Anda di halaman 1dari 15

ANATOMI WAJAH DAN LEHER

Peter M. Prendergast

2.1 Pendahuluan

Praktek bedah kosmetik yang aman dan efektif bergantung pada pengetahuan yang jelas dan
pemahaman tentang anatomi wajah. Teknik berevolusi dan berkembang sebagai arsitektur berlapis
yang kompleks dan kompartemen jaringan lunak wajah ditemukan dan digambarkan melalui
pencitraan, teknik pewarnaan, dan diseksi baik intraoperatif maupun dari penelitian laboratorium
pada mayat. Untuk menciptakan bentuk yang lebih muda dan tampak alami, ahli bedah berusaha
untuk membalikkan beberapa perubahan yang terjadi karena penuaan. Hal ini termasuk perubahan
volumetrik di kompartemen jaringan lunak, perubahan gravitasi, dan atenuasi ligamen. Apakah
rencana peremajaan termasuk rhytidectomy, platysmaplasty, transfer lemak autologous, implan,
atau teknik endoskopi, pengetahuan anatomi wajah dan leher akan meningkatkan kemungkinan
keberhasilan dan mengurangi insiden hasil yang tidak diinginkan atau komplikasi.

Bab ini menjelaskan anatomi wajah dalam lapisan atau bidang, dengan beberapa struktur
atau wilayah penting yang dijelaskan secara terpisah, termasuk saraf fasialis, syaraf sensorik, dan
arteri fasialis. Lapisan superfisial dan topografi leher juga akan dijelaskan. Kerangka wajah
membentuk jaringan keras wajah dan memberikan dukungan struktural penting dan proyeksi untuk
jaringan lunak di atasnya, serta transmisi saraf melalui foramen dan memberikan perlekatan untuk
beberapa otot mimesis dan otot pengunyahan.

Setelah deskripsi dari pondasi jaringan keras, jaringan lunak wajah akan dijelaskan, dari
superfisial ke profunda, dalam urutan berikut:

1. Kompartemen lemak superfisial


2. Sistem muskuloaponeurotik superfisial (SMAS)
3. Ligamen penahan
4. Otot mimetik
5. Bidang profunda, termasuk kompartemen lemak profunda
2.2 Tulang Wajah

Penampilan wajah sebagian besar ditentukan oleh konveksitas dan cekungan dari tulang
wajah(Gambar 2.1). Tulang pipi yang tinggi dan dagu yang kuat diasosiasikan dengan daya tarik
yang disebabkan oleh konveksitas dan proyeksi yang diberikan oleh tulang zygomatic dan tonjolan
mental pada mandibula, secara berurutan (Gambar 2.2). Kerangka wajah terdiri dari tulang frontal
pada bagian superior, tulang-tulang wajah bagian tengah, dan mandibula pada bagian inferior.
Wajah bagian tengan dibatasi secara superior oleh garis sutura zygomaticofrontal, secara inferior
oleh gigi rahang atas (maksila), dan posterior oleh sambungan sphenoethmoid dan pterygoid.
Tulang-tulang wajah bagian tengah termasuk maksila, tulang zygomatic, tulang palatine, tulang
hidung, prosesus zygomatic dari tulang temporal, tulang lakrimal, tulang ethmoid, dan turbinat-
turbinat. Kerangka wajah memiliki empat lubang: dua lubang orbital, lubang hidung, dan lubang
mulut. Foramen supraorbital (atau takik [notch]) dan takik frontal ditemukan di perbatasan
superior masing-masing orbit dan mentransmisikan saraf supraorbital dan supratrochlear, Secara
berurutan. Tulang maksila berkontribusi pada lubang hidung, jembatan hidung, gigi rahang atas,
lantai orbita, dan tulang pipi. Foramen infraorbital terletak pada maksila di bawah tepi orbital
inferior dan mentransmisikan saraf infraorbital. Foramen zygomaticofacial mentransmisikan saraf
zygomaticofacial inferolateral ke persimpangan dari pinggirian orbital inferior dan lateral.

Mandibula membentuk bagian bawah wajah. Di garis tengah, tonjolan mental memberikan
proyeksi anterior ke jaringan lunak di atasnya. Pada bagian lateral, ramus mandibula mendasari
otot masseter dan berlanjut ke arah superior untuk berartikulasi dengan kranium melalui prosesus
coronoid dan prosesus kondilus dari mandibula. Saraf mental muncul dari foramen mental pada
tubuh mandibula sejalan secara vertikal dengan saraf infraorbital dan supraorbital.

Selain menyediakan dukungan struktural, proyeksi, dan perlindungan organ sensorik


seperti mata, kerangka wajah memberikan area perlekatan untuk otot-otot ekspresi wajah dan otot-
otot mastikasi (Gambar 2.3).

