Anda di halaman 1dari 16

PENGENALAN STRUKTUR TUBUH SERANGGA

(Laporan Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman)

Oleh

Amarulhaq
1714131050
Kelompok 3

JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2018
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Serangga adalah hewan beruas atau arthropoda yang disebut juga dengan insekta
yang memiliki tungkai rata-rata tiga pasang. Serangga merupakan makhluk hidup
yang berdarah dingin. Bila suhu lingkungan menurun, maka suhu tubuh mereka
juga menurun dan proses fisiologinya menjadi lamban. Insekta merupakan hewan
yang sering kali ditemui dibanyak tepat. Pada tubuh serangga terdapat tiga bagian
dasar yaitu kepala, thorak dan perut (abdomen). Proses berkembangbiak serangga
adalah bertelur cara berkembang pada serangga yang diawali dengan telur hingga
menjadi dewasa dan mengalami perubahan pada anatomi, morfologi dan fisiologis
disebut metamorfosis. Proses metamorfosis atau daur hidup serangga memiliki
beberapa tahapan yang dibedakan berdasarkan metamorfosis sempurna dan tidak
sempurna. Perbedaan antara metamorfosis sempurna dengan metamorfosis tidak
sempurna terletak pada siklusnya. Kedua metamorphosis ini memili siklus awal
yang sama yaitu telur. Siklus hidup belalang dimulai dari telur, berikutnya telur
menetas menjadi nimfa. Nimfa inilah yang kemudian berkembang menjadi imago
atau disebut serangga dewasa.

Dalam hal perkembangan terdapat berbagai kesulitan untuk menghasilkan


klasifikasi serangga yang sempurna dan dapat diterima secara logis. Pada
metamorfosis sempurna memiliki siklus dimana terjadinya pembentukan pupa,
sedangkan pada metamorfosis tidak sempurna hanya terjadi pembentukan larva
tanpa ada tahap menjadi pupa. Larva adalah tahapan berkembang serangga dari
telur pada metamorfosis sempurna. Sesungguhnya tubuh serangga terdiri tidak
kurang 20 ruas. Enam ruas terkonsolidasi membentuk kepala, tiga ruas
membentuk toraks dan 11 ruas membentuk abdomen. Tidak seperti halnya
vertebrata, serangga tidak memiliki kerangka dalam, oleh karena itu tubuh
serangga ditopang oleh pengerasan dinding tubuh yang berfungsi sebagai
kerangka luar (eksoskleton). Proses pengerasan dinding tubuh tersebut dinamakan
sklerotisasi. Dinding tubuh atau kulit serangga disebut integument. Integument
terdiri atas satu lapis epidermis (yang dapat menghasilkan lapisan luar yang
keras), selput (membran) dasar dan kutikula (Jumar, 2000).

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:


1. Mengetahui bagian tubuh serangga.
2. Mengetahui organ pada masing-masing tagma.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Serangga

Serangga (disebut pula Insecta) adalah kelompok utama dari hewan beruas
(Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang) karena itulah mereka disebut pula
Hexapoda (dari bahasa Yunani yang berarti “berkaki enam”). Serangga termasuk
kedalam kelas insekta (subfilum Uniramia) yang dibagi lagi menjadi 29 ordo, antara
lain Diptera (misalnya lalat), Coleoptera (misalnya kumbang), Hymenoptera (misalnya
semut, lebah dan tabuhan) dan memiliki sayap. Serangga merupakan hewan beruas
dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi. ukuran serangga relatif kecil dan
pertama kali sukses berkolonisasi di bumi (Pracaya, 2004).

Salah satu alasan mengapa serangga memiliki keanekaragaman dan kelimpahan


yang tinggi adalah kemampuan reproduksinya yang tinggi, serangga bereproduksi
dalam jumlah yang sangat besar dan pada beberapa jenis spesies bahkan mampu
menghasilkan beberapa generasi dalam satu tahun. Kemampuan serangga lainnya
yang dipercaya telah mampu menjaga eksistensi serangga hingga kini adalah
kemampuan terbangnya. Hewan yang dapat terbang dapat menghindari banyak
predator, menemukan makanan dan pasangan kawin dan menyebar ke habitat baru
jauh lebih cepat dibandingkan hewan lain yang harus bergerak di atas permukaan
tanah (Subyanto, 1997).

