Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Persalinan


2.1.1. Pengertian
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya servik dan janin turun
ke dalam jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses
pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu),
lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18
jam tanpa komplikasi pada ibu maupun janin (Prawiroharjo, 2010).
2.1.2. Tanda-Tanda Persalinan
a. Rasa sakit dengan adanya his yang lebih kuat dan teratur
b. Keluar lendir bercampur darah (bloody show) yang lebih banyak
karna robekan dari servik
c. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya
d. Pada pemeriksaan dalam, servik mendatar dan pembukaan sudah
ada
e. Kontraksi uterus (his) mengakibatkan perubahan pada servik
(Rohani, dkk 2011).
2.1.3. Penyebab Mulainya Persalinan
Menurut Rohani, dkk ( 2011) teori penyebab mulainya persalinan yaitu :
a. Teori penurunan kadar hormon progesteron
Pada akhir kehamilan terjadi penurunan kadar progesteron yang
mengakibatkan peningkatan kontraksi uterus karena sintesa prostagladin
di chorioamnion.
b. Teori rangsangan estrogen
Estrogen menyebabkan iritability miometrium,estrogen memungkinkan
sintesa prostagladin pada desidua dan slaput ketuban sehingga
menyebabkan kontraksi uterus (miometrium).
c. Teori reseptor oksitosin dan kontraksi braxton hiks
Kontraksi persalinan tidak terjadi secara mendadak, tetapi
berlangsung lama dengan persiapan semakin meningkatnya reseptor
oksitosin. Oksitosin adalah hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar
hipofisis parst posterior. Distribusi reseptor oksitosin, dominan pada
fundus dan korpus uteri, ia semakin berkurang jumlahnya disegmen
bawah rahim dan praktis tidak banyak dijumpai pada servik uteri.
d. Teori ketegangan
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot
rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenter.
e. Teori plasenta sudah tua
Pada umur kehamilan 40 mingggu mengakibatkan sirkulasi pada plasenta
menurun segera terjadi degenerasi trofoblast maka akan terjadi pnurunan
produksi hormone.
f. Teori tekanan cerviks
Fetus yang berpresentasi baik dapat merangsang akhiran syaraf
sehinggga servik menjadi lunak dan terjadi dilatasi internum yang
mengakibatkan SAR (segmen atas rahim) dan SBR (segmen bawah
rahim) bekerja berlawanan sehingga terjadi kontraksi dan retraksi.
2.1.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi proses Persalinan
Menurut Rohani, dkk ( 2011) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi proses
Persalinan adalah :
a. Power (Kekuatan)
1. Kontraksi uterus involunter atau kekuatan primer, menandai
mulainya persalinan.
2. Kontraksi volunter atau kekuatan sekunder, saat serviks
berdilatasi terdapat usaha untuk mendorong.
b. Passage (Jalan Lahir)
Passage atau jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang yang
padat, dasar panggul,vagina, dan introitus. Terdapat empat jenis panggul
yaitu:
1. Ginekoid (tipe wanita klasik)
2. Android (mirip panggul pria)
3. Antropoid (mirip panggul kera antropoid)
4. Platipeloid (panggul pipih)
c. Passager (Janin dan Plasenta)
Janin yang bergerak di sepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi
beberapa faktor, yakni: ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan
posisi janin. Plasenta juga menyertai janin utnuk melalui jalan lahir.
d. Posisi Ibu
Mengubah posisi membuat rasa letih hilang, memberi rasa nyaman,
dan memperbaiki sirkulasi. Posisi tegak meliputi posisi berdiri, berjalan,
duduk, dan jongkok. Posisi tegak memungkinkan gaya gravitasi yang
membantu penurunan janin. Kontraksi uterus lebih kuat dan efisien
untuk membantu penipisan dan dilatasi serviks sehingga persalinan
menjadi lebih cepat.
e. Psikologis
Kondisi psikis ibu dapat mempengaruhi proses persalinan. Ibu
bersalin yang didampingi oleh suami dan orang yang dicintainya
cenderung mengalami proses persalinan yang lebih lancar dibandingkan
tanpa pendamping.

