Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asam secara sederhana didefiniskan sebagai zat yang bila dilarutkan di
dalam air, akan mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen
sebagai ion positif. Sedangkan basa secara sederhana didefinisikan sebagai
suatu zat yang bisa dilarutkan didalam air, maka akan mengalami disosiasi
dengan pembentukan ion OH- sebagai ion negatif.

Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting di


dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia, seprti
biologi, kedokteran, dan pertanian. Titrasi yang menyangkut asam basa
disebut asidimetri-alkalimetri. Titrasi sendiri merupakan suatu proses analisis
dimana suatu volume larutan standar ditambahkan ke dalam larutan dengan
tujuan untuk mengetahui suatu komponen yang tidak diketahui. Larutan
standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui secara pasti.
Titrasi pada asidimetri-alkalimetri memiliki 2 bagian yaitu asidimetri dan
alkalimetri. Asidimetri adalah titrasi yang menggunakan larutan. Standar
asam untuk menentukan basa, sedangkan pada alkalimetri adalah titrasi yang
menggunakan basa larutan standar untuk menentukan asam

Pereaksi atau larutan yang selalu dijumpai di laboratorium dimana


pembekuannya dapat ditetapkan berdasarkan pada prinsip netralisasi
asam-basa (melalui asidimetri-alkalimetri) diantaranya NaOH, H2SO4, KOH
dan lain sebagainya. Asam basa tersebut memiliki sifat-sifat yang
menyebabkan konsentrasi larutannya sukar bahkan tidak mungkin dipastikan
langsung dari proses hasil pembuatan atau pengencerannya. Larutan ini
disebut larutan standar skunder yang konsentrasinya ditentukan melalui
proses pembekuan dengan standar primer

Oleh karena itu, untuk lebih mengetahui, memahami dan mempelajari konsep
titrasi asidimetri dn konsep titrasi alkalimetri serta mengenal konsentrasi
standar dari suatu zat yang dianalisis maka diperlukannya untuk titrasi
dengan menggunakan suatu larutan standart primer. Misalnya larutan asam
oksalat. Sehingga diperlukannya percobaan tentang asidi-alkalimetri

1.2 Tujuan Percobaan


a. Untuk mengetahui konsentrasi NaOH pada percobaan asidimetri
b. Untuk mengetahui konsentrasi CH3COOH pada percobaan alkalimetri
c. Untuk mengetahui perubahan warna pada proses titrasi antara H2C2O
dengan NaOH dan NaOH dengan CH3COOH pada percobaan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Analisis kimia yang diketahui terhadap sampel yaitu analisis yang kualitatif dan
analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif yang paling sering digunakan yaitu
analisis titrimetri. Analisis titimetri yang didasarkan pada terjadinya reaksi asam
dan basa antara sampel dengan larutan standar disebut analisis asidi-alkalimetri.
Apabila larutan yang bersifat asam maka analisis yang dilakukan adalah analisis
asidimetri sebaliknya jika digunakan suatu basa sebagai larutan standart, analisis
tersebut disebut sebagai analisis alkalimetri (Keenan, 1991).

Asama merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan
menghasilkan larutan dengan pH< dari 7. Dalam definisi modern asam adalah
suatu zat yang dapat menerima pasangan elektron bebas dari basa, dan zat yang
dapat memberi proton (ion H+)kepada zat lain (basa). Asam umumnya berasa
masam, tetapi cairan asam pekat sangat berbahaya dapat merusak kulit dan mata
jika terperak asam pekat. Contohnya adalah asam sulfat. Basa adalah senyawa
kimia yang menyerap ion hidronium ketika dilarutkan dalam air. Basa ialah
senyawa lawan dari asam yang memiliki pH>7. Basa dapat dibagi menjadi basa
kuat dan basa lemah. Basa kuat adaah jenis senyawa sederhana yang dapat
mendeprotonasi asam sangat lemah dalam reaksi asam basa. Basa lemah adalah
larutan basa yang tidak berubah seluruhnya menjadi ion hidroksida dalam larutan.
Garam adalah ionik yang terdiri dari ion positif (kation) dan ion negatif (anion).
Sehingga membentuk senyawa netral (tanpa bermuatan). Garam terbentuk dari
hasil reaksi asam basa. Komponen kation dan anion dapat berupa senyawa
anorganik seperti dorida (Cl-) dan bisa juga senyawa organik seperti asetat
(CH3COO) dan ion monoatomik seperti fluida (F-), serta ion poliatomik seperti
sulfat (SO42-), Natrium klorida (NaCl), bahan utama garam dapur adalah suatu
gelvani (Day, 1998).
Titrasi adalah metode analisis kimia. Metode ini digunakan untuk menentukan
jumlah yang tepat dari reaktan dalam termos dengan menentukan titik akhir yang
tepat dari reaksi. Sebuah titrasi dilakukan dalam bure diisi dengan larutan titran.
Pembacaan volume awal diambil dan volume titik akhir yang diharapkan dihitung.
Larutan yang dianalisis ditempatkan dan labu erlenmeyer atau gelas. Titran
kemudian ditambahkan kedalam larutan uji sampai titik akhir yang diharapkan
hampir tercapai ketika titik akhir telah dicapai, volume akhir dalam buret dicatat
(Harjadi, 1990).

