Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PASANGAN USIA SUBUR

Pokok Bahasan : PASANGAN USIA SUBUR

Sub Pokok Bahasan : 1. PENGERTIAN USIA SUBUR

2. WANITA DAN PRIA USIA SUBUR

3. PENTINGNYA KONSELING PRA KEHAMILAN

4. TUGAS PASANGAN SUAMI ISTRI SELAMA KONSELING


PRA KEHAMILAN

Sasaran : KELUARGA Bapak Oktavian

Hari/Tanggal : SELASA, 22 MEI 2018

Tempat : Ds. Ganesha Rt 04/07 purwosari Kudus (Rumah Bapak


Oktavian)

Waktu : 30 menit

Penyuluh : Kelompok 2

a. Latar Belakang

Pasangan usia subur berkisar antara usia 20-45 tahun dimana pasangan (laki-
laki dan perempuan) sudah cukup matang dalam segala hal terlebih organ reproduksinya
sudah berfungsi dengan baik. Ini dibedakan dengan perempuan usia subur yang berstatus
janda atau cerai. Pada masa ini pasangan usia subur harus dapat menjaga dan memanfaatkan
reprduksinya yaitu menekan angka kelahiran dengan metode keluarga berencana sehingga
jumlah dan interval kehamilan dapat diperhitungkan untuk meningkatkan kualitas reproduksi
dan kualitas generasi yang akan datang.
Masa reproduksi merupakan masa terpenting bagi wanita dan berlangsung
kira-kira 33 tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan siklus pada alat genital
bermakna untuk memungkinkan kehamilan. Pada masa ini terjadi ovulasi kurang
lebih 450 kali, dan selama ini wanita berdarah selama 1800 hari. Biarpun pada usia 40
tahun ke atas wanita masih mampu hamil, tetapi fertilitas menurun cepat sesudah usia
tersebut.

Penyuluhan ini adalah upaya pemberdayaan, meningkatkan kesehatan, serta


meningkatkan pengetahuan tentang pasangan usia subur (PUS). Dalam penyuluhan
ini akan dibahas mengenai pengertian pasanagn usia subur (PUS), wanita dan pria
usia subur, pentingnya konseling pra kehamilan, serta tugas pasangan suami istri
selama konseling pra kehamilan.

b. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum (Tiu)
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan tentang penggunaan alat kontrasepsi,
Pasangan Usia Subur / Pasangan Suami Istri diharapkan memahami tentang
berbagai macam alat kontasepsi dan menerapkan dalam kehidupannya.
2. Tujuan Instruksional Khusus (Tik)
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan 25 menit, keluarga dapat menjelaskan
kembali :
a. Pengertian Usia Subur
b. Wanita Dan Pria Usia Subur
c. Pentingnya Konseling Pra Kehamilan
d. Tugas Pasangan Suami Istri Selama Konseling Pra Kehamilan

c. Pokok Materi
( Terlampir )
d. Kegiatan Belajar Mengajar
 Metode : Ceramah dan Tanya jawab
 Pengorganisasian :
 Pembawa Materi : Kelompok 2
 Kegiatan Penyuluhan :

No. Tahap Waktu Kegiatan Media


1. Pembukaan 5 menit  Menyampaikan salam Lisan
 Menjelaskan tujuan
 Kontrak waktu
 Tes awal/Apresiasi
2. Pelaksanaan 15 menit a. Pengertian Usia Subur LEMBAR
b. Wanita Dan Pria Usia Subur BALIK
c. Pentingnya Konseling Pra
Kehamilan
d. Tugas Pasangan Suami Istri
Selama Konseling Pra Kehamilan

3. Penutup 10 menit  Evaluasi Lisan


 Menyimpulkan materi
 Memberi kesempatan untuk
bertanya
 Memberi salam penutup

e. Setting Tempat
A : Penyaji
B : Peserta Penyuluhan
C: Notulen
D: Observer
E: Dokumentasi
f. Media dan Sumber
Media : Power Point ,Leaflet dan Lembar Balik