2.1.5. Mekanisme Persalinan


Menurut Prawirohardjo (2010) mekanisme persalinan adalah :
a. Sinklitismus
Bila arah sumbu kepala janin tegak lurus dengan bidang pintu atas
panggul.
b. Asinklitismus anterior
Bila arah sumbu kepala membuat sudut lancip ke depan dengan pintu
atas panggul.
c. Asinklitismus posterior ( Keadaan sebaliknya dari asinklitismus
anterior )
d. Fleksi
e. Putaran paksi dalam
f. Kepala janin defleksi
g. Putaran paksi luar
h. Kelahiran bahu depan, kemudian bahu belakang.
2.1.6. Tahapan persalinan
1. Kala I
Dimulai dari saat persalinan sampai pembukaan lengkap (10 cm).
Terbagi menjadi dua fase:
1. Fase laten (8 jam): serviks membuka sampai 3 cm
2. Fase aktif (7 jam): serviks membuka dari 3 sampai 10 cm.
2. Kala II
Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Berlangsung
2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida.
3. Kala III
Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang
berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
4. Kala IV
Dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum
(Prawiroharjo, 2010).
2.1.7. Perubahan Fisiologis Pada Masa Persalinan
1. Sistem reproduksi
a. Segmen Atas Rahim (SAR) dan Segmen Bawah Rahim (SBR)
Sejak akhir kehamilan, uterus terbagi menjadi dua bagian yaitu
Segmen Atas Rahim (SAR) dan Segmen Bawah Rahim (SBR), saat
persalinan SAR berkontraksi, menjadi tebal dan mendorong janin
keluar, sedangkan SBR dan servik mengadakan relaksasi dan dilatasi
menjadi saluran yang tipis dan teregang untuk dilalui oleh bayi.
b. Perubahan uterus
Saat persalinan uterus berkontraksi dan bertanggung jawab
terhadap penipisan dan pembukaan serviks serta pengeluaran bayi
dalam persalinan, kontraksi berawal dari fundus pada salah satu
kornu kemudian menyebar ke samping dan ke bawah, namun pada
puncak kontraksi dapat mencapai seluruh bagian uterus. Cincin
retraksi terbentuk pada persambungan segmen bawah rahim (SBR)
dan segmen atas rahim (SAR), pada setiap kontraksi, sumbu panjang
rahim bertambah panjang dan ukuran melintang berkurang, sehingga
tulang punggung janin menjadi lebih lurus sehingg bagian atas janin
tertekan pada fundus dan bagian bawah janin masuk PAP.
c. Perubahan servik
Pemedekan saluran servik terjadi dari 2cm menjadi hanya
berupa muara melingkar dengan tepi hampir setipis kertas, proses ini
terjadi dari atas ke bawah sebagai hasil dari aktivitas miometrium.
Servik internum ditarik ke atas dan dipendekkan menuju segmen
bawah uterus, sementara os.eksternum tidak berubah.
Pembukaan terjadi sebagai akibat dari kontraksi uterus serta
tekanan yang berlawanan dari kantong membran dan bagian bawah
janin. Pada primigravida, pembukaan didahului oleh pendataran
serviks, sedangkan pada multigravida pembukaan serviks dapat
terjadi bersamaan dengan pendataran. Pembukaan servik ditentukan
dengan memperkiraan diameter rata-rata pembukaan, jadi
pemeriksaan disapukandari tepi servik di satu sisi ke sisi yang
berlawanan, dan diameter yang dilintasi dinyatakan dalam
sentimeter. Servik dikatakan pembukaan penuh bila diameternya10
cm.
2. Sistem kardiovascular
Tekanan darah meningkat selama kontraksi uterus, sistol meningkat
10-20 mmhg dan diastol meningkat 5-10 mmhg. Antara kontraksi,
tekanan darah kembali normal seperti sebelum persalinan. Detak jantung
juga meningkat selama kontraksi dibandingkan sebelum persalinan, pada
setiap kontraksi curah jantung meningkat 10-15%, pada saat kontraksi
pula hemoglobin juga meningkat 1,2 mg/100 ml selama persalinan dan
kembali seperti sebelum persalinan pada hari pertama post partum.
3. Sistem pencernaan
Selama persalinan, metabolisme karbohidrat aerob maupun anaerob
akan meningkat secara terus-menerus. Peningkatan metabolisme ini
mempengaruhi peningkatan suhu tubuh (0,5-1C) dan peningkatan laju
pernafasan. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan karena kecemasan
dan kegiatan otot tubuh. Persalinan mempengaruhi saluran cerna wanita
sehingga bibir dan mulut menjadi kering akibat wanita bernafas melalui
mulut menjadi kering akibat wanita bernafas melalui mulut, dehidrasi,
dan sebagai respon emosi terhadap persalinan.
4. Sistem perkemihan
Poliuria sering terjadi selama persalinan, kemungkinan hal ini terjadi
karena peningkatan curah jantung, peningkatan filtrasi glomerulus dan
peningkatan aliran plasma ginjal.
5. Sistem muskuloskeletal
Sistem muskuloskeletal mengalami stress selama persalinan.
Diaforesis, keletihan, poliuria dan peningkatan suhu tubuh
mengakibatkan peningkatan aktivitas otot yang menyolok.
6. Sistem integumen
Adaptasi sistem integumen khususnya distensibilitas yang besar pada
introitus vagina yang terbuka. Derajat distenbilitas bervariasi pada ibu
yang melahirkan. Walaupun tanpa episiotomi atau laserasi, robekan kecil
pada kulit sekitar introitus vagina mungkin terjadi (Rohani, dkk 2011).