2.3 Kompartemen Lemak Superfisial

Hasil pionir dari Rohrich dan Pessa, menggunakan teknik pewarnaan dan pembedahan
mayat, telah mengungkapkan sejumlah kompartemen lemak superfisial yang berbeda di wajah.
Kompartemen ini dipisahkan satu sama lain oleh jaringan fasia halus dan septae yang bertemu di
mana kompartemen yang berdekatan membentuk ligamen penahan. Kompartemen lemak
superfisial pada wajah terdiri dari: kompartemen lemak nasolabial; bantalan lemak pipi "malar"
medial, tengah, dan lateral temporal; bagian sentral, tengah, dan pipi lateral temporal pada dahi;
dan bantalan lemak orbital superior, inferior, dan lateral (Gambar 2.4). Lemak nasolabial terletak
di medial dari kompartemen lemak pipi dan berkontribusi pada lipatan nasolabial. Ligamen
penahan orbicularis di bawah tepi orbital inferior merupakan batas superior dari kompartemen
lemak nasolabial dan kompartemen pipi medial (Gambar 2.5). Kompartemen lemak pipi tengah
terletak di antara kompartemen lemak pipi temporal dan medial dan dibatasi secara superior oleh
sekelompok fasia yang disebut septum pipi superior. Batas-batas kompartemen lemak pipi tengah,
kompartemen lemak orbital inferior, dan kompartemen lemak orbital lateral berkumpul untuk
membentuk jaringan yang lebih kuat yang disebut ligamen zigomatik.

Kondensasi jaringan ikat pada perbatasan kompartemen medial dan tengah berkorelasi
dengan ligamen masseter di lokasi yang sama. Bantalan lemak pipi temporal lateral menjangkau
seluruh wajah dari dahi ke area servikal. Batas anteriornya, septum pipi lateral, ditemukan selama
prosedur facelift dengan diseksi medial dari insisi preaurikular. Pada dahi, batas atas dan bawah
dapat diidentifikasi sebagai septa temporal superior dan inferior. Medial dari kompartemen lemak
pipi temporal lateral di dahi, bantalan lemak temporal tengah dibatasi secara inferior oleh
ligamentum penahan orbikularis dan secara medial oleh kompartemen lemak dahi sentral. Di atas
dan di bawah mata, kompartemen lemak orbital superior dan inferior terletak di dalam perimeter
ligamen penahan orbikularis. Bantalan lemak periorbital ini dipisahkan dari satu sama lain secara
medial dan lateral oleh kantus medial dan lateral, secara berurutan. Kompartemen lemak orbital
lateral adalah bantalan lemak orbital ketiga dan dibatasi secara superior oleh septum temporal
inferior dan inferior oleh septum pipi superior. Otot utama zygomaticus menempel, melalui septum
fibrosa, ke bagian atas kompartemen lemak superfisial. Pada sepertiga bawah wajah, kompartemen
lemak leher melekat pada otot depressor anguli oris dan dibatasi secara medial oleh depressor labii
dan inferior oleh pita otot platysma. Lemak premental dan preplatysmal berbatasan dengan
kompartemen lemak leher.

Pengelompokan anatomi lemak subkutan superfisial wajah secara kompartemen memiliki


implikasi dalam proses penuaan. Kehilangan volume tampaknya terjadi pada tingkat yang berbeda
di kompartemen yang berbeda, yang menyebabkan iregularitas kontur wajah dan hilangnya transisi
yang halus antara konveksitas dan cekungan wajah yang berhubungan dengan kemudaan dan
kecantikan.

2.4 Sistem Musculoaponeurotik Superfisial

Pada tahun 1976, Mitz dan Peyronie mempublikasikan deskripsi tentang fasia wajah fibro-
lemak superfisial yang mereka sebut sebagai sistem muskuloaponeurotik superfisial (SMAS).
Sistem ini atau jaringan yang terdiri dari serabut kolagen, serat elastis, dan sel-sel lemak
menghubungkan otot mimesis ke dermis di atasnya dan memainkan peran fungsional penting
dalam ekspresi wajah. SMAS adalah pusat dari teknik facelift saat ini di mana biasanya sistem ini
dibedah, dimobilisasi, dan direkatkan. Dalam istilah sederhana, SMAS dapat dianggap sebagai
selembar jaringan yang memanjang dari leher (platysma) ke wajah (SMAS proper), daerah
temporal (fasia temporalis superfisial), dan medial di luar lekukan temporal menuju ke dahi (galea
aponeurotica). Namun, anatomi yang tepat dari SMAS, variasi regional, dan bahkan keberadaan
SMAS diperdebatkan. Ghassemi dkk menjelaskan dua variasi arsitektur SMAS. SMAS tipe I
terdiri dari jaringan septum fibrosa kecil yang melintasi tegak lurus antara lobulus lemak menuju
ke dermis dan dibawah otot wajah atau periosteum. Variasi ini ada di daerah dahi, parotid,
zygomatik, dan infra orbital. SMAS tipe II terdiri dari gumpalan serat kolagen padat, serat elastis,
dan serat otot dan ditemukan di bagian medial dari lipatan nasolabial, pada bibir atas dan bawah.
Meskipun sangat tipis, SMAS tipe II mengikat otot-otot wajah di sekitar mulut ke kulit di atasnya
dan memiliki peran penting dalam mentransmisikan gerakan kompleks selama pergerakan. Di atas
kelenjar parotid, SMAS relatif tebal. Lebih lanjut di bagian medial, SMAS menipis jauh sehingga
sulit untuk dibedah. Di wajah bagian bawah, SMAS mencakup cabang saraf fasialis serta saraf
sensorik. Diseksi superfisial pada SMAS di wilayah ini melindungi cabang saraf fasialis. Di atas
lengkungan zygomatikum, SMAS ada sebagai fasia temporal superfisial, yang terbagi untuk
menutup cabang temporal nervus fasialis dan bantalan lemak temporal intermediet. Diseksi di
daerah ini harus menuju kea rah profunda dari fasia temporal superfisial, ke fasia temporal
profunda, untuk menghindari cedera saraf. Meskipun dianggap sebagai satu "sistem" atau bidang,
ahli bedah harus memperhatikan perbedaan regional dalam anatomi SMAS dari superior ke
inferior dan lateral ke medial.
2.5 Ligamen Penahan