2.2. Arthopoda

Arthopoda berasal dari bahasa Yunani yaitu arthos, sendi dan podos, kaki oleh
karena itu cir-ciri utama hewan yang termasuk dalam filum ini adalah kaki yang
tersusun atas ruas-ruas. Jumlah spesies anggota filum ini adalah terbanyak
dibandingkan dengan filum lainnya yaitu lebih dari 800.000 spesies. Contoh
anggota filum ini antara lain kepiting, udang, serangga, laba-laba, kalajengking,
kelabang, dan kaki seribu, serta spesies-spesies lain yang dikenal hanya
berdasarkan fosil. Habitat hewan anggota filum arthopoda di air dan di darat.
(Maskoeri Jasin, 1992).
Ciri-ciri umum yang dimiliki arthopoda adalah tubuhnya simetri bilateral, terdiri
atas segmen-segmen yang saling berhubungan dibagian luar dan memiliki tiga
lapisan germinal sehingga merupakan hewan tripoblastik. Tubuhnya memiliki
kerangka luar dan dibedakan atas kepala, dada, serta perut yang terpisah atau
bergabung menjadi satu. Setiap segmentubuh memiliki sepasang alat gerak atau
tidak ada. Respirasinya menggunakan paru-paru buku, trakea, atau dengan insang.
Pada spesies terestial bernapas menggunakan trakea atau pada arachinida
menggunakan paru-paru buku atau menggunakan keduanya yaitu paru-paru dan
trakea. Ekskresi dengan menggunakan tubukus Malpighi atau kelenjar koksal.
Saluran pencernaan sudah lengkap, terdiri atas mulut, usus, dan anus, sarafnya
merupakan system saraf tangga tali. Berkelamin terpisah, fertilisasi terjadi secara
internal, dan bersifat ovipar. Perkembangan individu baru terjadi secara langsung
melalui stadium larva. (Mukayat Djarubito Brotowidjojo, 1989 ).

2.3 Metamorfosis

Metamorfosis adalah suatu proses biologi di mana seekor hewan secara fisik
mengalami perkembangan biologis setelah dilahirkan atau menetas yang
melibatkan perubahan bentuk atau struktur melalui pertumbuhan sel dan
differensiasi sel. Salah satu hewan yang mengalami metomorfosis adalah kupu-
kupu (Alamendah, 2009). Pengaturan perubahan tubuh metamorfosis sebagian
bersifat progresif dan sebagian bersifat regresif. Progresif terjadi pada organ yang
diperlukan pada kehidupan larva dan tidak diperlukan pada saat dewasa, sifat ini
akan hilang sama sekali. Sedangkan sifat regresif akan dibentuk sesuai dengan
kebutuhan dewasanya (Adnan, 2008).

Ada dua jenis metamorfosis di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Metamorfosis tidak sempurna


Biasanya terjadi pada hewan sejenis serangga. Misalnya capung, belalang,
jangkrik dan serangga-serangga lainnya. Karena hewan tersebut melewati hanya
duatahapan saja, yaitu dari telur menjadi nimfa kemudian menjadi organisme
dewasa.

2. Metamorfosis sempurna
Terjadi pada katak dan kupu-kupu, artinya pada metamorfosis ini melewati
beberapa tahapan di antaranya fase telur, kemudian menetas dan tidak langsung
mirip atau serupa dengan induknya. Setelah beberapa minggu, barulah menjadi
organisme dewasa yang mirip dengan organisme sebelumnya.

Tahap metamorfosis masih belum dapat dipahami secara jelas, maka dalam hal ini
dibutuhkan suatu kegiatan untuk lebih mendalami lagi bagaimana sebenarnya
tahap-tahap metamorfosis. Metamorfosis terbagi atas dua, yaitu metamorfosis
sempurna dan tidak sempurna. Ada beberapa hewan yang mengalami
metamorfosis, misalnya kupu-kupu. Untuk mendalami tahap metamorfosis yang
terjadi pada kupu-kupu, mulai dari ulat hingga menjadi kupu-kupu yang dewasa,
maka kami melakukan praktikum mengenai metamorfosis. Menurut (Sherwood,
2001)

2.4 Perkembangbiakan Serangga

Serangga dalam perkembangannya mengalami proses metamorfosis.


