Anda di halaman 1dari 39

CLINICAL REPORT SESSION (CRS)

*Kepaniteraan Klinik Senior

**Pembimbing

GENERALIZED ANXIETY DISORDER

Oleh :

Bella Merisa Liona G1A218018

M. Galihka Ayatullah G1A218021

Fitrah Afdhal G1A218033

Nadaa Fahmi Shofi G1A218040

Pembimbing : dr. Diva Mariska Tarastin, Sp. KJ

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU KESEHATAN JIWA

RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI JAMBI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JAMBI

2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kepada Allah subhana wataála atas segala limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Case Report
Session (CRS) yang berjudul Generalized Anxiety Disorder sebagai kelengkapan
persyaratan dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Ilmu Kesehatan
Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Daerah Jambi.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Diva Mariska Tarastin, Sp. KJ
yang telah bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing penulis
selama menjalani Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa di
Rumah Sakit Jiwa Daerah Jambi.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun dari pihak sangat diharapkan guna
kesempurnaan laporan CRS ini, sehingga dapat bermanfaat bagi penulis dan para
pembaca.

Jambi, Oktober 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

Sensasi anxietas sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut
ditandai oleh ketakutan yang difus, tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh
gejala otonomik, seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan
sebagainya. Anxietas merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik yang sering
merupakan satu fungsi emosi. Kumpulan gejala tertentu yang ditemui selama
kecemasan cenderung bervariasi, pada setiap orang tidak sama. Anxietas yang
patologik biasanya merupakan kondisi yang melampaui batas normal terhadap satu
ancaman yang sungguh-sungguh dan maladaptif.1,2

Anxietas sendiri dapat sebagai gejala saja yang terdapat pada gangguan
psikiatrik, dapat sebagai sindroma pada neurosis cemas dan dapat juga sebagai
kondisi normal. Anxietas normal sebenarnya suatu hal yang sehat, karena
merupakan tanda bahaya tentang keadaan jiwa dan tubuh manusia supaya dapat
mempertahankan diri dan anxietas juga dapat bersifat konstruktif, misalnya seorang
pelajar yang akan menghadapi ujian, merasa cemas, maka ia akan belajar secara
giat supaya kecemasannya dapat berkurang.2

Gangguan cemas adalah alah satu gangguan mental yang paling lazim terjadi
di masyarakat umum. Hampir 30 juta orang yang terkena gangguan ini di Amerika
Serikat, dengan angka kejadian pada wanita yang dapat terkena hampir dua kali
lebih sering dibanding pria. Gangguan kecemasan yang berhubungan dengan
kejadian morbiditas yang cukup signifikan, sering menjadi kronis dan cenderung
resisten terhadap pengobatan. Gangguan kecemasan dapat dilihat sebagai bagian
dari gangguan mental terkait, yang dapat diklasifikasikan dalam Diagnostik dan
Statistik Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV-TR), yaitu : (1)
gangguan panik dengan atau tanpa agoraphobia, (2) agoraphobia dengan atau
tanpa gangguan panik, (3) fobia spesifik, (4) fobia sosial, (5) obsesif-kompulsif
(OCD), (5) gangguan stres pasca trauma (PTSD), (6) gangguan stres akut, dan (7)
gangguan kecemasan umum.3
Sebuah aspek menarik dari gangguan kecemasan adalah interaksi antara faktor
genetik dan pengalaman. Ada sedikit keraguan bahwa gen yang abnormal dapat
menyebabkan seseorang rentan terhadap keadaan kecemasan patologis, namun
bukti jelas menunjukkan bahwa peristiwa kehidupan yang traumatis dan stres juga
dapat menjadi penyebab yang cukup penting.3

Pengalaman kecemasan memiliki dua komponen : kesadaran sensasi fisiologis


(misalnya, jantung berdebar dan berkeringat) dan kesadaran bahwa mereka gugup
atau ketakutan.3

Selain efek motorik dan efek viseral, kecemasan dapat mempengaruhi


pemikiran, persepsi, dan belajar. Hal ini cenderung menghasilkan kebingungan dan
distorsi persepsi, tidak hanya waktu dan ruang tetapi juga dari orang dan makna
dari suatu peristiwa. Distorsi ini dapat mengganggu belajar dengan menurunkan
konsentrasi, mengurangi ingat, dan merusak kemampuan untuk berhubungan
dengan bagian lain untuk membuat asosiasi.3
BAB II

LAPORAN KASUS

STATUS PSIKIATRI

No Rekam Medik : 073315

Nama Pasien : Ny. A

Tanggal Periksa : 22 September 2018

Jam Periksa : 11.55 WIB

KETERANGAN PRIBADI PASIEN

 Nama : Ny. A
 Jenis kelamin : Perempuan
 Tempat, Tanggal Lahir : Bogor, 15 Juni 1971
 Umur : 47 tahun
 Status Perkawinan : Menikah
 Bangsa : Indonesia
 Suku : Sunda
 Agama : Islam
 Pendidikan Terakhir : SMA
 Pekerjaan : Wiraswasta
 Alamat : RT 45 Sans Mustika Kelurahan Lingkar
Selatan Kecamatan Paalmerah, Kota Jambi

A. RIWAYAT PSIKIATRI
Keterangan anamnesis di bawah ini diperoleh dari autoanamnesis.
1. Pasien datang ke fasilitas kesehatan ini atas keinginan
Pasien datang ke RSJ atas kehendak sendiri
2. Keluhan Utama
Cemas sejak 2 bulan yang lalu
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Dua bulan sebelum pasien datang ke poliklinik RSJD Provinsi Jambi,
pada sore hari pasien mengobrol dengan tetangga perihal dosa jika
berhutang dan azab yang akan diterima ketika sudah meninggal jika
hutang tidak lunas, pada saat itu pasien memang sedang terlilit hutang
yang terbilang cukup banyak. Setelah itu, pasien pulang ke rumah dan
merasakan kecemasan karena terpikir tentang obrolannya. Pasien
merasakan jantungnya berdebar-debar dan kepala tegang dan kaku
hingga ke pipi. Pasien juga memiliki perasaan takut mati. Awalnya,
kecemasan hanya muncul sesekali dan tidak setiap hari. Pasien
mengabaikan rasa cemasnya karena menganggap itu hal yang biasa.
Selain itu pasien juga berusaha melunasi hutang-hutangnya hingga
tinggal sedikit dan tidak menjadi beban pikirannya lagi. Namun
kecemasan tak kunjung hilang hingga sebulan kemudian, justru muncul
setiap hari dengan intensitas minimal dua kali sehari. Kecemasan
biasanya muncul ketika pasien sedang sendiri dan tidak melakukan
aktivitas apa-apa. Ketika kecemasan datang biasanya pasien
mengalihkannya dengan mencari teman yang bisa diajak ngobrol atau
melakukan aktivitas apapun yang dapat mengalihkan perhatiannya.
Pasien juga mengalami kesulitan untuk memulai tidur. Kemudian pasien
memeriksakan diri ke dokter umum dan mendapatkan terapi berupa
alprazolam, eperison hydrochloride, dan neurofa untuk 3 hari. Pasien
tidak ingat dosis obat tersebut. Ketika mengkonsumsi obat tersebut,
keluhan sulit tidur pasien teratasi namun kembali lagi setelah obat habis
sedangkan kecemasan tidak kunjung hilang. Pasien memeriksakan diri
kembali ke dokter yang sama dan mendapat terapi yang sama untuk 3
hari dengan catatan jika keluhan tak kunjung membaik maka akan
dirujuk ke Poliklinik Jiwa. Ternyata setelah mengkonsumsi obat yang
sama selama 3 hari, keluhan tak kunjung membaik dan pasien dirujuk
ke Poliklinik Jiwa Provinsi Jambi.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat Gangguan Psikiatri
- Os belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya
- Os belum pernah berobat ke poliklinik jiwa ataupun RSJ
b. Riwayat Gangguan Medik
- Riwayat hipertensi disangkal
- Riwayat diabetes melitus disangkal
- Riwayat kejang disangkal
- Riwayat jatuh disangkal
c. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol
Disangkal
5. Riwayat Alergi
Disangkal
6. Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat gangguan psikiatri disangkal
- Riwayat gangguan medik disangkal

B. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak ke-9 dari sembilan bersaudara, dibesarkan
dalam lingkungan budaya Sunda, kultur Kristen dan Islam dengan keadaan
ekonomi berkecukupan namun tidak berlebih. Pasien sudah menikah dan
mempunyai 5 orang anak. Pasien tinggal di Jambi selama setahun dengan
dua suami dan dua orang anak bungsunya, kemudian di Jakarta selama
setahun tinggal bersama ketiga anak pertamanya, begitu seterusnya setiap
tahun. Keluarga pasien saat ini cukup harmonis, hubungan pasien dengan
saudara kandung baik.
C. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat prenatal dan antenatal
Pasien merupakan anak yang diharapkan. Ibu tidak mengalami kelainan
fisik dan mental selama mengandung pasien. Pasien dikandung selama
12 bulan. Pasien dilahirkan spontan, ditolong oleh dokter, berat badan
lahir tidak diketahui, tidak ada kelainan fisik pada saat lahir.
2. Masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
pasien mendapatkan ASI hingga usia 2 tahun, tidak diselingi susu
formula. Tidak ada kesulitan dalam pemberian ASI atau makanan
kepada pasien. Pasien mudah diatur sejak kecil dan tidak rewel. Pasien
jarang sakit-sakitan. Pasien tidak mengetahui tahapan perkembangan
dan pertumbuhannya sewaktu kecil.
3. Masa kanak-kanak menengah (3-11 tahun)
Pasien memulai bangku pendidikan di Taman Kanak-Kanak, kemudian
masuk SD. Pada hari-hari pertama masuk TK pasien bersama kakaknya
yang juga sudah bersekolah di tempat itu dan tidak perlu ditunggui.
Kemampuan adaptasi dan pergaulan pasien dengan teman-temannya
baik, teman sepermainannya terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Identifikasi gender pasien tidak mengalami masalah. Hubungan pasien
dengan gurunya cukup baik selama pasien sekolah. Prestasi pasien
selama di sekolah dasar cukup baik dimana pasien selalu naik kelas
dengan nilai pasien berada dalam rentang rata-rata.
4. Masa pubertas hingga dewasa
a. Hubungan sosial
Pasien memiliki cukup teman baik laki-laki maupun perempuan.
Popularitas pasien di antara teman-temannya cukup dan partisipasi
pasien di antara teman-teman perempuan cukup. Perilaku antisosial
dan agresif tidak pernah dilakukan oleh pasien.
b. Riwayat sekolah
Pasien hanya bersekolah hingga tamat SMA dan langsung bekerja.
c. Perkembangan kognisi dan motoric
Pasien tidak ingat kapan bisa mulai membaca dan berhitung. Pasien
tidak mengalami gangguan dalam proses belajar.
d. Masalah emosi dan fisik
Masalah emosi dan fisik disangkal.
e. Riwayat psikoseksual
Masalah tentang seks pasien ketahui sendiri tanpa mendapat
pendidikan seks dari orangtuanya. Pasien mengalami pubertas dan
perkembangan organ kelamin sekunder pada usia 12 tahun. Pasien
mulai tertarik pada lawan jenis pada usia 15 tahun. Pasien
melakukan aktivitas seksual setelah menikah.
f. Latar belakang agama
Pasien mendapatkan pendidikan agama yang cukup dari
orangtuanya. Kondisi religi pasien saat ini kurang.
g. Riwayat pekerjaan
Pasien pertama kali bekerja setelah tamat SMA di bagian kasir
selama 3 tahun dan keluar dari pekerjaan karena pacarnya saat itu
tidak membolehkan ia bekerja dan cemburu dengan rekan kerja
pasien. Enam bulan kemudian pasien menikah dengan pacarnya.
Kemudian pasien berpisah dengan suaminya pada tahun 2008.
Pasien tidak bekerja sampai menikah kembali pada tahun yang
sama. Saat ini, pasien membuka toko pakaian.
h. Aktivitas sosial
Pasien bila ada masalah lebih banyak menceritakan kepada
oranglain daripada diam. Hubungan pasien dengan tetangganya
cukup baik. Pasien sering mengikuti acara pengajian di
lingkungannya.
i. Kehidupan seksual
Orientasi seksual pasien terhadap lawan jenis.
j. Riwayat pernikahan
Pasien tidak mengetahui pada tahun berapa pertama kali menikah,
ia hanya ingat menikah hampir 4 tahun setelah tamat SMA. Pasien
menikah yang pertama dan mempunyai anak 3 orang. Pada tahun
2008, pasien bercerai karena suami pasien selingkuh dan pasien
menikah untuk yang kedua kalinya pada tahun yang sama dan
mempunyai 2 orang anak.
k. Riwayat militer
Pasien tidak pernah melakukan pendidikan militer. Pasien tidak
pernah terlibat masalah hukum dan kepolisian.

D. Pemeriksaan Fisik Saat Ini


1. Keadaan umum
- Kesadaran : Compos mentis
- GCS : 15
2. Tanda-Tanda Vital
- TD : 120/60 mmHg
- Nadi : 80x/menit
- Suhu : 36oC
- RR : 18x/menit
3. Status Gizi
- Tinggi Badan : 145 cm
- Berat Badan : 42 kg
- IMT : 20
- Status gizi : gizi baik
4. Pemeriksaan kulit : turgor normal
5. Pemeriksaan kepala : wajah simetris
Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
Mulut : mukosa mulut basah
6. Pemeriksaan leher : JVP tidak meningkat, KGB teraba
7. Pemeriksaan thorax : bentuk dan pergerakan simetris
8. Pemeriksaan pulmo : sonor (+), wheezing (-), rhonki (-)
Jantung : bunyi jantung murni regular, murmur (-)
9. Pemeriksaan abdomen : datar lembut
hepar dan lien tidak teraba, bising usus (+)
normal
10. Pemeriksaan ekstremitas : dalam batas normal, edema (-/-)
11. Pemeriksaan neurologis : dalam batas normal
12. Pemeriksaan penunjang lainnya
Pemeriksaan laboratorium: tidak dilakukan pemeriksaan

E. PEMERIKSAAN STATUS PSIKIATRI


Pemeriksaan dilakukan di Poliklinik RSJD Provinsi Jambi pada tanggal
22 September 2018, pukul 11.55 WIB. Hasil pemeriksaan ini
menggambarkan situasi keadaan pertama kali datang berobat.
1. Deskripsi Umum
a. Penampilan
Seorang perempuan berpenampilan sesuai dengan usia, kondisi fisik
tampak sehat, perawakan pendek dan kurus. Cara berpakaian cukup
rapi, kebersihan diri baik, dan roman muka tampak agak cemas.
b. Kesadaran umum
Compos mentis
c. Orientasi
Waktu : baik, pasien mengetahui waktu ketika wawancara
Tempat : baik, pasien mengetahui dimana dilakukan
wawancara
Orang : baik, pasien mengenali orang-orang sekitar
d. Perilaku terhadap pemeriksa
Sepanjang wawancara pasien duduk tanpa menyandar dengan posisi
agak membungkuk, kontak mata dengan pemeriksa cukup dan
bergerak cepat, serta kooperatif.