Jenis-jenis titrasi yaitu:


a. Titrasi asam basa
Titrasi asam basa merupkan metode analisis kuantitatif yang berdasarkan
reaksi asam basa, indikator yang sigunakan adalah indikator yang dapat
memprofilkan perubahan utama pada trayek pH tertentu.
b. Titrasi Argentometri
Titrasi redoks merupakan jenis titrasi dengan redoks, secara umum, ada
tiga macam reaksi redoks. Pertama, titrasi iodometri yang merupakan
titrasi redoks dengan menggunakan I2 dan merupakan jenis reaksi tidak
langsung. Kedua, titrasi iodometri yang merupakan titrasi redoks dengan
menggunakan I2 dan merupakan jenis reduksi langsung karena I2 yang
digunakan dalam wujud I2 langsung. Ketiga, titrasi permanganometri yang
merupakan reaksi titrasi dengan memanfaatkan ion Mn2+.
c. Titrasi Komplekasi
Merupakan jenis titrasi dengan reaksi kompleks atau pembentukan ion
kompleks. Biasanya digunakan untuk menganalisa kadar logam pada
larutan sampel yang dapat membentuk kompleks dengan larutan standar
yang biasanya merupakan ligan.
(Syukri, 1999).

Titik akhir titrasi adalah keadaan dimana reaksi telah berjalan dengan sempurna
yang biasanya ditandai dengan pengamatan visual melalui perubahan warna
indikator, indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah asam lemah
atau basa lemah, karena umumnya senyawa organik yang memiliki muatan
rangkap kerkonjugasi yang mengkontribusi perubahan warna pada indokator
tersebut (Basset, 1994).

Syarat-syarat terjadinya titrasi:


a. Reaksi kimia antar analit dan titran diketahui dengan pasti dan jelas produk
produk apa yang akan dihasilkan nantinya.
b. Reaksi harus berjalan cepat.
c. Harus ada sesuatu yang bisa menandakan atau mengidentifikasikan bahwa
reaksi antar analit dengan titran sudah equivalen secara stoikiometri, baik
itu dengan perubahan warna, perubahan arus listrik, perubahan pH, dengan
penambahan indikator atau apapun yang bisa digunakan untuk mengamati
perubahan yang terjadi.
(Sukmariah, 1990).

Sifat fisik dan kimia bahan


1) NaOH
Molekul berat : 40 gr/mol, titik didih : 1388°C, warna putih, titik leleh 318°C,
larut dalam air, metanol, etanol.
2) CH3COOH
Densitas : 1,049 gr/mol, titik didih 118°c, massa molar : 60,05 gr/mol,
kepekatan : 1,05 gr/mol.
3) C2H2O4
Massa molar : 90,03 gr/mol, penampilan: kristal putih, Densitas: 1,90 gr/mol,
kelarutan dalam air 90 gdm-2 (pada 20°C)
(Basri, 2003).

