Anda di halaman 1dari 4

Nama: Winda Aulia Saputri

Kelas: XII IPS 3

Filosofi Kopi

1. Identitas Buku:
Judul: Filosofi Kopi
Pengarang: Dee Lestari
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2012
Tebal Buku: 139 halaman

2. Pertanyaan:
1. Apa yang membuat tokoh Ben merasa tertantang untuk membuat kopi
dengan rasa yang sempurna?
2. Bagaimana awal mula Ben mengetahui Kopi Tiwus Pak Seno??
3. Mengapa kedai kopi milik Ben dan Jody sempat tutup?
4. Siapa tokoh yang bersahabat sekaligus menjadi partner Ben dalam membuka
kedai kopi?
5. Kapan Ben kembali membuka kedai kopinya?
6. Dimana Ben dan Jody menemukan warung Pak Seno?
3. Jawaban Pertanyaan:
1. Ben tertantang dalam membuat kopi dengan rasa yang sempurna karena ada
seseorang pria perlente 30 tahunan dan kaya raya yang menginginkan kopi
dengan rasa yang sempurna sedangkan menu di kedai kopi miliki Ben dirasa
tidak ada yang cocok dengannya. Pria itu menantang untuk dapat membuat
kopi dengan rasa sesempurna mungkin serta menginginkan kopi yang
apabila diminum akan membuat kita menahan napas saking takjubnya, dan
cuma bisa berkata: hidup ini sempurna. Pria itu menawarkan imbalan
sebesar 50 juta jika Ben dapat mewujudkannya. Ben pun bekerja keras dalam
membuat kopi tersebut dan merasa tertantang juga tertarik dengan tawaran
uang yang diberikan oleh pria kaya raya itu. Sehingga Ben pun berhasil
membuat kopi yang ia beri nama Ben’s Perfecto dengan rasa yang sempurna.
(Halaman 8-14)
2. Ben mengetahui Kopi Tiwus Pak Seno saat dimana ada seorang pria setengah
baya yang masuk ke kedai kopi milik Ben dan pria itu disambut oleh Jody.
Pria itu dipesankan oleh Jody kopi Ben’s Perfecto karena pria itu berkata
pada Jody untuk terserah memesankan kopi apa untuk dia. Saat Ben yang
bergantian melayani pria tua baya itu, Ben bertanya tentang rasa kopi yang
dibuatnya untuk pria itu. Lalu, pria itu hanya berkata biasa saja dan ada kopi
yang rasanya tidak jauh beda dengan kopi yang Ben buat. Ben dengan
penasaran bertanya pada pria itu kopi apa yang diminumnya dan
memaksanya untuk memberitahu dimana kopi yang ia minum rasanya tidak
jauh beda dengan kopi yang Ben buat, padahal kopi yang Ben buat adalah
rasa yang paling sempurna dan enak menurutnya. Setelah itu, Ben dan Jody
pun pergi menuju tempat yang ditunjukkan oleh pria setengah baya itu.
Mereka pun menemukannya, kopi itu adalah Kopi Tiwus milik Pak Seno.
(Halaman 14-17)
3. Kedai kopi milik Ben dan Jody sempat tutup karena Ben yang frustasi dan
ingin pensiun dari meramu kopi. Ia merasa telah diperalat oleh seseorang
yang merasa punya segalanya dan telah menjebaknya dalam tantangan
bodoh yang hanya menjadi pemuas egonya saja. Ben sendiri merasa
terperangkap dalam kesempurnaan palsu. Ia malu kepada dirinya sendiri dan
kepada orang-orang yang dijejali dengan kegombalan Ben’s Perfecto. Kopi
Tiwus itu membuat ia sadar, bukan cuma sok tahu, mencoba membuat
filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya,tapi yang lebih parah, ia sudah
merasa membuat kopi paling sempurna di dunia. Ben merasa telah menjadi
barista yang buruk. semangat hidup Ben pupus seperti lilin tertiup angin,
sama nasibnya seperti kedai kopi mereka yang padam. Tutup. (Halaman 22-
25)
4. Tokoh yang bersahabat sekaligus menjadi partner Ben dalam membuka kedai
kopi adalah Jody. Dia resmi menjadi rekan kerja Ben setahun yang lalu.
Berdasarkan asas saling percaya antarsahabat ditambah kenekatan
berspekulasi, ia menyerahkan seluruh tabungannya menjadi saham di kedai
milik mereka. Selain modal dalam bentuk uang dan ilmu administrasi, ia juga
tidak mengetahui apa-apa tentang kopi. (Halaman 2)
5. Ben kembali membuka kedai kopinya setelah berbincang-bincang dengan
Jody, sahabatnya itu. Jody kembali memberikan semangat kepada Ben untuk
kembali bangkit membuka kedai kopi yang sempat tutup itu, ditemani
secangkir Kopi Tiwus yang didapatkannya setelah kembali dari warung Pak
Seno. Setelah perbincanagn itu, pada kaca besar kedai, tampak siluet tangan
yang kembali menari di dalam bar, menyiapkan peralatan untuk kedai kopi
ini, membangunkan Filosofi Kopi yang lama diam bagai bubuk kopi tanpa
riak air. (Halaman 27-29)
6. Ben dan Jody menemukan warung Pak Seno tepat di penghujung jalan,
sebuah warung reyot dari gubuk berdiri di atas bukit kecil, ternaungi
pepohonan besar. Di halamannya terdapat tampi-tampi berisi biji kopi yang
baru dipetik. Di sekitar gubuk itu terdapat tanaman perdu dengan bunga-
bunga putih yang semarak bermunculan di sana sini. Seluruh bukit kecil itu
ditanamin oleh tanaman kopi. Mereka mengalami perjalanan yang jauh
sampai menginap di Klaten demi memenuhi obsesi Ben terhadap kopi yang
katanya lebih enak. (Halaman 17-20)
4. Komentar:
1. Kelebihan:
Kelebihan dari novel ini adalah ceritanya yang singkat sehingga dapat
membuat orang-orang yang kurang berminat dengan novel berisi tebal
menjadi tertarik untuk mebaca novel ini dengan gaya bahasanya yang juga
indah untuk dibaca.. Novel ini juga berisi kumpulan cerita yang menarik dan
dapat membuat pembacanya penasaran. Selain itu, terdapat pesan tersirat di
dalam novel ini yang dapat diambil oleh pembacanya.
2. Kekurangan:
Kekurangan dari novel ini adalah gaya bahasanya yang indah namun sulit
untuk dimengerti sehingga pembacanya harus berpikir terlebih dahulu
maksud dari cerita dan prosa tersebut. Dilihat dari cover, khususnya bagi
remaja, cover tersebut kurang menarik sehingga menurunkan minat orang-
orang untuk membacanya.