2.1.8. Kebutuhan dasar ibu bersalin


a. Posisi dan Ambulasi
Menurut Varney (2007) posisi yang nyaman dapat membantu rotasi
janin dari posisi posterior ke anterior. Setiap posisi mengarahkan uterus
ke depan (anterior) membantu gravitasi membawa sisi yang lebih berat
pada punggung janin ke depan, ke sisi bawah abdomen ibu. Posisi yang
dapat diambil, antara lain: rekumben lateral, dada-lutut, tangan-lutut,
duduk, berdiri, berjalan, dan jongkok. Berjalan pada awal persalinan
dapat menstimulasi persalinan dan membantu ibu untuk rileks serta
mengatasi persalinan dengan baik.
b. Makan dan Minum
Menurut Varney (2007) pemberian makan dan minum pada ibu
bersalin sangat dianjurkan. Ibu akan mendapat energi yang lebih kuat jika
mendapat makanan. Sedangkan makanan memiliki kandungan kalori
yang dapat meningkatkan energi bagi ibu.
c. Posisi Miring ke Kiri
Menurut Varney (2007) posisi rekumben lateral memiliki manfaat
yaitu: koordinasi yang lebih baik dan efisiensi kontraksi uterus yang
lebih besar daripada ibu pada posisi terlentang, memfasilitasi ginjal
karena aliran urine akan menurun pada posisi terlentang, memfasilitasi
rotasi janin pada posisi posterior, meredakan tekanan uterus, dan
kompresi pada pembuluh darah ibu yang utama (vena kava inferior dan
aorta) yang dapat terjadi ketika posisi ibu terlentang.
d. Penjelasan proses dan kemajuan persalinan
Ibu bersalin biasanya menginginkan informasi tentang kemajuan
persalinannya dan juga ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam
tubuhnya, untuk itu penting bagi ibu bersalin mengetahui kemajuan
persalinannya sehingga ia mampu mengambil keputusan dan mengetahui
bahwa kemajuan persalinannya adalah normal (Rohani, dkk 2011).
e. Pengurangan rasa sakit
Rasa nyeri memiliki karakteristik tertentu dan bersifat unik serta
berbeda pada setiap individu. Rasa nyeri pada saat persalinan terjadi
akibat dari kontraksi uterus, dilatasi servik, dan distensi perineum yang
terjadi pada akhir kala I dan II dengan peregangan vagina dan dasar
panggul untuk mengakomodasikan bagian terendah janin. Menurut
Varney’s Midwifery, pendekatan yang dilakukan untuk mengurangi rasa
sakit waktu persalinan adalah :
1. Menghadirkan seorang pendamping
2. Pengaturan posisi yang nyaman
3. Relaksasi dan latihan pernafasan
4. Istirahat dan privasi
5. Penjelasan mengenai kenajuan persalinan
6. Asuhan tubuh
7. Sentuhan ( Rohani, dkk 2011).
2.1.9. Penatalaksanaan Persalinan
a. Kala Satu Persalinan
1. Tanda gejala inpartu :
a) Penipisan dan pembukaan serviks
b) Kontraksi uterus
c) Keluar cairan endir bercampur darah melalui vagina
2. Anamnesis
Tanyakan pada ibu :
a) Nama,umur, dan alamat
b) Gravida dan para
c) Hari pertama haid terakhir
d) HPL
e) Riwayat alergi obat-obatan
f) Riwayat kehamilan sekarang :
g) Riwayat kehamilan sebelumnya :
h) Riwayat medis lainnya
i) Masalah medis saat ini
j) Pertanyaan tentang hal-hal yang belum jelas atau berbagai
bentuk kekhawatiran lainnya.
3. Pemeriksaan Fisik
a) Pemeriksaan abdomen
o Menentukan tinggi fundus uteri
o Memantau kontraksi uterus
o Memantau denyut jantung janin
o Menentukkan presentasi
o Menentukkan penurunan bagian terbawah janin
b) Pemeriksaan dalam
o Periksa genetalia eksterna, amati adanya kondiloma,
masa,benjolan, varikositas rektum, luka parut pada
perinium
o Nilai cairan vagina
o Nilai pembukaan dan penipisan
o Pastikan tali pusat atau bagian kecil pada janin
o Nilai penurunan
o Jika bagian terbawah merupakan kepala maka pastikan