Ligamen penahan sejati adalah struktur yang mudah diidentifikasi yang menghubungkan
dermis dengan periosteum yang mendasarinya. Ligamen penahan non-sejati adalah kondensasi
yang lebih menyebar dari jaringan fibrosa yang menghubungkan fasia wajah superfisial dan fasia
wajah profunda (Gambar 2.6). Ligamen zigomatikum (tambalan McGregor/McGregor’s patch)
adalah ligamen sejati yang menghubungkan batas inferior dari lengkungan zygomatikum ke
dermis dan ditemukan tepat di posterior dari origin otot minor zygomaticus. Ligamen sejati lainnya
termasuk penebalan orbital lateral pada tepi orbital superolateral yang muncul sebagai penebalan
ligamen penahan orbikularis, dan ligamen penahan mandibula. Ligamen penahan mandibula
menghubungkan periosteum mandibula ke dermis di atasnya, medial dari origin depressor anguli
oris. Perlekatan ini menimbulkan lipatan labiomandibular secara anterior dari leher. Ligamen
masseterik adalah ligamen penahan non-sejati yang muncul dari perbatasan anterior masseter dan
masuk ke SMAS dan bagian atas dermis pipi. Seiring penuaan, ligamen ini menipis, SMAS di atas
masseter menjadi ptotik, dan hal ini mengarah pada pembentukan rahang. Di bawah lobus telinga,
ligamentum platysma-aurikular merupakan kondensasi jaringan berserat di mana kompartemen
lemak pipi temporal lateral memenuhi kompartemen lemak postauricular. Selama prosedur
peremajaan wajah, ligamen penahan sejati dan non-sejati ditemukan dan sering dilepaskan untuk
memobilisasi dan mengikis ulang jaringan. Perhatian ekstra harus diberikan ketika melepaskan
ligamen karena cabang saraf fasialis yang penting berhubungan erat dengan ligamen, seperti
ligamen penahan zigomatik dan mandibula.

2.6 Otot-Otot Mimetik

Otot-otot ekspresi wajah adalah otot tipis dan datar yang bertindak baik sebagai sfingter
lubang-lubang wajah, sebagai dilator, atau sebagai levator dan depressor alis dan mulut. Frontalis,
supercilii corrugator, supercilii depressor, procerus, dan orbicularis oculi mewakili otot-otot wajah
periorbital. Otot perioral termasuk otot levator, zygomaticus mayor dan minor, risorius, orbicularis
oris, depressor anguli oris, depressor labii, dan mentalis. Kelompok hidung termasuk kompresor
naris, dilator naris, dan depressor septi. Di leher, otot platysma terletak superfisial dan memanjang
hingga wajah bawah (Gambar 2.7).
Frontalis mewakili perut anterior otot occipitofrontalis dan merupakan pengangkat utama
dari alis. Fontalis muncul dari aponeurosis epikranial dan diteruskan ke atas dahi untuk
dimasukkan ke dalam serat orbicularis oculi, corrugators, dan dermis di atas alis. Kontraksi
mengangkat alis dan menyebabkan kerutan horisontal di atas dahi. Frontalis menerima persarafan
dari cabang temporal saraf fasialis.

Orbicularis oculi bertindak sebagai sfingter di sekitar mata. Otot ini terdiri dari tiga bagian,
bagian orbital, preseptal, dan pretarsal. Bagian orbital timbul dari bagian hidung dari tulang frontal,
prosesus frontal rahang atas, dan bagian anterior tendon kantus medial. Seratnya lewat dalam
lingkaran konsentris di sekitar orbita, jauh di luar batas tepi orbital. Kontraksi menyebabkan mata
tertutup paksa. Serabut superior juga mendepresikan alis. Orbicularis oculi preseptal muncul dari
tendon kantus medial, melewati septum orbital fibrosa tepi orbital, dan masuk ke cekungan
palpebral lateral. Pretarsal, yang terlibat dalam berkedip, menutupi lempeng tarsal kelopak mata
dan memiliki origin dan insersi yang serupa dengan pasangan preseptalnya. Otot-otot ini menerima
persarafan dari cabang temporal dan zygomatik dari saraf fasialis.