Larutan standar primer yaitu larutan dimana dapat diketahui kadar dan stabil pada
proses pemisahan (penimbangan, pelaruan dan penyimpanan, syarat-syarat yaitu:
a. Mempunyai kemurnian yang tinggi.
b. Rumus molekulnya pasti.
c. Tidak memgalami perubahan selama penimbangan.
d. Berat ekuivalen yang tinggi.
e. Larutan stabil didalam penyimpanan.
(Syukri, 1999)

Larutan standar sekunder yaitu larutan dimana konsentrasinya ditentukan dengan


jalan pembekuan dengan larutan atau secara langsung tidak diketahui kadar dan
kestabilan dalam proses penimbangan, pelarutan dan penyimpanan.
Syarat-syaratnya yaitu:
a. Derajat kemurnian lebih rendah dari larutan primer.
b. Berat ekuivalen yang tinggi.
c. Larutan relatif stabil didalam penyimpanan.
(Syukri, 1999)

Pada prinsipnya reaksi yang terjadi adalah reaksi netralisasi, yaitu :


H+ + OH- ↔ H2O.
Reaksi netralisasi terjadi antara ion hidrogen sebagai asam dan ion hidroksida
sebagai basa dan membentuk air yang bersifat netral. Berdasarkan konsep lain
reaksi netralisasi dapat juga diartikam sebagai reaksi antara donor proton (asam)
dengan menerima proton (basa) (Nana, 2007).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat-alat
a. Pipet tetes
b. Buret 50 ml
c. Statif dan klem
d. Pipet volume 10 ml
e. Bulb
f. Erlenmeyer 250 ml
g. Gelas ukur 25 ml

3.1.2 Bahan-bahan
a. Larutan CH3COOH 0,1 N
b. Larutan NaOH 0,1 N
c. Larutan asam oksalat 0,1 N
d. Indikator pp

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1 Uji Asidimetri
a. Dituang asam oksalat 50 ml ke dalam buret.
b. Dimasukkan 10 ml larutan NaOH ke dalam labu erlenmeyer dengan
menggunkan pipet volume.
c. Ditambahkan 2 tetes indikator pp dengan menggunkan pipet tetes.
d. Dilakukan titrasi langsung menimbulkan warna merah lembayung.
a) Dilakukan titrasi antara larutan NaOH + indikator pp dan asam oksalat
pada buret.
b) Dihentikan titrasi hingga larutan being seluruhnya yang tidak berubah
ketika erlenmeyer diguncangkan.
c) Dicatat volume asam oksalat yang berkurang pada pembacaan buret.
d) Diulangi titrasi hingga 3 kali percobaan.
e) Ditambahkan larutan asam oksalat pada buret agar titik akhir titrasi tidak
terlampau.
f) Dihitung konsentrasi larutan NaOH.

3.2.2 Uji Alkalimetri


a) Dituang larutan NaOH yang telah distandarisasi sebanyak 50 ml ke dalam
buret.
b) Dimasukkan 10 ml larutan CH3COOH kedalam labu erlenmeyer.
c) Ditambahkan 2 tetes indikator pp menggunakan pipet tetes.
d) Dilakukan titrasi yang langsung menimbulkan warna yang bening.
e) Dilakukan titrasi larutan CH3COOH + indikator pp dan NaOH pada buret.
f) Dihentikan titrasi larutan berubah warna menjadi merah lembayung ketika
erlenmeyer diguncang tidak berubah.
g) Dicatat volume NaOH yang berkurang pada pembacaan buret.
h) Diulangi 3 kali titrasi pada percobaan.
i) Ditambahkan larutan NaOH pada buret agak titik akhir titrasi tidak
terlampaui.
j) Dihitung konsentasi CH3COOH.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Percobaan


4.1.1 Uji Asidimetri
No Perlakuan Hasil Pengamatan
.
1. Dituangkan larutan Larutan berwarna bening
C2H2O4 0,1 N
sebanyak 500 ml
kedalam buret

2. Ditambahkan 10 ml Larutan berwarna bening


larutan NaOH
menggunakan pipet
tetes

3. Ditambahkan 2 tetes Terjadi perubahan warna menjadi


indikator pp merah lembayung menunjukkan
larutan bersifat basa

4. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan warna pada


dengan larutan volume C2H2O4 8 ml menjadi bening
C2H2O4 (1) dari merah lembayung

5. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan dari merah


dengan larutan lembayung menjadi bening pada
C2H2O4 (2) volume 8,1 ml C2H2O4
6. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan dari merah
dengan larutan lembayung menjadi bening pada
C2H2O4 (3) volume 8 ml C2H2O4