penunjuknya.
c) Tanda-tanda vital:
o Tekanan darah: diukur tiap 4 jam sekali, kecuali jika ada
keadaan yang tidak normal harus lebih sering dicatat dan
dilaporkan.
o Nadi: nadi yang normal menunjukkan wanita dalam kondisi
yang baik. Jika lebih dari 100 kemungkinan ibu dalam kondisi
infeksi,ketosis , atau perdarahan. Nadi diukur tiap 1-2 jam
pada awal persalinan.
o Suhu: harus dalam rentang yang normal. Pireksia
menunjukkan keadaan infeksi atau ketosis. Suhu diukur tiap 4
jam.
(Lailiyana, 2011)
4. Partograf
a) Pengertian
Partograf merupakan alat bantu untuk memantau kemajuan kala
satu persalinan dan informasi membuat keputusan klinik.
b) Tujuan utama penggunaan partograf:
o Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan
menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam
o Mendeteksi persalinan berjalan normal dan
dapatmendeteksi partus lama
( JNK-KR 2008)
c) Untuk menggunakan partograf dengan benar, petugas harus
mencatat kondisi ibu dan janin sebagai berikut:
o Denyut jantung janin. Catat setiap jam.
o Air ketuban. Catat warna air ketuban setiap melakukan
pemeriksaan vagina:
 U : selaput utuh
 J : selaput pecah, air ketuban jernih.
 M : air ketuban bercampur mekonium.
 D : air ketuban bernoda darah.
o Perubahan bentuk kepala janin (molding atau molase):
 0 : tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura
dengan mudah dapat diraba.
 1 : tulang- tulang kepala janin hanya saling
bersentuhan
 2 : tulang-tulang kepala janin saling tumpang
tindih, tetapi masih dapat dipisahkan.
 3 : tulang-tulang kepala janin tumpang tindih,
dan tidak dapat dipisahkan.
o Pembukaan mulut rahim (serviks). Dinilai pada setiap
pemeriksaan pervaginam dan diberi tanda silang (x).
o Penurunan. Mengacu pada bagian kepala (dibagi 5 bagian)
yang teraba (pada pemeriksaan abdomen/ luar) di atas simfisis
pubis; catat dengan tanda lingkaran (O) pada setiap
pemeriksaan dalam. Pada posisi 0/5, sinsiput (S) atau paruh
atas kepala berada di simfisis pubis.
o Waktu. Menyatakan berapa jam waktu yang telah dijalani
sesudah pasien diterima.
o Jam: catat jam sesungguhnya.
o Kontraksi. Catat setiap setengah jam; lakukan palpasi untuk
menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya
masing-masing kontraksi dalam hitungan detik. (kurang dari
20 detik, antara 20-40 detik, lebih dari 40 detik)
o Oksitosin. Bila memakai oksitosin, catatlah banyaknya
oksitosin per volume cairan infus dan dalam tetesan per menit.
o Obat yang diberikan. Catat semua obat lain yang diberikan.
o Nadi. Catatlah setiap 30-60 menit dan tandai dengan sebuah
titik besar.
o Tekanan darah. Catatlah setiap 4 jam dan tandai dengan
anak panah.
o Suhu badan. Catatlah setiap 2 jam.
o Protein, aseton, dan volume urin. Catatlah setiap kali ibu
berkemih.
Bila temuan-temuan melintas ke arah kanan dari garis
waspada, petugas kesehatan harus melakukan penilaian
terhadap kondisi ibu dan janin dan segera mencari rujukan
yang tepat.
(Saifuddin, 2009)
5. Teknik mengurangi nyeri selama proses persalinan
a) Kehadiran pendamping yang terus-menerus,sentuhan yang
nyaman, hiburan dan dorongan dari orang yang mendukung.
b) Perubahan posisi dan pergerakan.
c) Sentuhan dan masase.
d) Tekanan kontra untuk megurangi tegangan pada
ligamentum sakro iliaka.
e) Pijatan ganda pada pinggul.
f) Penekanan pada lutut.
g) Panas buatan dan dingin buatan (superfisial).
h) Berendam dalam air.
i) Pengeluaran suara.
j) Visualisasi dan pemusatan perhatian.
k) Musik.

