan
campuran dua atau lebih pati. Kata tepung lebih berkaitan dengan komoditas
ekonomis. Kerancuan penyebutan pati dengan kanji tampaknya terjadi karena
penerjemahannya.

Pati digunakan sebagai bahan untuk memekatkan makanan cair seperti sup dan
sebagainya. Dalam industri, pati dipakai sebagai komponen perekat, campuran kertas
dan tekstil serta pada industri kosmetik.
3. ALAT DAN BAHAN
Alat Bahan
 Gelas ukur  Serbuk daun sirih
 Beaker glass  Serbuk daun jambu biji
 Erlenmeyer  Etanol
 Corong kaca
 Botol gelap
 Batang pengaduk
 Kain flanel
 Kertas saring
 Evaporator
 Oven

Cara Kerja
1. Pembuatan sebuk simplisia

Timbang simplisia daun


jambu biji

Lakukan pembuatan serbuk


dengan alat yang sesuai

Ayak dengan nomor


ayakan 60 yang sesuai

Timbang serbuk yang


dihasilkan

Hitung rendemennya
2. Pembuatan ekstrak

Sebanyak 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan ke dalam
botol gelap. Tuangi 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari
terlindung dari cahaya, sambil berulang ulang diaduk.

Setelah 5 hari diserkai, residu diperas. Residu + cairan penyari


secukupnya, diaduk dan diserkai, hingga diperoleh sari sebanyak 100
bagian.

Botol gelap ditutup, dibiarkan di tempat sejuk, terlindung


cahaya, selama 2 hari (jangan diaduk).

Setelah 2 hari, endapan dipisahkan dari filtrat.

Filtrat hasil maserasi dibuat sediian ekstrak kental sbb:


ekstrak diuapkan di atas penangas air dengan penurunan tekanan menggunakan bantuan kipas
angin sambil diaduk-aduk sampai diperoleh ekstrak dengan konsistensi kental. (suhu pemanasan
selalu dikontrol)

Timbang bobot ekstra kental yang diperoleh.

Hitung rendemennya.

Lakukan hal yang sama pada daun sirih


4. Hasil
5. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan preparasi simplisia umbi bengkoang
sampai terbentuk pati kering yang kemudian dilakukan analisis kandungan senyawa. Tujuan
praktikum ini adalah praktikan mampu melakukan preparasi bengkoang tanpa pengeringan
yaitu proses pembuatan memerlukan air, setelah itu dilakukan analisis kandungan senyawa
dalam pati bengkoang. Preparasi bengkoang dapat menggunakan dua metode yaitu metode
pertama, menggunakan blender dan metode kedua, menggunakan parut. Dalam praktikum ini
preparasi bengkoang menggunakan blender. Kandungan senyawa dalam bengkoang yang
dianalisis adalah senyawa amilum, dilakukan dengan uji karbohidrat dan uji amilum.

Proses preparasi bengkoang yaitu menimbang umbi bengkoang 500 gram, kupas dan
pisahkan dari kulitnya. Kemudian diblender sampai halus, peras sari menggunakan kain
flanel pastikan hingga kadar air dalam bengkoang habis. Ampasnya dibuang karena tidak
diperlukan, selanjutnya air hasil perasan diendapkan dalam wadah botol ±1000 ml
semalaman (overnight) pada suhu ruang. Setelah semalaman dihasilkan supernatan dan
endapan. Supernatan dibuang, pastikan sari bengkoang mengendap dibawah wadah. Sari
bengkoang ditimbang dan dituang dalam gelas dan dioven pada suhu 45 oC selama ± 3 hari
sampai terbentuk sari pati yang kering. Setelah kering, pati bengkoang dikeringanginkan pada
suhu ruang sampai benar- benar kering. Setelah benar kering, pati bengkoang digerus sampai
halus dan diayak dengan ayakan mesh no 40 sehingga dihasilkan pati dalam bentuk serbuk
halus kemudian ditimbang. Randemen yang dihasilkan dari pati bengkoang yaitu……..%.
Hasil randemen dapat dipengaruhi beberapa faktor yaitu mutu bahan baku (kondisi tanaman,
umur panen), penanganan pasca panen (pengeringan, penyimpanan) dan proses ekstraksi
(perajangan, penggilingan/penghalusan, penyaringan, dan pengeringan).

