Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

SISTEM TERNER PADA SISTEM AIR-KLOROFORM-ASAM ASETAT

Oleh
KELOMPOK 1
KELAS VI C

NI MADE DIAN PRABAYANTI 1313031057


ANAK AGUNG SRI YONI 1313031076
NI PUTU AYU EVA TRISNA WIDIANTINI 1313031079

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
APRIL 2016
PERCOBAAN IX
SISTEM TERNER PADA SISTEM AIR-KLOROFORM-ASAM ASETAT

I. TUJUAN :

1. Menggambarkan diagram sistem terner air-kloroform-asam asetat


2. Menentukan garis dasi (tie line) pada sistem terner air-kloroform-asam asetat

II. DASAR TEORI


Suatu konsentrasi maksimum yang dicapai suatu zat dalam suatu larutan disebut
dengan kelarutan suatu zat. Partikel-partikel zat yang terlarut baik berupa molekul maupun
berupa ion selalu berada dalam keadaan terhidrasi (terikat oleh molekul-molekul pelarut air).
Makin banyak pertikel zat terlarut makin banyak pula molekul air yang diperlukan untuk
menghindari zat terlarut ini. Setiap pelarut memiliki batas maksimum dalam melarutkan zat.
Untuk larutan yang terdri dari dua jenis larutan elektrolit maka dapat membentuk endapan
(dalam keadaan jenuh).
Pemisahan suatu larutan dalam campuran dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah
satunya dengan ekstraksi. Ekstraksi merupakan suatu metoda yang didasarkan pada
perbedaan kelarutan komponen campuran pada pelarut tertentu dimana kedua pelarut tidak
saling melarutkan. Bila suatu campuran dalam bentuk larutan, misalnya komponen A dan B
dicampurkan tetatpi didak saling melarutkan sehingga membentuk dua fasa. Maka untuk
memisahkannya digunakan pelarut yang kelarutannya sama dengan salah satu komponen
dalam campuran tersebut. Sehingga ketiganya membentuk satu fasa.
Jika ke dalam sejumlah air ditambahkan terus-menerus zat terlarut, lama-kelamaan
terdapat suatu keadaan dimana semua molekul air akan terpakai untuk menghidrasi partikel
yang dilarutkan sehingga larutan itu tidak mampu lagi menerima zat yang akan ditambahkan.
Dapat dikatakan larutan tersebut mencapai keadaan jenuh. Zat cair yang hanya sebagian larut
dalam cairan lainnya dapat dinaikkan kelarutannya dengan menambahkan suatu zat cair yang
berlainan dengan kedua zat cair yang lebih dahulu dicairkan. Bila zat cair yang ketiga ini
hanya larut dlaam suatu zat cair yang terdahulu, maka biasanya kelarutan dari kedua zat cair
yang terdahulu ini akan menjadi lebih kecil. Tetapi bila zat cair yang ketiga tersebut larut
dalam kedua zat cair yang terdahulu, maka kelarutan dari kedua zat cair yang terdahulu akan
menjadi besar. Gejala ini dapat terlihat pada sistem tiga komponen.
Sistem tiga komponen yang paling umum adalah sistem tiga komponen yang terdiri
atas zat cair yang bercampur sebagian contohnya adalah air-kloroform-asam asetat.
Berdasarkan Aturan Fasa atau Hukum Fasa ada hubungan yang umum antara derajat
kebebasan dengan jumlah komponen dan jumlah fasa dalam suatu sistem berkesetimbangan.
Hukum fasa secara matematis dinyatakan dengan persamaan:
F=C–P+2
Berdasarkan persamaan di atas, F menyatakan derajat kebebasan, C adalah jumlah komponen
dan P adalah jumlah fasa. Aturan Fasa ini pertama kali ditemukan oleh Gibss sehingga sering
juga disebut Aturan Fasa Gibbs (Retug, dkk., 2002).
Kesetimbangan dipengaruhi oleh temperatur, tekanan dan komposisi sistem. Untuk
sistem tiga komponen, derajat kebebasan, F = 3 – P + 2 = 5 - P. Untuk P = 1, maka F = 4.
Karena tidak mungkin menyatakan sistem seperti ini dalam bentuk grafik yang lengkap
dalam tiga dimensi, apalagi dalam dua dimensi. Oleh karena itu, biasanya sistem dinyatakan
pada suhu dan tekanan tetap, sehingga diagram hanya merupakan fungsi komposisi dan
derajat kebebasan menjadi
F=3-P
Jadi derajat kebebasan maksimal adalah dua, dan dapat dinyatakan dalam suatu bidang.
Untuk satu fasa dibutuhkan dua derajat kebebasan untuk menggambarkan sistem secara
sempurna dan untuk dua fasa dalam kesetimbangan dibutuhkan satu derajat kebebasan. Jadi
derajat kebebasan yang palng banyak adalah dua dan dapat dinyatakan dalam diagram satu
bidang. Cara terbaik untuk menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan
mendapatkan suatu kertas grafik segitiga (Dogra, 2009: 473).
Pada umumnya sistem 3 komponen merupakan sistem cair-cair-cair. Jumlah fraksi mol
ketiga komponen berharga 1 (XA+ XB+ XC = 1). Komposisi salah satu komponen sudah
tertentu jika dua komponen lainnya diketahui. Untuk memahami keadaan sistem tiga
komponen, digunakan diagram fasa segitiga. Diagram fasa merupakan cara mudah untuk
menampilkan wujud zat sebagai fungsi suhu dan tekanan.
Dengan adanya berbagai bentuk kesetimbangan antara komponen-komponen yang ada,
digunakan diagram fase segitiga. Diagram fase yang digambarkan sebagai segitiga sama sisi
menjamin dipenuhinya sifat ini (sistem 3 komponen) secara otomatis, sebab jarak ke sebuah
titik di dalam segitiga sama sisi yang diukur sejajar dengan sisi-sisinya sama dengan panjang
sisi segitiga itu. Diagram fase segitiga digambarkan sebagai berikut :
C

Gambar 1. Koordinat segitiga yang digunakan menggambarkan sistem tiga


komponen.