Metamorfosis adalah perubahan bentuk serangga mulai dari telur sampai dewasa.
Adapula serangga yang selama hidupnya tidak pernah mengalami mengalami
metamorfosis metamorfosis, misal kutu buku (Lepisma Lepisma saccharina Ordo:
Collembola. Berdasarkan metamorfisnya, serangga dibedakan atas dua
kelompok, yaitu Hemimetabola dan Holometabola. Hemimetabola yaitu serangga
yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Tahapan perkembangan yaitu
yang petama telur, kemudian nimfa, nimfa adalah serangga muda yang
mempunyai sifat dan bentuk sama dengan dewasanya. Lalu yang terakhir imago
(dewasa) ,imago (dewasa), ialah fase yang ditandai telah berkembangnya
berkembangnya semua organ tubuh dengan baik. Holometabola yaitu serangga
yang mengalami metamorfosis sempurna. Tahapan dari metamorfosis sempurna
adalah telur - larva – pupa – imago. Larva adalah hewan muda yang bentuk dan
sifatnya berbeda dengan dewasa. Pupa adalah kepompong dimana pada saat itu
serangga tidak melakukan kegiatan, pada saat itu pula terjadi penyempurnaan dan
pembentukan organ. Imago adalah fase dewasa atau fase perkembangbiakan
perkembangbiakan (Subyanto,2007).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Pengenalan Struktur Tubuh Serangga,


antara lain: cawan petri, pinset, alat tulis, dan kertas hvs.
Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum pengenalan Struktur Tubuh
Serangga yaitu serangga (Belalang).

3.2 Cara Kerja

Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Diamati struktur tubuh belalang.
2. Digambar belalang yang telah diamati dikertas hps.
3. Ditulis struktur tubuh serangga dan organ dari masing-masing tagma.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum kali ini terdapat pada tabel berikut.
No Gambar Keterangan
1 1. Antena
2. Mata majemuk
3. Mata tunggal
4. Alat makan
(mulut)

2 1. 1 atau 2 pasang
sayap
2. 2 pasang tungkai
3 1. Ovipositor
2. Spirakel
3. Sepasang cerci
4. Sepasang
paraproct
5. Sebuah epiproct

4.2. Pembahasan

Kepala serangga berfungsi sebagai pengumpul makanan, penerima rangsang dan


memproses informasi di otak. Bentuk dan ukuran antena pada setiap jenis
serangga berbeda beda. Bentuk umum kepala serangga adalah seperti kotak. Pada
bagian kepala serangga terdapat mulut, antena, dan mata. Bagian-bagian mulut
serangga diklasifikasikan menjadi dua tipe, yaitu : Mandibulata (pengunyah) dan
haustelata (penghisap). Serangga tersebut biasanya mampu menggigit dan
mengunyah makanannya. Beberapa bentuk antena tersebut adalah : filiform yaitu
bentuknya menyerupai benang dan pada setiap ruas mempunyai ukuran bentuk
silindris yang sama. Fungsi antena pada setiap jenis serangga sangat beragam,
namun pada umumnya fungsi utama dari antena tersebut adalah sebagai alat
peraba dan pencium. Tipe mulut penusuk-penghisap yaitu Mulut tipe penusuk-
penghisap mempunyai rahang yang panjang dan runcing . Contohnya nyamuk.
Mulut penghisap yaitu Mulut tipe penusuk-penghisap dilengkapi dengan alat
seperti belalai panjang yang dapat digulung, contohnya mulut kupu kupu. . Tipe
mulut penghisap memiliki bagian-bagian dengan bentuk seperti probosis yang
memanjang atau paruh dan melalui alat itu makanan cair dihisap. Tipe mulut
penggigit yaitu Mulut tipe penggigit dilengkapi dengan rahang atas dan bahwa
yang sangat kuat, contohnya mulut belalang dan jangkrik.Dan Mulut penjilat yaitu
Mulut tipe penjilat dilengkapi dengan alat untuk menjilat. Menurut (Sherwood,
2001)