7. Dihitung Persamaan rumus untuk mencari


konsentrasinya konsentrasinya NaOH V1N1=V2N2
diperoleh konsentrasi NaOH =
8,033x10-2 N

4.1.2 Uji Alkalimetri


No Perlakuan Hasil Pengamatan
.
1. Dituangkan larutan Larutan bening
NaOH sebanyak 50 ml
kedalam buret

2. Dimasukkan 10 ml Larutan berwarna bening


larutan CH3COOH
dengan menggunakan
pipet tetes

3. Ditambahkan 2 tetes Tidak ada perubahan warna larutan


indikator pp bersifat asam

4. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan dari bening


dengan larutan NaOH menjadi merah lembayung dengan
(1) volume 10 ml larutan NaOH
5. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan warna dari bening
dengan larutan NaOH mrnjadi merah pada vplume 7,5 ml
(2) NaOH

6. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan warna dari bening


dengan larutan NaOH menjadi merah lembayung pada
(3) volume 8,5 ml larutan NaOH

7. Dihitung Persamaan rumus yang digunakan


konsentrasinya untuk mencari konsentrasi NaOH
V1N1 = V2N2 sehingga diperoleh
8,67x10-2 N larutan NaOH

4.2 Reaksi
4.2.1 Asidimetri
H2C2O4 + 2NaOH → Na2C2O4 + 2H2O

4.2.2 Alkalimetri
CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O

4.3 Perhitungan
4.3.1 Asidimetri
Diketahui : V1 = 8 ml
V2 = 8,1 ml
V3 = 8 ml
VNaOH = 10 ml
M = 0,1 M
Vrata-rata = 8,03 ml
Ditanya : 𝑀𝑁𝑎𝑂𝐻 = … ?
Jawab
M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 10 = 0,1 x 8,03
M = 0,08033 M

4.3.2 Alkalimetri
Diketahui : V1 = 10 ml
V2 = 7,5 ml
V3 = 8,5 ml
VCH3COOH = 10 ml
M = 0,1 M
Vrata-rata = 8,67 ml
Ditanya : M2 = … ?
Jawab
M1 x V1 = M2 x V2
0,1 x 8,67 = M x 10
M = 0,0867 M

4.4 Pembahasan
Pada percobaan pertama yaitu asidimetri, dimana larutan NaOH 10 ml
dengan indikator pp akan dititrasi dengan larutan asam oksalat yang
diakukan 3 kali pengulangan titrasi. Pada pengujian yang pertama
larutan NaOH dengan indikator pp yang dititrasi dengan larutan asam
oksalat maka larutan campuran tersebut berubah yang awalnya berwarna
merah lembayung menjadi bening setelah reaksi dilakukan dengan
volume 8 ml. Pada pengujian kedua perubahan warna terjadi pada
volume 8,1 ml. Pada pengujian ketiga perubahan terjadi pada volume 8
ml. Didapati rata-rata volume yang diperlukan dari 3 kali pengujian
adalah 8, 033 ml. Pada percobaan asidimetri didapatkan konsentrasi
normalitas NaOH dengan rumus persamaan V1N1=V2N2, maka
didapatkan konsentrasi normalitas NaOH adalah 8,033x10-2 N.

Pada percobaan kedua yaitu alkalimetri, dimana larutan CH3COOH


10ml dengan indikator pp akan dititrasi dengan larutan NaOH yang
dilakukan 3 kali pengulangan titrasi. Pada pengujia pertama larutan
dengan CH3COOH indikator pp yang dititris dengan larutan NaOH,
maka larutan campuran tersebut berubah awalnya menjadi bening
berubah menjdi merah lembayung dengan volume 10ml larutan NaOH.
Pada pengujian kedua perubahan warna terjadi pada volume 7,5ml
larutan NaOH. Pada pengujian ketiga perubahan warna terjadi pada
volume larutan NaOH 8,5ml. Didapat rata-rata volume yang diperlukan
dari 3 kali pengujian adalah 8, 67 ml. Pada percobaan alkalimetri
didapati konsentrasi normalitas CH3COOH dengan rumus persamaan
V1N1=V2N2, maka didapatkan konsentrasi normalitas CH3COOH
adalah 8,67x10-2 N.