Analisis senyawa amilum dalam pati bengkoang dilakukan dengan uji karbohidrat dan
uji iodium. Uji karbohidrat, larutan amilum dari pati bengkoang direaksikan dengan reagen
molisch (α-naftol dalam etanol atau kloroform) dalam tabung reaksi. Kocok sedikit sampai
bercampur setelah itu, ditambahkan asam sulfat pekat perlahan-lahan melalui dinding tabung
reaksi yang dimiringkan tanpa proses pengadukan atau pengocokan, larutan akan membentuk
suatu lapisan seperti cincin di dasar tabung. Penambahan reagen molisch digunakan sebagai
pereaksi uji karbohidrat untuk mengetahui adanya karbohidrat. Penambahan asam sulfat
dilakukan melalui dinding tabung karena larutan tersebut bersifat eksotermis sehingga panas
dari larutan tersebut dapat melubangi dasar tabung. Larutan asam sulfat akan menghidrolisis
ikatan glikosidik karbohidrat menjadi monosakarida. Asam sulfat sebagai agen dehidrasi
pada gula untuk membentuk furfural dan turunannya yang dikombinasikan dengan α naftol
untuk membentuk produk berwarna. Pembentukan furfural ini merupakan reaksi dehidrasi
atau pelepasan molekul air dari suatu senyawa. Pereaksi molisch membentuk cincin berwarna
ungu pada larutan yang mengandung karbohidrat. Berdasarkan pengujian yang dilakukan
pada larutan pati bengkoang dengan reaksi molisch dan asam sulfat menunjukkan hasil positif
mengandung karbohidrat. Hasil tersebut terlihat jelas dengan adanya perubahan warna dari
tabung reaksi. Perubahan warna tersebut membentuk lapisan cincin yang berwarna ungu
ketika direaksikan dengan α naftol dan asam sulfat pekat.

Uji amilum, membuat larutan pati bengkoang dalam tabung reaksi kemudian tetesi
dengan larutan iodium. Larutan iodium digunakan untuk menguji adanya amilum. Pati dan
iodium membentuk ikatan komplek berwarna biru sampai tidak berwarna. Jika amilosa
direaksikan dengan iodium maka akan berwarna biru, amilopektin direaksikan dengan iodium
akan memberikan warna ungu kehitaman, dekstrin akan memberikan warna merah anggur,
sedangkan glikogen dan pati mengalami hidrolisis parsial akan memberikan warna merah
cokelat. Berdasarkan pengujian yang dilakukan pada larutan pati bengkoang dengan uji
iodium menunjukkan hasil positif mengandung amilum (glikogen dan pati). Hasil terlihat
dengan adanya perubahan warna tabung reaksi menjadi larutan coklat.

Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, pati bengkoang yang telah dilakukan
pengujian uji karbohidrat menggunakan reagen molisch dengan penambahan asam sulfat dan
dilakukan uji penambahan iodium menunjukkan bahwa pati bengkoang mengandung adanya
karbohidrat dan amilum berupa glikogen dan pati.

6. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Ektraksi umbi bengkoang diperoleh randemen pati sebanyak ……….%


2. Pengujian molisch dan uji iodium, pati bengkoang mengandung karbohidrat dan amilum
berupa glikogen dan pati.
7. DAFTAR PUSTAKA

Astawan, M. 2009. Antioksidan Tingkatan Pamor Bengkuang. Jakarta : PT.


Agromedia Pustaka

Departemen Perindustrian RI. 1992. Standar Mutu Gula Semut (SII-2043-87). Jakarta

Hilman, Adrian. 2012. Karakteristik Polisakarida Larut Air (PLA) Umbi Bengkuang
dari Berbagai Metode Ekstraksi. Sumatera Utara. Universitas Sumatra Utara

Rosalin, H., & Sekarinda, TI. 2006. Terapi Jus Buah dan Sayur. Depok: Niaga
Swadaya

Van, Steenis C.G.G.J.. 2005. Flora. Jakarta: PT Pradnya Paramita.