Dari diagram segitiga di atas, sisi-sisinya menggambarkan sistem dua bilangan. Titik-
titik yang ada pada garis terputus-putus menunjukkan fraksi mol C dan B dalam bagian yang
sama (Atkin, 1989). Titik A, B, C pada setiap sudut segitiga masing-masing menyatakan
100%A, 100%B, dan 100%C. Setiap titik dalam segitiga tersebut jika dihubungkan secara
tegak lurus ke sisi-sisinya akan diperoleh penjumlahan ketiga garis ini selalu konstan, sama
dengan tinggi segitiga tersebut. Jadi setiap komposisi dari sistem dapat dinyatakan oleh suatu
titik di dalam segitiga atau pada segitiga tersebut.
Pada koordinat di atas, garis yang sejajar dengan AB menyatakan komposisi C , garis
yang sejajar dengan BC menyatakan komposisi A, dan garis yang sejajar dengan CA
menyatakan komposisi B. Dapat dilihat pada gambar bahwa semakin mendekati titik A atau
B atau C maka komposisinya terhadap zat tersebut semakin besar. Garis AB, BC, dan CA
menyatakan keadaaan sistem ada dalam sisitem biner atau campuran dua komponen,
sedangkan daerah ke dalam dari garis-garis tersebut menyatakan sistem terner atau terdiri atas
tiga komponen. Sisi AB menunjukkan XC = 0, begitu pula untuk sisi lainnya (sisi AC
menunjukkan XB = 0, dan sisi BC menunjukkan XA = 0). Ini berarti bahwa setiap sisi segitiga
menunjukkan satu dari tiga sistem biner (A,B), (B,C), dan (C,A). Titik P menggambarkan
fraksi mol masing-masing komponen, XA = 0,50; XB = 0,10; dan XC = 0,40.
Sistem air-kloroform-asam asetat merupakan salah satu contoh sistem 3 komponen
(terner). Penentuan bentuk kurva pada sistem 3 komponen dapat dilakukan dengan
menentukan terlebih dahulu persentase masing-masing komponen. Air dan asam asetat dapat
bercampur seluruhnya, demikian juga dengan kloroform dan asam asetat. Air dan kloroform
hanya dapat bercampur sebagian. Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa
kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa aroma dalam makanan. Asam cuka
memiliki rumus molekul CH3COOH. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah
cairan higroskopis tak berwarna dan memiliki titik beku 16,70C. Asam asetat merupakan
salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam formal (Alamsyah, 2011).
Asam asetat lebih larut dalam air dibandingkan dalam kloroform oleh karenanya
bertambahnya kelarutan kloroform dalam air lebih cepat dibandingkan kelarutan air dalam
kloroform. Penambahan asam asetat berlebih lebih lanjut akan membawa sistem bergerak
kedaerah satu fase (fase tunggal). Namun demikian, saat komposisi mencapai titik balik
maksimum, ternyata masih ada dua lapisan walaupun sedikit. Kloroform yang kelarutannya
sangat kecil dalam air, apabila ditambahkan asam asetat maka kelarutannya akan bertambah
besar. Hal ini disebabkan oleh asam asetat mudah larut dalam air dan asam asetat dapat larut
dalam kloroform dalam berbagai perbandingan (Retug, 2004).
Diagram fase untuk sistem terner ini pada temperatur dan tekanan kamar ditunjukkan
oleh gambar 4. Diagram ini menunjukkan bahwa dua pasangan yang dapat larut seluruhnya
membentuk daerah berfase tunggal dan sistem air/kloroform (sepanjang alas segitiga)
mempunyai daerah dua fase. Alas segitiga yaitu sesuai dengan salah satu garis mendatar
dalam diagram fase dua-komponen.

Asam Asetat
100
75 a4 25
1 fasa
50 50
a3

25 a2” 2 fasa 75
a2’ a2
a1 100
100 75 50 25
air
kloroform
Gambar 2. Sistem tiga komponen (sistem terner) air-kloroform-asam asetat

Sistem fase tunggal terbentuk, jika cukup banyak asam asetat ditambahkan ke
campuran biner air/kloroform. Ini ditunjukkan dengan mengikuti garis a1, a4 pada gambar.
Mulai dari a1, kita mempunyai sistem dua fase dan jumlah relatif kedua fase dapat dibaca
dengan cara biasa (menggunakan aturan tuas). Penambahan asam asetat membawa sistem
bergerak sepanjang garis yang menghubungkan a1 dengan titik sudut asam asetat. Pada a2
larutan masih mempunyai dua fase tetapi terdapat lebih banyak air dalam fase kloroform (a2’)
dan lebih banyak kloroform di dalam air (a2’’) karena asam asetat membantu keduanya untuk
melarut. Diagram fase itu menunjukkan bahwa di dalam fase yang kaya air terdapat lebih
banyak asam asetat dari pada di dalam fase yang lain (a2’’ lebih dekat ke titik sudut asam
asetat daripada a2’). Pada a3 terdapat dua fase, tetapi lapisan kaya-kloroform hanya ada
sedikit. Penambahan asam lebih lanjut membawa sistem bergerak menuju a4 dan hanya
terdapat satu fase.