Fungsi indikator pp pada percobaan ini yaitu digunakan sebagai media


mengidentifikasi keadaan suatu zat yang bersifat asam atau basa. Prinsip
percobaan warna ini digunakan dalam metode titrasi fenolflatein
digunakan sebagai indikator untuk proses titrasi ekuivalen NaOH &
CH3COOH. Indikator pp juga memiliki fungsi menentukan titik
ekuivalen ketika dua larutan telah mencapai netralisasi dengan
perbandingan perubahan warna yang terjadai di dalam larutan indikator
pp memiliki pH yaitu sekitar 8,3-9,6.
Prinsip percobaan pada praktikum ini dilakukan dengan mentitrasi
asidimetri yaitu larutan NaOH dengan indikator pp yang dicampr dengan
asam oksalat untuk mengetahui volume yang diperlukan dan konsentrasi
normalitas dari larutan NaOH, serta mentitrasi alkalimetri yaitu larutan.
CH3COOH. Prinsip percobaan lainnya adalah menetaskan larutan NaOH
dengan indikator pp untuk mengtahui perubahan warna yang terjadi,
serta ditambahkan asam oksalat untuk mengetahui reaksi yang terbentuk,
(asimetri). prinsip percobaan lainnya adalah meneteskan larutan
indikator pp dengan CH3COOH untuk mengeetahui perubahan warna
yang terjadi, serta ditambahkan larutan NaOH untuk mengetahui reaksi
yang terbentuk (Alkalimetri).

Faktor kesalahan pada percobaan ini adalah kurang telitinya dalam


melakukan titrasi dalam hal ini pembacaan dan pembukaan kran pada
buret yang membuat volume yang didapat kurang maksimal, serta
pemahaman praktikan dalam menggunakan alat yang dipakai seperti
pemahaman praktikan untuk membuka kran pada buret yang baik dan
benar.

Fungsi perlakuan yaitu ditambahkan indikator pp pada larutan untuk


mengetahui larutan yang bersifat asam atau basa, dilakukan
pengguncangan erlenmeyer untuk melarutkan sehingga larutan
tercampur secara sempurna, dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali
hal ini memiliki fungsi untuk mendapatkan hasil pengamatan yang
maksimal dan sebagai perbandingan percobaan satu dengan lainnya.
Fungsi perlakuan dilakukan titrasi pada percobaan adalah untuk
mengetahui dan mengidentifikasi larutan dengan identifikasi berupa
perubahan warna, dilakukan pembacaan buret untuk mengetahui adanya
ketepatan dalam proses titrasi sehingga tidak melampaui volume titrasi
yang diperlukan.

Dalam kehidupan sehari-hari asidi-alkalimetri memiliki peran penting.


Misalnya pada bidang kesehatan, basa Mg(OH)2 digunakan ebagai
antarida untuk mentralkan asam lambung (HCl). Pada bidang pertanian
yaitu pembuatan pupuk kalsium klorida CaCl2 yang dalam
pembentukannya diperlukan MgO yang dihitung kadarnya sebagai
penguji dalam proses titrasi. Peran alkali-asidimetri lainnya adalah
sebagai indikasi pengenalan jenis larutan yaitu basa atau asam menjadi
penentuan zat-zat anorganik, organik, biologis yang tak terbilang
jumlahnya. Pengendalian analitik banyak produk komersial dan
penguraian asam dan basa.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa:
a. Konsentrasi NaOH pada percobaan asidimetri adalah 8,033x10-2N.
b. Konsentrasi CH3COOH pada percobaan alkalimetri adalah 8,67x10-2N.
c. Asam oksalat yang dititrasi asidimetri dengan larutan NaOH mengalami
perubahan warna dari merah lembayung setelah diteteskan indikator pp
berubah menjadi tidak berwarna ketika dilakukan titrasi NaOH yang
dititrasi dengan larutan CH3COOH mengalami perubahan dari warnanya
bening setelah diteteskan indikator pp dan berwarna merah lembayang
ketika dititrasi.

5.2 Saran
Sebaiknya pada praktikum selanjutnya menggunakan seyawa-senyawa yang
lain dengan konsentrasi berbeda contohnya H2SO4 0,2 M dan NaOH 0,2 M.
Untuk memperoleh data yang bervariasi dalam percobaan asidi-alkalimetri.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia, 1995, Kimia Dasar, Jakarta, UT.