Sumber :
1. Syafrudin dan hamidah ( 2009).Kebidanan dan Komunitas, Jakarta :
EGC
2. Kusmiran,Eni.2011,Kesehatan Repdroduksi Pria dan Wanita, Jakarta :
Salemba Medika.

g. Kriteria Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
1. Proposal Pendidikan Kesehatan yang berisi Satuan Acara Penyuluhan telah
siap sebelum kegiatan dimulai.
2. Kontrak waktu, tempat dan topic dengan Keluarga.
3. Tempat dan media telah siap sebelum kegiatan dimulai.
4. Penyaji materi telah siap memberi penyuluhan atau pendidikan kesehatan.
5. Waktu dan tempat sesuai yang telah ditentukan.
6. Menyiapkan pertanyaan.

b. Evaluasi Proses
1. Penyuluh berperan sesuai dengan perannya.
2. Kegiatan berlangsung sesuai dengan jadwal dan waktu yang telah ditentukan.
3. Adanya tanya jawab dan feedback.
4. Media dapat digunakan secara efektif.
5. Penyuluh mampu melakukan evaluasi sesuai tujuan yang ingin dicapai.

c. Evaluasi Hasil
1. Peserta mampu menyebutkan pengertian pasangan usia subur 85%
2. Peserta mampu memahami wanita dan pria usia subur 80%
3. Peserta mampu menyebutkan konseling pra kehamilan 90%
4. Peserta mampu menyebutkan tugas pasangan suami istri selama konseling pra
kehamilan 90%.
Lampiran Materi

A. PASANGAN USIA SUBUR

Usia subur (PUS) berkisar antara usia 20-45 tahun dimana pasangan (laki-laki dan
perempuan) sudah cukup matang dalam segala hal terlebih organ reproduksinya sudah
berfungsi dengan baik. Pada masa ini pasangan usia subur harus dapat menjaga dan
memanfaatkan kesehatan reproduksinya yaitu menekan angka kelahiran dengan metode
keluarga berencana, sehingga jumlah dan interval kehamilan dapat diperhitungkan
untuk meningkatkan kualitas reproduksi dan kualitas generasi yang akan datang.

Pasangan usia subur berkisar antara usia 20-45 tahun dimana pasangan (laki-laki
dan perempuan) sudah cukup matang dalam segala hal terlebih organ reproduksinya
sudah berfungsi dengan baik. Ini dibedakan dengan perempuan usia subur yang
berstatus janda atau cerai. Pada masa ini pasangan usia subur harus dapat menjaga dan
memanfaatkan reprduksinya yaitu menekan angka kelahiran dengan metode keluarga
berencana sehingga jumlah dan interval kehamilan dapat diperhitungkan untuk
meningkatkan kualitas reproduksi dan kualitas generasi yang akan datang.

Pelayanan kesehatan yang dapt diberikan kepada pasangan usia subur yaitu:
1. Pelayanan Kesehatan pada Catin.
Pelayanan yang diberikan yaitu:
a. Pemeriksaan kesehatan kedua catin, agar salah satu/kedua catin tersebut
menderita penyakit dapat diketahui sebelumnya.
b. Apabila ternyata sakit agar segera berobat,sehingga pada saat pernikahan
kedua catin benar-benar dalam keadaan sehat.
c. Penjelasan tentang kesehatan dalam perkawinan, terutama yang berkaitan
dengan kehamilan, persalinan, masa nifas dan KB. Misalnya anemia pada
waktu hamil yang berdampak pada ibu dan bayinya.
d. Pemberiaan imunisasi TT pada catin perempuan untuk mencegah tetanus pada
bayi yang akan dilahirkannya.
e. Memberikan pengetahuan bagaimana sikap seorang PUS ini harus sesuai
dengan kodratnya, tidak sama dengan sebelum dia menikah, atau masih gadis.
Dia harus mampu melayani suaminya, bukan kebutuhan bathiniah saja tapi
rohaniah dan yang laennya juga.
f. Apabila seorang wanita datang untuk memakai KB maka bidannya harus
menanyakan apakah suaminya setuju dengan ia memakai KB. Bila perlu si
wanita tadi datang bersama suaminya, jadi suaminya juga ikut dalam
menentukan kontrasepsi yang baik dan aman untuk istrinya.