Supercilii corrugator timbul dari aspek superomedial dari tepi orbital dan menuju keatas
dan keluar untuk masuk ke dalam dermis di tengah alis. Dari origin di bagian bawah dari frontalis,
dua slip otot, satu vertikal dan satu melintang, melewati serat frontalis untuk mencapai dermis.
Cabang superfisial dan profunda dari saraf supraorbital berhubungan erat dengan supercilii
corrugator di bagian originnya dan rentan terhadap cedera selama reseksi otot ini. Supercilii
corrugator mendepresikan alis dan menariknya secara medial, seperti saat cemberut.

Supercilii depressor adalah otot slip tipis yang sulit dibedakan dari serat superomedial
orbicularis oculi. Otot ini masuk ke alis bagian medial dan bertindak sebagai depressor.

Procerus muncul dari tulang hidung, lewat secara superior, dan masuk ke dalam dermis
dari glabella di antara alis. Otot ini mendepresikan kulit dahi yang lebih rendah di garis tengah
untuk menciptakan lipatan horizontal di jembatan hidung. Kemodenervasi procerus dan corrugator
supercilii untuk mengurangi garis kerutan adalah salah satu indikasi estetika paling umum untuk
toksin botulinum. Procerus kadang-kadang membebani selama prosedur pengangkatan alis
endoskopi untuk mengurangi lipatan kerutan horizontal.
Zygomaticus mayor dan minor adalah otot superfisial yang berasal dari tubuh zigoma dan
menuju ke bawah, kemudian masuk ke sudut mulut dan bagian lateral bibir atas, secara berurutan.
Mereka menerima suplai saraf mereka di permukaan profunda dari cabang zygomatik dan buccal
dari saraf fasialis. Zygomaticus mayor dan minor mengangkat sudut mulut.

Levator labii terletak di bawah di orbicularis oculi dan bagian origin dari rahang atas
terletak tepat di atas foramen infraorbital. Otot ini menuju ke bawah kemudian masuk ke dalam
bibir atas dan orbicularis oris. Slip otot yang lebih kecil yang terletak medial dari bagian origin
dari maksila, levator labii superioris alaeque nasi, berasal dari prosesus frontal dari maksila dan
masuk ke tulang rawan hidung dan bibir atas. Kedua otot ini disupplai dari cabang-cabang
zygomatikum dan buccal dari saraf fasialis dan mengangkat bibir atas.

Levator anguli oris muncul dari bawah fossa kaninus maksila dibawah foramen infraorbital
dan menyisip ke bibir atas. Otot Ini diinervasi pada bagian superfisial oleh cabang zygomatikum
dan buccal dari saraf fasialis dan mengangkat sudut mulut.

Risorius sering kurang berkembang dan muncul dari penebalan otot platysma di atas pipi
lateral, fasia parotidomasseteric, atau keduanya. Otot ini menyisip ke sudut mulut dan menarik
sudut mulut ke samping.

Orbicularis oris bertindak sebagai sfingter di sekitar mulut dan serabutnya bertaut dengan
semua otot wajah lainnya yang bergerak di mulut. Cabang-cabang mandibular buccal dan marginal
dari saraf fasialis memberikan suplai motorik ke orbicularis oris, yang memiliki berbagai tindakan,
termasuk mengerucutkan, pelebaran, dan penutupan bibir.

Depressor anguli oris timbul dari periosteum mandibula sepanjang garis oblik yang terletak
lateral dari depressor labii inferioris. Serabutnya berkumpul pada modiolus dengan serabut
orbicularis oris, risorius, dan terkadang levator anguli oris. Otot ini disupplai oleh cabang
mandibula marginal dari saraf fasialis dan mendepresikan sudut mulut saat kontraksi. Depressor
labii inferioris muncul dari garis oblik mandibula di depan foramen mental, di mana serabut
depressor anguli oris menutupinya. Otot ini menuju ke atas dan medial untuk masuk ke dalam kulit
dan mukosa bibir bawah dan ke dalam serabut orbicularis oris.
Mentalis muncul dari fossa insisivus mandibula dan turun untuk masuk ke dalam dermis
dagu. Kontraksi mengangkat dan mencucukan bibir bawah dan menciptakan lesung yang khas di
dagu. Supplai motorik timbul dari saraf mandibula marjinal.

Nasalis terdiri dari dua bagian, bagian melintang (compressor naris) dan bagian alar (dilator
naris). Kompresor naris muncul dari rahang atas di atas gigi taring dan melewati dorsum hidung
untuk bertautan dengan serabut dari sisi kontralateral. Kompresor naris menekan apertur hidung.
Dilator naris berasal dari rahang atas tepat di bawah dan medial dari kompresor naris dan menyisip
ke tulang rawan alar hidung. Otot ini melebarkan lubang hidung saat respirasi. Depressor septi
adalah slip otot yang timbul dari rahang atas di atas gigi seri sentral, di bawah ke membran mukosa
bibir atas. Otot ini menyisip ke kartilago septum hidung dan menarik ujung hidung secara inferior.
Nasalis dan depressor septi menerima persarafan dari cabang buccal superior saraf fasialis.