III. ALAT DAN BAHAN


A. Alat
Tabel 1. Alat yang Digunakan pada Sistem Terner
Nama Alat Ukuran Jumlah
Buret mikro 50 mL 1 buah
250 mL 6 buah
Erlenmeyer
100 mL 3 buah
Corong pisah - 1 buah
Gelas kimia 100 mL 4 buah
Pipet tetes - 2 buah
Neraca analitik - 1 buah
Statif - 3 buah
Klem - 3 buah
Ring - 1 buah
Gelas ukur 10 mL 1 buah

B. Bahan
Tabel 2. Bahan yang Digunakan pada Sistem Terner
Nama Bahan Konsentrasi Jumlah
Aquades - 500 mL
Kloroform - 15 mL
Larutan NaOH 0,1 M 20 mL
Asam asetat - 50 mL
Asam oksalat 0,05M 15 mL
Indikator fenolftalein (PP) - 5 mL

IV. PROSEDUR KERJA DAN HASIL PENGAMATAN

No Prosedur Kerja Hasil Pengamatan


1 Menyiapkan 2 buah buret masing-  Buret yang digunakan hanya satu buah dengan
masing diisi dengan kloroform dan spesifikasi buret yaitu 50 mL
asam asetat.  Buret diisi dengan larutan asam asetat
2 Menentukan massa jenis aquades  Massa jenis air diukur menggunakan piknometer
dengan menggunakan piknometer dan didapat sebesar 0,99176 g/cm3
sedangkan massa jenis kloroform  Massa jenis kloroform dan massa jenis asam
dan asam asetat dicari dari hand asetat dilihat pada handbook berturut-turut yaitu
book atau tabel botolnya. 1,49 g/cm3 dan 1,05 g/cm3
3 Menyediakan empat buah  Empat buah labu erlenmeyer disiapkan dan
Erlenmeyer dan masing-masing diberi label I, II, III, dan IV.
diberi tanda I, II, III,dan IV,  Komposisi air-klorofom yang ditambahkan pada
kemudian membuat empat macam masing-masing labu, sesuai pada tabel berikut:
komposisi air-kloroform dalam labu Tabel 3. Komposisi air-klorofom yang ditambahkan
Erlenmeyer tersebut. pada masing-masing labu
Labu I : 4 g aquades + 1 g Aquades Kloroform
kloroform Massa Volume Massa Volume
Labu II: 3 g aquades + 2 g (gr) (mL) (gr) (mL)
kloroform 4 4,033 1 0,6711
Labu III: 2 g aquades + 3 g 3 3,024 2 1,3422
kloroform 2 2,016 3 2,0134
Labu IV: 1 g aquades + 4 g 1 1,008 4 2,684
kloroform  Campuran air dengan kloroform membentuk
larutan bening tak berwarna dan terbentuk 2
lapisan.
4 Masing-masing campuran dalam  Titrasi menggunakan asam asetat menghasilkan
Erlenmeyer tersebut dititrasi dengan larutan keruh pada keempat larutan pada tabung
asam asetat sampai tidak keruh, Erlenmeyer.
kemudian dicatat volume asam  Titrasi terus dilakukan hingga larutan keruh
asetat yang digunakan. tersebut berubah menjadi larutan bening

Gambar 3. Hasil titrasi menghasilkan larutan


berwarna bening.
Berikut ini adalah hasil titrasi dari larutan air-
kloroform dengan asam asetat.
Tabel 4. Hasil titrasi dari larutan air-klorofom
dengan asam asetat
No Labu Volume CH3COOH (mL)
I 4,75
II 5,35
III 4,6
IV 3,2

5 Corong pisah yang bersih dan  Larutan aquades-klorofom-asam asetat


kering diambil dan selanjutnya diisi dicampur dalam corong pisah dan terbentuk
dengan 2,5 gram aquades dan 2,5 larutan yang berwarna bening. Setelah dikocok
gram kloroform. Selanjutnya terbentuk larutan yang keruh. Kemudian
ditambahkan satu gram asam asetat, didiamkan dan terbentuk tiga lapisan, yang
kemudian campuran dikocok hingga mana lapisan bawah merupakan klorofom
diperoleh campuran yang merata. berwarna bening, lapisan tengah adalah asam
asetat berwarna keruh dan lapisan atas adalah
aquades yang berwarna bening
Gambar 4. Campuran aquades-kloroform-asam
asetat
 Kemudian campuran dikocok kembali dan
didiamkan.
6 Campuran tersebut dibiarkan  Setelah dikocok dan didiamkan beberapa saat
beberapa saat sampai didapat campuran membentuk dua lapisan.
kembali 2 lapisan (L1 dan L2).
Sementara itu, 2 buah labu
Erlenmeyer yang bersih dan kering
disiapkan dan ditimbang keduanya
dengan teliti.

Gambar 5. Terbentuk dua lapisan setelah dikocok


dan didiamkan.
 Lapisan atas adalah asam asetat dalam aquades
(L1) keruh.
 Lapisan bawah adalah asam asetat dalam
kloroform (L2) berwarna bening.

7 Kedua lapisan yang diperoleh pada  Massa labu L2 adalah 110,3294 gram
langkah 7 kemudian dipisahkan dan Massa labu L2 + larutan adalah 111,8746 gram
masing-masing lapisan tersebut  Massa labu L1 adalah 108,5499 gram
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer Massa labu L1 + larutan adalah 111,1319 gram
(masing-masing diberi tanda L1 dan  Masing-masing larutan L1 dan L2 diambil
L2) yang telah diketahui massanya.
Kemudian ditimbang kembali kedua sebanyak 1 mL kemudian diencerkan sampai
Erlenmeyer tersebut. volume menjadi 25 mL, membentuk larutan
bening tak berwarna.
 Masing-masing larutan hasil pengenceran
diambil sebanyak 3 mL dan dimasukkan ke
dalam 3 Erlenmeyer yang berbeda.
8 Kedua cairan tersebut (L1 dan L2)  NaOH yang digunakan sebagai titran dalam
dititrasi dengan NaOH. titrasi terlebih dahulu distandarisasi
menggunakan asam oksalat menghasilkan
larutan bening tak berwarna.
 Asam oksalat digunakan sebagai titrat
sedangkan NaOH digunakan sebagai titran.
Indikator yang digunakan adalah fenolftalein
(PP), menghasilkan larutan yang berwarna
bening. Larutan dititrasi sampai menghasilkan
perubahan warna pada titrat menjadi merah
muda.
 Sebelum melakukan titrasi, NaOH yang
digunakan haruslah sudah distandarisasi.
 Volume NaOH yang digunakan sebagai
standarisasi adalah sebagai berikut.
Tabel 5. Volume NaOH yang digunakan untuk
standarisasi
Titrasi Volume Volume
ke- asam NaOH
oksalat 0,05
M (mL)
1 5 mL 5,7 mL
2 5 mL 5,8 mL
3 5 mL 6,0 mL
Rata-rata 5 mL 5,83 mL

 Standarisasi kemudian dilakukan pada larutan


L1 dan L2 yang sudah diencerkan dengan larutan
NaOH, dengan penambahan satu tetes indikator
PP, menghasilkan larutan bening tak berwarna.
Titrasi dihentikan sampai diperoleh larutan
berwarna merah muda.