B. WANITA DAN PRIA USIA SUBUR


1. Wanita Usia Subur
Untuk mengetahui tanda-tanda wanita subur antara lain :
1) Siklus haid

Wanita yang mempunyai siklus haid teratur setiap bulan biasanya subur.
Satu putaran haid dimulai dari hari pertama keluar haid hingga sehari
sebelum haid datang kembali, yang biasanya berlangsung selama 28 hingga
30 hari. Oleh karena itu siklus haid dapat dijadikan indikasi pertama untuk
menandai seorang wanita subur atau tidak. Siklus menstruasi dipengaruhi
oleh hormon seks perempuan yaitu esterogen dan progesteron. Hormon-
hormon ini menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh perempuan yang
dapat dilihat melalui beberapa indikator klinis seperti, perubahan suhu basal
tubuh, perubahan sekresi lendir leher rahim (serviks), perubahan pada
serviks, panjangnya siklus menstruasi (metode kalender) dan indikator minor
kesuburan seperti nyeri perut dan perubahan payudara.

2) Alat pencatat kesuburan

Kemajuan teknologi seperti ovulation thermometer juga dapat


dijadikan sebagai alat untuk mendeteksi kesuburan seorang wanita.
Thermometer ini akan mencatat perubahan suhu badan saat wanita
mengeluarkan benih atau sel telur. Bila benih keluar, biasanya thermometer
akan mencatat kenaikan suhu sebanyak 0,2 derajat celsius selama 10 hari.
Namun jika wanita tersebut tidak mengalami perubahan suhu badan pada
masa subur, berarti wanita tersebut tidak subur.
3) Tes Darah

Wanita yang siklus haidnya tidak teratur, seperti datangnya haid tiga
bulan sekali atau enam bulan sekali biasanya tidak subur. Jika dalam kondisi
seperti ini, beberapa tes darah perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab
dari tidak lancarnya siklus haid. Tes darah dilakukan untuk mengetahui
kandungan hormon yang berperan pada kesuburan seorang wanita.

4) Pemeriksaan fisik

Untuk mengetahui seorang wanita subur juga dapat diketahui dari organ
tubuh seorang wanita. Beberapa organ tubuh, seperti buah dada, kelenjar
tiroid pada leher, dan organ reproduksi. Kelenjar tiroid yang mengeluarkan
hormon tiroksin berlebihan akan mengganggu proses pelepasan sel telur.
Sedangkan pemeriksaan buah dada ditujukan untuk mengetahui hormon
prolaktin di mana kandungan hormon prolaktin yang tinggi akan
mengganggu proses pengeluaran sel telur. Selain itu, pemeriksaan sistem
reproduksi juga perlu dilakukan untuk mengetahui sistem reproduksinya
normal atau tidak.

5) Track record

Wanita yang pernah mengalami keguguran, baik disengaja ataupun tidak,


peluang terjangkit kuman pada saluran reproduksi akan tinggi. Kuman ini
akan menyebabkan kerusakan dan penyumbatan saluran reproduksi.
2. Pria Usia Subur
Masa subur pria berbeda dengan masa subur wanita yang sudah lebih umum
dikenal. Pada pria, selama masih menghasilkan sperma dengan kualitas baik dan dalam
jumlah yang cukup, maka hal itu bisa dianggap masih dalam masa subur.

a) Kuantitas

Jumlah sperma dalam sekali ejakulasi sangat berpengaruh kepada


kemungkinan keberhasilan membuahi sel telur pasangannya. Idealnya, sekali
ejakulasi, seorang pria dapat mengeluarkan hingga 15 juta sel sperma per
mililiter. Jika lebih sedikit dari jumlah tersebut, maka presentase
kemungkinan bisa terjadi pembuahan sel telur juga akan menurun.

b) Pergerakan

Pergerakan sperma atau motilitas yang baik harus memiliki gerakan


yang gesit untuk mencapai dan membuahi sel telur. Sebelum membuahi sel
telur, sperma harus tetap hidup saat berenang menyeberangi leher rahim,
rahim, dan saluran tuba. Agar kemungkinan pembuahan bisa terjadi,
setidaknya 40 persen sperma harus memiliki kemampuan bergerak yang baik.