2.7 Bidang Profunda Termasuk Kompartemen Lemak Profunda

Kompartemen lemak superfisial yang dijelaskan di atas terletak di atas otot-otot ekspresi
wajah pada bidang subkutan. Di wajah bagian tengah, lemak suborbicularis oculi dan lemak pipi
profunda merupakan kompartemen lemak profunda yang memberikan volume dan bentuk ke
wajah dan bertindak sebagai bidang peluncur di mana otot-otot ekspresi wajah dapat bergerak
bebas. Lemak suborbicularis oculi (Suborbicularis Oculi Fat/SOOF) memiliki dua bagian, medial
dan lateral. Komponen medial meluas sepanjang tepi orbital inferior dari limbus medial
(sklerokornea) ke kantus lateral dan komponen lateral dari kantus lateral ke bantalan lemak
temporal. Antara SOOF dan periosteum dari proses zigomatik rahang atas, terdapat ruang
meluncur, yaitu ruang prezygomatic. Ruang ini dibatasi secara superior oleh ligament penahan
orbicularis dan inferior oleh ligamen penahan zigomatikum (Gambar 2.8). Bantalan lemak
sublevator terletak medial dari kompartemen SOOF medial dan merupakan bagian bantalan lemak
infraorbital profunda yang paling medial. Bantalan lemak ini adalah perpanjangan dari bantalan
lemak buccal, di belakang levator labii superioris alaeque nasi dan berlanjut di bawah dan lateral
dengan ekstensi melolabial dan buccal dari bantalan lemak buccal. Bantalan lemak buccal adalah
struktur estetis penting yang terletak di bagian posterolateral dari maksila, superfisial dari otot
buccinator, dan profunda dari anterior masseter. Secara fungsional, ini memfasilitasi gerakan
meluncur bebas untuk otot-otot mastikasi di sekitarnya. Seperti ekstensi medial yang dijelaskan di
atas, bantalan terus berlanjut secara lateral sebagai ekstensi pterygoid (Gambar 2.9). Cabang
buccal dari saraf fasialis dan saluran parotid berjalan sepanjang permukaan bantalan dalam fasia
parotidomasseteric setelah meninggalkan kelenjar parotid.

Bantalan lemak galea terletak kea rah profunda dari frontalis di dahi dan memanjang ke
arah superior sekitar 3 cm. Bantalan ini membungkus corrugator dan procerus dan membantu
peluncuran otot-otot ini selama pergerakan. Lemak retro-orbicularis oculi (Retro-Orbicularis
Oculi Fat/ROOF) adalah bagian dari bantalan lemak galea diatas tepi orbital superolateral dari
tengah tepi ke luar dari bagian lateral. Terletak ke arah profunda dari serabut superolateral
orbicularis oculi orbital dan preseptal dan berkontribusi pada kepenuhan (pada masa muda) dan
berat (dalam penuaan) dari alis dan kelopak mata lateral.

Seiring penuaan, ligamen penahan di bawah mata menipis. Hal ini, bersama dengan
pengurangan volume di kompartemen lemak superfisial dan profunda, menghasilkan lipatan dan
alur yang terlihat di pipi dan bawah mata (Gambar 2.10).

Fasia servikal profunda yang meliputi sternokleidomastoid di leher berlanjut ke atas untuk
menutupi kelenjar parotid di antara prosesus mandibula dan mastoid. Lapisan fasia yang menutupi
kelenjar parotid dan masseter, disebut fasia parotidomasseteric, terus menuju ke arah superior
untuk masuk ke dalam batas inferior dari lengkungan zygomatic. Di daerah temporal, fasia pada
bidang yang sama muncul sebagai fasia temporal profunda, yang menyisip ke batas superior
lengkungan zygomatic. Pada wajah bagian bawah, cabang-cabang saraf fasialis terletak di bawah
fasia profunda, sedangkan di atas lengkungan zigomatik dan di wajah atas, cabang saraf fasialis
terletak superfisial dari fasia profunda dan rentan terhadap cedera selama diseksi superfisial.

2.8 Leher

Peremajaan leher secara bedah sering dimasukkan dalam rencana keseluruhan peremajaan wajah
untuk menjaga keharmonisan dan meningkatkan hasil. Prosedur bedah kosmetik di leher biasanya
menangani struktur superfisial: kulit, lemak subkutan, dan platysma. Terkadang, sebagian lemak
subplatysmal dan bahkan otot-otot digastrik direseksi untuk memperbaiki kontur leher. Tujuan
operasi adalah untuk memperbaiki atau mengembalikan ketegasan penanda topografi leher. Hal
ini termasuk sudut mentoserviks yang tajam, batas mandibula yang tegas, dan batas anterior
sternokleidomastoid yang menonjol.