Abdomen serangga merupakan bagian tubuh yang memuat alat pencernaan,


ekskresi, dan reproduksi. Abdomen serangga terdiri dari beberapa ruas, rata-rata
9-10 ruas. Bagian dorsal dan ventral mengalami sklerotisasi sedangkan bagian
yang menghubungkannya berupa membran. Bagian dorsal yang mengalami
sklerotisasi disebut tergit, bagian ventral disebut sternit, dan bagian ventral berupa
membran disebut pleura. Perkembangan evolusi serangga menunjukkan adanya
tanda-tanda bahwa evolusi menuju kepengurangan banyaknya ruas abdomen.
Serangga betina dewasa yang tergolong apterygota, seperti Thysanura, memiliki
ovipositor yang primitive dimana bentuknya terdiri dari dua pasang embelan yang
terdapat pada bagian bawah ruas abdomen kedelapan dan kesembilan.
Sesungguhnya, terdapat sejumlah serangga yang tidak memiliki ovipositor,
dengan demikian serangga ini menggunakan cara lain untuk meletakkan telurnya.
Jenis serangga tersebut terdapat dalam ordo Thysanoptera, Mecoptera,
Lepidoptera, Coleoptera, dan Diptera. Serangga ini biasanya akan menggunakan
abdomennya sebagai ovipositor. Beberapa spesies serangga dapat memanfaatkan
abdomennya yang menyerupai teleskop sewaktu meletakkan telur-telurnya
(Jumar, 2000).
Toraks adalah bagian yang menghubungkan antara caput dan abdomen. Pada
dasarnya tiap ruas toraks pada serangga dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
Prothorax : bagian depan dari thoraks dan sebagai tempat atau dudukan bagi
sepasang tungkai depan.
Mesothorax : bagian tengah dari thorax dan sebagai tempat atau dudukan bagi
sepasang tungkai tengah dan sepasang sayap depan.
Metathorax : bagian belakang dari thorax dan sebagai tempat atau dudukan bagi
sepasang tungkai belakang dan sepasang sayap belakang.
Karena pada torak terdapat tiga pasang kaki dan dua atau satu pasang sayap
(kecuali ordo Thysanura tidak bersayap). Torak bagian dorsal disebut notum
(Pracaya, 2004). Toraks merupakan tagma (segmen) lokomotor tubuh dan toraks
mangandung tungkai-tungkai dan sayap-sayap. Toraks terdiri atas tiga ruas,
bagian anterior protoraks, mesotoraks, dan bagian posterior metatoraks. Diantara
serangga-serangga memiliki dua pasang spirakel terbuka
pada toraks. Spirakel yang satu berkaitan dengan mesotoraks dan yang lain
berkaitan dengan metatoraks. Meso dan metahoraks mengalami beberapa
perubahan yang berkaitan dengan penerbangan (Suputa,2000).
a. Sayap
Sayap-sayap serangga adalah pertumbuhan-pertumbuhan keluar dari dinding
tubuh yang terletak pada dorso-lateral antara notum dan pleur. Mereka timbul
sebagai pertumbuhan keluar seperti kantung, tetapi bila berkembang dengan
sempurna, maka akan berbentuk gepeng dan seperti sayap dan diperkuat oleh
suatu deretan rangka-rangka sayap. Pada serangga, sayap berkembang
sempurna dan berfungsi dengan baik hanya ada dalam stadium dewasa, kecuali
pada Ordo Ephemeroptera, sayap berfungsi pada instar terakhirnya. Tidak
semua serangga memiliki sayap. Serangga tidak bersayap digolongkan ke
dalam sub kelas Apterygota, sedangkan serangga yang memiliki sayap
dimasukkan ke dalam golongan sub kelas Pterygota (Suputa,2000).
b. Tungkai/Kaki
Tungkai-tungkai thoraks serangga bersklerotisasi (mengeras) dan selanjutnya
dibagi menjadi sejumlah ruas. Secara khas, terdapat 6 ruas pada kaki serangga.
Ruas yang pertama yaitu koksa yang merupakan merupakan ruas dasar;
trokhanter, satu ruas kecil (biasanya dua ruas) sesudah koksa; femur, biasanya
ruas pertama yang panjang pada tungkai; tibia, ruas kedua yang
panjang; tarsus,biasanya beberapa ruas kecil di belakang tibia; pretarsus, terdiri
dari kuku-kuku dan berbagai struktur serupa bantalan atau serupa seta pada
ujung tarsus. Sebuah bantalan atau gelambir antara kuku-kuku biasanya
disebut arolium dan bantalan yang terletak di dasar kuku disebut pulvili
(Suputa,2000)
IV. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum kali ini, yaitu sebagai berikut:


1. Struktur tubuh serangga dibagi menjadi 3 bagian yaitu kepala, toraks, dan
abdomen
2. Pada bagian kepala terdapat antena, mata majemuk, mata tunggal, dan alat
makan (mulut). Pada bagian thorax terdapat prothorax, mesothorax, dan
metathorax. Pada bagian abdomen terdapat ovipositor, spirakel, sepasang
cerci, sepasang paraproct, dan sebuah epiproct.
DAFTAR PUSTAKA

Jumar. 2000. Entomologi pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.

Pracaya. 2004. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.

Riordi. 2009. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Tri Ganda Karya. Bandung.

Subyanto. 2007. Kunci Determinasi Serangga. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.


LAMPIRAN