c) Struktur

Normalnya, bentuk sperma terdiri atas kepala yang berbentuk oval


dan berekor panjang. Bentuk tersebut semata-mata untuk menyukseskan
gerakan mereka menuju sel telur. Normalnya, struktur sperma akan
membantu meningkatkan peluang untuk terjadinya pembuahan alias
kehamilan.
Beberapa Hal Lain yang Berdampak kepada Kesuburan Pria:

a) Usia

Kehidupan modern membuat sebagian orang memutuskan untuk


menunda memiliki anak. Padahal, tingkat kesuburan dan kualitas sperma
pria akan menurun seiring bertambahnya usia. Secara umum, masa subur
pria kian menurun saat mencapai usia 40-an.

b) Gaya hidup

Selain usia, gaya hidup juga berpengaruh kepada kualitas dan kesehatan
sperma. Pada pria perokok, spermanya akan mengalami kerusakan akibat
zat-zat yang terkandung di dalam rokok. Selain itu, banyak
mengonsumsi minuman beralkohol juga berisiko merusak sperma.

c) Suhu dan radiasi

Agar tetap subur, testis harus memiliki suhu 1 atau 2 derajat Celsius
lebih dingin dibandingkan suhu tubuh. Untuk itu, hindari penggunaan
celana dalam yang terlalu ketat, berendam di air hangat, dan mandi air
hangat karena hal itu bisa meningkatkan suhu di sekitar testis sehingga
memperlambat produksi sperma. Paparan radiasi dan bahan kimia dapat
merusak kesuburan, seperti glikol ester, bahan yang biasa ditemukan
pada cat.

d) Pastikan bebas penyakit menular seksual

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi menular seksual, seperti klamidia


dan gonore, berisiko menghambat proses pembuahan. Klamidia
menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit pada skrotum.
C. PENTINGNYA KONSELING PRA KEHAMILAN
Bagi pasangan usia subur yang mendambakan kehamilan, sangat dianjurkan untuk
dapat mengikuti konseling prakehamilan. Anda bisa menghubungi dokter atau bidan untuk
berkonsultasi.

informasi yang diperlukan dalam konseling pra kehamilan:

1. Data biografi anda secara lengkap. Antara lain usia saat ini, umur ketika
menikah, lama pernikahan berapa kali menikah, pekerjaan ( beberapa pekerjaan
tertentu erat kaitannya dengan masalah kesehatan ).
2. Riwayat kesehatan. - Riwayat kesehatan keluarga Penyakit yang terdapat pada
keluarga dan yang tinggal serumah saat ini.. - Riwayat kesehatan anda berdua
Penyakit yang pernah diderita ataupun yang sedang diderita saat ini, misal
pernah operasi atau tidak, misalnya calon ibu hamil pernah mengalami operasi
kista atau myoma uterus dsb. penyakit gagal ginjal, kelianan jantung, diabetes,
infeksi virus dan sebagainya , data psikologis.
3. Riwayat genetika. Apakah dalam keluarga terdapat kelainan keturunan baik
kejiwaan maupun kelainan darah dan cacat bawaan . Beberapa contoh penyakit
genetik antara lain anemia sel sabit, hemofili.Penyakit karena penyimpangan
kromosom adalah retardasi mental dan kelainan kejiwaan yang diturunkan salah
satunya yaitu schizophrenia.
4. Beberapa pertanyaan yang sangat peka dan pribadi. Meliputi beberapa hal yang
berkaitan dengan kemungkinan akan terjadi resiko penyimpangan genetik dalam
keluarga. Misalnya pernikahan antar keluarga ( konsanguinitas), kehamilan
incest. Penyimpangan perilaku seks dan sebagainya. Jadi sebaiknya informasi
harus diberikan dengan jujur.
5. Perilaku hidup - Aktifitas seksual, kecanduan obat maupun alkohol, perokok -
Pola makan ( tentang status gizi ) - Aktifitas olahraga
D. TUGAS PASANGAN SUAMI ISTRI SELAMA KONSELING PRA
KEHAMILAN
1. Pemeriksaan kesehatan secara teratur termasuk pengobatan penyakit yang
diderita sampai dinyatakan sembuh atau diperbolehkan hamil oleh dokter dan
dalam pengawasan
2. Menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh dengan olahraga teratur. Berusaha untuk
menurunkan berat badan bila obesitas ( kegemukan ) dan menambah berat badan
bila terlalu kurus. Anda bisa berkonsultasi dengan bidan dan dokter untuk
dilakukan penilaian BMI atau indeks massa tubuh.
3. Menghentikan kebiasaan buruk misalnya perokok berat, morfinis, pecandu
narkotika dan obat terlarang lainnya, kecanduan alkohol, gaya hidup dengan
perilaku seks bebas.
4. Meningkatkan status gizi dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat
nutrisi dan mikro element atau vitamin yang diperlukan tubuh dalam persiapan
kehamilan misalnya vitamin E, vitamin C, asam folat, protein yang cukup bagi
kedua pasangan, dan sebagainya.
5. Persiapan secara psikologis dan mental agar kehamilan yang akan dijalani tidak
menimbulkan ketegangan. Hindari hal – hal yang akan memberi pengaruh buruk
dalam keseimbangan hormonal. Misalnya tekanan psikis dalam rumah tangga,
kehamilan yang menjadi beban misalnya tuntutan keluarga untuk mendapat jenis
kelamin tertentu pada anak pertama, masalah ekonomi keluarga, kekerasaan
dalam rumah tangga dan sebagainya. Bagi yang pernah mengalami keguguran
sebelumnya dan berniat ingin hamil lagi, berusahalah untuk mengurangi
kecemasan akibat pengalaman traumatis kehamilan yang lalu. Tetap berpikir
positif dalam segala hal agar kehamilan yang akan dijalani dapat berlangsung
baik.
6. Perencanaan finansial yang matang untuk persiapan pemeliharaan kesehatan dan
persiapan menghadapi kehamilan dan persalinan. Masalah ini menjadi salah satu
faktor penting karena timbulnya ketegangan psikis, tidak terpenuhinya kebutuhan
gizi yang baik pada kehamilan dan sebagainya tak jarang timbul akibat
ketidaksiapan pasangan dalam hal finansial.
7. Bertanya dan berkonsultasi dengan dokter atau bidan dan tenaga kesehatan
lainnya bila menemukan masalah atau kesulitan dalam upaya persiapan
kehamilan, misalnya kesulitan untuk melepaskan kecanduan obat, atau perilaku
buruk yang berkaitan dengan gangguan psikologis. Sehingga dokter atau bidan
akan melakukan konseling rujukan pada ahli psikologi atau psikiatri bila
diperlukan. Semoga informasi ini dapat menjadi bekal untuk mempersiapkan
kehamilan yang sehat bagi pasangan suami istri.
SATUAN ACARA PENYULUHAN
’’ PENYULUHAN PADA PASANGAN USIA SUBUR ”

Untuk memenuhi salah satu tugas


Materi kuliah KEPERAWATAN MATERNITAS
Dosen Pengampu : Bu. Irawati

Di susun oleh : Kelompok 2

Nama Anggota :
1. Efif lula fidayanti 8. Fitriya Fitri
2. Eka Puspa M 9. Hanifah Ulya Ramadhani
3. Etiek Nafisa 10. Ivan Angga Octavian
4. Fikrotus Shofa 11. Jaklin Lita Puspitasari
5. Fina Audina Sofia 12. Jamila Fitri
6. Fenny cahaya K 13. Khoirun Nikmah
7. Fitri Aurida 14. Khurimatur Rizam

Prodi : S1 - ILMU KEPERAWATAN


Kelas : 2A
Semester : 4 (Empat)

STIKES MUHAMMADIYAH KUDUS


Alamat : Jl. Ganesha I, Purwosari, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59316
Website: http://www.stikesmuhkudus.ac.id Email: secretariat@stikesmuhkudus.ac.id