e. Karakteristik bicara
Pasien bicara cukup keras dan cepat seperti terburu-buru.
Kemampuan berbahasa cukup
- Kuantitas bicara : baik
- Kualitas bicara : bicara spontan saat ditanya oleh pemeriksa,
artikulasi jelas, semua pertanyaan dapat dijawab dan dapat
dimengerti.
f. Tingkah laku dan aktivitas psikomotor
Pasien terkadang meremas-remas jari tangannya dan menarik-narik
pangkal rambut bagian depan.
2. Alam Perasaan
a. Mood : Cemas
b. Afek : Cemas
c. Keserasian : Serasi dengan mood (mata bergerak cepat, bicara
terburu-buru, gerak tubuh meremas-remas jari)
3. Gangguan Persepsi
a. Halusinasi : disangkal
b. Ilusi : disangkal
4. Proses Pikir
a. Bentuk pikir : Realistik
b. Arus pikir : Koheren
c. Isi pikir
Preokupasi (+) tentang gangguan yang dialaminya
Ide – ide :
- Rasa takut akan kematian (+)
- Rasa bersalah disangkal
- Perasaan tidak berguna disangkal
- Pandangan masa depan yang suram dan pesimis disangkal

Waham disangkal

5. Fungsi Intelektual / Kognitif


a. Daya konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi dan perhatian baik karena dapat mengikuti wawancara
sampai selesai dengan baik.
b. Orientasi
Waktu : baik, pasien mengetahui waktu ketika wawancara
Tempat : baik, pasien mengetahui dimana dilakukan
wawancara
Orang : baik, pasien mengenali orang-orang sekitar
c. Daya ingat
Jangka panjang : baik, pasien masih dapat mengingat masa
kanak-kanak dan remajanya yang
mempunyai banyak teman
Jangka pendek : baik, pasien ingat dengan siapa ia datang
dan siapa orang sekitarnya
Segera : baik, pasien dapat mengikuti perintah yang
baru saja diberikan
d. Berpikir abstrak
Baik, tidak terdapat gangguan
e. Daya Nilai
Baik
f. Pengendalian Impuls
Kurang baik
g. Tilikan
Tilikan derajat 6 : menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya
disertai mptivasi untuk mencapai perbaikan
h. Taraf Dapat Dipercaya
Pemeriksa memperoleh kesan bahwa jawaban pasien dapat
dipercaya
6. Pemeriksaan Tambahan
Kuesioner Hamington Anxiety Rating Scale (HARS)
Tanggal pemeriksaan : 22 September 2018
Skor: 17
Kesan : Kecemasan ringan
7. Diagnosis Multiaksial
Aksis I : F41.1 Gangguan Cemas Menyeluruh
Aksis II : Z 03.2 Tidak ada diagnosis gangguan kepribadian
Ciri kepribadian ekstrovert
Aksis III : tidak ada diagnosa
Aksis IV : masalah psikososial
Aksis V : GAF scale 1 tahun terakhir 90 – 81
(gejala minimal, berfungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari
masalah harian yang biasa)
GAF scale saat ini 70 – 61
(beberapa gejala ringan & menetap, disabilitas ringan dalam
fungsi, secara umum masih baik)
8. Penatalaksanaan
a. Terapi medikamentosa
- Fluoxetin tab 20 mg 1x1 malam
- Clobazam 5 mg

Untuk 15 hari

b. Psikoterapi
- Membina raport dengan pasien sehingga pasien merasa nyaman
dan aman untuk menceritakan apa yang sedang dirasakan serta
riwayat penyakitnya.
- Memberikan informasi kepada pasien mengenai penyakitnya
serta edukasi untuk mengkonsumsi obat dan untuk datang lagi
melakukan konsultasi agar dapat dilihat perkembangan
penyakitnya oleh psikiater.
9. Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Gangguan cemas menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder, GAD)
merupakan kondisi gangguan yang ditandai dengan kecemasan dan
kekhawatiran yang berlebihan dan tidak rasional bahkan terkadang tidak
realistik terhadap berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dialami
hampir sepanjang hari, berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 bulan.
Kecemasan yang dirasakan sulit untuk dikendalikan dan berhubungan dengan
gejala-gejala somatik seperti ketegangan otot, iritabilitas, kesulitan tidur, dan
kegelisahan sehingga menyebabkan penderitaan yang jelas dan gangguan yang
bermakna dalam fungsi sosial dan pekerjaan.4,5
GAD ditandai dengan kecemasan yang berlebihan dan khawatir yang
berlebihan tentang peristiwa-peristiwa kehidupan sehari-harinya tanpa alasan
yang jelas untuk khawatir. Kecemasan ini tidak dapat dikontrol sehingga dapat
menyebabkan timbulnya stres dan mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan
dan kehidupan sosial.4,5
Pasien dengan GAD biasanya mempunyai rasa risau dan cemas yang
berlanjut dengan ketegangan motorik, kegiatan autonomik yang berlebihan, dan
selalu dalam keadaan siaga. Beberapa pasien mengalami serangan panik dan
depresi.4