(a)

(b)
Gambar 6. Hasil titrasi (a) lapisan atas dan (b)
lapisan bawah berwarna merah muda
 Hasil titrasi adalah sebagai berikut:
Tabel 6. Volume NaOH yang dihabiskan untuk
titrasi larutan L
Erlenmeyer Volume V
ke- L1 NaOH
(mL) (mL)
1 3 4
2 3 4
3 3 3.9
Rata-rata 3 3,96

Tabel 7. Volume NaOH yang dihabiskan untuk


titrasi larutan L2
Erlenmeyer Volume V NaOH
ke- L2 (mL) (mL)
1 3 0,9
2 3 1,15
3 3 1,15
Rata-rata 3 1.06

V. PEMBAHASAN
5.1 Analisis Data
Perhitungan volume kloroform dan aquades (air) pada masing-masing perbandingan
 Massa kloroform dan aquades pada perbandingan (1:4) gram
- Aquades - kloroform
massa = 4 gram massa = 1 gram
ρ = 0,99176 g/mL ρ = 1,49 g/mL
massa massa
volume  volume 
ρ ρ
4 gram 1gram
 
0,99176g/mL 1,49 g/mL
 4,0332mL  0,6711 mL
 Volume kloroform dan air pada perbandingan (2:3) gram
- Aquades - kloroform
massa = 3 gram massa = 2 gram
ρ = 0,99176g/mL ρ = 1,49 g/mL
massa massa
volume  volume 
ρ ρ
3 gram 2 gram
 
0,99176 g/mL 1,49 g/mL
 3,0249mL 1,3422 mL
 Volume kloroform dan air pada perbandingan (3:2) gram
- Aquades - kloroform
massa = 2 gram massa = 3 gram
ρ = 0,99176 g/mL ρ = 1,49 g/mL
massa massa
volume  volume 
ρ ρ
2 gram 3 gram
 
0,99176g/mL 1,49 g/mL
 2,0166mL  2,0134 mL

 Volume kloroform dan air pada perbandingan (4:1) gram


- Aquades - kloroform
massa = 1 gram massa = 4 gram
ρ = 0,99176 g/mL ρ = 1,49 g/mL
massa massa
volume  volume 
ρ ρ
1 gram 4 gram
 
0,99176 g/mL 1,49g/mL
1,0083mL  2,6845 mL

Perhitungan persentase komposisi asam asetat, kloroform, dan aquades pada masing-
masing perbandingan
Labu dengan perbandingan massa aquades (air) dan kloroform sesuai dengan tabel pada
prosedur kerja ditambahkan dengan asam asetat sampai larutan tidak keruh, kemudian
dihitung persentase massa komposisi masing-masing komponen untuk dapat menggambarkan
diagram fasa.
 Perhitungan pada aquades dan kloroform dengan perbandingan (4:1) gram
- volume asam asetat = 4,75 mL
ρ asam asetat = 1,05 g/mL
massa asam asetat =ρxV
= 1,05 g/mL x 4,75 mL
= 4,9875 gram
massa aquades = 4 gram
massa kloroform = 1 gram
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠
- Mol aquades = 𝑀𝑟
4 𝑔𝑟
= 18 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,22 𝑚𝑜𝑙
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚
- Mol kloroform = 𝑀𝑟
1 𝑔𝑟
= 119,5 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,0084 𝑚𝑜𝑙
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡
- Mol asam asetat = 𝑀𝑟
4,9875 𝑔𝑟
= 60 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,0831 𝑚𝑜𝑙

- Mol campuran aquades dan kloroform = 0,2284 mol


mol aquades
fraksi mol aquades 
mol campuran
0,22 mol
  0,96 mol
0,2284 mol

mol cloroform
fraksi mol cloroform 
mol campuran
0,0084 mol
  0,04mol
0,2284 mol
- Mol total campuran = mol (akuades + kloroform + asam asetat)
= (0,22 + 0,0084 + 0,0831) mol
= 0,3115 mol
𝑚𝑜𝑙 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡
𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑚𝑜𝑙 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡 =
𝑚𝑜𝑙 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛
0,0831 mol
  0,2667
0,3115 mol

mol kloroform
fraksi mol kloroform 
mol campuran
0,0084 mol
  0,0269
0,3115 mol

mol aquades
fraksi mol aquades 
mol campuran
0,22 mol
  0,7062
0,3115 mol

 Perhitungan pada akuades dan kloroform dengan perbandingan (3:2) gram


- volume asam asetat = 5,35 mL
ρ asam asetat = 1,05 g/mL
massa asam asetat =ρxV
= 1,05 g/mL x 5,35mL
= 5,6175 gram
massa aquades = 3 gram
massa kloroform = 2 gram
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠
- Mol aquades = 𝑀𝑟
3 𝑔𝑟
= 18 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,17 𝑚𝑜𝑙
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚
- Mol kloroform = 𝑀𝑟
2 𝑔𝑟
= 119,5 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,01 𝑚𝑜𝑙
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡
- Mol asam asetat =
𝑀𝑟
5,6175𝑔𝑟
= 60 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,0936 𝑚𝑜𝑙