Leher dapat dibagi menjadi anterior, posterior, posterior servikal, dan daerah
sternokleidomastoid (Gambar 2.11). Kebanyakan intervensi bedah kosmetik terjadi di wilayah
anterior atau segitiga. Konten masing-masing bagian dijelaskan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Bagian-bagian leher


Divisi Subdivisi Konten
Segitiga anterior Segitiga submandibular Kelenjar dan nodus submandibular; pembuluh fasialis
dan submental; saraf hypoglossal, glossoesofageal,
dan mylohyoid
Segitiga submental Nodus submental dan vena jugular anterior
Segitiga muscular Otot sternotiroid dan sternohyoid, kelenjar tiroid dan
paratiroid
Segitiga karotis Bifurkasi karotis, badan karotis, saraf hypoglossal dan
vagus
Sternokleidomastoid Sternocleidomastoid, arteri carotid dan pembungkus
carotid, vena jugular interna, saraf vagus, nodus limfa
Segitiga posterior Segitiga supraklavikular Bagian dari pleksus brakialis, arteri subclavian,
pembuluh servikal superfisial dan suprascapular,
akhir dari vena jugular eksterna
Segitiga oksipital Saraf aksesori, batang pleksus brakialis, arteri
oksipitalis, cabang kutaneus dari pleksus servikal
Servikal posterior Arteri vertebral, pleksus servikal, otot nuchal

Tepat di bawah kulit di segitiga servikal anterior terletak otot platysma. Platysma adalah
otot lembaran tipis yang luas yang muncul dari fasia otot dada dan bahu dan menuju ke atas di atas
klavikula dan leher ke arah wajah bawah. Sepanjang perjalanannya, platysma mencakup bagian
medial sternokleidomastoid, saraf servikal transversal dan saraf aurikularis yang lebih besar
(greater auricularis nerve), cabang servikal dan mandibula dari saraf fasialis, pembuluh fasialis,
kelenjar submandibular, dan bagian inferior dari parotid (Gambar 2.12). Serabut masuk ke
perbatasan mandibula, otot perioral, modiolus, dan dermis pipi. Meskipun terdapat variasi,
platysma biasanya bertautan dengan serabut dari sisi lain 1-2 cm di bawah mandibula. Sebagai
bagian dari penuaan, serabut medial menipis atau menebal untuk menciptakan platysmal band.
Secara fungsional, platysma mendepresikan mandibula selama inspirasi yang dalam tetapi
mungkin memiliki fungsi lebih utama sebagai otot mimetik untuk mengekspresikan perasan horor
atau jijik. Hal ini dianggap sebagai perpanjangan paling inferior dari SMAS dan dipersarafi oleh
cabang servikal dari saraf fasialis.

Diantara platysma dan sternocleidomastoid, terdapat lapisan jaringan ikat longgar yang
disebut fasia servikal superfisial. Bidang ini memungkinkan platysma meluncur dengan mudah di
atas sternokleidomastoid dan memungkinkan pengangkatan jahitan platisma minimal invasif
dengan efektif. Tepian bebas platysma biasanya terletak sekitar 3 cm di bawah perbatasan
mandibula, tepat di anterior dari perbatasan anterior sternokleidomastoid.

Segitiga servikal anterior terikat secara posterior oleh batas anterior sternokleidomastoid,
secara anterior oleh garis median leher, dan secara superior oleh batas inferior mandibula. Segitiga
ini selanjutnya dibagi menjadi segitiga submandibular, submental, muskular, dan karotid oleh otot
digastrik dan omohyoid (Gambar 2.11). Tendon intermediet, melekat pada tanduk yang lebih besar
(greater horn) dari tulang hyoid, membagi digastric menjadi perut posterior dan anterior. Perut
posterior muncul dari takik mastoid di belakang prosesus mastoid tulang temporal. Melewati
anterior dan inferior di bawah mandibula menuju tulang hyoid di mana ia menjadi tendon digastrik.
Tendon digastrikus melewati tendon intermediet dan muncul secara anterior sebagai perut
digastrik anterior. Perut anterior masuk ke fossa digastrik pada batas inferior rahang bawah dekat
garis tengah. Otot digastrik berfungsi untuk mendepresikan dan menarik mandibula dan
mendukung tulang hyoid. Otot ini bisa dirasakan sebagai massa di bawah dagu ketika lidah
diretraksi.

2.9 Saraf Fasialis

Saraf fasialis (saraf kranial ketujuh) memberikan persarafan motorik ke otot-otot ekspresi
wajah. Dimulai di wajah dengan muncul dari foramen stylomastoid, 6-8 mm medial dari sutura
tympanomastoid tengkorak. Sebelum memasuki substansi kelenjar parotid, saraf aurikuler
posterior dan saraf menuju perut digastrik posterior dan cabang stylohyoid dari batang utama.
Dalam kelenjar parotid, saraf fasialis membelah menjadi cabang-cabang utamanya: cabang
temporal, cabang zygomatikum, cabang buccal, cabang mandibula marginal, dan cabang servikal
(Gambar 2.13).
Cabang temporal dari saraf wajah meninggalkan batas superior kelenjar parotid menjadi
tiga atau empat rami. Mereka menyeberangi lengkungan zygomatic, antara 0,8 dan 3,5 cm anterior
dari meatus akustik eksternal, dan biasanya sekitar 2,5 cm anterior dari meatus. Ketika sejajar
dengan lengkungan zygomatic, cabang yang paling anterior selalu minimal 2 cm posterior dari tepi
orbital lateral. Cabang-cabang temporal melewati selubung fasia temporal superfisial dengan
bantalan lemak tengah, superfisial dari fasia temporal profunda. Cabang temporal memasuki
frontalis sekitar 2 cm di atas alis, tepat di bawah cabang anterior dari arteri temporalis superfisial.