B. Epidemiologi
Angka prevalensi untuk gangguan cemas menyeluruh 3-8% , dengan
prevalensi pada wanita > 40 tahun sekitar 10%. Rasio antara perempuan dan
lakilaki sekitar 2:1. Onset penyakit biasanya muncul pada usia pertengahan
hingga dewasa akhir, dengan insidens yang cukup tinggi pada usia 35-45 tahun.
GAD merupakan gangguan kecemasan yang paling sering ditemukan pada usia
tua.6,7,8
C. Etiologi
Terdapat beberapa teori yang menjelaskan faktor yang diduga
menyebabkan terjadinya gangguan cemas menyeluruh. Teori-teori tersebut
antara lain :
1. Kontribusi Ilmu Psikologi
Tiga sekolah utama psikologis theory yaitu psikoanalitik, perilaku, dan
eksistensial telah memberikan kontribusi teori tentang penyebab
kecemasan. Teori masing-masing memiliki kegunaan baik konseptual
dan praktis dalam mengobati gangguan kecemasan.3
a. Teori psikoanalitik
Meskipun Freud awalnya diyakini bahwa kecemasan berasal dari
penumpukan fisiologis libido, ia akhirnya merumuskan kembali
kecemasan sebagai sinyal adanya bahaya di bawah sadar.
Menanggapi sinyal ini, ego digunakan sebagai mekanisme
pertahanan untuk mencegah pikiran dan perasaan yang tidak dapat
diterima yang muncul ke dalam kesadaran. Dari perspektif
psikodinamik, tujuan terapi tidak diperlukan untuk menghilangkan
kecemasan semua tapi untuk meningkatkan toleransi kecemasan,
yaitu, kemampuan untuk mengalami kecemasan dan
menggunakannya sebagai sinyal untuk menyelidiki konflik yang
mendasari yang telah menciptakannya. Kecemasan muncul sebagai
respon terhadap berbagai situasi selama siklus hidup dan, meskipun
agen psychopharmacological mungkin memperbaiki gejala,
mereka mungkin tidak melakukan apapun untuk mengatasi situasi
hidup atau berkorelasi internal yang telah mendorong keadaan
kecemasan.3
Untuk memahami sepenuhnya kecemasan pasien dari pandangan
psikodinamik, seringkali berguna untuk berhubungan kecemasan
atas masalah-masalah perkembangan. Pada tingkat awal,
kecemasan disintegrasi mungkin ada. Kecemasan ini berasal dari
ketakutan bahwa fragmen kehendak diri karena orang lain tidak
menanggapi dengan penegasan diperlukan sebagai validasi.
Kecemasan persecutory dapat dihubungkan dengan persepsi bahwa
diri sedang diserbu dan dimusnahkan oleh suatu kekuatan jahat dari
luar. Sumber lain dari kecemasan melibatkan anak yang takut
kehilangan cinta atau persetujuan orang tua atau kekasih. Pada
tingkat yang paling dewasa, superego kecemasan berhubungan
dengan perasaan bersalah tentang tidak memenuhi standar
diinternalisasi perilaku moral yang berasal dari orang tua.
Seringkali, sebuah wawancara psikodinamik dapat menjelaskan
tingkat utama dari kecemasan yang menangani seorang pasien.
Beberapa kecemasan jelas berkaitan dengan konflik pada beberapa
tingkat perkembangan yang bervariasi.3
b. Teori Perilaku
Teori-teori perilaku adalah respon terkondisi terhadap rangsangan
lingkungan tertentu. Dalam model pengkondisian klasik, seorang
gadis dibesarkan oleh seorang ayah yang kasar, misalnya, dapat
menjadi cemas segera setelah ia melihat ayahnya yang kasar.
Melalui generalisasi, dia mungkin akan percaya semua orang.
Dalam model pembelajaran sosial, seorang anak dapat
mengembangkan respon kecemasan dengan meniru kecemasan di
lingkungan, seperti orang tua cemas.3
c. Teori Eksistensial
Teori kecemasan eksistensial menyediakan model untuk
kecemasan umum, di mana tidak ada stimulus khusus yang
diidentifikasi untuk rasa cemas yang sifatnya kronis.Konsep utama
teori eksistensial adalah bahwa perasaan orang pengalaman hidup
di alam semesta tanpa tujuan. Kekhawatiran eksistensial tersebut
dapat meningkat sejak pengembangan senjata nuklir dan
bioterorisme.3
d. Teori kognitif-perilaku
Penderita GAD berespon secara salah dan tidak tepat terhadap
ancaman, disebabkan oleh perhatian yang selektif terhadap hal-hal
yang negatif pada lingkungan, adanya distorsi pada pemrosesan
informasi dan pandangan yang sangat negative terhadap
kemampuan diri untuk menghadapi ancaman.4,8
e. Teori Genetik
Pada sebuah studi didapatkan bahwa terdapat hubungan genetik
pasien GAD dan gangguan Depresi Mayor pada pasien wanita.
Sekitar 25% dari keluarga tingkat pertama penderita GAD juga
menderita gangguan yang sama. Sedangkan penelitian pada
pasangan kembar didapatkan angka 50% pada kembar monozigotik
dan 15% pada kembar dizigotik.4,8,2
2. Kontribusi Ilmu Biologi
a. Sistem saraf otonom Stimulasi sistem saraf otonom menyebabkan
gejala tertentu contoh pada sistem kardiovaskular (misalnya,
takikardia), otot (misalnya, sakit kepala), pencernaan (misalnya,
diare), dan pernapasan (misalnya, takipnea). Sistem saraf otonom
dari beberapa pasien dengan gangguan kecemasan, terutama
mereka yang memiliki gangguan panik, menunjukkan nada
simpatik yang meningkat, beradaptasi perlahan terhadap
rangsangan berulang-ulang, dan merespon berlebihan terhadap
rangsangan moderat.3
b. Neurotransmitter
Tiga neurotransmitter utama yang terkait dengan kecemasan
dengan dasar dari studi hewan dan tanggapan terhadap terapi obat
adalah norepinefrin (NE), serotonin, dan gama-ainobutyric acid
(GABA).Salah satu eksperimen tersebut untuk mempelajari
kecemasan adalah tes konflik, di mana hewan secara bersamaan
disajikan dengan rangsangan yang positif (misalnya makanan) dan
negatif (misalnya, sengatan listrik). Anxiolytic narkoba (misalnya
benzodiazepin) cenderung memfasilitasi adaptasi hewan untuk
situasi ini, sedangkan obat lain (misalnya, amfetamin) lebih lanjut
mengganggu respon perilaku hewan.3
c. Norepinefrin
Gejala kronis yang dialami oleh pasien dengan gangguan
kecemasan, seperti serangan panik, insomnia, terkejut, dan
hyperarousal otonom, merupakan karakteristik fungsi
noradrenergik yang meningkat. Itu teori umum tentang peranan
norepinefrin pada gangguan kecemasan dimana pasien yang
terkena mungkin memiliki sistem noradrenergik yang buruk. Badan
sel dari sistem noradrenergik terutama terlokalisasi pada lokus
seruleus di pons rostral, dan mereka memproyeksikan akson
mereka ke korteks otak, sistem limbik, batang otak, dan sumsum
tulang belakang. Percobaan pada primata telah menunjukkan
bahwa stimulasi dari lokus seruleus menghasilkan respon ketakutan
pada hewan dan bahwa ablasi dari daerah yang sama atau sama
sekali menghambat menghambat kemampuan hewan untuk
membentuk respon ketakutan.3
Studi pada manusia telah menemukan bahwa pada pasien dengan
gangguan panik, agonis reseptor adrenergik (misalnya,
isoproterenol [Isuprel]) dan adrenergik antagonis reseptor
(misalnya, yohimbine [yocon]) dapat memicu serangan panik yang
sering dan cukup parah. Sebaliknya, clonidine (catapres), sebuah
beta 2-reseptor agonis, mengurangi gejala kecemasan dalam
beberapa situasi eksperimental dan terapeutik. Temuan yang
kurang konsisten adalah bahwa pasien dengan gangguan
kecemasan, terutama gangguan panik, memiliki cairan
serebrospinal tinggi (CSF) atau tingkat urin metabolit
noradrenergik 3-metoksi-4-hydroxyphenylglycol (MHPG).3
d. Hipotalamus-hipofisis-adrenal
Axis Bukti yang konsisten menunjukkan bahwa banyak bentuk
stres psikologis meningkatkan sintesis dan pelepasan kortisol.
Kortisol berfungsi untuk memobilisasi dan untuk melengkapi
penyimpanan energi dan kontribusi untuk gairah meningkat,
kewaspadaan, perhatian terfokus, dan pembentukan memori;
penghambatan pertumbuhan dan sistem reproduksi, dan penahanan
dari respon kekebalan. Sekresi kortisol yang berlebihan dan
berkelanjutan dapat memiliki efek samping yang serius, termasuk
hipertensi, osteoporosis, imunosupresi, resistensi insulin,
dislipidemia, dyscoagulation, dan, akhirnya, aterosklerosis dan
penyakit kardiovaskular. Perubahan dalam hipotalamus-hipofisis-
adrenal (HPA) fungsi sumbu telah dibuktikan dalam PTSD. Pada
pasien dengan gangguan panik, tumpul hormon adrenocorticoid
(ACTH) terhadap berbagai corticotropin-releasing factor (CRF)
telah dilaporkan dalam beberapa penelitian dan tidak pada orang
lain.3
e. Corticotropin-releasing hormone (CRH)
Salah satu mediator yang paling penting dari respon stres, CRH
mengkoordinasikan perubahan perilaku dan fisiologis adaptif yang
terjadi selama stres. Tingkat CRH di hipotalamus meningkat pada
orang dengan stres, mengakibatkan aktivasi dari sumbu HPA dan
meningkatkan pelepasan kortisol dan dehydroepiandrosterone
(DHEA). CRH juga menghambat berbagai fungsi neurovegetative,
seperti asupan makanan, aktivitas seksual, dan program endokrin
untuk pertumbuhan dan reproduksi.3
f. Serotonin
Identifikasi jenis reseptor serotonin telah mendorong pencarian
untuk peran serotonin dalam patogenesis gangguan kecemasan.
Berbagai jenis hasil stres akut pada omset 5-hidroksitriptamin (5-
HT) meningkat pada korteks prefrontal, amigdala, dan hipotalamus
lateral. Kepentingan dalam hubungan ini pada awalnya didorong
oleh pengamatan bahwa antidepresan serotonergik memiliki efek
terapi dalam beberapa gangguan kecemasan misalnya,
clomipramine (Anafranil) di OCD. Efektivitas buspirone (BuSpar),
suatu serotonin 5-HT1A agonis reseptor, dalam pengobatan
gangguan kecemasan juga menunjukkan kemungkinan adanya
hubungan antara serotonin dan kecemasan.
Badan sel neuron serotonergik kebanyakan terletak di inti raphe di
batang otak dan sel – sel yang menuju ke korteks, sistem limbik
(khususnya amigdala dan hippocampus), dan hipotalamus.
Beberapa laporan menunjukkan bahwa meta-
chlorophenylpiperazine (MCPP), obat serotonergik, dan
fenfluramine (Pondimin), yang menyebabkan pelepasan serotonin,
menyebabkan kecemasan meningkat pada pasien dengan gangguan
kecemasan, dan banyak laporan menunjukkan bahwa serotonergik
halusinogen dan stimulansia misalnya, asam diethylamide lysergic
(LSD) dan 3,4-methylenedioxymethamphetamine (MDMA) terkait
dengan perkembangan gangguan kecemasan akut dan kronis pada
orang yang menggunakan obat ini.3
g. GABA
Peran GABA pada gangguan kecemasan sebagai contoh
penggunaan golongan benzodiazepin, yang meningkatkan aktivitas
GABA pada jenis reseptor GABA A (GABAA), dalam pengobatan
beberapa jenis gangguan kecemasan. Meskipun potensinya rendah,
benzodiazepin adalah obat yang paling efektif untuk mengatasi
gejala dari gangguan kecemasan umum, potensi tinggi obat – obat
golongan benzodiazepin, seperti alprazolam (Xanax), dan
clonazepam efektif dalam pengobatan gangguan panik. Sebuah
antagonis benzodiazepin, flumazenil (Romazicon), menyebabkan
serangan panik sering berat pada pasien dengan gangguan panik.
Data ini telah membawa para peneliti berhipotesis bahwa beberapa
pasien dengan gangguan kecemasan memiliki fungsi abnormal dari
reseptor GABAA mereka, meskipun hubungan ini belum terbukti
secara langsung.3
h. Aplysia
Sebuah model neurotransmitter untuk gangguan kecemasan
didasarkan pada studi Aplysia californica, oleh pemenang Hadiah
Nobel Eric Kandel, MD Aplysia adalah siput laut yang bereaksi
terhadap bahaya dengan menghindar, menarik diri ke dalam
cangkangnya.Perilaku ini dapat dikondisikan secara klasik,
sehingga siput merespon stimulus netral seolah-olah itu stimulus
berbahaya.Siput juga bisa menjadi peka dengan guncangan acak,
sehingga menunjukkan respon walaupun dengan tidak adanya
bahaya nyata.Aplysia klasik dikondisikan menunjukkan perubahan
terukur dalam fasilitasi presynaptic, sehingga terjadi peningkatan
pelepasan jumlah neurotransmitter. Meskipun siput laut adalah
hewan sederhana, karya ini menunjukkan pendekatan
eksperimental untuk proses neurokimia kompleks yang berpotensi
terlibat dalam gangguan kecemasan pada manusia.3
i. Neuropeptida Y
Neuropeptide Y (NPY) adalah asam amino peptida, yang
merupakan salah satu peptida yang paling berlimpah ditemukan di
otak mamalia. Bukti yang menunjukkan keterlibatan amigdala
dalam efek ansiolitik NPY yang kuat, dan mungkin terjadi melalui
reseptor NPY-Y1. NPY memiliki efek regulasi counter pada sistem
CRH dan LC-NE di lokasi otak yang penting dalam ekspresi
kecemasan, ketakutan, dan depresi. Studi awal dalam tentara
operasi khusus di bawah tekanan yang ekstrim pelatihan
menunjukkan bahwa tingkat NPY tinggi berhubungan dengan
kinerja yang lebih baik.3
j. Galanin
Galanin adalah polipeptida yang pada manusia ditemukan
mengandung 30 asam amino. Galanin telah terbukti terlibat dalam
sejumlah fungsi fisiologis dan perilaku, termasuk belajar dan
memori, mengontrol rasa sakit, asupan makanan, kontrol
neuroendokrin, regulasi kardiovaskular, dan terakhir kecemasan.
Sebuah galanin immunoreactive padat serat sistem yang berasal
dari LC innervasi otak depan dan struktur otak tengah, termasuk
hippocampus, hipotalamus, amigdala, dan korteks prefrontal. Studi
pada tikus telah menunjukkan bahwa galanin dikelola terpusat
memodulasi kecemasan terkait perilaku. Galanin dan agonis
reseptor NPY mungkin menjadi target baru untuk pengembangan
obat anti ansietas.3