- Mol campuran aquades dan kloroform = 0,18 mol


mol aquades
fraksi mol aquades 
mol campuran

0,17 mol
  0,94 mol
0,18 mol

mol cloroform
fraksi mol cloroform 
mol campuran
0,01 mol
  0,06 mol
0,18 mol
- Mol total campuran = mol (asam asetat + kloroform + aquades)
= (0,0936 + 0,01 + 0,17) mol
= 0,2736 mol
mol asam asetat
fraksi mol asam asetat 
mol campuran
0,0936 mol
  0,3421 mol
0,2736mol
mol kloroform
fraksi mol kloroform 
mol campuran
0,01 mol
  0,0365mol
0,2736 mol
mol aquades
fraksi mol aquades 
mol campuran
0,17 mol
  0,6213mol
0,2736 mol
 Perhitungan pada akuades dan kloroform dengan perbandingan (2:3) gram
- volume asam asetat = 4,6 mL
ρ asam asetat = 1,05 g/mL
massa asam asetat =ρxV
= 1,05 g/mL x 4,6 mL
= 4,83 gram
massa aquades = 2 gram
massa kloroform = 3 gram
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠
- Mol aquades = 𝑀𝑟
2 𝑔𝑟
= 18 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,11 𝑚𝑜𝑙
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚
- Mol kloroform = 𝑀𝑟
3 𝑔𝑟
= 119,5 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,025 𝑚𝑜𝑙
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡
- Mol asam asetat = 𝑀𝑟
4,83 𝑔𝑟
= 60 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,0805 𝑚𝑜𝑙

- Mol campuran aquades dan kloroform = 0,135 mol


mol aquades
fraksi mol aquades 
mol campuran
0,11 mol
  0,81
0,135 mol
mol cloroform
fraksi mol cloroform 
mol campuran
0,025mol
  0,19
0,135 mol
- Mol total campuran = mol (asam asetat + kloroform + aquades)
= (0,0805 + 0,025 + 0,11) mol
= 0,2155 mol
mol asam asetat
fraksi mol asam asetat 
mol campuran
0,0805 mol
  0,3735
0,2155 mol

mol kloroform
fraksi mol kloroform 
mol campuran
0,025 mol
  0,1160
0,2155 mol

mol aquades
fraksi mol aquades 
mol campuran
0,11 mol
  0,5104
0,2155 mol
 Perhitungan pada akuades dan kloroform dengan perbandingan (1:4)
- volume asam asetat = 3,2 mL
ρ asam asetat = 1,05 g/mL
massa asam asetat =ρxV
= 1,05 g/mL x 3,2 mL
= 3,36 gram
massa aquades = 1 gram
massa kloroform = 4 gram
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠
- Mol aquades = 𝑀𝑟
1 𝑔𝑟
= 18 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,056 𝑚𝑜𝑙
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚
- Mol kloroform = 𝑀𝑟
4 𝑔𝑟
= 119,5 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,033 𝑚𝑜𝑙
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡
- Mol asam asetat = 𝑀𝑟
3,36𝑔𝑟
= 60 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,056 𝑚𝑜𝑙

- Mol campuran aquades dan kloroform = 0,089 mol


mol aquades
fraksi mol aquades 
mol campuran
0,056 mol
  0,63mol
0,089 mol
mol cloroform
fraksi mol cloroform 
mol campuran
0,033mol
  0,37mol
0,089 mol
- Mol total campuran = mol (asam asetat + kloroform + aquades)
= (0,056 + 0,033 + 0,056) mol
= 0,145 mol
mol asam asetat
fraksi mol asam asetat 
mol campuran
0,054 mol
  0,3724mol
0,145 mol

mol kloroform
fraksi mol kloroform 
mol campuran
0,033 mol
  0,2275
0,145 mol

mol aquades
fraksi mol aquades 
mol campuran
0,056 mol
  0,3862
0,145mol

Tabel 8. Fraksi mol aquades, kloroform, dan asam asetat


Fraksi mol Fraksi mol Fraksi mol
No
asam asetat kloroform aquades
1 0,2667 0,0269 0,7062
2 0,3421 0,0365 0,6213
3 0,3735 0,1160 0,5014
4 0,3724 0,2275 0,3862

 Standarisasi NaOH dengan larutan H2C2O4 0,1 N


Tabel 9. Data hasil standarisasi NaOH
Volume Asam Oksalat Volume NaOH
(0,05M) (mL)
Titrasi I 5 mL 5,7
Titrasi II 5 mL 5,8
Titrasi III 5 mL 6,0
VNaOH rata-rata 5,83

VNaOH x NNaOH = Voksalat x Noksalat


VNaOH x n x MNaOH = Voksalat x n x Moksalat
5,83 mL x 1 x MNaOH = 5 mL x 2 x 0,05M
MNaOH = 0,085 M

 Menentukan garis dasi


Setelah dilakukan pengukuran diperoleh massa L1 dan L2. Kedua larutan ini dititrasi
dengan larutan NaOH. Adapun perhitungan massa L1 dan L2 adalah sebagai berikut.
 Untuk L1 (Lapisan Bawah)
Tabel 10. Data titrasi campuran L1 dengan NaOH
Titrasi Ke VL1(mL) VNaOH(mL)
1 3 4
2 3 4
3 3 3,9
Rata – rata VNaOH 3,967

Konsentrasi L1 (asam asetat) setelah pengenceran


VL1 x NL1 = VNaOH x NNaOH
3 mL x ML1 = 3,967 mL x 0,085 M
ML1 = 0,112 M

Konsentrasi L1 (asam asetat) sebelum pengenceran


VL1(awal) x NL1(awal) = VL1(akhir) x NL1(akhir)
3 mL x ML1(awal) = 25 mL x 0,112 M
ML1(awal) = 0,933 M

Mol asam asetat = Masamasetat x Vasamasetat


= 0,933M x 3mL
= 2,799 mmol = 2,799 x 10-3 mol
Massa asam asetat = mol asam asetat x massa molar asam asetat
= 2,799 x 10-3 mol x 60 gr/mol
= 0,1679 gram