Basri, Sarjono, 2003, Kamus Kimia, Jakarta, PT. Bineka Cipta

Basset, J, 1999, Kimia analitik kuantitatif, Anorganik, Jakarta, EGC

Day, R, A, 1998, Kimia Analisa Kuantitatif, Jakarta, Erlangga

Harjadi, W, 1990, Ilmu Kimia analitik Dasar, Jakarta, Gramedia

Keenan, charles, 1991, Ilmu Kimia untuk Universitas, Jakarta, Gramedia

Sukmariah, 1990, Kimia Kedokteran, Jakarta, Binarupa Aksara

Sukresta, Nana, 2007, Cerdas Belajar Kimia untuk Kelas XI, Jakarta, Grafindo
Media Pratama

Syukri, 1990, Kimia Dasar 2, ITB, Jakarta


Lampiran.

Nama Anggota : Endry Hidayat (1709025012)


Imam Nugroho (1709025044)
Firman Awaluddin (1709025076)

Kelompok : 12 (Dua Belas)


Modul Praktikum : Asidimetri Dan Alkalimetri

LAPORAN SEMENTARA

Hasil Pengamatan
a. Asidimetri
No. Perlakuan Hasil Pengamatan

1. Dituangkan larutan Larutan berwarna bening


C2H2O4 0,1 N
sebanyak 500 ml
kedalam buret

2. Ditambahkan 10 ml Larutan berwarna bening


larutan NaOH
menggunakan pipet
tetes

3. Ditambahkan 2 tetes Terjadi perubahan warna menjadi


indikator pp merah lembayung menunjukkan
larutan bersifat basa

4. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan warna pada volume


dengan larutan C2H2O4 8 ml menjadi bening dari
C2H2O4 (1) merah lembayung

5. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan dari merah


dengan larutan lembayung menjadi bening pada
C2H2O4 (2) volume 8,1 ml C2H2O4

6. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan dari merah


dengan larutan lembayung menjadi bening pada
C2H2O4 (3) volume 8 ml C2H2O4

7. Dihitung Persamaan rumus untuk mencari


konsentrasinya konsentrasinya NaOH V1N1=V2N2
diperoleh konsentrasi NaOH =
8,033x10-2 N
b. Uji Alkalimetri
No. Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Dituangkan larutan Larutan bening
NaOH sebanyak 50 ml
kedalam buret

2. Dimasukkan 10 ml Larutan berwarna bening


larutan CH3COOH
dengan menggunakan
pipet tetes

3. Ditambahkan 2 tetes Tidak ada perubahan warna larutan


indikator pp bersifat asam

4. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan dari bening menjadi


dengan larutan NaOH merah lembayung dengan volume 10
(1) ml larutan NaOH

5. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan warna dari bening


dengan larutan NaOH mrnjadi merah pada vplume 7,5 ml
(2) NaOH

6. Dilakukan titrasi Terjadi perubahan warna dari bening


dengan larutan NaOH menjadi merah lembayung pada
(3) volume 8,5 ml larutan NaOH

7. Dihitung Persamaan rumus yang digunakan


konsentrasinya untuk mencari konsentrasi NaOH
V1N1 = V2N2 sehingga diperoleh
8,67x10-2 N larutan NaOH

Reaksi
a. Asidimetri
H2C2O4 + 2NaOH → Na2C2O4 + 2H2O

b. Alkalimetri
CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O

Perhitungan
a. Asidimetri
Diketahui : V1 = 8 ml
V2 = 8,1 ml
V3 = 8 ml
VNaOH = 10 ml
M = 0,1 M
Vrata-rata = 8,03 ml
Ditanya : 𝑀𝑁𝑎𝑂𝐻 = … ?
Jawab
M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 10 = 0,1 x 8,03
M = 0,08033 M

b. Alkalimetri
Diketahui : V1 = 10 ml
V2 = 7,5 ml
V3 = 8,5 ml
VCH3COOH = 10 ml
M = 0,1 M
Vrata-rata = 8,67 ml
Ditanya : M2 = … ?
Jawab
M1 x V1 = M2 x V2
0,1 x 8,67 = M x 10
M = 0,0867 M