Terdapat hingga tiga cabang zygomatic dari saraf fasialis. Cabang atas lewat di atas mata
untuk menyuplai frontalis dan orbicularis oculi. Cabang bawah selalu melewati bagian bawah
origin otot zygomaticus mayor dan menyuplai otot ini, otot elevator bibir lainnya, dan orbicularis
oculi bawah. Cabang yang lebih kecil berlanjut di sekitar bagian medial mata untuk menyuplai
supercilii depressor dan orbikularis oculi superomedial.

Cabang bukal keluar dari parotid dan terikat erat dengan permukaan anterior masseter di
dalam fasia parotidomasseteric. Cabang ini berlanjut secara anterior di atas bantalan lemak buccal,
di bawah dan sejajar dengan saluran parotid, untuk menyuplai otot buccinators dan otot-otot bibir
atas dan hidung. Cabang kedua terkadang ada, tetapi ini berjalan superior dari duktus parotid di
bagian anterior.

Nervus mandibular marginal keluar dari bagian bawah kelenjar parotid sebagai satu hingga
tiga cabang utama. Biasanya berjalan di atas batas inferior rahang bawah, tetapi bisa turun hingga
4 cm di bawahnya. Sekitar 2 cm posterior dari sudut mulut, saraf menuju ke atas dan lebih
superfisial untuk menginnervasi otot depresor bibir. Meskipun tetap lebih profunda dari platysma,
nervus ini rentan terhadap cedera selama prosedur bedah di wajah bawah pada lokasi ini.

Cabang servikal dari saraf fasialis masuk ke leher pada level tulang hyoid untuk
menginnervasi otot platysma.

2.10 Saraf Sensorik

Persarafan sensorik fasialis melalui tiga divisi saraf trigeminal (saraf kranial kelima): saraf
oftalmikus, saraf maksilaris, dan saraf mandibula. Saraf oftalmikus menyuplai dahi, kelopak mata
bagian atas, dan dorsum hidung melalui saraf supraorbital, supratroklear, infratroklear, lakrimal,
dan hidung eksternal. Saraf maksilaris menyuplai kelopak mata bagian bawah, pipi, bibir atas, ala
hidung, dan bagian dari pelipis melalui saraf infraorbital, zygomaticofacial, dan
zygomaticotemporal. Saraf maksilaris juga menyuplai gigi maksilaris melalui saraf alveolar dan
rongga hidung melalui saraf pterygopalatine. Saraf mandibula memiliki serabut motorik dan
sensorik. Cabang-cabangnya termasuk saraf alveolar inferior, saraf lingual, saraf buccal, dan saraf
aurikulotemporal. Persarafan ini menyuplai kulit di atas mandibula, pipi bawah, bagian dari pelipis
dan telinga, gigi bawah, mukosa gingiva, dan bibir bawah (Gambar 2.14). Saraf aurikularis yang
lebih besar (greater auricularis nerve), berasal dari rami primer anterior dari saraf cervicalis kedua
dan ketiga, menyuplai kulit di atas sudut mandibula.

Saraf supraorbitalis muncul dari orbita di takik supraorbital (atau foramen), 2,3-2,7 cm dari
garis tengah pada pria dan 2,2-2,5 cm dari garis tengah pada wanita. Saraf ini memiliki cabang
superfisial dan profunda yang mengangkangi otot corrugator. Terkadang cabang-cabang ini keluar
dari foramina yang terpisah, cabang profunda muncul pada lokasi lateral dari yang superfisial.
Cabang profunda biasanya berjalan lebih superior antara galea dan periosteum dahi sekitar 0,5-1,5
cm medial dari garis puncak temporal superior.

Saraf supratrochlear keluar dari orbita sekitar 1 cm medial dari saraf supraorbital dan
berjalan dekat dengan periosteum di bawah corrugator dan frontalis. Beberapa cabangnya
menyuplai kulit di atas kelopak mata medial dan dahi medial bagian bawah. Saraf infratrochlear
adalah cabang terminal saraf nasociliary yang menyuplai area kecil pada bagian medial kelopak
mata atas dan jembatan hidung. Saraf nasal eksternal menyuplai kulit hidung di bawah tulang
hidung, kecuali kulit di atas nares eksternal. Saraf lakrimal menyuplai kulit di atas bagian lateral
kelopak mata bagian atas.