(Lailiyana, 2011)

6. Persiapan asuhan persalinan


a) Mempersiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran
bayi.
b) Persiapan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang
diperlukan.
c) Persiapan rujukan
d) Memberikan asuhan sayang ibu:
o Dukungan emosional.
o Mengatur posisi.
o Pemberian cairan dan nutrisi.

(JNPK-KR, 2008)

7. Kenali tanda bahaya kala satu


a) Tekanan darah >140/90 mmHg dengan sedikitnya satu
tanda lain/ gejala preeklamsia.
b) Suhu > 38oC.
c) Nadi >100 denyut/ menit.
d) DJJ <100 atau >160 denyut/ menit.
e) Kontraksi <2 dalam 10 menit, berlangsung <40 detik, lemah
untuk dipalpasi.
f) Pembukaan serviks melewati garis waspada pada fase aktif
dalam partograf.
g) Ketuban mengandung mekonium, darah dan berbau.
h) Volume urine tidak cukup dan kental.

(Lailiyana, 2011)

b. Kala Dua Persalinan


1. Kenali tanda gejala
a) Dorongan untuk meneran
b) Tekanan yang semakin kuat pada rektum dan vagina
c) Perineum menonjol dan menipis
d) Vulva dan sfinter ani membuka
(JNPK-KR. 2008: 75)
2. Persiapan penolong persalinan
a) Perlengkapan perlindungan diri
b) Persiapan tempat persalinan, peralatan, dan bahan
c) Mempersiapkan tempat dan lindungan untuk kelahiran
bayi
d) Persiapan ibu dan keluarga
o Asuhan sayang ibu
o Membersihkan perineum ibu
o Mengosongkan kandung kemih
o Amniotomi
Apabila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah
lengkap maka perlu dilakukan tindakan amniotomi.
o Mendiagnosis kala dua persalinan dan membimbing ibu
untuk meneran
o Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang nyaman untuk
proses persalinannya
o Menolong kelahiran bayi
o Posisi ibu saat melahirkan
Apapun posisi yang dipilih oleh ibu, pastikan ada alas kain
di bawah ibu dan kemudahan menjangkau semua peralatan
dan bahan yang dibutuhkan untuk membantu kelahiran
bayi. Tempatkan juga kain atau handuk bersih diatas perut
ibu sebagai alas untuk meletakkan bayi baru lahir.
o Pencegahan laserasi
Indikasi untuk melakukan episiotomi untuk mempercepat
kelahiran bayi bila didapatkan:
 Gawat janin dan bayi akan segera dilahirkan
dengan tindakan.
 Penyulit kelahiran pervaginam (sungsang, distosia
bahu, ekstraksi cunam, atau ekstraksi vakum).
 Jaringan parut pada perineum atau vagina yang
memperlambat kemajuan persalinan.
o Melahirkan kepala
Melindungi perineum dan mengendalikan keluarnya kepala
bayi secara bertahap dan hati-hati dapat mengurangi
regangan berlebihan (robekan) pada vagina dan perineum.
Setelah kepala bayi lahir, minta ibu untuk berhenti meneran
dan bernapas cepat. Periksa leher bayi apakah terlilit oleh
tali pusat.
o Melahirkan bahu
o Melahirkan seluruh tubuh bayi
o Memotong tali pusat
o Pemantauan selama kala dua persalinan
o Pantau, periksa dan catat:
 Nadi ibu setiap 30 menit.