Fraksi mol asam asetat dan kloroform pada L1 adalah :


Massa larutan lapisan 1 = 2,582gram
Massa Lapisan L1= Massa Kloroform + Massa asam asetat
2,582 gram = Massa Kloroform + 0,1679 gram
Massa Kloroform = Massa Lapisan L1 - Massa asam asetat
Massa Kloroform = 2,582 gram - 0,1679 gram
Massa Kloroform = 2,4141 gram
gram kloroform
Mol kloroform =
Mr Kloroform
2,4141 gram
=
119,5
= 0,02 mol
gram asam asetat
Mol asam asetat =
Mr Asam asetat
0,1679 gram
=
60
= 0,00279 mol
mol kloroform
Fraksi mol kloroform =
mol kloroform  mol asam asetat

0,02 mol
=
0,02 mol  0,00279 mol

0,02 mol
=
0,02279 mol
= 0,8775 mol

mol asam asetat


Fraksi mol asam asetat =
mol kloroform  mol asam asetat

0,00279 mol
=
0,02 mol  0,00279 mol
0,00279 mol
=
0,02279 mol
= 0,1224 mol

 Untuk L2 (Lapisan Atas)


Tabel 11. Data titrasi campuran L2 dengan NaOH
Titrasi Ke VL2(mL) VNaOH(mL)
1 3 0,9
2 3 1,15
3 3 1,15
Rata – rata VNaOH 3,2

Konsentrasi L2 (asam asetat) setelah pengenceran


VL2 x NL2 = VNaOH x NNaOH
3 mL x ML2 = 3,2mL x 0,085 M
ML2 = 0,09 M

Konsentrasi L2 (asam asetat) sebelum pengenceran


VL2(awal) x NL2(awal) = VL2(akhir) x NL2(akhir)
3 mL x ML2(awal) = 25 mL x 0,09 M
ML2(awal) = 0,75M

Mol asam asetat = Masamasetat x Vasamasetat


= 0,75M x 3 mL
= 2,25 mmol = 0,00225 mol

Massa asam asetat = mol asam asetat x massa molar asam asetat
= 0,00225 mol x 60 gr/mol
= 0,135 gram

Fraksi mol asam asetat dan kloroform pada L2 adalah :


Massa larutan lapisan 2 = 1,5452 gram
Massa Lapisan L2 = Massa Aquades+ Massa asam asetat
1,5452 gram = Massa aquades + 0,135 gram
Massa Aquades = Massa Lapisan L2 - Massa asam asetat
Massa Aquades = 1,5452gram – 0,135 gram
Massa Aquades = 1,4102 gram
gram aquades
Mol aquades =
Mr Aquades
1,4102 gram
=
18
= 0,07834 mol
gram asam asetat
Mol asam asetat =
Mr Asam asetat
0,135 gram
=
60
= 0,00225 mol
mol aquades
Fraksi mol aquades =
mol aquades  mol asam asetat

0,07834 mol
=
0, 07834 mol  0,00225 mol

0,07834 mol
=
0,0805 mol
= 0,9731mol

mol asam asetat


Fraksi mol asam asetat =
mol kloroform  mol asam asetat

0,00225 mol

0,07834mol  0,00225 mol

0,00225 mol
=
0,0805 mol
= 0,0279 mol
Tabel 12. Data fraksi mol masing-masing zat pada L1 dan L2
Nama Lapisan Fraksi mol
Aquades Asam asetat Kloroform

Lapisan 1 (Lapisan bawah) - 0,1224 0,8775

Lapisan 2 (Lapisan atas) 0,9731 0,0279 -

Dari persentase massa yang diperoleh dari perhitungan, dapat dibuat grafik diagram fasa dan
garis dasi sebagai berikut

100 %As.
asetat100 %As. Air : kloroform: as. asetat
asetat 0,37 : 0,23 : 0,39Air :
kloroform: as.Air
asetat
: kloroform: as. asetat
0,37 : 0,23 : 0,39
0,5 : 0,12 : 0,37Air :
kloroform: as. asetat
Air :: 0,12
0,5 kloroform:
: 0,37 as. asetat
1 Fase 0,62: 0,0365 : 0,34Air :
kloroform: as. asetat
0,62:
Air :0,0365 : 0,34as. asetat
kloroform:
0,7 : 0,023 : 0,267Air :
L1as. Asetat : kloroform kloroform: as. asetat
0,1224 : 0,7 : 0,023 : 0,267
0,8775L1as. Asetat : 2 Fase L2asam asetat : air
0,0279 :
kloroform
0,9731L2asam asetat :
0,1224 : 0,8775
air
100% 100% air100%
0,0279 :air
0,9731
kloform100%
Air : kloroform Air : kloroform Air : kloroform Air : kloroform
kloform
0,3862 : 0,2275 0,5014 : 0,1160 0,6213 : 0,0365 0,7062 : 0,269

Gambar 7. Diagram FaseSistemTigaKomponen Air-Kloroform-AsamAsetat


 L1 ( fraksi mol CH3COOH pada lapisan bawah) = 0,1224
 L2 ( fraksi mol CH3COOH pada lapisan atas) = 0,0279