Saraf infraorbital adalah cabang kutaneus terbesar dari saraf maksilaris. Memasuki wajah
melalui foramen infraorbital sekitar 2,7-3 cm dari garis tengah pada pria dan 2,4-2,7 cm dari garis
tengah pada wanita, sekitar 7 dan 6 mm lebih rendah daripada tepi orbital inferior pada pria dan
wanita, secara berurutan. Saraf muncul dari foramen tepat di bawah origin otot levator labii
superioris. Saraf ini menyuplai kelopak mata bagian bawah, ala hidung, dan bibir atas. Syaraf
zygomaticofacial muncul dari foramen zygomaticofacial, dibawah dan lateral dari tepi orbital dan
menyuplai kulit eminensia malar. Saraf zygomaticotemporal muncul dari foramennya di
permukaan profunda tulang zygomatic dan menyuplai pelipis anterior.

Saraf mental adalah cabang dari saraf alveolar inferior yang keluar dari foramen mental,
satu garis vertikal dengan foramen infraorbital, di antara apeks gigi premolar. Sering terlihat dan
mudah teraba melalui mukosa mulut yang membentang. Saraf ini menyuplai kulit di atas bibir
bawah dan rahang bawah. Cabang buccal dari saraf mandibula menyuplai mukosa buccal dan kulit
pipi, dan saraf lingual memberikan persarafan sensorik ke dua pertiga bagian anterior lidah dan
dasar mulut. Saraf aurikulotemporal muncul dari belakang sendi temporomandibular untuk
menyuplai kulit sepertiga telinga bagian atas, meatus akustik eksternal, membran timpani, serta
kulit di atas regio temporal. Serabut secretomotor juga melewati saraf auriculotemporal ke kelenjar
parotid.

2.11 Arteri Wajah

Kulit dan jaringan lunak wajah menerima suplai arteri dari cabang-cabang arteri fasialis,
maksilaris, dan superfisial temporal - semua cabang dari arteri karotid eksternal. Terkecuali pada
area yang seperti topeng, termasuk dahi sentral, kelopak mata, dan bagian atas hidung, yang
disuplai melalui sistem karotis internal oleh arteri oftalmikus (Gambar 2.15).

Arteri fasialis timbul dari karotis eksternal dan berputar di sekitar batas inferior dan anterior
mandibula, tepat di anterior dari masseter. Arteri ini menembus fasia masseterik dan naik ke atas
dan ke arah medial menuju mata. Arteri fasialis terletak kea rah profunda dari otot zygomaticus
dan risorius tetapi superfisial dari otot buccinator dan levator anguli oris. Pada level mulut, arteri
fasialis mengirim dua arteri labial, inferior dan superior, ke dalam bibir di mana mereka lewat di
bawah orbicularis oris. Kelanjutan dari arteri fasialis di dekat kantus medial, di samping hidung,
adalah arteri angular.

Arteri maksilaris adalah cabang terminal dari karotid eksternal dengan tiga cabang utama,
arteri mental, buccal, dan infraorbital. Arteri mental adalah cabang terminal dari arteri alveolar
inferior yang melewati foramen mental untuk menyuplai dagu dan bibir bawah. Arteri buccal
melintasi otot buccinators untuk menyuplai jaringan pipi. Arteri infraorbital mencapai wajah
melalui foramen infraorbital dan menyuplai kelopak mata bagian bawah, pipi, dan hidung lateral.
Ia beranastomosis dengan cabang-cabang arteri transversa fasialis, oftalmikus, buccal, dan fasialis.

Arteri temporalis superfisial adalah cabang terminal dari arteri karotid eksternal. Dalam
substansi parotid, tepat sebelum mencapai lengkungan zygomatikum, ia memberi cabang menjadi
arteri transversus fasialis yang berjalan inferior dan sejajar dengan lengkungan dan menyuplai
parotid, saluran parotid, masseter, dan kulit kantus lateral. Arteri temporalis superfisial melintasi
lengkungan zygomatikum secara superfisial di dalam fasia temporal superfisial. Di atas
lengkungan, ia memberi cabang menjadi arteri temporal tengah yang menembus fasia temporal
profunda dan menyuplai otot temporalis. Setelah itu, sekitar 2 cm di atas lengkungan zigomatikum,
arteri temporalis superfisial terbagi menjadi cabang anterior dan posterior. Cabang anterior
menyuplai dahi dan membentuk anastomosis dengan pembuluh supraorbital dan supratroklear.
Bagian posterior menyuplai kulit kepala parietal dan periosteum.

Arteri ofalmikus adalah cabang dari sistem karotis interna (Gambar 2.15). Cabang-
cabangnya meliputi arteri lakrimal, supraorbital, supratroklear, infratrochlear, dan arteri nasal
eksternal. Terdapat komunikasi yang signifikan antara sistem arteri karotid eksternal dan internal
di sekitar mata melalui beberapa anastomosis. Injeksi filler intra-arteri untuk pembesaran jaringan
lunak di sekitar mata yang tidak hati-hati dapat menyebabkan oklusi pembuluh retina sentral dan
berpotensi kebutaan. Untuk menghindari komplikasi ini, filler harus disuntikkan dalam volume
kecil menggunakan kanula tumpul dan teknik injeksi retrograde yang hati-hati.