 Frekuensi dan lama kontraksi setiap 30 menit.
 DJJ setiap selesai meneran atau setiap 5-10 menit.
 Penurunan kepala bayi setiap 30 menit melalui
pemeriksaan abdomen (periksa luar) dan periksa dalam
setiap 60 menit atau jika ada indikasi, hal ini dilakukan
lebih cepat.
 Warna caira ketuban jika selaputnya sudah pecah
(jernih atau bercampur mekonium atau darah).
 Apakah ada presentasi majekan atau tali pusat di
samping atau terkemuka.
 Putaran paksi luar segera stelah bayi lahir.
 Kehamilan kembar yang tidak diketahui sebelum
bayi pertama lahir.
 Catat semua pemeriksaan dan intervensi yang
dilakukan pada catatan persalinan.
(JNPK-KR, 2008)
3. Pimpinan Persalinan
a) Pimpinan kala II sangatlah penting karena tali pusat bisa
terjepit, atau terjadi sirkulasi retro.
b) Berikan semangat agar ibu berusaha sebaik mungkin
melahirkan bayinya dengan spontan dan selamat.
c) Berilah petunjuk cara mengejan dengan baik.
d) Jangan lupa memberitahukan jika akan melakukan
episiotomi, agar ibu siap jika merasakan tambahan rasa sakit.
e) Bila terlalu kesakitan bisa dipertimbangkan untuk
pemberian analgesik ringan.
f) Bila ada keluarga, terutama suami ingin mendampingi
sebaiknya permintaan ini dipenuhi.
g) Keberadaan suami disampingnya akan menambah
semangat ibu, sehingga persalinan lebih lancar.
h) Setelah bayi dan plasenta sudah lahir, suami sudah tidak
berfungsi dan dianjurkan untuk keluar sementara, karena akan
dilakukan penjahitan luka episiotomi.
i) Observasi secara ketat pada CHPB sehingga asfiksia dini
dapat ditentukan sebagai indikasi terminasi persalinan.
j) Yang penting diperhatikan adalah lingkaran bundle,
sebagai tanda ruptura uteri yang mengancam.
k) Peningkatan lingkaran bundle juga merupakan indikasi
terminasi persalinan.
l) Kejadian patologis yang mengancam jiwa harus
disampaikan pada pasien untuk konfirmasi bahwa persalinan
harus diakhiri dengan tindakan proaktif operasi.
m) Jangan lama minta informed consent, sehingga tindakan
menjadi terlindung dengan landasan hukum kedokteran.
(Manuaba, 2007)
4. Cara meneran
a) Anjurkan ibu untuk meneran alamiah mengikuti kontraksi
b) Anjurkan ibu untuk tidak menahan nafas saat meneran
c) Meminta ibu untuk berhenti meneran diantara kontraksi
d) Posisikan ibu ketika meneran setengah duduk dan
menarik lutut sampai dada dan dagu ditempelkan ke dada
e) Minta ibu untuk tidak mengangkat bokong ketika
meneran
f) Tidak diperbolehkan untuk mendorong fundus
dikhawatirkan terjadi ruptur uteri dan distoshia bahu.
(JNPK-KR 2008)
5. Tanda bahaya kala 2
a) Tekanan darah sistole <90mmHg dan diastol >90mmHg.
b) Suhu > 38oC.
c) Nadi <90x/menit atau >110 denyut/ menit.
d) DJJ <100 atau >180 denyut/ menit.
e) Pengeluaran ketuban dengan mekonium bercampur
darah/berbau
f) Tidak ada gerakan janin
g) Kontraksi tidak adekuat