D. Gambaran Klinis
Gambaran klinis bervariasi, diagnosis Gangguan Cemas Menyeluruh
ditegakkan apabila dijumpai gejala-gejala antara lain keluhan cemas, khawatir,
was-was, ragu untuk bertindak, perasaan takut yang berlebihan, gelisah pada
hal-hal yang sepele dan tidak utama yang mana perasaan tersebut
mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya, sehingga pertimbangan akal sehat,
perasaan dan perilaku terpengaruh. Selain itu spesifik untuk Gangguan
Kecemasan Menyeluruh adalah kecemasanya terjadi kronis secara terus-
menerus mencakup situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan, kesulitan
finansial), cemas akan terjadinya bahaya, cemas kehilangan kontrol, cemas
akan`mendapatkan serangan jantung. Sering penderita tidak sabar, mudah
marah, sulit tidur.3,7,8
Untuk lebih jelasnya gejala-gejala umum ansietas dapat dilihat pada tabel
di bawah:
Ketegangan Motorik 1. Kedutan otot/ rasa gemetar
2. Otot tegang/kaku/pegal
3. Tidak bisa diam
4. Mudah menjadi lelah
Hiperaktivitas
Hiperaktivitas Motorik 5. Nafas pendek/terasa berat
6. Jantung berdebar-debar
7. Telapak tangan basah/dingin
8. Mulut kering
9. Kepala pusing/rasa melayang
10. Mual, mencret, perut tak enak
11. Muka panas/ badan menggigil
12. Buang air kecil lebih sering
Kewaspadaan berlebihan dan 13. Perasaan jadi peka/mudah ngilu
penangkapan berkurang 14. Mudah terkejut/kaget
15. Sulit konsentrasi pikiran
16. Sukar tidur
17. Mudah tersinggung