5.2 Pembahasan

Praktikuminidilakukanuntukmenentukan garis dasi (tie line) dan diagram sistem


terner air-kloroform-asamasetat. Terdapat variasi komposisi pada volume aquades dan
klorofom sehingga jumlah asam asetat yang diperlukan ketika proses titrasi juga bervariasi.
Variasi bertujuan untuk memperoleh beberapa titik yang nantinya akan dihubungkan untuk
menggambarkan diagram sistem terner air-kloroform-asam asetat. Langkah-langkah yang
dilakukan pada praktikum ini adalah membuat larutan NaOH 0,1 M dan larutan asam oksalat
0,05M. Pembuatan larutan NaOH ini berfungsi untuk menitrasi asam asetat yang terdapat
pada L1 dan L2, sedangkan asam oksalat berfungsi untuk menstandarisasi larutan NaOH
dimana dengan menstandarisasi larutan NaOH maka akan dapat ditentukan konsentrasi
NaOH yang sebenarnya. Hal ini dikarenakan sifat dari NaOH yang higroskopis sehingga
konsentrasi NaOH yang telah dibuat bisa berubah. Berdasarkan hasil pengamatan, larutan
NaOH dan larutan asam oksalat berupa larutan bening tak berwarna. Setelah kedua larutan
dibuat, langkah selanjutnya adalah melakukan standarisasi dimana hasil standarisasi dapat
dilihat pada tabel di bawah.
Tabel 13. Volume NaOH yang digunakandalam standarisasi NaOH
Titrasi Ke Volume Asam Oksalat Volume NaOH
(0,1 N) (mL)
I 5 mL 5,7
II 5 mL 5,8
III 5 mL 6,0
VNaOH rata-rata 5,83

Berdasarkan data di atas maka dapat ditentukan konsentrasi NaOH yang telah dibuat.
Adapun konsentrasi NaOH adalah 0,085 M (perhitungan dapat dilihat pada analisis).
Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah penentuan massa jenis aquades,
kloroform, dan asam asetat. Adapun massa jenis aquades, kloroform, dan asam asetat
berturut-turut adalah 0,99176g/mL;1,49g/mL; 1,05g/mL. Setelah massa jenis dari ketiga zat
ditentukan maka selanjutnya dilakukan variasi terhadap komposisi aquades dan kloroform.
Variasi ini dibuat sebanyak 4 macam, adapun variasi komposisi ini dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 14. Data variasi komposisi campuran dalam satuan grampadamasing-masingtabung
Massa aquades Massa kloroform
No Labu
(g) (g)
I 4 1
II 3 2
III 2 3
IV 1 4

Oleh karena massa jenis kloroform adalah 1,49 g/mL dan massa jenis asam asetat adalah 1,05
g/mL, sehingga komposisi air-kloroform dalam volume dapat dilihat sebagai berikut.
Tabel 15. Data variasi komposisi campuran dalam satuan mL
No Labu Volume aquades Volume kloroform
(mL) (mL)
I 4,0332 0,6711
II 3,0249 1,3422
III 2,0166 2,0134
IV 1,0083 2,6845

Berdasarkan pengamatan, keempat variasi komposisi ini menghasilkan larutan yang keruh
atau terbentuk dua fasa. Hal ini dikarenakan kloroform dan aquades tidak dapat bercampur
dengan baik akibat perbedaan sifat kepolaran dari kedua larutan tersebut, dimana kloroform
bersifat nonpolar dan aquades bersifat polar.
Setelah itu ke dalam masing-masing variasi di atas dititrasi dengan asam asetat sampai
larutan tidak keruh. Adapun volume asam asetat yang diperlukan hingga menyebabkan
keempat variasi komposisi aquades-kloroform tidak keruh adalah sebagai berikut.
Tabel 16. Data hasil penambahaan asam asetat
Tabung VCH3COOH(mL)
I 4,75
II 5,35
III 4,6
IV 3,2

Berdasarkan data di atas maka dapat ditentukan persentase komposisi dari aquades-
kloroform-asam asetat pada tiap-tiap variasi. Adapun persentase aquades-kloroform-asam
asetat adalah sebagai berikut.