(Sulistyawati, 2013)

c. Kala Tiga Persalinan


1. Manajemen aktif kala tiga
a) Pemberian oksitosin 10 IU.
o Sebelum memberikan oksitosin, bidan harus melakukan
pengkajian dengan melakukan palpasi pada abdomen untuk
meyakinkan hanya ada bayi tunggal, tidak ada bayi kedua.
o Dilakukan pada 1/3 paha bagian luar.
o Bila 15 menit plasenta belum lahor, maka berikan oksitosin
ke-2, evaluasi kandung kemih apakah penuh. Bila penuh,
lakukan kateterisasi.
o Bila 30 menit belum lahir, maka berikan oksitosin ke-3
sebanyak 10 mg dan rujuk pasien.
b) Penegangan tali pusat terkendali
o Klem dipindahkan 5-10 cm dari vulva.
o Tangan kiri diletakkan diatas perut memeriksa kontraksi
uterus. Ketika menegangkan tali pusat tahan uterus.
o Saat ada kontrasi uterus, tangan di atas perut melakukan
gerakan dorso kranial dengan sedikit tekanan. Cegah agar tidak
terjadi inversio uteri.
o Ulangi lagi bila plasenta belum lepas.
o Pada saat plasenta sudah lepas, ibu dianjurkan sedikit
meneran dan penolong sambil terus menegangkan tali pusat.
o Bila plasenta sudah tampak di vulva, lahirkan dengan kedua
tangan. Perlu diperhatikan bahwa selaput plasenta mudah
tertinggal sehingga untuk mencegah hal itu maka plasenta
ditelangkupkan dan diputar dengan hati-hati searah dengan
jarum jam.
(Sumarah, 2009)
c) Masase fundus uterus
o Tangan diletakkan diatas fundus uteri.
o Gerakan tangan dengan pelan, sedikit ditekan, memutar
searah jarum jam. Ibu diminta bernafas dalam untuk
mengurangi ketegangan atau rasa sakit.
o Kaji kontraksi uterus 1-2 menit, bimbing pasien dan
keluarga untuk melakukan masase uterus.
o Evaluasi kontraksi uterus setiap 15 menit selama 1 jam
pertama dan 30 menit pada jam ke-2.
(Sumarah, 2009)
2. Pemeriksaan plasenta meliputi:
a) Selaput ketuban utuh atau tidak.
b) Ukuran plasenta:
o Bagian maternal: jumlah kotiledon, keutuhan pinggir
kotiledon.
o Bagian fetal: utuh atau tidak.
c) Tali pusat: jumlah arteri dan vena, adakah arteri atau vena
yang terputus untuk mendeteksi plasenta suksenturia. Insersi tali
pusat, apakah sentral, marginal serta panjang tali pusat.
3. Pemantauan kala tiga
a) Perdarahan. Jumlah darah diukur, disertai dengan bekuan
darah atau tidak.
b) Kontraksi uterus: bentuk uterus, intensitas.
c) Robekan jalan lahir/ laserasi, ruptura perineum.
d) Tanda vital:
o Tekanan darah bertambah tinggi dari sebelum persalinan.
o Nadi bertambah cepat.
o Temperatur bertambah tinggi.
o Respirasi: berangsur normal.
o Gastrointerstinal: normal, pada awal persalinan mungkin
muntah.
e) Personal hygiene.
(Sumarah, 2009)
4. Pendokumentasian kala tiga
Hal-hal yang perlu dicatat selama kala tiga sebagai berikut:
a) Lama kala tiga.
b) Pemberian oksitosin berapa kali.
c) Bagaimana pelaksanaan penegangan tali pusat terkendali?
d) Perdarahan.
e) Kontraksi uterus.
f) Adakah laserasi jalan lahir.
g) Vutal sign ibu.
h) Keadaan bayi baru lahir.