Tabel 1. Gejala-gejala Gangguan Cemas Menyeluruh:11

Gangguan cemas menyeluruh juga memiliki pengaruh terhadap tekanan


darah. Ada dua faktor yang paling berpengaruh pada tekanan darah, yaitu curah
jantung (cardiac output) dan tahanan perifer (peripheral resistance). Anxietas
akan merangsang respon hormonal dari hipotalamus yang akan mengsekresi
CRF (Cortisocoprin-Releasing Factor) yang menyebabkan sekresi hormon-
hormon hipofise. Salah satu dari hormon tersebut adalah ACTH (Adreno-
Corticotropin Hormon). Hormon tersebut akan merangsang korteks adrenal
untuk mengsekresi kortisol kedalam sirkulasi darah. Peningkatan kadar kortisol
dalam darah akan mengakibatkan peningkatan renin plasma, angiotensin II dan
peningkatan kepekaan pembuluh darah terhadap katekolamin, sehingga terjadi
peningkatan tekanan darah dan sebagai pusat dari system saraf otonom. Sistem
ini terbagi atas sistem simpatis dan sistem parasimpatis.
Pada anxietas terjadi sekresi adrenalin berlebihan yang menyebabkan
peningkatan tekanan darah, sedanngkan pada anxietas yang sangat berat dapat
terjadi reaksi yang dipengaruhi oleh komponen parasimpatis sehingga akan
mengakibatkan penurunan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Pada
kecemasan yang kronis, kadar adrenalin terus meninggi, sehingga kepekaan
terhadap rangsangan yang lain berkurang dan akan terlihat tekanan darah
meninggi. Pada gangguan cemas menyeluruh yang terutama berperan adalah
neurotransmiter serotonin. Pada saat ini telah diidentifikasi tiga reseptor
serotonin, yaitu : 5-HT1, 5-HT2 dan 5-HT3 . Menurut Kabo reseptor 5-HT1
bersifat sebagai inhibitor, sedangkan reseptor 5-HT2 dan reseptor 5-HT3
bersifat sebagai eksitator. Menurut Gothert, aktivasi reseptor 5-HT1 akan
mengurangi kecemasan sedangkan aktivasi reseptor 5-HT2 akan meningkatkan
tekanan darah.8

E. Diagnosis
Kriteria diagnostik gangguan cemas menyeluruh menurut DSM IV-TR :9
1. Kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan yang timbul hampir setiap
hari, sepanjanghari, terjadi selama sekurangnya 6 bulan, tentang sejumlah
aktivitas atau kejadian (seperti pekerjaan atau aktivitas sekolah)
2. Penderita merasa sulit mengendalikan kekhawatirannya
3. Kecemasan atau kekhawatiran disertai tiga atau lebih dari enam gejala
berikut ini (dengan sekurangnya beberapa gejala lebih banyak terjadi
dibandingkan tidak terjadi selama enam bulan terakhir). Catatan : hanya satu
nomor yang diperlukan pada anak:
a) Kegelisahan
b) Merasa mudah lelah
c) Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong
d) Iritabilitas
e) Ketegangan otot
f) Gangguan tidur (sulit tertidur atau tetap tidur, atau tidur gelisah, dan
tidakmemuaskan)
4. Fokus kecemasan dan kekhawatiran tidak terbatas pada gangguan aksis I,
misalnya kecemasan atau ketakutan adalah bukan tentang menderita suatu
serangan panik (seperti pada gangguan panik), merasa malu pada situasi
umum (seperti pada fobia sosial), terkontaminasi (seperti pada gangguan
obsesif kompulsif), merasa jauh dari rumah atau sanak saudara dekat
(seperti gangguan anxietas perpisahan), penambahan berat badan (seperti
pada anoreksia nervosa), menderita keluhan fisik berganda (seperti pada
gangguan somatisasi), atau menderita penyakit serius (seperti pada
hipokondriasis) serta kecemasan dan kekhawatiran tidak terjadi semata-
mata selama gangguan stres pasca trauma.
5. Kecemasan, kekhawatiran, atau gejala fisik menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis, atau gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan, atau
fungsi penting lain.
6. Gangguan yang terjadi adalah bukan karena efek fisiologis langsung dari
suatu zat (misalnya penyalahgunaan zat, medikasi) atau kondisi medis
umum (misalnya hipertiroidisme), dan tidak terjadi semata-mata selama
suatu gangguan mood, gangguan psikotik, atau gangguan perkembangan
pervasif.

Kriteria diagnosis gangguan cemas menyeluruh berdasarkan PPDGJ-III sebagai


berikut:10

1. Pasien harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung


hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang
tidak terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus tertentu saja
(sifatnya “free floating” atau “mengambang”)
2. Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut:
a. Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk,
sulit konsentrasi, dan sebagainya)
b. Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat
santai)
c. Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung
berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut
kering dan sebagainya)
3. Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk
ditenangkan (reassurance) serta keluhan-keluhan somatik berulang yang
menonjol.
4. Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari),
khususnya depresi, tidak membatalkan diagnosis utama Gangguan cemas
Menyeluruh, selama hal tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari
episode depresif (F32.-), gangguan anxietas fobik (F40.-), gangguan panik
(F41.0), atau gangguan obsesif-kompulsif (F42.-).

F. Diagnosis Banding
Gangguan cemas menyeluruh perlu dibedakan dari kecemasan akibat
kondisi medis umum maupun gangguan yang berhubungan dengan penggunaan
zat. Diperlukan pemeriksaan medis termasuk tes kimia darah,
elektrokardiografi, dan tes fungsi tiroid. Klinisi harus menyingkirkan adanya
intoksikasi kafein, penyalahgunaan stimulansia, kondisi putus zat atau obat
seperti alkohol, hipnotiksedatif dan anxiolitik.4
Kelainan neurologis, endokrin, metabolik dan efek samping pengobatan
pada gangguan panik harus dapat dibedakan dengan kelainan yang terjadi pada
gangguan anxietas menyeluruh. Selain itu, gangguan cemas menyeluruh juga
dapat didiagnosis banding dengan fobia, gangguan obsesif-kompulsif,
hipokondriasis, gangguan somatisasi, dan gangguan stres post-trauma.4
1. Fobia
Pada fobia, kecemasan terjadi terhadap objek/hal tertentu sehingga
pasien berusaha untuk menghindarinya, sedangkan pada GAD, tidak
terdapat objek tertentu yang menimbulkan kecemasan.4
2. Gangguan obsesif kompulsif
Pada gangguan obsesif kompulsif, pasien melakukan tindakan
berulang-ulang (kompulsi) untuk menghilangkan kecemasannya,
sedangkan pada GAD, pasien sulit untuk menghilangkan
kecemasannya, kecuali pada saat tidur.4
3. Hipokondriasis
Pada hipokondriasis maupun somatisasi, pasien merasa cemas terhadap
penyakit serius ataupun gejala-gejala fisik yang menurut pasien
dirasakannya dan berusaha datang ke dokter untuk mengobatinya,
sedangkan pada GAD, pasien merasakan gejala-gejala hiperaktivitas
otonomik sebagai akibat dari kecemasan yang dirasakannya.4
4. Gangguan stres pasca trauma Pada gangguan stres pasca trauma,
kecemasan berhubungan dengan sutau peristiwa ataupun trauma yang
sebelumnya dialami oleh pasien, sedangkan pada GAD kecemasan
berlebihan berhubungan dengan aktivitas sehari-hari.4