Tabel 17. Data fraksi mol aquades-kloroform-asam asetat


Fraksi mol Fraksi mol Fraksi mol
No
asam asetat kloroform aquades
1 0,2667 0,0269 0,7062
2 0,3421 0,0365 0,6213
3 0,3735 0,1160 0,5014
4 0,3724 0,2275 0,3862
Berdasarkan persentase komposisi aquades-kloroform-asam asetat pada tiap-tiap variasi ini
dapat dibuat diagram fasa sistem terner air-kloroform-asam asetat. Adapun diagramnya dapat
dilihat pada analisis.Pada diagram fasa di atas, daerah di atas kurva L1IV III II I L2 (yang
ditunjukkan dengan garis berwarna biru) merupakan daerah satu fasa. Setiap titik yang ada di
bawah kurva menyatakan adanya dua fasa cair dalam kesetimbangan.
Melalui data hasilpercobaan, ketika aquades ditambahkan dengan kloroform terbentuk
2 fasa cair, dimana air dan kloroform ini tidak saling melarutkan. Hal ini terlihat pada labu I,
II, III, IV, dimana keempat labu tersebut membentuk 2 fasa ketika ditambahkan kloroform.
Apabila dilihat pada diagram terner, posisi labu I, II, III, IV berada di daerah 2 fasa. Hal ini
disebabkan adanya perbedaan kepolaran dari kedua senyawa tersebut, dimana air bersifat
polar sedangkan kloroform bersifat nonpolar.
Campuran antara air dengan kloroform tersebut selanjutnya dititrasi dengan asam
asetat glasial. Titrasi dihentikan ketika warna keruh campuran hilang membentuk campuran
satu fase yang tidak berwarna. Ketika dilakukan titrasi, penambahan asam asetat pada
awalnya akan bercampur dengan air dan kloroform. Ketika penambahan asam asetat
dilakukan terus menerus, asam asetat tersebut menjadi larut dalam air dan kloroform. Setelah
beberapa lama titrasi, sistem terner akan menjadi satu fasa. Pada percobaan, hilangnya
kekeruhan campuran dapat diasumsikan sebagai suatu keadaan dimana campuran yang
terbentuk sudah satu fasa dan di dalam diagram terner merupakan titik awal terjadinya satu
fasa. Secara teoritis penambahan asam asetat menyebabkan campuran aquades-kloroform
menjadi tidak keruh dikarenakan kloroform yang kelarutannya sangat kecil dalam air, apabila
ditambahkan asam asetat, maka kelarutannya akan bertambah besar. Hal ini disebabkan oleh
asam asetat mudah larut dalam air dan asam asetat dapat larut dalam kloroform dalam
berbagai perbandingan. Hal ini ditunjukkan dengan mengikuti garis a1-a4.Pada a1 terdapat
sistem biner, sistem dua fasa, dan jumlah relatif dari dua fasa dapat ditentukan. Penambahan
asam asetat membawa sistem mengikuti garis menghubungkan a1 dengan ujungnya. Pada a2
larutan masih berada dalam dua fasa, tetapi jumlah air lebih banyak pada fasa kloroform
(kloroform larut dalam air pada a2’) dan lebih banyak kloroform pada fasa air (air larut dalam
kloroform pada a2’’) karena asam asetat membantu kelarutan kedua komponen tersebut. Perlu
diketahui bahwa diagram fasa tersebut menunjukkan bahwa lebih banyak asam asetat dalam
fasa yang kaya dengan air daripada fasa yang kaya akan kloroform (a2’ lebih dekat daripada
a2” ke ujung asam asetat). Pada a3 dua fasa terbentuk, tetapi lapisan yang kaya dengan
kloroform hanya muncul sebagai jejak. Penambahan asam asetat berikutnya membawa sistem
ke arah a4, dan pada daerah ini hanya satu fasa terbentuk.
Penentuan garis dasi dari sistem terner ini dapat ditentukan dengan melakukan
ekstraksi dimana ke dalam corong pisah ditambahkan aquades dan kloroform dengan massa
yang sama kemudian ditambahkan asam asetat sebanyak 1 gram. Ketiga larutan yang
ditambahkan ini membentuk dua lapisan yang tidak melarutkan. Lapisan 1 (L1) merupakan
lapisan yang berada di bawah dan lapisan 2 (L2) berada di atas. Lapisan 1 adalah campuran
asam asetat-kloroform sedangkan lapisan 2 adalah campuran air-asam asetat. Kedua lapisan
ini selanjutnya dititrasi dengan NaOH sehingga dapat ditentukan persentase asam asetat yang
terdapat pada L1 dan L2, dimana berdasarkan perhitungan diperoleh fraksi mol asam asetat
pada L1 adalah sebesar 0,1224 dan L2 adalah sebesar 0,0279 (perhitungan dapat dilihat pada
analisis). Kedua fraksi mol asam asetat ini selanjutnya dihubungkan sehingga diperoleh garis.
Garis yang diperoleh ini merupakan garis dasi, adapun garis dasi pada diagram fasa di atas
ditunjukkan oleh garis L1-L2.
Jumlah total asam asetat pada lapisan satu dan dua tidak 100% karena asam asetat
adalah asam lemah yang terionisasi sebagian, dimana dalam dua lapisan tersebut masih
terdapat asam asetat yang berada dalam bentuk molekulnya, sehingga yang dititrasi dengan
NaOH adalah asam asetat yang telah terionisasi. Hal ini menyebabkan mol NaOH tidak tepat
equivalen dengan mol total asam asetat. Hal ini dapat dilihat pada Ka dari asam asetat yaitu
1,8 x10-5. Dengan adanya Ka membuktikan bahwa asam asetat adalah asam lemah, yang
tidak terionisasi sempurna. Selain itu kemungkinan lain adalah ketidaktelitian dalam
mengadakan pengamatan dan dalam menimbang berat tiap lapis.

VI. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan pembahasan, maka dapat ditarik beberapa simpulan
sebagai berikut.
1. Diagram fasa sistem terner dibuat dengan menggunakan segitiga sama sisi. Daerah
pada diagram sistem terner aquades-kloroform-asam asetat akan terbagi menjadi dua
daerah, yaitu daerah satu fasa dan daerah dua fasa. Adapun gambar diagramnya
adalah sebagai berikut.
100 %As.
asetat100 %As. Air : kloroform: as. asetat
asetat 0,37 : 0,23 : 0,39Air :
kloroform: as.Air
asetat
: kloroform: as. asetat
0,37 : 0,23 : 0,39
0,5 : 0,12 : 0,37Air :
kloroform: as. asetat
Air :: 0,12
0,5 kloroform:
: 0,37 as. asetat
1 Fase 0,62: 0,0365 : 0,34Air :
kloroform: as. asetat
0,62:
Air :0,0365 : 0,34as. asetat
kloroform:
0,7 : 0,023 : 0,267Air :
L1as. Asetat : kloroform kloroform: as. asetat
0,1224 : 0,7 : 0,023 : 0,267
0,8775L1as. Asetat : 2 Fase L2asam asetat : air
0,0279 :
kloroform
0,9731L2asam asetat :
0,1224 : 0,8775
air
100% 100% air100%
0,0279 :air
0,9731
kloform100%
Air : kloroform Air : kloroform Air : kloroform Air : kloroform
kloform
0,3862 : 0,2275 0,5014 : 0,1160 0,6213 : 0,0365 0,7062 : 0,269

Melalui pengukuran fraksi mol asam asetat pada lapisan 1 yaitu 0,1224 dan lapisan 2 yaitu
0,0279. Titik yang menggambarkan komposisi campuran pada lapisan 1 dihubungkan dengan
titik yang menggambarkan komposisi campuran pada lapisan 2 sehingga diperoleh suatu
garis L1 dan L2. Garis L1-L2 inilah merupakan garis dasi dari sistem terner ini.
DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P. W. 2006. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga


Dogra, S.K. 2009. Kimia Fisik dan Soal-Soal. Jakarta: UI-PRESS
Suardana, I Nyoman, Nyoman Retug, dan I Wayan Subagia. 2002. Buku Ajar Kimia Fisika II.
Singaraja : Undiksha.
Tim Dosen Kimia Fisika. 2012. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Fisika. Jakarta: TGP
Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Wiratini, Ni Made & Nyoman Retug. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Fisika. Singaraja:
Undiksha.

Anda mungkin juga menyukai