(Sumarah, 2009)

d. Kala Empat Persalinan


1. Pemantauan:
Masa postpartum merupakan saat paling kritis untuk mencegah
kematian ibu, terutama kematian disebabkan karena perdarahan.
Selama kala IV, petugas harus memantau ibu setiap 15 menit pada jam
pertama setelah kelahiran plasenta, dan setiap 30 menit pada jam
kedua setelah persalinan. Jika kondisi ibu tidak stabil, maka ibu harus
dipantau lebih sering.
Yang harus diperiksa yaitu:
a) Fundus
Rasakan apakah fundus berkontraksi kuat dan berada di atau
bawah umbilikus. Periksa fundus:
o Setiap 15 menit pada jam pertama setelah persalinan.
o Setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan.
o Masase fundus jika perlu untuk menimbulkan kontraksi.
b) Perineum
Periksa luka robekan pada perineum dan vagina yang
membutuhkan jahitan
c) Memperkirakan pengeluaran darah
Dengan memperkirakan darah yang menyerap pada kain atau
dengan menentukan berapa banyak kantong darah 500 cc dapat
terisi.
o Tidak meletakkan pispot pada ibu untuk menampung darah.
o Tidak menyumbat vagina dengan kain untuk menyerap
darah.
o Pengeluaran darah abnormal > 500 cc.
d) Lokhia
Periksa apakah ada darah keluar langsung pada saat memeriksa
uterus. Jika uterus berkontraksi kuat, lokhia kemungkinan tidak
lebih dari menstruasi.
e) Kandung kemih
Periksa untuk memastikan kandung kemih tidak penuh. Kandung
kemih yang penuh mendorong uterus ke atas dan menghalangi
uterus berkontraksi sepenuhnya.
(Saifuddin, 2009)
f) Tekanan darah
Pastikan tekanan darah yang normal <140/90 mmHg.
g) Suhu
Pastikan suhu tubuh normal <38oC. Suhu yang tinggi mungkin
disebabkan dehidrasi karena persalinan yang lama, atau tidak
cukup minum, atau infeksi.
(Lailiyana, 83)
h) Kondisi bayi baru lahir
o Apakah bayi bernapas dengan baik?
o Apakah bayi kering dan hangat?
o Apakah bayi siap disusui/ pemberian ASI memuaskan?

(Saifuddin, 2009)