G. Penatalaksanaan
1. Farmakoterapi
a. Benzodiazepin
Merupakan pilihan obat pertama. Pemberian benzodiazepine
dimulai dengan dosis terendah dan ditingkatkan sampai mencapai
respons terapi. Pengguanaan sediaan dengan waktu paruh menengah
dan dosis terbagi dapat mencegah terjadinya efek yang tidak
diinginkan. Lama pengobatan rata-rata 26 minggu, dilanjutkan
dengan masa tapering off selama 1-2 minggu. Spektrum klinis
Benzodiazepin meliputi efek anti-anxietas, antikonvulsan,
antiinsomnia, dan premedikasi tindakan operatif.
Adapun obat-obat yang termasuk dalam golongan Benzodiazepin
antara lain:11
 Diazepam, dosis anjuran oral = 2-3 x 2-5 mg/hari; injeksi = 2-10
mg 9im/iv), broadspectrum.
 Chlordiazepoxide, dosis anjuran 2-3x 5-10 mg/hari,
broadspectrum.
 Lorazepam, dosis anjuran 2-3x 1 mg/hari, dosis anti-anxietas
dan antiinsomnia berjauhan (dose-related), lebih efektif sebagai
anti-anxietas, untuk pasien-pasien dengan kelainan hati dan
ginjal.
 Clobazam, dosis anjuran 2-3 x 10 mg/hari, , dosis anti-anxietas
dan antiinsomnia berjauhan (dose-related), lebih efektif sebagai
anti-anxietas, psychomotor performance paling kurang
terpengaruh, untuk pasien dewasa dan usia lanjut yang masih
ingin tetap aktif.
 Bromazepam, dosis anjuran 3x 1,5 mg/hari, , dosis anti-anxietas
dan antiinsomnia berjauhan (dose-related), lebih efektif sebagai
anti-anxietas.
 Alprazolam, dosis anjuran 3 x 0,25 – 0,5 mg/hari, efektif untuk
anxietas tipe antisipatorik, “onset of action” lebih cepat dan
mempunyai komponen efek anti-depresi.
b. Non-benzodoazepin (Buspiron)
Buspiron efektif pada 60-80% penderita GAD. Buspiron lebih
efektif dalam memperbaiki gejala kognitif dibanding gejala
somatik. Tidak menyebabkan withdrawal. Dosis anjuran 2-3x 10
mg/hari. Kekurangannya adalah, efek klinisnya baru terasa setelah
2-3 minggu. Terdapat bukti bahwa penderita GAD yang sudah
menggunakan Benzodiazepin tidak akan memberikan respon yang
baik dengan Buspiron. Dapat dilakukan penggunaan bersama antara
Benzodiazepin dengan Buspiron kemudian dilakukan tapering
Benzodiazepin setelah 2-3 minggu, disaat efek terapi Buspiron
sudah mencapai maksimal.11
No. Nama Generik Sediaan Dosis Anjuran
1. Diazepam Tab. 2-5 mg 10-30 mg/h
Tab. 2-5 mg
Tab. 2-5 mg
Amp. 10mg/2cc
2. Chlordiazepoxide Drg. 5-10 mg 15-30 mg/h
Tab. 5 mg
Cap. 5 mg

3. Lorazepam Tab. 0,5-1-2 mg 2-3 x 1 mg/h


Tab. 1 mg
4. Clobazam Tab. 10 mg 2-3 x 1m mg/h
5. Alprazolam Tab. 0,25-0,5 mg 0,75-1,50 mg/h
Tab. 0,25-0,5 mg
6. Sulpiride Cap. 50 mg 100-200 mg/h
7. Buspirone Tab. 10 mg 15-30 mg/h
8. Hydroxyzine Caplet 25 mg 3x25 mg/h
Tabel 2. Sediaan Obat Anti-Anxietas dan Dosis Anjuran11

2. Psikoterapi
a. Terapi kognitif perilaku
Teori Cognitive Behavior pada dasarnya meyakini bahwa pola
pemikiran manusia terbentuk melalui proses rangkaian stimulus-
kognisi-respon, dimana proses kognisi akan menjadi faktor penentu
dalam menjelaskan bagaimana manusia berpikir, merasa dan
bertindak. Terapi kognitif perilaku diarahkan kepada modifikasi
fungsi berpikir, merasa dan bertindak, dengan menekankan peran
otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, berbuat dan
memutuskan kembali. Dengan mengubah arus pikiran dan perasaan,
klien diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya, dari negatif
menjadi positif.Tujuan terapi kognitif perilaku ini adalah untuk
mengajak pasien menentang pikiran (dan emosi) yang salah dengan
menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan
mereka tentang masalah yang dihadapi. Pendekatan kognitif
mengajak pasien secara kangsung mengenali distorsi kognitif dan
pendekatan perilaku, mengenali gejala somatik secara langsung.
Teknik utama yang digunakan pada pendekatan behavioral adalah
relaksasi dan biofeedback.6,11
b. Terapi suportif
Pasien diberikan re-assurance dan kenyamanan, digali potensi-
potensi yang ada dan belum tampak, didukung egonya, agar lebih
bisa beradaptasi optimal dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.6
c. Psikoterapi Berorientasi Tilikan
Terapi ini mengajak pasien ini untuk mencapai penyingkapan
konflik bawah sadar, menilik egostrength, relasi objek, serta
keutuhan self pasien. Dari pemahaman akan komponen-komponen
tersebut, kita sebagai terapis dapat memperkirakan sejauh mana
pasien dapat diubah untuk menjadi lebih matur, bila tidak tercapai,
minimal kita memfasilitasi agar pasien dapat beradaptasi dalam
fungsi sosial dan pekerjaannya.6

H. Prognosis
Gangguan cemas menyeluruh merupakan suatu keadaan kronis yang
mungkin berlangsung seumur hidup. Prognosis dipengaruhi oleh usia,
onset, durasi gejala dan perkembangan komorbiditas gangguan cemas dan
depresi. Karena tingginya insidensi gangguan mental komorbid pada pasien
dengan gangguan kecemasan menyeluruh, perjalanan klinis dan prognosis
gangguan cemas menyeluruh sukar untuk ditentukan.Namun demikian,
beberapa data menyatakan bahwa peristiwa kehidupan berhubungan dengan
onset gangguan kecemasan umum. Terjadinya beberapa peristiwa
kehidupan yang negatif secara jelas meningkatkan kemungkinan akan
terjadinya gangguan cemas menyeluruh. Menurut definisinya, gangguan
kecemasan umum adalah suatu keadaan kronis yang mungkin seumur
hidup. Sebanyak 25% penderita akhirnya mengalami gangguan panik, juga
dapat mengalami gangguan depresi mayor.4
Dalam menentukan prognosis dari gangguan cemas menyeluruh, perlu
diingat bahwa banyak segi yang harus dipertimbangkan. Hal ini berhubung
dengan dinamika terjadinya gangguan cemas serta terapinya yang begitu
kompleks.Keadaan penderita, lingkungan penderita, dan dokter yang
mengobatinya ikut mengambil peran dalam menentukan prognosis
gangguan cemas menyeluruh.
Ditinjau dari kepribadian premorbid, jika penderita sebelumnya telah
menunjukkan kepribadian yang baik di sekolah, di tempat kerja atau dalam
interaksi sosialnya, maka prognosisnya lebih baik daripada penderita yang
sebelumnya banyak menemui kesulitan dalam pergaulan, kurang percaya
diri, dan mempunyai sifat tergantung pada orang lain. Kematangan
kepribadian juga dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam
menanggapi kenyataan-kenyataan, keseimbangan dalam memadukan
keinginan-keinginan pribadi dengan tuntutantuntutan masyarakat, integrasi
perasaan dengan perbuatan, kemampuan menyesuaikan diri dengan
lingkungan dan lain sebagainya. Semakin matang kepribadian
premorbidnya, maka prognosis gangguan cemas menyeluruh juga semakin
baik.
Mengenai hubungan dengan terapi, semakin cepat dilakukan terapi
pada gangguan kecemasan menyeluruh, maka prognosisnya menjadi lebih
baik. Demikian pula dengan situasi tempat pengobatan, semakin pasien
merasa nyaman dan cocok dengan situasinya, maka hasilnya akan lebih baik
dan akan mempengaruhi prognosisnya. Pengobatan sebaiknya dilakukan
sebelum gejalagejala menjadi alat untuk mendapatkan keuntungan-
keuntungan sampingan misalnya untuk mendapatkan simpati, perhatian,
uang, dan peringanan dari tanggung jawabnya. Jika gejala-gejala sudah
merupakan alat untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tersebut, maka
kemauan pasien untuk sembuh berkurang dan prognosis akan menjadi lebih
jelek.
Faktor stres juga ikut menentukan prognosis dari gangguan cemas
menyeluruh. Jika stres yang menjadi penyebab timbulnya gangguan cemas
menyeluruh relatif ringan, maka prognosis akan lebih baik karena penderita
akan lebih mampu mengatasinya. Kalau dilihat dari lingkungan hidup
penderita, sikap orang-orang di sekitarnya juga berpengaruh terhadap
prognosis. Sikap yang mengejek akan memperberat penyakitnya,
sedangkan sikap yang membangun akan meringankan penderita. Demikian
juga peristiwa atau masalah yang menimpa penderita misalnya kehilangan
orang yang dicintai, rumah tangga yang kacau, kemunduran finansial yang
besar akan memperjelek prognosisnya.
BAB IV

ANALISA KASUS

Kriteria diagnosis gangguan cemas menyeluruh menurut PPDGJ III:

 Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang


berlangung hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa
bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus
tertentu saja (sifatnya “free floating” atau “mengambang”)
 Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut:
a. Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk,
sulit konsentrasi, dan sebagainya)
b. Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat
santai)
c. Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung
berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut
kering dan sebagainya)

Atas dasar gejala di atas, maka berdasarkan kriteria diagnosis PPDGJ III, pasien
didiagnosis gangguan cemas menyeluruh dimana terdapat adanya gejala-gejala
meliputi anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampir setiap hari selama
dua bulan belakangan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada keadaan
situasi khusus tertentu saja (sifatnya “free floating” atau “mengambang”),
kemudian juga terdapat ketegangan motorik seperti tidak dapat santai (gelisah) dan
overaktivitas otonomik seperti sakit kepala dan jantung berdebar-debar.

Tatalaksana pasien berupa farmakoterapi dan penanganan psikososial berupa


psikoterapi berdasarkan keluhan yang disampaikan oleh pasien.

Adapun terapi yang diberikan kepada pasien yaitu:

a. Farmakoterapi
Terapi pada pasien ini yaitu:
1. Fluoxetin 20 mg 1 tablet/oral/hari (0-0-1)
2. Clobazam 5 mg 2x1 tablet/oral/hari

Pada pasien ini diberikan terapi fluoxetine 1x20 mg untuk menurunkan rasa
takut, kecemasan. Fluoxetin merupakan golongan SSRI. SSRI merupakan
lini pertama yang direkomendasikan untuk mengatasi anti-anxietas karena
efek kordiologik, otonomik, sedasi, dan ketergantungannya minimal atau
bahkan hampir tidak ada.. Clobazam 1x5mg juga diberikan kepada pasien
ini. Clobazam merupakan salah satu derivate dari golongan benzodiazepine.
Hampir semua golongan benzodiazepine bekerja pada SSP dengan efek
utama: sedasi, hypnosis, pengurangan terhadap rangsangan, emosi atau
anxietas, relaksasi otot dan antikonvulsi.

b. Penanganan psikososial
Psikoterapi
1. Membina raport dengan pasien sehingga pasien merasa aman dan
nyaman untuk menceritakan apa yang sedang dirasakan serta riwayat
penyakitnya.
2. Memberikan informasi kepada pasien mengenai penyakitnya serta
edukasi untuk mengkonsumsi obat dan untuk datang lagi melakukan
konsultasi agar dapat dilihat perkembangan penyakitnya oleh psikiater.
BAB V

KESIMPULAN

Gangguan cemas menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder, GAD)


merupakan kondisi gangguan yang ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran
yang berlebihan dan tidak rasional bahkan terkadang tidak realistik terhadap
berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dialami hampir sepanjang
hari, berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 bulan.Kecemasan yang dirasakan
sulit untuk dikendalikan dan berhubungan dengan gejala-gejala somatik seperti
ketegangan otot, iritabilitas, kesulitan tidur, dan kegelisahan sehingga
menyebabkan penderitaan yang jelas dan gangguan yang bermakna dalam fungsi
sosial dan pekerjaan.

Penyebab terjadinya GAD dapat dijelaskan melalui beberapa teori, antara lain
teori biologi, teori genetik, teori psikoanalitik dan teori kognitif-perilaku.

Gambaran klinis yang dapat muncul antara lain anxietas berlebihan,


ketegangan motorik bermanifestasi sebagai bergetar, kelelahan, dan sakit kepala,
hiperaktivitas otonom timbul dalam bentuk napas pendek, berkeringat, palpitasi,
dan disertai gejala pencernaan.

Gangguan psikiatrik lain yang merupakan diagnosis banding GAD adalah


gangguan panik, fobia, gangguan obsesif-kompulsif, hipokondriasis, gangguan
somatisasi, gangguan penyesuaian dengan kecemasan, dan gangguan kepribadian.

Penatalaksanaan GAD meliputi farmakoterapi, golongan Benzodiazepin


merupakan drug of choice sebab mempunyai efek anti-anxietas, spesifitas, potensi
dan keamanan yang paling baik. Selain itu, pasien juga diberikan psikoterapi,
berupa terapi kognitif-perilaku (CBT), terapi suportif dan psikoterapi berorientasi
tilikan.

Gangguan cemas menyeluruh merupakan suatu keadaan kronis yang mungkin


berlangsung seumur hidup.Sebanyak 25% penderita akhirnya mengalami gangguan
panik, juga dapat mengalami gangguan depresi mayor.
Dalam menentukan prognosis dari gangguan cemas menyeluruh, perlu diingat
bahwa banyak segi yang harus dipertimbangkan.Hal ini berhubung dengan
dinamika terjadinya gangguan cemas serta terapinya yang begitu kompleks.
Keadaan penderita, lingkungan penderita, dan dokter yang mengobatinya ikut
mengambil peran dalam menentukan prognosis gangguan cemas menyeluruh.

Hal lain yang juga memegang peranan penting dalam menentukan baik
tidaknya prognosis gangguan cemas menyeluruh antara lain kepribadian premorbid
pasien, efektifitas terapi, faktor stres, serta dukungan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan HI, Saddock BJ. Gangguan Kecemasan. In : Wiguna M, editor.


Sinopsis Psikiatri. Edisi ketujuh. Jilid Satu : Phyladelphia. Hal.1-8.
2. Hutagalung, Evalina Asnawi. Tatalaksana Diagnosis dan Terapi Gangguan
Anxietas. [Internet] 2007 [cited 2016 December 10]. Available from :
http://gangguan_anxietas.htm
3. Saddock BJ, Saddock VA. Anxiety disorder. In : Kaplan Saddock’s
Synopsis of Psychiatry : Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. Tenth
Edition.. New York: Lippincott Williams & Wilkins: 2007; Pg 580-8.
4. DSM IV-TR. (2000). Diagnostic And Statistical Manual Of Mental
Disorders (DSM IV-TR). Washington DC: American Psychiatric
Association.American Psychological Association.
5. Generalized Anxiety Disorder.[Internet]. [cited 2016, December 8].
Available from : http://www.Helpguide.org
6. Shear, Katherine M. Anxiety Disorders “Generalized Anxiety Disorder” in
: Dale DC, Federman DD, editors. ACP Medicine. 3rd Edition. Washington:
WebMD Inc. : 2007.
7. Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Generalized Anxiety
Disorder in : Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry : Behavioral
Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott Williams
& Wilkins: 2007. p. 623-7
8. Idrus, Faisal. Pola Tekanan Darah pada Gangguan Cemas
Menyeluruh.[Internet]. [cited 2016, December 10]. Available from
:http://www.artikelkedokteran.com/304/pola-tekanan-darah-pada-
gangguancemas-menyeluruh.html.
9. Stevens V. Anxiety Disorders. In : Goljan EF, editor. Behavioral Science.
Elsevier Science.
10. Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas
PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya:
2003. Hal. 74
11. Maslim, Rusdi. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi
Ketiga. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya: 2007.
Hal.36-41.